RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

My First Love Letter [2/2]: Keajaiban Surat Cinta


 

10 Tahun Kemudian…..

Suasana kerja dikantor yang benar-benar sibuk. Seorang wanita berusaha menyelesaikan tugas-tugasnya yang diberikan dari manajer. Dia berusaha menyelesaikan dengan tepat waktu dan lancar. Beberapa menit kemudian, akhirnya dia pun berhasil menyelesaikan tugasnya. Dia pun menutup dokumen itu dan menaruh di tumpukan dokumen yang ada disampingnya.

“Hei, So Eun! Bagaimana tugasmu? Apakah kau sudah menyelesaikannya?”tanya manajernya yang langsung muncul.

“Sudah, pak. Ini dokumennya.”jawab wanita yang bernama So Eun sambil menyerahkan semua tumpukan dokumen yang tidak terlalu tebal. Manajer itu pun memeriksanya. Dia pun tersenyum puas melihat hasil kerja So Eun.

“Bagus, So Eun! Terima kasih!”ucapnya sambil berlalu.

“Sama-sama!”seru So Eun sambil tersenyum lega. Akhirnya dia bisa istirahat. Dia pun melirik sebuah kotak kaleng disamping komputernya. Perlahan dia meraih kotak kaleng itu dan membukanya. Sebuah surat beramplop biru yang sudah lusuh namun masih terawat dia menyimpannya selama 10 tahun. Amplop yang bertuliskan ‘To: Kim Sang Bum’. So Eun tersenyum melihat surat itu. Seakan dia pun mengenang lagi masa lalunya selama 10 tahun. Sebuah surat cinta pertamanya yang gagal diserahkan untuk Kim Bum. Kini So Eun telah bekerja di bagian majalah yang cukup terkenal di Korea Selatan. Dia mendapatkan posisi sebagai staf editor. Dia sudah bekerja disana selama 3 tahun. So Eun begitu betah bekerja karena perlakuan karyawan yang begitu baik. So Eun pun menaruh lagi surat lama itu ke dalam kotak kaleng. Dia pun beranjak dari tempatnya menuju ke kafe untuk makan siang.

*****

So Eun sedang asyik makan roti dan minuman cappuccino bersama teman-temannya. Mereka pun bersenda gurau mengenai hasil penerbitan majalah yang cukup laris. Sehingga terjadi ganti topik yang cukup serius.

“Hei… Apa kalian tahu? Kalau dikantor kita bakal ada direktur baru.”celetuk Hye Sun mengubah topik pembicaraannya.

“Sungguh? Memangnya apa yang terjadi dengan direktur lama?”tanya So Jin. So Eun pun menyimak obrolan mereka.

“Kita tahukan kalau direktur lama pensiun. Makanya diganti dengan orang yang baru. Dengar-dengar sih, orangnya tampan, baik, dan pintar.”jawab Hye Sun.

“Sungguh? Wah… beruntungnya kita mendapatkan direktur seperti yang kau bilang.”ujar So Jin. So Eun hanya tersenyum mendengar obrolan mereka. Yang ada dipikirannya kini adalah Kim Bum. Dia menatap langit biru. Terus berpikir. Kapan dia akan bertemu dengan Kim Bum lagi? Dia ingin sekali menyerahkan surat birunya yang sudah lusuh.

“Hei! Kenapa kalian masih ada disini? Ayo cepat kumpul di ruangan! Direktur barunya sudah datang!?”seru seorang wanita tiba-tiba muncul.

“Sungguh?!”kompak So Jin dan Hye Sun.

“Ayo, So Eun!?”teriak Hye Sun. So Eun pun ikut mengejar mereka dengan membawa cangkir kopinya yang belum habis diminum.

*****

Di ruangan itu sudah mulai penuh dengan karyawan. Banyak wanita yang begitu mengagumi ketampanan direktur baru itu. Walaupun manajer sedang sibuk memperkenalkan direktur baru itu. So Jin, Hye Sun, dan So Eun pun akhirnya muncul. So Jin dan Hye Sun begitu penasaran dengan rupa direktur baru itu pun langsung berlari menuju ke depan. Sedangkan So Eun yang masih ada di samping direktur baru itu pun perlahan melihat rupa yang sudah lama dikenalnya. Seseorang yang sudah lama ingin ditemuinya.

“Kim Sang Bum.”

Direktur baru yang bernama Kim Bum tersenyum dengan karyawan-karyawannya. Dia belum melihat So Eun karena ada disampingnya. So Eun terus memperhatikan wajahnya. Dia masih tidak percaya. Benarkah dia, Kim Bum? Yang ada dihadapannya.

‘PRANG!’

Bunyi cangkir pecah yang terlepas dari genggaman tangannya menimbulkan perhatian seisi ruangan itu. Mereka memperhatikan tak terkecuali Kim Bum, So Eun langsung membungkuk dan segera memungut beling-beling kaca gelas itu. Namun jari tangannya tidak sengaja tertusuk hingga berdarah.

“Aduh!”

Merasa kasihan, Hye Sun pun langsung membantunya. Sementara Kim Bum hanya memperhatikan mereka.

*****

So Eun memperhatikan jari telunjuknya yang terkena pecahan kaca gelas tadi. So Eun pun memperhatikan kotak kaleng yang ada dimeja kerjanya. Lalu dia menggeserkan kepalanya ke samping. Mengintip Kim Bum yang sedang sibuk berbicara dengan manajer. Namun Kim Bum menyadarinya. Dia pun menoleh. Dengan panik, So Eun pun menggeserkan kepalanya lagi. Menghindari tatapan Kim Bum. Semoga perhatiannya tidak disadari Kim Bum. Hatinya kembali berdegup kencang. So Eun menunduk memperhatikan kotak kaleng itu lagi. Dia pun meraihnya dan membuka sedikit, ingin melihat surat birunya.

“Kim So Eun.”panggilnya.

So Eun langsung menutup kotak kaleng itu dengan paniknya dan hampir saja terjatuh. So Eun pun mendongakkan kepalanya.

“Kim Bum.”

Kim Bum tersenyum melihat So Eun, “Ternyata memang benar itu kau, So Eun. Kau bekerja disini?”tanya Kim Bum dengan ramahnya yang tidak berubah.

“I.. Iya…”jawab So Eun yang tetap saja tidak berubah saat berhadapan dengan Kim Bum yaitu dengan gugupnya.

“Oh… Kau sudah lama bekerja disini?”

“I,.. Iya…”

“Berapa lama?”

“3 tahun..”

Kim Bum langsung tersenyum lucu melihat tingkah So Eun yang masih sama dengan yang dilihatnya. Lalu dia memberikan beberapa dokumennya kepada So Eun.

“Kudengar banyak yang memuji hasil kerjamu sebagai staf editor. Ini dokumen dariku. Aku harap kau bisa menyelesaikan dokumen ini dengan baik.”pinta Kim Bum. So Eun yang menerima perintah itu hanya mengangguk. Lalu Kim Bum pun membalikkan badannya menuju ke ruangannya. So Eun pun menggigit dokumennya. Dia tidak menyangka Kim Bum masih mengingatnya walaupun sudah 10 tahun tidak bertemu.

*****

Sejak Kim Bum menjadi direktur barunya. Kini So Eun bisa terus memandangnya yang serius bekerja. So Eun begitu mengagumi ketampanannya. Sama seperti saat dia melihat Kim Bum pertama kalinya. Tetapi hatinya kembali terasa sesak. Rupanya rasa cintanya masih belum hilang. Perlahan dia memandangi surat birunya yang tergeletak di atas meja. Dia memandang sedih. Haruskah dia memberikan surat itu atau dia membuangnya? Hatinya terus dipenuhi rasa kegalauannya. Tanpa disadarinya, Kim Bum diam-diam memperhatikan So Eun yang terus murung.

 

*****

So Eun begitu terkejut melihat penampilan Kim Bum yang baru. Rambut berwarna abu-abu.

Kim Bum tersenyum lucu melihat ekspresinya. So Eun jadi malu dengan wajahnya yang memerah.

“Uhm… cuaca semakin dingin.”ujar Kim Bum menatap pemandangan kota yang begitu sibuk dengan banyaknya kendaraan. So Eun yang bersamanya di depan toko pun ikut menyaksikannya.

“So Eun. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”ajak Kim Bum.

“Hah?” So Eun tidak menyangka Kim Bum mengajaknya pergi. Dia belum menjawab karena dia masih bingung. Apakah dia mesti menerima ajakannya? Atau dia harus menolaknya karena dia tidak mau merepotkan Kim Bum. Pikiran So Eun makin beradu antara setuju dan tidak. Kim Bum memandang aneh dengan sikap So Eun yang begitu mudah galau. Tetapi dia tersenyum lucu. Tanpa basa basi, Kim Bum menarik tangan So Eun untuk turun ke jalan. Terkejut dengan Kim Bum menariknya, So Eun hanya bisa mengikutinya.

*****

Kebetulan dimalam hari ada acara festival kota yang semakin ramai. Walaupun ditengah cuaca yang dingin tidak membuat kesenangan Kim Bum dan So Eun terganggu. Mereka begitu asyik menikmati festival bahkan So Eun mendapatkan boneka beruang pink berukuran besar hasil kemenangan Kim Bum dalam permainan menembak. Mereka terus melanjutkan perjalanannya. Mereka menatap ke langit malam yang cerah dengan luncuran kembang api yang penuh berwarna. So Eun benar-benar terpukau melihat pemandangan itu.

“Wah… ini indah sekali.” So Eun mengaguminya. Kim Bum hanya tersenyum mendengarnya. Lalu So Eun menatap Kim Bum dengan malu. Kim Bum pun menoleh.

“Terima kasih… atas boneka ini… Aku… aku sangat senang bisa berjalan denganmu.”ucap So Eun sambil mendekap bonekanya saking malunya. Kim Bum langsung tertawa lucu melihatnya.

“Sama-sama. Kau tidak usah sampai segitunya.” Kim Bum mengacak rambut So Eun dan kembali menonton kembang api. So Eun memegang kepalanya. Dia pun menatap Kim Bum. Matanya terlihat penuh kerinduan dan harapan untuk Kim Bum. Sampai kini, dia masih mencintainya. Sangat mencintai malah. So Eun menunduk dan membuang muka untuk menyembunyikan mimik wajahnya yang mulai sedih. Dia tidak ingin Kim Bum melihat kesedihan dimatanya.

“So Eun, kau baik-baik saja?”tanya Kim Bum menyadari keanehan So Eun. So Eun menarik nafas lalu dia mengangkat kepalanya sambil tersenyum.

“Aku baik-baik saja. Wah…! Lihat kembang api itu!?”seru So Eun menunjuk kembang api yang baru saja diluncurkan. Kim Bum yang sempat menoleh menyaksikan kembang api kembali menatap So Eun yang asyik tertawa melihat keindahan kembang api itu. Kim Bum ikut tersenyum melihatnya.

*****

Akhirnya mereka pun telah sampai di apartemen So Eun. So Eun pun keluar dari mobil diikuti Kim Bum. Kim Bum memandang apartemen yang sederhana.

“Kau tinggal disini?”tanya Kim Bum. So Eun mengangguk malu.

“Iya. Tidak terlalu bagus. Sederhana. Tetapi aku nyaman tinggal disini.”jawab So Eun berjalan disamping Kim Bum.

“Kau tinggal sendiri?”

“Iya. Orangtuaku tinggal di Busan.”

Kim Bum mengangguk mengerti. So Eun membalikkan badannya.

“Apa kau mau mampir ke tempatku?”tawar So Eun.

“Aku ingin. Tetapi aku ada urusan penting.” Kim Bum melirik arlojinya.

“Maaf.”lanjutnya menyesal. So Eun menunduk sedikit kecewa.

“Tidak apa-apa. Kau hati-hatilah menyetir.”pesan So Eun.

“Iya.”

Kim Bum kembali masuk ke dalam mobilnya. Lalu dia menyetir mobilnya dan meninggalkan apartemen So Eun. So Eun menurunkan lambaian tangannya. Perasaannya masih tidak dapat dipercaya. So Eun memeluk boneka beruang lebih erat. Tidak lama, So Eun tersenyum lebar. Dia benar-benar bahagia. Sangat bahagia.

*****

So Eun terbengong melihat Kim Bum sibuk melihat-lihat perhiasan. So Eun sangat terkejut saat Kim Bum mengajaknya ke Toko Emas.

“So Eun, menurutmu apakah cincin ini bagus?”tanya Kim Bum menunjukkan cincin silver yang berbentuk unik dan indah.

“Iya. Sangat cantik. Tetapi Kim Bum, memangnya cincin ini untuk siapa?”tanya So Eun. Kim Bum hanya tersenyum.

“Boleh aku mencobanya?”ujar Kim Bum. Karyawan itu mengeluarkan sepasang cincin dan ditunjukkannya di depan Kim Bum. Kim Bum mengambil salah satu cincin silver dan memakainya. Cincinnya muat di jari manis. Lalu Kim Bum mengambil cincin silver satunya. Dia meraih tangan So Eun dan memakainya.

“Wah.. sangat pas!”seru Kim Bum. So Eun begitu kaget melihatnya. Dia menarik tangannya sambil melepaskan cincinnya.

“Kim Bum, kenapa kau malah memakaikan cincin ini ke jariku?”tanya So Eun sambil memberikannya ke Kim Bum. Kim Bum menaruh kedua cincin ditempatnya.

“Aku hanya ingin menguji saja, apakah cincin ini muat atau tidak. Karena aku tidak tahu ukuran jari wanita.”jawab Kim Bum dengan asyiknya memandangi cincin silvernya.

“Wanita? Memangnya untuk siapa?”tanya So Eun penasaran. Kim Bum tersenyum lagi. Tersenyum rahasia.

“Rahasia.”singkatnya.

*****

So Eun mengacak-acak isi lacinya. Dia begitu cemas. Dia begitu ceroboh. Dia tidak tahu dimana terakhir kalinya dia menyimpan surat biru miliknya. So Eun menunduk ke bawah meja. Berharap dia bisa menemukannya.

“Kau sedang mencari apa, So Eun?”tanya Hye Sun tiba-tiba muncul.

“Aduh!” Kepala So Eun pun terantuk meja. Dia mengaduh kesakitan sambil menahan sakit dan keluar dari bawah meja.

“Kau baik-baik saja?”tanya Hye Sun dengan cemas.

“Aku tidak apa-apa.”jawabnya sambil berdiri.

“Kau sedang mencari apa?”

“Apa kau melihat surat yang berwarna biru? Yang sudah lusuh.”tanya So Eun memberitahukan ciri-cirinya. Hye Sun menggeleng. So Eun pun terpaksa pasrah.

“Mungkin ada dikotak sampah.”celetuk Hye Sun.

“Hah? Sungguh?” Mungkin ada disana.

So Eun pun bergegas menuju ke tempat sampah yang terletak di samping ruang tamu. Saat dia mengobrak-abrik isi kotak sampah yang penuh dengan kertas. Tidak sengaja, dia mendengar sesuatu.

“Aku sungguh tidak percaya ternyata kau benar-benar membelinya.”

So Eun pun mengintip sedikit. Dia begitu terkejut melihat wanita yang ada disamping Kim Bum.

“Goh Ara.”gumam So Eun. Goh Ara terus memperhatikan jari tangannya. So Eun melihat sebuah cincin melekat dijari Goh Ara. Cincin silver?

“Bagaimana? Kau suka?”tanya Kim Bum tersenyum. Goh Ara mengangguk.
”Iya. Aku suka. Terima kasih, aku tidak menyangka kau begitu baik padaku.”

“Tentu saja, kenapa tidak?”ucap Kim Bum mengacak rambut Goh Ara. So Eun merasa sakit melihat pemandangan itu.

“Oh iya, kapan kau akan melamarnya?”tanya Goh Ara dengan mimik seriusnya. Kim Bum menunduk tersenyum.

“Itu… aku masih memikirkan waktu yang tepat.”

“Yah! Sampai kapan kau menunggu? Bukankah kau sudah membeli cincinnya? Seharusnya kau jangan menundanya.”

“Iya. Aku tahu. Nanti malam, aku akan pergi ke apartemen. Kau juga mesti bersiap. Bukankah hari ini adalah hari istimewa?”jawabnya.

Bagaikan ada petir di siang bolong. So Eun begitu terkejut mendengarnya. Apakah dia kembali dengan Goh Ara? Mereka akan segera melamar dan akan segera menikah. Mungkinkah ini pertanda hilangnya surat biru miliknya. Sudah dia duga, seharusnya tidak usah terlalu lama memikirkannya. Tidak perlu berharap dengan cintanya. Air matanya pun keluar dari bola matanya yang indah. So Eun menyeka air matanya berusaha tidak terlalu menangisi kekecewaannya. Posisinya yang berlutut langsung berdiri. So Eun membalikkan badannya, tanpa disengaja dia menabrak So Jin yang membawa segelas kopi. Kopi itu pun mengenai kemeja So Eun yang terjatuh duduk dilantai. Kim Bum dan Goh Ara pun menengok melihat kejadian itu. Kim Bum langsung mendekati So Eun dan menolongnya.

“Kau tidak apa-apa, So Eun?”tanya Kim Bum sambil membantu So Eun berdiri.

“Ah! Maafkan aku.”ucap So Jin menyesal.

“Ah… Bajumu kena kopiku..”lanjutnya sambil membersihkan noda kopi yang begitu banyak.

“Sudahlah, tidak apa-apa.”ujar So Eun membersihkan noda di kemejanya. Tidak enak mengganggu, Goh Ara pun berpamitan pergi. Setelah Goh Ara pergi. Kim Bum kembali menghadap So Eun.

“Ikut aku keruanganku.”perintahnya. So Eun yang terbingung pun hanya bisa mengikutinya.

*****

So Eun merasa ada yang salah dimatanya. Kim Bum memberikannya pakaian baru. Sebuah pakaian wanita yang berwarna biru. Tidak salah? Dia pun menatap terkejut.

“Ada apa? Kau tidak suka?”tanya Kim Bum.

“Ah.. Tidak.. Aku hanya bingung. Kenapa kau memberikanku baju ini?”

Kim Bum tersenyum geli. Kali ini So Eun bersikap kikuk lagi.

“Aku memang sengaja membelikan baju ini untukmu. Sebagai ucapan terima kasihku karena kau mau menemaniku mencari cincin.”jawab Kim Bum. So Eun terdiam patung. Balasan terima kasih? So Eun menatap baju biru ditangannya. Ponsel Kim Bum berdering.

“Halo…” jawab Kim Bum mengangkat teleponnya sambil keluar dari ruangannya. So Eun masih tidak bergeming dari tempatnya. Matanya terus menatap baju yang berwarna biru seolah dia mengingatkan surat birunya yang hilang. Air matanya terjatuh di baju biru.

Rasanya dia ingin menangis. Mengingat Kim Bum akan segera melamar Goh Ara. Tanpa disadarinya, Kim Bum yang sedang menelepon melihat So Eun menangis memunggunginya di celah pintu yang tidak tertutup rapat.

*****

So Eun benar-benar tidak semangat. Dia meraba pakaian biru yang sudah dipakainya. Sangat halus. Dia menatap pemandangan kota yang dilewatinya begitu cepat karena dia naik taksi. Setelah sampai di apartemen, So Eun keluar dan membayar taksi itu. Hatinya yang masih dipenuhi kekecewaannya pun melangkah dengan malasnya. Hingga dia sampai di depan pintunya. So Eun membuka pintunya.

“Aku pulang!?”seru So Eun. Dia tahu orangtuanya datang ke apartemen sejak pagi tadi. Ibunya pun langsung muncul dari dapur.

“Ah, So Eun! Akhirnya kau sudah pulang.”serunya dengan pancaran wajahnya yang bahagia. So Eun pun jadi terheran.

“AYAH!? So Eun sudah pulang!?”teriak Ibunya.

“Ibu! Kenapa Ibu berteriak?”heran So Eun. Ibunya langsung merangkul So Eun dan mendorongnya menuju ke ruang tamu.

“So Eun! Kenapa kau tidak pernah cerita dengan kami kalau kau sudah punya kekasih?”

“Apa? Kekasih? Ibu. Aku tidak punya kekasih!”bantah So Eun.

“Kau jangan bohong, So Eun. Dia sudah datang kesini dan dia mau melamarmu.”

“APA! Melamar!?” So Eun makin tidak mengerti. Siapa pria yang telah melamarnya? Mereka telah sampai di ruang tamu. So Eun melihat Ayahnya sibuk berbincang-bincang dengan pria yang memunggunginya. Ibunya kembali memaksanya untuk duduk disamping Ayahnya. So Eun begitu terkejut melihat pria itu.

“Kim Bum!?”serunya. Kim Bum hanya tersenyum memandangnya.

*****

So Eun memperhatikan Kim Bum yang sedang asyik melihat pemandangan kota dari atas apartemen.

“Wah… Ternyata kau benar. Dilihat dari sini, bisa melihat pemandangan kota yang penuh berwarna.”seru Kim Bum. So Eun tidak menjawabnya. Dia terus memperhatikannya. Kim Bum membalikkan badannya.

“Kenapa kau diam saja?”tanya Kim Bum mendekati So Eun dan duduk disampingnya.

“Aku… sungguh terkejut. Kau… melamarku?”ucap So Eun menatap tidak percaya. Kim Bum tertawa geli mendengar perkataannya.

“Apakah perkataanku di ruang tamu tadi kurang jelas?”

So Eun menunduk dengan wajahnya yang memerah.

“A..aku.. masih tidak percaya. Apa kau benar-benar melamarku? Aku masih tidak percaya. Aku benar-benar dilamar olehmu? Aku takut kalau ini hanya mimpi.” perkataan So Eun pun semakin ngaco. Kim Bum memegang kedua pipi So Eun dan menatapnya.

“Ini tidak mimpi. Ini nyata. Aku serius melamarmu untuk jadi istriku.”

“Te..tapi… Kukira kau akan melamar Goh Ara.”

“Goh Ara?”

So Eun mengangguk, “Aku melihatmu memberikan cincin kepada Goh Ara.”

Tidak lama, Kim Bum tertawa lucu. Dia sungguh tidak menyangka So Eun masih polos seperti dulu.

“So Eun. Dia sudah menikah.”

“Apa!?” So Eun melongo tidak percaya. Sejak kapan Goh Ara menikah?

“Suaminya adalah teman kuliahku. Mereka baru saja menikah 2 tahun yang lalu. Kebetulan temanku memintaku mencarikan cincin yang cocok untuk Goh Ara karena dia tidak sempat membelikannya. Karena dia hanya bisa pulang malam ini tepat di hari ulang tahun pernikahannya.”jelas Kim Bum.

“Be..benarkah?”tanya So Eun. Kim Bum mengangguk.

“Lalu cincin yang kau pakaikan ditoko itu…” belum sempat So Eun menyelesaikan kalimatnya, Kim Bum memakaikan cincin silver yang pernah dipakainya. So Eun menatap terkejut.

“I..ini..”

“Itu cincinmu. Aku sengaja mengajakmu ke Toko Emas karena aku ingin membeli cincin yang cocok untukmu.”

“Kim Bum… Kau…”

So Eun tidak bisa membendung rasa terharunya. Dia pun menangis.

“Ya Ampun, So Eun.” Kim Bum memeluknya, menenangkan hatinya. Setelah tenang, So Eun pun bertanya.

“Tapi… sejak kapan kau menyukaiku?”

Kim Bum terdiam memikirkan sesuatu. Lalu dia melepaskan pelukannya dan memandang wajah So Eun yang memerah karena cuaca dingin.

“Sejak aku membaca surat cinta darimu.”jawabnya sambil mengeluarkan surat biru dari saku jaketnya. So Eun tersentak melihat surat biru miliknya yang dikiranya hilang ternyata ada ditangan Kim Bum.

“Su..suratku.. Dimana kau menemukannya?”

“Beberapa bulan yang lalu sejak aku jadi direktur baru. Aku selalu memperhatikanmu. Kau selalu saja berwajah murung, sedih, kadang bahagia saat melihat surat biru yang kau pegang. Waktu itu, suratmu terjatuh di samping meja kerjamu. Aku pun mengambilnya. Aku sangat terkejut ada namaku di suratmu. Kemudian aku membaca isinya. Aku tidak menyangka ternyata kau menyukaiku sejak SMA.”

“Ah… Itu…” So Eun tidak sanggup menjawabnya. Dia begitu malu.

“Kau begitu unik. Walaupun sudah 10 tahun kita tidak bertemu, kau tetap menyimpan suratmu sampai lusuh seperti ini.”lanjut Kim Bum.

“Aku jadi bertanya-tanya. Kenapa kau selalu menyimpan surat cintamu? Padahal seandainya kita tidak pernah bertemu…”

“Karena itu surat cinta pertamaku.”potong So Eun. Kim Bum mendengarnya seksama.

“Karena itu pertama kalinya aku membuat surat cinta begitu sulitnya. Perasaanku yang selalu sakit bila dipendam akhirnya bisa lega setelah dituangin ke dalam tulisan. Namun begitu aku ingin menyerahkan suratku kepadamu, kau sudah memiliki kekasih yaitu Goh Ara. Aku pun mengurungkan niatku walaupun hatiku kembali sesak dan sakit hati. Ketika lulus, aku mendengar Goh Ara sudah putus denganmu dan kau malah pergi ke London. Hatiku belum tersampaikan melalui surat itu. Aku pun mengejarmu di Bandara. Ingin menyerahkan surat cintaku walaupun andaikan kau menolakku. Setidaknya perasaan sakitku ini bisa berkurang. Namun aku… gagal.. Kau sudah pergi ke London. Aku sengaja menyimpan surat itu dengan harapan bisa bertemu denganmu lagi. Walaupun 30 tahun telah berlalu, aku tetap akan menyerahkan suratku kepadamu. Karena kau adalah cinta pertamaku.”

Akhirnya So Eun bisa mengeluarkan semua perasaannya yang terpendam selama 10 tahun lebih ini. Kim Bum menatap penuh takjub. Dia tidak menyangka, So Eun begitu setia dengan perasaannya. So Eun terus menangis. Bukan sakit hati yang dirasakannya. Melainkan ketenangannya setelah dipendam begitu lama. Kim Bum kembali memeluknya. Dia tersenyum senang.

“Terima kasih, kau begitu setia menungguku. Terima kasih, kau begitu setia dengan perasaanmu. Sungguh, aku hampir tidak percaya lagi dengan wanita yang tidak pernah setia denganku. Wanita yang hanya memandangku dari ketampanan dan kekayaanku. Bukan dari ketulusan cintanya. Aku sungguh beruntung, setelah 10 tahun aku bertemu denganmu lagi. Jujur. Waktu SMA, kau begitu unik. Karena setiap aku mendekatimu, kau selalu saja gugup. Aku pikir apakah kau sedang takut denganku? Namun sekarang, kau masih tetap sama seperti yang dulu. Selalu saja gugup disampingku. Aku begitu senang saat membaca surat cintamu itu. Ternyata kau tidak membenciku. Ternyata selama ini kau menyukaiku. Aku pun jadi jatuh cinta dengan isi suratmu yang begitu tulus.”

So Eun melepaskan pelukannya dan menatap Kim Bum.

“Sungguh?”

“Iya. Aku jatuh cinta dengan wanita yang membuat surat cinta dengan tulus, yaitu kau.”

So Eun tersenyum senang. Dia begitu terharu mendengar perkataannya. Kim Bum mendekati wajahnya dan dia mencium bibir So Eun.

“Ah.. Tunggu.”seru So Eun melepaskan ciumannya yang hanya sebentar.

“Ada apa?”tanya Kim Bum.

“Uhm… Itu… Aku….” So Eun menunduk masih tetap dengan malunya. Dia masih belum siap berciuman dengan Kim Bum lebih dalam karena dia begitu gugup. Kim Bum yang membaca ekspresinya pun tersenyum.

“Aku sudah terlalu lama menunggu saat-saat ini.”

“Apa!?”

Kim Bum mencium bibir So Eun tanpa memberi kesempatan kepada So Eun untuk bertanya lebih lanjut.

~*THE END*~

NB: 1. SELESAI BACA, JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA!!! ^^

2. Bagian mana yang menurut Kalian paling romantis, tidak terduga, emosi, n sedih? DIJAWAB YA ^^

61 responses to “My First Love Letter [2/2]: Keajaiban Surat Cinta

  1. ainami September 8, 2014 pukul 2:24 pm

    berkaca2 saking terharunya… gila sepuluh taun kagak ilang2 ya perasaan sso ke bum dan surat itu tetep disimpen..

    penantian sso pun terbalas dengan sebuah lamaran dari bum huwaa so sweet

    untung suratnya terus disimpen ya xixixi

    ♥♥♥

  2. Herlina Darmayanti September 18, 2014 pukul 5:41 am

    So Eun Memang Tipe Wanita Yg Benar2 Setia ,, Buktinya Dia Tetap Setia Dgn Perasaanx Ke Bumppa Walau Sudah 10 Tahun Lebih Menunggu Bumppa Kembali Hingga Bumppa Dapat Mengetahui Perasaan Yg Di Curahkannya Melalui Sebuah Surat Biru ,benar2 Mengharukan Ternyata Penantian So Selama Ini Tdk Sia2 :’)

  3. sabanaRyuga Oktober 5, 2014 pukul 12:34 pm

    co cweet…

  4. vinnie (soeulmates) Oktober 11, 2014 pukul 3:39 pm

    romantisnya…kagum deh ma kesetiannya sso sama kim bum.
    keren..

  5. Diinah Hoeriiah Oktober 30, 2014 pukul 1:51 am

    soswiitt bangett. jadii kaguM saMa sso eun

  6. Marthatina vita vienna Maret 11, 2015 pukul 3:08 pm

    Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar menunggu seseorang yang dicintai,salut banget sama so eun,dia mampu bertahan hingga 10 tahun,menunggu cinta pertamanya.

  7. mia September 12, 2015 pukul 4:45 am

    akhir nya mereka bersama lagi

  8. Humairah Khairani Desember 11, 2015 pukul 1:34 pm

    kiira kiim bum akan menikah dengan go ara. egak tau nya salah paham saja. untung go ara sudah menikah…
    selamatnya untuk so,,, cintanya bisa di dapatkankan walau sudah 10 tahun.. engk ilang2 itu perasaan.

  9. Siti Arifah April 23, 2016 pukul 12:04 pm

    ow..mereka bisa bersatu.Salut buat so eun yg bs menyimpan surat & rasa cinta pertama nya selama 10 tahun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: