RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

Grudge Love [Part 1]


WARNING:

FF ini murni q buat dengan khayalan ala korea, bukan dari drama korea. FF ini ada sedikit unsur kekerasan dan semi NC. Lebih cocok dibaca untuk diatas 16 tahun, jika ada yang nekat, q tidak akan bertanggung jawab. Syukur-syukur q tidak jadi memprotect FF ini. Satu lagi, jika banyak yang komen tentang FF ini. Insya allah akan q lanjutkan part-partnya. Minimal 10 komen, akan q posting lanjutan partnya. Happy Reading!?

GRUDGE LOVE [PART 1]

‘BRUGH’

‘PLAK’

Suara pukulan dan tamparan itu dilakukan berulang kali ditoilet. Seorang anak perempuan berusia 10 tahun terjatuh tepat dilantai kotor. Bibirnya berdarah, rambutnya yang sudah dikuncir rapi kini tergurai berantakan, dan pakaiannya pun jadi kotor karena berkali-kali jatuh mengenai lantai kotor. Rambutnya dijambak lagi.

“Kenapa nilaimu lebih besar dari nilaiku? Padahal kau sendiri yang mengerjakannya, So Eun.”

Anak perempuan yang dipanggilnya So Eun pun meringis kesakitan. Dia menatap anak lelaki yang sebaya dengannya penuh dengan tatapan sedih karena menahan sakitnya.

“Ak.. Aku… tidak tahu, Kim Bum. Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi.”

Kim Bum melepaskan jambakannya dengan kasar. Membuat So Eun terjatuh di lantai kotor lagi.

“Aku tidak mau tahu. Pokoknya kau mesti bilang kepada guru kalau nilaimu itu adalah nilaiku! Mengerti!?”serunya sambil keluar dari toilet. So Eun menangis terisak. Menahan rasa sakit disekitar tubuhnya. Sejak dia pertama kali masuk sekolah, dia sudah merasakan perasaan yang tidak enak saat bertemu dengan anak lelaki yang tampan namun memiliki sifat tersembunyi, Kim Bum. Di hadapan para guru dan teman-teman, Kim Bum selalu tersenyum ramah dan baik. Namun dihadapannya, mata Kim Bum memancarkan penuh kebencian terhadap So Eun. Sudah berkali-kali So Eun bertanya kepada Kim Bum kenapa Kim Bum selalu menyiksanya. Tetap saja Kim Bum tidak mau menjawabnya, malah semakin sering menyiksanya membuat So Eun terdiam menurut kepadanya.

*****

Pada malam harinya. So Eun sibuk membereskan buku-bukunya yang akan disiapkan untuk sekolah esok harinya. Ketokan pintu pun terdengar, So Eun segera membuka pintunya.

“Bibi Ha Ji Won. Ada apa?”tanya So Eun. Ha Ji Won adalah adik dari Ibunya. Orang tua So Eun sudah meninggal karena kecelakaan 3 tahun yang lalu. Karena So Eun batang kara, maka dia ikut dengan bibinya, Ha Ji Won.

“So Eun…”panggilnya lembut sambil menarik So Eun untuk duduk di kasur bersamanya.

“Iya, Bi?”

“So Eun. Maaf, aku tahu kau pasti sayang sekali dengan tempat ini.”ucap Ha Ji Won terkadang menunduk, berusaha hati-hati dengan ucapannya. So Eun mengerutkan keningnya.

“Maksud Bibi?”

Ji Won membelai kepala So Eun yang kecil itu. Membelai lembut membuat So Eun merasa hangat dan nyaman setelah apa yang menimpanya tadi di sekolah.

“Besok kita harus pindah ke Seoul karena Bibi dipindah tugaskan disana. Jadi kau harus berkemas barang-barangmu. Kau tidak keberatan kan, sayang?”ujar Ha Ji Won kembali membelai rambut So Eun yang halus. Mata So Eun membelalak mendengarnya. Pindah ke Seoul? Kalau dia pindah, berarti dia harus pindah sekolah dan Kim Bum tidak akan menyakitinya lagi. Senyuman pun merekah dibibir So Eun.

“Tidak, Bibi. Aku sangat tidak keberatan! Aku malah senang mendengarnya!?”seru So Eun yang begitu kegirangan mendapat kabar baik. Melihat tingkah So Eun, Ji Won hanya tersenyum.

“Baiklah, sekarang berkemaslah. Besok pagi-pagi kita akan pergi ke Bandara.”

“Iya, Bibi!”

*****

Keesokan harinya, pada malam hari. Terdengar suara gelas pecah karena dilempar begitu kuat.

“APA!? SO EUN PINDAH?!”teriak Kim Bum seakan mendengar berita yang sangat buruk baginya.

“Iya, Tuan.”ucap anak buahnya dengan ketakutan melihat kemarahan tuan mudanya.

“Brengsek! Rupanya dia ingin kabur dariku. Pantas saja, tadi pagi aku tidak melihatnya di kelas. Kim So Eun, dimana saja kau berada. Aku pasti akan menemukanmu.”batin Kim Bum dengan geramnya.

“Tuan muda..” panggil pelayan wanita itu saat memasuki kamarnya yang tidak terkunci.

“Ya. Ada apa?”

“Tuan muda dipanggil Tuan besar.”

Kim Bum mengernyitkan keningnya. Untuk apa lagi Ayah memanggilnya? Kim Bum pun segera turun dari kamarnya dan menuju ke ruangan tempat Ayah biasa bekerja.

“Ada apa, Ayah?”tanya Kim Bum sambil duduk di sofa tanpa disuruh. Ayahnya mengalihkan perhatiannya ke Kim Bum yang sudah datang. Dia tersenyum.

“Anakku, Kim Sang Bum. Mungkin sekarang saatnya aku memberitahu siapa calon istrimu.”

“Sudah kuduga.”tebak Kim Bum dipikirannya. Dia pernah mendengar bahwa Ayahnya akan segera menjodohkannya. Akan tetapi Ayahnya tidak memberitahukan nama calon istrinya. Sebenarnya Kim Bum tidak setuju dengan perjodohan ini mengingat usianya yang masih sangat muda.

“Kalau begitu. Siapa namanya, Ayah?”tanya Kim Bum langsung. Dia tidak suka basa basi. Ayahnya tidak langsung menjawab. Dia menyuruh pengawalnya memberikan dokumen yang dipegangnya kepada Kim Bum. Kim Bum menerimanya dengan penasaran. Dia pun membuka isi dokumen, terlihat isi biodata calon istrinya dengan lengkap. Dia tertegun saat membaca namanya.

“Kim So Eun?”

“Iya. Kim So Eun, anaknya Lee Young Ae.”

Hati Kim Bum merasa panas. Dia begitu emosi. Dilemparnya dokumen itu secara sembarangan.

“Aku tidak mau! So Eun tidak menarik bagiku. Dia sangat buruk. Dia tidak cantik. Dia tidak….”

‘BRAK!’

Terdengar suara gebrakan meja yang emosi saat mendengar penolakan anaknya.

“Kau tidak bisa menolaknya, Kim Bum! Kau harus menikah dengan anak itu!?”

Kim Bum terdiam dengan emosinya. Tangannya mengepal. Dia sangat membenci anak itu.

“KENAPA AYAH HARUS MEMILIH DIA YANG IBUNYA TELAH MEMBUNUH IBUKU!?”teriak Kim Bum keluar sambil membanting pintu dengan kerasnya tanpa mempedulikan panggilan Ayahnya. Ayahnya hanya terdiam melihat Kim Bum keluar tanpa menyahutnya. Ayahnya pun duduk di kursinya. Dia meregangkan tubuhnya untuk melepaskan rasa lelah dan frustasinya.

Sementara itu, di kamar Kim Bum. Kim Bum terus menghancurkan semua barang yang ada dikamarnya untuk melampiaskan kemarahannya yang tidak terbendung. Para pelayan yang ada di luar kamar hanya bisa terdiam karena terbiasa dengan kebiasaan tuan mudanya. Kim Bum terus membanting vas bunganya dengan emosi.

“Kim So Eun… Kali ini aku benar-benar tidak akan melepaskanmu. Aku pasti akan menemukanmu.”geramnya tanpa mempedulikan tangannya yang sudah terluka dan berdarah karena menghancurkan cermin.

*****

9 TAHUN KEMUDIAN…..

“SO EUN!?”

So Eun menengok dengan membawa beberapa buku tebal. Dia menatap temannya yang menghampirinya.

“Iya, ada apa?”

“Kau dipanggil guru Jaejoong di kantor.”

“Ah… Iya, terima kasih.” Temannya pun berbalik kembali ke tempat asalnya. So Eun juga berbalik menuju ke arah kantor dengan sedikit tergesa-gesa. Saat ini Kim So Eun adalah seorang siswi kelas dua SMA. Dia begitu bahagia tinggal di Seoul karena dia bisa melupakan masa lalunya yang menyakitkan. 9 tahun yang lalu selalu disiksa Kim Bum. Hari ini, dia benar-benar bebas dan bisa merasakan bahagianya.

‘DUK!’

So Eun telah menabrak seseorang dan buku-bukunya jatuh berserakan dilantai.

“Maaf. Aku tidak sengaja menabrakmu.”ucap So Eun menyesal. Dia melihat wajah pemuda itu yang sedang memungut buku-buku miliknya yang jatuh berserakan. Pemuda itu sangat tampan membuat So Eun tidak bisa mengedipkan matanya karena terpesona dengan ketampanannya. Pemuda itu memandang So Eun dengan serius. Sorotan matanya yang seakan berusaha mengenali So Eun. Sorotan mata yang tajam dan dingin. Sadar dengan situasinya, So Eun langsung pergi ke kantor dengan buru-buru setelah memungut buku-bukunya. Pemuda itu terlihat kecewa. Namun, dia menemukan sebuah buku bersampul coklat yang ditinggalkan So Eun. Mengambil dengan perlahan dan melihat nama pemilik buku itu. Dia tersenyum dan menyimpan buku itu di tasnya. Buku yang bertuliskan:

NAMA            : KIM SO EUN

KELAS           : 3C

Pemuda itu terus berjalan menyusuri lorong menuju ke ruangan kepala sekolah.

Di ruangan kepala sekolah. Kim Ryu Jin, sang kepala sekolah sedang sibuk mengurus dokumen-dokumennya. Tiba-tiba dia terkejut mendengar suara pintu terbuka. Dengan buru-buru, dia bangkit dan membersihkan kursinya yang dari tadi ditempatinya.

“E.. Tuan muda. Tuan muda sudah datang rupanya.” Sapa Ryu Jin dengan sedikit gugup. Namun pemuda itu tidak mempedulikannya. Dia langsung menduduki kursi yang telah dibersihkan Ryu Jin. Kakinya diletakkan diatas meja menimpa dokumen-dokumen yang tadi tersusun rapi jadi berantakan. Pemuda itu membuka tasnya dan mengambil buku yang baru saja dipungutnya, lalu dilemparkannya diatas meja.

“Aku mau sekelas dengan gadis ini.”perintahnya. Ryu Jin pun mengambil buku bersampul coklat dengan gugupnya.

“Kim So Eun, kelas 3C?”gumam Ryu Jin.

“Iya.”

“Baik, Tuan muda.”

*****

Suasana di kelas 3C tampak begitu ramai. Ada yang sedang membaca buku sambil makan permen karet, ada yang sedang menjahili teman sebangkunya. So Eun yang bangkunya berada di depan dekat pintu melihat sosok dua orang yang sedang jalan menuju ke kelasnya. So Eun mengernyitkan keningnya. Dia merasa kenal dengan dua orang itu. Diperhatikannya baik-baik, ternyata sosok itu adalah kepala sekolahnya, Ryu Jin. Dan disebelahnya, seorang pemuda. So Eun merasa pernah bertemu dengannya. Ah. Pemuda yang ditabrak So Eun tadi pagi. Namun, entah kenapa So Eun merinding melihat pemuda itu. Pemuda itu memperhatikan So Eun dengan senyuman misterius dan sorotan matanya yang dingin. So Eun semakin takut memandangnya. Dengan cepat, dia mengalihkan pandangannya.

“Baiklah, anak-anak!” teriak Ryu Jin menghentikan keramaiannya setelah memasuki kelas 3C. Perlahan, So Eun kembali memandang pemuda itu. Dia masih menatap So Eun. Dengan senyuman dan tatapan mata yang sama. So Eun kembali membuang muka dengan paniknya.

“Anak-anak, kali ini akan ada siswa baru.” Para gadis yang ada dikelas itu hanya melongo melihat ketampanan pemuda itu. Pemuda itu berbisik kepada Ryu Jin. Ryu Jin mengangguk mengerti.

“Baiklah, perkenalkan namanya Kim Sang Bum. Dia baru saja pindah dari London.”

Kim Sang Bum? Tunggu! Nama itu…. Tiba-tiba teringat masa lalu 9 tahun yang lalu. Kim Bum yang selalu memukulnya, selalu menyiksanya, dan kini dia hadir dihadapan So Eun! So Eun menatap terkejut. Kim Bum tetap saja melihat So Eun. Senyumannya seakan sedang menertawainya.

“Hyo Min!”panggil Ryu Jin.

“Iya, pak?”jawab Hyo Min yang duduk sebangku dengan So Eun.

“Kau pindah ke belakang!”

So Eun panic mendengarnya. Pindah kebelakang? Jangan-jangan..

“Hyo Min. Aku mohon, kau jangan pindah.” Mohon So Eun sambil menarik lengannya.

“Tapi So Eun, Pak Ryu Jin menyuruhku pindah. Aku tidak mau dimarahin bapak itu. Kau tau sendiri kan bagaimana sangarnya…”

“HYO MIN! KENAPA KAU MASIH DI SITU? CEPAT PINDAH!”bentak Ryu Jin tidak sabaran.

“I.. Iya, pak!” Hyo Min segera pindah dari kursinya menuju ke bangku belakang.

“Hyo Min! Hyo Min!” So Eun memanggilnya kembali.

“Kim So Eun.”panggil Ryu Jin dengan lembut. So Eun kembali memperhatikan Ryu Jin.

“Kau akan sebangku dengan Kim Bum.”

Jantung So Eun seakan berhenti mendengarnya. Sebangku? So Eun memandangi Kim Bum. Dia masih tersenyum. Mulai berjalan menuju ke kursi disamping So Eun. Tubuh So Eun mulai gemetar ketakutan.

“Hai, So Eun.”sapa Kim Bum dengan suaranya yang berbeda. Berbeda dengan yang dulu. Suaranya yang penuh emosi kini menjadi lembut. So Eun hanya menoleh dengan gugupnya lalu kembali berpaling darinya. Dia tidak sanggup melihat wajah Kim Bum yang kini tampan namun mengerikan. So Eun merasa Kim Bum mempunyai sesuatu yang lain.

“Ini bukumu kan?”tanya Kim Bum sambil mengulurkan buku bersampul coklat. So Eun melotot melihat buku yang dicarinya dari tadi. Buku yang disangkanya hilang atau ketinggalan dirumah. Dengan menunduk, dia langsung mengambil bukunya dari tangan Kim Bum.

“Terima kasih.”ucapnya dengan pelan.

“Sama-sama.”

*****

‘TENG! TENG!’

Bunyi lonceng menandakan istirahat. Para siswa berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing. So Eun ingin beranjak keluar tetapi dia ada dipojok karena Kim Bum masih ada disebelahnya.

“Bagaimana kabarmu?” Akhirnya Kim Bum pun mulai berbicara dan memecahkan kesunyiannya.

“Ng? A..Aku… Baik…”

So Eun rasanya ingin menangis. Dia takut Kim Bum akan menyiksanya lagi.

“Ayo, ikut aku!” Kim Bum menarik tangan So Eun. So Eun terkejut dan bingung. Dia heran Kim Bum akan membawanya kemana. Jangan-jangan dia akan menyiksa So Eun lagi. Memukulnya karena So Eun berani kabur darinya? So Eun terus memikirkannya. So Eun berusaha menarik tangannya dari cengkraman Kim Bum yang disadarinya terlalu kuat. Namun sulit, tangannya semakin sakit saat ditarik paksa. Orang-orang yang ada disekitarnya menjadi heran dan berbisik-bisik. Mereka terus berjalan menyusuri lorong. So Eun melihat papan yang bertuliskan ‘Toilet’.

“Apakah ke toilet?”batin So Eun yang kini benar-benar panic. So Eun menutup matanya, berharap Kim Bum tidak akan memukulnya. Ruang toilet pun dilewatinya.

“Bukan ke toilet?”batin So Eun saat membuka matanya. Dia pun semakin heran. Hingga mereka berhenti di depan ruang kepala sekolah. Kim Bum membuka pintunya dan menarik So Eun masuk sambil melepaskan cengkramannya. So Eun terdiam sambil mengelus pergelangan tangannya yang memerah karena cengkraman Kim Bum tadi. Kim Bum menutup pintu dan menguncinya. Lalu dia berbalik menghadap So Eun. Kim Bum memperhatikan penampilan So Eun dari atas sampai bawah. Kim Bum tersenyum lagi. Dia mendekati So Eun. So Eun memundurkan tubuhnya agar Kim Bum tidak mendekatinya. Namun nihil, kini punggungnya menempel di dinding. So Eun begitu tercekat, dia ingin melewati Kim Bum. Namun Kim Bum memenjarakan tubuhnya hingga So Eun tidak bisa melewati dan menghindarinya lagi.

“Sembilan tahun ini aku terus mencarimu. Kau begitu berani membantah perintahku. Kau tahu apa artinya jika kau melawanku? Kau harus dihukum.”ucap Kim Bum berbisik ditelinga So Eun membuat So Eun merasa tidak nyaman. Dia terkejut melihat Kim Bum hendak melayangkan tangannya. So Eun langsung menutup mata, tidak sanggup melihat dirinya akan dipukul lagi seperti sembilan tahun yang lalu. Namun ada sentuhan lembut di pipinya. Perlahan So Eun membuka matanya. Dia terkejut melihat Kim Bum menyentuh dan mengelus pipinya dengan lembut.

“Aku sungguh tidak menyangka ternyata kau secantik ini, So Eun. Sudah lama aku tidak melihatmu. Apa kau tahu, begitu tersiksanya diriku saat memikirkanmu selama sembilan tahun ini. Memikirkanmu apakah kau akan sangat buruk hingga kau pantas untuk dipukuli lagi? Memikirkan apa yang harus aku lakukan saat akan bertemu denganmu lagi?”

So Eun menelan ludah. Terdengar seperti ancaman baginya. So Eun membiarkan Kim Bum terus menyentuh wajahnya.

“Melihatmu seperti ini. Kau tumbuh jadi gadis yang sangat cantik. Sepertinya aku tidak akan menyesal menerimanya.”

So Eun tidak mengerti dengan kalimat terakhirnya. Ingin bertanya dengannya. Namun bibirnya ditahan bibir Kim Bum. So Eun tersentak melihatnya. Dia tidak percaya Kim Bum menciumnya padahal dulu dia begitu jijik melihatnya. Kim Bum terus melumat bibir So Eun yang masih tertutup rapat. So Eun meronta saat ciumannya mulai kasar, dia bisa merasakan tekanannya yang begitu kuat. So Eun berusaha mendorongnya namun Kim Bum terlalu kuat memeluknya. Karena So Eun tidak mau membuka mulutnya, Kim Bum pun menggigit bibir bawah So Eun. So Eun kesakitan hingga bibirnya terbuka. Lidah Kim Bum langsung memasuki rongga mulutnya. Dia melumat isi mulutnya. Mempermainkan lidah So Eun dan menyedot salivanya. So Eun begitu sesak dan sakit diciumnya. So Eun terus berusaha mendorong tubuhnya. Tetap gagal. So Eun benar-benar kekurangan oksigen, namun Kim Bum tidak mempedulikannya. Dia terus melumatnya, terus menguasainya. Setelah puas melumatnya, tangan Kim Bum menurun ke kerah seragam So Eun. Ditariknya kesamping hingga beberapa kancing terlepas dan menampakkan leher dan pundaknya yang polos. Dilepaskan ciumannya beralih ke leher So Eun.

“Kim Bum! JANGAN…. AHHH…”

So Eun mendesah saat Kim Bum mencium lehernya, menjilatinya dan menggigitinya hingga meninggalkan kissmark dikulit lehernya begitu juga dipundaknya. So Eun menangis, takut Kim Bum akan berbuat lebih jauh lagi. Takut Kim Bum akan memperkosanya. Setelah beberapa menit menguasai leher dan pundaknya. Kim Bum menghentikan aksinya. Dia melepaskan tubuh So Eun. Membiarkan So Eun terduduk lemas dan menangis.

“Mulai saat ini, kau adalah milikku selamanya. Kissmark ini sebagai buktinya.”ucap Kim Bum sambil berlutut dan menyentuh leher So Eun yang tertanda kissmarknya. So Eun masih menunduk ketakutan. Tidak mau menatapnya.

“Kenapa? Kenapa kau lakukan ini? Bukankah dulu kau membenci wajahku? Bahkan tubuhku. Kenapa kau lakukan ini?”tanya So Eun berulang dengan shocknya. Dia tidak menyangka dengan perlakuan Kim Bum yang sangat berbeda. Kim Bum tersenyum. Dipegang wajahnya untuk memandangnya. So Eun pun bertatapan dengan shocknya. Kim Bum tersenyum lagi.

“Sungguh cantik. Aku menyukai wajahmu yang sekarang bahkan juga tubuhmu. Semua yang ada dirimu aku menyukainya, So Eun.”

Kim Bum mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya lagi.

TO BE CONTINUED……..

NB: Jangan Lupa Di Komen Ya!! ^^

110 responses to “Grudge Love [Part 1]

  1. windy atika Juni 4, 2015 pukul 10:27 am

    Author keren nih cerita nya lanjutin dong .. penasaran banget nih thor

  2. riqkarak Juli 28, 2015 pukul 4:06 am

    bagus critanya

  3. mia September 9, 2015 pukul 8:52 am

    kim bum oppa aneh

  4. Dela safitri September 15, 2015 pukul 6:31 pm

    Buset oppa serem amat
    Ko tega bener sama seorang yeoja ?
    Sampai sso di siksa seperti itu
    Kok oppa tiba2 berubah walau auranya masih sangat menakutkan.
    Ada apa sebenarnya dgn 9 tahun kebelakang apa yg buat oppa berub?
    Apa ini jg salah satu cara oppa buat hancurin sso?

  5. Yoonghwae September 27, 2015 pukul 2:16 am

    Anyeong
    Aku reader baru disini!!
    Minta ijin buat baca ffnya ya thor

  6. Aliana Park Desember 23, 2015 pukul 4:24 pm

    Waduh… Ceritanya keras nih bumppa… Next part

  7. nanda Maret 9, 2016 pukul 9:45 am

    bummpa bnrn ska sso eonni or hya ign bls dndam?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: