RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

Monthly Archives: November 2010

The Love For Happy Together Part.1

 

 

Masa-masa SMA adalah masa-masa yang indah. Memiliki dua sahabat yang disayanginya begitu juga kisah cintanya. Tidak ada yang menyangka akan ada yang jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri. Namun kadang penampilan buruknya yang menghalangi rasa keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya terpaksa dia memendamkannya. 2 tahun telah berlalu. Penampilan dulunya yang buruk, agak gendut, sedikit hitam, dan berkaca mata tebal. Selama 2 tahun terus berjuang untuk perubahan dirinya. Kini dia berhasil mengurangi berat badannya hingga terlihat langsing. Luluran dan mandi susu yang teratur hingga berhasil memutihkan kulitnya, kacamata tebalnya diganti dengan lensa kontak. Dan juga dia berusaha belajar mati-matian agar dia diterima Universitas Shinhwa yang terkenal. Bukan karena kualitas Universitas yang bagus itu diincarnya tetapi karena ada cinta pertamanya yang juga mendaftar disana. Dan akhirnya, dia pun berhasil diterima disana. Kini tinggal satu harapan yang harus diwujudkannya. Yaitu mengungkapkan perasaannya kepada cinta pertamanya.

 

Supir taksi menyadarkan seorang gadis yang sedang melamun memikirkan masa lalu.

”Nona. Sudah sampai di Universitas Shinhwa. Nona? Nona!”panggil supir taksi itu. Gadis itu pun langsung menyadarkan dirinya.

”Oh. Sudah sampai ya? Ini uangnya.” Gadis itu menyerahkan beberapa lembaran won sambil turun bersama kopernya dari taksi. Dia pun memandang bahagia. Dan takjub melihat kemegahan Universitas Shinhwa. Ternyata dia tidak sia-sia mendapatkan beasiswanya.

”Wah…. Indah sekali tempatnya.” Gadis itu mengagumi seluruh pandangan universitas itu. Bunga-bunga sakura masih bermekaran hingga satu bunga pun tertancap di kepala gadis itu. Gadis itu pun mengambil bunga diatas kepalanya. Dan tersenyum melihatnya.

”Kim Bum. Tunggu aku. Kim So Eun akan segera mengungkapkan perasaannya selama 3 tahun.” Gadis yang bernama Kim So Eun itu pun menyimpan bunga sakura di buku yang dibawanya. Lalu dia kembali memasukkan bukunya ke dalam tas. Dan langsung mencari kelasnya.

 

So Eun berhenti di depan taman. Terlihat seorang gadis sedang sibuk mengambil kertas-kertasnya yang berterbangan. Rupanya angin disana cukup kuat. So Eun langsung menghampiri gadis itu dan membantu memungutnya.

”Terima kasih telah membantuku.”ucap gadis itu setelah berhasil mengumpulkan semua kertas kembali.

So Eun menyerahkan lembaran terakhir sambil tersenyum.

”Sama-sama. Rupanya angin disini cukup kuat ya?”

”Iya. Oh iya, kenalkan namaku Lee Min Jung. Min Jung. Namamu siapa?”tanya Min Jung sambil mengulurkan tangannya.

So Eun menyambutnya,

”Namaku Kim So Eun. So Eun.” mereka pun berjabat tangan.

”Kau mengambil jurusan apa?”tanya Min Jung.

”Ekonomi.”

”Hah? Ekonomi? Berarti kita sekelas dong.” Min Jung terlihat senang.

”Benarkah?”

Min Jung langsung melihat lembaran kertasnya yang isinya merupakan nama-nama pembagian kelas jurusan ekonomi.

”Kim So Eun… So Eun… Ah ketemu! Iya, kau sekelas denganku. Coba lihatlah.” Min Jung menyodorkan kertasnya. So Eun pun memeriksanya.

”Kau benar. Kita sekelas.”

So Eun pun ikut senang melihatnya. Min Jung melihat koper yang dibawa So Eun.

”Kau mau kemana? Membawa koper begitu.”tanya Min Jung heran.

”Oh ini. Aku pindahan dari luar kota begitu diterima disini. Jadi aku mau mencari apartemen yang murah.”

”Hah? Dari luar kota? Bagaimana kalau kau tinggal denganku saja?”tawar Min Jung sambil memegang tangan So Eun. So Eun tertegun mendengarnya.

”Tapi kita kan baru kenal. Dan orang tuamu tidak cemas?” So Eun begitu khawatir dengan penawaran Min Jung. Min Jung tertawa.

”Tidak apa-apa, So Eun. Aku tahu kau pasti orang yang baik buktinya kau langsung membantuku memungut kertas-kertas ini. Soal orang tuaku. Mereka sedang berada diluar negeri. Mereka juga memperbolehkanku membawa teman untuk tinggal bersamaku. Yang pastinya asal seorang perempuan.”jelas Min Jung. So Eun masih tetap ragu.

”Ayolah, So Eun. Tidak apa-apa kok! Mau kan?”bujuk Min Jung. Akhirnya So Eun pun menyetujuinya. Mereka pun langsung menuju ke rumah Min Jung. So Eun tercengang melihat rumah Min Jung yang begitu besar dan mewah.
”Wah… besar sekali rumahmu.”

Min Jung tersenyum mendengar pujian So Eun.

”Iya. Memang besar. Tapi justru itu, aku selalu kesepian.”

Kemudian Min Jung memanggil pelayannya. Dan pelayan itu membawa koper So Eun.

”Eh.. koperku?”

”Tenang saja, So Eun. Kopermu akan dibawa ke kamarmu. Ayo kita ke kamarmu.”

So Eun hanya mengangguk mengerti. Mereka pun telah sampai dikamar So Eun. Ternyata benar, koper So Eun sudah diletakkan disamping kasur. So Eun tercengang melihat kamarnya.

”Kamar ini bagus sekali. Tetapi aku harus bayar berapa sewa kamarnya?”tanya So Eun polos. Min Jung tertawa cekikikan mendengarnya.

”Kau tidak usah membayar apa pun. Kau boleh tinggal disini.”

”Tapi….” So Eun masih segan menerimanya.

”Begini saja. Sebagai gantinya, kau jadilah sahabatku. Bagaimana?”

So Eun tertawa kecil. Dia pun menyetujui usulan kecil Min Jung.

”Terima kasih.”ucap So Eun. Min Jung langsung memeluk So Eun.

 

*****

Hari belajar telah dimulai. So Eun pun telah melewati hari itu dengan baik. Namun hanya satu yang membuatnya kecewa. Dia belum berhasil menemukan cinta pertamanya, Kim Bum. Universitas ini begitu luas dan banyak mahasiswa sehingga dia sulit mencarinya. Bahkan dia tidak tahu Kim Bum mengambil jurusan apa. Terpaksa dia pulang ke rumah.

 

Malam hari, So Eun terus melamun memikirkan Kim Bum. Tanpa disadarinya, Min Jung telah mengetok pintu kamarnya berkali-kali. Tidak disahutnya, Min Jung pun memanggilnya.

”So Eun!”

So Eun pun tersadar dari lamunannya.

”Oh. Min Jung. Masuklah.”

Min Jung pun masuk kedalam kamarnya. Dan mendekati So Eun yang sedang duduk dikursi dan Min Jung berdiri disamping meja belajarnya.

”Kau sedang melamun siapa, So Eun?”tanya Min Jung. So Eun hanya tersenyum. Min Jung melihat foto So Eun waktu SMA dengan berpenampilan yang buruk. Min Jung pun mengambil fotonya dan mengamatinya.

”Ini kau, So Eun?”tanya Min Jung. So Eun terkejut melihat fotonya dilihat Min Jung. Dia langsung menyambarnya dan langsung memasukkan ke lacinya.

”Eh. Kenapa kau malah memasukkan ke laci?”heran Min Jung.

”Ini fotoku yang paling buruk.”

”Oh iya? Tapi sekarang kau sudah jadi cantik.” Min Jung pun duduk dikasur. So Eun memutarkan kursinya agar berhadapan dengan Min Jung.

”Itu aku lakukan karena aku tidak mau dilihat buruk olehnya.”

”Olehnya?”

Wajah So Eun jadi merona.

”Hayo… ada apa itu? Siapa yang kau maksud?”tanya Min Jung mulai jahil.

”Dia… sahabatku sekaligus cinta pertamaku waktu SMA. Karena penampilanku yang buruk jadi aku tidak berani mengutarakan perasaanku.”

”Lalu?” Min Jung jadi penasaran dengan ceritanya.

”Sayangnya, waktu kelas 2 aku terpaksa pindah ke luar kota karena pekerjaan orang tuaku. Jadi aku berpisah dengannya.”

”Hm… kasihan sekali.”

”Tapi untunglah aku tahu kalau dia ingin kuliah di Universitas Shinhwa. Jadi rencanaku setelah aku diterima disana. Aku akan menemuinya dan dengan keberanianku aku akan mengungkapkan perasaanku.”

”Oh iya? Terus bagaimana? Kau sudah bertemu dia?” Min Jung mulai penasaran dengan cerita So Eun. Namun So Eun menggeleng.

”Tidak. Aku belum berhasil menemukannya.” So Eun menunduk kecewa. Min Jung langsung menghiburnya.

”Tenang ya So Eun. Aku yakin kau pasti akan menemukannya.”

”Terima kasih.”ucap So Eun sambil tersenyum.

”Oh iya, So Eun. Besok akan aku perkenalkan kau kepada kekasihku, Kim Joon. Dia senior kita. Kau bisa tanya apa saja tentang jurusan ekonomi ke dia.”

”Benarkah?”

Min Jung mengangguk.

”Baiklah. Aku mau.”jawab So Eun.

 

*****

 

Hari ini sepulang kuliah. Dia sudah berjanji kepada Min Jung akan bertemu kekasihnya di depan taman.

So Eun terus menggosok-gosok tangannya. Rupanya angin masih cukup kuat.

Min Jung pun datang.

”Maaf lama ya, So Eun. Tadi dia ada urusan dengan temannya. Tetapi nanti dia akan datang kesini.”

Tidak lama Kim Joon pun datang.

”Maaf Min Jung. Aku lama datangnya. Kau pasti So Eun?”tebak Kim Joon sambil menunjuk So Eun. So Eun mengangguk.

”Hahaha. Maaf membuatmu lama menungguku. Semua ini karena temanku yang lamban itu. Sebentar lagi temanku datang kesini. Ah, itu dia!” Kim Joon menunjuk temannya tepat dibelakang So Eun. So Eun pun menengok dan terkejut melihatnya.

”Kim Bum.”lirihnya. Perasaan So Eun jadi senang begitu menemukan Kim Bum. Kim Bum agak berbeda dengan waktu SMA. Rambut dulunya yang agak gondrong kini telah dipotong rapi dan dia sudah mulai berani menindikkan telinga sebelah dan memakai anting. Tetapi itu membuat wajahnya semakin tampan. Dan hati So Eun makin berdegup kencang melihat ketampanan Kim Bum. Kim Bum menyapa mereka dan mendekatinya.

”Hai. Maaf aku telat.”ucap Kim Bum sambil dipukuli bahunya oleh Kim Joon.

”Kau ini lama sekali. Kasihan dia yang sedang menungguku.”ujar Kim Joon sambil menunjukkan So Eun.

”Dia?” Kim Bum melihat So Eun. Sesaat dia mengernyitkan dahinya.

”Kim Bum. Ini aku, Kim So Eun! Sahabatmu dulu waktu SMA.”ucap So Eun berusaha mengingatkan Kim Bum. Kim Bum langsung menyadarinya.

”Oh! So Eun?! Benarkah itu kau? Kau terlihat berbeda!” Kim Bum langsung memeluk So Eun. Jantung So Eun berdegup kencang karena dipeluk Kim Bum. Sementara Min Jung dan Kim Joon masih terbengong melihatnya.

“So Eun! Aku kangen sekali denganmu. Banyak yang ingin aku ceritakan denganmu.”kata Kim Bum setelah melepaskan pelukannya.

”Aku juga, Kim Bum. Banyak yang ingin aku katakan kepadamu.” So Eun begitu bahagia mendengarnya yang merindukan So Eun.

”Kim Joon. Dia ini sahabatku waktu SMA. Aku pernah menceritakan itu kepadamu kan?”

”Oh. Iya. Aku ingat itu.”

Kim Joon dan Min Jung tersenyum mengerti suasananya yang sudah lama tidak bertemu.

 

Seorang gadis berlari ke arah Kim Bum.

”Kim Bum!”panggil gadis yang ada dibelakang Kim Bum. So Eun mengernyitkan dahinya. Dia merasa kenal dengan suara itu. Dia pun menyenderkan kepalanya untuk melihat rupa gadis itu.

”Kim Bum! Tasmu ketinggalan nih.”kata gadis itu sambil menyerahkan tas ke Kim Bum. ”Gook Ji Yun!?”panggil So Eun yang tidak menyangka akan bertemu sahabat satunya lagi. Sahabatnya yang sering jadi tempat curhatan So Eun bahkan saat dia sedang menyukai Kim Bum pun juga dicurhatkan ke Ji Yun. Tentu saja Ji Yun pun tahu perasaan So Eun ke Kim Bum.

Ji Yun terkejut melihat So Eun.

”Kim So Eun?”panggilnya dengan ragu. Rautnya tidak menandakan dia gembira telah bertemu dengan sahabat lamanya sendiri. Ji Yun makin salah tingkah saat bertemunya. Malah dia berusaha menutupkan wajahnya hingga membuat So Eun heran.

“Oh, Ji Yun. So Eun. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Dulu ketika kau pindah, aku tidak sempat memberitahumu kalau aku sedang jatuh cinta dengan seorang gadis.”

So Eun memandang Kim Bum dengan bingung. Sementara Ji Yun terus membelakangi So Eun. So Eun heran melihat tangan Kim Bum yang terus menggenggam tangan Ji Yun. Dia pun mendengarkannya dengan serius.

”Aku jatuh cinta dengan Ji Yun. Sekarang kami sudah bertunangan.”lanjut Kim Bum sambil menunjukkan cincin tunangannya di tangannya beserta tangan Ji Yun yang digenggamnya.

”Apa?!”

So Eun tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

”Kalian…. bertunangan?”tanya So Eun lagi. Kim Bum mengangguk dan Ji Yun tidak menjawabnya.

”Oh… selamat ya.”ucap So Eun terbata-bata sambil melirik Ji Yun yang tidak memandanginya dan matanya mulai berkaca-kaca. Dia berusaha menahan kesedihannya agar tidak menangis dihadapan mereka.

”Maaf. Min Jung, Kak Kim Joon. Aku pulang duluan. Aku ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.”

”Kenapa kau begitu buru-buru, So Eun? Kita kan belum ngobrol-ngobrol.”cegah Kim Bum.

”Lain kali saja, ya Kim Bum. Aku memang ada urusan penting.”ujar So Eun berusaha menahan air matanya agar tidak keluar dari bola matanya.

”Mau aku temani?”ujar Min Jung.

Namun tawaran Min Jung ditolak halus. So Eun pun pamit sekali lagi dan mulai pergi meninggalkan mereka yang bingung dengan sikap So Eun.

Ji Yun pun mulai memberanikan melihat So Eun yang sudah jalan memunggunginya.

Tanpa mereka sadari, So Eun pun meneteskan air matanya karena tidak bisa menahan rasa kekecewaannya. So Eun pun jadi sedih dan terus berjalan.

 

”Ayo kita ke kafe aja yuk!”ajak Kim Joon diikuti anggukan Min Jung dan Kim Bum. Mereka pun berbalik pergi menuju ke kafe. Kim Bum sempat menengok melihat So Eun yang berjalan dengan lambat. Lalu dia menunduk tersenyum.

So Eun pun menghentikan langkahnya dan berbalik. Lalu melihat rombongan Min Jung yang sedang jalan. Entah mengapa dunianya dengan Kim Bum kini sudah berbeda. So Eun memperhatikan punggung Kim Bum sambil menangis. Ji Yun menengok kebelakang dan tertegun melihat So Eun yang sedang menangis menatapnya. Ji Yun kembali membuang muka sambil memeluk punggung Kim Bum dengan erat.

So Eun jadi tambah sakit hati melihatnya. Dia tidak menyangka sahabatnya telah mengkhianatinya.

”Padahal aku belum menyatakan perasaanku padamu, Kim Bum. Kenapa kau lakukan itu?”tanyanya dengan suaranya yang tidak keras. So Eun sudah tidak bisa menahan lagi. Dia pun langsung berlutut tidak berdaya dan menangis tersedu-sedu.

Mengeluarkan semua rasa sakit hati dan kekecewaannya. Perjuangannya dalam merubah penampilannya selama 2 tahun dan perasaannya yang telah terpendam selama 3 tahun. Rencananya yang ingin mengungkapkan perasaannya setelah bertemu Kim Bum kini telah sia-sia. Rupanya Kim Bum tidak menyukainya, dia justru malah menyukai Ji Yun dan sudah bertunangan. So Eun terus menangis sampai dadanya sesak. Dia terus menangis. Menangisi usahanya selama 2 tahun ini yang telah gagal.

 

TO BE CONTINUED………………………

 

NB: SELESAI BACA, JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA!!! ^^

The Love For Happy Together Synopsis

 

 

The Love For Happy Together Synopsis:

Kim So Eun

So Eun, seorang yang berusia 21 tahun. Yang diterima di universitas Shinhwa. Dia masuk jurusan ekonomi. Dia sengaja masuk ke universitas terkenal karena ada seorang yang dicintainya, Kim Sang Bum. Kim Bum adalah sahabat dan cinta pertama So Eun ketika SMA. Penampilannya waktu SMA memang buruk. Agak gendut, sedikit hitam, dan berkacamata tebal. Pada kelas 2, So Eun terpaksa harus berpisah dari Kim Bum karena pekerjaan orang tuanya. Sejak itu, dia bertekad merubah penampilannya. Dan berhasil. Namun usahanya jadi sia-sia begitu bertemu Kim Bum. Kim Bum sudah menjadi milik orang lain yang ternyata sahabatnya, Gook Ji Yun.

 

Kim Sang Bum

Kim Bum, seorang yang berusia sama dengan So Eun, 21 tahun ini juga diterima di universitas Shinhwa mengambil jurusan bisnis. Sahabat akrab So Eun waktu SMA ini merupakan kalangan atas. Keluarganya berbisnis hotel terkenal di korea selatan. Dia tidak mengetahui perasaan So Eun yang ternyata mencintainya. Dia terpana melihat penampilan So Eun yang begitu berbeda dari waktu SMA. Namun dia sudah memiliki tunangan.

 

Kim Hyun Joong

Hyun Joong, teman sekelas So Eun dan sepupu Min Jung ini jatuh cinta dengan So Eun pada pandangan pertamanya. Walaupun dia tahu So Eun mencintai Kim Bum. Hyun Joong bertekad untuk menaklukkan hatinya yang telah terluka karena Kim Bum.

 

Gook Ji Yun

Ji Yun, berusia 21 tahun ini adalah seorang mahasiswa Shinhwa yang mengambil jurusan bisnis. Dia adalah sahabat So Eun waktu SMA. Sejak SMA, dia mengetahui perasaan So Eun yang mencintai Kim Bum. Namun dia malah mengkhianati perasaan So Eun dan menerima perasaan Kim Bum sehingga mereka pun bertunangan.

 

Lee Min Jung

Min Jung, sahabat So Eun dan teman sekelasnya ini merupakan kekasih Kim Joon. Sifatnya sangat ceria. Dia juga jadi tempat curhat So Eun jika So Eun sedang bersedih karena Kim Bum dan Ji Yun.

 

Kim Hyung Joon

Kim Joon, kekasih Min Jung ini adalah senior So Eun di jurusan ekonomi. Dia juga bersahabat dengan Kim Bum. Setelah mendengar cerita Min Jung tentang perasaan So Eun. Kim Joon jadi simpati dengannya.

Synopsis:

The Love For Happy Together mengisahkan seorang impian gadis yang ingin mengutarakan perasaannya yang terpendam selama 3 tahun sejak SMA dan 2 tahun sejak kepindahannya pun penuh perjuangannya dalam merubah penampilannya yang buruk kepada cinta pertamanya. Namun So Eun harus menerima kenyataan pahit bahwa cinta pertamanya, Kim Bum telah bertunangan dengan yang tidak lain adalah sahabatnya waktu SMA sebelum dia pindah rumah, Ji Yun. Tentu saja, Kim Bum tidak mengetahui perasaan So Eun yang sesungguhnya dan dia hanya menganggap So Eun sebagai sahabatnya. Mengetahui kenyataan itu, So Eun memutuskan untuk melupakannya dan berusaha menegarkan diri.  Walaupun Hyun Joong mencintainya, namun So Eun tidak bisa menerima cintanya. Sehingga pada suatu hari terjadi masalah yang sulit diantara hubungan mereka hingga membuat So Eun harus benar-benar meninggalkan Kim Bum yang sedang terluka. Akankah Kim Bum menyadari perasaan So Eun dan membalas cintanya atau pada akhirnya Hyun Joonglah yang akan mendapatkan cinta So Eun?

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.10 (Final)

 

Kim Bum menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia berusaha mengejar taksi yang ditumpangi So Eun. Tidak lama, akhirnya dia menemukan taksi itu.

Supir taksi yang berkali-kali melihat spion kacanya merasa curiga dengan mobil yang mengikutinya dari belakang.

”Nona, sepertinya ada mobil yang mengikuti kita.”

So Eun yang sedang membaca majalah tertegun mendengarnya.

”Apa?”

So Eun pun melihat kebelakang. Mobil sport orannye sedang mengejarnya.

”Itu kan mobilnya Kim Bum. Supir tolong dipercepat mobilnya.”

”Tapi Nona….”

”Aku akan membayarmu lebih!”ujar So Eun sambil menunjukkan beberapa lembaran won dengan jumlah yang lumayan besar.

”Baik.” Supir itu pun mulai menambahkan kecepatannya.

Kim Bum terkejut melihat taksi itu tiba-tiba jadi cepat.

”Kim So Eun. Kau pikir aku tidak akan bisa mengejarmu.”

Kim Bum pun menambah kecepatannya. Akhirnya mereka pun sedang berbalapan.

Kim Bum memutar setir mobilnya untuk menghadang taksi ke pinggir jalan. Taksi itu pun terpaksa berhenti. Lalu Kim Bum keluar begitu juga dengan So Eun.

”Kim Bum! Kenapa kau mengejarku?”

Kim Bum tidak menjawabnya. Dia malah menuju ke taksi. Membuka pintu mobil lalu mengeluarkan koper milik So Eun. Kemudian dia membayar lebih dari So Eun kepada supir taksi.

”Kau boleh pergi.”

”Bba…baik Tuan.” Supir itu pun langsung meninggalkan mereka setelah menerima uang dari Kim Bum. So Eun yang terkejut berusaha menahan taksi.

”Hei! Tunggu. Jangan pergi!”

Namun Kim Bum menarik lengan So Eun sehingga So Eun berbalik dan terbelalak melihat Kim Bum telah mencium bibirnya.

So Eun langsung mendorong Kim Bum. Kim Bum pun termundur walau dia masih memegang tangan So Eun agar So Eun tidak bisa kabur lagi.

“Apa-apaan kau ini? Kenapa kau menciumku?”Tanya So Eun sambil menyentuh bibirnya yang telah dicium kedua kalinya.

“Sudah kubilang, aku akan menjemputmu di rumah sakit. Kenapa kau malah langsung pergi tanpa menungguku?”ujar Kim Bum dengan tatapan yang seriusnya.

”Hei. Dengar ya? Sekarang aku bukan bodyguardmu lagi. Kasus yang menimpa keluargamu sudah selesai. Jadi kurasa tugasku untuk menjagamu juga sudah selesai.”terang So Eun dengan sedikit emosi.

Kim Bum tidak membalasnya. Dia mengambil cincin dari saku celananya. Lalu dia memasukkan cincin ke jari So Eun.

”Hei! Kenapa kau memasukkan cincin ke jariku?”tanya So Eun sambil menarik kembali tangannya. Namun gagal, Kim Bum rupanya terlalu kuat memegangnya.

”Kau belum menyelesaikan tugasmu yang paling penting.”

”Hah?”

Kim Bum kembali menatap So Eun dengan serius.

”Tugasmu yang penting adalah mendampingiku dan merawatku selamanya.”

”Apa? Kau pikir aku ini pelayanmu apa?”

”Bukan pelayan.”

”Apa?”

Kim Bum memeluk pinggul So Eun sehingga wajah So Eun mendekati wajah Kim Bum.

”Kini dan seterusnya, aku yang akan menjagamu.”

So Eun terdiam. Menunggu lanjutan kata-katanya. Kim Bum tersenyum.

”Tugasmu sebagai bodyguardku memang selesai. Tetapi tugasmu masih ada lagi yaitu sebagai istriku.”lanjutnya.

”Apa?”
So Eun terkejut mendengar lamaran Kim Bum yang dinilai terlalu tiba-tiba dan tidak disangka.

”Kau menyukaiku?”tanya So Eun heran. Padahal selama ini dia selalu berantem dengan Kim Bum bahkan Kim Bum selalu menunjukkan sikap bencinya.

”Tapi bukankah kau membenciku? Memangnya sejak kapan kau menyukaiku?”tanya So Eun lagi. Dia benar-benar jadi bingung dengan sikap Kim Bum kini. Apakah Kim Bum sedang mempermainkannya?
Kim Bum malah tertawa melihat So Eun yang bingung.

”Hei! Aku tanya serius denganmu. Atau kau cuma mempermainkanku saja? Kau….”

”Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu.”potong Kim Bum. Lagi-lagi So Eun tertegun mendengarnya.

”Hah? Pertama kali bertemu? Bukankah waktu itu kau sedang membenciku?”

”Iya. Sejak kau menyatakan perang denganku membuktikan bahwa kau lemah. Entah kenapa aku merasa kau adalah gadis yang berbeda dengan gadis lain. Aku sengaja bersikap benci kepadamu karena aku hanya ingin mengujimu. Aku kira kau hanya mengejar kekayaanku saja. Rupanya kau rela berkorban kepadaku tanpa mempedulikan penampilanmu.”

So Eun pun terdiam.

”Jadi kau harus menjadi istriku kelak. Kau tidak boleh kabur dariku.”

”Aku tidak mau!”ucap So Eun. Kim Bum tertegun mendengarnya.

”Kenapa?”

”Karena aku tidak mau kau memaksakan perasaanku!”teriak So Eun.

”Apa? Maksudmu kau tidak menyukaiku juga?”

So Eun tidak menjawabnya. Dia malah mencium bibir Kim Bum dengan cepat sehingga Kim Bum jadi bingung.

”Aku tidak suka kau terus memaksakan perasaanku yang sudah pasti mau menjadi istrimu.” So Eun menunduk malu.

”Apa? Kau… Hhh… Haha… dasar!” Kim Bum menjitak kepala So Eun. Lalu mereka pun berpelukan dengan mesra.

*****

5 Tahun kemudian……

So Eun yang bergaun pengantin sedang berada didalam mobil bersama Ji Yun dan sopirnya. Mereka sedang menuju ke Gereja. Karena Kim Bum dan So Eun akan segera menikah.

”So Eun! Sungguh, aku tidak menyangka. Memang sejak kapan kau menyukai Kim Bum?”tanya Ji Yun sambil merapikan tatanan rambut So Eun. So Eun tersenyum.

”Mungkin sejak dia menyelamatkanku dari Mister Hyun Joong itu. Kupikir dia tidak akan tau dimana aku diculik. Rupanya dia sudah memperhitungkannya. Kalung yang dia berikan kepadaku dulu itu rupanya adalah alat pelacak.”

”Oh… begitu ya?”

”Iya. Aku pikir kalau aku sampai tidak diselamatkan dia. Aku pasti sudah terjatuh mati.”

”Ah. Sudahlah So Eun! Jangan kau pikirkan itu lagi.”

So Eun hanya mesem-mesem melihatnya.

Kim Joon langsung mendekati Kim Bum yang sedang menunggu kedatangan calon istrinya.

”Hei! Wah… aku tidak menyangka kalau kau akan menikah dengan So Eun.”

Kim Bum hanya tersenyum.

”Kupikir kau itu tidak akan menyukainya.”

Kim Bum tidak menjawabnya.

”Ngomong-ngomong. Kenapa So Eun belum sampai juga ya?”tanya Kim Bum mulai cemas sambil melihat arlojinya dan terus melihat keluar menunggu mobilnya datang.

So Eun dan Ji Yun mulai khawatir. Pasalnya mereka terjebak macet. Berkali-kali Ji Yun melirik arlojinya.

“Sekarang jam berapa, Ji Yun?”tanya So Eun cemas.

”Wah… kita sepertinya bakal telat nih.”

”Coba kau telepon dulu.”

Ji Yun menepuk dahinya.

”Ah iya! Untung kau mengingatnya.”

Ji Yun segera mengeluarkan ponselnya. Tetapi….

”Yah, So Eun. Ponselku baterainya habis.”

”Hah?”

”Ponselmu sendiri?”tanya Ji Yun balik.

”Ponselku ketinggalan.”

Mereka pun mulai panik.

”Sebenarnya ada kejadian apa sih? Kok sampai macet begini?”tanya So Eun.

”Saya tidak tau, Nona.”

Karena gerah, So Eun pun keluar dari mobilnya dan langsung berjalan ke paling depan.

”Eh-eh. So Eun! Kau mau kemana?”

Ji Yun langsung mengikutinya.

Ternyata di sana ada kejadian seorang pria yang sedang menyandera seorang wanita. Para polisi sedang mengepungnya dan sedang waspada agar wanita itu tidak dilukai. So Eun langsung bertanya kepada polisi yang ada didekatnya.

”Dia kenapa, pak?”

”Dia itu perampok. Nona lebih baik mundur. Biarlah kami mengurusnya.” Polisi itu mendorong So Eun mundur.

”Apa?”

So Eun tidak mau terlambat hanya gara-gara kejadian ini. Dia pun langsung mendekati perampok.

”Eh, Nona! Jangan kesana! Itu bahaya?!”teriak polisi yang berusaha mengingat So Eun. So Eun tidak menghiraukannya. Pria itu terkejut melihat So Eun berjalan maju ke arahnya.

”Hei. Kau berhenti! Jangan mendekat!”teriak pria itu sambil menodongkan pistol ke So Eun. Namun So Eun tidak bergeming.

”Kau mau kutembak ya?”ancam pria itu dengan gemetar.

So Eun tidak menjawab. Tetap melangkah ke arahnya. Pria itu makin panik.

”Baiklah kalau itu maumu!”

Pria itu pun menembaknya, ”Door!”

Peluru itu melayang ke udara. So Eun berhasil mengarahkan pistolnya ke arah langit sehingga pria itu gagal menembaknya.

Lalu So Eun mulai membantingnya. Sambil menginjak tubuh pria itu, So Eun menjatuhkan pistol yang digenggam pria itu. Para polisi langsung mendekatinya. Dan menahan pria itu.

“Nona tidak apa-apa? Untunglah Nona baik-baik saja. Bagaimana kalau Nona tertembak?”

So Eun tersenyum.

“Tenang saja, pak. Karena aku juga seorang polisi.”

”Apa?” Polisi itu terkejut mendengarnya. Ji Yun langsung menarik So Eun.

”So Eun! Bagaimana ini? Kita sudah terlambat.”

”Apa?!” So Eun langsung melihat arloji Ji Yun.

”Bagaimana ini? Pernikahanku tidak boleh dibatalkan!” So Eun makin panik.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka. Mereka pun menunduk melihat rupa pemilik mobil itu. So Eun terkejut melihatnya.

”So Hee?!”panggilnya.

”Hei, ayo cepat masuk! Apa kau mau batalkan pernikahanmu?”

So Eun mengangguk. Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil So Hee. So Hee mulai menyetir dengan kecepatan penuh.

So Eun dan Ji Yun memegang pintu mobilnya. Rupanya So Hee cukup ahli dalam mengemudi mobilnya seperti pembalap.

”So Eun.”panggil So Hee tanpa menengoknya karena sedang serius melihat ke depan.

“Iya?”

“Kau harus membahagiakan Kim Bum. Kau jangan coba-coba mengkhianatinya. Karena aku sudah menyerahkannya kepadamu. Jadi aku percayakan kepadamu.”

“So Hee….”

So Eun tertegun mendengarnya walau pun dia tau So Hee adalah mantan kekasih Kim Bum.

”Tenang saja , So Hee. Aku pasti akan membahagiakannya.”jawab So Eun sambil tersenyum. So Hee pun meliriknya sambil tersenyum.

Lalu So Eun terkejut mendapati gaun dibagian perutnya tersobek.

”Ji Yun! Bagaimana ini? Gaunku sobek.”

”Apa?” Ji Yun langsung melihatnya.

”Kok bisa?”

”Mungkin tersobek waktu aku membanting perampok itu.”

”Aduh? Bagaimana ini?” So Eun dan Ji Yun langsung panik.

”Tenang saja. Aku bawa baju ganti yang cocok buatmu.”celetuk So Hee tanpa menatap mereka.

”Hah?” So Eun dan Ji Yun melongo mendengarnya. So Hee tersenyum dengan penuh arti.

Suasana gereja benar-benar penuh panik. Para tamu mulai berbicara riuh. Sementara Kim Bum berkali-kali menelepon So Eun. Namun tidak diangkatnya.

”Sudah 30 menit nih. So Eun masih belum bisa dihubungi ya, Kim Bum?”tanya Madam Ye Jin mulai khawatir. Kim Bum tidak langsung menjawabnya.

”Aduh! Si gadis sialan ini. Kenapa dia tidak menjawab teleponku, So Eun.”gumamnya penuh cemas.

Tiba-tiba pintu gereja dibuka So Hee. So Hee tersenyum melihat para tamu terutama Kim Bum yang memperhatikannya.

”Mohon maaf membuat kalian menunggu. Tadi dijalan ada kejadian yang membuat So Eun jadi terlambat. Baiklah dari pada lama-lama. Kim So Eun, silahkan masuk.”

Para tamu terkejut melihat penampilan So Eun begitu juga Kim Bum. Pasalnya So Eun memakai Hanbook.

”Mohon dimengerti. Karena kejadian dijalan tadi. Gaun pengantinnya tersobek. Yang penting kan dia tetap cantik?”seru So Hee. Para tamu langsung bertepuk tangan menyambut penampilan So Eun yang memang terlihat cantik. Presdir Jung Gil menuju ke So Eun.

”Kau tetaplah sangat cantik, Kim So Eun.” So Eun tersenyum malu mendengar pujian Presdir Jung Gil. Kim Bum pun juga tersenyum melihat penampilan calon istrinya.

So Hee pun menyingkirkan dirinya dan berjalan menuju ke kursi pihak wanita.

So Eun berjalan didampingi Presdir Jung Gil dan pengiringnya, Ji Yun. So Eun tersenyum bahagia melihat Kim Bum.

Akhirnya Kim Bum dan So Eun kini resmi jadi suami istri. Mereka kini berada didepan gereja.

”So Eun. Selamat ya!”ucap Gyu Ri sambil memeluk So Eun.

“Terima kasih.”

Geun Suk pun mendatangi Kim Bum.

”Hey sobat! Selamat atas pernikahanmu.”ucap Geun Suk sambil  mengulurkan tangannya. Kim Bum pun menyambutnya sambil tersenyum.

”Terima kasih.”balasnya.

So Eun pun lega melihat mereka sudah tidak bermusuhan lagi yang seperti dulu, yang saling cuek.

”So Eun.”panggil Geun Suk.

”Iya?”

Geun Suk berbisik kepadanya.

”Kalau kau mau cerai dengan Kim Bum. Panggil saja aku, aku siap menggantikannya.”

”Apa?!” So Eun tertegun mendengarnya.

”Hei, apa kau bilang?”timpal Kim Bum yang rupanya mendengar bisikan Geun Suk.

Geun Suk hanya tertawa sambil berbalik meninggalkan mereka.

”So Eun! Kau jangan coba-coba mengkhianatiku ya.”ancam Kim Bum yang rupanya menanggapi perkataan Geun Suk tadi.

”Aish! Apa maksudmu? Justru kau lah yang jangan mengkhianatiku.” So Eun balik memperingatinya.

”Aih! Sudah-sudah kalian berdua ini! Kalian ini baru saja menikah, kenapa sudah berantem lagi?”seru Kim Joon yang berusaha melerainya.

Tamu yang ada disekelilingnya hanya tertawa melihat kelakuan mereka. Kim Bum dan So Eun hanya bisa menunduk malu.

”Hei. Rencananya kalian ingin punya anak berapa?”tanya Ah In yang rupanya sudah menyerah dengan So Eun.

”Aku ingin….”

”Inginnya sih membentuk tim sepak bola. Tapi tim basket gak apa-apalah.”celetuk Kim Bum yang memotong jawaban So Eun.

”Apa?!” Sekelilingnya terkejut dengan keinginan Kim Bum yang mempunyai anak yang banyak.

So Eun memukul bahu Kim Bum.

“Hei! Hentikan leluconmu itu. Aku mana sanggup?”kesal So Eun.

”Hoh. Berarti kau seperti yang aku katakan dulu. Sebenarnya kau ini bukan wanita yang kuat. Tetapi lemah.”

”Aku tidak lemah!?”teriak So Eun.

”Oke kalau begitu. Buktikan kepadaku!”ujar Kim Bum sambil jalan memunggunginya. So Eun jadi tidak bisa berkata apa-apa.

Kim Bum duduk di depan kap mobilnya.

Kim Bum menyadari So Eun tidak jalan mengikutinya. Dia pun menengoknya.

”Hei! Ayo jalan. Kita kan mesti berbulan madu.”

So Eun jadi ngambek. Tidak menanggapi perkataan Kim Bum.

Kim Bum tertawa melihat sikap So Eun yang marah dengannya.

Dia pun mendekatinya dan menggendong So Eun.

”Ciee……”seru Kim Joon, Ji Yun dan yang lainnya secara serentak. So Eun jadi malu dibuatnya. Mereka pun masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan gereja.

Geun Suk berjalan melewati taman. Dia melihat mobil pengantin sudah pergi. Geun Suk pun tersenyum.

”Rupanya kali ini aku kalah lagi dengannya. Tapi tidak apa-apa lah.”

Tali sepatu Geun Suk terlepas. Dia pun berlutut sambil mengikat tali sepatunya.

Sosok gadis lengkap dengan seragamnya berhenti mematung dihadapannya. Geun Suk mendongakkan kepalanya dan terpesona melihat wajah gadis itu.

”Maaf. Aku mau nanya. Apakah kau tau alamat ini?”tanya gadis itu sambil menunjukkan kertas kecilnya. Geun Suk pun berdiri dan melihat alamat yang dimaksud gadis itu.

”Oh ini… kau harus lurus terus belok ke kanan kemudian belok ke kiri. Di situ kan ada kafe. Disamping kafe itu lah tempatnya.”jawab Geun Suk. Gadis itu tersenyum

”Oh, begitu ya. Terima kasih.” gadis itu pun berbalik menuju ke arah yang disebut Geun Suk.

”Ah-ah. Nona!?”panggil Geun Suk.

”Iya?” Gadis itu berbalik menanggapi panggilan Geun Suk. Geun Suk mendekatinya.

”Bagaimana kalau aku yang mengantarmu? Kebetulan kita searah.”ajak Geun Suk.

”Baiklah.” Dia pun menyetujui ajakan Geun Suk. Geun Suk pun menemaninya.

”Oh iya, kenalkan aku Jang Geun Suk. Namamu siapa?”

”Namaku Park Shin Hye.”

”Namamu bagus.”

Shin Hye tertawa mendengar pujian Geun Suk. Geun Suk hanya tersenyum.

So Hee yang melihat Geun Suk bersama Shin Hye dari jauh hanya menggeleng kepala.

”Ckckck…… Dasar Geun Suk! Sudah tua masih mengejar yang muda ya? Dasar benar-benar playboy!”ujar So Hee sambil tersenyum. Tiba-tiba ponselnya berdering. So Hee pun membuka ponselnya yang berbentuk lipat. Dia tersenyum melihat foto dan nama panggilan teleponnya ’Se7en’ diponsel miliknya.

So Hee langsung menjawabnya.

”Halo. Iya, sayang. Aku akan segera kesana.” So Hee pun mengakhiri percakapannya. Dia pun masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan lokasinya.

Sementara Gyu Ri sedang menunggu taksi. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepannya. Gyu Ri terkejut melihatnya.

”Ah In?”

”Kau butuh tumpangan, Gyu Ri?”

Gyu Ri tersenyum lalu mengangguk.

”Masuklah.” Gyu Ri pun masuk ke dalam mobilnya. Ah In pun melanjutkan perjalanannya.

”Ngomong-ngomong, aku suka dengan rambut pendekmu.”ucap Ah In sambil melirik Gyu Ri.

Gyu Ri pun tersipu malu mendengar pujian Ah In.

”Terima kasih.”balasnya. Ah In pun ikut tersenyum mendengarnya.

*****

6 tahun kemudian……

Kim Bum yang menggantikan posisi kakeknya di group Shinhwa kini telah pulang ke rumah pada sore hari. Dia pulang lebih awal. Kim Bum langsung masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sofa. Kim Bum terkejut melihat istrinya yang masih tidur terlelap.

”Yah? So Eun. Masih tidur dari pagi sampai sekarang belum bangun?”

Kim Bum langsung menggoncangkan tubuh istrinya. Sengaja dia bangunin.

Mau tidak mau, So Eun pun terpaksa membuka matanya. Dia jadi kesal dengan suaminya yang telah membangunkannya.

”Kim Bum! Kau mengganggu tidurku.”keluhnya sambil bangun.

”Sayang. Kau itu dari pagi sampai sekarang belum bangun.”

”Yah, mau gimana lagi? Semalam aku lembur ngurusin kasus di kantor.”

”Walaupun kau ini sudah menjadi inspektur. Tapi kau juga harus ingat dengan kewajibanmu sebagai istri.” rupanya Kim Bum mulai agak marah.

”Iya, iya! Aku mengerti.”

”Sana kau mandi! Lihat sampai bajumu belum diganti.”

”Iya.”jawab So Eun malas.

”Ngomong-ngomong dimana anak-anak kita?”

Giliran So Eun yang agak marah dengannya.

”Aish! Kau ini. Makanya jangan terlalu sibuk ngurusin kantormu. Apa kau lupa kalau tiap sore mereka sedang main bersama Kakek dan Ibu?”ujarnya sambil berkacak pinggang.

”Hah?”

”Lihatlah di jendela.”

Kim Bum pun melihat keluar dijendela. Memang kelima anaknya yang masih kecil-kecil itu sedang asyik bermain bersama Kakek Jung Gil dan Ibunya, Madam Ye Jin. Kim Bum tersenyum melihat keceriaan mereka.

”So Eun. Sepertinya tim basket kurang deh. Bagaimana kalau kita tambah anak lagi sehingga pas jadi tim bola?”

So Eun yang terkejut mendengarnya langsung melempar bantal ke arah Kim Bum. Sayangnya Kim Bum berhasil menangkapnya.

”Kau ini! 5 anak gak cukup?! Kau ingin aku mati ya? Aish, apa kau tidak tau penderitaanku melahirkan 5 anak dalam 6 tahun? Kau ini tiap tahun pasti minta anak lagi. Apa kau tidak bisa memberiku istirahat? Hhh… seharusnya aku cerai denganmu kalau tau kau masih seperti itu.” So Eun mengomel kesal.

Kim Bum hanya tertawa mendengar omelannya sambil berjalan ke arah So Eun.

Lalu Kim Bum memeluk So Eun hingga terbaring kembali dikasur.

”Aku cuma bercanda, sayang. Cukup kok memiliki tim basket kita. Sudahlah, jangan kau sebut cerai terus. Aku sudah bosan mendengar kata-kata itu.”

So Eun pun terdiam cemberut. Kim Bum pun tersenyum usil melihatnya.

”Oh iya, sepertinya kau memang lelah ya?”

So Eun mengangguknya.

”Uhm…. Baiklah. Karena kau lelah. Bagaimana kalau aku aja yang memandikanmu? Kau harus mau!”paksa Kim Bum sambil menggendong istrinya.

”Eh-eh, apa?! Tidak usah. Aku bisa mandi sendiri kok!” So Eun menolaknya. Kim Bum tidak menghiraukannya. Sambil tersenyum, dia membawanya masuk ke dalam kamar mandi. So Eun masih berontak sambil memukul dada Kim Bum berusaha turun dari gendongannya.Tetapi Kim Bum hanya tertawa dengan keusilannya. Lalu Kim Bum menutup pintu kamar mandinya.

Akhirnya Kim So Eun yang ceria telah berhasil menaklukkan Kim Bum yang cuek. Kombinasi sifat yang bertolak belakang ini berhasil mengungkapkan teka-teki, rahasia, dan cinta disekeliling mereka.

 

~*THE END*~

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.9

 

 

”Sayang. Kau kenapa?”cemas Ibunya Eun Hye sambil menghampiri putrinya.

”Aku ingat. Aku kenal orang yang difoto itu. Aku ingat!”

Semuanya jadi terdiam bingung melihatnya.

”Apa maksudmu, Eun Hye?”tanya Sang Hyun yang bingung melihatnya.

”Aku ingat! Akulah yang membunuhnya!? Aku yang mendorongnya?!”

”Apa?”

Sang Hyun terkejut mendengarnya.

Eun Hye pun mulai ingat dengan masa-masa lalunya.

 

20 tahun yang lalu……

 

Gadis kecil berkepang sedang asyik bermain ditaman. Ketika dia sedang asyik berlari. Tiba-tiba dia bertabrakan dengan seorang kakek. Gadis kecil itu pun menangis.

”Aduh! Cup…cup… kau jangan menangis.”Kakek itu berusaha menenangkan gadis kecil itu. Gadis kecil itu pun mulai tenang.

”Kau tidak apa-apa, gadis kecil?”tanyanya. Gadis itu hanya mengangguk.

”Baguslah kalau kau tidak apa-apa. Siapa namamu?”

”Yoon So Hye.”jawabnya.

”Nama yang sangat bagus, So Hye.”puji kakek itu. So Hye tersenyum.

Tiba-tiba dia melihat sebuah pena disaku kakek itu.

”Apa itu?”tanya So Hye sambil menunjuk ke saku pakaian kakek itu.

”Oh. Ini.” Kakek itu mencabut pena itu dari sakunya lalu So Hye langsung memegang penanya.

”Kau suka?”

So Hye mengangguk.

”Kalau begitu, ini buatmu saja, So Hye.”

”Benarkah?” Kakek itu mengangguk. So Hye berteriak kegirangan sambil meloncat.

”Terima kasih, Kakek. Nanti akan aku tunjukkan kepada kakakku.”teriak So Hye sambil berlari meninggalkannya. Kakek itu hanya tertawa geli melihat tingkah So Hye.

”Kakek!?”teriak gadis kecil lain memanggilnya sambil memeluknya. Kakek itu pun menggendongnya.

”Aduh, Eun Hye kecilku. Ada apa?”tanya kakek.

”Kakek. Aku mau main lempar bola.”

”Oh, baiklah.”

”Tapi kakek yang lempar ya. Aku yang tangkap.”

”Iya-iya.” Kakek itu menurunkan Eun Hye lalu dia mengambil bolanya.

”Bagaimana? Kau sudah siap?”tanya Kakek.

”Sudah, Kakek. Ayo cepat lempar.”

Kakek itu pun melempar bolanya dengan pelan. Namun Eun Hye gagal menangkapnya. Sehingga bola itu menggelinding terlalu jauh.

”Biar aku saja yang mengambilnya, kakek.”

Eun Hye langsung berlari menuju ke arahnya tanpa menghiraukan Kakek.

”Tapi Eun Hye! Hati-hati, disana sangat curam.”

Namun Eun Hye tidak mendengarnya.

 

So Hye sedang asyik berjalan pulang ke rumahnya. Tiba-tiba pena yang dipegangnya pun terlepas. Pena itu pun terjatuh disamping pohon. So Hye pun segera mengambilnya.

”Aduh! Jangan sampai terjatuh lagi ya.”ujar So Hye sambil membersihkan penanya yang mulai kotor.

 

Eun Hye masih mencari bola. Namun masih belum menemukannya. Eun Hye melihat punggung So Hye. Eun Hye pun langsung mendekatinya bermaksud menanyakan keberadaan bolanya. Tiba-tiba kaki Eun Hye tersandung batu sehingga tanpa sengaja Eun Hye mendorong So Hye. So Hye pun terjatuh ke bawah. Tubuhnya menggelinding melewati semak-semak yang ada dibawah. Dan So Hye pun tersangkut di pohon dengan tidak sadarkan diri. Melihat itu, Eun Hye jadi ketakutan. Dia pun berlari ke tempat Kakeknya lewat jalan aspal.

Namun sebuah mobil yang mengebut itu langsung menabrak Eun Hye. Mobil itu pun berhenti dan melihat Eun Hye terluka di kepalanya dan tidak sadarkan diri.

 

”Eun Hye! Kau dimana?”teriak Kakek yang mengkhawatirkan Eun Hye yang lama tidak kembali.

”Presdir Jung Gil! Ada seorang gadis kecil tersangkut dibawah.”teriak salah satu pengawalnya.

”Apa?!”

Kakek itu langsung menuju kesana dan melihat gadis yang dikhawatirkan itu adalah Eun Hye. Tapi ternyata bukan.

”Bukankah itu, Yoon So Hye? Kalian cepat angkat dia!”

”Baik, Presdir” Pengawal itu melaksanakan perintahnya.

 

”So Hye! Kau dimana?”teriak Sang Hyun, kakaknya. Tiba-tiba dia melihat banyak orang yang berkumpul. Karena penasaran. Sang Hyun pun berlari kesana. Dan dia terkejut melihat adiknya dipeluk Presdir dalam keadaan tidak sadarkan diri.

”So Hye! So Hye?!”teriaknya sambil memeluk adik kecilnya.

”So Hye! Bangunlah So Hye!? Kau jangan tinggalkan kakak!”

Sang Hyun mengguncangkan tubuhnya. Tetap tidak mau terbangun. Presdir Jung Gil pun memegang pundak Sang Hyun.

”Maaf, nak. So Hye sudah meninggal.”

“Apa? Tidak mungkin!? So Hye, bangunlah!” Sang Hyun masih tidak rela adiknya meninggal. Tiba-tiba dia memegang sebuah pena yang digenggam So Hye. Sang Hyun melihatnya pena yang tertulis ‘Lee Jung Gil’.

“Presdir Jung Gil. Gawat!? Eun Hye kecelakaan!”

”Apa?!”

Presdir tertegun mendengarnya.

Sang Hyun yang mendengar nama kakek itu pun menatapnya dengan tajam dan dendam. Dia mengira Presdir Jung Gil lah yang membunuh adiknya tercinta.

 

*****

 

”Tidak mungkin!?”teriak Sang Hyun setelah mendengar cerita Eun Hye.

”Itu tidak mungkin! Kau pasti bohong!”

”Aku minta maaf, Sang Hyun! Waktu itu setelah kecelakaan. Rupanya aku amnesia. Aku tidak begitu ingat tentang kejadian itu.”
” Tidak mungkin!” Sang Hyun jadi tidak percaya. Selama ini dia balas dendam dengan Presdir Jung Gil ternyata hanyalah sebuah kesalahpahamannya.

Dengan diam-diam, So Eun berjalan ke belakang Chae Young yang sibuk memperhatikan Sang Hyun. Kemudian dia menahan Chae Young dari belakang.

”So Eun.” Chae Young terkejut melihat kesigapan So Eun.

Sang Hyun langsung mengarahkan pistolnya ke So Eun namun Min Ho yang ikut datang langsung menahan tangan Sang Hyun ke atas. Terjadi perkelahian diantara mereka berempat. So Eun berusaha memukul Chae Young. Begitu juga Chae Young berusaha membalas pukulan So Eun.

Min Ho berusaha menjatuhkan pistol, Sang Hyun berusaha mengarahkan pistolnya ke arah So Eun. Dan terjadi tembakan!?
”Door!”

Seisi ruang terkejut mendengar letusan peluru. Dan terkejut melihat Sang Hyun menembaknya. Sang Hyun hanya melihatnya tidak percaya. Bahkan So Eun pun juga tidak percaya dengan yang dilakukan Sang Hyun.

“Chae Young!” Sang Hyun melepaskan dirinya dari Min Ho dan berlari ke Chae Young yang tergeletak sambil memegang dadanya yang ditembus peluru.

Sang Hyun memeluknya.

“Maafkan aku, Chae Young! Aku… aku…” Sang Hyun telah menembak Chae Young. Chae Young memegang pipi Sang Hyun yang mulai menangis.

“Jangan bilang seperti itu, Sang Hyun. Sepertinya semua dendammu ini hanyalah kesalahpahamanmu, Sang Hyun.”

Sang Hyun terdiam menangis melihatnya.

”Sang Hyun. Kau jangan dendam lagi ya. Aku akan selalu mencintaimu, Sang Hyun.” tangan Chae Young yang menyentuh pipi Sang Hyun pun terjatuh tidak berdaya. Chae Young telah menghembus napas terakhirnya.

”Chae Young?!”teriak Sang Hyun.Dia sudah kehilangan kedua perempuan yang dicintainya. Suasana jadi tegang melihatnya. So Hee dan Gyu Ri beserta para wanita mulai menangis terisak kejadian tragisnya. Sedangkan para pria hanya terdiam melihatnya.

Tidak lama, Sang Hyun menatap tajam ke arah Kim Bum dan Eun Hye. Lalu dia menodongkan pistol yang dipegangnya ke arah Kim Bum.

So Eun yang melihat itu langsung berlari ke arah Kim Bum.

”Kim Bum, awas!?”seru So Eun sambil memunggungi Kim Bum.

Lagi-lagi peluru pun ditembak dan mengenai perut So Eun.

“So Eun!” Kim Bum terkejut melihatnya.

Dengan sisa tenaganya, dia pun melempar pisau ke arah Sang Hyun.

Pisau itu pun menancap bahu Sang Hyun hingga pistol yang dipegangnya pun terjatuh. Dengan sigap, Min Ho pun menahan Sang Hyun dan Kim Joon mengambil pistol itu dengan saputangannya.

 

Geun Suk, Ah In, So Hee, Gyu Ri, dan yang lainnya langsung mengerubuti Kim Bum.

”So Eun! Sadarlah!”teriak Kim Bum sambil mengguncangkan tubuhnya. Air matanya mulai jatuh ke pipi So Eun. Tidak ada respon dari So Eun.

”So Eun!?” Kim Bum pun memeluk So Eun.

 

*****

 

Tembok bercat putih, selimut putih, dan pakaian putih. So Eun pun membuka matanya. Dia melihat dirinya terbaring di rumah sakit dan tangannya di infus.

”Kim So Eun! Kau sudah sadar?”seru Kim Bum melihat So Eun terbangun.

“Apakah aku di rumah sakit?”

“Iya, So Eun.”ujar Ji Yun.

Rupanya teman-temannya pada berkumpul di rumah sakit.

“Hei. Aku tidak menyangka kalau kau adalah bodyguardnya Kim Bum. Perkelahianmu semalam dengan Ibu Chae Young sungguh keren!”celetuk Geun Suk. So Eun pun tertawa mendengarnya.

Kim Bum hanya terdiam bangga mendengarnya.

”Kau harus cepat sembuh ya, So Eun!”ucap Kim Joon diikuti anggukan para temannya. So Eun jadi terhibur melihatnya.

Presdir Jung Gil beserta keluarganya telah masuk ke dalam kamar So Eun setelah mendengar kabar dari Kim Bum.

”Kakek.”

”Kim So Eun. Syukurlah, kau baik-baik saja.” Presdir langsung menggenggam tangan So Eun. Bahagia melihatnya sadar dari lukanya. So Eun tersenyum melihatnya.

”So Eun. Sekali lagi aku berterima kasih kepadamu karena kau telah menyelamatkan Kim Bum.” giliran Madam Ye Jin berbicara sambil menangis bahagia.

”Berkatmu. Semua masalah telah terungkap. Aku tidak menyangka Sang Hyun berbuat begitu hanya karena kesalahpahamannya.”

So Eun jadi teringat dengan Sang Hyun dan Eun Hye.

”Bagaimana dengan Sang Hyun, Kek?”

”Min Ho dan polisi yang terlibat akan mengurusnya. Sang Hyun akan segera di adili. Namun aku tidak tau berapa lama dia akan dipenjara.”jawab Presdir Jung Gil.

”Lalu Eun Hye?”

Presdir terdiam. Dia pun melepaskan kacamatanya.

”Dia akan segera pindah ke London. Dia akan melakukan perawatan yang serius dengan otaknya.”

So Eun terdiam.

 

*****

 

1 minggu kemudian. So Eun berdiri melihat suasana diluar rumah sakit. Kim Bum mengetok pintu sambil masuk ke dalam. So Eun menolehnya.

”Kim Bum.”

”Bagaimana kabarmu?”tanya Kim Bum.

”Seperti yang kau lihat. Aku sudah kembali sehat walaupun belum total.”

”Iya. Padahal peluru yang menembus perutmu itu sangat dalam.”ucap Kim Bum sambil berdiri disampingnya. So Eun hanya tersenyum.

”Oh iya, ini ada titipan surat dari Tante Eun Hye.” Kim Bum menyerahkan suratnya ke So Eun.

”Hah? Surat apa ini?”tanya So Eun bingung sambil mengamati surat dari Eun Hye.

”Entahlah. Aku tidak membukanya.”

So Eun pun terdiam.

 

Setelah Kim Bum keluar dari kamarnya. So Eun pun membuka surat dari Eun Hye.

Dia pun membaca goresan tulisan Eun Hye.

’Kim So Eun. Terima kasih atas semua usahamu yang ingin mengungkapkan permasalahan yang terjadi kepada keluarga Kim Bum dan juga kepadaku. Meskipun berat bahwa Sang Hyun adalah pelaku yang membalas dendam atas kematian adiknya. Namun ini juga salahku. Aku sudah mengunjunginya terakhir kalinya. Berkali-kali aku meminta maaf kesalahanku padanya. Namun dia tidak menjawabnya. Sebenarnya dia orang yang baik. Dan tentunya aku juga terpaksa kecewa. Ternyata dia tidak mencintaiku. Walaupun sulit, aku akan berusaha melupakannya. Namun aku tidak pernah menyesal telah mencintainya. Oh iya, dibalik lembaran ini ada surat lagi dari Sang Hyun. Dia menitipkannya kepadaku.

Kim So Eun. Aku tidak akan pernah melupakan jasa-jasamu.

Salam sayang,

Yoon Eun Hye’

 

Lalu So Eun pun membalik lembarannya dan membaca surat dari Sang Hyun.

”Sejak pertama kali aku berjumpa denganmu. Aku sudah merasakan firasat bahwa kau yang akan jadi ancaman semua rencanaku. Apakah kau tau? Waktu itu, aku rela membantumu mencari pembunuh orang tuamu itu karena aku merasa kita senasib. Orang tuamu yang dibunuh dan adikku yang dibunuh juga.

Namun ternyata kita berbeda. Kau berhasil mengungkap pelaku dibalik semua masalah ini. Dan kau telah membukakan mataku.Aku mengaku salah denganmu dan Kim Bum. Aku sudah meminta maaf kepada mereka. Aku yang terlalu buta untuk melihat kejadian yang sebenarnya.

Kim So Eun, aku minta maaf telah menembakmu. Aku harap kau mau memaafkanku. Sekarang aku benar-benar sangat menyesal.

 

Yoon Sang Hyun’

 

So Eun tersenyum melihat surat dari Eun Hye dan Sang Hyun. Tidak lama dia kembali termenung. Kemudian dia menarik laci yang ada disampingnya. Diambilnya sebuah buku. Dan dia pun mengambil pena lalu menuliskan sesuatu di buku itu.

 

*****

 

2 minggu telah berlalu. Kini So Eun diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Kim Bum sudah berjanji dengannya untuk menjemput.

Namun So Eun tidak menepatinya. Dia mulai keluar dari rumah sakit tanpa menunggu Kim Bum datang.

So Eun pun langsung masuk ke dalam taksi.

 

Kim Bum pun telah sampai di rumah sakit. Dia akan segera menjemput So Eun. Kim Bum langsung menuju ke kamarnya. Namun dia terkejut melihat kamarnya sedang dirapikan suster.

”Suster, mana pasiennya?”

”Oh. Pasien kamar ini sudah keluar.”

Kim Bum tertegun mendengarnya.

”Sejak kapan?”

”Baru 10 menit yang lalu.”
”Apa?”

Kim Bum langsung berlari keluar dari rumah sakit. Dia segera mencari So Eun.

 

So Eun telah sampai di depan rumah Presdir Jung Gil. So Eun berpesan kepada supir taksi agar menunggunya.

So Eun pun keluar sambil membawa surat pengunduran dirinya.

Dia pun disambut para pelayan.

 

”Presdir. Nona So Eun telah kembali.” Pelayan memberitahunya di ruang pribadi Presdir Jung Gil

“Apa?” Presdir yang sedang membaca koran langsung meletakkan korannya dimeja.

Madam Ye Jin yang berada diruangnya juga tertegun mendengarnya.

”Benarkah? Tapi bukankah Kim Bum baru saja berangkat menjemputnya?”

 

So Eun langsung masuk ke dalam ruangannya.

”Kakek.”sapanya.

”Oh. Kim So Eun. Bagaimana kabarmu?”

Presdir memeluk So Eun dan Madam Ye Jin pun bergantian memeluk So Eun.

“Aku baik-baik saja.”

So Eun pun duduk di sofa.

“Mana Kim Bum?”Tanya Madam Ye Jin heran. So Eun tidak langsung menjawabnya.

”Kakek. Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepada kakek.”

So Eun menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Presdir Jung Gil. Presdir Jung Gil pun membacanya.

”Pengunduran diri?”herannya.

So Eun tersenyum dan mengambil sikap tenangnya.

”Iya. Terkait semua masalah ini telah selesai. Tugas dan tanggung jawab saya sebagai bodyguard Kim Bum kini telah selesai. Maka saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan ini.”

Presdir dan Madam terkejut mendengarnya.

”Tapi So Eun. Kau bisa tinggal bersama kami.”kata Madam Ye Jin sambil memegang tangan So Eun.

”Iya. Saya tau. Tetapi saya masih memiliki kewajiban saya yang lain. Saya hanya tidak mau terlalu membebani kalian. Kalian sudah terlalu banyak membantuku. Aku mohon. Ijinkanlah saya pergi.”

Presdir Jung Gil yang mulai mengerti maksud So Eun pun mengangguk.

”Baiklah, So Eun. Kalau itu memang maumu. Aku harap kau jaga kesehatanmu.”

”Terima kasih, Kakek.”

So Eun pun keluar dari rumah Presdir Jung Gil dan kembali masuk taksi. Taksi pun mulai meninggalkan tempatnya. Tidak lama, mobil Kim Bum pun berhenti dirumahnya. Kim Bum keluar dan berlari menuju ke ruang pribadi Presdir.

”Kakek! Apakah So Eun sudah datang?”Tanya Kim Bum. Madam Ye Jin yang sedang menangis langsung memberitahukannya.

“Dia memang datang, Kim Bum. Tapi dia pergi lagi meninggalkan kita.”

“Apa?”

Kim Bum terkejut mendengarnya.

”Jangan-jangan taksi yang tadi itu…..”

Dia pun berbalik menuju ke mobilnya dan mulai mengejar So Eun.

 

TO BE CONTINUED……………………..

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.8

 

Tali yang mengikat tangan So Eun tersangkut dikawat besi. So Eun pun jadi tergantung. Kim Bum langsung mendekatinya dan menarik tangannya ke atas.

”So Eun!” Kim Bum berusaha mengangkatnya. Akhirnya So Eun pun telah sampai dipelukan Kim Bum. Sejenak dia melihat kebawah.

Terlihat Hyun Joong tergeletak dilantai dikelilingi mobil-mobil polisi. Darah Hyun Joong mengalir dari kepalanya, kini Hyun Joong telah tewas.

”So Eun. Kau tidak apa-apa?”tanya Kim Bum sambil melepaskan tali yang mengikat tangan So Eun. So Eun menggeleng menandakan dia baik-baik saja. Tidak lama, So Eun pun pingsan dipelukannya.

”So Eun!”Kim Bum terkejut melihatnya pingsan.

Mata So Eun pun terbuka dengan perlahan. Dia mendapati dirinya berada dikamarnya sendiri.

”So Eun! Kau sudah sadar?”teriak Ji Yun yang sedang duduk disampingnya. So Eun bangun sambil memegang kepalanya. Masih terasa pusing.

”So Eun. Kau jangan bangun dulu. Kondisimu belum sehat.”ujar Ji Yun sambil menuntut So Eun untuk berbaring kembali.

”Kau baik-baik saja kan?”tanya Ji Yun. So Eun tidak menjawab. Sebaliknya, So Eun malah menutup matanya sendiri. Masih ingin beristirahat setelah peristiwa tadi.

Ji Yun pun memakluminya.

”So Eun. Kau harus banyak istirahat.” Ji Yun menyelimuti So Eun. Lalu Ji Yun pun keluar dari kamar So Eun.

Pukul 03.00, So Eun duduk dikasur memandang langit yang masih gelap. Dia sudah tidak bisa tidur lagi. Air matanya menetes ke pipinya.

”Ayah, Ibu. Semoga kalian bahagia disurga ya. Aku merindukan kalian.”

Kim Bum melihat So Eun duduk dikasur sambil memandang jendela. Lalu Kim Bum pun masuk kedalam kamarnya dan duduk disamping So Eun. So Eun langsung menghapus air matanya begitu melihat kedatangan Kim Bum.

”So Eun. Bagaimana keadaanmu?”Tanya Kim Bum.

”Aku baik-baik saja.”jawab So Eun.

“Aku harap kau bersabar. Aku yakin orang tuamu bahagia melihatmu sehat.”ujar Kim Bum. Mata So Eun berkaca-kaca melihatnya.

“So Eun.”

So Eun langsung memeluknya dan menangis terisak.

“Kim Bum!”

So Eun menangis terisak. Kim Bum pun membalas pelukannya ingin memberinya ketenangan.

*****

So Eun dan Kim Bum kini sedang sarapan. Suasananya jadi kaku. So Eun kini tidak banyak bicara begitu juga Kim Bum. Sang Hyun datang disamping So Eun. So Eun menatapnya bingung begitu juga Kim Bum.

”Nona So Eun. Anda dipanggil Presdir Jung Gil untuk datang ke ruangan pribadinya”ujar Sang Hyun.

”Baik. Aku mengerti.” So Eun meletakkan sendok dan garpunya di atas piringnya. Kemudian berdiri dan mengikuti Sang Hyun. Kim Bum hanya terdiam memandangnya.

”Masuk!”teriak Presdir begitu mendengar pintunya diketok. Sang Hyun dan So Eun pun masuk. Lalu Presdir menyilahkan So Eun duduk disofanya. Dengan agak kaku, So Eun pun duduk di sofa.

”Aku turut prihatin kepadamu, So Eun. Mungkin karena kurangnya pengawasan kami. Sehingga kau begitu mudah diculik olehnya. Untunglah Kim Bum berhasil menyelamatkanmu.”ujar Presdir sambil meletakkan kacamatanya ke meja. So Eun terdiam.

”Uhm… Walaupun kami sudah berhasil mengungkapkan pembunuh orang tuamu. Aku harap kau tidak lupa dengan janjimu.”

So Eun kembali memandangnya serius.

”Aku harap. Kau jangan terus bersedih. Karena kau masih mempunyai tugas satu lagi. Yaitu menjaga Kim Bum sampai masalah yang menimpa keluarga kami selesai.”lanjut Presdir. Sang Hyun menatap So Eun. So Eun pun mengangguk mengerti.

”Saya mengerti, Kakek. Saya akan terus menjaganya.”jawabnya. Presdir mengangguk senang dengan So Eun yang begitu paham dengan tanggung jawabnya.

Kim Bum dan So Eun pun telah masuk ke dalam kelasnya disambut para siswa.

”So Eun! Kau tidak apa-apa? Aku dengar kau diculik Mister Hyun Joong?”tanya Ah In khawatir. Kim Bum langsung duduk di bangkunya.

”Aku baik-baik saja.”

”So Eun. Terimalah bunga ini.” Geun Suk menyerahkan buket bunga mawar ke So Eun.

”Hah?” So Eun jadi bingung. Kim Bum membuang mukanya begitu muncul Geun Suk.

”Tenang saja. Ini bunga dari kelas kita. Untuk menyambutmu yang sudah sehat ini.”lanjut Geun Suk.

”Oh. Haha… Terima kasih.”ucap So Eun sambil mencium bunga mawar yang wangi itu.

”Terima kasih kalian semua! Aku benar-benar senang.”ujar So Eun.

*****

”Apa tidak buru-buru, Ayah?”tanya Madam Ye Jin mendengar perkataan Ayahnya di ruang keluarga.

”Aku kira mereka sudah siap.”jawabnya.

”Baiklah. Kalau memang Ayah berpikir begitu.”

”Nanti malam, kita akan memberitahukan mereka. Orang tuanya Eun Hye juga akan datang.”

”Baik.”

Presdir Jung Gil kembali minum teh herbalnya diikuti anaknya, Madam Ye Jin.

Pada malam hari di ruang makan. So Eun, Kim Bum, Ji Yun, Kim Joon beserta keluarganya Kim Bum berkumpul disatu ruangan itu. So Eun menyikut Ji Yun.

”Ji Yun. Memangnya ada acara apa ya?”tanyanya sambil memerhatikan Presdir Jung Gil.

”Entahlah. Aku juga tidak tahu.”jawab Ji Yun. Tidak lama keluarganya Eun Hye telah datang dan bergabung dengan mereka.

”Oh. Rupanya kalian sudah datang. Silakan duduk dan nikmati sajian makan malam kami.”kata Presdir Jung Gil.

”Kau tidak usah repot-repot, Presdir.”ujar Ayahnya Eun Hye.

Kim Bum mengernyitkan dahinya melihat kedatangan keluarganya Eun Hye. Kim Bum langsung bertanya kepada Eun Hye yang duduk disampingnya.

”Ada apa ini, Tante? Kenapa keluargamu datang juga?”

”Aku juga tidak tahu, Kim Bum. Katanya aku harus datang kesini bersama keluargaku. Katanya sih ada yang mau diumumkan.”jawab Eun Hye.

”Apa?”
Presdir mengetuk gelasnya berkali-kali seolah ingin memberi perhatian.

”Baiklah. Karena kalian sudah berkumpul disini. Kalian pasti merasa heran kenapa keluarga Eun Hye pun datang.”

Semuanya terdiam memperhatikan Presdir Jung Gil yang berdiri.

”Keluargaku dan keluarga Eun Hye sudah membahas tentang pertunangan cucuku dan anaknya.”

”Hah? Apa maksudnya?”tanya Kim Joon kepada Kim Bum yang duduk disampingnya.

Kim Bum dan Eun Hye merasakan ada firasat buruk.

”Kami sudah membicarakan tentang tanggal pertunangannya. Dan kami sepakat pertunangan ini akan dilaksanakan 1 minggu kemudian.”seru Presdir Jung Gil diiringi tepukan meriah di sekelilingnya kecuali Kim Bum, Eun Hye, So Eun, Ji Yun, dan Kim Joon.

”Apa? Mereka akan segera tunangan?”guman Ji Yun terkejut.

So Eun memerhatikan Kim Bum dengan wajahnya yang kecewa.

Dia tidak berbicara. Tidak menentang. Hanya terdiam. Sementara Eun Hye memandang Sang Hyun. Sama seperti Kim Bum, Eun Hye hanya terdiam kecewa.

*****

Sejak pengumuman pertunangan itu. Suasana mulai berubah. Rumahnya sedang sibuk didekorasi. Kini Kim Bum sering keluar dari rumahnya. So Eun yang menemaninya hanya menatap Kim Bum bingung. Kini mereka berada di sebuah kafe. Kim Bum sedang terdiam menatap laptopnya. So Eun hanya bisa minum jusnya.

Tidak lama, So Eun pun membuka suaranya.

”Kim Bum.”

”Ng?”jawab Kim Bum tanpa menatap So Eun.

“Kim Bum.” Panggilnya lagi

“Ng?”

So Eun jadi kesal mendengar Kim Bum hanya menjawab tanpa membuka mulutnya untuk berbicara.

“Kim Bum!”teriak So Eun.

“Ada apa, So Eun?” Kim Bum pun berbicara dengan malas.

”Begitu Kim Bum. Kau jangan hanya menjawab ’Ng’ aja. Bikin kesal tau gak?” So Eun mengoceh. Kim Bum kembali menatap laptopnya.

“Kim Bum. Kau kan sebentar lagi tunangan. Lalu kenapa kau jadi cemberut begitu?”tanya So Eun. Lagi-lagi Kim Bum tidak menjawabnya.

So Eun hanya bisa mendengus kesal melihatnya.

“Oke…oke! Kalau kau tidak mau menjawab pertanyaanku.”kesalnya. Kim Bum pun tertawa pahit.

Eun Hye bersama Sang Hyun di taman rumah Presdir Jung Gil.

”Sang Hyun. Aku mencintaimu.”seru Eun Hye membuat Sang Hyun tertegun mendengarnya.

”Nona Eun Hye. Kau jangan begitu. Kau akan segera bertunangan dengan Tuan muda Kim Bum.”

”Sang Hyun! Bisakah kau tidak memikirkannya? Aku hanya bertanya padamu. Kau tau aku mencintaimu. Lalu bagaimana perasaanmu terhadapku?”tanya Eun Hye langsung. Sang Hyun terdiam.

”Mohon maaf, Nona. Aku ada urusan penting.”ujarnya sambil berbalik meninggalkan Eun Hye sendirian di taman.

”Dasar Sang Hyun bodoh!”gumam Eun Hye sambil meneteskan air matanya melihat punggung Sang Hyun yang memasuki rumah.

Minuman So Eun telah habis. Sudah 3 jam menemani Kim Bum yang masih main laptop.

So Eun jadi penasaran yang dilakukannya.

”Kim Bum! Sudah 3 jam kita disini. Sebenarnya apa sih yang sedang kau lakukan dilaptop?”tanya So Eun sambil menyenderkan kepalanya untuk melihat layar Laptop. Kim Bum panik langsung menutup laptopnya.

“Hei! Kau kenapa? Aku kan mau lihat juga.” So Eun terkejut melihat Kim Bum.

”Tidak boleh!”

”Kenapa?”

Tiba-tiba Eun Hye datang sendirian ke kafe. Eun Hye terkejut melihat So Eun dan Kim Bum.

”Kak Eun Hye?”

Kim Bum hanya terdiam.

”So Eun. Kebetulan kau ada disini. Kau bisa ikut aku?”

”Hah?”

Eun Hye langsung menarik So Eun keluar.

Kini Eun Hye dan So Eun sedang duduk di taman kota. Tiba-tiba Eun Hye menangis.

”Kak Eun Hye. Kau tidak apa-apa?”tanya So Eun sambil mengeluarkan tisu yang dibawanya di tas. Lalu diberikannya ke Eun Hye. Eun Hye pun menerimanya dan menyeka air matanya.

”So Eun. Bagaimana ini? Padahal aku mencintai Sang Hyun. Aku tidak mau bertunangan dengannya.”

”Apa? Kakak mencintai Sang Hyun?” So Eun terkejut yang baru mengetahui Eun Hye mencintai Sang Hyun meskipun dia tahu kalau Kim Bum dan Eun Hye tidak saling mencintai.

”Iya. Kau tau? Aku menerima jadi calon tunangannya karena ada Sang Hyun. Tapi aku takut kalau aku resmi jadi tunangan Kim Bum maka aku harus berakhir menikah dengannya. Bagaimana ini, So Eun?”

So Eun tidak menjawabnya. Eun Hye terus menangis dipelukan So Eun.

*****

Acara pertunangan telah tiba. Para tamu dan teman-teman sekelasnya pun datang menghadiri acara itu. Mereka pun berkumpul di ruang pesta itu. Mobil milik keluarga Eun Hye pun datang. Mereka pun keluar. Keluarga Kim Bum bersama So Eun kecuali Kim Bum menyambut kedatangannya. Eun Hye pun membawa kucing putih yang lucu.

So Eun dan Ji Yun langsung menghampiri Eun Hye yang berpenampilan sangat cantik.

”Kak Eun Hye! Wah… kucingnya lucu sekali.”puji So Eun sambil mengelus kepala kucing yang dipenuhi bulu-bulunya yang halus.

”Lucu kan? Coba kau gendong kucing ini. Jinak kok!”

”Benarkah?” So Eun pun menggendong kucing yang dibawa Eun Hye.

Presdir pun mendekati Eun Hye.

”Mari kita masuk, Eun Hye.”

Eun Hye mengangguk.

”So Eun. Tolong jaga kucingku ya?”

”Baiklah.”

Eun Hye pun masuk kedalam diikuti So Eun.

Namun So Eun tidak langsung masuk keruang pesta. Dia berniat menuju ke kamarnya. Namun saat dia sedang naik tangga, tiba-tiba kucing itu melompat darinya dan kabur.

”Eh-eh. Tunggu! Kau jangan kabur! Hhh… katanya kucingnya jinak. Tapi ternyata….”

So Eun pun terpaksa mencari kucing Eun Hye yang mulai hilang dari pandangannya. Tiba-tiba dia menabrak Sang Hyun.

”Kau tidak apa-apa?”tanya Sang Hyun.

”Aku tidak apa-apa, Kak Sang Hyun.”jawab So Eun. So Eun mengernyitkan dahinya begitu melihat seseorang disamping Sang Hyun. Seorang pria berjas hitam tersenyum ke arahnya. So Eun pun membalas senyumannya.

”Dia siapa, Kak Sang Hyun?”tanya So Eun.

”Oh. Dia ini adalah Lee Jae Goong. Beliau ini adalah temannya Presdir Jung Gil.”jelas Sang Hyun sambil memperkenalkannya ke So Eun.

”Oh. Selamat datang Tuan Jae Goong.”sapa So Eun. Jae Goong hanya tersenyum. Lalu mereka pun beranjak menuju ke ruang pesta. So Eun hanya terdiam melihatnya.

”Ah! Si kucing! Kucing….?! Kau dimana?” So Eun terus mencarinya.

Kim Bum pun telah memasuki ruang pesta ditemani Kim Joon dan Min Ho.

Mereka pun bergabung dengan rombongan Presdir. Kim Bum dan Eun Hye berhadapan. Mereka hanya saling memandang pasrah. Sesekali Eun Hye memandang Sang Hyun yang berdiri disamping Presdir Jung Gil. Sementara Kim Bum, matanya mencari sosok So Eun.

Geun Suk, Ah In, So Hee, dan Gyu Ri sedang berkumpul didepan meja sajian makanan.

”Aku tidak mengira Kim Bum akan bertunangan dengan wanita yang lebih tua darinya.”ujar Geun Suk sambil memperhatikan rombongan Kim Bum. Sedangkan So Hee hanya bisa terdiam kecewa, kesal, dan sedih.

”Padahal aku masih mencintainya. Kenapa dia mesti dijodohkan sih?”kesal So Hee. Gyu Ri terus mengelus pundaknya.

”Yang sabar ya, So Hee.” Gyu Ri berusaha menenangkan sahabatnya.

”Ngomong-ngomong mana So Eun? Kok gak ada?”celetuk Ah In sambil mencari sosok So Eun. Geun Suk yang menyadari itu pun ikut mencari sosoknya.

“Aduh! Kucing. Kau dimana sih? Jangan bersembunyi lagi. Aku sudah capek.”

So Eun terus mengeluh. Tiba-tiba dia melihat kucing itu berlari masuk ke dalam kamar.

”Ah! Itu dia. Kau tidak akan bisa kabur dariku lagi.” So Eun pun berlari masuk kedalam kamar yang rupanya tidak dikunci.

Dia tertegun melihat suasana kamar yang rapi.

”Wah. Bagus sekali kamar ini. Ini kamar siapa ya?”

Tiba-tiba kucing itu melompat dari meja sehingga dokumen-dokumen yang tertata rapi di atas meja terjatuh berserakan.

”Aduh! Kucing ini malah bikin kacau saja!”

So Eun pun menunduk. Memungut dokumen-dokumen itu. Tiba-tiba foto yang diselip ke dokumen itu terjatuh berserakan. So Eun tertegun melihat foto yang terjatuh itu.

”Ini kan fotonya Kim Bum dan aku?” So Eun terus melihat foto-foto secara bergantian. Dia terkejut melihat foto terakhir itu.

”Kenapa dia bisa ada difoto ini?” So Eun jadi bertanya-tanya.

”Meong…” terdengar suara kucing yang berusaha mencabik-cabik pintu lemari.

”Ah! Kucing, kau disitu rupanya.”

So Eun pun menghampirinya lalu menggendongnya. Namun kucing itu terus mengeong.

”Ada apa, kucing?”

So Eun menatap lemari pakaian itu.

Dia pun membuka pintunya. Dan seorang pria terjatuh dengan posisi terikat. Pria itu tidak sadarkan diri. So Eun merasa kenal dengan wajah pria itu. Dia berusaha mengingatnya. Dan tiba-tiba dia menyadarinya.

”Bukankah ini Tuan Lee Jae Goong? Jangan-jangan….”

So Eun langsung berlari keluar. Kucing itu pun kembali melompat dan kabur lagi darinya.

”Baiklah. Kim Bum dan Eun Hye silakan kalian bertukar cincin.”seru Presdir Jung Gil yang acaranya pun telah dimulai.

So Eun terus berlari menuju ke ruang pesta. Dia melihat pelayan membawa banyak pisau makanan.

”Eh-eh… tunggu! Aku pinjam pisaunya dulu ya!” So Eun langsung mengambil beberapa pisau tanpa menghiraukan pelayan yang bertanya-tanya dengannya. So Eun kembali berlari menuju ke ruang pesta.

Jae Goong palsu memasukkan tangannya ke kantong jasnya lalu mengeluarkan senjata sambil ditutupi saputangan sehingga orang-orang tidak bisa melihat senjata pistolnya. Dia mengarahkan ke Kim Bum yang sedang ragu untuk memasukkan cincin itu ke jari Eun Hye.

So Eun telah sampai di ruang pesta namun terkejut melihat Jae Goong palsu siap menembaknya. So Eun langsung masuk melindungi Kim Bum sambil melempar pisau yang dibawanya hingga menancap tangan Jae Goong palsu itu. Suasana jadi ricuh melihat aksi So Eun dan pistol yang dijatuhkan Jae Goong palsu. Jae Goong palsu itu merintih kesakitan sambil mencabut pisau.

”Ada apa ini, So Eun?”tanya Kim Bum.

”Dia bukan Tuan Lee Jae Goong asli!”

Suara mulai ricuh mendengar perkataan So Eun.

”Apa maksudmu?”

”Kau bukan Lee Jae Goong. Benarkan, Ibu Han Chae Young?”

“Apa?!”

“Benarkah itu?”Tanya So Hee.

Orang itu tersenyum. Sambil menahan rasa sakit di tangannya. Dia pun membuka topengnya. Seisi ruang terkejut melihat rupa Chae Young.

”Bukankah dia sudah meninggal?”seru Suk Hwan.

Chae Young tersenyum sambil menepuk tangan dengan pelan.

”Tidak kusangka kau pintar sekali, So Eun.”

”Kenapa Ibu Chae Young masih hidup?”tanya Kim Bum.

”Rupanya yang kita lihat di laut itu, dia belum mati, Kim Bum.”jawab So Eun sambil berbisik kepada Kim Bum.

”Aku sudah mengetahui siapa pelaku dibalik semua penculikan dan pembunuhan terhadap keluarga Kim Bum. Aku menemukan bukti ini.”lanjutnya.

So Eun menunjukkan dokumen yang dibawanya.

”Pelakunya adalah……” So Eun menatap tajam Sang Hyun.

”Yoon Sang Hyun!”seru So Eun.

”Apa?!”seru Eun Hye beserta para tamu terkejut mendengar So Eun. Mereka pun memusatkan perhatian ke Sang Hyun yang terus terdiam.

”Apakah itu benar, Sang Hyun?”tanya Presdir Jung Gil tidak percaya Sang Hyun, mantan bodyguard dan Asisten pribadinya yang dipercaya adalah pelaku dibalik semua masalahnya.

Sang Hyun tersenyum lalu mengeluarkan pistolnya dan ditodongkannya ke kepala Presdir Jung Gil yang berada disampingnya.

”Kakek!”teriak Kim Bum panik melihatnya.

”Rupanya kau memang tidak bisa diremehkan, So Eun.”ujar Sang Hyun sambil tersenyum kepada So Eun yang sedang menatap waspada ke Sang Hyun dan Chae Young.

So Eun terus melindungi Kim Bum dan Eun Hye. Dia memutar otak untuk mencari cara menyelamatkan Presdir Jung Gil.

“Kenapa kau lakukan ini, Sang Hyun?”tanya Presdir Jung Gil.

Sang Hyun tidak langsung menjawabnya. Dia menunjukkan sebuah foto dari saku celananya.

”Apa kau masih ingat ini, Presdir?”

”Bukankah itu adikmu, Yoon So Hye?”

”Ya. Dia meninggal karenamu.”

”Apa? Apa maksudmu.”

Presdir terkejut mendengar perkataan Sang Hyun. Dia masih tetap tidak mengerti.

”Jangan pura-pura lupa! Kau kan yang mendorongnya hingga dia tewas.”

Eun Hye memegang kepalanya. Rasanya dia jadi ingat sesuatu.

”Apa maksudmu? Aku tidak mendorongnya.” Presdir masih tidak mengerti maksud perkataan Sang Hyun. Sang Hyun melepaskan tembakan pertama ke atap rumah. Para tamu jadi panik. Lalu kembali dia menodongkan pistolnya ke Presdir.

”Sudah kubilang. Kau jangan pura-pura lupa!?”seru Sang Hyun.

”Aaarrgghh……!!!”teriak Eun Hye sambil memegang kepalanya. So Eun, Kim Bum dan para tamu sentak melihat Eun Hye.

 

TO BE CONTINUED…………………………………………………

Your Soul is My Soul [2 to 2]

 

 

“Jadi….. kau yang membunuh Min Ho dan Key?”Tanya So Eun langsung dengan ragu namun sedih. Kim Bum masih terdiam. Dia menunduk mengamati gelas yang dia pegang. Tidak lama, Kim Bum tersenyum pun membalasnya.

“Apa maksudmu, So Eun? Kenapa kau bisa berkata begitu?”

So Eun yang mulai emosi pun langsung mengambil kostum serba hitam beserta topeng phantom dan menunjukkannya.

”Kalau begitu, INI APA?! Kenapa kostum dan topeng ini bisa ada disini? KENAPA?”seru So Eun makin emosi. Kim Bum malah tertawa kecil. Dia pun meletakkan kedua gelasnya di meja yang ada disampingnya. Lalu gelas pertamanya dia berikan kepada So Eun.

”So Eun. Kau tenangkanlah dirimu dulu. Mungkin karena kau masih syok dengan kematian Key. Aku keluar sebentar ya. Ada yang ketinggalan. Uhm… makanan kecil. Aku yakin ini bisa membuatmu tenang.”ucap Kim Bum sambil keluar dan menutup kembali pintu kamarnya. So Eun hanya berdiri terbengong melihatnya.

”Tidak mungkin. Mungkin yang dia katakan benar. Tidak mungkin dia pembunuhnya. Dia kan sahabatku. Dia kan tahu kalau aku sangat mencintai Min Ho dan…. Key.” So Eun mulai bergumam sendiri sambil duduk di kasur. Pikirannya masih tidak percaya. So Eun mengamati seisi kamar Kim Bum sambil meminum jus yang diberikan Kim Bum. Makin lama dia merasakan ada hawa yang mengerikan. Entah apa itu. Yang jelas membuatnya bergidik. So Eun kembali berdiri dan kembali memeriksa meja-meja yang ada disekeliling kamarnya. Tidak ada yang mencurigakan. Dia masih penasaran dengan ruangan yang penuh dengan foto dirinya. So Eun kembali masuk ke ruangan itu.

Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sejak kapan Kim Bum mulai memotretnya. Bahkan Kim Bum tidak pernah menceritakannya. So Eun melihat tumpukan kertas di meja yang terletak di sudut ruangan. So Eun mendekatinya lalu mengambilnya. Dilihatnya beberapa kertas yang berupa dokumen-dokumen sekolah. So Eun melirik sebuah laci. Dia pun menarik laci. Sebuah map biru. So Eun mengambilnya dan membuka map itu yang ternyata dari rumah sakit Korea. Matanya pun terbelalak saat membaca laporan. Dia pun menjatuhkan map itu dan berlari keluar dari ruangan. Niatnya yang ingin segera keluar dari kamar Kim Bum yang misterius pun berhenti saat melihat Kim Bum ada di depan pintu kamar. So Eun mengambil napasnya. Kini dia benar-benar ketakutan melihat Kim Bum yang sedang tersenyum.

”Ada apa, So Eun?”tanya Kim Bum dengan tangannya yang memegang nampan berisi kue-kue. So Eun masih terdiam ketakutan. Dia tidak menyangka bahwa Kim Bum memiliki kanker darah atau leukimia. Dan seharusnya dia sudah wafat di usia 12 tahun. Namun ternyata Kim Bum masih hidup dalam keadaan sehat.

”So Eun?”Kim Bum memanggilnya lagi.

”Bagaimana….. bagaimana kau bisa hidup sampai sekarang?”

”Hah?”

”Bukankah kau seharusnya sudah meninggal di usia 12 tahun?”tanya So Eun lagi. Kim Bum yang terlihat mengerti dengan maksud pertanyaannya pun tertawa. Kim Bum berniat mendekatinya namun So Eun malah menjauh. Kim Bum pun berhenti melangkah.

”Kenapa kau malah menjauh? Apa kau takut denganku?”tanya Kim Bum lagi sambil meletakkan nampannya di meja. So Eun benar-benar sudah tidak bisa menahan ketakutannya. Dia pun mulai berpikir yang tidak-tidak. Berpikir mungkinkah Kim Bum telah menjadi hantu?

”So Eun?”panggil Kim Bum melihat So Eun selalu bengong.

”Aku mau pulang.”ucap So Eun. “Ya. Memang harus pulang dan jauhi Kim Bum.”batin So Eun sambil berjalan melewati Kim Bum. Dia pun memutar kenop pintu dan tidak bisa dibuka. Terkunci. So Eun memutar lagi dan menarik kenop pintu berkali-kali. Tetap tidak bisa dibuka. So Eun pun membalikkan badan dengan tatapan yang emosi penuh ketakutan.

“Kim Bum. Buka pintunya!? Aku mau pulang!”seru So Eun.

“Kenapa? Kenapa kau begitu terburu-buru ingin pulang? Kenapa kita tidak mengobrol dulu? Ini pertama kalinya kau datang kerumahku.”ucap Kim Bum sambil minum jus miliknya.

”Kim Bum! Aku mau pulang!? Buka kan pintunya!?”teriak So Eun mulai emosi namun takut. Kim Bum tidak bergeming. Dia masih meminum jusnya sambil memperhatikan So Eun.

”Tidak mau. Aku tidak mau kau meninggalkan aku.”ucap Kim Bum dengan serius. So Eun tercengang mendengarnya.

”Ap… Apa? Apa maksudmu aku meninggalkanmu?”

”So Eun. Setelah Min Ho dan Key mati. Kenapa kau masih terus mengingatnya dan mencintainya? Kau tahu? Aku sungguh benci dengan itu.”

So Eun pun makin terkejut mendengar pernyataannya.

”Jadi… kau…. Ternyata memang benar. Kau pelakunya. KAU YANG MEMBUNUHNYA!?”teriak So Eun mulai menangis ketakutan. Kim Bum tertawa. So Eun berbalik dan menggedor-gedor pintunya berharap para pelayan yang ada di luar mendengar pertolongannya.

”TOLONG AKU!? BUKA PINTUNYA!?”teriak So Eun. Kim Bum langsung mendekatinya. Membalikkan tubuh So Eun dan menahan kedua tangannya di pintu.

”So Eun! Kenapa kau berteriak? Tidak tahu kalau ini sudah malam. Mereka sedang tidur.”seru Kim Bum. So Eun masih berusaha melepaskan diri dari Kim Bum namun tangannya yang ditahan Kim Bum terlalu kuat.

”LEPASKAN AKU!?”berontaknya.

”SO EUN!?”giliran Kim Bum yang berteriak emosi.

”LEPASKAN!?”teriak So Eun tidak menyerah untuk melepaskan diri. Kim Bum pun langsung mencium bibir So Eun dengan paksa. So Eun berusaha mengelak ciumannya namun Kim Bum terlalu menekankan ciuman bibirnya. Bibirnya pun dilumat lebih dalam walaupun So Eun terus berontak. Terlihat Kim Bum tidak mempedulikan penolakan So Eun. Dia masih terus mencium So Eun sehingga tanpa sadar So Eun pun mulai bereaksi dari obat bius. So Eun pun tertidur akibat minum jus yang telah diberi obat bius oleh Kim Bum. Kim Bum menahan tubuhnya yang hilang kendali sambil terus mencium bibirnya dengan nafsu seakan tidak ingin kehilangan kesempatan.

*****

Perlahan So Eun membuka matanya. Dia melihat dirinya terbaring di kasur dengan kedua tangannya terikat dibelakang. So Eun pun berusaha bangkit dari kasur.

”Selamat pagi, So Eun! Kelihatannya tidurmu nyenyak sekali.”sapa Kim Bum yang baru muncul sambil membawa sarapan.

So Eun hanya bisa menatap benci. Kim Bum meletakkan nampan sarapannya di meja samping kasur. Dia tersenyum memandang So Eun yang cuek. Dia berniat mencium bibir So Eun namun So Eun membuang muka, mengelaknya. Kim Bum tersenyum lucu. Lalu dia mulai memotong steak sebagai sarapan. So Eun terus memperhatikan Kim Bum. Dia masih tidak menyangka Kim Bum, sahabatnya dari kecil ternyata pembunuh.

“Kim Bum…”panggil So Eun.

“Iya?”jawab Kim Bum memenuhi panggilan So Eun sambil tersenyum.

“Kau… Kenapa kau membunuh mereka? Min Ho… dan Key..?”Tanya So Eun. Kim Bum menunduk sebentar. Tidak lama, dia tersenyum lagi kemudian membelai rambut So Eun dengan lembut, So Eun sempat mengelak sentuhan tangan Kim Bum.

“Kim So Eun… Seharusnya aku yang jadi kekasihmu. Kau tahu? Sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Aku langsung jatuh cinta denganmu. Aku senang kita akrab bahkan kau sampai menganggapku sahabat. Namun sejak aku mempertemukanmu dengan Min Ho. Kenapa semuanya jadi begini? Aku kira Min Ho tidak akan pernah menyukaimu. Ternyata aku salah, dia malah nekat menyatakan perasaannya kepadamu dan kau malah menerimanya. Melihat itu, aku begitu sakit hati denganmu. Sangat sakit hati. Kenapa kau bisa menerimanya jadi kekasihmu? Seharusnya aku yang jadi kekasihmu!”seru Kim Bum mulai emosi. Mata So Eun pun berkaca-kaca.

“Tapi… tapi… kenapa harus sampai membunuhnya, Kim Bum?”Tanya So Eun.

“Mendengarmu ternyata kau mencintainya juga. Aku begitu marah, So Eun! Kau tahu, aku tidak suka kau mencintainya selain aku. Kalau dia masih ada didunia, aku yakin kau malah tidak bisa melupakannya makanya aku harus melenyapkannya supaya kau bisa melupakannya dan kembali ke sisiku. Selama 3 tahun lebih ini, aku pikir kau sudah bisa melupakannya sampai Key datang menyatakan cintanya kepadamu. Aku pun lebih marah dan sakit hati lagi mendengarmu menerima cintanya. Aku merasa dia merebutmu lagi. Kau tahu? Kau milikku. Hanya aku yang boleh berada disisimu.”

“Kau…. Benar-benar gila!?”ucap So Eun tidak percaya dengan jawaban Kim Bum. Kim Bum hanya tertawa sinis.

“Kau memang sudah tidak waras….”lanjutnya.

”Tetapi kau pasti mencintaiku kan? Sama seperti mencintai Min Ho dan Key. Bahkan lebih?”tanya Kim Bum sambil memegang kedua bahu So Eun. So Eun menatap tajam. Dia benar-benar tidak menyangka Kim Bum begitu phsyco.

”Tidak. Aku tidak mencintai seorang pembunuh sepertimu. Aku tidak akan mencintaimu, Kim Bum! Selamanya, aku tidak akan pernah mencintaimu!?”teriak So Eun mulai emosi sambil berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Kim Bum pun tercengang mendengar jawaban So Eun.

”Tidak mungkin! Kau bisa mencintai mereka, kenapa kau tidak bisa mencintaiku?”tanya Kim Bum lagi yang masih tidak percaya.

”Bukankah sudah aku bilang tadi? Aku tidak akan mencintai pembunuh sepertimu! Walaupun kau adalah sahabatku dulu, aku tidak akan pernah mencintaimu.”tegas So Eun. Kim Bum langsung berdiri dan memegang kepalanya. Shock dengan jawaban So Eun yang mengecewakan. Dia pun mondar-mandir dengan gelisah sementara So Eun masih berusaha melepaskan diri. Kim Bum kembali mendekati So Eun sambil mencengkram kedua bahu So Eun sehingga So Eun merasa kesakitan.

”Tidak mungkin! So Eun!? Kita sudah ditakdirkan bersama. Aku ingin kau menjadi istriku lalu kita akan mempunyai anak dan bahagia bersama selamanya.”

”Tidak mungkin!? Kau jangan terus mengkhayal untuk mendapatkanku bahkan menjadi istrimu!”tolak So Eun. Kim Bum kembali berdiri. Dia benar-benar mulai emosi dan gelisah. Kim Bum pun mengatur napas tenangnya. Kemudian Kim Bum keluar dari kamarnya. So Eun masih berusaha melepaskan diri. Saat dia menoleh ke arah sarapan yang dibawa Kim Bum tadi. Sebuah piring berisi steak, garpu, dan pisau.

*****

Kim Bum telah kembali dari urusannya. Dia pun langsung duduk di samping So Eun yang masih terdiam.

”So Eun. Maaf lama. Kau pasti lapar sekali. Biar aku suapin ya.”ujar Kim Bum seperti melupakan kejadian tadi sambil mengambil sebuah piring. Namun Kim Bum merasa ada yang aneh dengan piring itu. Ada garpu tetapi tidak pisau.

”So Eun. Apa kau lihat……” Belum sempat Kim Bum membalikkan badannya. So Eun langsung menusuk bahu Kim Bum dengan pisau yang diambilnya dari piring itu.

”AARRGGHH…!!!”teriak Kim Bum kesakitan. Ikatan tali yang sudah dilepas dari tadi, So Eun langsung melompat dari kasur dan berlari keluar dari kamarnya.

”KIM SO EUN! JANGAN LARI KAU!?”

*****

So Eun benar-benar bingung. Rumah mewah ini begitu luas sehingga So Eun sulit mencari pintu keluarnya. Dia pun menyusuri ruang-ruang yang ada disekitarnya. So Eun berlari dengan kelelahan. Dia masih bisa mendengar teriakan Kim Bum yang memanggil namanya. Hingga di sebuah ruang yang diduganya itu adalah ruang keluarga. Dia melihat dua sosok manusia yang sedang duduk di sofa seakan sedang menonton televisi.

”Tolong aku!?”seru So Eun meminta pertolongan sambil menghampiri mereka. Namun saat So Eun melihat rupa kedua orang itu. Dia pun refleks menjauh.

Kedua orang itu adalah orang tua nya Kim Bum! Tetapi mereka sudah meninggal dibunuh Kim Bum! Iya. Menurut catatan laporan polisi yang diselipkan di map rumah sakit tadi itu tertulis, mereka meninggal akibat ditusuk pisau oleh Kim Bum yang saat itu berusia 8 tahun. So Eun terkejut saat dipeluk dari belakang. Dia melihat Kim Bum tersenyum berhasil menemukannya.

“Ternyata kau ada disini…” ucap Kim Bum menahan rasa sakit dibahunya akibat ditusuk pisau oleh So Eun.

“Lepaskan aku!?” So Eun berusaha melepaskan pelukannya yang terlalu kuat.

“Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu! Aku mencintaimu, So Eun!?….”

“TAPI AKU TIDAK MENCINTAIMU!?” Lalu So Eun menggigit tangan Kim Bum.

”AARRGGHH…!!?” Kim Bum berteriak kesakitan. So Eun pun kabur lagi. Terus berlari menjauhi Kim Bum hingga dia pun menemukan pelayan yang sedang membersihkan jendela.

“Tolong Aku! Tolong! Kim Bum akan membun…..”

”Iya, Nona? Anda mencari tuan Kim Bum? Beliau ada di kamar.”

So Eun tersentak kaget mendengar suara pelayan yang begitu aneh.

”Halo? Tuan mudamu mau membunuhku. Tolonglah aku!”ucap So Eun lagi sambil mendorong bahu pelayan itu sehingga pelayan itu terjatuh ke lantai dasar. So Eun segera melihat kebawah. Tubuh pelayan pun hancur. So Eun pun menutup mulutnya yang penuh shock. Pelayan itu adalah robot!?

”KIM SO EUN!?”

So Eun menoleh. Kim Bum ada di depannya. So Eun kembali berlari menuruni tangga namun dia berhasil ditangkap Kim Bum.

”So Eun! Kau jangan pergi!?”seru Kim Bum sambil menahan So Eun.

”Lepaskan aku!?”teriak So Eun berusaha melepaskan pelukan Kim Bum yang begitu kuat sehingga mereka pun terjatuh dan terguling di tangga hingga ke lantai dasar disamping tubuh pelayan yang hancur. Kim Bum yang menindihnya langsung menahan So Eun bangkit.

”So Eun! Aku mohon! Kau jangan pergi dariku!? Aku sangat mencintaimu, So Eun!?”

So Eun tidak menggubris permohonan Kim Bum. Dia sibuk mencari benda yang bisa menolongnya. Dia melihat sebuah tongkat besi yang runcing. So Eun segera meraihnya.

“Kim So Eun! Aku…. Ugh….” Kim Bum tidak melanjutkan kata-katanya. Dia pun melihat ke bawah. Sebuah tongkat besi menusuk perutnya. Darah segar pun mengalir di tubuh So Eun. So Eun langsung menarik diri dan berdiri mencari pintu keluar.

“Kim So…… Eun….” lirih Kim Bum sambil berusaha meraih So Eun yang mulai menjauh. So Eun menoleh lagi. Terlihat Kim Bum terbaring sambil memegang tongkat besi yang menancap di perutnya. So Eun menangis sambil mundur dan menabrak lilin hingga terjatuh mengenai tirai jendela. So Eun pun langsung membuka pintu ada di depan matanya dan berlari keluar sejauh mungkin. Meninggalkan rumah Kim Bum yang mulai terbakar.

*****

2 Tahun Kemudian……

So Eun sibuk melirik arlojinya. Dia pun memutarkan kepalanya di sekelilingnya.

Orang itu belum kunjung datang. So Eun kembali meminum soda kalengnya hingga habis. Seseorang yang telah menolongnya dua tahun yang lalu. Saat dia sedang mencari pertolongan setelah kabur dari rumah Kim Bum yang diyakininya sudah hangus terbakar. Tidak lama, seseorang yang ditunggu pun datang, So Eun langsung berdiri.

”Jin Yi Han! Kau lama sekali datangnya?”seru So Eun kesal. Yi Han pun langsung menyesal.

”Maaf, So Eun. Tadi aku ada urusan sebentar. Kau tahu? Temanku sudah datang ke Korea. Aku ingin memperkenalkanmu dengan dia.”

”Teman? Yang Mana?”

Yi Han mengangguk, ”Kim Min Jae. Aku pernah cerita denganmu kan. Min Jae adalah teman bisnisku 2 tahun yang lalu. Dia baru saja kembali dari London. Ayo cepat kita pergi. Dia sedang menunggu kita!”seru Yi Han sambil menarik So Eun yang sedang bengong.

*****

So Eun dan Yi Han telah sampai di restoran. Yi Han mencari Min Jae yang sedang menunggunya. So Eun pun ikut memutarkan kepalanya bermaksud membantu mencarinya walaupun tidak tahu bagaimana rupa Min Jae itu.

”Ah, itu dia!” seru Yi Han sambil menunjuk Min Jae dan menarik So Eun mendekati mejanya. So Eun pun sontak menoleh ke arah yang dimaksud Yi Han.

Lelaki yang rambutnya berwarna abu-abu tetapi dia… Dia mirip sekali dengan Kim Bum.

Min Jae pun berdiri setelah melihat kedatangan Yi Han dan So Eun.

”Maaf. Kau pasti lama menunggunya.”sesal Yi Han.

“Tidak apa-apa.”jawab Min Jae dengan senyum ramahnya.

”Oh iya, ada yang ingin aku perkenalkan denganmu. Dia ini temanku, Kim So Eun.”ujar Yi Han.

”Halo. Kenalkan, nama saya Kim Min Jae.”ucap Min Jae sambil mengulurkan tangannya. So Eun tidak bergeming bahkan tidak mendengar percakapan mereka karena begitu terkejutnya sehingga dia pun pingsan di pelukan Yi Han.

”So Eun!? Kau tidak apa-apa, So Eun?”seru Yi Han khawatir sambil berusaha menyadarkan So Eun.

*****

Perlahan mata So Eun pun mulai terbuka. Dia melihat sekeliling. Ruangan yang dia kenal. Rupanya dia berada di kamarnya. So Eun pun terbangun.

“So Eun! Kau sudah sadar?”seru Yi Han mulai senang melihat So Eun mulai sadar. So Eun pun menatap mata Yi Han. Beberapa bulan yang lalu, Yi Han menyatakan cintanya kepada So Eun. Namun karena masih trauma dengan insiden pembunuhan Min Ho dan Key, So Eun pun menolaknya. Walapun ditolak, Yi Han masih setia menemaninya sebagai teman. Namun saat dia bertemu dengan Min Jae yang begitu miripnya dengan Kim Bum, So Eun langsung turun dari kasurnya.

“So Eun! Kenapa kau langsung turun? Kau kan baru sadar.”cemas Yi Han.

”Min Jae… dia…. tidak. Dia bukan Kim Min Jae! Tetapi dia Kim Bum! Dia Pembunuh!?” So Eun mulai berbicara ngelantur membuat Yi Han bingung.

“So Eun. Kau pasti masih sakit. Lebih kau istirahat dulu.”ucap Yi Han berusaha membujuk So Eun agar kembali ketempat tidurnya. Namun So Eun menolak. Dia berusaha memberitahukan kalau Kim Min Jae itu adalah Kim Bum.

”Apakah dia sudah sadar?”tanya Min Jae yang tiba-tiba ada di kamarnya. Yi Han dan So Eun menoleh.

”Hh… Min Jae. So Eun sudah sadar. Tetapi sepertinya dia belum terlalu pulih.”jawab Yi Han. So Eun langsung membelakangi Yi Han karena takut melihat Min Jae. Yi Han langsung mendekati Min Jae.

”Yi Han!”seru So Eun berusaha mencegah Yi Han mendekati Min Jae namun gagal.

”Maafkan So Eun, aku tidak tahu kenapa dia jadi takut denganmu. Aku…. Ugh….” mata Yi Han pun melotot menatap Min Jae lalu dia melihat kebawah. Sebuah pisau yang dipegang Min Jae telah menusuk perutnya. Min Jae terus menikam perut Yi Han dengan cara yang sama. Menikamnya hingga isi perutnya pun keluar. Yi Han pun terbaring di lantai dengan tak bernyawa lagi. So Eun pun berteriak kaget melihat kejadian itu. Min Jae tersenyum lalu mendekati So Eun. Dan dia menyentuh kepala So Eun yang ketakutan itu dengan lembut.

”Apa kabar, So Eun? Sudah lama aku tidak bertemu denganmu. Kau jadi semakin cantik. Aku sangat merindukanmu, So Eun.”ucapnya dengan penuh romantis namun tenang.

”Ka…Ka..Kau… Kim Bum?”tanya So Eun dengan gelisah.

”Bagaimana kau bisa hidup? Bukankah waktu itu seharusnya kau sudah mati bersama rumahmu yang terbakar?”tanya So Eun lagi dengan bingung namun penuh gelisah dan ketakutan.

”Semua ini karenamu, So Eun. Karena kau masih hidup maka aku pun tetap hidup.”

”Apa?”
Kim Bum tidak menggubris kebingungan So Eun. Kim Bum langsung mencium bibir So Eun dan melumatnya. So Eun begitu terkejut dengan ciuman mendadaknya pun langsung berusaha mendorong tubuh Kim Bum. Namun tetap saja, kekuatan Kim Bum begitu kuat memeluknya dan begitu nafsu melumat bibir So Eun seakan merindukan ciuman bibir So Eun. So Eun melirik sebuah vas disampingnya. Selagi Kim Bum menciumnya, So Eun berusaha meraih vas dan mengambilnya. Lalu dipukulnya kepala Kim Bum dengan vas. Kim Bum pun meringis kesakitan sambil memegang kepalanya yang berdarah. Mendapat kesempatan, So Eun mendorong tubuh Kim Bum hingga terjatuh lalu So Eun meloncat melewatinya dan berlari keluar dari kamarnya dan berusaha meminta pertolongan dari keluarganya.

”Ayah! Ibu! Tolong aku!? Kim Bum masih hidup! Ayah! Ibu! Dimana kalian?”teriak So Eun berusaha mencari orang tuanya. Iya. So Eun sudah menceritakan semua kejahatan Kim Bum kepada orang tuanya saat So Eun dirawat di rumah sakit. So Eun terus berlari menyusuri kamar di lantai dua itu sehingga sampai di kamar terakhir. So Eun tercengang melihat kamar yang penuh darah itu. Ayah dan Ibunya telah terbaring di lantai dengan bersimbah darah.

“Ayah! Ibu!”

So Eun langsung mendekati orang tuanya. Menggoyangkan tubuh mereka, berusaha menyadarkan mereka. Namun tetap saja tidak ada gerakan kesadaran sedikit pun.

”Mereka sudah mati.”ucap Kim Bum yang sudah ada di depan So Eun sambil menahan rasa sakit dikepalanya. So Eun pun menangis terisak melihat kematian orang tuanya.

”Kau benar-benar gila! Teganya kau membunuh orang tuaku.”

”Mereka menghalangiku. Waktu aku menunjukkan jati diriku yang sebenarnya kepada mereka dan meminta restu untuk menikah denganmu. Mereka malah menolakku dan mengancamku akan dilaporkan ke polisi. Kau tahu bagaimana rasanya cintaku tidak direstui mereka? Sangat sakit hati.”

”KAU GILA, KIM BUM!?”teriak So Eun. Lalu So Eun berlari mundur hingga ke naik ke jendela. Kim Bum pun panik melihatnya langsung mendekati So Eun.

”Apa yang sedang kau lakukan, So Eun!?”teriak Kim Bum sambil menahan So Eun.

”Lepaskan! Kau sudah membunuh orang-orang yang aku sayangi. Daripada aku bersamamu lebih baik aku mati!?”seru So Eun hendak meloncat dari jendela di lantai 2. Namun Kim Bum tetap menahannya. Cuacanya pun makin gelap menjelang malam. Terjadi pergulatan diantara mereka. Sehingga So Eun yang membelakangi jendela pun terpleset karena berusaha mendorong tubuh Kim Bum. Mereka berdua pun terjatuh secara bersamaan. Mereka pun mendarat dengan keras dan mengalirkan banyak darah. Dengan sedikit kesadaran, So Eun melirik Kim Bum yang terbaring dengan bersimbah darah.

Bisa diyakini kepalanya pun pecah karena mengenai daratan yang begitu keras. Dia tidak bergerak sedikit pun. So Eun pun menutup matanya. Setidaknya, Kim Bum benar-benar sudah mati beserta dirinya.

*****

Seorang wanita berpakaian putih sedang sibuk menata rambut pasiennya yang duduk di kursi roda.

”So Eun. Sekarang Anda sudah cantik. Oh iya, So Eun. Saya permisi sebentar ya. Ada panggilan.”ujar suster itu sambil meninggalkan So Eun yang menunduk terdiam di kursi rodanya. Enam bulan yang lalu sejak peristiwa itu. Dia masih bernyawa, sehingga dilarikan ke rumah sakit. Namun akibat dari kejadian itu, So Eun mengalami kelumpuhan total. Tubuhnya tidak bisa digerakkan, bahkan dia tidak bisa berbicara dan menggerakkan kepalanya. Dia hanya bisa mendengar dan melihat. Entah So Eun harus bersyukur atau tidak karena dia masih hidup. Namun ada sedikit kekhawatirannya bahkan lebih. Dia mulai meragukan kematian Kim Bum. Akankah Kim Bum benar-benar sudah mati dengan matanya sendiri? Seorang dokter wanita yang merawat So Eun pun datang. Dia menyentuh pundaknya dengan lembut sambil tersenyum. Lalu dokter itu berjongkok dan menyamakan posisi wajahnya dengan wajah So Eun yang menunduk.

”So Eun. Bagaimana kabarmu? Aku tahu, pasti sulit untukmu. Kau yang sabar ya. Aku yakin suatu saat kau pasti bisa sembuh dari kelumpuhan ini.” Dokter itu berdiri.

”Oh iya, aku mau memberitahukanmu. Kalau tunanganmu sudah datang.”ucap dokter itu sambil meninggalkan So Eun. So Eun tercengang mendengarnya. Matanya terus berkedip menandakan keheranannya. Tiba-tiba seseorang meletakkan buket bunga di paha So Eun yang sedang duduk dikursi roda. Orang itu pun berdiri di hadapannya lalu berjongkok dan tersenyum melihat So Eun. So Eun yang bisa melihat wajahnya terkejut dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan So Eun sampai terheran melihatnya yang seharusnya sudah mati. Iya. Kim Bum telah kembali dengan hidup. Sama seperti 6 bulan yang lalu saat dia menjadi Kim Min Jae yang kembali tanpa cacat bahkan terlihat lebih sehat layaknya orang normal.

Kim Bum tersenyum lagi melihat kecantikan So Eun tanpa ekspresi itu. Lalu dia pun mencium bibir So Eun.

”So Eun. Aku rindu sekali denganmu. Akhirnya kita bisa bersatu. Kau pasti heran bagaimana aku bisa hidup. Padahal waktu itu aku jatuh bersamamu. Seperti yang aku bilang sebelumnya. Kalau kau masih hidup maka aku pun ikut hidup. Kau tahu kenapa? Karena nyawamu adalah nyawaku. Sejak darahmu mengalir ditubuhku, kau menyelamatkan aku dari penyakit leukimia. Sejak itu, aku semakin yakin kalau kau adalah belahan jiwaku.”

Mata So Eun memancarkan keterkejutannya saat mendengar perkataan Kim Bum. Dulu memang Kim Bum pernah meminta sedikit darahnya. Tapi Kim Bum hanya bilang untuk mencari tahu golongan darahnya tapi dia tidak tahu kalau darahnya telah dimasukkan ke dalam tubuh Kim Bum. Namun So Eun masih tetap tidak mengerti. Bagaimana bisa darahnya bisa membuat Kim Bum hidup. Sosok Kim Bum tetap saja misteri.

Dokter wanita itu telah kembali. Kim Bum pun berdiri.

”Bagaimana dokter? Apakah tunanganku ini boleh pulang?”tanya Kim Bum.

Dokter itu mengangguk, ”Anda bisa membawa pulang tunangan Anda. Seperti yang aku pesan kepada Anda. Anda harus merawatnya dengan baik.”

”Tenang saja, dok. Aku pasti akan merawatnya dengan baik.”

”Baiklah, kalau begitu. Aku permisi dulu.” dokter wanita itu pun pergi meninggalkan mereka. Lalu Kim Bum membelakangi So Eun dan memutarkan kursi rodanya. Kemudian mendorongnya menuju ke jalan keluar.

”So Eun, sayang. Kita akan segera pulang ke rumah kita. Aku sudah mempersiapkan kamar kita. Begitu sampai disana, kau harus mandi dulu. Tenang saja, aku sudah mempersiapkan air hangat untukmu. Oh iya, beberapa hari lagi kita akan menikah. Aku yakin kau pasti senang dengan pernikahan kita nanti…” Kim Bum terus berceloteh sambil mendorong kursi roda So Eun. So Eun yang mendengarnya tidak bisa menjawabnya. Rasanya dia ingin menolaknya. Dia tidak ingin menikah dengan Kim Bum. Ingin kabur dari Kim Bum. Tapi tidak bisa. Dia lumpuh. Lumpuh total. Kini So Eun menyesal karena dirinya masih hidup dan Kim Bum berhasil memilikinya seutuhnya. Sungguh, kini So Eun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan diri. So Eun hanya bisa meneteskan air matanya. Penuh kesedihan di dalam dirinya. So Eun hanya bisa menangis.

Wah…. Akhirnya selesai juga FF horor pertama saya ini ^^;

Oke deh! Silakan menjawab pertanyaan berikut ini:

1. Bagian cerita mana yang menyeramkan?

2. Bagian cerita mana yang paling menyedihkan?

3. Bagian cerita mana yang paling tragis?

4. Terakhir, berikan komentar kalian terhadap FF horor pertama saya ini!

Gomawo, mates yang sudah setia membaca FF saya dari awal sampai terakhir. ^_________^;

Your Soul is My Soul [1 to 2]

 

Hari ini adalah hari yang sangat penting. Hari ini adalah hari yang benar-benar pernah terjadi tragedi mengerikan. Seorang gadis berdiri didepan altar makam. Dia begitu menghayati melihatnya, sesekali dia merenung masa lalunya. Masa-masa indahnya saat bersama dengan kekasihnya dulu sebelum dibunuh. Kini mata indah milik gadis itu pun mengeluarkan air matanya. Sudah satu tahun mantan kekasihnya, Min Ho dimakamkan. Gadis yang bernama Kim So Eun itu pun meletakkan buket bunganya di atas makamnya. Dia sungguh tidak bisa membayangkan bahkan tidak ingin mengingatnya lagi saat Min Ho dibunuh tepat dihadapannya. Disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri. Sungguh tidak mengerti apa maksud pelaku itu menikam kekasihnya begitu kejam. Terakhir kalinya yang dia ingat adalah perut Min Ho ditikam begitu dalam hingga mengeluarkan seisi perutnya. So Eun yang begitu ketakutan melihat kondisi Min Ho yang begitu mengenaskan hanya bisa terdengar kata-kata terakhir dari Min Ho, ”Jangan kau dekati dia lagi. Jauhi dia……”

So Eun kembali tersadar dari lamunannya. Sementara pikirannya terus bertanya-tanya tentang kalimat terakhirnya.

”Siapakah ’dia’ yang dimaksud?”gumam So Eun heran. Namun lamunannya kembali terbuyar setelah mendengar klakson mobil dan suara yang memanggilnya.

”Hei, So Eun! Sampai kapan kau akan berdiri disitu? Nanti kita akan terlambat masuk sekolah.”teriak salah satu temannya yang bertubuh tambun itu. So Eun melirik makam Min Ho lagi. Tidak lama, So Eun menyunggingkan senyumannya.

”Semoga kau bisa tenang di Surga, Min Ho. Aku sangat mencintaimu.”ucap So Eun sambil berbalik dan berlari menuju ke mobil. Kemudian mobil itu pun berangkat meninggalkan pemakaman. Seseorang lelaki pun berhenti jalan tepat didepan makam Min Ho. Lelaki yang berpakaian serba hitam itu menunduk mengambil bunga yang baru saja So Eun letakkan di makam Min Ho. Lelaki itu mencium bunganya yang harum dan dia pun tersenyum. Kemudian lelaki itu pergi meninggalkan makam Min Ho dengan membawa bunga dari So Eun.

*****

So Eun membuka loker miliknya. Dia pun tersenyum melihat foto Min Ho. Sungguh dia sangat rindu dengan sosok ceria Min Ho. Namun apa daya, kini Min Ho tak ada di dunia lagi. So Eun mengambil beberapa buku lalu dimasukkannya ke dalam tas yang dirangkulnya. Lalu dia kembali menutup loker. Namun saat dia menoleh tepat disamping lokernya, dia begitu terkejut.

”Kim Bum! Sedang apa kau berdiri disitu?”seru So Eun kesal.

Kim Bum malah tersenyum lucu melihat ekspresi So Eun yang malah memerah.

“Hei! Kenapa kau malah tertawa lagi?”tanya So Eun tambah kesal. Kim Bum masih saja tertawa. Sungguh, kelakuan Kim Bum begitu mirip dengan Min Ho. Sama-sama suka jahil. Apa lagi melihat So Eun marah atau kesal. Bukannya minta maaf malah tertawa. Apalagi Kim Bum adalah sahabatnya sejak kecil. Walaupun So Eun sudah lama mengenal Kim Bum namun hanya satu yang tidak diketahuinya yaitu tentang keluarganya bahkan dia belum tahu bagaimana rupa orang tua Kim Bum. Pernah So Eun bertanya, namun Kim Bum hanya tersenyum dan mengatakan kalau orang tua mereka ada di luar negeri. Selanjutnya, So Eun tidak bertanya lagi karena dia tahu Kim Bum selalu kesepian di rumahnya.

Cubitan pipi menyadarkan So Eun kembali ke alam nyata. So Eun meringkih kesakitan saat pipi kanannya dicubitnya.

”Aaarrgghh…. Kim Bum! Sakit!?”teriak So Eun sambil memukul tangan Kim Bum. Lagi-lagi Kim Bum tersenyum, dia pun melepaskan cubitannya lalu dia merangkulnya. Sungguh ini kebiasaannya kalau sesudah menjahilinya pasti mencubit pipinya terdahulu lalu seperti yang diduga So Eun.

”Maaf. Aku tidak sengaja melakukannya. Habisnya kau ini imut sekali!”ucap Kim Bum sambil mencubit pipinya lagi. So Eun berusaha mengelaknya agar tidak dicubit lagi.

”Sudahlah, Kim Bum! Jangan kau cubit aku lagi. Sakit!”kesal So Eun.

”Oh iya, So Eun. Tadi pagi kau kemana? Tadi aku ke apartemenmu, kau malah sudah pergi.”tanya Kim Bum masih dalam posisi merangkulnya.

“Maaf. Tadi aku begitu buru-buru pergi ke pemakaman. Kau yang sebagai sahabat pastinya tidak lupa kan dengan hari kematian Min Ho. Kekasihku yang dulu.”jawab So Eun. Kim Bum hanya mengangguk. So Eun begitu ingat pertemuan pertamanya di sebuah kafe, dia dikenalin oleh Kim Bum.

Sejak itu, Min Ho selalu menjahilinya. So Eun mengira Min Ho sedang membencinya. Tetapi siapa disangka kalau kejahilannya itu ternyata karena dia menyukai So Eun. Tepat di hari valentine, Min Ho menyatakan perasaannya. So Eun yang begitu terkejut sekaligus terharu tentunya langsung menerima cintanya. Mereka pun resmi jadi kekasih. Namun hubungan mereka yang baru berjalan 6 bulan pun terpaksa kandas, karena Min Ho sudah meninggalkannya duluan dengan mati dibunuh secara mengenaskan. So Eun benar-benar tidak mengerti kenapa pelaku itu tega membunuh Min Ho yang diyakininya walaupun jahil namun tidak sampai membuat masalah. Min Ho adalah lelaki yang baik. Tidak pantas dia dibunuh dengan sadis.

”Hei! Kau melamun lagi?”ucap Kim Bum sambil mengetok kepala So Eun. So Eun hanya terdiam kesal sambil mengelus kepalanya.

”Maaf, Kim So Eun.” Terdengar suara dibelakangnya, So Eun dan Kim Bum pun membalikkan badannya sambil melepaskan rangkulannya. Seorang lelaki tampan berdiri dengan sedikit gugup dihadapan mereka.

”Iya? Ada apa, Key?”tanya So Eun bingung. Key tidak langsung menjawabnya. Dia menyodorkan sebuah surat berwarna biru kepada So Eun. So Eun pun menerimanya dan hendak membuka isi surat. Namun Key menghalanginya.

”Jangan dibuka dulu! Kau boleh buka setelah aku pergi. Aku tunggu jawabanmu sepulang sekolah nanti.”ucap Key sambil berbalik pergi meninggalkan So Eun dan Kim Bum. So Eun dan Kim Bum saling berpandangan dengan heran.

”So Eun! Ayo cepat baca isi suratnya. Aku penasaran.”desak Kim Bum penasaran. So Eun hendak membuka amplop berwarna biru namun tiba-tiba lonceng berbunyi pertanda istirahat telah habis.

”Mungkin nanti saja. Sepertinya ini benar-benar rahasia. Maaf, Kim Bum. Aku masuk duluan ya!”teriak So Eun sambil berlari menuju kekelasnya. Sudah tentu terpancar wajahnya yang penuh kecewa karena So Eun tidak mau membaca surat disampingnya. Namun sesaat dia menoleh ke samping. Ke arah Key berlari tadi. Dengan pemikiran yang misterius.

*****

So Eun berjalan menuju ke gerbang sekolah. Dia berhenti sejenak saat dia melihat Key sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Sepertinya memang sedang menunggu So Eun. So Eun menghembuskan nafasnya. Dia sudah membaca isi surat dari Key. Sungguh diluar dugaan. Ternyata Key menyatakan cintanya kepada So Eun. Pasca ditinggal Min Ho 3 tahun yang lalu membuat So Eun ragu untuk menjawabnya. Key memang sama tampannya dengan Min Ho. Sama baiknya seperti Min Ho. Namun dia tidak yakin dengan hatinya untuk membuka lembaran cinta baru. So Eun terus berjalan dengan pelan sehingga Key menghalanginya. Alhasil, So Eun menabrak tubuhnya tanpa disadarinya.

”So Eun. Kau tidak apa-apa?”tanya Key. So Eun yang baru sadar dari lamunannya pun langsung mengangguk.

”Maaf. Aku tidak melihatmu tadi.”

”Kenapa kau melamun lagi?” Pertanyaan Key tadi membuat So Eun tercengang.

”Hah? Ah tidak. Aku tidak melamun.”bantah So Eun. Key hanya tersenyum. So Eun begitu terpana melihat senyumannya yang begitu mirip dengan senyuman Min Ho.

“Bagaimana dengan jawabanmu?”

“Hah? Jawaban apa?” So Eun kembali ke alam nyata.

“Jawaban dari surat yang aku berikan tadi.”ucap Key lagi.

“Oh… itu…. Aku….. masih membutuhkan waktu untuk memikirkannya.”jawab So Eun membuat Key sedikit kecewa.

“Mungkin memang mendadak. Secara kita yang hanya berteman biasa, tidak terlalu akrab. Tiba-tiba menyatakan cinta kepadamu. Aku memakluminya.”ujar Key. So Eun hanya terdiam.

”Kalau boleh aku tahu, selama itukah kau memendam perasaanmu? Selama 3 tahun?”tanya So Eun.

”Iya. Sejak aku bertemu denganmu di pertemuan siswa baru. Aku langsung jatuh cinta denganmu. Bagaimana? Apakah kau tidak bisa menjawab sekarang?”tanya Key sedikit memaksa. So Eun menunduk. Memikirkan masa lalunya. Haruskah dia siap melupakan Min Ho? Walaupun ada Kim Bum yang selalu menghiburnya tetapi dia ingin sekali diperhatikan lebih khusus sebagai kekasih. So Eun pun tersenyum seakan menemukan jawabannya dan dia pun yakin Min Ho akan mendukungnya. Key masih memperhatikan So Eun. So Eun mengangguk.

”Apa?”tanya Key tidak mengerti dengan anggukan So Eun. So Eun mengangkat kepalanya sambil tersenyum.

”Iya. Aku mau jadi kekasihmu.”jawab So Eun yakin.

”Sungguh? Terima kasih, So Eun!”seru Key sambil menggenggam tangan So Eun. So Eun hanya tersenyum lucu melihat tingkah Key. Kim Bum yang menyaksikannya dari jauh pun hanya terdiam. Terdiam tanpa ekspresi.

*****

Pada malam hari, So Eun telah sampai di depan apartemennya setelah pulang dari bioskop bersama Key. Key terus menggenggam tangan So Eun.

“Key. Sampai kapan kau terus memegang tanganku?”ucap So Eun menyadarkan Key. Dengan malu-malunya dia melepaskan tangan So Eun.

“Aku sungguh tidak percaya. Aku berpikir….. apakah aku mimpi…. Melihatmu menjadi kekasihku.”

”Key…. kau terlalu berlebihan.”

”Tapi… tetap saja….” Key langsung memeluk So Eun dengan eratnya.

”Key!”seru So Eun yang terkejut dengan tingkah Key begitu aktifnya.

“So Eun.”bisik Key.

“Ya?”

“Boleh aku menciummu?”Tanya Key. So Eun tersenyum lucu mendengarnya.

“Iya.”

Key melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah So Eun dengan dalam. Tidak butuh waktu lama, Key pun langsung mencium bibir So Eun dengan lembut. Dan So Eun pun membalasnya.

“Terima kasih.”ucap Key setelah menciumnya. So Eun hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Aku pulang dulu ya.”pamit Key sambil berbalik.

“Iya. Hati-hati dijalan!”teriak So Eun. Key hanya mengangkat tangannya lalu berlari menghilang dari pandangan So Eun. So Eun pun berbalik sambil menyentuh bibirnya yang baru saja dicium Key. Saat dia merogoh tasnya bermaksud mengambil kunci apartemennya. Dia baru sadar bahwa ponsel Key dititipkan ke tasnya.

”Ini kan ponsel Key. Aku harus mengembalikannya.”ujar So Eun sambil berbalik mengejar Key.

*****

Key tersenyum sendiri sambil membayangi saat dia berciuman dengan So Eun tadi. Saat dia membelok melewati sebuah toko, dia terus berjalan menuju ke sebuah gang sepi. Baru beberapa langkah tiba-tiba seorang berkostum serba hitam muncul di hadapan Key dan langsung menikam perut Key berkali-kali hingga keluar isi perutnya. Key pun tidak berdaya melawannya karena penikamannya yang begitu mendadak hingga tenaganya hilang.

”KKYYAAAAAAAAAAA!!!!” Teriak So Eun yang kebetulan sedang mengejar Key pun menyaksikan pembunuhan terhadap Key. Pelaku itu pun menoleh mendengar teriakan So Eun. Pelaku yang memakai kostum serba hitam dan memakai topeng seperti phantom opera. So Eun langsung mendekati Key yang sudah tidak berdaya di tanah. So Eun pun menaruhkan kepalanya di paha So Eun sambil menepuk pipi Key. Berusaha menyadarkan Key yang tidak bergerak.

”Key! Bangunlah!?”

Pelaku itu hanya tersenyum melihat kepanikan dan tangisan So Eun lalu pelaku itu berlari menghilangkan diri. Sementara So Eun terus berusaha menyadarkan Key dan menahan pendarahan yang keluar dari perut Key bahkan berusaha memasukkan kembali usus-usus yang terlanjur keluar dari perut yang tersobek.

”So Eun!?”teriak Kim Bum terkejut yang baru saja melewati gang sepi saat melihat So Eun sedang menangis kebingungan. Kim Bum pun turun dari mobilnya dan langsung menghampiri So Eun.

”So Eun! Kenapa kau menangis dan dia…….. Key, Kenapa dengan Key, So Eun!?”seru Kim Bum terkejut menyadari ada Key di pelukan So Eun dengan bersimbah darah.

”Dia…. Hiks.. hiks…. Dia membunuhnya lagi! Setelah membunuh Min Ho kini dia membunuh Key!?”seru So Eun mulai emosi dalam tangisannya yang begitu tidak tega melihat Key.

“Kim Bum! Bawa Key ke rumah sakit! Aku tidak mau dia bernasib sama seperti Min Ho!”pinta So Eun. Kim Bum pun menyetujuinya. Dia pun menggendong Key dan memasukkannya ke dalam mobilnya bersama So Eun disampingnya. Lalu mereka pun pergi ke rumah sakit.

*****

Sekuat apa pun dalam usaha dokter. Sekuat apa pun dalam doa dan harapan So Eun untuk Key tetap hidup memang mustahil. Jika memang sudah kehendaknya dan dilukainya begitu mengenaskan. Memang sulit untuk merelakan kepergiannya. Key. Yang baru saja dijalin hubungannya selama beberapa hari kini sudah harus mengikuti jejak Min Ho, mantan kekasihnya yang bernasib sama. So Eun benar-benar tidak mengerti dengan pikiran pelaku itu. Apa keinginan pelaku terhadap dirinya? Apa salah dirinya terhadap pelaku itu sehingga Key dan Min Ho harus dibunuh? So Eun terus menangis terisak di depan altar makam Key. Dia bisa melihat secara jelas, keluarganya yang begitu terpukul melihat kepergian Key apalagi kematiannya yang begitu mengenaskan. So Eun terus menangis dipelukan Kim Bum. Kini dia pun menyadarinya. Seharusnya dia tidak menerima cinta Key. Seharusnya dia tidak jadi kekasih Key sehingga Key tidak perlu bernasib sama dengan Min Ho.

”Maafkan aku, Key.”hanya itu yang bisa diucapkan So Eun secara samar karena dia masih terus menangis di pelukan Kim Bum.

*****

Sudah 3 bulan setelah kematian Key berlalu. So Eun kembali menjalani aktivitas sehari-harinya sebagai siswi kelas 3. Namun kehidupannya kini sungguh berbeda. Dia sudah tidak seceria dulu.

Sejak dia menyaksikan pembunuhan Key dihadapannya, dia begitu trauma. Bahkan walaupun teman-temannya termasuk Kim Bum berusaha menghiburnya. So Eun hanya bisa tersenyum paksa. So Eun selalu menangis di apartemennya sambil melihat foto Min Ho dan Key yang telah dibunuh oleh pelaku yang sama. So Eun selalu menyesal telah melibatkan Key. Andaikan dia tahu pikiran pelaku yang kejam itu, mungkin So Eun bisa menolak cinta Key dengan tegas. Dia begitu penasaran dengan motif pelaku itu yang selalu meneror dirinya. Namun beberapa hari kemudian, dia menemukan jawaban yang tidak terduga.

*****

Cklek! Bunyi pintu mewah pun dibuka oleh pelayannya. Dia pernah mendengar rumah Kim Bum yang begitu mewah karena keluarganya memiliki perusahaan terkenal. Namun terkadang So Eun bikin heran, rumah mewah itu diletakkan jauh dari kota bahkan terletak di sebuah hutan yang dekat dengan sebuah danau. So Eun tersenyum melihat pelayan yang membuka pintunya.

”Maaf, apakah Kim Bum ada?”tanya So Eun sambil mengeratkan pegangan plastik yang berisi buah. Dia mendengar dari teman sekelasnya kalau sudah seminggu Kim Bum tidak masuk sekolah karena sakit.

”Anda temannya tuan Kim Bum? Tuan Kim Bum ada di kamar atas. Mari saya antar.”ucap pelayan itu dengan ramahnya. So Eun pun langsung mengikutinya hingga di depan kamar Kim Bum. Pelayan itu pun langsung meninggalkan So Eun sendirian di depan kamar Kim Bum. Dengan ragu, So Eun mengetok pintu kamar Kim Bum dengan pelan. Tidak lama, pintunya pun terbuka.

“Kim So Eun!”seru Kim Bum sedikit terkejut dengan kehadirannya. So Eun tersenyum melihat penampilan Kim Bum yang sedikit berantakan.

”Aku dengar kau tidak masuk sekolah karena sakit. Makanya aku datang menjengukmu. Nih, aku juga membawa buah untukmu.”ujar So Eun sambil menunjukkan buah yang dibawanya. Kim Bum pun menerima buah dari So Eun.

”Terima kasih, So Eun. Kau masuk saja ke dalam kamarku. Biar aku menyuruh pelayanku membuatkan minuman untukmu.”ucap Kim Bum sambil mendorong So Eun masuk ke dalam kamarnya.

”Eh…. tapi Kim Bum…. tidak usah repot-repot….” Namun terlambat. Kim Bum sudah menutup pintunya dan pasti pergi menuju ke pelayannya. So Eun yang ada didalamnya hanya bisa menunggu kemunculan Kim Bum. Untuk menghindari kebosanannya, dia pun melihat-lihat seisi kamarnya.

”Uhm… mungkinkah ini foto keluarganya?”gumam So Eun saat melihat foto seorang Ayah dan Ibu bersama anak kecil yang diyakininya itu adalah Kim Bum. Terdengar decitan bunyi pintu lain dikamar Kim Bum. So Eun segera menoleh. Mencari sumber bunyi decitan pintu itu. Dia melihat sebuah pintu yang ternyata tidak ditutup rapat. Dengan perlahan, dia pun mencoba masuk ke dalam ruang rahasia itu. So Eun pun menutup mulutnya saking tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Beribu-ribu foto terpampang di tembok. Sebuah ruangan rahasia yang penuh dengan foto So Eun!

So Eun melihat foto itu satu per satu. Terlihat foto dimulai dari pertemuannya dengan Kim Bum saat kecil hingga sekarang. Sejak kapan Kim Bum jadi hobi memotret dirinya dan menempel di tembok sebanyak itu. So Eun langsung keluar dari ruangan rahasia itu.

”Kenapa Kim Bum begitu banyak memotretku?”heran So Eun perlahan mundur hingga tidak sengaja menjatuhkan sebuah kotak besar yang terletak di atas lemari. Kotak itu pun terbuka sehingga isinya pun keluar. So Eun berjongkok sambil memunguti isi kotak itu. Dia pun makin terkejut mendapati beberapa foto Min Ho dan Key!

”Apa maksudnya ini?” So Eun makin tidak mengerti. Dia pun memungut semua foto-foto  kemudian memasukkan kembali ke dalam kotak besar. Namun dia menyadari masih ada isi lagi di dalam kotak besar itu. Perlahan dia mengeluarkan isi terakhirnya. Tiba-tiba Kim Bum datang sambil membawa minumannya di kedua tangannya.

”So Eun. Maaf, membuatmu lama menunggu.”ucap Kim Bum. Alhasil, kotak yang semula dipegang So Eun pun terjatuh lagi sehingga semua isi pun keluar. So Eun tercengang melihat isi terakhirnya. Sebuah kostum serba hitam dan topeng phantom yang pernah dilihatnya saat pelaku itu membunuh Min Ho dan Key! So Eun langsung memandang tajam Kim Bum dengan tidak percayanya. Kim Bum yang semulanya tersenyum kini hanya terdiam.

”Kim Bum! Jadi kau…….” So Eun tidak sanggup meneruskan kata-katanya.