RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

Monthly Archives: September 2010

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.7

Annyeong!!??

Maaf ya kalo chapter kali ini sedikit.

coz agy buru-buru neh….

Hihihi…

Langsung aja lanjutan dari sang pembunuh, Kim Hyun Joong!

:p

Chapter 7:

“Kim Hae Jyong dan Chae Rim telah ditangkap dan diadili seumur hidup karena terbukti telah mengedarkan narkoba selama 10 tahun yang mengakibatkan telah menewaskan kurang lebih 20 orang.”

Isi artikel koran korea yang mulai diterbitkan dimana-mana. Kim Hyun Joong yang saat itu masih berusia 11 tahun sedang duduk dipengadilan usai kedua terdakwa diberi sanksi yang berat. Kedua polisi itu pun menghampiri Hyun Joong yang masih terdiam. Seorang wanita memberi pelukan kepada Hyun Joong.

”Hyun Joong. Aku tau ini sangat berat buatmu. Tetapi yang namanya kejahatan harus ditegakkan. Maafkan kami. Kau akan tinggal dipanti asuhan. Disana banyak teman-teman yang akan menyayangimu. Oleh karena itu, bersabarlah.”ujar wanita itu sambil diiringi senyuman suaminya yang menyetujui perkataan istrinya.

Hyun Joong tidak menjawabnya. Dia hanya terdiam sambil mengepalkan tangannya dipaha.

”Ayo, Hyun Joong. Ikut kami keluar.” Wanita itu merangkul Hyun Joong seraya untuk menuntutnya keluar dari tempat pengadilan itu.

Hyun Joong satu per satu menuruni tangga di tempat yang berlawanan dari para wartawan. Mereka sengaja mengambil jalan belakang guna menghindari gerombolan wartawan. Dua mobil telah berhenti tepat di hadapan mereka. Dimobil yang satu itu keluar gadis kecil sambil membawa bunga lilin. Gadis kecil itu berlari ke arah orang tuanya.

”Ayah, Ibu!”teriak gadis kecil itu. Wanita yang merangkul Hyun Joong itu gembira melihat putri kecilnya datang begitu juga suaminya.

“Kim So Eun!” Wanita itu melepaskan rangkulannya dan beralih ke pelukan So Eun. Suaminya pun membelai kepala putri kecilnya.

“Ayah, Ibu. Lihat kalung medaliku! Aku dapat juara lagi!”teriak So Eun kecil dengan semangatnya. Ayah dan Ibunya hanya tertawa melihat tingkah So Eun yang begitu lucu.

“Oh iya, So Eun. Kenalkan ini Kim Hyun Joong.”ujar Ibunya sambil memperkenalkan Hyun Joong ke putrinya. Hyun Joong masih tetap menunduk. Tiba-tiba dia terkejut, pasalnya So Eun langsung memeluknya. Hyun Joong hanya tertegun melihatnya.

”Nama kakak, Kim Hyun Joong ya? Kenalkan juga namaku Kim So Eun. So Eun.”ujar So Eun sambil menyerahkan bunga lilin kepada Hyun Joong. Hyun Joong hanya terpana melihat pemberian dari So Eun. Lagi-lagi So Eun memeluknya.

”Aku harap kita bisa jadi teman yang baik ya!”

Hyun Joong mengangguk sambil memandangnya.

Seorang wanita telah datang menghadap orang tua So Eun.

”Semua sudah siap, ketua!?”tegasnya.

”Baiklah. Kau bawa dia ke tempatnya.” Ayahnya memerintahkan anak buahnya untuk membawa Hyun Joong.

Hyun Joong hanya terdiam saat ditariknya menuntut masuk kedalam mobil. Dia tetap tidak melepaskan pandangannya ke So Eun yang masih tersenyum kepadanya. Bahkan saat dia masuk mobil pun masih tetap memandang So Eun. Rupanya kini dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak lama, Hyun Joong pun tersenyum.

Kini Hyun Joong telah berusia 19 tahun. Dia berpakaian rapi. Sekarang dia berada di depan rumah So Eun. Dia membawa bunga dan buah-buahan sebagai oleh-oleh. Lalu dia memencet bel rumah itu. Pintunya dibuka oleh Ibunya So Eun.

”Ya? Anda sedang mencari siapa?”tanya Ibunya So Eun yang rupanya sudah lupa dengan rupa Hyun Joong yang sudah dewasa. Hyun Joong hanya tersenyum.

”Apa? Kau mau meminang putriku?” Ayahnya So Eun terkejut mendengar pengutaraan maksud Hyun Joong datang ke rumahnya. Begitu juga dengan Ibunya So Eun.

”Kau ini siapa?! Beraninya meminang putriku!” Ayahnya menggebrak mejanya saking emosinya. Hyun Joong masih tetap tersenyum. Ibunya berusaha menenang emosi suaminya.

”Tapi maaf. Kami tidak mengenal Anda.”ujar Ibunya So Eun. Hyun Joong pun menjawabnya.

”Namaku Kim Hyun Joong. Apa kalian lupa? Aku adalah anaknya Kim Hae Jyong dan Chae Rim.”

Ayah dan Ibunya So Eun tertegun mendengarnya.

”Kau… anak yang waktu itu? Uhm… Tapi maaf. Kami tidak bisa menerima pinangan Anda. Dan kami juga tidak akan merestui hubungan kalian.”

”Kenapa?” tanya Hyun Joong berusaha menahan emosinya atas penolakan orang tuanya.

”Karena kami tidak akan menerimamu untuk menjadi suami anakku kelak.”

”Kenapa?! Apa karena aku ini adalah anaknya pengedar narkoba? Lantas kalian menentangku?”teriak Hyun Joong yang tidak bisa mengontrol emosi.

Orang tua So Eun terkejut melihatnya. Mereka pun ikut berdiri.

”Kenapa kau marah-marah? Yang pasti kami tidak menyetujuinya?!”tolak Ayahnya sambil membuang muka.

”Dasar orang tua sialan!?”

Hyun Joong pun mengeluarkan pistol dari punggungnya yang diselipkan di celana belakangnya. Orang tua So Eun terkejut melihatnya dan langsung mundur dari Hyun Joong.

”Apa yang kau lakukan?”tanya Ayahnya So Eun.

Hyun Joong tidak menjawabnya. Dia menodongkan pistolnya ke arah orang tua So Eun.

”Seharusnya kalian berterima kasih kepadaku. Jika tidak ada So Eun. Mungkin aku akan membalas dendam kepada kalian. Kini kalian telah menolak cintaku kepada So Eun. Tidak ada yang boleh menghalangiku mendapatkannya walaupun itu orang tuanya sendiri.”

”Apa?!”

Tidak memberi kesempatan, Hyun Joong langsung menembak mereka berkali-kali. Sampai darah-darah dari Orang tua So Eun pun bermuncratan ke dinding putih. Orang tua itu pun tergeletak di lantai. Tewas seketika.

Hyun Joong pun membawa bunga dan buah-buahannya. Lalu dia pun mematikan lampu rumah dengan pistolnya dan keluar dari rumah itu.

2,5 tahun telah berlalu……

Hyun Joong tertawa saat menceritakan peristiwa tragis orang tuanya So Eun. So Eun pun menatap marah ke Hyun Joong.

”Biadab kau!? Kau benar-benar sakit jiwa!”teriak So Eun dengan penuh amarah. Hyun Joong pun memegang wajah So Eun.

”Terserah kau bilang apa tentang diriku. Lagi pula yang pasti aku telah berhasil mendapatkanmu setelah susah payah menghindar dari para polisi sialan itu yang mulai mengejarku di Singapura.”

”Kau….!?”

Hyun Joong langsung mencium bibir So Eun dengan paksa. So Eun yang tidak mau dicium langsung menendang perutnya sehingga kalung pemberian Kim Bum pun tertarik oleh Hyun Joong. Dan Hyun Joong pun terjatuh ke lantai dan pisau yang dipegangnya pun terjatuh tepat di depan So Eun.

Dengan sigap, So Eun mengambil pisau itu dengan kedua tangannya yang terikat dan mulai keluar dari ruangan itu.

Hyun Joong berdiri sambil menahan rasa sakit perutnya akibat ditendang So Eun.

”Kau tidak akan bisa kabur dariku, So Eun!?”

Hyun Joong pun mengejar So Eun yang mulai kabur sambil membuang kalung yang digenggamnya.

”Gawat! Jangan-jangan So Eun diculik olehnya?”ujar Kim Bum panik.

”Apa maksudmu?”tanya Kim Joon yang mendengar kata-kata Kim Bum. Kim Bum tidak menjawabnya.

Dia langsung menuju ke laci, dibukanya laci itu lalu diambilnya PDA Phone. Dia membuka aplikasi peta. Dan terlihat warna merah berkedip-kedip.

Tidak mau terjadi sesuatu kepada So Eun. Kim Bum langsung mengambil mantel dan kunci mobilnya. Lalu berlari keluar.

”Kim Bum! Kau mau kemana?”teriak Kim Joon sambil mengejarnya begitu juga Min Ho. Tanpa sengaja, mereka menabrak Sang Hyun yang saat itu juga sedang buru-buru.

”Tuan Kim Bum mau kemana?”tanya Sang Hyun kepada Kim Joon.

”Sepertinya dia sedang mencari So Eun yang diculik Hyun Joong.”jawab Kim Joon sambil berlari diikuti Min Ho. Sang Hyun tertegun mendengarnya. Dia pun berbalik menuju ke ruang pribadi Presdir Jung Gil.

Presdir Jung Gil yang saat itu sedang membaca dokumen tentang Kim Hyun Joong terkejut melihat kemunculan Sang Hyun secara tiba-tiba.

”Maafkan ketidaksopananku, Presdir. Tapi kita ada masalah gawat.”

”Apa itu?”

”Nona Kim So Eun telah diculik Kim Hyun Joong.”jawabnya.

”Apa?!” Presdir terkejut mendengarnya. Lalu dia bangkit dari kursinya dan mengambil mantelnya.

”Cepat telepon polisi!?”perintah Presdir Jung Gil sambil keluar.

”Baik!” Sang Hyun pun langsung meneleppon polisi.

So Eun sedang bersembunyi dibalik lemari. Dia tidak tau kini dia sedang berada dilantai berapa. So Eun berusaha melepaskan tali yang mengikatnya dengan pisau. Cukup sulit untuk memutuskannya. Namun tiba-tiba dia dipeluk dari belakang. Rupanya Hyun Joong berhasil menemukannya.

”Kau mau kemana, So Eun?”ucap Hyun Joong sambil tersenyum.

So Eun pun langsung menancap pisaunya ke bahu Hyun Joong.

”Aarrgghh…!!???” Hyun Joong berteriak kesakitan. Bahunya jadi terluka dalam akibat tusukan pisau oleh So Eun. Pelukannya terlepas, So Eun pun langsung berlari darinya. Berlari menuju ke lantai atas.

Dengan menahan sakit, Hyun Joong mencabut pisau yang menancapnya lalu dilemparnya secara sembarang. Hyun Joong menutup luka bahunya dan bangkit.

”Sialan kau, So Eun!?”

Hyun Joong pun mengejarnya dengan terhuyung menahan rasa sakitnya.

Kim Bum terus menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh. Kim Joon dan Min Ho dalam satu mobil pun mengejarnya dari jauh. Sementara Min Ho sedang sibuk menelepon polisi.

Kim Bum terus menuju ke arah So Eun sesuai dengan radar di PDA Phone miliknya.

So Eun terus berlari dan akhirnya dia pun sampai di lantai paling atas. So Eun berlari lurus dan tiba-tiba dia berhenti melihat kebawah gedung yang terlihat jalanan dan pepohonan yang sepi.

”Sial!? Jalan buntu!?”

So Eun berbalik mendengar langkah Hyun Joong yang mulai menuju ke arahnya.

Kim Bum telah sampai di tempat gedung tua yang tidak terawat. Kim Bum langsung mencari asal radar itu. Dia menemukan ruangan itu. Lalu dia mendobrak pintu dengan tendangan kakinya berkali-kali. Kemudian dia masuk ke dalam.

”So Eun?! So Eun?!”teriak Kim Bum memanggil nama So Eun berkali-kali. Tidak ada jawaban. Namun dia menginjak sesuatu. Kim Bum pun mengambilnya yang rupanya sebuah kalung darinya yang telah dipakai So Eun.

Kim Bum langsung menatap langit kamar. Dia tahu dimana So Eun berada. Langsung dia berlari ke lantai atas tempat So Eun berada.

Akhirnya Hyun Joong pun menemukannya. So Eun sudah tidak bisa mundur lagi. Hyun Joong pun tertawa gembira melihatnya.

”Hahaha…. kau mau kemana lagi, So Eun? Tidak ada jalan lain lagi kan.”

So Eun hanya terdiam. Dia langsung berlari melewatinya. Namun gagal, Hyun Joong berhasil menangkapnya. Hingga So Eun pun bergulat dalam pelukan Hyun Joong.

”Lepaskan aku!”berontaknya.

Kim Bum pun membuka pintu lantai paling atas dan terkejut melihat So Eun sedang berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Hyun Joong.

Dengan kekuatan kakinya, So Eun pun menendang perut Hyun Joong hingga Hyun Joong terjatuh ke bawah.

”So Eun!”panggil Kim Bum.

So Eun pun berbalik. Terlihat pancaran wajahnya yang gembira melihat Kim Bum.

“Kim Bum.”

Namun kejadian begitu cepat, tangan Hyun Joong berhasil memegang kaki So Eun sehingga So Eun pun ikut terjatuh.

“So Eun!?” Kim Bum terkejut melihat So Eun ikut terjatuh bersama Hyun Joong.

TO BE CONTINUED………………………

Wah…!!! Akankah So Eun selamat????

Nantikan chapter.8!?

NB: Jangan Lupa Komennya ya!?

^_____________^

Iklan

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.6

Annyeong!!??
Kali ini chapter yang menguak misteri pembunuh orang tuanya So Eun.
Langsung aja! Silakan baca!

Chapter 6:
“Oke. Karena hari ini kita belajar musik. Bagaimana kalau kita ke kelas piano. Ayo!”ajak Hyun Joong sambil keluar menuju ke kelas piano diikuti para siswa.
Mereka pun memasuki kelas piano. Lalu mencari tempat masing-masing. So Eun tentunya masih berada disamping Kim Bum. Dia benar-benar gelisah. Dia sama sekali tidak mengerti cara memainkan piano.
”Baiklah. Sekarang kita belajar dasarnya dulu. Tentunya kalian yang sudah kelas tiga ini pasti sudah bisa mengetahui letak not-not pada tuts piano. Uhm… aku ingin mendengar dulu dasar-dasar kalian. Semoga kalian masih ingat letak not-notnya.”ujar Hyun Joong sambil melihat buku absen para siswa. Sementara para gadis sedang deg-degan menunggu panggilan Hyun Joong, sedangkan So Eun malah berkomat-komit agar tidak dipilih. Hyun Joong melirik So Eun sambil tersenyum.
”Kim So Eun.”panggilnya. So Eun terkejut. Dia jadi gugup begitu dipilihnya.
“Kau yang bernama Kim So Eun?”Tanya Hyun Joong sambil menunjuk So Eun. So Eun mengangguk pelan dengan kaku. Kim Bum hanya terdiam melihatnya.
Lalu Hyun Joong mendekati So Eun.
“Baiklah. Coba kau tekan nada Re.”ujar Hyun Joong. Hati So Eun jadi berdegup cepat lantaran dia tidak tau dimana letak not itu. Sambil menutup mata, dia pun menekan tuts itu dengan asal.
Para siswa seisi kelas malah menertawakan So Eun. Pasalnya yang dia tekan bukan Re melainkan Sol. Hyun Joong hanya bisa tertawa kecil. So Eun jadi malu.
”Itu bukan Re tapi Sol, So Eun. Sepertinya kau tidak terlalu ahli dalam musik ya?”tanya Hyun Joong.
“Uhm… aku… aku memang tidak bisa main alat musik. Apalagi piano.”jawab So Eun yang masih menunduk dan jemarinya masih diatas tuts piano. Hyun Joong pun mengangkat jemarinya ke piano So Eun.
”Ini yang namanya Re.” Hyun Joong menekan tuts Re. Entah disengaja atau tidak, jemari Hyun Joong bersentuhan dengan jemari So Eun sehingga So Eun sedikit terkejut.
”Ah. Maaf.”ucap Hyun Joong yang merasa bersalah.
”Tidak apa-apa.” So Eun menurunkan tangannya diatas pahanya. Kim Bum hanya bisa curiga melihat Hyun Joong.
”Baiklah. Jadi itu letaknya. So Eun, aku rasa kau perlu banyak belajar.”
So Eun mengangguk. Hyun Joong memegang kedua bahunya seraya ingin memberi semangat.
”Baiklah. Sekarang mari kita pelajari dasar-dasarnya secara bersamaan.”
Kelas pun mulai belajar piano dengan serius.

*****

Kim Joon langsung datang ke kamar Kim Bum yang sedang asyik membaca buku.
”Yoyoyo… Kim Bum! Aku punya kabar baik buatmu!”teriak Kim Joon sambil duduk di sofa. Kim Bum menutup bukunya dan diletakkannya di atas meja belajarnya.
”Apa itu?”
”Kau tau? Sepupuku. Dia sudah datang ke sini.”
”Oh iya? Sekarang dia dimana?”
”Sayangnya, hari ini dia sedang sibuk. Katanya dia mau bertemu dengan calon istrinya yang tinggal di Korea ini.”kata Kim Joon sambil berdiri mengambil cemilan di atas meja.
”Lalu?”tanya Kim Bum lanjut.
”Oh. Dia sudah mendapatkan datanya yang kau minta. Ini.” Kim Joon mengeluarkan sebuah dokumen dari jaketnya. Lalu diserahkannya ke Kim Bum. Kim Bum pun membacanya dengan serius.
”Dia menjuarai setiap perlombaan olahraga dari TK sampai SMP bahkan pernah menjuarai olimpiade lari marathon se-Asia?”Kim Bum membacanya sambil mengernyitkan dahinya.
”Iya. Pantas saja dia kuat dan larinya cepat.”ujar Kim Joon sambil makan biskuit.
”Oh iya. Coba kau liat bagian kasusnya.”lanjut Kim Joon. Kim Bum pun membacanya sesuai arahan Kim Joon.
”So Eun menemukan orang tuanya dibunuh dirumahnya setelah pulang merayakan kelulusan SMPnya?” heran Kim Bum.
”Iya. Katanya setelah itu dia dimasukkan ke panti asuhan karena dia tidak memiliki sanak saudara. Tetapi tidak lama itu dia malah kabur dari panti asuhan dan hidup mandiri.”
”Pantas aja dia jadi pengemis.”gumam Kim Bum.
”Apa?”tanya Kim Joon yang mendengar gumaman Kim Bum. Kim Bum menggeleng.
”Lanjutkan aja.”
”Terakhir yang dia ketahui. Alasan So Eun menerima jadi bodyguardmu karena Presdir Jung Gil bersedia membantunya mencari pembunuh orang tuanya.”lanjut Kim Joon yang mulai tersedak karena makan sambil bicara. Dia pun mengambil minuman Kim Bum dan diminumnya dengan cepat.
”Hah? Memang pembunuhnya belum ditangkap?”tanya Kim Bum.
Kim Joon menggeleng, ”Belum. Soal itu masih diselidiki polisi. Kabarnya pembunuh itu kabur ke Singapura.”
Kim Bum pun mulai mengangguk mengerti dan melanjutkan membaca dokumen tentang So Eun.
”Oh iya, Kim Bum. Bagaimana menurutmu tentang wali kelas baru kita?”tanya Kim Joon.
”Biasa saja. Tapi justru yang aku merasa aneh itu Mister Hyun Joong. Entah kenapa dia selalu memandang So Eun dengan aneh?”ujar Kim Bum.
”Ah. Mister Hyun Joong ya? Baru saja aku mau cerita padamu. Uhm…. sepertinya aku pernah mengenal dia?”ujar Kim Joon sambil memikir. Mendengar itu, Kim Bum langsung mendekati Kim Joon.
”Memangnya dimana?”tanya Kim Bum penasaran.
”Justru itu. Aku lupa. Tapi tenang aja bro. Nanti kalau aku ingat, aku akan langsung memberitahumu.”jawab Kim Joon. Kim Bum sedikit kecewa mendengarnya. Dia hanya mengangguk sambil kembali membaca dokumen So Eun.

*****

So Eun sedang berjalan menyusuri taman sambil menemani Kim Bum. Memang ini adalah waktu istirahat. Tiba-tiba Ji Yun datang sambil memeluk lengan So Eun.
”So Eun!”panggilnya.
”Ada apa, Ji Yun?”tanya So Eun heran.
”Apa kau melihat Kim Joon?”tanya Ji Yun dengan cemas.
”Aku tidak tau.”jawab So Eun. Ji Yun jadi kecewa mendengarnya.
”Kurasa dia ada disana.”ujar Kim Bum yang melihat Kim Joon sedang jalan menuju ke kelas.
”Oh. Kim Joon….” Ji Yun berusaha memanggilnya. Namun tiba-tiba Hye Sun datang sambil memeluk lengan Kim Joon yang sedikit terkejut melihat kedatangannya.
”Miss Hye Sun?” Ji Yun jadi heran melihatnya. Tidak lama, Ji Yun jadi kesal melihatnya bahkan meremas dasi seragamnya sendiri. Pasalnya Miss Hye Sun menarik Kim Joon ke ruang lain. Dan Kim Joon malah tersenyum ditarik Hye Sun. Ji Yun jadi cemburu melihatnya. Dia malah langsung berbalik pergi dan hampir menabrak bahu So Eun.
”Ji Yun! Kau kenapa?”teriak So Eun melihat Ji Yun pergi dengan cemberut. Kim Bum hanya terdiam tidak peduli.
”Dia kenapa, Kim Bum?”tanya So Eun. Kim Bum hanya mengangkat bahunya.
Tidak lama Hyun Joong datang dihadapan mereka.
”Mister Hyun Joong.”panggil So Eun dengan heran. Kim Bum hanya terdiam bisu.
”Kim So Eun. Bisa kau ikut aku? Aku minta bantuanmu.”ujar Hyun Joong. So Eun melirik Kim Bum.
”Tapi bagaimana dengan dia?”tanya So Eun sambil menunjuk Kim Bum.
”Kau pergi ajalah! Memangnya aku anak kecil yang mesti diikuti kau terus?”ketusnya.
”Heh! Tidak bisa. Aku sudah berjanji untuk menjagamu dimana pun kau berada.”balas So Eun kesal. Kim Bum hanya tersenyum kecut.
”Sudahlah. Dia boleh ikut. Lagian ini cuma bantuan kecil saja kok. Ayo, So Eun.”ajak Hyun Joong diikuti So Eun dan Kim Bum menuju ke kelas piano.

Akhirnya So Eun pun bisa menyelesaikan tugas yaitu memasukkan kertas lagu ke dalam amplop dengan jumlah yang cukup banyak. Kim Bum juga membantunya. Lalu dia menyerahkan amplop itu ke Hyun Joong.
”Ini, mister. Tapi sebenarnya itu buat apa ya?”tanya So Eun.
”Ini buat ujian nanti. So Eun, kau harus banyak belajar tentang piano.”jawab Hyun Joong tersenyum. So Eun jadi terdiam patung. Terkejut mendengarnya.
”So Eun. Aku mau ke toilet dulu.”kata Kim Bum sambil ngeloyor keluar tanpa mendengar jawaban So Eun.

Tidak lama, Kim Bum pun kembali ke kelas piano tempat So Eun berada. Namun sebelum dia masuk ke dalam. Dia melihat Hyun Joong sedang mengajari So Eun belajar piano. So Eun pun sedang serius menekan tuts piano arahan Hyun Joong.
Namun pandangan Kim Bum bukan ke So Eun melainkan ke Hyun Joong.
Hyun Joong memandang So Eun dengan dalam. Membuat Kim Bum jadi curiga.
”Sebenarnya Mister Hyun Joong itu kenapa ya? Aku jadi curiga.”batinnya.

*****
Kim Joon langsung masuk ke kamar Kim Bum bersama sepupunya. Kim Bum pun menyambutnya.
”Hai, bagaimana kabarmu?”

”Aku baik-baik saja. Bagaimana pekerjaanmu di Singapura? Apakah kau mendapatkannya, Lee Min Ho?”tanya Kim Bum sambil memeluknya.
Lee Min Ho hanya tertawa kecil. Lalu dia pun duduk disofa bersama Kim Joon.
”Sungguh sulit. Pelaku itu benar-benar meninggalkan jejak yang sangat teliti.”jawab Min Ho. Kim Bum pun menuju ke laci meja dan mengambil dokumen. Kemudian dia menyerahkan dokumen itu ke Min Ho. Dan Min Ho pun membacanya.
”Apa kau tau motif pelaku itu yang telah membunuh orang tuanya?”tanya Kim Bum kembali duduk di kasur.
”Kami belum mengetahui motifnya. Yang pasti orang tuanya yang berprofesi sebagai polisi pernah menangkap orang tua pelaku yang berprofesi sebagai bandar narkoba.”
”Bandar narkoba?”
”Iya. Mereka dihukum dan terbukti telah mengedar narkoba selama 10 tahun yang mengakibatkan telah menewaskan kurang lebih 20 orang. Maka mereka pun dikenakan sanksi penjara seumur hidup. Tapi…”
”Tapi….” Kim Bum penasaran.
”Tapi baru saja mereka dipenjara 1 tahun. Mereka sudah tewas.”
”Apa?”
”Iya, mereka tewas karena overdosis.”ujar Min Ho sambil meletakkan dokumen itu yang ada di meja depannya. Kim Bum pun kembali memikirkan sesuatu.
”Jadi, bukankah itu berarti motifnya adalah membalas dendam terhadap orang tuanya?”
”Semula kami menduganya begitu. Tetapi rupanya bukan hanya itu motifnya. Aku rasa ini ada kaitannya dengan So Eun.”
”Apa itu?”
”Itulah yang perlu kami selidiki.”
Suasana kembali terdiam. Kim Bum pun kembali memikirkan sesuatu.

So Eun sedang duduk termenung dikolam renang. Dia terus memandang bulan yang cerah sambil memainkan air dengan kakinya. Tidak lama air matanya pun menetas. Dia sedang memikirkan orang tuanya. Sudah lama dia pun tegar menghadapinya menjadi anak yatim piatu. Tanpa disadarinya, Kim Bum bergabung dan duduk disampingnya. So Eun terkejut melihatnya.
”Ah! Kim Bum? Kau mengagetkanku.” So Eun mengelus dadanya sambil menghapus airmatanya.
”Apa yang sedang kau pikirkan?”tanya Kim Bum tanpa memandang So Eun.
”Hah? Aku? Aku tidak….. memikirkan apa pun.” So Eun berusaha mengelaknya.
Kim Bum hanya tertawa kecil. So Eun jadi heran melihatnya.
”Apa yang lucu?”
”Tidak apa-apa.”ujar Kim Bum yang tentu sudah tahu pikiran So Eun.
”Ngomong-ngomong bulan di atas sana indah ya? Ayahku pasti sedang bahagia disana.” Kim Bum pun ikut menerawang. So Eun yang tahu tentang ayahnya dari Presdir Jung Gil hanya terdiam melihatnya.
”Aku yakin pasti ayahmu bahagia.”
Kim Bum pun tersenyum mendengar perkataan So Eun.
Tiba-tiba Ji Yun datang sambil memeluk So Eun.
”Ji Yun. Ada apa?”tanya So Eun yang terkejut melihat Ji Yun datang dengan muka masamnya.
”So Eun! Kau harus membantuku!?”ujar Ji Yun dengan nada seriusnya.
”Hah?” So Eun dan Kim Bum terdiam heran.

Sebuah klub malam berisi orang-orang yang sedang asyik bersenang ria. Mereka pun menggoyangkan badannya dengan semangat mengikuti irama disco. Ji Yun, So Eun dan Kim Bum yang tentunya sudah mengganti bajunya pun sedang menyusuri ruang klub yang sesak itu. Mata mereka mencari-mancari seseorang.
”Ji Yun. Kau yakin dia ada disini?”tanya So Eun sambil berusaha menghindari agar tidak menabrak orang-orang yang sedang berdansa disco.
”Tentu saja. Aku yakin! Soalnya tadi aku telepon dia. Dia bilang mau pergi ke sini bersama Miss Hye Sun. Aku curiga dia akan selingkuh.”
”Hah? Bagaimana kau bisa memikirkan itu?”tanya So Eun.
”Makanya kau tidak usah terima cinta dia. Dia kan memang brengsek orangnya.”celetuk Kim Bum cuek. So Eun menyikutnya.
”Kim Bum.”bisiknya.
Ji Yun hanya bisa mendengus kesal.
”Ah! Liat dia!”teriak Ji Yun yang langsung melihat kekasihnya, Kim Joon sedang duduk bersama Miss Hye Sun.
”Aaarrgghhh…. Tuh kan liat dia, So Eun! Benarkan apa yang aku duga. Uhh…. dasar selingkuh!” Ji Yun mengomel kesal. So Eun hanya bisa terdiam begitu juga dengan Kim Bum. Mereka pun langsung menuju ke Kim Joon yang asyik bercanda dengan Hye Sun.
”Kim Joon!”panggil Ji Yun sambil berkacak pinggang. Kim Joon terkejut melihat kedatangannya.
”Ji Yun? Kau sedang apa disini?”tanya Kim Joon sambil mendekati Ji Yun. Hye Sun hanya tersenyum bingung melihatnya sedangkan So Eun dan Kim Bum tidak mau ikut campur urusan mereka.
”Ternyata kau tega ya. Kau selingkuh dengan Ibu itu? Aku tidak menyangka.” Ji Yun menangis. Kim Joon jadi bingung mendengarnya.
”Selingkuh bagaimana? Kau salah paham Ji Yun. Dia itu….”
Belum sempat Kim Joon menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Min Ho datang dibelakang So Eun dan Kim Bum.
”Hai!”sapanya. Ji Yun pun terkejut melihat kedatangannya.
”Kak Min Ho?”panggil Ji Yun heran melihatnya. Dan mereka kecuali Kim Joon heran melihat Min Ho sedang mencium pipi Hye Sun.
”Ji Yun. Kau salah paham. Aku sedang menemani Miss Hye Sun menunggu Min Ho.”
Jelas Kim Joon.
”Apa?” Ji Yun masih tidak mengerti. Min Ho dan Hye Sun menghampiri mereka.

”Ji Yun. Kenalkan dia calon istriku. Kami akan segera menikah.”ujarnya sambil menunjukkan cincin tunangan mereka.
Ji Yun dan So Eun terbelalak mendengarnya. Sedangkan Kim Bum hanya terdiam mengangguk mengikuti irama disco yang mulai menarik perhatiannya. Kim Joon hanya tersenyum kepada Ji Yun sambil menunjuk Min Ho dan Hye Sun.
”Oh. Selamat kak Min Ho.”ucapnya sambil berjabat tangan dengan Min Ho dan Hye Sun secara bergantian. Kemudian dia pun mendekati Kim Joon.
”Maafkan aku, sayang. Aku sudah salah paham denganmu.”sesal Ji Yun sambil berbisik. Kim Joon hanya mencium keningnya sambil tersenyum. Membuat Ji Yun jadi malu dan merona.

So Eun dan Kim Bum akhirnya bisa keluar dari klub yang berisik dan masalah Ji Yun pun selesai. Mereka pun berjalan menuju mobil yang sedang ditunggu supirnya.
”Tidak kusangka ternyata kak Min Ho adalah sepupu Kim Joon dan Miss Hye Sun adalah tunangannya.”
Kim Bum hanya mengangguk mendengarnya dan melangkah mendahuluinya. So Eun hanya bisa memandangnya kesal.
Sebuah mobil mengebut mengarah mereka. So Eun langsung sigap.
”Kim Bum, Awas!?” So Eun langsung memeluk Kim Bum kesamping untuk menghindari mobil. Dan akhirnya bisa dihindar. Kim Bum pun terdiam melihat So Eun memeluknya.
”Ah. Syukurlah kita tidak tergencet mobil. Sepertinya yang menyetir itu sedang mabuk ya.” So Eun mengomel sambil melihat Kim Bum. So Eun tertegun melihat Kim Bum menatapnya. Dia baru sadar kalau dia memeluknya.
”Ah. Maaf.” So Eun melepaskan pelukannya di leher Kim Bum. Namun gelangnya malah nyangkut di jas kerahnya.
”Aduh. Bagaimana ini?” So Eun berusaha melepaskan sangkutan gelangnya. Kim Bum hanya tertawa kecil.
”Hei. Kenapa kau tertawa? Ayo cepat bantu aku melepaskannya.”ujar So Eun kesal.
Kim Bum pun membantunya.
Sepasang mata melihat mereka dengan tatapan cemburunya. Dan pria itu meremas kaleng bir yang dipegangnya sampai remuk.

”Hyun Joong! Sedang apa kau disini? Ayo masuk!”teriak salah satu gadis temannya sambil menarik Hyun Joong masuk ke dalam klub.

Akhirnya So Eun bisa melepaskan gelangnya dari kerah Kim Bum.
”Ayo, kita pulang. Supir pasti telah lama menunggu kita.” So Eun menarik lengan Kim Bum agar cepat melangkahnya. Kim Bum hanya tersenyum.

*****

Lonceng tanda pulang telah berbunyi. Para siswa pun berhamburan keluar menuju ke mobil jemputan mereka masing-masing. Seperti biasa So Eun mengawali Kim Bum sampai ke mobil jemputannya.
”Kim So Eun!”panggil Hyun Joong. So Eun dan Kim Bum menengok ke arah panggilannya.
“Iya, Mister. Ada apa?”
“Kemari So Eun. Ada yang ingin aku bicarakan padamu.”ujar Hyun Joong.
So Eun mengernyitkan dahinya dan memandang Kim Bum.
”Kau tunggu disini dulu ya?”
Kim Bum tidak menjawabnya. So Eun pun menuju ke Hyun Joong. Kim Bum mengamati mereka. Terlihat raut muka So Eun yang gelisah. Tidak lama, So Eun pun kembali mendekati Kim Bum dengan rautnya yang gelisah.
”Kim Bum. Kau pulang duluan saja. Sepertinya hari ini aku tidak bisa mengawalimu sampai dirumah.”ucap So Eun dengan suara yang lemah.
”Memang ada apa?”tanya Kim Bum heran.
”Uhm… tidak apa-apa. Pokoknya kau pulang saja. Supir sedang menunggumu.” So Eun langsung berbalik. Namun Kim Bum menahannya.
”Ada apa lagi, Kim Bum?”tanya So Eun yang sedikit kesal karena lengannya ditarik. Kim Bum tidak menjawab. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya lalu dia memakaikan kalung yang berbandul kecil dengan bentuk bintang yang diberi permata ke leher So Eun. So Eun terkejut melihatnya.
”Kau jangan lepaskan kalung ini. Kalau kau merasa ada yang mencurigakan. Kau harus menghubungiku. Jaga baik-baik dirimu.”bisiknya ke telinga So Eun kemudian berbalik pergi meninggalkan So Eun yang sedang bingung sambil memegang kalung pemberiannya. Hyun Joong mendekatinya.
”Ayo, So Eun. Kita pergi ke ruanganku.”ujar Hyun Joong sambil tersenyum.
”Baik, Mister Hyun Joong. Tapi Mister tidak akan melaporkan ke kepala sekolah kan? Tadi malam kami benar-benar tidak ada maksud apa-apa untuk pergi ke klub itu.”jelas So Eun. Hyun Joong kembali tersenyum.
”Kalau begitu, ikuti aku.” So Eun pun mengikutinya.

So Eun heran melihat tempat yang diduganya ada dibelakang SMA Shinhwa. Dan dia terkejut sebuah mobil ada di depannya.
”Mister Hyun Joong. Sebenarnya kita ini mau kemana?”tanya So Eun menengok belakang. Dia tertegun tidak melihat Hyun Joong.
”Mister Hyun Joong? Mister Hyun Joong!?”teriak So Eun memanggilnya.
Tiba-tiba dia disekap, mulut dan hidungnya ditutup saputangan. Saputangan itu diberi obat tidur. Hingga So Eun jadi mencium aroma itu. Matanya jadi sedikit mengantuk. Ia pun berusaha menyadarkan diri sambil melihat pelaku dibelakangnya.
”Mister Hyun Joong?”
Namun gagal, So Eun pun tertidur dipelukan Hyun Joong yang tersenyum melihat So Eun.

Hari sudah malam. Kim Bum terus menatap langit hitam dan gerbang rumahnya. Dia menunggu So Eun pulang.
”Kenapa jam segini dia belum pulang juga?” Kim Bum jadi khawatir.
Tiba-tiba Kim Joon dan Min Ho datang masuk ke kamar Kim Bum tanpa mengetuk pintu. Kim Bum terkejut melihat mereka dengan raut mukanya yang serius.
”Kim Bum. Kau pasti ingat dengan perkataanku tentang Mister Hyun Joong.”ujar Kim Joon. Kim Bum mengangguk.
”Ternyata aku pernah melihatnya di dokumen milik Min Ho. Dia adalah buronan di Singapura!”
”Apa?!” Kim Bum terkejut mendengarnya.

So Eun pun mulai sadarkan diri di kasur yang agak kumuh. Dia terkejut melihat tangannya diikat. Dia pun melihat sekeliling. Sepertinya dia sedang ada dikamar. Kamar yang bercat gelap dan kotor. Sepertinya sudah lama tidak dibersihkan. So Eun segera bangun sambil mengingat kejadian tadi.
”Kalau tidak salah tadi Mister Hyun Joong menyekapku. Tapi ini dimana?”
So Eun tertegun melihat Hyun Joong yang sedang memainkan pisaunya.

Hyun Joong menyadarinya dan tersenyum melihatnya bangun.
”Halo, Kim So Eunku tersayang. Bagaimana kabarmu?”Tanya Hyun Joong sambil mendekati So Eun.
”Siapa kau? Kenapa kau lakukan ini, Mister Hyun Joong?”tanya So Eun sambil mundur. Hyun Joong tertawa kecil.
”Sepertinya kau tidak ingat aku ya? Sudah 10 tahun kita tidak bertemu.”
”10 tahun?” So Eun mengernyitkan dahinya.
”Rupanya kau memang tidak ingat aku ya. Bagaimana kalau foto ini? Kau pasti ingat kan?” Hyun Joong menunjukkan sebuah foto yang dicoret-coret. So Eun menyipitkan matanya agar bisa melihat foto itu dengan jelas.
”Ayah, Ibu?” So Eun tertegun melihatnya.

Sang Hyun masuk ke ruang pribadi Presdir Jung Gil dengan sedikit buru-buru.
”Ada apa, Sang Hyun?”tanya Presdir Jung Gil yang heran melihat Sang Hyun.
”Presdir. Saya telah menemukan pembunuh orang tuanya So Eun.” Sang Hyun menyerahkan dokumennya yang dibawa ke meja Presdir Jung Gil. Presdir Jung Gil pun membacanya.
”Kim Hyun Joong?” Presdir tertegun melihatnya.

”Jangan-jangan kau yang membunuh orang tuaku?” So Eun mulai mengetahui pembunuhnya. Hyun Joong malah tertawa.
”Kenapa?”tanya So Eun yang tidak percaya.
”Karena mereka telah membunuh orang tuaku dan telah menghalangi cinta kita.”
”Cinta kita?” So Eun mulai tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Hyun Joong.
”Kau tau. Selama 10 tahun itu adalah waktu yang sangat lama. Aku jatuh cinta denganmu sejak kita pertama kali bertemu. Sampai sekarang pun aku masih mencintaimu.”
Ucapan pengakuan Hyun Joong membuat So Eun terkejut.
”Apa?! Kau mencintaiku?” So Eun tidak percaya apa yang didengarnya. Hyun Joong hanya tersenyum melihatnya.

”Tidak hanya itu. Dia juga yang membunuh orang tuanya So Eun.”timpal Min Ho.
”Apa?!” Kim Bum tertegun mendengarnya.
”So Eun!” Kim Bum pun mulai menyadari alasan So Eun belum pulang sampai saat ini.

TO BE CONTINUED……………

Wah… ternyata pelaku yang membunuh orang tuanya So Eun adalah Hyun Joong!
Bagaimana cara Kim Bum menyelamatkannya sementara dia tidak mengetahui tempat So Eun disekap???

Tunggu di chapter.7 yach!

NB: Jangan lupa komennya ya…!!!
^_______________^

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.5

Chapter 5:

Kim Bum mencium bibir So Eun dengan dalam dan lembut.

So Eun langsung bangun dari mimpinya. So Eun langsung mengambil gelas air putih yang berada disampingnya. Diminumnya dengan cepat.

”Sebenarnya apa yang terjadi semalam? Kenapa dia tiba-tiba menciumku?” So Eun terus bertanya-tanya kepada dirinya. Dia langsung turun dari kasurnya dan segera mandi dan berpakaian seragam. Karena dia harus segera sekolah.

So Eun bertemu Kim Bum di depan rumah. Sebuah mobil sudah menunggu mereka berdua. So Eun jadi salah tingkah didepannya. Namun Kim Bum tidak meresponnya. Dia tetap membaca buku yang dipegangnya sambil masuk kedalam mobil. Membuat So Eun jadi heran. Dan dia pun ikut masuk kedalam mobil. Mobil pun berangkat menuju ke sekolah SMA Shinhwa.

Selama perjalanan. Suasana jadi canggung. So Eun berkali-kali melirik Kim Bum yang masih fokus melihat laptopnya. So Eun mendengus kesal.

”Kenapa dia tidak bicara sedikit pun denganku? Apa kejadian semalam dia cuma mempermainkanku? Sial!” So Eun memukul pahanya sendiri lalu dia membuang muka ke jendela mobil sambil cemberut. Tanpa dia sadari Kim Bum pun meliriknya sambil tersenyum.

Mereka pun telah sampai di SMA Shinhwa. Dan mereka turun dari mobilnya. Kim Bum melangkah duluan diikuti So Eun yang masih cemberut dan kesal dengannya.

”Tau begini, harusnya aku tampar dia!”batin So Eun kesal.

Kim Bum langsung duduk di bangku kelasnya. So Eun pun masih berdiri mengikutinya. Memang dia sengaja melambatkan langkahnya karena terlalu sibuk berpikir tentang semalam. Dan dia pun tanpa sadar menabrak tubuh Geun Suk yang ada didepannya.

”Aduh!” So Eun mendongakkan kepalanya.

“Geun Suk?”

Kim Bum yang melihat itu merasa kesal.

”Hai, So Eun. Kenapa kau melamun?”tanya Geun Suk.

”Ah. Tidak ada apa-apa. Geun Suk, biarkan aku masuk kedalam kelas.”ujar So Eun sambil tersenyum. Geun Suk tetap tidak bergeming.

”Kenapa kau buru-buru? Kita kan tidak pernah mengobrol seperti tadi malam. Uhm… Bagaimana kalau aku mengajakmu kencan?”ajak Geun Suk langsung.

”Apa?” So Eun terkejut mendengarnya. Sementara Kim Bum sudah mulai tidak tahan melihatnya bersama musuhnya. Kim Bum langsung bangkit dari kursinya dan menarik So Eun ke dalam dan duduk dibangku sebelahnya. Geun Suk hanya bisa terdiam kesal melihatnya.

Chae Young pun masuk kedalam kelas sambil menyapa para siswanya.

”Selamat pagi, semua!”sapanya.

Seisi kelas serentak menjawab sapaan wali kelasnya.

”Selamat pagi, Ibu Chae Young?!”

“Ibu! Kenapa dengan lengan ibu?”celetuk Geun Suk yang melihat lengan kiri Chae Young yang dibalut perban putih.

”Oh ini. Tadi lenganku kena pisau waktu teman campingku melemparkannya ke aku.”jawab Chae Young.

”Hah? Memangnya ibu camping kemana?”celetuk Ah In.

“Itu rahasia.”jawabnya diikuti sorakan kecewa para siswanya.

”Sudah… sudah…! Sekarang giliran kalian membuka bukunya masing-masing. Kita akan melanjutkan pembahasan tentang Algoritma.”perintahnya.

Para siswa langsung mengeluarkan buku mereka masing-masing. Sementara So Eun memikirkan sesuatu setelah melihat lengan kiri Chae Young.

Waktu selesai sekolah telah tiba. Para siswa langsung berhamburan keluar pulang kerumahnya masing-masing. So Eun masih berjalan melamun membuat Kim Bum jadi heran melihatnya. Dia pun mencolek bahu So Eun hingga So Eun tersadar dari lamunannya.

”Apa yang sedang kau pikirkan?”tanya Kim Bum.

”Kim Bum. Kau pasti masih ingat tentang penyusup semalam?” Kim Bum mengangguk.

”Aku sempat menembaknya dengan senjata busurnya. Dan panah itu kena lengan kirinya. Dan itu persis seperti lengan kiri Ibu Chae Young.”ujarnya dengan pikiran logikanya.

”Maksudmu penyusup semalam itu seorang wanita?” So Eun mengangguk.

”Dan kau berpikir kalo Ibu itu pelakunya?”

”Itu… entahlah aku tidak tau.” So Eun kembali memikirkannya.

”Sudahlah. Nanti kita pikirkan lagi. Ayo masuk kedalam mobil.”ujar Kim Bum.

Rupanya tanpa So Eun sadari telah sampai didepan mobil. Mereka pun masuk kedalam mobil dan mobil itu pun berangkat.

Presdir Jung Gil telah pulang dari London. Dia langsung masuk kedalam ruang pribadinya diikuti asisten pribadinya.

”Bagaimana pesta semalam? Apakah Kim Bum gembira merayakannya?”tanya Presdir Jung Gil sambil melepaskan dasinya dan duduk disofanya karena lelah.

”Menurut Nona Ji Yun. Kim Bum cukup gembira apa lagi dengan berdansanya bersama So Eun.”jawab Sang Hyun.

”Apa? So Eun berdansa dengan Kim Bum?”

”Benar, Presdir. Tadi pagi dia melaporkan kalo dia melakukan itu karena ada penyusup yang mengincar Kim Bum.”

”Benarkah itu?” Presdir Jung Gil jadi cemas.

”Iya. So Eun berhasil menggagalkan rencana penyusup itu walaupun dia gagal menangkapnya.”lanjut Sang Hyun. Presdir Jung Gil jadi lega.

”Begitu ya? Ternyata aku memang tidak salah memilihnya.” Presdir Jung Gil jadi bangga dengan So Eun. Sang Hyun hanya terdiam.

Kim Bum merasa keanehan dalam penyetiran mobilnya. So Eun pun juga merasa begitu.

”Pak. Ini bukan jalan ke arah rumah Kim Bum.”ujar So Eun mengingatkan supir itu. Kim Bum langsung menahan So Eun.

”Siapa kau? Kau bukan supirku kan?”tanya Kim Bum. So Eun terkejut mendengarnya. Supir palsu itu tersenyum. Dia menghentikan mobilnya dan menunjukkan dirinya ke Kim Bum dan So Eun.

”Halo, apa kabar anak-anak?”sapanya.

”Ibu Guru Chae Young!”seru Kim Bum dan So Eun serentak. Chae Young langsung menyemprotkan obat tidur ke arah mereka hingga mereka pun tertidur.

”Sungguh anak-anak yang lucu.” Chae Young langsung menghidupkan mobilnya kembali dan segera menuju ke lokasinya.

Madam Ye Jin langsung masuk ke ruang pribadi Presdir Jung Gil tanpa mengetuk pintu dahulu.

”Ayah! Bagaimana ini? Sudah begitu malam tapi Kim Bum dan So Eun belum pulang juga.”ujar Madam Ye Jin cemas. Presdir Jung Gil terkejut.

”Apa? Benarkah itu?” Madam Ye Jin mengangguk. Presdir Jung Gil memencet tombol teleponnya.

”Sang Hyun. Segera keruanganku.”

”Baik, Presdir Jung Gil.”jawab Sang Hyun yang berada di kamarnya.

Hari malam telah menggantikan kejadian tadi sore. Kini Kim Bum dan So Eun terikat di tiang sebuah rumah yang kumuh. Kim Bum dan So Eun pun terbangun. Mereka tercengang melihatnya. Dua preman dan Chae Young sedang berbicara mengenai strateginya. Chae Young yang menyadari mereka bangun. Langsung tersenyum dan menghampirinya. Kim Bum dan So Eun berontak berusaha melepaskan tali yang mengikatnya.

”Wah. Rupanya anak-anak sudah bangun ya. Bagaimana tidur kalian? Apakah nyenyak?”tanya Chae Young sambil menyentuh pipi Kim Bum yang langsung membuang muka karena tidak sudi pipinya disentuh Chae Young.

”Aduh… Galak sekali kau ini.” Chae Young malah tertawa cekikikan melihat tingkah Kim Bum yang membencinya.

”Ibu Chae Young. Kenapa kau melakukan ini?”tanya So Eun.

”Oh. Kau yang sebagai bodyguardnya yang menyamar sebagai sepupunya ya. Aku lihat caramu menembak senjata busur begitu ahli ya.”

So Eun mengernyitkan dahinya. Dan dia pun menyadarinya.

”Jadi Ibu adalah penyusup tadi malam?”

Chae Young tertawa.

”Yap! Nilai 100 buatmu. Aku tidak menyangka kau begitu langsung menyadarinya. Karenamu aku jadi tidak sempat menyembuhkan luka lenganku yang mulus ini.”ujar Chae Young sambil mengelus lengan kirinya yang masih dibalut perban putih.

”Kenapa Ibu?”tanya So Eun serius. Begitu juga Kim Bum.

”Aku melakukan ini karena orang yang kucintai. Aku begitu tidak tega dia terus bersedih dan aku pun bersedia membantunya membalas dendam kepada keluargamu, Kim Bum.”

”Dia?” Kim Bum heran.

”Memangnya dia siapa? Apa yang keluarga Kim Bum lakukan terhadapnya?”tanya So Eun bertubi-tubi. Lagi-lagi Chae Young tertawa.

”Itulah PR buatmu So Eun yang sebagai bodyguardnya.”

So Eun terdiam.

”Baiklah. Kalian berdua!”teriaknya ke arah kedua preman itu. Kedua preman itu langsung berdiri dan menghadap Chae Young.

”Kalian jaga mereka berdua. Jangan sampai mereka kabur. Mengerti?!”perintahnya diikuti anggukan kedua preman itu.

”Bagus. Oke. Kalian berdua khususnya kau, Kim Bum. Aku harus melaporkan ini dulu ke keluargamu supaya mereka cemas.”

Chae Young langsung keluar sambil memencet tombol ponselnya.

Sementara So Eun sedang berusaha melepaskan gelang pemberian Eun Hye yang dipakainya yang rupanya bandul yang berbentuk pisau itu adalah bandul yang tajam. Kemudian tanpa kedua preman sadari, So Eun mulai menggesekkan bandul itu ke tali yang mengikatnya.

Telepon di ruang pribadi Jung Gil berdering. Dia langsung mengangkatnya. Madam Ye Jin langsung mendekatkan diri ke telepon Ayahnya. Berusaha mendengar percakapannya.

”Halo!”jawabnya.

”Halo Presdir Jung Gil yang terhormat. Bagaimana kabarmu?”tanya Chae Young basa-basi di ponselnya yang berada dimobil pribadi Kim Bum sambil memainkan pisaunya di pipi supir asli yang terikat di jok mobil.

”Katakan dimana cucuku, Kim Bum!”teriak Presdir Jung Gil yang mulai emosi dengan penculiknya.

”Tenang Presdir. Nanti kau akan sakit jantung kalo berteriak-teriak.”sindir Chae Young.

Presdir Jung Gil kembali terdiam sambil menahan emosi.

”Baik. Cucumu yang pintar ini baik-baik aja. Dia sedang asyik bermain bersama So Eun dengan kedua pesuruhku.”lanjutnya.

”Kau… Baiklah. Apa maumu?”tanya Presdir Jung Gil

”Mauku? Uhm… boleh juga. Aku ingin tebusan 5 triliun won.”jawab Chae Young.

“Apa!? Kau gila!” berang Presdir Jung Gil yang dinilai terlalu banyak.

”Hahahaha…. kenapa? Demi cucumu pasti kau rela melakukan apa aja kan?”ucap Chae Young sambil memainkan setiran mobilnya.

”Kau…. baiklah. Beri aku waktu.”

”Aku beri batas waktu sampai jam 12 malam. Kalo kau tidak segera mentransfernya. Aku tidak akan segan-segan membunuh cucumu.”ancam Chae Young.

”Kau! Baiklah. Jam 12 akan aku transfer.” Presdir Jung Gil mulai menyetujuinya.

”Bagus. Akan kutunggu.”ucap Chae Young mengakhiri percakapannya.

”Sial!” Presdir Jung Gil menaruh gagang teleponnya dengan keras. Tidak lama Sang Hyun datang membawa laporan.

”Bagaimana, Sang Hyun?”

”Presdir. Rupanya penculik dan penyusup tadi malam adalah Han Chae Young. Guru Wali kelas Kim Bum.”jawab Sang Hyun sambil menyerahkan dokumennya.

”Apa?!” Predir Jung Gil dan Madam Ye Jin tertegun mendengarnya.

So Eun pun berhasil melepaskan talinya begitu juga dengan Kim Bum. Kim Bum terkejut aksi So Eun yang berhasil melepaskan talinya.

”Bagaimana kau bisa lakukan itu?”tanya Kim Bum.

Namun So Eun tidak menjawabnya. Dia mengambil sebuah tongkat disampingnya. Lalu dia jalan dengan pelan-pelan menghampiri kedua preman yang sedang saling menghidupkan rokok mereka didepannya. So Eun langsung memukul tengkuk leher kedua preman itu dan mereka pun langsung pingsan.

”Ayo, Kim Bum! Kita keluar lewat pintu belakang.” So Eun langsung menarik Kim Bum berdiri dan berlari lewat pintu belakang. Mereka pun memasuki hutan belantara yang rupanya rumah itu terletak di atas bukit.

Chae Young tersenyum karena rencananya berhasil. Dia pun kembali masuk ke dalam rumah gubuk itu. Dia terkejut melihat kedua preman itu terkapar. Dan tidak menemukan Kim Bum beserta So Eun.

”Sialan!”

Chae Young yang melihat pintu belakang terbuka. Langsung memegang senjata pistolnya lalu dia pun mengejarnya.

Kim Bum dan So Eun berlari. Terus berlari sampai jauh walaupun seragamnya terkoyak karena terkena batang pohon yang tajam. Bahkan pipi dan lengan So Eun terluka begitu juga Kim Bum. Mereka terus berlari hingga sampai ke ujung. So Eun dan Kim Bum pun berhenti. Karena didepannya ternyata sebuah jurang. Tidak ada jalan lain.

”Bagaimana ini, Kim Bum?”cemas So Eun. Kim Bum hanya bisa terdiam memikirkan sesuatu. Namun sebuah tembakan telah melayang. So Eun dan Kim Bum pun berbalik.

Chae Young menodongkan pistolnya ke arah mereka yang mulai terjebak.

”Kalian ini benar-benar sangat nakal. Sudah kubilang jangan kabur. Rupanya kalian tetap melanggar perintahku!”

Kim Bum dan So Eun terdiam. Mereka benar-benar sudah tidak bisa mundur lagi. Chae Young mendekati Kim Bum sambil mengacungkan pistolnya ke pipi Kim Bum. Mata Kim Bum berputar mengikuti arah pistol itu lalu Chae Young memindahkan pistolnya ke arah So Eun. Dan diperlakukan sama seperti Kim Bum.

”Kim So Eun. Aku heran kenapa kau mau terlibat dalam masalah ini?”tanya Chae Young masih memutar-mutar pistolnya ke pipi So Eun. So Eun terdiam. Dia melihat pistol yang dipegang Chae Young. Dengan cepat, So Eun memukul punggung tangan Chae Young hingga pistolnya pun terlepas dari tangannya dan langsung memukul perut Chae Young. Dengan sigap, Kim Bum langsung mengambil pistol milik Chae Young dan diarahkan Chae Young. Namun sulit membidiknya. Rupanya So Eun dan Chae Young sedang berkelahi dengan jurus andalan mereka.

Chae Young memukul pipi So Eun hingga berdarah. So Eun menahan rasa sakitnya. Dia pun membalas pukulannya.

”So Eun! Menjauhlah darinya! Aku susah membidiknya.”teriak Kim Bum. So Eun langsung mendorong Chae Young guna menjauhinya. Namun Chae Young terpeleset dan dia pun jatuh ke jurang dan masuk ke dalam laut.

Kim Bum dan So Eun pun melihat kebawah jurang.

”Apakah dia sudah mati?”tanya So Eun sambil mengamati ke bawah.

”Entahlah. Lebih baik kita ke tempat yang tadi. Aku yakin supir yang asli masih berada disana.”

”Baik.”

So Eun setuju. Mereka pun kembali ke tempat rumah gubuk itu.

”Ayah. Bagaimana ini?”desak Madam Ye Jin. Presdir terlihat bingung dan sangat lelah. Dia tidak menyangka ada orang dalam yang mengincarnya. Tiba-tiba pelayan datang dengan wajah gembiranya.

”Presdir, Nyonya! Tuan muda Kim Bum dan Nona So Eun telah kembali!”

”Apa?!”

Presdir Jung Gil, Madam Ye Jin, dan Sang Hyun langsung berlari keluar. Kim Bum memapah So Eun yang sedang terluka akibat perkelahiannya dengan Chae Young. Presdir Jung Gil langsung menyuruh pelayannya memanggil dokter pribadinya.

Madam Ye Jin langsung menghampiri anaknya.

”Kau tidak apa-apa. Sayang?”tanya Madam Ye Jin sambil memeriksa kondisi anaknya.

”Aku tidak apa-apa. Tapi So Eun terluka.”

So Eun pun dibawa kekamarnya dan diberi perawatan yang serius.

Kondisi So Eun pun mulai membaik. So Eun sedang duduk dikasur sambil memeriksa kondisi lukanya.

”Siapa dibalik semua ini?”batinnya. Pikirannya mulai terbayang sejak insiden tadi. Dia berusaha memecahkan semua teka-teki yang terjadi begitu juga masalah keluarga ini. Kim Bum mengetuk pintu kamar So Eun. So Eun pun menyilahkan Kim Bum masuk. Dia melihat luka diwajah Kim Bum pun sudah diobati.

”Bagaimana keadaanmu, So Eun?”tanya Kim Bum sambil duduk disampingnya. So Eun tersenyum.

”Aku baik-baik saja. Uhm… aku tidak menyangka ternyata Ibu Chae Young ikut terlibat dalam masalahmu.”ujar So Eun. Kim Bum terdiam.

”Tapi aku berterima kasih denganmu. Karena kau berhasil menyelamatkanku.”ucap Kim Bum. So Eun yang mendengarnya tidak biasa langsung memukul bahu Kim Bum.

”Kenapa kau ini? Tumben sekali kau berbicara begitu.”celetuk So Eun sambil tersenyum. Kim Bum tidak menjawabnya. Hanya tersenyum.

”Tapi apa kau punya perkiraan siapa pelaku dibalik semua ini?” So Eun kembali serius.

”Entahlah. Tapi yang pasti sepertinya orang dalam. Buktinya dia mengetahui penyamaranmu sebagai sepupuku.”jawab Kim Bum dengan analisanya.

So Eun pun kembali berpikir.

*****

Kejadian kemarin telah berlalu. So Eun dan Kim Bum pun kembali masuk sekolah. Suasana dikelas masih seperti biasa. Mereka kecuali Kim Joon dan Ji Yun tidak mengetahui kalau Kim Bum dan So Eun diculik. Kepala Sekolah SMA Shinhwa sekaligus Ayahnya Ji Yun, Suk Hwan masuk ke dalam kelas mereka. Suasana yang tadinya ramai kini terdiam kembali.

”Anak-anak. Saya punya pengumuman buat kalian. Wali kelas kalian, Ibu Han Chae Young….” Suk Hwan berhenti dia mengeluarkan sebuah surat. Seisi kelas jadi serius.

”Ibu Han Chae Young telah meninggal.”lanjutnya diikuti teriakan sedih para siswa. Kim Bum dan So Eun hanya bisa saling pandang. Tentunya mereka tidak tau kalau Chae Young tewas akibat terjatuhnya ke jurang.

”Meninggal karena apa?”celetuk So Hee berusaha menahan tangisannya.

”Entahlah. Mungkin dia bunuh diri karena jenazahnya tidak ada. Yang ada hanyalah surat ini.”

”Apa?!” seisi kelas kembali riuh. Terkejut mendengar tidak ada jenazahnya. Kim Bum dan So Eun kembali berpandangan dan mengernyitkan dahinya.

”Apa maksudnya tidak ada jenazah Ibu Chae Young?”tanya So Eun berbisik. Kim Bum hanya mengangkat bahunya.

”Ini surat peninggalannya buat kalian. Dia hanya berpesan kepada kalian agar kalian harus berusaha belajar dan menjadi yang terbaik di SMA Shinhwa yang tercinta ini. Dia terpaksa meninggalkan kalian karena tidak tahan menanggung beban masalah yang dipikulnya.” Suk Hwan mengakhiri bacaan surat peninggalannya.

Suasana dikelas menjadi duka.

Malam hari di ruang santai di Rumah Presdir Jung Gil. Terlihat Kim Bum dan So Eun sedang berbicara serius.

”Menurutmu apa benar Ibu Chae Young benar-benar mati?”tanya So Eun.

”Entahlah. Memang sangat aneh kalau mayatnya tidak ada. Atau mungkin dia sudah dimakan hiu? Kau tau kan, dia jatuh kelaut dan tidak menampakkan dirinya yang membuktikan dia itu selamat.”jawab Kim Bum.

”Kau benar.”

So Eun dan Kim Bum pun kembali terdiam.

*****

Hari-hari duka pun telah berlalu. Mereka belum mendapat pengganti wali kelasnya. Suasana dikelas pun kembali seperti biasanya. So Eun sedang asyik mengganggu Kim Bum yang sedang serius membaca buku matematikanya.

”Hei, Kim Bum. Aku mau tanya sesuatu.” Kim Bum tidak menjawabnya. Malah tetap fokus ke bukunya. So Eun kesal. Dia pun mencomot buku yang dipegang Kim Bum. Kim Bum pun balik kesal ke So Eun.

”So Eun! Kembalikan bukuku.”

”Aku mau kembalikan bukumu asal kau jawab satu pertanyaanku.”

Kim Bum terpaksa meladeninya.

”Baiklah. Apa pertanyaanmu?”

”Kejadian pesta ulang tahunmu tadi. Kenapa kau tiba-tiba menciumku?”tanya So Eun dengan berbisik dan serius. Kim Bum malah tersenyum usil.

”Kenapa? Kau mau ciuman lagi?”tanya Kim Bum dengan usilnya.

”Bukan… Bukan itu! Aish! Kau…. Aarrgghh…!” So Eun jadi ngomel dan dia pun membuang muka. Kim Bum hanya bisa tertawa melihatnya.

Melihat pemandangan itu, So Hee jadi cemburu melihatnya. Begitu juga Geun Suk.

Seorang wanita cantik berambut panjang dengan kemeja hitamnya pun masuk kedalam kelasnya. Para siswa dikelas itu saling berbisik. Karena mereka tidak mengenal wanita itu. Wanita itu tersenyum lalu menaruh buku tipisnya di atas meja guru.

”Selamat pagi, anak-anak!”sapanya.

”Selamat pagi, Ibu!” Para siswa pun pun membalas sapaannya.

”Terima kasih, kalian telah membalas sapaanku. Kalian pasti heran melihatku. Aku adalah wali kelas baru kalian. Menggantikan Ibu Han Chae Young yang telah meninggal beberapa hari yang lalu.”

Suara riuhan para siswa pun dimulai. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan wali kelas yang begitu setara dengan Ibu Chae Young yang sama-sama cantik.

”Wah…. Aku tidak menyangka ternyata wali kelasku yang baru ini begitu cantik!”teriak Ah In diikuti anggukan para siswa cowok. Sementara yang gadis malah menyorakinya yang kesal.

”Sudah…sudah… kalian tenang dulu!” Wanita itu menenangkan situasi kelas dengan memukul mejanya. Suasana kembali diam.

”Nama ibu siapa?”celetuk Geun Suk. Wanita itu tersenyum ke arahnya. Geun Suk jadi salah tingkah. Senyumannya yang benar-benar menawan.

”Namaku Goo Hye Sun. Walaupun aku mengajar matematika. Kalian bisa memanggilku Miss Hye Sun. Karena aku masih terlalu muda untuk dipanggil ibu.”

”Iya! Setuju!”sorak salah satu siswa cowoknya. Sementara yang para gadis kesal terutama Ji Yun yang rupanya melihat kekasihnya terpana melihat wali kelas barunya.

”Kim Joon!”panggilnya sambil menyubit punggung tangan Kim Joon. Kim Joon pun buru-buru minta maaf kepada Ji Yun yang cemburu.

Miss Hye Sun membuka buku tipisnya. Yang rupanya buku jadwal pelajaran.

“Ehm…. Sepertinya pelajaran pertama kalian adalah musik. Oh iya, kalian ada guru musik baru. Dia menggantikan guru kalian yang mulai cuti karena akan segera melahirkan.”jelasnya.

Seisi kelas pun kembali riuh mendengarnya. Mereka menebak-nebak guru siapakah yang datang. Pria atau wanita lagikah?

Terpaksa Hye Sun memukul meja kembali untuk menenangkan suasana kelas yang ribut.

”Baiklah. Mungkin kalian tidak sabar menanti pelajaran musik lagi. Aku akan menyuruhnya masuk dulu.”

Miss Hye Sun pun keluar kelas untuk memanggilnya. So Eun pun berbisik kembali ke Kim Bum.

”Memangnya kita ada pelajaran musik ya?”tanya So Eun. Kim Bum mengernyitkan dahinya.

”Kau tidak melihat jadwal pelajarannya?” So Eun menggeleng.

”Memangnya kenapa dengan musik itu?”tanya Kim Bum balik. So Eun pun kembali berbisik.

”Aku tidak bisa main alat musik.”jawabnya.

”Apa?!” Kim Bum tertegun mendengarnya. Rupanya ada kelemahannya juga.

Miss Hye Sun pun masuk kembali.

”Baiklah. Ini guru musik baru kalian. Ayo masuk!”

Miss Hye Sun mempersilahkan guru itu masuk. Para cowok kecewa melihatnya, malah para gadis terutama Ji Yun senang dan berteriak kegirangan melihatnya. Seorang guru pria!? Berambut hitam kepirangan dan tampan pula! Guru itu tersenyum sehingga para gadis pun serasa mau pingsan kecuali So Eun. So Eun melihatnya biasa saja. Kim Bum melirik So Eun yang diduganya seperti gadis yang lain yang serasa mau pingsan melihat guru itu. Ternyata tidak, So Eun malah berbalik melirik Kim Bum.

”Ada apa, Kim Bum?”tanya So Eun heran. Kim Bum menggeleng sambil tersenyum.

”Oke..oke… Para gadis! Kalian tenanglah dulu! Aku tau kalian pasti terpesona dengan guru ini. Sekarang berilah waktu kepada dia untuk memperkenalkan diri.”

Suasana jadi terdiam.

”Silakan.” Hye Sun mempersilakan guru itu memperkenalkan diri.

”Terima kasih, Miss Hye Sun. Perkenalkan namaku Kim Hyun Joong. Sama seperti Miss Hye Sun. Aku terlalu muda untuk dipanggil Bapak. Akan lebih baik dipanggil Mister Hyun Joong.”

”Halo! Mister Hyun Joong!”sapa para gadis tiba-tiba. Tentunya kecuali So Eun. Hyun Joong tersenyum melihat keramaian kelas. Namun dia memusatkan senyuman dan perhatian ke So Eun. So Eun jadi tertegun melihatnya yang tiba-tiba memandangnya dan Kim Bum pun terdiam. Hyun Joong tersenyum dan memandangnya dengan penuh arti. Sementara Kim Bum mulai curiga dengan senyuman Hyun Joong yang dinilai terlalu aneh ke arah So Eun. Dan So Eun merasakan akan ada firasat yang tidak terduga.

TO BE CONTINUED………………………………………

Jangan Lupa Komennya ya!!!

^___________^

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.4

Chapter 4:

Makin lama, wajah Kim Bum semakin dekat dengan wajah So Eun.

“Kim Bum?!”teriaknya sambil menutup mata yang mulai berpikir Kim Bum akan menciumnya.

”Bruk.”

Perlahan So Eun membuka matanya dan terkejut melihat Kim Bum ambruk dibadannya bahkan kepalanya berada di atas dadanya.

”Waaaa….?!” teriaknya. Melihat itu, So Eun langsung mendorong Kim Bum kesampingnya sambil melindungi dadanya. Kim Bum tidak terbangun. So Eun memerhatikannya lalu mendekatkan telinganya ke arah wajah Kim Bum yang tergeletak dilantai. So Eun mendengar suara dengkurannya walaupun suaranya tidak keras.

”Rupanya dia tidur. Hhh…. Hampir aja!”keluhnya sambil mengelus dada. So Eun pun langsung keluar. Dia melihat sebuah kardus masih berada diatas kasur. So Eun langsung menurunkannya ke bawah kasur. Lalu dia menarik Kim Bum keluar dari meja. Dia menggendong Kim Bum.

”Auh! Berat sekali dia. Memangnya berat badannya berapa kilogram sih?”heran So Eun.

Dengan segenap tenaganya, akhirnya dia mencapai kasur itu lalu digeletakkannya ke kasur. Dia melepaskan sepatunya dan menyelimutinya. Tiba-tiba Sang Hyun datang ke kamar Kim Bum.

”Tuan muda!”panggilnya. Namun Sang Hyun terkejut melihat So Eun.

”Oh. Kak Sang Hyun. Kim Bum sedang tidur.”jawab So Eun.

”Begitu. Syukurlah. Semalam dia tidak tidur. Aku jadi khawatir dengan kondisinya.”

”Hah? Kenapa dia bisa tidak tidur?”tanya So Eun.

”Semalam dia seharian melakukan penelitian di kamar.”

”Penelitian apa?”

”Biasa. Buat presentasinya di sekolah.”

”Hah?” So Eun diberitahukan Sang Hyun bahwa kecerdasan Kim Bum sering digunakan untuk membantu para guru yang sedang melakukan penelitian.

”Oh begitu ya?”So Eun mengangguk-angguk. Sang Hyun tersenyum

”Kalau begitu, saya permisi.” Sang Hyun langsung keluar. So Eun pun memandang Kim Bum yang agak jauh darinya. Terlihat Kim Bum menarik selimut dan memeluk gulingnya. Tidak lama, senyuman So Eun pun muncul sambil cekikikan seakan melihat sesuatu yang lucu. Lalu So Eun pun menutup kamar Kim Bum dengan pelan dan kembali menuju ke kamarnya.

*****

Sebentar lagi pesta ulang tahun Kim Bum dan Ji Yun akan tiba. So Eun yang baru saja keluar dari toilet di SMA Shinhwa tersentak kaget melihat kemunculan Geun Suk yang sudah dari tadi menunggunya didepan toilet.

”Geun Suk? Apa yang sedang kau lakukan disini?”tanya So Eun.

Dengan senyuman andalannya, Geun Suk mendekatinya sambil menyerahkan buket bunga mawar ke So Eun. So Eun yang masih bingung terpaksa menerimanya.

”Kenapa kau memberikan ini?”tanya So Eun lagi.

”Tidak hanya itu aja. Masih ada lagi.”

Geun Suk langsung mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya. Kemudian dia pun membuka kotak itu. So Eun tertegun melihatnya. Sebuah gelang berwarna gold yang berbentuk mawar.

”Ini?”

”Ini untukmu, So Eun.” Geun Suk memberikan kotak itu ke So Eun. So Eun hanya terdiam melihat gelang yang mahal itu. Tanpa mereka sadari bahwa Kim Bum sedang jalan melewatinya. Matanya pun menangkap sosok mereka yang tidak jauh dari tempatnya. Terdiam seakan memikirkan sesuatu. Tidak lama, dia pun mengacuhkan pandangan itu.

”Uhm… Tapi ini…” So Eun melihat sosok Kim Bum yang sedang jalan menuju ke taman. Masih sadar dengan tujuannya. So Eun langsung menyerahkan kembali buket mawar dan gelang itu ke Geun Suk.

”Maaf, Geun Suk. Aku tidak bisa menerimanya. Hei, Kim Bum! Tunggu aku?!”teriaknya sambil berlari menuju ke arah Kim Bum.

”Apa?” Geun Suk terkejut melihatnya. So Eun menolak pemberian barang darinya? Baru kali ini ada cewek yang menolaknya.

”Sudah kuduga. Rupanya dia bukan gadis yang biasa. Aku tidak boleh menyerah.”ucapnya sambil meremas buket bunga yang digenggamnya dan melihat So Eun berbicara dengan Kim Bum.

”Kenapa kau kesini? Bukankah kau ada urusan dengan Geun Suk?”tanya Kim Bum.

”Ah, tidak. Bukan aku. Tapi dia sendiri yang mendatangiku.”jawab So Eun sambil berjalan menyamai langkah Kim Bum. Sejenak Kim Bum terdiam. Namun pandangannya kini ke arah tangan So Eun. Kim Bum mengernyitkan dahinya.

”So Eun. Mana bunga dan gelang dari Geun Suk itu?”tanya Kim Bum.

”Eh? Oh itu. Aku mengembalikannya.”

”Kenapa?”

”Karena barang itu terlalu mahal buatku. Aku tidak mau menerimanya. Lagipula tujuanku disini bukan untuk bersenang-senang. Tujuanku kan harus menjagamu.”

Kim Bum sedikit kaget mendengarnya jawabannya.

”Kau gadis yang normal. Baru kali ini aku menemukan gadis yang sepertimu.”kata Kim Bum.

”Hah? Apa maksudmu?” belum sempat So Eun mendapat jawaban Kim Bum. So Hee dan Gyu Ri menghalangi jalannya. Raut wajah Kim Bum berubah melihat kemunculannya.

”Ada apa?”tanyanya dengan ketus. So Eun hanya bisa berdiam tidak mengerti.

”Kim Bum. Aku minta maaf. Aku mengaku bersalah. Dan ternyata dia tidak mencintaiku.”ujar So Hee dengan raut wajahnya yang sedih.

”Lalu?” Kim Bum tidak terpancing dengan raut wajah So Hee.

”Aku ingin kembali padamu. Aku sadar hanya kau yang terbaik buatku.”ucapnya sambil memegang tangan Kim Bum. So Eun terbelalak mendengarnya. Kim Bum melepaskan tangannya dengan kasar.

”Kapan aku bilang kalau aku itu yang terbaik untukmu?”

So Hee terdiam. Lalu Kim Bum menarik tangan So Eun dan pergi dari So Hee dan Gyu Ri.

”Kim Bum?!”panggil So Hee. Kim Bum tidak menghiraukannya.

”Kim Bum. Dia…..”

”Dia mantan kekasihku.” Kim Bum langsung menjawab pertanyaan So Eun.

”Hah? Kenapa kalian berdua putus?” Kim Bum menghentikan langkahnya dan menatap So Eun dengan serius.

”Itu bukan urusanmu.” Kim Bum melanjutkan langkahnya sambil menarik tangan So Eun. So Eun hanya bisa terdiam.

*****

Malam hari telah tiba, pesta ulang tahun Kim Bum dan Ji Yun telah dilaksanakan. So Eun masih memakai handuk kimono. Dia baru saja selesai mandi. Pintu kamarnya diketok-ketok. So Eun langsung membuka pintunya. Rupanya Ji Yun dan Eun Hye.

”Kalian? Silakan masuk.”

Ji Yun dan Eun Hye pun masuk. Mereka berdua terlihat sangat cantik. Ji Yun memakai gaun berwarna kuning dan gaun Eun Hye berwarna ungu.

”Kau masih belum pakai gaun?”tanya Ji Yun.

”Uhm… aku baru saja selesai mandi. Tapi kurasa aku sedang kesulitan nih.”keluh So Eun.

”Kenapa?”tanya Eun Hye.

”Aku… aku tidak bisa bermake-up. Bagaimana ini?”

Ji Yun dan Eun Hye langsung tertawa.

”Kukira apa. Tenang aja. Untuk urusan itu, aku yang akan membantumu.”

”Iya, So Eun. Dia sangat berbakat untuk urusan make-up.”kata Ji Yun.

”Benarkah?” So Eun masih tidak percaya. Akhirnya mereka pun membantunya.

Kim Bum yang berpakaian jas santai sedang bercakap-cakap dengan Kim Joon dengan jasnya yang style di ruang pesta. Sayangnya Presdir Jung Gil dan Madam Ye Jin tidak bisa ikut merayakannya karena mereka pergi ke London untuk urusan bisnis. Kim Bum sudah terbiasa dengan suasananya. Tidak lama muncul Geun Suk, Ah In, So Hee, dan Gyu Ri. So Hee dan Gyu Ri langsung mendekati Kim Bum. Sedangkan Geun Suk dan Ah In menuju ketempat sajian makanan.

”Kim Bum. Selamat ulang tahun!”ucap So Hee sambil menyerahkan kadonya ke Kim Bum. Kim Bum menerimanya tanpa ekspresi dan jawabannya. So Hee jadi canggung melihatnya.

”Kim Bum…..”

Gyu Ri langsung menarik So Hee yang tidak sempat berkata dengan Kim Bum. ”So Hee, ayo kesana! Aku haus nih.”

So Hee hanya bisa mendengus kesal melihat sahabatnya.

Geun Suk dan Ah In mengitari ruangan sambil melihat-lihat dekorasi ruangan yang begitu mewah dan indah.

”Bagaimana, Kim Joon?”tanya Kim Bum.

”Oh itu. Dia sedang menyelidikinya. Dia mau membantumu. Jadi kau sabar aja. Eh itu dia, Ji Yun!”panggil Kim Joon ke arah pintu masuk. Kim Bum menengok ke arah yang dipanggil Ji Yun.

Ji Yun bersama Eun Hye dan So Eun masuk kedalam. Kim Bum terpana melihat penampilan So Eun yang begitu berbeda. So Eun memakai gaun hitam, rambutnya dikeriting dan dijepit, dan yang pasti sungguh mempesonakan. Sungguh hasil racikan Eun Hye sungguh menakjubkan.

”Selamat ulang tahun ya, sayangku!”ucap Kim Joon sambil mengecup pipi Ji Yun lalu dia memberikan kadonya.

”Terima kasih, Kim Joon. Aku senang sekali!”balas Ji Yun.

Kim Bum tetap memperhatikan So Eun. So Eun jadi kikuk.

“Kim Bum, selamat ulang tahun ya!”ucap Eun Hye sambil menyerahkan kadonya ke Kim Bum.

“Terima kasih.” Kim Bum menerimanya lalu menaruhkan kado itu dimeja yang ada disampingnya.

“Mana Sang Hyun?”Tanya Eun Hye sambil mencarinya disekeliling ruangan.

”Dia tidak ada disini. Dia ikut Kakek ke London karena ada urusan bisnis.”jawab Kim Bum sambil meminum jusnya yang dipegang.

”Apa? Ke London? Kenapa dia tidak bilang kepadaku?”keluh Eun Hye. Kim Bum tidak menjawabnya.

”Aish! Kalo tau begini, lebih baik aku pulang aja.”lanjutnya dengan kesal.

”Pulang aja. Aku juga tidak mengharapkanmu datang.”kata Kim Bum. Perkataan Kim Bum membuat Eun Hye berang.

”Kau…. Oke. Aku akan pulang!”

Eun Hye jadi beneran pulang. Ji Yun langsung memukul bahu Kim Bum.

”Kim Bum! Apa-apaan kau ini? Biar bagaimanapun juga, dia ini calon tunanganmu. Kau tidak boleh mengusirnya.”

”Aku tidak mengusirnya. Dia sendiri yang mau pulang.”

Ji Yun hanya bisa kesal mendengarnya. Kim Joon langsung mengajak Ji Yun ke panggung. Begitu juga Kim Bum. Kue tart yang merupakan kue ulang tahun telah tiba. Dan diletakkannya di atas panggung.

Geun Suk yang sedang mengitari ruangan bersama Ah In, dia melihat So Eun yang sedang berdiri melihat pertunjukan Ji Yun dan Kim Bum sedang meniup lilin ulang tahun yang berbentuk 19 tahun. Geun Suk terpana melihat penampilan So Eun, tidak mau sia-sia dia langsung menuju ke So Eun.

”Geun Suk! Mau kemana kau?”tanya Ah In melihat Geun Suk langsung terpisah darinya.

”Hai, So Eun.”sapa Geun Suk. So Eun menengok kebelakang. Kemudian dia tersenyum.

”Geun Suk. Kau datang juga rupanya.”

Geun Suk hanya tersenyum.

”So Eun. Malam ini, penampilanmu cantik sekali. Baru kali ini aku melihat gadis yang berpenampilan cantik dan cerah sepertimu.” Pujian Geun Suk membuat So Eun jadi tersipu malu.

”Kau bisa aja bicaranya.”bantahnya.

”Baiklah! Sekarang saatnya Ji Yun memberikan kuenya kepada orang yang disayanginya.”ujar MC yang turut memeriahkan acaranya.

”Ehm… Aku ingin memberikan kue ini kepada kekasihku, Kim Joon!”

Kim Joon langsung naik ke panggung dan menerima kue dari Ji Yun. Lalu mencium pipi kanan dan kiri Ji Yun.

”Terima kasih, sayangku.”ucapnya.

”Sekarang giliran Kim Bum!”ucap MC memberi giliran.

Kim Bum memegang piring kecil yang sudah diberi potongan kue tart.

”Dia pasti akan memberikan kue itu kepadaku.”harap So Hee diikuti anggukan Gyu Ri.

Kim Bum melihat sekelilingnya. Dia melihat So Eun sedang bercakap-cakap dengan Geun Suk. Sesekali mereka tertawa karena obrolannya. Melihat itu, senyuman Kim Bum kembali pudar.

”Kue ini aku berikan kepada…….” Kim Bum sengaja melambatkan perkataannya.

Semua tamu terdiam menanti jawaban kecuali So Eun dan Geun Suk yang masih bercakap-cakap.

”Diriku. Karena aku sangat sayang kepada diriku.”lanjut Kim Bum sambil memakan kuenya sendiri diikuti kekecewaan para tamu wanita terutama So Hee. Kim Joon dan Ji Yun hanya bisa menggeleng kepala melihat aksi Kim Bum.

”Uhm… Geun Suk. Aku mau ambil minuman dulu ya?”

”Biar aku aja yang ambil minumanmu.” Geun Suk menawarkan diri

”Tidak usah. Terima kasih.” So Eun langsung meninggalkan Geun Suk untuk mengambil minumannya. Ah In datang dan mencolek bahu Geun Suk.

”Geun Suk! Kau ini kemana aja? Dari tadi aku mencarimu. Eh tadi itu So Eun ya? Tidak kusangka ternyata dia begitu cantik.”oceh Ah In. Geun Suk tidak menjawab, malah dia terus memperhatikan So Eun yang sedang mengambil minumannya.

So Eun langsung meneguk minumannya dengan cepat. Belakangan ini dia memang sangat haus karena habis berbicara dengan Geun Suk yang rupanya cukup cerewet dan gombal.

So Eun minum jusnya sambil melihat sekelilingnya. Berharap tidak ada penyusup seperti yang dipesan Sang Hyuk untuk menjaga Kim Bum. Kemungkinan pelakunya adalah tamu pesta. Lalu dia melihat di atap. Dia melihat sosok mencurigakan sedang duduk di atap tepat disamping lampu besar yang menggantung yang tiba-tiba mati dan digantikan lampu cahaya yang mengarah ke panggung.

”Jangan-jangan dia.. Gawat!” So Eun langsung meletakkan gelasnya dan menuju ke panggung.

”Baiklah! Acara selanjutnya adalah dansa. Oke, yang pertama adalah Kim Bum. Kim Bum sepertinya kau tidak ada pasangannya. Bagaimana kalau kau cari pasanganmu. Disini banyak tamu gadis yang cantik-cantik.”ujar MC.

Kim Bum melihat kebawah panggung. Para tamu gadis langsung berteriak-teriak. Menunjukkan diri mereka agar Kim Bum memilihnya. So Hee pun berjuang keras untuk menarik perhatiannya.

”Kim Bum! Pilih aku, Kim Bum!”teriaknya.

So Eun terus berlari dan naik ke panggung. Sehingga mendapat sorakan para tamu gadis. Kim Bum hanya terdiam kaget melihat kemunculannya yang tiba-tiba naik panggung.

”Kenapa dia itu? Dia kan belum dipilih Kim Bum. Kenapa udah naik?”heran So Hee kesal.

”Kenapa kau naik kesini?”tanya Kim Bum.

”Kim Bum! Dansalah denganku. Sudah lama aku ingin berdansa denganmu. Kau mau kan?”jawab So Eun sambil melirik ke atas. Dia melihat penyusup sedang mempersiapkan senjatanya yaitu senjata busur.

Melihat itu, Kim Bum membuang muka sebentar. Lalu dia mundur.

”Oh iya? Kalo begitu kau duluan yang menari.” Kim Bum menjetikkan jarinya untuk memulaikan musik disco yang berjudul Love Like This.

Love Like This…..

”Hah?”

So Eun langsung menggoyangkan badannya sesuai dengan irama awal.

Hey Girl, ijen neoreul boyeojwo naege

Geuman neoui mameul

Won’t you, my girl (my girl)

Hangsang mangseorineun neon jeongmal babo

Jeongmal neoneun babo

O~ malhaejwoyo

Wae, neon moreuni

Neon nal moreuni

Neol wonhaneun nae mam modu da gajyeogajwo

Naege geochim eobsi

Tteollim eobsi your love!

Kim Bum tertegun melihatnya. Melihat penyusup itu mulai menembakkan panahnya. So Eun langsung menarik Kim Bum lalu melanjutkan dansanya dan panah pun melesat malah menancap di belakang panggung. Si penyusup itu terlihat kesal. Dia mengambil anak panah lagi.

Love naege wa. neon, like this.

So love, gidarin neoran girl

True love, dagawa neon like this.

One love, neon naege neon naegero

Love, naege wa. neon, like this.

So Love, gidarin neoran girl

True love, dagawa neon like this.

One Love, neon naege neon naegero

Kim Bum mulai menikmati dansanya bersama So Eun. Bahkan dia tersenyum hingga membuat para tamu jadi terkejut melihatnya.

”Hah? Kim Bum tersenyum?”heran So Hee. Geun Suk hanya bisa terdiam melihatnya. Dia mengetahui maksud senyuman Kim Bum ke So Eun.

Berkali-kali, So Eun berhasil membuat penyusup gagal memanahnya. Penyusup langsung memasangnya dan menargetkan Kim Bum dengan serius. So Eun yang sedang berdansa tiba-tiba terjatuh karena sepatunya sedikit terpleset. Untung Kim Bum berhasil menahannya. Hingga So Eun pun bertatapan dengan Kim Bum begitu juga dengannya.

I need you,

You need me.

Urineun gyeolguk hamkke hal kkeoya

Mangseorijima, naman ttarawa

Ijen yeah

”Ah! Aku benci dengan pemandangan itu!”kesal So Hee.

”Tapi So Hee. Dia itu kan sepupunya.”kata Gyu Ri.

“Iya. Tapi bukan sepupu kandung.”

So Eun melihat penyusup itu mulai menembakkan panah lagi. Langsung So Eun bangkit dan berputar sambil menangkap panah dibelakang punggung Kim Bum yang menghadap ke depan panggung. Sehingga Kim Bum tidak mengetahui aksi So Eun yang menangkap panah lalu So Eun mematahkan panah yang panjang jadi dua dan mengakhiri dansanya. Para tamu serentak bertepuk tangan.

So Eun melepaskan tangannya yang memeluk leher Kim Bum dan langsung turun mengejar penyusup yang mulai kabur. Kim Bum hanya bisa terdiam bingung melihatnya.

So Eun terus mengejarnya hingga ke taman belakang. Penyusup itu langsung membuang busurnya yang masih ada anak panah. Tidak mau disia-siakan, So Eun langsung mengambil busur itu. Dan ditembakkannya hingga mengenai lengan kiri penyusup itu. Namun tetap saja penyusup berhasil kabur. So Eun langsung melempar busurnya dengan kesal.

“Sial!”

Acara telah usai. Kim Bum menuju ke belakang panggung dimana kado-kado miliknya yang sudah dipisah dengan milik Ji Yun. Dia langsung membuka isi kado-kado tersebut. Namun dia mendengar pembicaraan kedua pelayan yang sedang membersihkan panggung belakangnya.

“Siapa yang melemparkan panah ini?”tanya salah satu pelayan itu yang melihat panah menancap di layar belakang panggung.

”Aku tidak tau.”jawab si pelayan yang satunya sambil mengangkat bahunya.

Kim Bum terdiam. Sejenak memikirkan sesuatu. Dan dia langsung pergi ke suatu tempat.

”Ah In! Sudah aku berapa kali bilang. Aku tidak mau kembali denganmu?! Pokoknya aku tidak mau!”teriak So Eun kesal dalam percakapan ponselnya. Dia berada ditepi kolam renang. Dia langsung menutup ponsel dan dilempar ke arah kursi. Hingga ponsel itu tidak rusak. Lalu dia mondar-mandir ditepi kolam. Diinjaknya dengan sepatu high heelsnya dengan penuh kesal.

”Sialan dia! Padahal dia sendiri yang memutuskan aku. Aku tidak sudi kembali dengannya.” So Eun mengambil permen coklatnya dari tas kecil lalu dia melempar tasnya hingga mendarat disamping ponsel itu. Kemudian dia membuka dan memakannya. Suasananya memang sedang kesal. Gagal menangkap penyusup kemudian Ah In yang cerewetnya minta kembali dengannya sungguh membuat So Eun jadi tambah pusing. Dilumatnya permen coklat itu dengan cepat.

Kim Bum membuka pintu kacanya dan berteriak memanggilnya.

”So Eun?!”

So Eun langsung tersedak, permen coklatnya langsung masuk ketenggorokan. Dan dia pun berbalik menghadap Kim Bum. Sialnya, sepatunya malah menginjak diluar tepi kolam hingga So Eun pun terjatuh dikolam renang. Kim Bum pun terkejut melihatnya.

So Eun langsung terbatuk-batuk karena sedikit terminum air kolam itu.

”Kenapa kau bisa jatuh?”tanya Kim Bum sambil berlutut ditepi kolam. So Eun tidak menjawabnya. Dia langsung mengangkat dirinya ke tepi kolam. Kim Bum mengambil handuk di kursi tempat dilemparnya ponsel dan tas kecil milik So Eun.

So Eun berdiri dengan gaunnya yang basah kuyup. Kim Bum langsung menutup tubuhnya dengan handuk. So Eun pun memegang handuknya sambil menggigil kedinginan.

”Ada apa, Kim Bum? Tadi kau mengagetkanku.”tanya So Eun dengan menggigil. Sungguh dingin. ”Malam-malam begini, kenapa airnya begitu sangat dingin?”batinnya heran.

”Mengagetkan bagaimana? Aku cuma mau tanya denganmu. Kejadian dansa tadi. Itu pasti bukan karena kau yang ingin berdansa denganku tapi melindungiku dari penyusup yang menembakkan panahnya ke arahku. Benarkan?”tanya Kim Bum.

So Eun tertegun mendengarnya.

”Bagaimana kau bisa tau?” So Eun malah balik bertanya.

”Sudahlah. Jawab aja pertanyaanku.”tegas Kim Bum. Dengan sedikit menunduk, So Eun pun menjawabnya.

”Iya. Tapi maafkan aku. Aku gagal menangkapnya.”sesalnya.

Kim Bum tersenyum.

”Lalu mana kado darimu untukku?”

”Apa? Kado?”

”Iya. Kado. Hanya kau yang belum memberiku kado.”

”Itu…. maaf. Aku tidak tau barang kesukaanmu. Jadi aku tidak sempat membelinya.”

”Begitu ya?” Kim Bum menganggukkan kepalanya. So Eun hanya terdiam.

Kim Bum memegang leher So Eun dan tangan kanannya memegang pinggul So Eun lalu didekatkan tubuhnya dengan Kim Bum tanpa mempedulikan gaunnya yang basah kuyup begitu pula didekatkan wajahnya dengan wajah Kim Bum. So Eun terkejut melihatnya yang begitu cepat. Dan tidak bisa dihindari. Kim Bum mencium bibir So Eun dengan dalam dan lembut. Mata So Eun terbelalak merasakan bibir Kim Bum yang menciumnya. Lalu Kim Bum melepaskan ciumannya dan tangannya yang memegang tubuh So Eun.

”Terima kasih atas kado pemberianmu. Kadomu sangat manis. Seperti….. coklat.”ujar Kim Bum sambil berbalik. Berjalan memunggunginya. So Eun yang masih bingung berusaha mencerna perkataan Kim Bum.

”Kado? Coklat? Jangan-jangan maksudmu kado dariku adalah sebuah ciumanku?”tanya So Eun yang mulai panik. Kim Bum tidak menjawabnya. Dia terus berjalan keluar sambil menyentuh bibirnya yang telah mencium So Eun dengan tersenyum. Meninggalkan So Eun yang masih terbengong.

TO BE CONTINUED……………..

Jangan Lupa Komennya ya!!!!!

^_______________^

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.3

Chapter 3:

Tiba-tiba Kim Bum langsung didorong OB untuk masuk ke dalam mobil yang ditunggunya didepan gerbang sekolah. So Eun makin panik melihatnya. Tidak mau buang-buang waktu, So Eun langsung mengejarnya. Namun sayang, mobilnya sudah keburu pergi. So Eun langsung mencari ide. Dia melihat sekeliling disekolahnya. Dan dia melihat sebuah sepeda yang tergeletak disamping pohon dilapangan olahraga.

So Eun mendapat ide, dia pun langsung berlari menuju ke sepeda itu hingga membuat teman-temannya yang sedang berkumpul dilapangan jadi heran melihatnya.

”So Eun! Kenapa kau lari?”tanya Kim Joon yang begitu kaget melihat So Eun berlari menuju ke sepeda itu.

”Kim Joon! Gawat! Kim Bum dalam bahaya.”jelas So Eun sambil menaiki sepeda itu.

”Bahaya apa maksudmu?”heran Kim Joon yang masih tidak mengerti.

Namun So Eun tidak mendengar pertanyaan kedua Kim Joon lantaran dia langsung mengayuh sepeda itu.

”Hei… So Eun!”teriak Kim Joon.

So Eun terus mengejar mobil yang menculik Kim Bum itu. Dengan sekuat tenaga, dia berhasil menemukan mobil itu. Lalu dia berbelok ke kiri disamping mobil itu. Kemudian So Eun memanggil Kim Bum.

”Kim Bum! Kim Bum!”teriaknya. Kim Bum yang masih terdiam jadi terkejut melihat So Eun yang sedang mengejarnya dengan menggunakan sepeda.

”So Eun?”batinnya heran.

”Hei! Siapa gadis itu?”teriak salah satu penculik yang ada didalam mobil itu.

”Ayo lebih cepat lagi!”teriak si OB itu sambil memerintah anak buahnya yang bertugas menyetir mobil. Penculik itu pun menancap gas hingga membuat So Eun jadi ketinggalan.

”Ah! Sial!”kesal So Eun. Tidak mau menyerah, dia pun mengambil jalan pintas.

Kim Bum yang terbius didalam mobil tadi kini dia mulai siuman. Dibukanya kelopak mata dengan pelan-pelan. Dan dia mendapati dirinya diikat dikursi dan melihat ketiga penculik yang sedang sibuk menelpon.

”Bagaimana, kakak?”tanya si gendut itu kepada kakaknya yang jangkung itu.

”Uhm… menurut perintahnya. Kita boleh melukainya. Dengan satu luka kita akan dibayar lebih. Maksudnya, imbalannya saat kita menculik akan ditambah imbalan dengan membuatnya terluka.”jelas si Jangkung.

”Benarkah itu?”tanya si Hitam itu.

”Iya…”

”Oh! Baguslah,, Hei namamu Kim Bum kan? Wah… rupanya kau memiliki wajah yang tampan. Aku heran mengapa bos menyuruh kita untuk melukaimu?”ujar si Gendut sambil memutar-mutar pisau yang dipegangnya.

Kim Bum yang sudah biasa dengan situasi ini hanya bisa bersikap santai.

”Siapa yang menyuruh kalian menculikku?”tanya Kim Bum langsung.

”Ini bukan urusanmu. Tugas kami hanya menculik dan melukaimu. Itu aja.”kata si Jangkung.

”Oh… berarti kalian ini adalah orang-orang yang tidak punya kerjaan untuk menculikku.”sindir Kim Bum sambil tersenyum lucu.

”Apa maksudmu?”tanya si Hitam sambil menarik kerah baju olahraganya.

”Maksudku adalah kalian ini adalah orang-orang bajingan yang melakukan kejahatan sepele ini.”jawab Kim Bum. Si Hitam langsung melepaskan genggamannya yang menarik kerahnya, ketiga penculik itu jadi tersinggung.

”Kau… Kau benar-benar sudah siap mati ya?”ujar si Gendut emosi, dia langsung menampar Kim Bum sehingga bibir Kim Bum terluka dan berdarah.

”Sudahlah! Jangan buang-buang waktu. Ayo kita lukai wajahnya yang sok itu!”perintah si Jangkung. Kedua penculik itu mendukung perintah pemimpinnya.

Ketiga penculik itu mulai mengitari Kim Bum yang masih duduk terikat dikursinya. Kim Bum jadi agak panik melihat ketiga penculik sudah menyiapkan sebilah pisau untuk melukai wajahnya.

”Dasar So Eun bodoh! Kenapa dia lama sekali? Seharusnya aku tidak mengharapkannya.”gumam Kim Bum kesal.

Namun saat pisau milik si Jangkung mulai menyentuh pipi Kim Bum, tiba-tiba terdengar suara dobrakan pintu yang kuat. Ketiga penculik itu langsung melihat pemandangan itu. Sosok gadis yang sedang berjalan ke arahnya.

”Kim So Eun?”panggil Kim Bum.

“Kakak. Bukankah gadis itu yang mengejar mobil kita tadi?”tanya si Gendut itu. Si Jangkun itu mendekati So Eun.

”Hei! Kau lebih baik pulang aja. Ini urusan laki-laki.”kata si Jangkung itu.

”Apa maksudmu dengan urusan laki-laki?”tanya So Eun yang mulai tersinggung.

”Kau itu gadis. Kau masih cantik dan lemah. Lebih baik kau pulang aja dari pada kami melukaimu.”ujarnya.

”Apa? Beraninya kau menyebutku gadis lemah?” So Eun jadi kesal. Kim Bum yang tau sifat So Eun itu hanya bisa membuang napas dan menggeleng kepalanya.

”Kurang ajar, kau!”

So Eun langsung menendang lutut si Jangkung sehingga si Jangkung menunduk lalu So Eun memukul hidungnya dengan dengkulnya. Sehingga hidungnya jadi terluka.

”Kakak! Gadis sialan ini!”

Si Gendut itu langsung menyerang So Eun. So Eun berhasil menghindar dari serangan kepala si Gendut itu hingga kepalanya terbentur tembok dan kepala si Gendut itu jadi berkunang-kunang. Si Hitam yang melihat kejadian itu langsung menggenggam erat pisau yang dipegangnya.

”Hiaaat…..”

Si Hitam langsung menyerangnya dengan pisau. So Eun menunduk berhasil terhindar dari serangan pisau itu. Namun sayang, pita yang dipakainya terlepas terkena sabetan pisau itu. Sehingga rambut So Eun jadi terurai.

”Aduh… Hampir saja!”

So Eun langsung menahan pisau itu. Kemudian memukul perut si Hitam itu. Hingga si Hitam pun mundur dan terjatuh. Setelah melihat ketiga lawannya mulai tidak berdaya. So Eun langsung menghampiri Kim Bum dan berusaha melepaskan tali yang mengikatnya.

”Kau tidak apa-apa, Kim Bum?”tanya So Eun sambil berusaha melepaskan tali yang rupanya diikat terlalu kuat. Kim Bum hanya bisa mengangguk. Namun matanya menangkap si Hitam mulai bangun dan mulai menyerang So Eun dengan pisau.

”So Eun. Awas!”teriaknya.

Tidak dapat dihindari, lengan kanan So Eun jadi terluka karena sabetan pisau itu. Namun tidak terlalu dalam.

”Aduh!”rintihnya sambil memegang lengannya yang mulai mengeluarkan darahnya. Dengan tenaga tangan kirinya, So Eun langsung menonjok mukanya dan menendang perutnya. Dengan posisinya yang membungkuk hingga So Eun mengambil tongkat didekatnya dan dipukulnya hingga si Hitam jadi pingsan.

Kim Bum yang melihat kondisi So Eun yang terluka itu jadi sedikit panik.

”So Eun. Kau tidak apa-apa?”tanya Kim Bum.

”Aku tidak apa-apa.”

So Eun langsung merebut pisaunya dan memutuskan tali hingga Kim Bum pun bebas. Kim Bum langsung memapah So Eun yang sudah mulai kehilangan kendali karena terlalu banyak mengeluarkan darahnya.

”Ayo, kita pergi dari sini!”

Kim Bum dan So Eun mulai berlari keluar dari gedung itu. Dan hampir aja mereka ditabrak mobil. Seorang cowok langsung menjulurkan kepalanya dari mobilnya.

”Hei! Kalian mau mati ya? Eh… Kim Bum?”

”Kim Joon?” Kim Bum jadi kaget melihat Kim Joon. Kim Bum dan So Eun langsung menuju ke mobilnya dan masuk kedalamnya.

”Sedang apa kalian ini? So Eun, kau terluka.”ujar Kim Joon heran.

”Cepat jalankan mobilmu! Bawa kami pulang.”pinta Kim Bum. Kim Joon pun mulai menancap gas dan meninggalkan gedung yang menculik Kim Bum.

Malam harinya di rumah Presdir Jung Gil. Kim Bum sedang makan malam bersama keluarganya. So Eun sudah datang dan bergabung dengan keluarga Presdir Jung Gil. Kim Bum melirik lengan So Eun yang dibalut karena terluka karena insiden penculikan tadi.

”Bagaimana keadaanmu, So Eun?”tanya Presdir Jung Gil.

”Aku tidak apa-apa, kakek! Lagi pula 2 hari juga sudah sembuh kok.”jawabnya dengan penuh semangat.

”Aku senang rupanya kau berhasil menyelamatkan Kim Bum dengan selamat walaupun kau jadi terluka.”ujar Madam Ye Jin. So Eun hanya bisa tersenyum. Kim Bum pun banyak diam. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun. So Eun melirik Kim Bum yang sedang makan malam.

”Ah…. Untunglah, besok sedang libur sekolah. Jadi aku bisa istirahat. Aku berharap Kim Bum jangan terlalu banyak keluar rumah dulu.”kata So Eun sambil melihat kalender dikamarnya. Namun saat berbalik, So Eun jadi jantungan melihat Kim Bum yang sudah berada dikamarnya, tidak pakai mengetok pintu segala lagi.

”Kim Bum. Kau mengagetkanku!”kesalnya.

Kim Bum tidak menghiraukannya. Dia pun mendekati So Eun.

”Bagaimana lukamu?”tanya Kim Bum.

”Apa? Oh… Tidak apa-apa. Tidak terlalu dalam. Nanti juga akan sembuh kok.”jawabnya.

Kim Bum mengangguk mengerti. So Eun memandangnya heran.

”Ada apa, Kim Bum?”tanya So Eun.

“Ah. Tidak apa-apa. Aku cuma mau nanya aja, apa kau serius mau jadi bodyguardku?”

“Heh? Ya tentu aja! Lagian Kakek Jung Gil sudah berbaik hati menolongku. Jadi untuk apa aku menolaknya.”jawab So Eun. Kim Bum mengernyitkan dahinya.

“Menolongmu?”

“Ah. Itu tidak terlalu penting. Lupakan aja perkataanku tadi.”ujar So Eun sambil memukul mulutnya yang hampir saja membocorkan rahasia alasan menerima tawaran Presdir Jung Gil.

”Baiklah. Aku harap kau tepati janjimu sebagai bodyguardku.”ucapnya sambil berlalu meninggalkan So Eun yang jadi terbengong mendengarnya.

”Apa? Apa mungkin maksud dia kalo dia sudah menerimaku? Benarkah itu?”

So Eun langsung melompat kegirangan.

Tanpa So Eun sadari Kim Bum memerhatikannya dibalik pintu kamarnya.

”Kakek menolong So Eun? Aku harus cari tau.”ujarnya sambil berbalik menuju kekamarnya.

Ruang pribadi penuh suasana yang serius. Terlihat Presdir Jung Gil sedang serius membaca dokumen yang dibawa Sang Hyun.

”Hm… jadi begitu. Orang tuanya yang berprofesi sebagai polisi ini dulu sering menerima teror dari orang yang tidak dikenal ya? Hm… kemungkinan besar motif pembunuhan ini ada kaitannya dengan kasus yang ditangani orang tuanya. Sang Hyun, lanjutkan pencarianmu.”perintahnya sambil menyerahkan kembali dokumen itu kepada Sang Hyun.

”Baik, Presdir.”jawabnya.

”Sang Hyun. Soal ini jangan kau kasih tau dulu kepada So Eun.”

”Dimengerti, Presdir.”

Sang Hyun pun berbalik keluar ruangan.

*****

So Eun sedang sarapan bersama keluarga Jung Gil. Ji Yun pun ikut sarapan bersama.

”Bagaimana lukamu, So Eun?”tanya Ji Yun. Kim Bum yang sedang makan melirik So Eun.

”Oh… baik-baik saja. Lukaku sudah mulai sembuh. Besok pun sudah pulih kembali.”jawabnya.

”Oh, syukurlah.”ujar Ji Yun. So Eun hanya bisa tersenyum.

Lalu Sang Hyun datang dan membisikkan telinga Presdir Jung Gil. Presdir Jung Gil pun mengangguk-angguk kepala. Kemudian Sang Hyun pun kembali pergi. Lalu dia pun memerhatikan seluruh keluarganya yang ada di depannya.

”Baiklah. Kim Bum dan Ji Yun. Sebentar lagi kalian akan ulang tahun. Bagaimana kalau kalian merayakannya dirumah ini aja?”tanya Presdir Jung Gil.

”Apa! Ulang tahun? Asyik! Akhirnya dirayakan lagi. Tapi gimana dengan Kim Bum? Biasanya dia kan tidak suka dirayakan pesta ulang tahunnya.” Pertanyaan Ji Yun membuat sekelilingnya pun memerhatikannya menunggu jawaban Kim Bum. Kim Bum yang mulai ditanyakan itu pun terdiam sejenak. Dia memerhatikan sekelilingnya dan menatap So Eun dengan dalam. So Eun jadi kikuk karena ditatap Kim Bum.

”Boleh aja. Aku mau dirayakan.”jawabannya membuat sekelilingnya kecuali So Eun melongo mendengarnya.

”Ayah! Akhirnya dia mau merayakan pesta ulang tahunnya.” Madam Ye Jin jadi terharu. Ayahnya hanya mengangguk senang. Tiba-tiba Eun Hye datang sambil membawa kotak yang dibalut kertas kado.

”Kakek! Aku datang.”teriaknya sambil memeluk Presdir Jung Gil.

”Oh… Eun Hye rupanya kau datang. Tadi kami sedang membicarakan pesta ulang tahun Ji Yun dan Kim Bum.”

”Hah? Kim Bum? Pesta ulang tahun? Tumben.”heran Eun Hye.

”Gak usah banyak bicara. Tante!”ketus Kim Bum.

”Hei! Sudah kubilang kau jangan panggil aku tante!”kesalnya.

”Ah! Sudahlah kalian berdua ini! Kenapa kalian selalu ribut. Bukankah kalian berdua akan segera bertunangan?”ujar Presdir Jung Gil sambil menyela pertengkaran Kim Bum dan Eun Hye. Mereka pun langsung terdiam.

So Eun yang dari tadi penasaran pun berbisik kepada Ji Yun.

”Ji Yun. Dari tadi aku penasaran. Kenapa Kim Bum selalu memanggilnya Tante? Memang usianya berapa?”bisiknya. Ji Yun pun menjawab dengan bisikannya.

”27 tahun.”

”Apa?!” teriak So Eun membuat sekelilingnya jadi kaget.

”Ada apa, So Eun?”tanya Presdir Jung Gil. So Eun jadi salah tingkah.

”Uhm… tidak ada apa-apa, kakek.”bohongnya.

Eun Hye mengernyitkan dahinya.

”Kau… bukankah kau yang ada diruangan tamu itu?”tanyanya.

”Ng… iya.”jawab So Eun.

“Oh. Aku lupa memperkenalkannya kepadamu, Eun Hye. Dia Kim So Eun, adik angkatnya Ji Yun.”ucap Presdir Jung Gil.

“Sungguh?” Eun Hye jadi kaget.

”Benar, Tante. Ups…. maksudku Kakak. Dia adik angkatku.”ujar Ji Yun yang jadi kikuk karena didelik Eun Hye atas penyebutan ’Tante’ kepadanya.

”Oh… berarti kau sepupunya Kim Bum dong?”

”Benar, Eun Hye.”jawab Madam Ye Jin membenarkannya.

”Ngomong-ngomong. Kado itu buat siapa?”tanya Ji Yun yang dari tadi memperhatikan bawaan Eun Hye.

”Oh ini. Mana Sang Hyun?”tanya Eun Hye sambil melihat sekelilingnya. Kim Bum yang tau maksud Eun Hye langsung menjawabnya.

”Dia ada dibelakangmu.”

Ternyata benar jawaban Kim Bum. Terlihat Sang Hyun sudah kembali dari urusannya. Melihat itu, Eun Hye langsung berlari ke arahnya.

”Sang Hyun! Selamat ulang tahun!”teriaknya sambil memberikan kado itu ke Sang Hyun. Sang Hyun jadi bingung melihatnya.

”Bagaiamana kau tau ulang tahunku?”

Eun Hye cekikikan mendengarnya.

”Sang Hyun. Kau tidak tau aku aja. Waktu SMP, aku pernah merayakan ulang tahunmu.”

”Oh… jadi kau masih ingat sampai sekarang?”ujar Sang Hyun sambil tersenyum kepada Eun Hye. Membuat Eun Hye jadi tersipu malu dilihatnya.

”Terima kasih.”lanjutnya sambil menunjukkan kado dari Eun Hye.

”Ah. Kakek, aku boleh jalan-jalan bersama Sang Hyun?”tanya Eun Hye.

”Boleh saja. Sang Hyun, kau istirahat dulu lah dari tugasmu. Kau kan sedang ulang tahun.”

”Benar tidak apa-apa, Presdir?”ragunya.

”Sudahlah, Sang Hyun! Jangan ragu-ragu. Ayo kita pergi!” Eun Hye menarik Sang Hyun pergi bersamanya.

Setelah sarapan, Kim Bum langsung masuk ke kamarnya sementara So Eun sedang ikut Ji Yun pergi berbelanja. Kim Bum mengintip jendela dibalik gorden dikamarnya. Terlihat So Eun dan Ji Yun mulai berangkat. Kim Bum kembali menutup gordennya. Lalu dia menelepon sahabatnya, Kim Joon.

”Halo.”Jawab Kim Joon yang mulai mengangkat panggilan Kim Bum.

”Kim Joon. Aku butuh bantuanmu.”

”Apa itu?”

”Aku ingin kau selidiki keluarganya So Eun.”

”Kenapa? Bukankah kau bisa menanyakan soal itu ke kakekmu?”

”Kakek tidak mau menjawabnya. Makanya aku butuh bantuanmu. Bukankah sepupumu seorang Inspektur?”

”Oh… Yoyoyo…, aku mengerti. Aku akan membantumu. Jadi kau tunggu aja kabar dariku. Oke?”

”Baiklah.” Kim Bum pun mengakhiri percakapannya. Lalu dia mengambil jaketnya dan pergi ke suatu tempat.

Malam harinya, So Eun pun sudah sampai dirumahnya. Dia diantar supirnya Ji Yun karena rupanya malam ini Ji Yun ada janji dengan Kim Joon. Para pelayan itu langsung membantunya membawa barang belanjaan.

”Wah… Nona habis borong belanja ya?”tanya salah satu pelayan yang perempuan itu sambil mengangkat plastik belanjaan itu. Lumayan banyak, sekitar 7 plastik belanjaannya. Isinya berupa gaun dan perlengkapan milik So Eun hasil pilihan Ji Yun buat pesta ulang tahun Kim Bum dan Ji Yun nanti.

”Ini juga bukan aku yang pilih.”jawab So Eun. Lalu So Eun masuk ke dalam rumahnya diikuti pelayan yang membawa barangnya.

Dia bertemu Madam Ye Jin di lantai 2.

”So Eun.”panggilnya.

”Iya, Madam?” So Eun menyuruh pelayannya duluan ke kamarnya untuk meletakkan barang belanjaannya.

”Bisa kau taruh barang ini ke kamar Kim Bum?”kata Madam Ye Jin.

”Hah?” belum sempat bertanya. Madam Ye Jin langsung menyerahkan kardus itu ke So Eun.

”Oh ya, taruh di kasurnya aja. Tolong ya.”

So Eun mengangguk sambil melihat Madam Ye Jin pergi dari hadapannya.

”Apa isinya ini?”

So Eun pun melihat isi kardus. Semacam alat-alat untuk bahan kimia dan fisika. So Eun langsung membawanya ke kamar Kim Bum.

Sampai dikamar Kim Bum. So Eun langsung meletakkan kardus itu diatas kasur Kim Bum yang berseprei kecoklatan. Dengan penasaran, So Eun pun memegang satu per satu alat yang ada di kardus itu.

”Buat apa Kim Bum memiliki barang seperti ini?”heran So Eun sambil melihat bola yang menyerupai bumi.

”JDERR…?!” bunyi petir mengagetkan So Eun sehingga bola yang digenggamnya pun terjatuh menggelinding ke arah bawah meja yang tidak jauh dari tempatnya.

”Aduh! Mau hujan nih rupanya.”kata So Eun sambil mengelus dadanya, menenangkan jantungnya yang berdetak cepat akibat bunyi petir itu. So Eun pun mencari bola itu dan menemukannya di bawah meja. So Eun pun menyusup ke bawah meja untuk mengambil bola itu.

Kim Bum pun masuk ke dalam kamarnya dengan jaketnya yang hampir basah akibat hujan. Kim Bum melepaskan jaket itu dan menggantungnya. Kim Bum pun menguap berat.

”Aduh!”teriak So Eun yang rupanya kepalanya mengenai meja saat mau berbalik keluar dari meja itu. Kim Bum mengernyitkan dahinya. Dia pun menuju ke arah suara itu. Dia pun menunduk dan melihat So Eun yang sedang merangkak dibawah meja. So Eun jadi kaget melihat kemunculan Kim Bum.

”Ah! Kim Bum. Kau sudah pulang? Oh. Maaf, aku sedang mengambil bola bumi punyamu.”kata So Eun. Namun Kim Bum tidak menjawabnya. Malah masuk ke dalam meja. Sentak, So Eun yang awalnya mau keluar terpaksa mundur kembali. Kim Bum terus mendekatinya sampai punggung So Eun menempel tembok.

”Kim Bum. Apa yang sedang kau lakukan?”tanya So Eun dengan cemas.

Lagi-lagi Kim Bum tidak menjawab dia malah mendekati So Eun.

”Kim Bum?!”panggilnya. Kim Bum tidak menghiraukannya hingga wajahnya pun semakin dekat dengan wajah So Eun. Beberapa centi jaraknya. So Eun jadi makin panik.

TO BE CONTINUED………………..

Jangan Lupa Mohon Komennya ya!!!

^______________^

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.2

Wah…. udah berapa lama neh, q gak post ff q nech…
Hihihi…
Maklum sibuk ngerjain tugas2 kul.
Tapi demi kalian yang gak sabar baca lanjutannya, akhirnya selesai juga yang chapter 2.

Langsung aja deh!

Chapter 2:

Tepat pukul 07:00, alarm telah berbunyi. Tangan So Eun langsung meraba-raba jam itu dan mematikannya. So Eun langsung bangun sambil mengucek matanya.
”Hooaahheemm…..” So Eun menguap. Masih terkantuk, So Eun melihat sekeliling kamarnya. Peristiwa tadi malam benar-benar membuat hati So Eun jadi panas. Sepertinya tugas dia kali ini akan berat. So Eun melirik foto orangtuanya. Dipegangnya dan dilihatnya dengan dalam. So Eun tersenyum.
”Ayah, Ibu. Aku berjanji akan membongkar kasus yang menimpa Ayah dan Ibu. Aku akan mengejar pembunuh itu sampai dapat.”

Sebuah mobil merah berhenti di depan rumah Presdir Jung Gil. Lalu seorang wanita keluar dengan anggun. Mengenakan pakaian berwarna kuning. Wanita itu berdiri dihadapan rumah itu. Dan dilepaskan kacamata hitamnya untuk melihat jelas rumah itu. Kemudian dia masuk sambil disambuti para pelayan.

So Eun pun turun lengkap dengan baju dan celana trainingnya. Hari ini jadwalnya adalah berolahraga. Ia pun berjalan menuju ke lapangan. Namun dihadapannya, terlihat seorang wanita dengan pakaian berwarna kuning sedang berjalan. Entah menuju kemana, kening So Eun mengernyit melihatnya.
”Wah, cantik sekali wanita itu. Siapa dia?”gumamnya.
Wanita itu tersenyum kepada So Eun. Sehingga So Eun jadi agak kikuk. Dia pun ikut membalas senyuman wanita itu. Wanita itu pun melewatinya. So Eun hanya bisa menatap jauh.
”Sangat cantik dilihatnya. Ah! Sudah mau siang. Aku harus bergegas ke lapangan.”
So Eun pun terpaksa berlari menuju ke lapangan.

Kim Bum dan Kim Joon sedang berada dilapangan.
”Heh? Benarkah? Gadis itu… siapa namanya?”
”Kim So Eun.”jawab Kim Bum.
“Iya, Kim So Eun. Dia jadi bodyguardmu?”Tanya Kim Joon tidak percaya. Ia pun ikut duduk disamping Kim Bum sambil melihat para pengawal yang sedang berlatih baik dari ringan sampai yang berat.
”Lalu kenapa kau tidak setuju kalo dia jadi bodyguardmu?”lanjut Kim Joon.
”Apa kau tidak tau? Dia itu seorang gadis. Aku tidak butuh gadis lemah seperti dia jadi bodyguardku. Sungguh memalukan sekali.”ujar Kim Bum sambil minum jusnya. Kim Joon hanya bisa manggut-manggut mendengarnya.
”Hai, Kim Bum!”sapa So Eun yang sudah berdiri disampingnya. Kim Bum yang masih minum jus meliriknya. Lalu dia pun membuang muka sehingga So Eun agak kesal. Kim Joon yang baru pertama kali melihatnya langsung menyapanya.
”Hei. Kau Kim So Eun, ya?”tanya Kim Joon sambil berdiri.
”Ah. Iya. Aku, Kim So Eun.”jawabnya.
“Oh. Kenalkan aku Kim Hyung Joon. Kim Joon. Sahabatnya Kim Bum.”ujar Kim Joon samil mengulurkan tangannya. So Eun menyambutnya. Dan menjabat tangannya.
”Sedang apa kau disini?”tanya Kim Bum.
”Aku ingin berlari disini. Apa tidak boleh?”
”Kau berlari? Untuk apa?”
”Untuk apa? Ya untuk berolahraga. Tiap hari aku selalu berlari.”
”Saat kau jadi kumuh pun sempat berlari?”sindir Kim Bum. So Eun terdiam kesal. Tidak ingin membuang-buang waktu, So Eun langsung ke lapangan.
”Hei. Tunggu.”ujar Kim Bum.
”Ada apa?”tanya So Eun.
”Aku ingin kau bertanding lari maraton dengan Kim Joon.”
”Apa? Aku?”Kim Joon terkejut.
”Aku ingin tau kemampuanmu dalam berlari.”ujar Kim Bum tanpa menghiraukan Kim Joon. So Eun tersenyum.
”Baiklah. Aku terima tantanganmu.”jawab So Eun.
Kim Bum dan Kim Joon pun mendekati So Eun.
”Kau tau? Kim Joon ini selalu menang dalam perlombaan olahraga semacamnya khususnya dalam berlari. Aku rasa kau yang mengaku kuat sebagai bodyguard pasti bisa mengalahkannya. Aku ingin kau berlari dalam 2 putaran 60 detik. Kau sanggup?”tanya Kim Bum.
”Siapa takut.”jawab So Eun dengan lantang.
Kim Bum memegang stopwatch. Kim Joon dan So Eun mulai siap-siap.
“Baiklah. 1….2….3…. Mulai!”teriak Kim Bum.
Kim Joon dan So Eun pun berlari cepat. Awalnya mereka seimbang tapi lama-lama So Eun sudah memimpin bahkan dalam 15 detik sudah memasuki putaran pertama sementara Kim Joon masih berusaha mengejar ketinggalan. Dan dalam 40 detik, So Eun berhasil mengalahkannya! Kim Bum dan Kim Joon hanya bisa melongo melihatnya. Kim Joon gagal!
”Apa aku menang? Kim Bum. Berapa waktuku? Coba aku lihat.” So Eun langsung mendekatinya sambil melihat stopwatch yang dipegang Kim Bum.
”40 detik? Wah ini rekor baruku.”ujar So Eun.
Kim Bum jadi kesal melihat kekalahan Kim Joon. Dia pun membanting stopwatch sehingga So Eun terkejut.
“Hei. Kenapa kau menghancurkannya?”Tanya So Eun. Kim Bum tidak menjawab. Dia pun berbalik menuju ke dalam rumahnya sambil diikuti Kim Joon. So Eun hanya terdiam bengong sambil diperhatikan para pengawal yang rupanya melihat pertandingannya dengan Kim Joon.

So Eun sarapan bersama Presdir Jung Gil. Kim Bum masih berada dikamarnya.
”Kudengar kau berhasil mengalahkan Kim Joon dalam 40 detik?”tanya Presdir Jung Gil. So Eun hanya bisa mengangguk tersenyum. Tidak ingin terlalu membanggakan diri.
”Hahahaha…. Baru kali ini aku melihat seorang gadis yang bisa mengalahkan Kim Joon. Cucuku pasti sedih mendengar kekasihnya kalah.”
Kata-kata ’cucu’ membuat So Eun mengernyitkan keningnya.
”Cucu? Masa sih Kim Bum? Dia kan laki-laki.”gumamnya.
Tiba-tiba seorang gadis muncul mendadak sambil memeluk Presdir Jung Gil.
”Kakek!?”teriaknya. Predir Jung Gil menyambutnya dengan gembira.
”Hahahaha…. Ji Yun. Kapan kau pulang?”tanya Presdir Jung Gil. Ji Yun melepaskan pelukannya.
”2 hari yang lalu. Maaf aku tidak menelpon kakek. Karena aku ingin membuat kejutan dengan kakek.”jawabnya.
”Hahahaha…. Kau sudah mengagetkanku. Sampai-sampai jantungku mau copot.”ujarnya bercanda.
”Ah… Kakek!”genitnya sambil memeluk kakeknya.
So Eun yang sedari tadi diam melihatnya hanya bisa ikut tersenyum.
”Ah, So Eun. Kenalkan dia ini cucu keduaku. Gook Ji Yun.”kata Presdir sambil memperkenalkan cucunya.
”So Eun? Kau Kim So Eun yang menantang Kim Bum ya?”Tanya Ji Yun.
So Eun jadi grogi mendengarnya. Dia hanya bisa mengangguk.
”Kau juga yang mengalahkan Kim Joonku?”
”Hah? Kim Joonku?”batin So Eun heran sambil mengangguk kembali.
”Sudah kuduga! Kau pasti gadis yang hebat. Aku suka kau.” Ji Yun memeluk So Eun. So Eun hanya bisa menerimanya.
Sekretaris pribadi Presdir Jung Gil, Sang Hyun telah datang.
”Presdir Jung Gil, ada telepon dari Tuan Suk Hwan.”kata Sang Hyun.
”Baiklah. Aku akan kesana. Ji Yun, tolong kau temani So Eun. Kakek ada urusan.”kata Presdir Jung Gil sambil bangkit dari kursinya.
”Oke, Kakek!”jawab Ji Yun dengan semangat.

”Kau tau, So Eun. Aku sudah bosan mendengar Kim Joon membanggakan dirinya selalu kuat dalam pertandingan. Makanya setelah aku dengar kau mengalahkannya. Aku jadi bisa mematahkan hidung panjangnya itu karena telalu lama sombongnya. Terima kasih, So Eun.”kata Ji Yun yang sambil berjalan diikuti So Eun.
”Ah. Itu hanya masalah kecil saja.”jawab So Eun. Mereka kini sedang jalan menuju ke ruangan lain. Namun mereka bertemu Kim Bum dan Kim Joon yang juga sedang jalan menuju ke ruangan lain.
”Gook Ji Yun?” Kim Joon terkejut melihat kedatangan Ji Yun. Kim Joon langsung mendekati Ji Yun. Ji Yun langsung memeluk Kim Joon.
”Sejak kapan kau sudah datang kesini?”ketus Kim Bum. Ji Yun yang sudah biasa dengan sifat Kim Bum itu hanya terdiam cuek. So Eun memperhatikan kelakuan dua sepupu ini.
”Sepertinya, mereka tidak akur ya?”gumamnya.
”Kim Bum!”panggilnya dari arah belakang Kim Bum membuat Kim Bum menengok ke belakang begitu juga So Eun, Ji Yun , dan Kim Joon.
Seorang wanita berpakaian kuning itu langsung memeluk Kim Bum hingga Kim Bum jadi gerah. So Eun mengernyitkan keningnya.
”Bukankah itu wanita yang kutemui tadi pagi?”batinnya.
Kim Bum langsung melepaskan pelukan wanita itu.
”Tante! Kau salah orang! Aku bukan Sang Hyun.”ujar Kim Bum.
”Kim Bum! Sudah berapa kali aku bilang kau jangan memanggilku tante terus. Kalo begitu dimana Sang Hyun?”
Kim Bum hanya mengangkat bahunya.
So Eun yang dari tadi penasaran langsung bertanya kepada Ji Yun.
”Ji Yun. Siapa dia?”
”Oh, dia. Dia Tante Eun Hye, Yoon Eun Hye. Dia itu calon tunangannya Kim Bum.”
Jawaban Ji Yun membuat So Eun terkejut.
“Tunangan? Wanita itu adalah tunangannya?” So Eun masih tidak percaya mendengarnya. Ji Yun dan Kim Joon hanya mesem-mesem melihat tampang So Eun.
“Iya. Umurnya 27 tahun. Aku heran apa yang dipikirkan kakek sehingga menjodohkan mereka.”
”27 tahun!”teriak So Eun hingga terdengar Kim Bum dan Eun Hye. Ji Yun langsung menutup mulut So Eun.
“Sshh… Suaramu jangan keras-keras.”
Kim Bum hanya membuang napas kesalnya. Eun Hye yang penasaran itu langsung mendekati So Eun.
“Hai. Sepertinya aku belum pernah melihatmu. Kau siapa?”tanya Eun Hye.
”Uhm…. Aku….” So Eun terbata-bata.
Tiba-tiba Presdir Jung Gil dan Sang Hyun datang.
”Oh… Rupanya kalian ada disini.”kata Predir Jung Gil.
”Yoon Eun Hye. Kau ada disini?”tanya Predir Jung Gil lagi.
”Kakek. Aku datang kesini untuk menjenguk Kim Bum.”jawab Eun Hye dengan sopan dan anggun. Kim Bum hanya membuang muka.
”Hohohoho…. Aku mengerti. Kalian berempat ikuti kakek. Ada yang ingin kakek bicarakan dengan kalian.”ujarnya.
Mereka berempat kecuali Eun Hye langsung mengikuti Predir Jung Gil.
”Eh? Lalu aku gimana?”tanya Eun Hye. Sang Hyun langsung mendekati Eun Hye.
”Bagaimana kalo kita jalan bersama? Sudah lama kita tidak ngobrol-ngobrol.”ajakan Sang Hyun membuat Eun Hye jadi merona. Dia pun mengangguk setuju.

Mereka berempat duduk dihadapan Presdir Jung Gil di ruang pribadinya.
”Seperti yang kalian tau. Kim So Eun kini menjadi bodyguard Kim Bum. Dan kalian sudah kelas 3. Besok kalian akan masuk sekolah lagi setelah liburan kenaikan kelas. Supaya Kim So Eun bisa menjaga Kim Bum tiap hari. Maka Kakek putuskan, Kim So Eun akan ikut juga dengan kalian yaitu menjadi siswa SMA Shinhwa.”
Mereka berempat jelas terkejut mendengarnya, terutama Kim Bum.
”Kenapa aku harus jadi siswa SMA Shinhwa kakek? Sementara aku baru lulus SMP. Bagaimana bisa jadi kelas 3 SMA?”tanya So Eun.
”Hahahaha…. Soal itu sudah aku ketahui, So Eun. Aku sudah membaca prestasi-prestasimu selama 3 tahun di SMP. Kau cukup cerdas. Aku rasa kau pasti bisa mengatasinya.”
So Eun terdiam. Suasana jadi hening.
”Oh iya, aku sudah bilang kepada Ayahmu, Ji Yun. Agar So Eun sekelas dengan kalian.”
”Apa? Benarkah itu? Berarti So Eun bisa sebangku denganku dong?”
”Tapi Ji Yun, untuk soal itu tidak bisa.”
”Kenapa, Kek?”
”Kita tidak tau kapan bahaya itu akan terjadi. Aku rasa akan lebih aman bila So Eun berada disampingnya.”
”Uhm… Aku mengerti.”
”Akan tetapi. Kalian harus merahasiakan identitas So Eun sebagai bodyguard. Aku rasa So Eun harus menyamar sebagai sepupu Kim Bum dan Ji Yun.”
”Apa?” So Eun terkejut.
”Aku setuju!” giliran Ji Yun girang.
”Ji Yun!” Kim Joon menegurnya.
”Hahahaha…. Aku mengerti, Ji Yun. So Eun kau bisa kan menjalani tugasmu ini?”tanya Presdir Jung Gil.
”Iya, kakek.”jawab So Eun.
Melihat cucunya sedari tadi diam, Presdir Jung Gil pun memanggilnya.
”Kim Bum.”
”Iya, Kakek.”jawab Kim Bum.
”Kau tidak keberatankan dengan keputusan kakek ini?”tanyanya. Sejenak Kim Bum menatap kakeknya. Tidak lama, dia bangkit dari sofa.
”Terserah kakek.”jawabnya sambil keluar dari ruangannya.
Mereka bertiga dan Presdir Jung Gil hanya terdiam mendengar jawabannya.

So Eun akhirnya sudah berseragam SMA Shinhwa. Perasaanya sangat berdebar-debar. Sudah 2 tahun dia tidak melanjutkan sekolahnya. Kini dia bisa bersekolah lagi bahkan loncat ke kelas 3. Sesekali dia melirik Kim Bum yang sedang menunggu mobilnya.
Madam Ye Jin memeluk Kim Bum.
“Sayang. Hati-hatilah disekolah ya? Belajar yang rajin.”pesannya. Kim Bum tidak menjawabnya malah hanya mengangguk saja. Lalu Madam Ye Jin mendekati So Eun.
“So Eun. Tolong jaga anakku ini.”pesannya lagi.
”Iya, Madam Ye Jin.”
Mobil sedan hitam telah datang dihadapannya. Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil itu. Dan mulai berangkat ke SMA Shinhwa.

SMA Shinhwa memasuki tahun ajaran baru. Kelas 3A adalah sebuah kelas elit dimana para siswa yang memiliki kemampuan khusus berkumpul dikelas itu. Kedua gadis centil yang berambut panjang dan pendek ini sedang berdiri di depan pintu kelas.
”So Hee. Gimana? Kim Bum sudah datang?”Tanya Gyu Ri, sahabatnya.
”Belum, Gyu Ri.”jawabnya sambil menunggu dan memainkan ujung rambutnya yang panjang.
”Kau kan sudah putus dengannya. Lagi pula dia tidak peduli denganmu. Kenapa kau masih ingin kembali dengannya? Dan satu lagi, bukankah kau masih punya kekasih?”tanya Gyu Ri.
”Aish…. Kau ini berisik sekali, Gyu Ri! Kau diam aja lah.”kesalnya. Namun Gyu Ri tidak mendengarnya. Dia malah terpaku karena seseorang telah datang.
”Jang Geun Suk.”panggilnya.
”Apa?”
So Hee menengok dan mendapati Geun Suk tersenyum dengannya dan Gyu Ri. So Hee langsung tersenyum kecut.
”Kenapa kau begitu ketus denganku So Hee? Kita berpisah bukan berarti harus musuhan kan?”kata Geun Suk.
“Hah? Apa maksudmu? Kau tau. Aku sudah begitu bodoh untuk mempercayaimu.”ujar So Hee menekankan inotasinya dengan serius. Namun Geun Suk menanggapinya dengan tertawa.
”Hahaha…. Lagipula suruh siapa kau untuk percaya kepadaku.”kata Geun Suk sambil masuk kekelasnya dan menabrak bahu So Hee kemudian duduk dikursinya yang paling belakang.
”Kau…. Brengsek!”keluh So Hee.
“So Hee. Kau sudah putus dengannya?”Tanya Gyu Ri tidak percaya. So Hee tidak menjawabnya.
”Sejak kapan?”lagi-lagi Gyu Ri penasaran.
”Kau diamlah!”kesalnya sambil menuju ke bangkunya diikuti Gyu Ri.

Kim Bum dan So Eun pun akhirnya datang. Mereka masuk ke dalam kelas. Tiba-tiba mereka jadi pusat perhatian seisi kelas. Mereka memusatkan perhatiannya ke So Eun yang belum dikenalnya membuat So Eun jadi gugup. So Eun langsung menuju ke samping bangku Kim Bum.
So Hee jadi penasaran dengan So Eun yang datang bersama Kim Bum.
”Siapa dia? Kok bisa barengan dengan Kim Bum?”tanya So Hee. Gyu Ri pun manggut-manggut mendengar pertanyaannya.
Geun Suk malah terpesona dengan So Eun pada pandangan pertamanya.
”Waw… Siapa gadis cantik itu?”
Untunglah keramaian itu tidak berlangsung lama karena wali kelasnya Guru Chae Young yang seksi itu telah datang.
”Selamat pagi, Anak-anak!”
”Pagi, Ibu Guru Chae Young!”serunya.
“Uhm… rupanya kalian masih sehat-sehat aja ya. Bagaimana liburan kalian? Pasti sangat menyenangkan ya. Liburanku juga sangat menyenangkan. Karena aku berlibur ke hawai. Pantai disana sangat indah jadi cocok untuk berjemur.”
”Pantas aja kulit Ibu jadi bagus dan sangat seksi!”celetuk Geun Suk.
”Ah. Geun Suk. Kau ini masih tetap tidak berubah ya. Dasar!”ujar Chae Young.
Geun Suk hanya mesem-mesem.
”Oh iya. Ibu mendapat kabar dari kepala sekolah. Kalau dikelas ini ada siswa baru. Namanya Kim So Eun. Dimana Kim So Eun?”tanya Guru Chae Young. So Eun mengangkat tangannya.
”Oh. Kau yang bernama Kim So Eun? Ayo kemarilah.”kata Guru Chae Young.
So Eun langsung bangkit dan maju ke depan Guru Chae Young.
”Oh. Jadi namanya Kim So Eun.”gumam Geun Suk.
”Baiklah. Kim So Eun, silahkan perkenalkan dirimu.”pinta Guru Chae Young.
”Baik, Guru. Perkenalkan namaku Kim So Eun. Dan aku…..”
Tiba-tiba satu siswa datang mendadak sambil ngos-ngosan. Rupanya dia sedang terlambat.
”Maaf, Ibu. Aku terlambat.”
Namun So Eun malah terbelalak melihat siswa itu.
”Yoo Ah In?”panggilnya.
Ah In itu langsung menengok dan tidak kalah kagetnya.
”Kim So Eun? Kau…. sedang apa kau disini?”tanya Ah In.
”Kau… Bukankah kau mahasiswa? Kenapa kau ada disini? Dan seragammu itu….” So Eun mengamati penampilan Ah In.
”Uhm… Itu….” Ah In jadi kagok!
Melihat mereka berbincang-bincang, Guru Chae Young langsung berdehem.
”Ehm…ehm… Rupanya kalian berdua sudah saling kenal ya? Ah In. Bisa kau kembali ke tempatmu? Perkenalan So Eun belum selesai.”
”Ah. Baik, Ibu.” Ah In langsung menuju ke bangkunya yang bersampingan dengan Geun Suk sambil ditatapi tajam oleh So Eun.
”Rupanya selama ini dia menipuku.”gumam So Eun kesal.
”So Eun. Silahkan lanjutkan.”
”Ah iya, Ibu. Uhm…. Aku tidak mempunyai orang tua. Sejak itu aku bertemu dengan keluarga Ji Yun. Dan aku diangkat jadi saudara perempuannya.”
Seisi kelas jadi ramai kembali.
”Benarkah itu, Ji Yun?”tanya salah satu siswa yang berada dibelakang Ji Yun.
”Iya. Itu sangat benar.”jawab Ji Yun sambil tersenyum.
”So Hee. Kalo dia itu adik angkatnya Ji Yun. Berarti dia sepupunya Kim Bum dong.”ujar Gyu Ri. So Hee tidak menjawabnya.
”Hah? Apa benar dia itu adiknya Ji Yun?” Ah In jadi terkejut.
”Ah In!”panggil Geun Suk.
”Iya?”
”Bagaimana kau bisa kenal dia?”tanya Geun Suk.
”Tentu saja aku kenal dia. Karena dia itu mantan kekasihku.”jawab Ah In.
Geun Suk memanggut-manggut dan menatap So Eun, ”Sepupunya Kim Bum? Boleh juga.”batinnya sambil memikirkan sesuatu.
Sedangkan Kim Bum malah cuek menanggapi keriuhan kelasnya, sebaliknya ia membaca buku.
Karena berisik, terpaksa Guru Chae Young memukul papan tulisnya berkali-kali dengan penghapusnya. Sehingga seisi kelasnya jadi terdiam kembali.
”Kalian ini terlalu berisik. Jangan terlalu heboh. Wajar aja dia ini adik angkatnya Ji Yun. Karena dia dan Ji Yun sama cantiknya. Benarkan Ji Yun?”tanya Guru Chae Young.
”Sangat benar, Ibu Guru.”jawab Ji Yun antusias.
”Baiklah. Sesuai dengan jadwal pelajaran. Jam pertama kali ini adalah olahraga. Pastikan kalian bawa baju olahraga masing-masing ya! Oh iya, So Eun. Ini baju olah ragamu. Ayahmu tadi menitipkan ini kepadaku.”ujar Guru Chae Young sambil menyerahkan baju yang dibawanya ke So Eun. So Eun yang sudah tau Kepala Sekolah adalah Ayahnya Ji Yun menerima bajunya.
Ji Yun langsung mendekati So Eun.
”Ayo, So Eun. Kita ke ruang ganti.”
So Eun menyetujuinya. Begitu juga Kim Joon mengajak Kim Bum keruang ganti.
Namun saat mau keluar kelas, So Eun dan Ji Yun dihalang Geun Suk.
”Halo, Kim So Eun yang cantik. Kenalkan namaku Jang Geun Suk, kau bisa panggil aku Geun Suk.”ujarnya sambil mengulurkan tangannya. So Eun menyambutnya. Ji Yun hanya bisa cemberut melihatnya.
Kim Bum yang melihat itu dibelakang So Eun hanya bisa terdiam.
Ji Yun yang dari tadi kesal langsung menarik So Eun menjauhi Geun Suk.
“Ayo, So Eun. Kita harus cepat ke ruang ganti.”ujarnya sambil menarik So Eun pergi sehingga secara tidak sengaja So Eun menabrak bahu Geun Suk.
“Ah, Maaf ya!”ujar So Eun sambil membungkuk minta maaf sembari ditarik Ji Yun membuat Geun Suk tersenyum.
“Gadis yang unik. Boleh juga dia.”
Geun Suk berbalik mengambil pakaian olahraganya. Namun dihadapannya, tiba-tiba Geun Suk jadi terdiam karena melihat musuhnya, Kim Bum yang mau keluar kelas. Kim Bum pun juga terdiam melihat Geun Suk. Mereka pun saling menatap dengan tatapan musuh. Tidak lama mereka pun mulai bergerak ke arah masing-masing. Dan tanpa sepatah kata pun.

”Ji Yun. Kenapa kau begitu benci dengan Geun Suk?”tanya So Eun sambil mengganti baju seragamnya di ruang ganti perempuan.
”So Eun. Pesanku kepadamu. Jangan terlalu dekat dengannya. Dan jangan percayakan omongan dia. Karena dia itu seorang playboy yang sedang populer dikalangan SMA ini.”
”Hah? Playboy?”
”Iya. Kau tau? Aku dulu sempat suka dengannya karena dia begitu tampan, baik, dan sempurnalah dimata kami. Kalo tidak ada Kim Joon, aku pasti akan jadi gila karena dia.”
”Kenapa?”
”Karena aku pikir dia itu orangnya setia. Untunglah Kim Joon membuktikan kesalahanku dalam memandang Geun Suk. Dan ternyata Kim Joon melakukan itu karena tulus mencintaiku. Aih, So Eun. Aku sungguh jadi malu sekali.”kata Ji Yun sambil menutup mukanya karena malu. So Eun hanya bisa cengengesan mendengarnya.
”Cie… Ji Yun. Aku ikut berbahagia deh! Moga-moga hubunganmu dengannya langgeng deh.”ujar So Eun mendo’akannya.
”Terima kasih, So Eun. Ayo kita keluar ke lapangan.”ajak Ji Yun.
”Kau duluan aja, Ji Yun. Nanti aku nyusul.”
”Baiklah.”
Ji Yun meninggalkan So Eun sendirian di ruang ganti. So Eun membuka loker dan menaruh seragamnya lalu mengunci loker itu. Kemudian dia keluar. Namun dia terkejut melihat Ah In sedang berdiri di depan pintu ruang ganti perempuan.
”Sedang apa kau disini, Ah In? Ini ruang gadis.”
”So Eun. Kau baik-baik saja kan? Maaf, soal waktu itu. Aku khilaf, So Eun. Aku tidak bermaksud begitu.”ujar Ah In sambil memegang tangan So Eun. Risih. So Eun melepaskan tangannya dari Ah In.
”Lepaskan tanganku! Semuanya sudah terlambat. Maaf, Ah In.”kata So Eun sambil berlalu.
”So Eun!” Tidak menyerah, Ah In pun mengejar So Eun. Melihat itu, terpaksa So Eun berlari menghindari Ah In.

”Ayo, Kim Bum! Olahraga sudah dimulai.”kata Kim Joon yang masih berada di ruang ganti cowok.
”Kau duluan aja, Kim Joon. Aku sedang mencari arlojiku.”tolak Kim Bum.
”Baiklah.” Kim Joon pun meninggalkan Kim Bum sendirian diruangannya. Kim Bum terus mencari arlojinya yang terjatuh. Tidak lama, dia pun menemukan arlojinya dibawah sudut loker. Kim Bum pun mengambilnya dan berbalik. Dia terkejut melihat seorang OB berdiri dihadapannya.
”Ada apa?”tanya Kim Bum.

So Eun bersembunyi dibalik pohon. Sesekali So Eun mengintip sekelilingnya. Memastikan Ah In tidak mencarinya lagi. Setelah aman, So Eun pun keluar dengan lega.
”Dasar Ah In bodoh! Kau pikir aku akan memaafkanmu dan kembali lagi denganmu? Hmph… Tidak akan!”ujarnya. Dia pun berjalan menuju ke lapangan karena olahraga sudah dimulai. Namun saat dia melewati taman SMA Shinhwa. Dia melihat Kim Bum bersama OB.
”Mau kemana dia?” So Eun makin curiga karena Kim Bum dan OB menuju ke mobil hitam di depan pagar SMA Shinhwa. Dan dia melihat suatu benda yang mencurigakan dibelakang punggung Kim Bum. Sebuah pistol yang menodongkan Kim Bum oleh OB!
”Jangan-jangan. Dia mau diculik?”pikir So Eun.

TO BE CONTINUED……………………………..

Hehehe….
So Eun baru masuk sekolah udah heboh….
Dari mantan ampe si Playboy….

Kim Bum diculik agy….
Bisakah So Eun menyelamatkannya????

NB: Jangan lupa komennya yach!?

^_____________________^

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.1

^___________^

Cowry lama ya!
Hehehe….
Coz tadi agy sibuk nich, ngerjain tugas kampus.
Hehehehe….
Sekarang dah selesai chapter.1 nya.
Met membaca ya!

Chapter 1:

Sebuah kota di Korea Selatan yang megah, penuh dengan gedung-gedung yang tinggi yang menghadap laut. Seorang gadis yang berpenampilan kumuh sedang duduk diatas kursi. Gadis itu memandang laut yang sedang berombak diiringi air mata kesedihannya. Dia terus mengingat kejadian lima hari yang lalu.

Lima hari yang lalu….
Di sebuah pabrik terlihat seorang manajemen pabrik itu itu berdiri dihadapan para buruh. Manajemen itu sedang mengucapkan nama-nama buruh yang akan di PHK. Beberapa buruh yang di PHK terlihat memberontak namun para polisi berhasil mengatasinya sehingga manajemen itu terus melanjutkan perkataannya.
”KIM SO EUN!”
So Eun terlihat shock mendengar namanya terdaftar dalam PHK.
“Tidak mungkin! Ini tidak boleh. Pak! Tolong beri aku kesempatan untuk bekerja!”
So Eun ikut memberontak, namun polisi berhasil menahannya. So Eun terus memberontak.

Pada malam harinya, So Eun berjalan dengan lunglai dijalanan. Kini dia sudah tidak punya pekerjaan lagi. Yang ada dipikirannya adalah hutang rumah kontrakan yang harus dibayar hari ini. Dengan uang tunjangannya pun belum bisa melunasi hutangnya. So Eun terkejut setelah sampai dirumahnya. Seorang Ibu pemilik rumah kontrakan itu sedang berdiri didepan pintu sambil memerintahkan para preman untuk mengeluarkan barang-barangnya yang ada dirumah. So Eun berlari menujunya.
”Ibu. Beri aku kesempatan untuk membayar rumah ini.”pinta So Eun. Ibu itu menatap tajam, lalu dia berkacak pinggang dihadapannya.
”Kesempatanmu sudah habis! Sudah 5 bulan kau belum bayar rumah kontrakan ini. Sekarang kau pergi dari sini! Bawa barang-barangmu ini!” Ibu kontrakan itu pun mendorong So Eun sehingga So Eun terjatuh.

Akhirnya So Eun hanya membawa koper yang berisi baju dan barang penting lainnya. Kini So Eun berjalan lunglai sambil menangis. Rumah tinggal So Eun yang dulu telah ditinggalinya karena peristiwa berdarah sejak 2 tahun yang lalu. Saat So Eun pulang dari rumah temannya untuk merayakan kelulusan SMP. So Eun merasa ada yang aneh dirumahnya. Sudah malam, tapi lampu depan rumahnya belum dihidupkan. Dengan pelan-pelan So Eun pun memutar kenopnya.
”Tidak dikunci?” So Eun jadi heran. Ia pun membuka pintu itu dan masuk ke dalam. Gelap.
”Apa Ibu lupa menghidupkan lampunya?” So Eun jadi bertanya-tanya. Dia pun mencari tombol lampu. Dia pun meraba-raba dindingnya karena gelap. So Eun pun menemukan tombolnya lalu dihidupkannya. So Eun tercengang melihat suasana rumahnya. Dia melihat dindingnya terciprat warna darah. So Eun pun menutup mulutnya, melihat sesuatu yang disayanginya dihadapannya. Kedua orangtuanya tergeletak tidak berdaya dengan banyak ceceran darah dipakaian mereka.
”Ibu?! Ayah?!” So Eun pun berlari menujunya. Dia pun berusaha menyadarkan kedua orangtuanya. Dia melihat banyak peluru yang menembus tubuh kedua orangtuanya. So Eun terus mengguncang tubuh mereka.
”Ayah, Ibu?! Bangunlah! Jangan tinggalkan aku…..!” So Eun terus mengguncangnya. Tidak ada reaksi. So Eun harus menerima kenyataannya bahwa kedua orangtuanya sudah meninggal. So Eun hanya bisa menangis sambil memeluk orangtuanya. Seragam kelulusannya pun telah terkena noda darah orangtuanya.
2 tahun yang telah berlalu, So Eun terus menangis memikirkannya. So Eun hampir saja ditabrak mobil karena terlalu banyak melamun.
”Hei! Kau ini mau mati ya?”teriak pemilik mobil itu. So Eun pun langsung menunduk.
”Maaf.”
”Kim So Eun?”panggil pemilik mobil itu. So Eun pun mengangkat wajahnya dan melihat yang dipanggilnya.
“Yoo Ah In?”
Pemilik mobil yang bernama Ah In itu pun keluar dari mobilnya dan menghampiri So Eun.
”So Eun. Sedang apa kau disini?Kau…. kenapa bawa koper?”tanya Ah In. Mata So Eun berkaca-kaca. Dia langsung memeluk Ah In dan tangisannya pun semakin keras.
”So Eun…. kau kenapa?”heran Ah In.
”Ah In. Aku dipecat.”
“Hah? Dipecat?”
“Iya. Aku diPHK tadi. Terus aku diusir dari kontrakan. Sekarang ini aku sudah tidak punya tempat lagi.”kata So Eun. Ah In menahan pelukannya.
”Sungguhkah itu, kau sudah tidak punya pekerjaan lagi? Tunggu. Berarti kau sudah bukan orang kaya lagi?”tanya Ah In. So Eun mengernyitkan dahinya.
”Apa maksudmu?”
”Ah… I… Itu…Aku…. tidak apa-apa. Aku pergi dulu ya!” Ah In langsung buru-buru masuk ke dalam mobil. So Eun menganga mendengar perkataannya dan mengejarnya.
”Ah In. Kau kenapa? Walaupun aku sudah bukan orang kaya lagi, kau masih bisa menerimaku apa adanya kan?”tanya So Eun. Ah In malah terdiam. Dia mengalihkan pandangannya dari So Eun.
”Ah In! Jawablah aku!”
Ah In pun memberikan perkataan terakhirnya, ”Maaf, So Eun. Kita harus putus.”
”Apa?”
Ah In langsung menancap gasnya dan pergi meninggalkan So Eun.
”Ah In! Ah In!” So Eun mengejarnya. Tapi gagal. Ah In sudah menghilang dari hadapannya. Penderitaan So Eun semakin bertambah. Kini dia pun dicampakkan kekasihnya yang baru dijalin 1 bulan.

Lima hari telah berlalu, gadis yang bernama So Eun itu masih memandang laut yang masih tetap berombak. Penampilannya yang sangat berantakan, sudah lima hari dia tidak bisa mandi. Rambutnya yang berantakan. Pakaiannya hanya yang seadanya aja. Yang pasti sangat kumal. Perutnya keroncongan. So Eun memang belum makan dari pagi. So Eun pun merogohkan kantungnya untuk mencari uang. Terlihat hanya tinggal beberapa koin.
”Hanya tinggal segini? Tidak cukup untuk membeli makanan.”keluhnya. Lagi-lagi perutnya memanggil.
”Auh… Aku lapar sekali.” So Eun memegang perutnya. Dia pun menengok belakang.
”Apa aku mesti mengemis aja?” So Eun putus asa.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan sebuah restoran. Para pengawal itu pun keluar dan membuka pintu mobil itu. So Eun pun mengalihkan pandangannya dan dia pun menangkap sosok mencurigakan. Tidak jauh dari posisi mobil itu, So Eun melihat seorang pria yang sepertinya sedang membidik mobil dengan bersembunyi dibalik motornya. Lalu seorang kakek pun keluar dari mobil mewahnya. Pria itu siap-siap menarik pelatuknya. So Eun yang menyadari kondisi itu, segera berlari menuju kakek itu.
”Kakek?! Awas….!”
Pria itu akhirnya mulai menarik pelatuknya. Dan peluru pun ditembakkan. So Eun pun menundukkan kepala kakek itu. Dan tembakannya pun meleset. Para pengawal segera melindungi kakek itu.
”Anda baik-baik saja?”tanya salah satu pengawal itu. Kakek itu hanya mengiyakan. Karena gagal menembaknya, pria itu langsung menghidupkan motornya dan segera kabur. Melihat itu, So Eun langsung mengambil kayu lalu dilemparnya ke roda-roda motor itu. Dan berhasil, pria itu pun terjatuh. So Eun langsung berlari menujunya.
”Ciaat…!” So Eun menendang perutnya. Lalu Pria itu segera balas menghajarnya, namun So Eun berhasil menangkisnya. Ia pun memegang tangan pria itu lalu dibantingnya dan dipelintirnya tangan pria itu dibelakang punggung.
”Hei! Siapa kau ini? Kenapa kau begitu berani menembak kakek itu?”tanya So Eun. Para pengawal pun bantu menahannya. Dan kakek itu mendekatinya.
”Terima kasih, kau sudah menolongku.”ucap kakek itu berterima kasih kepada So Eun.
”Oh… tidak apa-apa, kakek.”
”Oh iya, siapa namamu?”
”Namaku Kim So Eun.”
”Aku Lee Jung Gil. Kau bisa memanggilku Presdir Jung Gil.”
”Oh, Kakek Jung Gil. Ops… Maksudku Presdir Jung Gil.”So Eun buru-buru memperbaiki kalimatnya. Presdir Jung Gil tersenyum.
”Kau boleh memanggilku kakek.”
So Eun terbengong. Tiba-tiba perutnya berirama lagi hingga terdengar Presdir Jung Gil.
”Ah. Maaf, kakek.”ucap So Eun malu.
“Kau lapar ya? Bagaimana kalo kau ikut denganku?”
“Hah?”

So Eun melahap makanan itu dengan cepat. Dia memang sangat lapar sekali. Presdir Jung Gil hanya bisa tersenyum lucu melihat tingkah So Eun.
”Ah…. Terima kasih, kakek. Makanan disini sangat enak. Aku jadi kenyang sekali.”kata So Eun. So Eun pun minum air putih.
”Kau tinggal dimana, nak?”Tanya Presdir Jung Gil. So Eun jadi tersedak.
”Kau tidak apa-apa?” Presdir Jung Gil jadi panik.
”Aku tidak apa-apa. Aku… aku tidak ada tempat tinggal.”jawab So Eun.
”Kenapa?”
Lalu So Eun menceritakan tentang pekerjaan dan rumahnya.
”Lalu orangtuamu dimana?”tanya Presdir Jung Gil. Lagi-lagi So Eun terdiam.
“Orangtuaku…. Orangtuaku sudah meninggal.”
“Oh… Maafkan aku.” ucap Presdir Jung Gil merasa bersalah.
”Tidak apa-apa. Mereka dibunuh ketika aku lulus SMP.”
Kini Presdir Jung Gil lebih terkejut mendengarnya.
”Kenapa bisa dibunuh?”
”Aku tidak tau siapa pelakunya. Aku ingin mencari orang yang telah berani membunuh orangtuaku dengan kejam. Tapi, aku tidak tau harus mencari bantuan dengan siapa?”curhat So Eun. Presdir Jung Gil sedang berpikir. Lalu ia pun mendapatkan ide.
”Kim So Eun. Sepertinya kau pintar bela diri?”Tanya Presdir Jung Gil. So Eun terlihat kikuk.
”Itu… Aku memang bisa bela diri. Dulu ketika aku SMP, aku sering mendapat juara satu setiap ada perlombaan olahraga. Ini semua berkat didikan Ayah dan Ibuku yang berprofesi sebagai polisi.”kata So Eun.
Presdir Jung Gil mengangguk mengerti.
”Begitu ya. So Eun, sebenarnya aku ada mempunyai masalah yang serius. Kau tadi liat seorang pria yang berusaha membunuhku?”tanya Presdir Jung Gil. So Eun mengangguk.
”Dia adalah pembunuh bayaran. Sudah lama keluargaku terus diincar pembunuh. Aku memiliki cucu. Namanya Kim Bum. Dia sebaya denganmu. Sejak kecil, dia sering diculik.”
”Benarkah itu?”potong So Eun. Presdir Jung Gil mengangguk.
”Iya. Sampai sekarang dia masih diincar. Kami tidak tau siapa pelakunya dan apa tujuannya.”
So Eun terdiam mengangguk. Mengerti dengan perkataan Presdir Jung Gil itu.
”Karena itu, So Eun. Maukah kau jadi bodyguard cucuku?”
”Hah?” So Eun terkejut.
”Maksud kakek, aku jadi bodyguardnya? Kenapa aku? Aku sangat tidak pantas mendapatkan itu.”
”Tidak, So Eun! Kau yang pantas untuknya. Karena Kim Bum sangatlah parah kalau berinteraksi dengan kami dan yang lain. Aku pikir mungkin dia butuh teman gadis yang sebaya dengannya.”
”Parah?”tanya So Eun.
”Cucuku itu orangnya sangat cuek.”bisik Presdir Jung Gil.
”Cuek?”heran So Eun. Presdir Jung Gil mengangguk.
”Kau harus tinggal di rumahku. Agar kau bisa mengawalnya.”
So Eun terdiam. Presdir Jung Gil itu menunggu jawaban So Eun.
”Aku berterima kasih kepada kakek yang telah menawariku pekerjaan yang menarik. Tapi maaf, aku tidak bisa. Kakek terlalu cepat untuk mengenaliku. Kita kan baru pertama kali bertemu. Aku rasa, anda terlalu cepat menawarkan pekerjaan ini kepada orang yang tidak dikenal. Maafkan aku.”tolak So Eun sambil bangkit dari kursinya dan hendak meninggalkan tempatnya.
”Sebagai balasannya, aku akan membantumu mencari pembunuh orangtuamu.” perkataan Presdir Jung Gil telah menghentikan langkah So Eun.
”Apa?”

So Eun pun telah sampai dirumah Presdir Jung Gil bersamanya. Para pengawal pun turun sambil membuka pintu mobilnya. So Eun dan Presdir Jung Gil pun keluar. So Eun terpana melihat rumah yang besar dan mewah.
”Wah…. Benarkah ini rumah kakek?”tanya So Eun sambil memerhatikan sekeliling rumah itu. Presdir Jung Gil tersenyum.
”Ayo, kita masuk.”perkataan Presdir Jung Gil menyadarkan lamunan So Eun.
”Apa? Ah… I.. Iya..”
So Eun pun mengikuti langkah Presdir Jung Gil. Pintu rumah itu dibuka pelayan dan disambutnya dengan hangat, ”Selamat datang, Presdir Jung Gil.”
So Eun hanya terbengong melihatnya.
Dua mobil mewah, mobil sport dan mobil sedan hitam telah sampai didepan rumah yang sama. Dari mobil sport, keluarlah seorang cowok dengan pakaian stylishnya. Lalu pengawal itu pun membuka pintu mobil sedan hitam. Cowok itu pun keluar.
”Hei, Kim Bum. Ini barangmu.”kata cowok itu sambil menyerahkan sebuah tas ke Kim Bum. Kim Bum pun mengambilnya.
”Terima kasih, Kim Joon. Maaf, merepotkanmu.”ucap Kim Bum ke cowok yang bernama Kim Joon itu.
”Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantumu. Kim Bum. Untung aja, aku bisa cepat menanggapinya kalo dia itu orang yang sangat mencurigakan. Makanya hati-hati ya, Kim Bum. Oh iya, Aku pergi dulu ya. Aku ada janji dengan sepupumu, Ji Yunku yang tersayang.”gombalnya. Kim Bum hanya bisa menggeleng kepala, bosan mendengar kata-katanya.
”Baiklah. Sana pergi!”ketus Kim Bum. Kim Joon malah tertawa cekikikan.
”Hehehe… Ketus amat. Ya udah, aku pergi ya! Bye-bye!” Kim Joon pun masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan sahabatnya. Lagi-lagi Kim Bum menggeleng.
”Dasar bodoh.”
Kim Bum pun masuk kedalam rumah dan disambut para pelayan. Disaat dia sedang jalan menuju ke kamarnya. Agak jauh, Kim Bum menengok ke kanan dan melihat seorang gadis kumuh jalan dengan kakeknya. Kim Bum mengernyitkan keningnya. Walau hatinya pun bertanya, namun dia memilih tidak mempedulikannya. Kim Bum pun mengalihkan pandangannya dan terus jalan.

Presdir Jung Gil membawa So Eun ke ruang pribadinya. Dan dia pun bertemu dengan seorang wanita dengan pakaian yang mewah. Presdir Jung Gil pun menyapanya.
”Hai, Ye Jin.”
Wanita yang bernama Im Ye Jin itu langsung menuju Presdir Jung Gil dengan penuh cemas.
”Ayah! Kau baik-baik saja? Aku dengar katanya ayah hampir ditembak.”kata Madam Ye Jin sambil memeriksa kondisi Ayahnya. Presdir Jung Gil hanya bisa tertawa geli melihatnya.
”Ayah kok malah tertawa? Orang lagi cemas begini.”kesal Madam Ye Jin.
“Oh iya, Ayah. Tadi Kim Bum diculik lagi. Tapi untung aja, Kim Joon dan Sang Hyun telah berhasil menyelamatkannya. Sungguh benar-benar khawatir.”lanjut Madam Ye Jin. Presdir Jung Gil pun mengangguk mengerti.
Mata Madam Ye Jin menangkap sosok So Eun dibelakang Presdir Jung Gil dengan pakaian yang sangat kumuh.
”Ayah, siapa dia?”tanya Madam Ye Jin sambil memerhatikan penampilan So Eun dari atas sampai bawah. Presdir Jung Gil langsung menarik So Eun untuk mendekat dengannya.
”Ye Jin. Dialah yang telah menyelamatkan Ayah dari pembunuh itu. Namanya Kim So Eun. So Eun, kenalkan dia ini anakku dan Ibunya Kim Bum.”kata Presdir Jung Gil sambil memperkenalkannya. So Eun langsung menunduk hormat kepada Madam Ye Jin.
“Halo. Kenalkan aku Kim So Eun.”
”Oh, salam kenal. Terima kasih kau telah menyelamatkan Ayahku. Oh iya, kau panggil saja aku Madam Ye Jin.”ujar Madam Ye Jin.
”Madam Ye Jin?”gumam So Eun.
“Tapi kenapa penampilanmu sangat berantakan?”tanya Madam Ye Jin heran. Presdir Jung Gil dan So Eun jadi kikuk.
”Ye Jin, nanti akan aku ceritakan ini kepadamu. Sebelumnya, bisakah kau membawanya ke salon untuk mengubah penampilannya yang lebih baik. Kau kan perempuan.”ujar Presdir Jung Gil. Madam Ye Jin langsung menanggapinya.
”Baiklah, aku mengerti. Mari So Eun. Ikut aku.”kata Madam Ye Jin sambil menuntutnya. So Eun hanya bisa terdiam bengong mengikutinya.
Presdir Jung Gil tersenyum melihatnya. Tidak lama, dia pun memanggil bodyguard Kim Bum.
”Anda memanggilku?”tanya bodyguard yang rupanya telah datang.
”Iya, Sang Hyun. Kau ada tugas yang harus dilakukan.”kata Presdir Jung Gil kepada bodyguard yang bernama Yoon Sang Hyun.
”Apa itu?”
”Selidiki gadis yang bernama Kim So Eun. Kau selidiki semua yang berkaitan dengannya termasuk kematian orang tuanya.”pinta Presdir Jung Gil.
”Orang tuanya dibunuh?”tanya Sang Hyun.
”Iya. Aku sudah berjanji dengannya akan membantunya mencari pembunuh orang tuanya. Kau bisa kan?”
”Siap, Presdir Jung Gil.” Sang Hyun segera melaksanakan perintahnya. Namun Presdir Jung Gil masih ada pembicaraan lagi.
”Sang Hyun. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
Sang Hyun terdiam mendengarnya.

Suasana makan malam begitu meriah. Terlihat para pelayan dan pengawal berkumpul diruang makanan. Presdir Jung Gil, Madam Ye Jin, dan Kim Bum sedang makan malam.
”Bagaimana, Ye Jin?”tanya Presdir Jung Gil.
”Dia sudah dibawa ke salon. Sekarang dia sudah selesai dan akan segera kemari. Ya ampun, Ayah. Rupanya dia memang sangat kasihan sekali. Makanya dia jadi berantakan penampilannya. Bayangkan ayah, sudah lima hari dia belum mandi karena dia sudah ttidak punya tempat lagi dan dia di PHK. Sungguh kasihan.”ucap Madam Ye Jin. Kim Bum mendengarnya, dia mengernyitkan keningnya. Mencerna maksud pembicaraannya, tidak lama ia pun mengetahuinya.
”Apa tentang gadis kumuh yang kulihat tadi siang?”batinnya.
Presdir Jung Gil melihat cucunya masih cuek seakan tidak penasaran dengan pembicaraan tadi.
”Kim Bum, apa kau tidak menanyakan sesuatu?”tanya Presdir Jung Gil. Madam Ye Jin pun memasang telinganya untuk mendengar jawaban anaknya. Namun sayang, Kim Bum hanya bisa menjawab satu kata.
”Tidak.”singkatnya.
Presdir Jung Gil dan Madam Ye Jin hanya bisa mengelus dadanya setelah mendengar jawaban Kim Bum. Sungguh miris kata-katanya.
Tidak lama, So Eun pun datang ditemani pelayannya. Presdir Jung Gil dan Madam Ye Jin terpana melihat penampilan So Eun yang baru.
”Ye Jin, apa benar itu Kim So Eun?”Tanya Presdir Jung Gil. Madam Ye Jin hanya bisa mengangguk sambil melongo saking terpesonanya melihat So Eun. Penampilan So Eun sangat berbeda dengan yang tadi, kumuh. Kini rambut keritingnya ditata rapi, wajahnya yang kotor pun telah dibersihkan. So Eun dimake-up sedikit. Dengan memakai baju kemeja kuning, rok jeans selutut berwarna coklat, anting dan kalung bahkan gelang silver pun telah dipakainya, sandal high heelnya yang tidak terlalu tinggi. So Eun pun berjalan dengan penuh anggun. Karena terdengar terus berbisik-bisik, Kim Bum yang sedari tadi sedang makan memaksakan dirinya untuk melihatnya. Kim Bum terpana melihat penampilan So Eun yang telah berubah.
”Apa benar ini gadis kumuh yang kulihat tadi siang?”batinnya.
”Oh, So Eun! Aku tidak menyangka kau akan berpenampilan seperti ini. Kau… kau sangat cantik!”puji Madam Ye Jin. So Eun hanya bisa tersenyum mendengarnya. Belum terbiasa dengan perhiasan yang agak mahal.
”Duduklah, So Eun.”pinta Presdir Jung Gil. So Eun pun duduk berhadapan dengan Kim Bum.
”Makanlah.”ujar Presdir Jung Gil sambil menyilakan So Eun untuk makan malam. So Eun pun memakannya. Ditengah suasana makan malam. Presdir Jung Gil memperkenalkan cucunya.
”So Eun. Kenalkan ini cucuku, Kim Bum. Kim Bum kenalkan ini So Eun.”
So Eun memberi salam kenal, ”Halo. Aku Kim So Eun.”
Sayang, Kim Bum tidak menyahutnya malah dia terus makan. Presdir Jung Gil dan Madam Ye Jin jadi canggung. So Eun jadi terasa sedikit kesal dengan sambutan Kim Bum. Untunglah, Presdir Jung Gil sudah memberitahunya kalo Kim Bum itu orangnya cuek. Presdir Jung Gil pun berdehem untuk mencairkan suasana kakunya.
”Aku mempunyai pengumuman penting.”
Sejenak, Madam Ye Jin, So Eun dan yang lainnya bahkan Kim Bum pun memperhatikannya. Suasana jadi serius.
”Yoon Sang Hyun.”panggilnya. Sang Hyun pun maju dan berdiri disamping Presdir Jung Gil.
”Seperti yang kita tau saat ini, Sang Hyun adalah pengawal pribadi Kim Bum. Tapi saat ini, dia diberhentikan jadi pengawal dan dialihkan jadi sekretaris pribadiku.”ujar Presdir Jung Gil membuat sekelilingnya jadi terkejut begitu juga Kim Bum. Kecuali Madam Ye Jin, karena dia sudah diberitahukan oleh Presdir Jung Gil. So Eun hanya bisa terdiam karena dia memang belum kenal Sang Hyun. Kim Bum yang awalnya terkejut, kini kembali seperti biasa. Cuek dan tidak terlalu penting.
”Dan pengganti Sang Hyun sebagai pengawalnya cucuku, Kim Sang Bum. Aku sudah menemukannya. Kim So Eun yang akan menggantikan Sang Hyun.”ujar Presdir Jung Gil. Pengumuman itu menimbulkan keriuhan di suasana itu. Banyak para pelayan dan pengawal masih tidak percaya dengan penggantinya yang dinilai So Eun masih terlalu muda untuk jadi pengawalnya. Kim Bum malah lebih heboh. Tatapannya kini seakan ingin memberikan penolakan.
”Aku tidak setuju!”teriaknya membuat sekelilingnya jadi terdiam kaget. Baru kali ini mendengar Kim Bum menolak dengan suara kerasnya. Biasanya sih, dia cuek. Siapa pun yang jadi penggantinya, Kim Bum tidak peduli. Cuek aja. Tapi kali ini, Kim Bum malah menentangnya.
”Kenapa, Kim Bum? Bukankah kau tidak peduli untuk urusan ini?”tanya Presdir Jung Gil yang ikut heran begitu dengan Madam Ye Jin.
”Ya aku memang tidak peduli. Tapi tidak dengan masalah ini.”kata Kim Bum.
”Kenapa?”tanya Presdir Jung Gil lagi.
”Karena aku tidak mau yang jadi bodyguardku itu seorang gadis.”jawabnya. Jawaban Kim Bum membuat So Eun jadi tersinggung mendengarnya.
”Apa maksudmu kalo aku seorang gadis?”tanya So Eun. Kim Bum menatapnya dengan penuh sinis.
”Seorang gadis yang tidak pernah aku kenal tiba-tiba menjadi pengawalku. Kalo seorang pria, aku tidak keberatan. Tapi yang ini. Seorang gadis?”
”Lalu?”
”Seorang gadis itu orangnya sangat lemah. Aku rasa kau tidak akan mampu mengalahkan para penculik bahkan pembunuh.”
So Eun menggebrak mejanya dengan keras, membuat sekelilingnya sangat terkejut.
”Apa maksudmu?!” So Eun bangkit dari kursinya dan mendekati Kim Bum.
”Kau pikir semua gadis itu lemah?”tanya So Eun dengan menekankan inotasi suaranya dengan serius. Kim Bum tidak menjawabnya. Malah dia membuang muka.
”Hei, Kim Bum!”panggilnya tanpa embel-embel ’Tuan Muda’. Membuat Presdir Jung Gil dan Madam Ye Jin dan yang lainnya melongo mendengarnya.
”Aku tau kau tidak peduli. Tapi aku tidak terima perkataanmu tadi. Tidak semua gadis itu lemah. Masih ada yang lebih kuat. Kau jangan meremehkanku sebagai gadis!”teriak So Eun yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Giliran Kim Bum yang bangkit dari kursinya dan mendekati So Eun. Mereka pun berhadapan.
”Aku tidak percaya kau akan mampu. Kelihatannya kau begitu yakin akan mampu menjagaku. Tapi itu pun hanya sebentar. Tidak lama, kau pasti akan menyerah.”ujar Kim Bum dengan sinis.
”Aku akan membuktikan kepadamu kalo aku mampu mengawalmu. Dan bukan sebagai gadis yang lemah.”ucap So Eun yakin.
”Oh ya?” Kim Bum menyilangkan tangannya didadanya. Suasana semakin memanas. Disekitarnya masih menatap tidak percaya. Karena baru kali ini ada calon pengawal yang berani menantang Kim Bum.
”Iya!”tegas So Eun dengan penuh keyakinan.

TO BE CONTINUED…………………

Wah…. wah…. situasi makin memanas nech.
Kim Bum ini malah menolak So Eun hanya karena dia seorang gadis?
Bisakah So Eun merubah pandangan Kim Bum tentang dirinya yang dibilang lemah?

Tunggu chapter.2 nya ya!

NB: Jangan lupa komennya yach!?

^_____________________^