RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

MY LOVE OBSESSION [OS]


 

Seharusnya dia bahagia jika melihat sahabatnya memiliki kekasih baru. Seharusnya dia mengucapkan selamat kepada sahabatnya tercinta. Tetapi dia tidak bisa. Sangat tidak bisa. Karena kekasih sahabatnya ternyata adalah anak majikannya. Anak majikan yang dicintainya secara diam-diam. Hatinya pun jadi berubah. Dari selalu membantu sahabatnya kini menjadi dendam. Sebuah keinginan untuk menghancurkan hubungan mereka. Dia tidak rela, orang yang dicintainya jatuh dipelukan wanita lain selain dirinya. Rasa cintanya kini menjadi obsesi. Dia yang bernama Kim So Eun hanya bisa terdiam geram melihat kemesraan sahabatnya, Gook Ji Yeon dengan anak majikannya, Kim Sang Bum.

*****

So Eun pun jadi ketakutan. Rencananya telah ketahuan. Jati dirinya pun telah terbongkar. Sungguh, kini So Eun sudah tidak bisa lari lagi. Dia pun melihat tatapan Kim Bum dan Ji Yeon yang begitu marah. Ji Yeon mendekatinya. So Eun tahu. Ji Yeon pasti akan sangat marah kepadanya. Tiba-tiba tamparan keras telah mengenai pipi So Eun. So Eun hanya bisa menatap terkejut sambil menyentuh pipinya yang memerah.

“Kim So Eun! Kenapa kau bisa tega seperti itu? Kenapa kau menerorku? Tadi. Kenapa kau malah menghancurkan rencana pertunangan kami? Kenapa, So Eun?”tanya Ji Yeon bertubi-tubi sambil menggoncangkan tubuh So Eun yang kaku. Dia sungguh tidak mengira, So Eun, sahabatnya malah menghancurkan pertunangan mereka dengan cara membuat kebakaran di gedung itu. Tidak hanya itu, So Eun telah berulangkali mengirim surat kaleng yang mengancam hubungan mereka. So Eun menatap Kim Bum. Masih sama. Tatapan Kim Bum yang penuh amarah. Ji Yeon menamparnya lagi.

”Jawab, So Eun! Kenapa kau tega melakukannya? Kau kan sahabatku.”bentak Ji Yeon. So Eun tidak menjawabnya. Dia hanya memegang pipinya yang telah ditampar kedua kalinya. Kesal dengan So Eun yang tidak kunjung menjawabnya, Ji Yeon berniat menamparnya lagi, namun untunglah Kim Bum menahannya. Ji Yeon berontak. Dia ingin sekali menampar So Eun yang begitu telah jahat kepadanya.

”Lepaskan aku, Kim Bum!?”berontaknya. Kim Bum tetap menahannya.

”Sudahlah, Ji Yeon. Kau jangan begini.Tanganmu tidak pantas dikotori hanya untuk menamparnya.”sindir Kim Bum. So Eun pun menatap terkejut, mendengar perkataan Kim Bum. Ji Yeon pun mulai tenang walaupun dia tidak bisa menghentikan tangisan sakit hatinya kepada So Eun.

”So Eun. Aku tidak menyangka kau berbuat seperti itu. Aku pikir kau adalah orang yang baik. Selama ini, aku telah menganggapmu seperi saudaraku. Kali ini, aku benar-benar kecewa denganmu.”ucap Kim Bum dengan serius sambil menabrak bahu So Eun secara kasar. So Eun hanya bisa menatap kepergian Kim Bum bersama Ji Yeon. So Eun mengepalkan tangannya. Pikirannya mulai tidak bisa dikendalikan. Dia bukannya sadar dengan perbuatan jahatnya. Dia malah memikirkan diluar kendalinya sebagai sahabat Ji Yeon. Tanpa sadar, So Eun pun bergumam.

”Seharusnya Ji Yeon mati saja. Seharusnya dia tidak ada disisi Kim Bum. Hanya akulah yang pantas disampingnya. Aku sungguh benci dengannya. Aku harap dia cepat mati.”harapnya dengan penuh egois.

*****

So Eun tidak menyangka, ucapannya beberapa waktu yang lalu menjadi kenyataan. So Eun begitu menyesal mengucapkannya. Dia ingin menarik kata-katanya. Sejahat-jahatnya dia terhadap sahabatnya, namun ada sisi baiknya. So Eun begitu menyayangi Ji Yeon. Namun semua itu sudah terlambat. Semua sudah tiada. Semua telah hancur. Ji Yeon telah tiada dan Kim Bum tidak bisa melakukan selayaknya orang normal. Mereka mengalami kecelakaan lalu lintas. Hati So Eun begitu hancur dan penuh menyesal. Seharusnya dia senang dengan kematian Ji Yeon. Namun bagaimanapun, Ji Yeon adalah sahabatnya sejak kecil. Rasa sayangnya pun masih ada. So Eun pun menangis. Dia melihat sosok pria yang dicintainya hanya terdiam memandang jendela. Memandang hujan yang begitu deras dengan kursi rodanya. Tak ada kata sepatahpun. So Eun ingin mendekatinya. Namun, dia tidak tega dengan apa yang dilihatnya. Semua ini salahnya yang selalu berusaha menghancurkan hubungan Kim Bum dan Ji Yeon. Gara-garanya, Ji Yeon telah tiada. Gara-garanya, Kim Bum telah buta. Dia tidak bisa melihatnya lagi. Tidak bisa melihat pemandangan rumah, tidak bisa melihat wajah keluarganya lagi, tidak bisa melihat jenazah Ji Yeon yang telah disemayamkan. Tidak bisa melihat penyesalan pada wajah So Eun.

”Kim Bum. Hari sudah malam. Anda harus segera tidur.”ucap So Eun dengan hati-hati. Tidak ada jawaban. So Eun pun mendekatinya. Dia melihat Kim Bum masih terdiam.

”Kim Bum….” Belum selesai mengatakannya, Kim Bum membalikkan kursi rodanya dan menabrak So Eun sehingga So Eun terjatuh. Kim Bum tidak peduli dengan So Eun. Dia pun keluar dari ruangannya. So Eun hanya bisa menangis. Menangisi kesalahannya.

”Kim So Eun.”

So Eun mendongakkan kepalanya, melihat majikannya yang telah memanggilnya. So Eun buru-buru menghapuskan air matanya dan segera berdiri berhadapannya.

“Tuan Ahn Suk Hwan. Anda sudah pulang.”sambut So Eun sambil menunduk.

”So Eun. Aku ingin kau keluar dari sini.”ujar Suk Hwan dengan tegas. So Eun pun tersentak kaget mendengarnya.

”Tapi Tuan……. apa salah saya?”tanya So Eun bingung.

“Kau pikir aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan terhadap anakku dan calon menantuku?”bentaknya. So Eun pun menunduk. Dia terdiam.

“Aku tidak sudi memiliki pelayan yang licik sepertimu ada disini. Aku pikir kau orang yang baik. Yang begitu membantu kebahagiaan anakku dan Ji Yeon. Tetapi kau malah menghancurkannya. Pelayan macam apa kau!? Aku begitu kecewa denganmu. KAU DIPECAT!?”teriak Suk Hwan dengan emosinya. So Eun tidak bisa membantahnya lagi. Dia hanya bisa menunduk. Tidak berani menatap wajah  majikannya yang sudah marah besar, benci dan mengusirnya. So Eun pun segera mengemaskan barang-barangnya. Sebelum dia pergi, So Eun mampir ke kamar Kim Bum. Dia pun membuka pintu sedikit dan mengintipnya. Terlihat Kim Bum sudah tidur dengan lelap. Air matanya pun berlinang. So Eun pun menutupkan pintunya dan melanjutkan langkahnya menuju keluar rumah majikannya yang telah lama dilayaninya selama 12 tahun. So Eun menatap istana rumah itu lagi. Dia sudah tidak bisa membendung air matanya. Dia membiarkan tetesan air matanya menyatu dengan hujan yang telah menemaninya. Membiarkan dirinya dibasahi rintikan hujan deras. So Eun pun berbalik dan berjalan meninggalkan rumah yang dicintainya.

*****

Dokter pun duduk kembali. Dia membaca laporan hasil penelitiannya.

”Bagaimana, dokter? Apakah cocok?”tanya So Eun begitu gelisahnya. Dokter itu pun meletakkan laporan hasil lab.

”Kecocokan anda hanya 75%. Kemungkinan besar bisa didonor. Tetapi, apakah Anda tidak menyesal? Anda kan begitu sehat. Dengan didonornya mata Anda. Anda akan bisa mengalami kebutaan.”ucap dokter yang begitu meragu. So Eun menggenggam tangannya sendiri berusaha menenangkan hatinya yang begitu gelisah dan ragu.

”Saya tidak akan menyesal, dok. Semua ini aku lakukan untuk menebus semua kesalahan saya. Saya sudah terlalu banyak menghancurkan hatinya. Saya berharap, dengan mataku ini. Dia bisa melihat kembali. Dan dia tidak perlu kesal lagi dengan dirinya sendiri. Sudah sepantasnya saya mengalami buta, dok.”jawab So Eun dengan matanya yang berkaca-kaca. Dokter itu hanya bisa terdiam. Dia tidak bisa membujuknya lagi. Dia tahu, keinginan So Eun sudah begitu bulat.

*****

Beberapa bulan kemudian, perban yang telah melilit matanya telah bisa dilepas. Perlahan Kim Bum membuka matanya. Dia melihat wajah Ayahnya yang begitu cemas, melihat dokter dan suster terdiam menunggu reaksinya.

”Ayah.”panggilnya. Suk Hwan langsung memeluknya.

”Kau bisa melihatku, nak? Kau bisa melihat.”

”Iya, Ayah. Aku sudah bisa melihatnya.”ucap Kim Bum gembira. Kini dia bisa melihat lagi. Sungguh senang hatinya. Suk Hwan langsung mendekati dokter yang menangani Kim Bum.

”Dokter. Terima kasih! Anda telah menyelamatkan anak saya.”ucap Suk Hwan penuh terharu. Dokter itu tersenyum.

”Sama-sama, pak Suk Hwan. Ini sudah kewajiban saya sebagai dokter.”

”Tapi dokter, kalau saya boleh tahu. Siapa yang mendonorkan matanya? Aku ingin berterima kasih kepadanya.”tanya Suk Hwan. Namun dokter itu malah menggenggam tangannya yang keriput dan menggeleng.

”Maafkan saya, pak. Saya sudah berjanji kepadanya. Beliau meminta saya untuk merahasiakan identitasnya. Saya tidak bisa memberitahukan kepada Anda. Yang penting, Kim Bum sudah bisa melihat kembali. Saya permisi dulu.”pamitnya sambil keluar bersama susternya. Suk Hwan hanya bisa mengangguk mengerti dengan jawaban dokter itu.

*****

Satu tahun kemudian telah dilewatinya. Kim Bum pun bisa berjalan sendirinya tanpa kursi roda. Tanpa ditemani penjaganya. Dengan bunga favorit Ji Yeon yang dibawanya. Dia berniat mengunjungi makam Ji Yeon, kekasihnya yang telah tiada. Langkahnya terhenti saat dia berbelok. Dia melihat seorang wanita sedang berdiri di depan makam Ji Yeon. Kim Bum tidak menyangka akan bertemu dengan dia yang sudah banyak menyakiti hatinya. Penampilannya yang begitu sederhana. Dia memegang buket bunga.

”Kim So Eun.”gumam Kim Bum melihat So Eun mulai duduk sambil meletakkan buket bunga di depan makam Ji Yeon. Rasanya Kim Bum ingin memarahinya lagi. Dia tidak rela, makam Ji Yeon dikunjungi So Eun yang sudah menyakiti hatinya. Langkahnya mulai bergerak. Namun baru beberapa langkah, Kim Bum berhenti lagi. Dia melihat keanehan kepada So Eun. Dia melihat So Eun meraba-raba nisan itu dengan kepalanya yang menunduk. Tatapan mata So Eun tidak bergerak melihat nisan. Dia pun perlahan mendekati So Eun agar tidak ketahuan.

“Gook Ji Yeon. Bagaimana kabarmu? Aku harap kau bahagia disurga. Selama ini maafkan aku yang telah menyakiti hatimu. Sebenarnya aku juga tidak mau melakukannya. Entah kenapa perasaanku yang begitu buta malah membuatku ingin melenyapkanmu. Aku tidak bermaksud membuatmu jadi begini. Aku bukannya membencimu dan berniat jahat kepadamu. Sebenarnya aku sudah berusaha bahagia melihatmu bersama Kim Bum. Kalau aku jujur, aku memang tidak bisa bahagia. Karena kau memilih Kim Bum. Sebenarnya aku… aku mencintai Kim Bum, Ji Yeon. Aku sungguh-sungguh mencintainya. Aku tidak menyangka cintaku ini berubah menjadi obsesi. Aku begitu tidak rela melihat Kim Bum bersamamu. Tetapi….. setelah aku melihat musibah ini. Kau yang meninggalkan Kim Bum dan aku. Aku tidak menyangka Kim Bum jadi buta. Kau tahu, Ji Yeon? Aku terus-terusan menyesali semua kesalahanku ini. Seharusnya aku tidak berharap kau meninggalkan Kim Bum. Dia begitu terpukul mendengar kau telah tiada. Dia benar-benar mencintaimu. Aku iri kepadamu, Ji Yeon. Dia begitu mencintaimu bukan kepadaku. Kali ini aku sudah berusaha menebusnya. Kau tahu mataku ini? Mata ini adalah mata milik Kim Bum. Saat aku mendonorkan mataku, aku meminta kepada dokter untuk menukarkan mataku dengan matanya. Karena aku pantas memiliki mata yang cacat ini. Aku harap dia bahagia dengan mataku yang telah kuberikan kepadanya. Aku harap dia bisa normal kembali seperti biasanya. Aku harap dia bisa melihat makammu dan memandang wajah cantikmu walau hanya berupa foto. Aku harap dia menemukan penggantimu yang lebih baik dariku. Seorang wanita yang sepertimu. Sekarang, aku sudah menyerah dengan perjuangan cintaku. Karena aku sadar, aku adalah wanita yang jahat. Aku tidak pantas berada disisinya. Biarlah dia bahagia dengan wanita yang dipilihnya. Aku tidak ingin egois lagi. Walaupun aku masih mencintainya sampai saat ini. Aku tetap tidak mau terobsesi mendapatkan cintanya. Aku tidak mau memaksanya lagi. Ji Yeon….. Maafkan aku….”ucap So Eun menangis sambil mencium nisan Ji Yeon. Setelah mencium nisannya, So Eun meraba lagi di tanah. Setelah menemukan tongkatnya, dia pun segera berdiri dan berbalik. Dia pun melangkah dengan bantuan tongkatnya. Melangkah dengan pelan walaupun dia tidak bisa melihatnya lagi. Karena mata miliknya telah ditukar.

Kim Bum pun tercengang melihat So Eun berjalan menjauhi makamnya. Kim Bum menyentuh matanya.

“Jadi selama ini yang mendonorkan matanya adalah Kim So Eun.”gumamnya. Entah dia harus kecewa, sedih, atau senangkah dengan kenyataan ini. Kim Bum berbalik dan berjongkok di depan makam Ji Yeon. Kim Bum memegang nisan Ji Yeon.

“Ji Yeon…. Padahal dia begitu jahat kepadamu. Tetapi dia malah mendonorkan matanya kepadaku. Ji Yeon…. Apa yang harus aku lakukan?”Tanya Kim Bum. Air matanya pun berlinang di pipinya. Keluar dari mata indah milik So Eun.

*****

Suasana pesta malam hari begitu ramai di sebuah hotel berbintang lima. Suk Hwan duduk di kursi bersama teman lamanya. Sesekali mereka bertepuk tangan menyaksikan piano dengan alunan musik yang begitu pelan dan merdu.

“Anak itu benar-benar berbakat!”puji Suk Hwan kepada teman lamanya, So Ji Sub. So Ji Sub mengangguk.

“Aku juga sepakat denganmu. Aku memiliki pianis yang begitu ahli memainkan piano dengan merdunya. Tidak kalah dengan mereka. Dia bekerja di restoranku. Banyak pelangganku yang menyukai permainan pianonya. Tetapi sayang, dia buta.”

“Buta?”

“Iya. Padahal dia seorang wanita yang hebat. Pernah aku menawarinya untuk mencari pendonor mata. Tetapi dia menolak. Sungguh kasihan sekali.”

“Oh iya? Kenapa dia menolaknya? Lalu kenapa dia bisa buta?”

“Matanya didonorkan kepada anak majikannya. Katanya anak majikannya mengalami kebutaan akibat kecelakaan. Dia begitu tidak tega melihatnya. Soal penolakannya, katanya dia tidak pantas untuk disembuhkan matanya. Walaupun aku tidak mengerti apa yang dimaksudnya.”

Ahn Suk Hwan hanya mengangguk mendengar cerita Ji Sub.

*****

Walaupun So Eun berjalan di malam hari, So Eun sama sekali tidak takut. Dia terus berjalan menuju ke rumahnya. Namun tiba-tiba dia menabrak tubuh seseorang.

”Maafkan aku.”ucap So Eun menyesal dengan kecerobohannya.

”Kim So Eun.”

Tubuh So Eun bergidik mendengar suaranya yang memanggil namanya. Dia sungguh mengenali suaranya. Suara yang dirindukannya.

”Kim Bum.”lirihnya. Walaupun dia tidak bisa melihat rupa Kim Bum sekarang. Namun dia terlihat senang karena Kim Bum bisa melihatnya buktinya Kim Bum memanggil namanya. So Eun langsung segera sadar dari lamunannya. Dia harus kembali ke kenyataannya. Dia menyadari bahwa dirinya telah banyak berbuat jahat kepadanya. So Eun langsung berbalik dan segera lari pergi darinya. Namun Kim Bum menahan tangannya.

”Kim So Eun. Kau jangan pergi. Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu.”ucap Kim Bum. So Eun pun pasrah. Dia hanya bisa menuruti keinginan mantan majikannya.

*****

Suasana malam hari kini semakin dingin. Mereka pun duduk di sebuah taman yang begitu sepi. So Eun hanya bisa menunduk. Kim Bum terus memperhatikan So Eun yang tidak bisa melihatnya. So Eun begitu terlihat rapuh. Sudah satu tahun tidak melihatnya. Kini So Eun benar-benar berubah. Dia jadi lebih banyak diam.

”Kim So Eun.” Kim Bum membuka suaranya. So Eun pun memasang telinganya agar bisa terdengar dengan baik.

”Aku ingin kau jawab dengan jujur. Mataku ini…. yang mendonorkannya adalah kau, bukan?”tanya Kim Bum. So Eun tersentak kaget. Bagaimana Kim Bum bisa tahu? So Eun jadi gelisah dibuatnya. Dia bingung untuk menjawabnya. Dia khawatir jika Kim Bum mengetahuinya, Kim Bum tidak akan mau menerima matanya lagi.

”So Eun. Jawablah pertanyaanku!?”bentaknya yang tidak sabaran. Akhirnya So Eun pun hanya bisa pasrah.

”Iya.”jawabnya tanpa menolehnya.

”Kenapa?”

So Eun terdiam sejenak. Dia memikirkan sesuatu. Dia memeras tangannya sendiri dengan kuat. Dia pun segera mengambil nafas dengan udara yang dingin.

”Karena aku tidak tega melihatmu buta. Semua ini karena salahku. Karena akulah, Ji Yeon meninggal. Karena aku jugalah, membuatmu jadi buta. Setelah aku merenungi semua keegoisanku ini. Aku pun menyadarinya. Kau memang tidak pantas untuk aku miliki. Aku yang kotor hatinya tidak pantas mendapatkan cintamu. Cintamu yang tulus itu hanyalah untuk Ji Yeon. Maka aku menukarkan matamu dengan mataku. Aku memang sudah sepantasnya untuk buta. Untuk menebus semua kesalahanku.”jawab So Eun. Kim Bum masih memandangnya dengan begitu dalam.

”Berarti….. kau memang mencintaiku?”

So Eun terkejut lagi. Kini dia tidak tahu apa mesti menjawab dengan jujur.

”Tidak. Aku tidak mencintaimu. Cintaku kepadamu sudah mati sejak aku mendonorkan mataku.”dustanya walaupun menyakitkan.

”Bohong. Bukankah kau masih mencintaiku?”

”Tidak, Kim Bum. Aku tidak mencintaimu lagi.”ucapnya berusaha mengelaknya.

”Kalau begitu, siapa wanita yang mencintaiku saat ini? Ibuku sudah meninggal, Ji Yeon juga meninggalkanku. Lalu siapa?”gumam Kim Bum. So Eun pun jadi merasa bersalah.

”Maafkan aku, Kim Bum. Gara-gara aku, kau kehilangan Ji Yeon. Kau tidak perlu memaafkan aku. Aku akan menebus semua kesalahanku karena membuatmu kehilangan wanita yang kau cintai. Kau boleh menghukumku apa saja.”ucap So Eun yang begitu bersalah dengannya.

”Sungguh? Kau mau melakukan apa saja?” So Eun mengangguk walaupun sedikit ragu.

”Aku ingin kau jadi istriku.”

So Eun tercengang mendengar permintaannya.

”Kenapa?”
”Karena aku sudah kehilangan calon istriku, Ji Yeon. Hanya tinggal kaulah yang aku kenal. Kau yang begitu mencintaiku.”

So Eun langsung berdiri dan menyiapkan tongkatnya.

”Aku tidak mengerti apa yang kau katakan tadi. Aku mau melakukan apa saja. Tetapi aku tidak mau jadi istrimu. Karena aku tidak pantas jadi istrimu. Biarlah aku menderita untuk membayar semua kesalahanku.” Air mata So Eun mulai menghiasi bola matanya yang cacat itu. So Eun berbalik, segera ingin pergi. Namun Kim Bum tetap menahannya.

”Kau harus mau jadi istriku!”seru Kim Bum.

”Tetapi… aku tidak bisa! Aku tidak mau kau memaksakan perasaanmu kepadaku. Aku sudah merelakannya. Aku sudah bisa melupakanmu. Lepaskan aku!”berontaknya. Kim Bum tetap menahannya. Dia pun menarik tubuh So Eun dan mencium bibir So Eun yang dingin. So Eun terkejut. Dia pun makin berontak. Dia berhasil melepaskan dirinya dari dekapan Kim Bum dan berlari menjauhi Kim Bum. Kim Bum hanya bisa terdiam meratapinya. Namun sesaat dia melihat sebuah mobil dijalan. Mobil itu berjalan dengan cepat dan dia melihat So Eun berlari menyebranginya. Kim Bum pun jadi panik dan segera mengejarnya.

”So Eun, AWAS!?”teriaknya sambil mendorong tubuh So Eun.

”Brukk!!” Tabrakan beruntun pun tidak bisa dihindarkan. Tubuh Kim Bum pun terlempar di jalan aspal itu. So Eun yang terdorong itu berusaha bangkit dari jatuhnya. Dia pun meraba-raba jalan itu sambil memanggil Kim Bum.

”Kim Bum!”

Akhirnya dia pun menemukan Kim Bum yang tergeletak tidak jauh darinya. Dia pun mengangkat kepala Kim Bum yang begitu banyak mengeluarkan darah. So Eun pun menangis terisak.

”Kim Bum, kau jangan mati!”

*****

Suk Hwan bersama Ji Sub berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit. Dia begitu panik mendengar kabar dari rumah sakit bahwa anaknya telah ditabrak mobil. Langkahnya pun berhenti. Dia mengernyitkan keningnya saat melihat sosok wanita sedang berdiri di depan UGD begitu cemasnya. Suk Hwan langsung mendekatinya dan memegang kedua pundaknya.

”So Eun! Apa yang kau lakukan kepada anakku? Kau melakukan apa lagi? Kenapa dia bisa tertabrak mobil?”tanya Suk Hwan bertubi-tubi dengan emosinya.

”Tu…Tuan Ahn Suk Hwan.”

”So Eun? Kenapa kau ada disini?”

”Paman….” So Eun terheran mendengar suara Ji Sub yang khas ada di dekatnya.

”Kau mengenalnya, Ji Sub?”

”Tentu saja. Ini wanita buta yang kuceritakan tadi.”

Suk Hwan melepaskan cengkraman dipundak So Eun.

”Jadi…. jadi… Kau yang mendonorkan matamu untuk anakku?”

So Eun terhenyak kaget mendengarnya.

”Bagaimana tuan bisa tahu….” belum sempat So Eun menyelesaikan pertanyaannya, seorang dokter telah keluar dari UGD. Suk Hwan langsung mendekatinya.

”Bagaimana keadaan anakku, dokter?”tanya Suk Hwan cemas.

”Untunglah dia dibawa kesini dengan cepat. Sehingga nyawanya bisa tertolong. Beberapa jam kemudian, dia akan segera sadar.”

”Terima kasih, dokter. Boleh aku menjenguknya?”

”Silakan.”

Suk Hwan langsung masuk ke dalam UGD. So Eun berniat ikut menjenguknya namun dia berhenti. Mungkin bukan sekarang saatnya untuk berhadapan dengan Kim Bum.

”Kau tidak ikut masuk, So Eun?”Tanya Ji Sub.

”Tidak, paman. Aku ingin pulang dulu.”

”Baiklah. Kalau begitu, biarkan aku mengantarmu pulang.”

”Terima kasih.”
So Ji Sub menuntut So Eun berjalan menuju ke luar rumah sakit. So Eun ingin menoleh. Ingin melihat ruangannya. Tetapi semua itu percuma. Karena apa yang dilihatnya hanyalah kegelapan. Sangat gelap.

*****

Keesokan harinya, So Eun pun menjenguk Kim Bum. Dengan bantuan suster, dia pun telah sampai dikamarnya. So Eun berjalan dengan pelan agar tidak menabrak barang-barang yang ada disekitarnya. Lalu dia meraba mencari meja disamping kasur Kim Bum. Kemudian dia memegang sebuah vas. Dia pun meletakkan buket bunganya di dalam vas.

Perlahan, dia menyentuh tangan Kim Bum. Dia diberitahu suster bahwa Kim Bum sedang tidur. Lalu tangannya pun naik ke wajah Kim Bum. Memang benar, mata Kim Bum tertutup pertanda dia sedang tidur. Tidak lama, So Eun menangis.

”Maafkan aku, Kim Bum. Aku bukannya tidak mau jadi istrimu. Tetapi aku tidak bisa. Aku begitu banyak berbuat jahat kepadamu dan Ji Yeon. Aku tidak mau mengecewakan Ji Yeon kalau dia melihatmu menikah denganku, seorang sahabat yang sudah merebut orang yang dicintainya.” So Eun menggenggam tangan Kim Bum.

”Kim Bum. Walaupun aku masih mencintaimu. Tetapi aku tidak mau kau memiliku. Kau lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Aku tidak mau kau terpaksa mengikuti cintaku yang penuh obsesi ini. Aku tidak ingin cintaku yang dulu kembali terobsesi. Biarlah aku mencintaimu dengan cara melepaskanmu dengan ikhlas. Dengan begitu aku bisa tenang. Maafkan aku, Kim Bum.”

So Eun hendak pergi. Namun tangannya yang masih menggenggam tangan Kim Bum tiba-tiba jadi erat. So Eun pun berbalik.

”Apa benar, kau masih mencintaiku?”tanya Kim Bum yang rupanya pura-pura tidur.

”Kim Bum….”

”Jawablah. Aku ingin mendengar jawaban dari hatimu. Bukan dari keterpaksaanmu.”

So Eun masih terdiam. Dia masih menunduk. Matanya yang tidak bisa melihat pun tidak bergerak ke arah Kim Bum.

”Jawablah, So Eun.”desak Kim Bum. So Eun pun jadi pasrah.

“Iya, Kim Bum. Sampai saat ini. Aku memang masih mencintaimu. Tetapi aku…..”

Belum sempat So Eun menyelesaikan kalimatnya. Kim Bum menarik tangannya dan menaikkan tubuhnya yang lemah untuk mencapai leher So Eun yang sedang berdiri disampingnya. Kim Bum menarik leher So Eun dan mencium bibirnya dengan lembut. So Eun pun terkejut. Dia ingin melepaskan ciuman Kim Bum. Namun Kim Bum menahan kepalanya begitu kuat. Dan dia pun pasrah.

”Aku ingin kau jadi istriku, karena aku mencintaimu. Aku jatuh cinta kepadamu, So Eun. Kau jangan menolak cintaku ini. Kau harus mau jadi istriku.”bisik Kim Bum sambil kembali menciumnya. So Eun kembali mendorong tubuh Kim Bum.

”Bagaimana jika aku memang benar-benar tidak mau? Bagaimana jika aku tidak bisa menerima cintamu yang hanya milik Ji Yeon.”tanya So Eun yang kini mulai ketakutan. Kim Bum pun tersenyum dengan misteriusnya.

”Cintaku dengan Ji Yeon kini sudah mati. Sekarang aku mencintaimu, So Eun.”

”Apa? Kau sudah tidak mencintai Ji Yeon lagi? Kenapa?” So Eun makin tidak mengerti.

”Apa kau lupa? Dulu kau begitu terobsesi mendapatku tanpa memandang Ji Yeon adalah sahabatmu. Kini setelah Ji Yeon tiada, kau malah menyerah dan mendonorkan matamu kepadaku.” Kim Bum memeluk tubuh So Eun yang harum dengan erat.

”Seperti yang aku bilang. Aku sudah tidak memiliki wanita yang kucintai lagi. Ketika aku melihatmu dimakam Ji Yeon. Kau yang terlihat begitu rapuh tapi tegar. Sederhana dan cantik. Tanpa aku sangka, aku langsung jatuh cinta kepadamu. Aku bertekad untuk menjadikanmu sebagai istriku. Walaupun kau menolak, aku akan tetap memaksamu.”

So Eun begitu terkejut mendengar penjelasannya. Kim Bum kini tidak seperti yang dikenalnya dulu. Kim Bum yang tidak selalu egois untuk mendapatkan cintanya.

”Kim Bum kenapa kau berubah?”tanya So Eun ragu. Kim Bum yang masih menyandarkan kepalanya di dada So Eun pun tersenyum.

”Kau yang membuatku begini, So Eun.”

So Eun kembali berusaha melepaskan pelukan Kim Bum. Namun gagal lagi, kekuatan Kim Bum begitu kuat memeluknya.

”Kim Bum! Sudah aku bilang. Aku tidak mau jadi istrimu! Aku tidak mencintaimu lagi!”tolaknya.

”SO EUN!?”bentak Kim Bum membuat So Eun terdiam.

”Aku tahu kau masih mencintaiku. Kau tidak bisa membohongiku. Bukankah kita sama? Kita memiliki cinta yang penuh obsesi. Walaupun kau menolakku, walaupun kau menjauhiku. Tetapi kau tidak akan bisa kabur dariku. Kenapa kau tidak menerima lamaranku saja? Bukankah ini yang kau inginkan dari dulu?”

”Ta… tapi….”

”Tenang saja. Kau tahu aku kan? Aku hanya mengenal wanita yang kusayangi yaitu hanya kau dan Ji Yeon. Ji Yeon sudah tiada, kini hanya tinggal kau didalam hidupku. Aku mencintaimu dengan tulus, bukan dengan balas dendam apalagi terpaksa.”bisik Kim Bum sambil kembali mencium bibir So Eun yang lembut. Entah, So Eun harus percaya atau tidak. Harus terima kenyataan atau tidak. Dia hanya bisa menangis. Bukan tangisan kekecewaan melainkan tangisan terharu. Dia begitu tidak menyangka, Kim Bum akan mengatakannya. Dia juga tidak menyangka kini Kim Bum berbalik dengannya, kini dia begitu mencintainya dengan obsesi. Akhirnya So Eun pun harus pasrah dengan takdirnya. Dia memang harus menjadi istrinya. Karena dia memang masih mencintai Kim Bum. So Eun pun membalas ciuman Kim Bum yang terus melumat bibirnya. Dengan balasan ciuman yang tulus.

 

~*TAMAT*~

33 responses to “MY LOVE OBSESSION [OS]

  1. Sary ajow Desember 4, 2010 pukul 3:59 am

    Kereeeen..

    • RetnoMyaniezasia Desember 5, 2010 pukul 7:53 am

      Gomawo ^^

  2. zumi shinigami Desember 5, 2010 pukul 2:00 am

    udah baca berkali-kali tetep seru.. ^^

    • RetnoMyaniezasia Desember 5, 2010 pukul 8:02 am

      hahaha…
      gomawo ^^

  3. diann Desember 7, 2010 pukul 2:01 pm

    like it!@_@

  4. rizkyapratiwi Februari 6, 2011 pukul 7:29 am

    hahahahah … i like yhis story

    tp ksian so eun nya dy jd buta
    merasa bersalah tp jgn segitu nya napa

  5. anggun Maret 20, 2011 pukul 6:09 am

    i wanna cry read this ff

  6. dhia Mei 23, 2011 pukul 8:58 am

    hiks… entah kenapa mau nags aja baca os ini…

  7. VayTeuKey Juni 6, 2011 pukul 9:38 am

    daebak. keren bgt crta x. akhr x so eun bsa brsatu dg kim bum. d awal2 aku udah bt, krain so eun emg bneran jhat. eh trnyata dya sadas jg n brsatu dg kibum. aq ska bg sma mrek. COCOK!

  8. BELAJAR BERSAMA September 20, 2011 pukul 11:10 pm

    waaaaaaaa keren kak pi knp so eun haruz buta kan kasian ma so eun x requez donk kak kim so eun ma kyu hyun cz sng bcx n sy reader bru slm knl nama sy nurhadijah

  9. Helda wati Oktober 7, 2011 pukul 12:01 am

    T__T ff.y menyenth bgt, udh dibaca berkali2 yg bosen. hiks hiks :(( os.y author keren2.

  10. Anjany Djamal Oktober 16, 2011 pukul 8:22 am

    HUA…
    terharu bacanya……
    keren…..

  11. Lila Tyas November 13, 2011 pukul 3:03 pm

    top bgt

  12. Paradilah Sandy November 14, 2011 pukul 4:54 pm

    Bgus bgt…..

  13. Rahmatina Fajaria September 25, 2012 pukul 10:23 am

    Salam kenal…
    Aku reader baru, bagus banget ceritanya….. Suka habis, ditunggu ya OS yg lainnya tentang bumsso.

  14. sonkKyu Oktober 26, 2012 pukul 11:58 pm

    Sebenarny ideny bagus bgt thor. Tp alurny kecepetan T_T jd kurang ‘nyesss’ gt
    #emang makanan? xD

  15. serly Januari 8, 2013 pukul 4:46 am

    Wah keren..dk nyangka sso unni sprti itu..penuh obsesi..hehe

  16. chandra bulan Januari 20, 2013 pukul 7:52 pm

    ahhhh,,,lagi2 bercucuran air mata nih,,hiks,,hiks,,,tp seruuuuu,,author emg jago’nya ngobrak ngabrig perasaan yg baca heheee….semangat truss y
    !!!q tunggu crt lainnya!!!

  17. Ilma Bumssoeulmates Elf Oktober 15, 2013 pukul 1:58 pm

    huaaaa… nangis lagiii
    terharu banget bacanya…

  18. RANI April 2, 2014 pukul 1:41 am

    wah hebat ya so eun merasa bersalah karna membuat kim bum buta dia malah menukar matanya itu ke matanya kim bum jadinya dia buta.
    Tapi akhirnya kim bum sadar akan itu semua dan mereka bersatu…………

    Keren banget ceritanya🙂

  19. tyas27 April 11, 2014 pukul 2:39 am

    obsesi .-. tp mereka sama2 tulus kan?? takut kimbum bales dendam doang hehe

  20. vaaani April 23, 2014 pukul 4:54 pm

    sukaaa dan terus suka ma ini pepe
    hufttt meski awalnya sso jahat ya brmula dr obsesi brlebih dan justru mghantarkan pd cinta sejati bumsso,, sweet yak

  21. Areca Juni 8, 2014 pukul 12:23 pm

    Sebenarnya sedih,tpi happy ending,jdi bingung.
    Mau komen apa,tpi gmana yaa,aku agak bingung mau komen nya,tpi keseluruhdn ini bagus kok.

  22. mitha okasu Juni 11, 2014 pukul 10:36 am

    jujur aku udah sering banget baca ni cerita. dan ini adalah cerita favorite aku dr dulu sampai sekarang.
    hehee mianhe baru koment sekarang, karna dulu aku gak tau cara komentarnya kayak gimana. coz udah tau maknya aku komentar🙂

  23. ainami September 8, 2014 pukul 10:20 am

    aku sedih baca ff ini π_π

    sedih karena bum cinta ma wanita selain sso wkwkk *shipper egois*
    sedih karena karakter sso yg jahat awalnya, cinta yg berubah jd obsesi bikin hati sso buta..

    hadeh nyesek dah pokoknya, ini jauh dari kata romantis ceritanya huhuhu

    terharu akhirnya dengan pengorbanan sso… tp kurang dpt feel nya saat bum menyatakan cinta, percaya ga percaya aku nya .. beneran ga tuh bum jatcin ma sso *digetok author* wkwkk

  24. sabanaRyuga Oktober 8, 2014 pukul 10:20 pm

    obsesi yg indh

  25. elvaniaa November 15, 2014 pukul 7:19 am

    terharu :’)
    keren banget ff nya>-<

  26. fitrisawaliah Desember 7, 2014 pukul 3:05 pm

    keren.

  27. Marthatina vita vienna Maret 15, 2015 pukul 12:36 pm

    Sedih bacanya

  28. Ikfina April 16, 2015 pukul 2:48 pm

    Happy ending🙂
    tapi tetep aja sedih,so eunnya buta :’)
    tapi aku suka,NICE story

  29. Aliana Park Desember 25, 2015 pukul 4:24 pm

    Aku kira bakalan sad ending trxta happy ending..🙂 awalnya smpet grget dg karakter so eun tp stlh so eun sadar baru deh merasa lega..

  30. nanda Maret 9, 2016 pukul 2:49 am

    bumsso brstu? msk sdih d awl tp bhgia pda akhr’y….

  31. dhelis_shomina April 25, 2016 pukul 8:55 pm

    Basanya bumpp yg obsesi ma sso ni sbliknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: