RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

The Love For Happy Together Part.6


 

Matahari telah terbit menggantikan bulan yang menghiasi malam tadi. So Eun terus menangis terisak dikamar hotel. Sejenak, dia sedang bangun duduk dikasurnya. Pakaiannya berserakan dimana-mana. So Eun menangis sambil menutup tubuhnya yang telanjang itu dengan selimut putih. So Eun memperhatikan Kim Bum yang masih tertidur. So Eun pun turun dari kasurnya lalu mengambil pakaiannya dan memakainya kembali. Tidak lama, So Eun langsung keluar tanpa menatap Kim Bum.

Min Jung merasa cemas. Dia sedang menunggu So Eun. Pasalnya, So Eun belum pulang dari tadi malam. Kim Joon terus menerus melirik arlojinya.

”Min Jung. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang? Lihat jam ini. Sekarang kita sudah terlambat ke kampus.”

”Tetapi bagaimana dengan So Eun? Aku takut akan terjadi apa-apa dengannya.”

Kim Joon berkacak pinggang mendengarnya.

”Min Jung. Aku mengerti dia adalah sahabatmu. Tetapi tidak bisakah kau memberi dia kebebasan? Mungkin semalam dia menginap di rumah temannya. Kau tahu kan? Semalam sedang hujan lebat.”kata Kim Joon.

”Ah. Kau benar juga.” Min Jung mengangguk mengerti.

”Bagus kalau kau mengerti. Bagaimana kalau kita berangkat sekarang? Kita sudah terlambat, Min Jungku sayang.”

Min Jung hanya senyum-senyum mendengar keluhan Kim Joon. Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil Kim Joon. Kim Joon pun menghidupkan mobilnya dan mulai meninggalkan rumah Min Jung dengan kecepatan yang lumayan tinggi.

So Eun pun menangis di taksi. Akhirnya dia pun telah sampai di rumah Min Jung. So Eun langsung membayar taksi dan berlari menuju ke kamarnya. So Eun pun mengambil semua pakaiannya dan barang-barangnya. Dan dia masukkan semuanya kedalam kopernya. Lalu dia merobek sebuah kertas yang berada diatas meja. Dan dia pun menulis sambil menangis sehingga air matanya terjatuh di atas kertas yang sedang ditulisnya. Untung tidak mengenai tintanya. Selesai menulis, So Eun menarik lacinya dan mengambil sebuah amplop. Sebuah pesan di kertas pun dilipatnya lalu dia masukkan ke dalam amplop. Dan dia pun menuliskan ’To: Sahabatku, Lee Min Jung’ dan ’From: Sahabatmu, Kim So Eun’ . Setelah itu dia meletakkan surat itu dengan rapi di atas mejanya. Kemudian dia menarik kopernya dan pergi keluar. Meninggalkan rumah Min Jung selamanya.

Silauan matahari ternyata mengenai mata Kim Bum yang sedang tertidur. Kim Bum pun terbangun sambil mengacak-acak rambutnya seolah dia sedang tidur berada di rumahnya sendiri. Dia pun bangun sambil mengucek mata. Tidak lama, Kim Bum terkejut mendapati dirinya telanjang dibalik selimut putih.

”Hah? Kenapa aku telanjang?”

Kim Bum terkejut lagi melihat pakaiannya berserakan dimana-mana. Kim Bum memijat kepalanya. Berusaha mengingat sesuatu.

”Sebenarnya apa yang terjadi semalam?”

Lalu dia melihat bercak darah di sampingnya. Bercak darah yang sedikit menempel di seprai putih.

”Darah siapa ini? Jangan-jangan semalam aku tidur bersama dengan orang lain? Tetapi siapa?”

Kim Bum mulai cemas. Kim Bum pun turun dari kasurnya dengan cemas. Namun dia menginjak sesuatu. Kim Bum melihat sebuah topi putih yang berbulu itu tergeletak. Kim Bum mengambilnya dan diamatinya.

”Topi siapa ini?”

Kim Bum berusaha mengingatnya. Tidak lama, dia pun mengenal pemilik topi itu.

Jantung Kim Bum pun mulai berdetak panik.

”Kim So Eun.”

Kim Bum langsung berpakaian dan berlari keluar dengan menggenggam topi milik So Eun.

Selesai kuliah, Kim Joon langsung menuju ke tempat bar langganannya. Min Jung tidak ikut dengannya, dia langsung pulang kerumahnya lantaran masih khawatir dengan So Eun yang mulai tidak masuk kelas. Kim Joon pun menghampiri pelayan bar itu dan memesan minuman.

”Seperti biasa ya.”pesannya. Pelayan bar itu mengangguk seakan mengerti maksud pelanggan lamanya. Tiba-tiba terdengar suara yang berisik di tangga. Langkah seseorang yang turun tangga dengan buru-buru. Kim Joon terkejut melihat Kim Bum sedang celingak-celinguk seakan sedang mencari So Eun.

”Kim Bum!”panggilnya membuat Kim Bum menoleh. Dengan kurang tenaga, Kim Bum langsung menghampirinya dengan terhuyung.

”Kim Joon. Apakah kau melihat So Eun?”tanyanya.

”Hah? Tidak. Tapi kenapa kau bisa ada disini?”

Sayangnya, Kim Bum tidak bisa menjawab. Karena tubuhnya yang tambah memburuk, Kim Bum langsung pingsan dipelukan Kim Joon.

”Eh? Kim Bum! Kau kenapa? Sadarlah Kim Bum?”

Kim Joon mulai panik sambil menepuk kedua pipinya. Lalu dia menyentuh dahinya.

”Wah… tubuhnya panas sekali. Sepertinya dia sedang demam.”

Kim Joon langsung menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.

*****

4 hari kemudian……

Akhirnya Kim Bum pun membuka matanya. Kini dia berada di rumah sakit. Dia melihat Ji Yun sedang tertidur disampingnya. Lalu dia memegang kepala Ji Yun hingga Ji Yun pun terbangun.

”Kim Bum. Kau sudah sadar? Syukurlah!”

Kim Bum tidak menjawabnya. Fisiknya masih lemah. Dia tertidur lagi. Masih ingin beristirahat.

Kim Bum masih terdiam menatap langit di kamarnya. Dia masih terbaring di kasur dengan infusnya yang menancap di tangannya. Lalu Ji Yun datang sambil membawa parsel buah.

”Kim Bum! Lihat apa yang aku bawa? Buah ini bisa membuatmu kembali sehat. Aku taruh disini ya.” Ji Yun meletakkan parsel buah itu dimeja.

”Ji Yun.” Akhirnya Kim Bum memanggilnya setelah dari kesadarannya. Ji Yun pun tersenyum mendengarnya. Lalu dia pun duduk didekatnya.

”Iya?”

Sejenak Kim Bum terdiam. Terlihat sedang ragu.

”Kau harus jawab jujur denganku.”kata Kim Bum. Ji Yun mengernyitkan dahinya.

”Apakah kau… kau masih mencintai Geun Suk?”tanya Kim Bum.

Ji Yun tertegun mendengarnya. Dia jadi sedikit salah tingkah.

”Apa maksudmu, Kim Bum? Bagaimana kau bisa berkata begitu?” Ji Yun berusaha menenangkan dirinya agar Kim Bum tidak terlalu curiga dengannya.

”Waktu malam itu, aku melihatmu masuk kedalam mobil bersama Geun Suk. Apakah kau kembali dengannya? Bukankah kau bilang jadi benci dengannya karena dia mencampakkanmu?”

”Oh itu! Ya memang dulu aku benci dengannya. Namun sekarang aku memutuskan untuk berteman dengannya.”

”Teman?”

”Iya. Aku pikir tidak baik untuk terus membencinya yang sudah mencampakku. Tidak ada salahnya kan kalau kami berteman?”

Kim Bum terdiam.

”Sudahlah, Kim Bum. Kau jangan bicara tentang yang dulu lagi. Kita kan sebentar lagi akan menikah. Aku tidak mau hanya karena masalah ini pernikahan kita batal.”

Kim Bum masih terdiam.

”Baiklah. Aku keluar dulu ya. Aku ada urusan dikampus.”

Sebelum Ji Yun keluar, dia menoleh.

”Kim Bum. Percayalah kepadaku.”ujar Ji Yun. Kim Bum tidak menjawabnya. Hanya terdiam memandang Ji Yun keluar sambil menutup pintunya.

Ji Yun masih berdiri didepan kamar Kim Bum. Dia memegang dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang penuh berdebar dengan paniknya.

”Aku harap dia tidak tahu tentang hubunganku dengan Geun Suk.” Ji Yun langsung meninggalkan tempatnya.

Tidak lama, Kim Joon datang menjenguknya.

”Hai, bro! Bagaimana keadaanmu?”tanya Kim Joon sambil membawa sebuah plastik. Kim Bum tersenyum mendengarnya. Dia pun bangun dengan pelan. Kim Joon pun duduk disampingnya.

”Kau tahu, Kim Bum? Kau itu benar-benar mengagetkanku. Kukira kau kenapa tiba-tiba pingsan di sana. Rupanya kau malah demam level tinggi ya?”

Kim Bum tertawa kecil mendengarnya.

”Maaf merepotkanmu.”ujar Kim Bum.

”Tapi sedang apa kau disana? Apa kau menginap?”

Kim Bum terdiam. Tidak mau menjawabnya. Dia hanya tersenyum kepada Kim Joon hingga membuatnya jadi bingung melihat Kim Bum. Kim Bum melirik plastik yang dibawa Kim Joon.

”Apa itu?”tanya Kim Bum sambil menunjuk plastik yang dibawa Kim Joon.

”Oh ini. Aku mau mengembalikan ini kepadamu.”

”Hah?”

Kim Joon menyerahkan plastiknya kepada Kim Bum. Kim Bum pun membukanya. Sebuah topi putih yang berbulu halus.

”Waktu kau pingsan, kau memegang topi itu. Sepertinya itu topi perempuan. Topi itu milik siapa, Kim Bum?”tanya Kim Joon.

Kim Bum tidak menjawabnya. Sebaliknya, dia tertegun melihat topi.

”Kim So Eun.”batinnya.

*****

Seminggu kemudian…..

Akhirnya Kim Bum pun diperbolehkan pulang kerumah. Kim Bum masih terus memikirkan So Eun.

Masih memikirkan insiden di Bar. Pikirannya terus berkecamuk. Kim Bum memikirkan bercak darah dan pakaiannya yang berserakan di kamar hotel itu.

”Apakah aku telah melakukannya?” Kim Bum masih terus memikirkannya dengan tidak percaya. Dia langsung beranjak dari sofanya. Sambil membawa topi milik So Eun, Kim Bum mengambil mantel dan kunci mobilnya.

Kim Bum heran melihat Min Jung terdiam dengan raut wajahnya yang sedih. Kim Bum pergi ke rumah Min Jung bermaksud menanyakan kepada Min Jung tentang So Eun.

”Dia sudah pergi, Kim Bum.”

Kim Bum tertegun mendengarnya.

”Apa? Bagaimana bisa?”

Min Jung menuju ke kamarnya lalu kembali lagi dengan membawa sebuah surat dari So Eun.

”Dia hanya meninggalkan surat ini.” Min Jung menyerahkan suratnya kepada Kim Bum. Dengan wajahnya yang bingung, Kim Bum pun menerima suratnya lalu dibacanya.

’To: Lee Min Jung.

Maaf, tiba-tiba aku meninggalkanmu dan rumahmu yang begitu indah. Aku senang dengan bersahabat denganmu. Kau sudah terlalu banyak membantuku. Aku rasa tidak pantas jika aku terus tinggal dirumahmu. Aku senang bisa curhat denganmu. Tetapi aku sedang dalam masalah besar, Min Jung. Bukannya aku tidak percaya denganmu lagi. Aku tidak ingin membebanimu, Min Jung. Biarlah masalah berat ini aku atasi sendiri. Sekali lagi, terima kasih kau sudah mau menjadi sahabatku.

From: Kim So Eun.’

”Memangnya dia pergi kemana?”tanya Kim Bum sambil menyerahkan surat itu kembali kepada Min Jung.

”Aku tidak tahu, Kim Bum. Aku sudah berkali-kali meneleponnya. Namun tidak aktif. Sepertinya dia sudah ganti nomor. Sejak kepergiannya, dia tidak pernah masuk kelas lagi.”

Kim Bum kembali terdiam. Min Jung hanya menatapnya.

”Terima kasih, Min Jung.”ucap Kim Bum dengan lemas.

 

*****

Seminggu kemudian….

Kim Bum masih duduk lemas di depan kolam renang pribadinya. Sudah lewat 2 minggu dia masih tetap tidak menemukan So Eun. Kim Bum kembali menatap topi yang ditinggal So Eun. Dia kembali melamun. Memikirkan So Eun. Tiba-tiba dia jadi teringat dengan Hyun Joong yang telah memukulnya. Dia jadi ingat dengan perkataan Hyun Joong yang penting.

’ ”Walaupun kau sudah menyakiti So Eun berkali-kali. Tapi aku tidak akan memaafkanmu telah menampar So Eun!”

”Kuberitahu kau satu hal. Kim So Eun mencintaimu, Kim Bum!”

”Kau tahu? So Eun terpaksa untuk melupakanmu setelah mendengarmu bertunangan dengan Ji Yun. Dia sudah berkali-kali menangis karenamu! Melihatmu bersama Ji Yun!?” ’

Perkataannya terus membayangi pikirannya.

”Apa benar So Eun mencintaiku?”batinnya yang mulai bertanya-tanya.

Kim Bum langsung mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

”Kim Hyun Joong. Ini aku, Kim Bum.”

 

Hyun Joong membuang muka dari Kim Bum yang duduk berhadapan dengannya. Mereka telah janjian untuk bertemu di kafe.

”Apa kau melihat So Eun?”

Pertanyaan Kim Bum membuat Hyun Joong tertegun.

”Memang ada apa dengan So Eun?”

”Kau tidak tahu?” Kim Bum berbalik terkejut. Hyun Joong menggeleng.

”Aku baru saja pulang dari Jepang. Memang ada apa dengannya?”

”Kim So Eun telah pergi. Dia sudah tidak kembali ke kampus lagi.”

”Apa maksudmu?” Hyun Joong terkejut mendengarnya.

”Kenapa dia bisa pergi? Kau… apa kau telah melakukan sesuatu dengannya?”tanya Hyun Joong curiga. Kim Bum terdiam. Hyun Joong langsung menarik kerahnya.

”Katakan kepadaku, Kim Bum!?”tanya Hyun Joong yang mulai emosi seakan mengetahui Kim Bum melakukan sesuatu yang buruk lagi dengan So Eun. Kim Bum masih terdiam menunduk. Tidak menatap Hyun Joong. Melihat itu, Hyun Joong langsung melepaskan kerahnya dengan kasar lalu kembali duduk sambil membuang mukanya.

”Hyun Joong.”panggil Kim Bum. Hyun Joong tidak menolehnya.

“Waktu itu… Apa benar So Eun mencintaiku?”

Pertanyaan Kim Bum membuat Hyun Joong terpaksa menatapnya. Hyun Joong terdiam.

“Katakanlah, Hyun Joong.”

”Setiap aku bertemu dengannya. Dia selalu menangis dihadapanku.”

Kim Bum terdiam menunggu lanjutannya. Hyun Joong memandangnya serius.

”Kau pikirkan saja sendiri. Apa yang menyebabnya selalu menangis selama ini.”

Hyun Joong beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Kim Bum sambil memencet tombol ponselnya. Dia ingin mencari So Eun.

Kim Bum masih tetap tidak mengerti maksud perkataan Hyun Joong.

Kim Bum pun berjalan menuju ke mobilnya.

Kim Bum terus menyetir tanpa arah. Dia masih memikirkan dosanya kepada So Eun. Kim Bum mulai yakin kalau dirinya telah memperkosa So Eun.

’ ”Setiap aku bertemu dengannya. Dia selalu menangis dihadapanku.”

Kim Bum terdiam menunggu lanjutannya. Hyun Joong memandangnya serius.

”Kau pikirkan saja sendiri. Apa yang menyebabnya selalu menangis selama ini.”

Hyun Joong beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Kim Bum sambil memencet tombol ponselnya. ’

Kim Bum pun jadi teringat dengan perkataan Hyun Joong tadi.

”Kenapa So Eun selalu menangis?”batinnya pun mulai bertanya. Kim Bum memutarkan otaknya mencari jawabannya. Karena selama ini dia bertemu So Eun. So Eun selalu terlihat ceria dihadapannya. Lalu bagaimana So Eun bisa menangis dihadapan Hyun Joong?

”Apakah penyebabnya adalah aku?”tebaknya yang terlihat menemukan jawabannya.

Tiba-tiba seorang anak sedang berlari di tengah jalan. Sehingga Kim Bum yang melihatnya pun membelok setirnya menghindari anak kecil itu. Namun sayang, mobil Kim Bum langsung menabrak pohon besar. Terjadilah kecelakaan, Kim Bum tergeletak tidak berdaya dengan luka dikepala dan kedua tangannya. Darah segarnya pun menetes di rumput dengan cepat.

Di waktu yang sama……..

So Eun langsung menuju ke kamar mandi. Dia pun muntah-muntah. So Eun memutarkan keran air dan membersihkan mulutnya.

”Apakah aku hamil?”

Tidak ingin berprasangka dulu, So Eun langsung mengambil mantel dan tasnya. Lalu dia keluar dan mengunci rumah apartemennya yang sederhana.

So Eun pun telah sampai dirumah sakit. Kemudian dia mendaftarkan diri sebagai pasien di bagian kandungan. Sesaat dia melihat beberapa orang dan petugas sedang membawa korban yang diduganya akibat kecelakaan menuju UGD. Dia tidak bisa melihat wajah korban itu.

”Ini, Nona.”ujar suster sambil menyerahkan sebuah dokumen kepada So Eun.

”Oh. Iya, baiklah.”

So Eun langsung menuju ke ruang dokter kandungannya.

Kedua orang tua berburu-buru menuju ke UGD dengan perasaan panik. Lalu dia menemui seorang dokter yang berkacamata.

”Bagaimana, Pak Dokter? Bagaimana keadaan anak saya?”tanya Ibu.

”Anda keluarganya?”

Mereka mengangguk.

”Keadaannya memburuk. Luka dikepalanya begitu parah. Dia harus segera dioperasi.”

”Kalau begitu. Cepat lakukanlah!”kata Ayah dengan tegas.

”Tenang. Kami sedang mempersiapkan alat-alatnya. Anda harus menunggu dulu.”

Ibu itu terus menangis dipelukan suaminya sambil duduk didepan UGD.

”Bagaimana ini bisa terjadi kepada Kim Bum?”

Suaminya hanya bisa membelai kepalanya dengan lembut berusaha menenangkannya.

So Eun pun membeli minuman kalengnya. Karena dia sangat haus. Namun saat dia mau membuka kaleng minumannya. Tangannya licin sehingga kaleng minuman itu terjatuh dan menggelinding dan berhenti tepat didepan kaki seorang Ibu yang sedang menangis. So Eun langsung berburu mengambil kaleng minumannya.

”Maaf.”ucapnya sambil menunduk hormat.

”Tidak apa-apa.”jawab Ayahnya Kim Bum yang masih berusaha menenangkan istrinya yang masih menangis.

”Anda baik-baik saja?” So Eun merasa kasihan melihat Ibunya Kim Bum yang terus menangis.

”Anakku. Dia kecelakaan.”jawab Ibunya Kim Bum dengan terbata-bata. So Eun pun duduk disampingnya. Dia belum menyadari kalau mereka adalah orang tua Kim Bum.

”Sabar ya. Aku yakin anak Ibu pasti akan selamat.” So Eun berusaha menghiburnya.

”Terima kasih.”ucapnya yang merasa sedikit terhibur dengan perkataan So Eun.

Tiba-tiba para suster sedang sibuk mondar-mandir dari UGD. So Eun dan orang tua Kim Bum hanya heran melihatnya. Lalu dokter itu keluar dari UGD dengan wajahnya yang terlihat cemas.

”Ada apa, dokter?”tanya Ayahnya Kim Bum yang mulai khawatir.

”Anak anda sedang kehabisan darah. Sedangkan kami butuh banyak darah. Tapi sayangnya, stok darah dirumah sakit ini habis.”

”Apa!? Bagaimana bisa? Dokter harus selamatkan anakku! Dia anakku satu-satunya dikeluargaku! Dia tidak boleh mati!?”teriak Ibunya Kim Bum sambil menarik jas dokter itu. Ayahnya Kim Bum berusaha menahan istrinya. So Eun jadi tidak tega melihatnya. Dia pun berdiri mendekati dokter.

”Memangnya golongan darahnya apa?”tanya So Eun.

”A.”jawab dokter dengan singkat.

”Kalau begitu pakai saja darahku. Golongan darahku juga A.”ujar So Eun yakin. Orang tuanya Kim Bum terkejut mendengarnya.

”Benarkah itu?”tanya dokter. So Eun mengangguk yakin.

”Kalau begitu, mari ke ruanganku.”

Ibunya Kim Bum menahan So Eun.

”Terima kasih ya, nak.”ucapnya.

So Eun tersenyum mengangguk. Lalu dia berlari mengikuti dokter yang mulai jauh.

Dokter pun datang bersama suster yang membawa satu botol donor darah dari So Eun. Dokter dan suster itu masuk kedalam dan melanjutkan operasinya.

”Sayang, mana gadis itu?”tanya Ibunya Kim Bum yang tidak melihat kemunculan So Eun. Tiba-tiba Suster yang membawa donor darah itu keluar. Ibunya Kim Bum langsung menahannya.

”Dimana gadis yang mendonorkan darahnya?”tanya Ibunya Kim Bum.

”Oh. Beliau tadi titip pesan kepada saya. Beliau bilang semoga anak Ibu selamat. Beliau minta maaf tidak bisa ikut mendampingi Ibu karena dia ada urusan disini.”

Setelah menjawabnya, suster itu langsung pergi.

”Sayang. Padahal aku ingin mengucapkan terima kasih kepadanya.”

”Aku tahu.”ujar Ayahnya Kim Bum sambil mengangguk dan menggenggam tangan istrinya.

Di ruang bagian kandungan……

Dokter wanita itu pun duduk dikursinya setelah melakukan penelitian. So Eun menunggunya dengan penuh harap dan cemas. Dokter wanita itu tersenyum melihatnya.

”Selamat. Anda positif.”

Kata-kata dokter wanita itu membuat pikiran So Eun terasa berat. So Eun sangat terkejut mendengarnya.

”Apa? Aku hamil?”tanyanya yang masih tidak percaya. Dokter wanita itu menyerahkan amplop kepada So Eun. So Eun langsung membuka dan membaca hasil penelitiannya.

”Kehamilan Anda memasuki 2 minggu.”

So Eun menatap terkejut.

”2 minggu?” Dokter wanita itu mengangguk.

So Eun menutup kembali kertas hasil penelitiannya dan dimasukkan kembali kedalam amplop.

Dokter pun telah keluar dari UGD setelah 2 jam melakukan operasi. Orang tuanya Kim Bum langsung menghampiri dokter.

”Bagaimana, dokter?”

Dokter itu tersenyum.

”Operasi berjalan lancar. Anak Ibu selamat.” Dokter itu pun pergi ke ruangannya meninggalkan orang tuanya Kim Bum yang saling berpelukan.

”Semua ini berkat gadis itu.”ujar Ibunya Kim Bum.

”Kau benar. Tapi sayang, kita tidak tahu nama dia.”

”Aku berharap suatu saat kita akan bisa bertemu dengannya.”harap Ibunya Kim Bum. Ayahnya Kim Bum hanya tersenyum mengangguk. Menyetujui harapan istrinya.

So Eun duduk terdiam di rumah sakit. Air matanya pun terjatuh. Mendengarnya bahwa dirinya telah mengandung anaknya Kim Bum. So Eun merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. Lalu dibukanya baterai ponsel dan menukarkan SIM CARD nya. Kemudian dihidupkannya lagi. Dia terkejut melihat banyak pesan yang ditinggalkannya. So Eun pun melihat pengirimnya.

So Eun mulai menangis melihat salah satu pesannya dari Kim Bum yang begitu banyak ditinggalkannya. Rasanya So Eun ingin meminta pertanggungan jawab dari Kim Bum. Namun So Eun teringat perkataan Kim Bum yang dalam keadaan mabuk, yang mengiranya adalah Ji Yun, yang memperkosanya.

’ ”Ji Yun! Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Kenapa kau mengkhianatiku? Padahal sebentar lagi kita akan menikah!” ’

”Mereka akan menikah. Aku tidak mau mengganggu hubungan mereka lagi.”batin So Eun. Lalu So Eun memencet tombol ke bawah. Melihat siapa saja selain Min Jung dan Kim Bum yang meninggalkan pesan. Tatapannya berhenti melihat nama pengirim yang selalu menemani kesedihannya.

So Eun pun membalasnya. Dan terkirim. So Eun langsung beranjak dari tempatnya. SIM CARD lamanya yang sudah kembali dicabut. Dia pun membuang SIM CARD lamanya ke aquarium yang dipajang di sudut rumah sakit selamanya. So Eun menyusuri lorong rumah sakit dengan terhuyung. Tidak peduli diperhatikan orang disekitarnya yang melihatnya menangis.

Ponsel Hyun Joong bergetar. Hyun Joong yang berada dirumahnya langsung mengambil ponselnya di meja. Dia tertegun melihat SMS dari So Eun. Dia pun membaca SMSnya.

’To: Hyun Joong

From: Kim So Eun

Hyun Joong, maaf aku baru balas. Tidak ada terjadi apa-apa denganku. Kim Bum sekarang sudah melakukan yang terbaik buatku. Kau tidak perlu mencemasku. Aku harap kejadian waktu aku menolak cintamu tidak sepertiku. Kau janganlah terus berharap denganku. Aku ingin kau mencari wanita yang bisa kau cintai dan dia juga mencintaimu. Siapapun wanita yang kau pilih, aku akan mendukungmu.

Hyun Joong, aku tidak menyesal telah mencintai Kim Bum. Mungkin rasa cinta itu akan aku bawa sampai ajalku tiba. Walau memang menyakitkan.

Hyun Joong, terima kasihku kepadamu yang telah terus menghiburku dan menemani kesedihanku.

Aku sayang kepadamu, Hyun Joong. Aku sudah menganggapmu sebagai kakakku.

Ini adalah pesan terakhir dariku. Aku harap kau akan mendapatkan cinta kebahagiaanmu.

GOOD BYE. ’

Hyun Joong tercengang melihat isi pesannya. Lalu Hyun Joong pun menghubunginya.

”Nomor yang anda tuju saat ini sedang tidak aktif atau berada diluar jaringan.”

Hyun Joong tetap meneleponnya berkali-kali. Nihil, ponselnya tetap tidak bisa dihubungi.

”Kim So Eun. Apa yang terjadi?”batinnya yang mulai cemas dengan So Eun.

So Eun duduk sambil melirik arloji. Akhirnya penerbangan pesawatnya menuju ke Soeul telah tiba. So Eun langsung menarik kopernya dan menuju ke dalam bandara untuk segera berangkat naik pesawat.

”Aku sudah memutuskan. Aku akan merawat anakku sendirian. Aku tidak akan bertemu dengan Kim Bum lagi. Aku harus benar-benar meninggalkannya. Jangan terus mengkhawatirkannya. Biarlah dia bahagia bersama Ji Yun. Semoga aku bisa melalui semua ini. Dengan kepergianku pergi ke Seoul akan membawa perubahan yang baik kepadaku. Kim So Eun, kau pasti bisa! Aku yakin kau pasti bisa melaluinya!?”teriaknya dalam batinnya yang berusaha menyemangati dirinya. Walaupun disambut dengan air matanya yang mulai menetes dipipinya. So Eun tetap tersenyum berusaha tegar sambil berjalan menuju ke pesawat yang akan siap lepas landas.

TO BE CONTINUED……………………………………

NB: SELESAI BACA, JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA!!! ^^

20 responses to “The Love For Happy Together Part.6

  1. shafa Desember 25, 2010 pukul 4:53 am

    aduh, so eunnya hamil._. Seru kak, serasa nonton drama, lanjut ya!

  2. Yunie sipenyuka hijau Desember 25, 2010 pukul 7:29 am

    Wah so eun hamil. Chukaeyo so eun.anak.a mbum ,tp kasian juga si so eun .. Dtggu kelanjutan.a dah ada kan?

  3. rizkyapratiwi Februari 6, 2011 pukul 9:11 am

    ouh no … so eun hamil

    anak nya kim bum ….

    berjuanglah … ! fihting

  4. kikio juliana sari Juni 15, 2011 pukul 4:38 am

    kasihan banget sihh kim so eun tapi pasti lanjutanya pasti lebih seru lagi ?……………………………..

  5. Maria Sativa September 19, 2011 pukul 10:50 am

    mkn tmbh bgus ne…

  6. geill Desember 14, 2011 pukul 6:04 am

    makin seru aja kisahnya,aq suka >_<
    bikin penasaran?
    pokoknya mantap deh kisahnya …………..
    lanjut lg, jgn di tunda2…………..cabut………………….

  7. cucancie September 2, 2012 pukul 3:33 am

    Ya ampun so eun hamil anaknya kim bum,makin penasaran nih baca lanjutannya…

  8. sonkKyu Oktober 29, 2012 pukul 1:45 pm

    Sptny org hamil dilarang nyumbangin darah deh thor ._.
    Aigoo ff ini g rela kalo unhappy ending T_T

  9. tanti no kawai Desember 10, 2012 pukul 5:03 pm

    (●̮̮__●̮̮) Ɨƚι̇ƙƨ̃:'(Ɨƚι̇ƙƨ̃:'(Ɨƚι̇ƙƨ̃…… (⌣́_⌣̀”).
    Kasian Sso eunni….. (-̩̩̩⌣́_⌣̀-̩̩̩)

  10. BoeLboeL Februari 14, 2013 pukul 1:01 am

    so eun hamil???…ank kim bum??
    Duuuhh,,,penasaran…
    Lanjuuuut ahhh…

  11. vaaani Juni 9, 2013 pukul 12:37 pm

    aq kyna udh komen tp og tertahan ya moderasinya
    kangeeeen lanjutan lainnya, wah daebak

    bumsso lophe2

  12. Ilma Bumssoeulmates Elf November 15, 2013 pukul 3:31 pm

    huaaa… andai so eun tau klu kim bum kecelakaan
    moga bumsso bersatu^^

  13. RANI April 9, 2014 pukul 1:40 pm

    ya ampun kim bum kecelakaan,,,,, dan so eun mendonorkan darahnya ke kim bum, tapi ortunya kim bum belum berterima kasih ke so eun…..

    So eun hamil????
    Kasihan banget so eun harus menghadapi semua ini sendirian…..😦

    Gimana ya kalau min jung dan hyun jong tau tentang itu dan terutama kim bum???

    So eun mau pergi kemana tuh???

  14. lilis suryani Juli 6, 2014 pukul 5:54 pm

    jd so eun merawat anaknya sendiri donk yg sbr so eun pasti ada keajaiban…

  15. Herlina Darmayanti September 18, 2014 pukul 2:45 am

    Makin Ke Sini Ceritanya Makin Seru🙂

  16. sabanaRyuga Oktober 5, 2014 pukul 4:40 am

    sabar ya uenni

  17. vinnie (soeulmates) Oktober 11, 2014 pukul 3:02 pm

    sso baik banget mau nolong kim bum…
    yah sso mau ninggali semuanya…#hwaiting eunnie

  18. marthatina vita vienna Maret 6, 2015 pukul 4:11 pm

    So eun yang sabar ya,pasti kebahagiaan akan datang padamu,aku selalu terharu kalau so eun kenapa napa.

  19. laras Juni 5, 2015 pukul 1:28 pm

    ohh.. so eun pasti kuat

  20. Aliana Park Desember 22, 2015 pukul 2:24 pm

    Aduh.. Bagaimana ini nasibnya Bumsso… Kasihan so eun begitu menderita…😦 next part

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: