RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

My Prince Is Bad Boy [Part 3]: Bertemu Dengan Adik Majikannya


 

“Aaarrrggghhh….!! Bagaimana ini? 3 hari? Itu terlalu singkat waktunya. Dari mana aku harus mendapatkan uangnya? Apa aku mesti tunda keinginanku untuk mundur dari pekerjaan ini? Tetapi… aku tidak tahan dengan kelakuan Kim Bum yang begitu bejat. Ya Tuhan, bagaimana ini?”seru So Eun mulai khawatir. Dia pun mengacak rambutnya saking pusingnya. Tidak jauh dari tempatnya dan tanpa disadarinya, Kim Bum yang semula menguping pembicaraannya pun menyunggingkan senyuman misteriusnya seolah dia mendapatkan ide.

*****

Hye Sun pun mulai terbatuk-batuk mendengar cerita So Eun tentang pertemuannya dengan Shin Hye di rumah Kim Bum saat sedang memakan kimchi. So Eun memang sengaja pulang ke apartemennya karena dia sedang pusing memikirkan masalahnya.

“Benarkah? Dia memberimu batas waktu 3 hari untuk melunasi hutangmu?”tanya Hye Sun lagi dengan tatapan tidak percaya.

“Iya. Aku tidak menyangka dia akan berbicara seperti itu. Padahal dia sudah lama bersahabatan denganku. Tapi kenapa jadi begini?”

“Lalu… tentang rencanamu mundur dari pekerjaanmu di rumah Kim Bum?”

“Itulah yang sedang aku pikirkan. Aku sedang bingung. Kalau aku mundur dari pekerjaan itu berarti aku tidak akan dapat uang lagi. Tetapi aku tidak suka dengan sifat Kim Bum yang begitu aneh dan gila terhadapku.”

“Hei, So Eun! Sebaiknya kau jangan berhenti. Soal sifatnya, yah kau harus berusaha menjaga diri.”

“Tapi,,….” So Eun tidak bisa melanjutkan perkataannya karena Hye Sun beranjak menuju ke dapur.

*****

“Dimana So Eun?”tanya Kim Bum kepada Yoon Ah.

“Saya tidak tahu, Tuan. Terakhir saya lihat, begitu Nona Shin Hye datang. Dia langsung pulang. Katanya dia sedang ada urusan.”jawab Yoon Ah. Kim Bum yang sudah menduganya pun hanya bisa mengangguk. Yoon Ah pun permisi dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara Kim Bum langsung menuju ke kamar Shin Hye. Setelah sampai di depan kamar Shin Hye, dia pun mengetok pintu kamarnya. Shin Hye langsung membuka pintunya.

“Kim Bum. Ada apa?”tanya Shin Hye.

“Aku hanya ingin menyapamu saja. Bagaimana kamarnya? Apakah kau suka?”tanya Kim Bum sambil melihat seisi kamar Shin Hye. Shin Hye tersenyum dan mempersilahkan Kim Bum masuk ke dalam kamarnya.

“Aku suka dan nyaman.”jawab Shin Hye sambil duduk di kasur. Lalu Kim Bum duduk di sofa.

“Syukurlah, kalau kau menyukainya.”

“Oh iya, Kim Bum. Aku ingin tanya denganmu. Bagaimana So Eun bisa bekerja denganmu jadi pelayan?”tanya Shin Hye. Kim Bum tersenyum mendengar Shin Hye mulai mengungkit nama So Eun.

“Itu,.. mungkin dia melihat iklan lowongan pekerjaan. Karena waktu itu aku memang membutuhkan pelayan lagi.”jelas Kim Bum dan Shin Hye pun mengangguk mengerti.

“Kau sendiri. Bagaimana kau bisa mengenalnya?” giliran Kim Bum yang bertanya.

“Kim So Eun adalah sahabatku waktu kuliah. Dia anaknya sangat lucu, baik, dan aku sangat menyayanginya.”

“Oh iya? Tetapi waktu itu kenapa kalian terlihat bersitegang begitu?”

“Oh itu… Sebenarnya aku ada masalah dengannya.”

“Masalah?”
”Iya. Dulu dia sering meminjam uangku hanya untuk membeli hal-hal yang tidak berguna. Seperti pakaian, sepatu, dan yang lain-lain. Pastinya yang mahal. Sebenarnya aku merasa greget dengan sikapnya. Akan tetapi jika dia terus-terusan meminjam uangku, aku khawatir utangnya akan semakin banyak. Dan benar saja, ternyata utangnya 10 juta won! Aku bahkan tidak habis pikir, memangnya apa saja yang dia gunakan dengan uangku?” tanpa sadar Shin Hye curhat.

“Jadi kau memutuskan berhenti meminjamnya dan sebaliknya kau malah menagihnya?”tebak Kim Bum.

“Iya. Tetapi aku jahat juga ya. Tadi siang aku mengancamnya memberi waktu 3 hari untuk membayar utangnya.”ujar Shin Hye sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Kim Bum pun tersenyum. Rencananya pun mulai semakin yakin.

“Shin Hye…” Kim Bum memanggilnya.

“Iya?”

*****

Masih di waktu yang sama. Malam pun semakin larut. So Eun masih duduk terdiam di kasurnya. Mencari jalan keluar dari masalahnya. Lama berpikir membuat kepala So Eun terasa panas dan meledak.

“Aish….!? Apa yang harus aku lakukan? Uangku masih terkumpul 1 juta won lebih. Belum mencapai 5 juta won!”teriak So Eun sambil terbaring di kasurnya.

“Bagaimana caranya ya agar bisa terkumpul sampai 10 juta won dalam 3 hari ini?” So Eun kembali berpikir. Dia pun menutup matanya dan menarik nafasnya lalu dihembuskannya untuk menenangkan pikirannya. Tiba-tiba dia membuka matanya.

“Ah! Aku tau…!?”

So Eun langsung bangkit dari kasurnya. Dia pun keluar dari kamarnya dan berlari menuju ke gudang yang terletak di kamar belakang. So Eun membuka pintu gudang itu. Debu pun mulai bertebaran sehingga So Eun terbatuk-batuk. Namun dia tetap melanjutkan pencarian yang diinginkannya. Dia pun menyusuri barang-barang lama yang tergeletak tidak rapi dan berdebu itu. Kemudian dia berhenti setelah berhasil menemukan lemari yang di maksudnya. Lalu dia pun membuka pintu lemari. Keluarlah berpuluh-puluh pakaiannya dan sepatu serta aksesorisnya yang dia simpan selama 3 tahun belakangan ini. Pakaiannya yang dia beli dengan uang pinjamannya. So Eun yang terkubur di penumpukan baju itu berusaha menyelamatkan dirinya. Setelah berhasil keluar, So Eun pun langsung mengambil nafasnya. Dia pun langsung berdiri di depan tumpukan baju itu.

“Hah… Setelah 3 tahun aku tidak melihat pakaian ini. Setelah kupikir-pikir ternyata aku ini memang boros ya. Lihatlah, baju ini hanya sekali aku pakai. Andaikan saja waktu itu aku tidak terlalu labil. Mungkin aku bisa membedakan mana yang dibutuhkan dan yang diinginkan. Tapi sudahlah, untuk menyesal nanti saja dulu. Yang penting aku harus bereskan ini dulu.” So Eun pun memungut pakaiannya yang begitu banyak dan dia pun menaruh di sebuah kardus kosong.

*****

Hari ke-3 telah tiba. So Eun sedang menunggu Miss Young Ae selesai dengan urusannya. Tidak lama, Miss Young Ae pun keluar. So Eun pun berdiri dan memberi hormat kepadanya.

“Kim So Eun. Kau ada perlu apa denganku?”tanya Miss Young Ae langsung. So Eun pun langsung mengeluarkan sebuah surat dari tasnya. Lalu dia pun menyerahkan surat itu kepada Miss Young Ae.

“Apa ini?”tanyanya sambil memeriksa surat itu.

“Aku.. aku ingin mengundurkan diri dari pekerjaan ini.” Miss Young Ae sedikit terkejut mendengarnya. Namun dia malah menyerahkan surat itu kepada So Eun. So Eun pun terlihat bingung melihatnya.

“Maafkan aku, So Eun. Bukannya aku tidak mau memperdulikanmu. Tetapi kalo soal masalah pekerjaan ini dan kau ingin mundur. Kau harus menemui Tuan Kim Bum.”

“Apa? Tuan Kim Bum? Tetapi Anda kan kepala pelayan. Pastinya Anda berhak menyetujui keputusanku.”ucap So Eun yang makin tidak mengerti. Miss Young Ae hanya tersenyum mendengarnya.

“Walaupun aku adalah kepala pelayan. Namun aku sudah diamanatkan oleh Tuan Kim Bum untuk urusan pekerjaanmu adalah tanggung jawabnya.”

“Ap… APA!?”seru So Eun terkejut. So Eun ingin bertanya lebih lanjut lagi, namun Miss Young Ae malah pergi karena masih ada urusan. So Eun pun hanya bisa terbingung.

“Apa… dia bermaksud ingin memonopoliku?”tebaknya.

*****

So Eun menerima sebuah amplop yang lumayan besar berisi uang dari orang yang telah membantunya menjual baju-baju lamanya.

“Dari hasil penjualan tersebut, terkumpul 7 Juta Won. Aku tidak menyangka ternyata masih ada yang berminat dengan baju milik Anda.”ucap wanita itu. So Eun hanya tersenyum sambil menghitung uangnya.

“Terima kasih, kau sudah membantuku. Maafkan aku, aku sudah merepotkanmu.”

“Tidak apa-apa, aku senang membantu Anda.” So Eun tersenyum ternyata hasil penjualannya cukup memuaskan. Walaupun tidak sampai 10 juta, paling tidak sudah terkumpul 8 juta won lebih. Setidaknya dia bisa membayar hutangnya kepada Shin Hye.

“Maaf, So Eun. Aku permisi dulu. Aku ada janji dengan klienku.”ucap wanita itu beranjak dari kursinya. So Eun hanya mengangguk. Setelah wanita itu pergi, So Eun pun memasukkan amplopnya ke dalam tasnya dan berencana menghubungi Shin Hye.

“So Eun?” So Eun yang hendak menelpon pun menoleh, dia pun terkejut melihat Shin Hye yang tiba-tiba ada dibelakangnya. So Eun pun meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya dan berdiri menghadap Shin Hye.

“Shin Hye..”

“Wah… Ternyata memang benar ini kau. Kebetulan ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

“Shin Hye, aku juga. Aku ingin membayar hutangku….” Belum selesai So Eun berbicara, Shin Hye memotongnya, “Ah! Itu yang mau aku bicarakan denganmu. Sekarang kau tidak perlu membayar hutangmu. Hutangmu sudah lunas.”

“Hah? Hutangku lunas?” So Eun terkejut mendengarnya yang tiba-tiba menyatakan dirinya sudah lunas.

“Iya. Ada yang membayar hutangmu 10 juta won.”

“Tunggu! Membayar hutangku? Siapa?” tanya So Eun penasaran. Namun Shin Hye tidak menjawabnya. Dia malah menarik So Eun pergi ke suatu tempat.

*****

“Hei, Shin Hye! Katakanlah kepadaku, siapa yang membayar hutangku?”tanya So Eun tidak sabaran dan sangat penasaran. Lagi-lagi Shin Hye hanya tersenyum. Setelah mereka masuk ke sebuah kafe. Shin Hye pun berhenti diikuti So Eun.

“Nah, itu dia! Dia yang membayar hutangmu.”seru Shin Hye sambil menunjuk ke orang yang sedang membaca buku. So Eun yang penasaran pun mengikuti Shin Hye mendekatinya. Orang itu pun menurunkan bukunya dan tersenyum kepada So Eun dan Shin Hye.

“Kau! Kim Bum!?”seru So Eun terkejut.

“Hei, kau sedang bercanda kan? Apa maksudmu dia yang membayarku?”tanya So Eun masih tidak percaya.

“Tidak. Aku tidak bercanda. Dia sendiri yang menawarkan diri untuk membayar hutangmu. Aku sih terima saja. Sudah untung ada orang yang mau menolongmu. Jadi, So Eun. Sekarang urusan hutangmu denganku sudah selesai. Kau berterima kasihlah kepadanya.”ucap Shin Hye sambil menekan bahu So Eun agar duduk di hadapan Kim Bum yang masih tersenyum.

“Nah. Silahkan kau berbincang-bincang dengannya. Aku ada urusan. Nanti kita akan ketemu lagi di rumah ya, So Eun.”seru Shin Hye langsung berlari meninggalkan mereka berdua.

“Eh.. Tunggu, Shin Hye!?”teriak So Eun. Sayangnya, Shin Hye sudah menghilang. Terpaksa So Eun membalikkan badannya menghadap Kim Bum yang diyakininya sedang tersenyum licik.

“Hei, kali ini kau merencanakan apa lagi terhadapku?”ketus So Eun.

“Hei, kenapa kau jadi ketus begitu? Seharusnya kau berterima kasih denganku.”

“Hhh.. Berterimakasih? Aku yakin kau mau membayar hutangku pasti ada tujuannya.”curiga So Eun. Kim Bum langsung bertepuk tangan dengan irama yang tidak keras.

“Wah… wah… rupanya kau tidak bodoh juga. Baiklah kalau begitu, memang ada syaratnya saat aku membayar hutangmu. Aku ingin kau terus bekerja untukku sebagai sekretaris pribadiku.”

“Apa!? Sekretaris pribadi? Hei! Kau jangan macam-macam denganku!?”bentak So Eun. So Eun tahu apa pekerjaan itu. Tapi jika jadi sekretaris pribadinya Kim Bum, dia yakin pasti ada hal-hal yang melecehkan dirinya lagi.

“Tidak! Aku tidak mau!?” So Eun langsung menolaknya.

“Yah… sayang sekali. Jika kau menolaknya, berarti kau harus membayar ganti rugi.”

“Ganti rugi?”
”Iya. Jika kau tidak menyepakati kesepakatan kita, maka kau harus membayar sepuluh kali lipat dari uang yang aku bayarkan kepada Shin Hye. Yah, istilahnya kau meminjam uang 10 juta won kepadaku.”

“Hei! Lagi pula siapa yang meminta bantuanmu. Sepuluh kali lipat? Maksudmu 100 juta won? Kau benar-benar orang kaya serakah. Aku tidak mau….” Kim Bum langsung melemparkan sebuah dokumen di atas meja.

“Apa ini?”tanya So Eun.

“Baca saja.”suruh Kim Bum. So Eun pun membaca dokumen itu, yang ternyata berisi surat perjanjian Kim Bum dan Shin Hye yang menyatakan bahwa Shin Hye bersedia menerima uang dari Kim Bum dan menyatakan So Eun telah lunas dari hutangnya. Namun jika So Eun menolak persyaratan dari Kim Bum maka So Eun harus membayar kembali sepuluh kali lipat dan Shin Hye pun juga harus ikut membayar ganti rugi dengan jumlah yang sama dengan So Eun.

“Hei! Apa maksudmu ini? Ini benar-benar gila. Kenapa Shin Hye harus terlibat?”

“Aku tahu sifat sepupuku yang begitu polos. Dia pun langsung menandatangani surat itu begitu aku bilang aku yang akan membayarkan hutangmu. Jika kau menolak persyaratanku, aku yakin Shin Hye jadi semakin benci denganmu. Jadi, dari pada nantinya dia akan menerormu. Bukankah lebih baik, kau terima saja persyaratanku?”ucap Kim Bum dengan santainya dan penuh kemenangan.

So Eun pun makin tidak berkutik lagi.

“Kau…..” So Eun tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Dia pun terpaksa menyetujuinya dan langsung pergi dari tempat itu. Kim Bum pun tersenyum penuh kemenangan dengan rencananya yang berhasil dilaksanakan.

*****

Malam hari semakin larut dan semakin berisik. So Eun begitu sedih mengingat kejadian tadi sore. Dia benar-benar tidak menyangka akan jadi ‘boneka’ untuk Kim Bum. So Eun terus meminum alkoholnya untuk menghilangkan depresinya. Dia pun sedikit mabuk. Ponselnya bergetar, So Eun mengeluarkan ponselnya dari sakunya. Sebuah SMS dari Kim Bum.

“To: So Eun

So Eun, jangan lupa besok kau harus siapkan kopermu. Kita akan segera pergi ke New Caledonia. Aku ada pertemuan bisnis disana dan kau harus ikut denganku.

From: Kim Bum”

“Apa? New Caledonia? Aish….! DASAR ORANG EGOIS!? LICIK!?” So Eun berteriak di ponselnya walaupun suaranya masih kalah dengan musik-musik yang dimainkan band yang ada di depannya. So Eun pun memperhatikan gitaris itu. Gitaris yang tampan dan memainkannya begitu merdu. Hati So Eun pun sedikit terobati.

*****

So Eun memuntahkan seisi perutnya yang habis minum alkohol di sebuah gang sepi. So Eun mulai agak mendingan. Kepalanya sudah tidak terasa pusing lagi. Mabuknya pun berkurang. Kini So Eun pun bisa berjalan dengan baik. Sesekali dia pun memakan permen coklat yang dibawanya. Benar-benar hari yang begitu buruk. Saat dia sedang mengeluarkan ponselnya tiba-tiba bahunya ditabrak. Ponselnya pun terjatuh dan terinjak oleh orang yang menabraknya. Namun orang itu malah terus berjalan seakan tidak melakukan apa-apa.

“Hei, Kau!?”teriak So Eun kesal sambil memungut ponselnya. Lelaki itu pun berhenti dan membalikkan badannya. Lelaki yang pernah dilihatnya di sebuah klub. Iya. Dia yang memainkan gitar itu. Namun hati So Eun mulai dongkol melihat perlakuannya. So Eun pun menghampirinya.

“Hei! Kau telah menghancurkan ponselku!? Kau harus meminta maaf kepadaku!”seru So Eun kesal. Lelaki itu malah menaikkan sebelah alisnya. Dia terlihat sedikit bingung.

“Ponselmu? Ponsel murahan seperti itu memang sudah seharusnya pensiun kan? Kalau sudah rusak ya beli lagi yang baru.”jawab lelaki itu dengan santainya tanpa merasa bersalah.

“Kau! Aish…! Apa maksudmu ponselku ini murahan? Lagi pula ini aku beli dengan uangku sendiri. Dan kau malah menghancurkannya. Aku jadi tidak bisa menghubungi siapa pun. Ayo, kau ganti rugi dan minta maaf!?”teriak So Eun hingga memekakkan telinga lelaki itu.

“Hei! Suaramu keras sekali. Baiklah, aku akan ganti rugi.” Lelaki itu pun mengeluarkan beberapa lembar ratusan won dan menyerahkan ke So Eun dengan kasar. Lalu lelaki itu pun berbalik hendak pergi. So Eun yang semakin emosi pun langsung menghalangi lelaki itu.

“Hei, kau mau apa lagi?”tanya lelaki itu lagi. So Eun pun mengembalikan uangnya dengan kasar hingga uang itu pun bertebaran. Lelaki itu pun tentu terkejut.

“Kau pikir aku akan senang kau mengganti rugi dengan seperti ini? Seharusnya kau menyerahkan uang itu dengan baik-baik dan minta maaf denganku.”

“Hei, kau ini cerewet sekali sih. Kalau kau tidak mau uangku, lalu kau mau apa?”

“Kan sudah aku bilang seharusnya kau menyerahkan uang itu dengan baik-baik dan minta maaf denganku.”tegas So Eun. Lelaki itu memicingkan matanya.

“Minta maaf?”tanya lelaki itu. So Eun mengangguk. Lelaki itu pun memegang kepala So Eun dan langsung mencium bibir So Eun dengan kasar. So Eun yang terkejut pun tentunya berusaha melepaskan diri dari pelukan lelaki itu yang semakin kuat. Tidak lama, lelaki itu melepaskan ciumannya sambil menyentuh bibirnya sendiri.

“Uhm…. Rasa coklat? Kau makan coklat?”tanya lelaki itu menebaknya. So Eun yang langsung menutup bibirnya pun menatap marah.

“Kenapa kau menciumku?”tanya So Eun.

“Bukankah kau ingin permintaan maafku? Hanya itu yang bisa aku berikan.”jawabnya santai. Tidak segan-segan, So Eun pun menampar lelaki itu dengan keras.

“Hei! Kenapa kau menamparku?”seru lelaki itu begitu terkejut mendapat balasan tamparan.

“Itu bukan minta maaf, dasar bodoh!”teriak So Eun sambil menendang lutut lelaki itu sehingga lelaki itu pun mengangkat kaki kirinya sambil mengaduh kesakitan. So Eun pun langsung kabur dari lokasi itu.

“Wanita itu….” Gumam lelaki itu masih memegang lutut yang kesakitan.

Sementara So Eun yang berlari itu pun memutuskan berhenti setelah yakin sudah jauh darinya. So Eun pun  benar-benar kesal dan sangat sial hari ini. Dia sudah jadi ‘boneka’ Kim Bum, kini dia malah dicium oleh lelaki yang tidak dikenalnya. Namun dia merasa kejadian tersebut mengingatkannya dengan kejadian saat pertama kali bertemu dengan Kim Bum.

*****

Hari telah tiba. So Eun dan Kim Bum sedang tertidur di pesawat yang sedang mengudara sambil menunggu pesawat itu sampai ditempat tujuannya.

Akhirnya Kim Bum dan So Eun pun telah sampai di New Caledonia.

“Wah…. Ini yang namanya New Caledonia?” seru So Eun yang masih tidak percaya akan pergi ke luar negeri.

“Ini pertama kalinya kau keluar negeri?”tanya Kim Bum yang ada disampingnya. So Eun tidak menjawabnya, dia hanya membuang muka. Lalu Geun Suk, sang asisten pribadinya pun datang menghampirinya.

“Tuan Kim Bum. Kamar Hotel sudah dipesan sesuai dengan keinginan Anda. Sekarang mari kita pergi.”ujar Geun Suk. Kim Bum pun mengangguk mengerti. Sementara So Eun hanya bisa menggeleng melihat perubahan sikap Geun Suk yang begitu berbeda.

“Cih… Tuan Kim Bum apanya? Bukankah waktu diklub dulu itu dia tidak memanggilnya dengan formal seperti itu. Dasar munafik!”batin So Eun kesal sambil berjalan mengikuti Kim Bum dengan membawa kedua koper miliknya dan Kim Bum.

*****

So Eun melongo melihat kamar hotel yang ditempatinya. Dia melihat bukan karena terpesona dengan keindahan kamar itu tetapi terkejut melihat Kim Bum dengan santainya tidur di kasur yang cukup besar.

“Hei! Apa benar ini kamarku?”tanya So Eun lagi. Kim Bum mengangguk.

“Lalu kenapa kau ada disini?”tanyanya lagi.

“Kenapa? Ini kamarku juga.”jawab Kim Bum sambil melepaskan jasnya. Kedua koper yang semula di pegang So Eun pun terjatuh ambruk saking terkejutnya.

“Maksudmu ini kamar kita berdua?”tanyanya lagi yang masih tidak percaya. Kim Bum hanya mengangguk. So Eun langsung menghampirinya dan menarik kerah Kim Bum dengan kasar.

“Hei! Kali ini kau merencanakan apa lagi terhadapku? Belum puaskah kau menggangguku?!”teriak So Eun. Namun Kim Bum malah memeluk pinggang So Eun.

“Kenapa? Kau ingin kita bermesraan sekarang?”goda Kim Bum. So Eun pun melepaskan kerahnya dan menendang lutut Kim Bum hingga Kim Bum melepaskan pelukannya. So Eun pun termundur sambil memeluk dirinya melindungi tubuhnya.

“Enak aja! Kau benar-benar pria mesum! Apa kau bermaksud memperkosaku?”

Kim Bum yang memegang lututnya yang kesakitan pun tertawa, “Wah.. wah.. wah.. rupanya kau sudah berpikir begitu. Apa kau memang mengharapkannya.”

So Eun pun semakin kesal dengan godaan Kim Bum itu. So Eun pun berbalik dan menarik kopernya hendak keluar dari kamarnya.

“Kalau kau mau cari kamar lain, percuma saja. Karena kamar lain sudah penuh.”ucap Kim Bum sambil melepaskan kancingan kemejanya. So Eun pun berhasil berhenti dan membalikkan badannya. Dia pun memandangnya dengan kesal.

*****

Pukul 20.00 adalah waktu pertemuan penting Kim Bum untuk urusan bisnisnya. So Eun yang berjalan disampingnya menuju ke tempat pertemuan. Kim Bum pun tersenyum melihatnya.

“Kau begitu cantik memakai pakaian itu.”pujinya. So Eun pun menatap kesal sementara Geun Suk hanya bisa tersenyum lucu.

“Hei! Kalau kau lakukan hal itu lagi. Aku bersumpah akan memukulmu dengan vas bunga itu.”ancamnya.

Bagaimana So Eun tidak kesal. So Eun berusaha mengganti pakaian tetapi Kim Bum terus saja menggedor-gedor pintu kamar mandi. Apalagi di saat dia sedang berdandan, Kim Bum terus mencuri kesempatan untuk memeluknya. Untung So Eun berhasil melepaskan diri dengan menendang lututnya lagi.

“Tapi kau memang cantik kok.” Kim Bum menggodanya lagi. So Eun pun sudah lelah meladeninya, dia pun membuang mukanya dan menabrak orang yang ada di depannya.

Lelaki yang ditabraknya itu pun menahan tubuh So Eun yang hampir terjatuh.

“Maafkan aku.” So Eun menyesal.

“Tidak apa-apa.”

So Eun mengangkat kepalanya dan terkejut melihat rupa lelaki itu begitu juga Kim Bum dan Geun Suk.

“Kau!?” So Eun tidak menyangka akan bertemu dengan lelaki gitaris yang menyebalkan itu.

“Rupanya kau yang waktu itu ya.”jawabnya.

“Kyu Hyun!”panggil Kim Bum. So Eun pun menoleh Kim Bum.

“Kau… mengenalnya?”tanya So Eun kepada Kim Bum.

“Kakak. Sudah lama kita tidak bertemu.”ucap Kyu Hyun sambil menunduk hormat kepada Kim Bum.

“Kakak?”tanya So Eun.

“Iya. Aku adalah adiknya. Sudah 5 tahun, kita tidak bertemu. Kau semakin sukses saja.”puji Kyu Hyun. Kim Bum tidak menjawabnya. Dia hanya menatap Kyu Hyun dengan tatapan musuhnya begitu juga Kyu Hyun. Sementara So Eun pun hanya bisa melihat mereka dengan bingung.

 

TO BE CONTINUED…………

NB: SELESAI BACA, JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA!!!

66 responses to “My Prince Is Bad Boy [Part 3]: Bertemu Dengan Adik Majikannya

  1. chibi_chan Februari 25, 2015 pukul 2:00 pm

    Ahahhahah…ketawa ngakak??yg kakak yg mana yg adek yg mana..,,kyupa kau harusnya jd abangnya bummy..kenapa malah kebalik…wajahmu itu looh..kelihatan lebih tua…hihihu..maaf thor…aku ga rela ga rela ga rela…kimbum kan co cweet imyut gitcyu…huaaa…

  2. Marthatina vita vienna Maret 13, 2015 pukul 3:09 pm

    Aduh so eun,enak bnget jdi kamu dicium 2 cowok idaman khuhyun dan kim bum.pengen

  3. mia September 1, 2015 pukul 12:16 am

    Kayak nya akan ada persaingan nih

  4. Dela safitri September 13, 2015 pukul 4:55 pm

    Ada apa dgn mereka ?
    Terjadi sesuatu yg cukup buruk sepertinya
    Oppa sepertinya benar2 menyukai sso

  5. selva Desember 17, 2015 pukul 9:58 am

    Waduuuhhh apakah bklan ada cinta segitiga kah d antara bumsso dan kyuhyun. Smga aja sso suka nya sma bumppa ntar jngn smpe ama kyuhyun ga relaaa

  6. Aliana Park Desember 23, 2015 pukul 2:21 am

    Hahaha… Bumsso lucu bgt sih..
    Oh trxta kyuhyun adiknya kim bum ya.. Padahal lebih pantes kalau jdi kakaknya kim bum..
    Next part

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: