RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

My Prince Is Bad Boy [Part 12]: Misteri Pernikahan dan Keluarga


Kim Bum segera melepaskan pelukan Ji Yeon. Dia menatap tidak percaya.

“Kenapa kau ada disini, Ji Yeon?”tanyanya lagi.

“Kenapa? Justru aku yang harus bertanya kepadamu, selama 5 tahun ini kenapa kakak menghilang? Apa Kakak tidak tahu bagaimana perasaanku saat aku tidak bertemu dengan Kakak lagi.”jawab Ji Yeon terdengar begitu serius.

“Kenapa kau bertanya begitu? Bukankah kau sudah tidak mencintaiku lagi?” Kim Bum begitu dingin melihatnya. Terlihat ada rasa kekecewaannya yang begitu mendalam pada masa lalunya.

“Ah… I.. Itu….”

“Bukankah kau yang memilih untuk mengikuti orang tuamu? Setelah kejadian itu, kau sendiri yang malah menghilang dan meninggalkan surat yang menyakitkan darimu.”

“Tidak…! Surat itu tidak sungguh-sungguh aku yang buat.”

“Kenapa?”

“Aku… aku….”

Kim Bum begitu jenuh dengan sikap Ji Yeon yang masih tidak ada tegasnya. Kim Bum menunduk mengambil kunci mobil dan cincinnya yang terjatuh tadi. Lalu dia berbalik hendak membuka pintu mobilnya.

“Tapi aku masih mencintaimu, Kak Kim Bum! Bahkan luka yang aku derita pun tidak bisa dihilangkan!?”

Kim Bum tegang kembali, dia membalikkan tubuhnya.

“Luka?”
”Iya. Luka saat kita kecelakaan dulu kini masih membekas bahkan tidak bisa disembuhkan. Kau tau, aku… aku hampir saja mati kalau aku tidak cepat dioperasi.”

“Apa?”

Ji Yeon langsung menunjukkan bekas jahitan operasi pada lehernya, “Kau tahu, pecahan kaca mobil itu telah menancap leherku, aku hampir saja mati.”jelasnya.

“Sungguh?” Kim Bum benar-benar tidak tahu kalau akibat perbuatannya begitu fatal. Ji Yeon langsung memeluk Kim Bum yang terlihat masih tegang dan shock.

“Kau tahu, selama ini aku selalu memikirkan Kakak. Aku selalu memikirkan bagaimana keadaan Kakak. Apakah kondisi kakak lebih parah dariku? Tetapi tanpa aku ketahui, orangtuaku malah membawaku ke Amerika disaat aku tidak sadarkan diri dan memaksaku untuk bertunangan dengan orang lain.”

Kim Bum masih tidak bisa menjawab. Dia masih terlihat shock.

“Kakak tahu, aku tidak jadi bertunangan karena aku masih mencintaimu. Dan… dan… dan mereka pun akhirnya mengalah saat aku mengancam akan bunuh diri.”

*****

“Bagaimana bisa ini terjadi? Dia bukan Ibu Kandungku?”tanya Kyu Hyun berkali-kali membaca hasil penelitian Si Won. Berharap tidak salah dengan yang dilihatnya.

“Iya. Aku juga tidak percaya. Tetapi itu lah hasilnya.”

“Jadi… siapa Ibuku yang sebenarnya?”

Si Won hanya mengangkat bahu. Dia memang tidak tahu.

“Aku sudah mencurigainya. Sikap Ibu sangat aneh. Dia begitu sangat membenci Kim Bum dan Ibunya.”gumam Kyu Hyun meletakkan hasil dokumennya.

“Aku harus mencari tahu soal ini.”

*****

Shin Hye keluar dari kamar pasien dengan suasana yang sangat terkejut. Shin Hye terus memikirkannya. Dia masih tidak percaya dengan penjelasan wanita yang ditolongnya itu. “Tidak mungkin. Bagaimana ini bisa terjadi? Aku harus memberitahukan mereka. Iya, aku harus memberitahukannya. Tapi… bagaimana ini? Jika mereka tidak percaya denganku?” Shin Hye berpikir keras. Apalagi saat mendengar cerita wanita itu bahwa nyawanya hampir melayang saat ingin menemui Kyu Hyun.

“Aku harus membawanya pulang ke Korea. Aku harus melindunginya.” Shin Hye segera memencet tombol ponselnya.

“Halo…. Jang Geun Suk. Kau masih di Jepang kan? Bisa kau pesankan tiket ke Korea?”

*****

Kim Bum meletakkan kunci mobilnya di atas meja. Dia menarik dasi dan terbaring di kasur. Dia begitu lelah. Sangat lelah. Dia menutup matanya, berharap tidak mengingat kejadian tadi. Tapi mustahil. Kata-katanya terus ada dipikirannya. Perkataan wanita yang pernah dicintainya dulu.

“Aku sudah bersusah payah mencarimu sampai kesini. Kak Kim Bum, aku mohon. Nikahilah aku, aku sudah sangat menderita dengan luka ini. Aku akan memperbaiki semua masa lalu kita. Aku mohon. Aku tidak bisa hidup tanpa Kak Kim Bum. Aku sudah tidak memiliki siapa pun selain Kakak. Aku sudah meninggalkan keluargaku. Aku benar-benar sendiri. Aku mohon.”

Kim Bum menghembuskan nafasnya yang penuh stress. Padahal dia tidak mencintainya lagi. Kini hatinya hanya untuk Kim So Eun. Dia masih mengingat kata-katanya lagi.

“Aku tahu, kau memiliki seorang tunangan dan kau akan segera menikah dengannya. Bisakah kau membatalkan pernikahanmu demi aku? Apa lagi sepertinya wanita itu tidak sungguh-sungguh mencintaimu, Kak. Apa kau tidak akan tersiksa menjalani pernikahan tanpa dia mencintaimu nanti, Kak? Aku mohon kak. Aku masih mencintai Kakak. Lihatlah bekas luka ini, ini luka yang aku dapatkan darimu. Aku mohon, bertanggung jawablah terhadapku. Bukankah lebih baik kakak menikah dengan wanita yang mencintaimu. Aku juga yakin, Kakak pasti masih mencintaiku.”

Kim Bum bangkit dari tidurnya. Dia berkali-kali memijat keningnya yang terasa pusing dan lelah. Seharusnya kejadian itu tidak benar-benar terjadi. Seharusnya dia tidak menyetir dengan ngebut. Seharusnya tidak terjadi kecelakaan fatal saat membawa Ji Yeon kabur dari pertunangannya. Iya. Seharusnya Ji Yeon tidak mendapatkan luka yang begitu fatal. Tetapi benarkah Kim So Eun masih tidak bisa mencintainya? Memang So Eun menerimanya dengan terpaksa. Tetapi dia sudah tergila-gila dengan So Eun. Pilihan yang begitu sulit.

“Kim So Eun.” Gumamnya.

*****

Keesokan harinya, So Eun benar-benar terkejut melihat Kim Bum ada di rumahnya. Kim Bum terus tersenyum.

“Kenapa? Ada acara apa kau datang kesini?”tanya So Eun yang memang heran karena Kim Bum tidak menelponnya kalau dia akan datang ke rumahnya. Kim Bum mendekati So Eun.

“Aku ingin berkencan denganmu. Ayo!” Kim Bum menarik tangan So Eun menuju ke mobilnya. So Eun hanya bisa pasrah.

*****

Lee Teuk terus mendengar curhatan Ga Eul tentang Kyu Hyun dan Hyuk Jae. Beberapa kali Lee Teuk tersenyum lucu saat melihat ekspresinya yang sedang kesal karena sikap mereka.

“HEI! Kau dengar ceritaku tidak? Kenapa kau malah tersenyum mulu?”kesal Ga Eul sambil meletakkan sendoknya dengan kasar. Mereka berada disebuah kafe yang biasa mereka bertemu.

“Aku mendengarkanmu, Ga Eul. Aku tersenyum karena melihat ekspresimu yang cemberut itu begitu cute.”

Pipi Ga Eul memerah saat mendengarnya, “Sudahlah. Jangan merayuku terus.”

“Hahaha! Kenapa kau begitu tersipu? Aish.. sampai kapan kau menutup hatimu? Tidak bisakah beri aku kesempatan untuk mendapatkan hatimu?”

Ga Eul terkejut mendengar perkataan Lee Teuk yang sedikit aneh.

“Apa maksudmu?”

“Dulu… waktu aku menolak cintamu. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku benar-benar bodoh. Gadis secantik dirimu kenapa harus aku tolak? Kim Ga Eul, aku sungguh minta maaf kelakuanku waktu itu. Tapi… saat ini aku benar-benar jatuh cinta denganmu. Apakah aku bisa mendapatkan cintamu, Ga Eul?”

Ga Eul begitu terpana mendengarnya. Padahal dia begitu pusing dengan sikap Hyuk Jae dan Kyu Hyun yang sedang memperebutkan dirinya. Kini ditambah lagi si Lee Teuk.

“Mm… Maafkan aku. Aku… tidak bisa. Kau sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Aku…” Ga Eul begitu bingung harus berkata apa lagi. Lee Teuk tersenyum, sepertinya dia sudah menduga apa yang dijawabnya. Tiba-tiba dia tertawa keras membuat Ga Eul terkejut.

“Kenapa kau tertawa?”

“HAHAHAHA…! Ga Eul, kau begitu lucu.”

“Apa? Jangan-jangan… HEI! Kau mempermainkan aku lagi?” Ga Eul langsung memukulnya dengan tas kecilnya. Sangat menyebalkan.

“Sudahlah! Aku tidak ada mood lagi untuk berbicara denganmu!?” Ga Eul langsung beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkannya. Lee Teuk menatap punggung Ga Eul yang semakin menjauh, dia menyentuh dadanya. Hatinya merasa sakit saat ditolaknya. Beginikah yang dirasakan Ga Eul saat dia menolak cinta Ga Eul.

*****

Sungguh. Hari ini benar-benar sangat aneh. Ada yang berbeda dengan Kim Bum. Kim Bum yang biasanya egois dan posesif kini kenapa begitu berbeda. Entah apa yang berbeda, yang pasti auranya begitu berbeda. Kencan hari ini begitu sangat berbeda. So Eun berdiri di depan rumahnya setelah selesai berkencan dengan Kim Bum. Kim Bum masih memperhatikannya dengan seksama. Tatapannya yang begitu terlihat meragukan.

“Kim So Eun. Ada yang ingin aku tanyakan.”

“Apa itu?”

“Selama ini… hubungan kita… saat kau menerima lamaranku untuk menikah…. Apakah sekarang kau bisa mencintaiku?”

So Eun menatap terkejut. Kenapa dia menanyakan hal itu? Bukankah dia tidak peduli dengan perasaannya? Bukankah dia begitu egois untuk mendapatkan So Eun?

“Kenapa kau berbicara begitu?” So Eun begitu heran mendengarnya.

“Tidak… bisakah kau menjawab pertanyaanku? Jawab yang jujur.”

“Hah?”

“Jangan takut denganku. Aku butuh jawabanmu yang jujur. Bagaimana perasaanmu terhadapku? Apakah kau sudah bisa mencintaiku dengan tulus?”

Tangan So Eun begitu gugup, tidak tahu mesti apa yang dijawabnya.

“Aku mohon. Apakah kau merasa tersiksa bersamaku? Apa kau merasa menderita saat aku terus memaksamu untuk bersamaku?”

“Kim Bum. Ada apa denganmu? Kenapa kau berbicara seperti itu? Kau benar-benar aneh.”

“Aku tidak apa-apa, So Eun. Aku hanya merasa gundah. Selama ini hanya aku yang mencintaimu, tetapi aku sadar dengan perasaanmu. Apakah kau benar-benar siap dengan pernikahan ini? Apakah kau merasa menderita saat aku terus memaksamu mengikuti keegoisanku. Aku… sungguh ingin mendengar jawabanmu yang jujur.”

So Eun menoleh. Mencari kata-kata yang tepat untuk menjawabnya. Dia mengambil nafasnya.

“Kau sungguh ingin mendengar jawabanku?” Kim Bum mengangguk.

“Aku…. Sebenarnya belum siap menikah.”

Terlihat pancaran mata Kim Bum yang terkejut. Seharusnya dia sudah menduga. Tetapi rasa sakit dihatinya saat mendengar jawabannya.

“Tapi… bukan berarti aku tidak mencintaimu. Aku hanya butuh waktu…. Apalagi dengan pernikahan mendadak seperti ini, aku… benar-benar belum siap untuk menikah.”

Kim Bum menatapnya lagi. Tatapannya yang penuh kesedihan.

“Sungguh? Kau merasa terbebani dengan pernikahan ini? Tetapi… perasaanmu kepadaku. Apakah sudah pasti? Kau mencintaiku atau tidak?”

“Kim Bum….”

“Aku mohon. Saat ini, kau mencintaiku atau tidak? Jawablah dari hatimu. Jangan takut kepadaku. Aku hanya butuh kepastian.”

“Maafkan aku… saat ini aku belum tahu apakah kini aku mencintaimu atau tidak.”

Terlihat Kim Bum sangat kecewa dengan jawabannya. Masih tidak pasti. Hatinya merasa sakit.

“Jika aku membatalkan pernikahan kita. Apakah kau akan senang?” So Eun menatap terkejut. Apa yang dikatakannya? Dia akan membatalkan pernikahannya sendiri.

“Kau memang terlihat sangat menderita. Padahal kau sudah berkali-kali menolakku tetapi aku malah begitu egois memaksamu untuk menerimaku. Maafkan aku…”

“Kim Bum. Apa yang kau katakan tadi? Apakah kau akan membatalkan pernikahan kita?” So Eun bertanya lagi memastikan pendengarannya tidak salah.

“Maafkan aku…” Kim Bum meraih tangan So Eun dan mencium punggung tangannya.

“Maafkan aku jika aku sudah menyakiti hatimu selama ini. Maafkan aku jika aku membuatmu menderita. Aku tidak akan memaksamu lagi. Pernikahan kita akan aku batalkan. Aku tidak akan mengejarmu lagi.”ucap Kim Bum. Lalu dia masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan So Eun yang masih berdiri penuh dengan ketidakpercayaannya.

“Apa yang dia katakan tadi? Dia sungguh-sungguh membatalkan pernikahannya sendiri?” So Eun memandang mobil Kim Bum yang sedang keluar dari pagar rumahnya. Entah perasaan apa yang harus dia gambarkan. Senang? Sedih? Atau Marah? So Eun benar-benar tidak bisa menggambarkan perasaannya.

*****

Hyuk Jae melemparkan handuknya ke kasur setelah mengeringkan rambutnya sehabis keramas. Dia melihat sahabatnya, Dong Hae berdiri di balkon sambil memandang langit.

“Hei, Dong Hae! Kau baik-baik saja?” Dong Hae hanya tersenyum.

“Aku baik-baik saja.”

“Tapi… kenapa kau terlihat sedih?”

Dong Hae menggeleng, “Aku sungguh tidak apa-apa.”

Hyuk Jae mengangguk mengerti.

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Aku? Memangnya kenapa denganku?”

“Hubunganmu dengan Ga Eul. Bukankah selama ini kau terus menggodanya?”

Hyuk Jae ikut memandang langit yang begitu gelap. Dia tersenyum miris.

“Entahlah, aku hanyalah sepupu baginya walaupun bukan sepupu kandung. Sepertinya dia memang mencintai Kyu Hyun.”

“Cihh… sejak kapan playboy sepertimu jadi terlihat menyedihkan? Bukankah sekarang kau memang mencintainya? Kenapa kau malah menyerah?”

“Memangnya kau tidak?” balas Hyuk Jae. Giliran Dong Hae terdiam.

“Bagaimana denganmu? Padahal kau begitu mencintainya, tapi kenapa kau malah membiarkannya melakukan hal itu? Tidakkah kau merasa kalau dia hanya memanfaatkanmu?”

“DIAM KAU!?” teriak Dong Hae yang kini benar-benar tersulut emosi. Hyuk Jae tersenyum penuh sindiran.

“Sebenarnya aku lebih kasihan dengan dirimu, Dong Hae. Kalau aku jadi dirimu, aku akan segera meninggalkannya. Kapan kau akan sadar? Dia hanya memanfaatkanmu.”

Dong Hae masih terdiam menunduk. Hyuk Jae menepuk punggungnya.

“Ya sudahlah, kau jangan terlalu banyak memikirkannya. Kita tidur saja. Aku sangat ngantuk.”ucap Hyuk Jae menuju ke dalam kamarnya. Dong Hae masih ditempatnya. Dia memandang langit yang gelap.

*****

Kyu Hyun masih memegang dokumennya. Dia masih membacanya. Sungguh tidak habis dipikirnya bagaimana Ibunya. Tidak. Wanita itu menjadi Ibunya. Memang dulu saat umurnya lima tahun, dia dibawa Hye Yeong ke rumah keluarga Kim. Hye Yeong mengklaim bahwa Hye Yeong telah melahirkan anaknya yaitu dia sendiri. DNA pun memang terbukti bahwa dirinya memang anak kandung Tuan Kim. Alhasil, keadaannya pun jadi kacau. Orang tua Tuan Kim begitu marah dengan anaknya sendiri yang bagaimana bisa menghamili Hye Yeong. Yang Kyu Hyun ingat hanyalah suara teriakan marah dan juga tatapan kebencian Kakak tirinya, Kim Bum.

Ponselnya bergetar membuat Kyu Hyun menghentikan ingatan masa lalunya.

“Halo…. Shin Hye?”

“…….”

“Apa? Sekarang? Baiklah, aku akan kesana.”

Kyu Hyun segera menghidupkan mobilnya dan segera pergi menuju ke rumah Shin Hye.

*****

Di sebuah restoran, terlihat seorang wanita terlihat senang dengan perkataan pria itu. “Sungguh? Kau akan menikahiku, Kak Kim Bum?!” Ji Yeon begitu tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kim Bum. Kim Bum hanya mengangguk.

“Lagi pula, aku harus bertanggung jawab terhadap kejadian itu. Dan aku….”

Ji Yeon memeluknya karena tidak bisa menahan rasa gembiranya.

“Terima kasih, Kak Kim Bum. Terima kasih! Aku tidak merasa sendirian lagi. Aku sangat mencintaimu, Kak Kim Bum.”

Kim Bum tidak membalas pelukannya. Dia hanya terdiam. Tidak ingin menjawab kegembiraannya.

“Tetapi… bagaimana dengan wanita itu? Apa kau membatalkannya?”

Hati Kim Bum merasa sakit mendengarnya. Dengan berat hati, Kim Bum mengangguk. Ji Yeon memeluknya lagi. “Terima kasih, Kak Kim Bum. Akhirnya kita bersatu.”

Ponsel milik Kim Bum berdering, Ji Yeon segera melepaskan pelukannya. Membiarkan Kim Bum menjawab ponselnya.

“Halo…”

“……”

“Sekarang? Ada apa?”

“…..”

“Aku mengerti. Aku akan kesana.”

Kim Bum mengakhiri perbincangannya. Dia pun berdiri dari kursinya.

“Ayo, akan aku antarkan kau pulang. Aku harus pergi ke rumah sepupuku.”

“Baiklah.”jawab Ji Yeon antusiasnya sambil memeluk lengan Kim Bum.

*****

Terlihat dua pria begitu kaget saat bertemu di ruang tamu.

“Kenapa kau ada disini, Kyu Hyun?”tanya Kim Bum.

“Aku ditelepon Shin Hye. Kau sendiri kenapa ada disini?”

“Bagaimana bisa? Aku disuruh Shin Hye kesini.”

Kyu Hyun tidak menanggapinya lagi. Dia pun memegang dokumennya dengan erat. Dia sengaja tidak meninggalkan dokumen penting di mobilnya.

“Akhirnya kalian sudah datang.”

Mendengar suara Shin Hye, kedua bersaudara ini pun kompak membalikkan tubuhnya. Mereka melihat Shin Hye datang sambil mendorong kursi roda. Siapa wanita itu?

“Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian.”ucap Shin Hye. Kyu Hyun dan Kim Bum berdiri dengan tegangnya. Penasaran apa yang ingin dikatakannya.

“Tidak. Biarlah Bibi ini yang memberitahu kalian.”

Mereka memandang wanita yang duduk di kursi roda. Shin Hye memegang tangan wanita itu dengan penuh yakin.

“Bicaralah.”pinta Shin Hye. Wanita itu mengambil nafasnya, memberi keyakinannya untuk berbicara.

“Sebelumnya, aku ingin memperkenalkan diriku. Namaku Son Ye Jin. Aku adalah sahabat lama Kim Hee Sun.”

“Kau mengenal Ibuku?” Kim Bum memotong pembicaraannya. Kyu Hyun menatap terkejut.

“Iya. Tidak hanya sahabat, aku juga adalah dokter pribadinya. Aku pernah mengurusi kelahiranmu, Kim Bum.”

“Kau tahu namaku?”

“Iya. Bahkan aku juga mengetahui namamu. Kau adalah Kyu Hyun.” Pandangan Ye Jin bergantian ke arah Kyu Hyun. Kyu Hyun tak kalah terkejutnya dengan Kim Bum.

“Semua ini adalah salahku. Seharusnya aku tidak lakukan perbuatan itu. Tapi… aku benar-benar tidak ada pilihan.” Ye Jin makin meracau. Kim Bum dan Kyu Hyun semakin tidak mengerti arah pembicaraannya. Shin Hye menggenggam erat memberi kekuatan kepada Ye Jin.

“Aku… Sebenarnya kalian adalah saudara kandung.”

“APA!?” Mereka sangat terkejut kecuali Shin Hye yang sudah mengetahui kenyataannya.

“Kyu Hyun, Ibu kandungmu adalah Kim Hee Sun. Ibu kandungnya Kim Bum.”

“APA!? Bagaimana itu bisa terjadi?”seru Kim Bum yang benar-benar terkejut. Kyu Hyun meremas dokumen yang ada digenggamannya.

“Aku… Aku diancam Lee Hye Yeong, Ibu kandung palsumu Kyu Hyun. Seharusnya Kim Hee Sun melahirkanmu dengan selamat, Kyu Hyun. Tetapi keluargaku disandera Hye Yeong, dia memintaku mengambilmu untuknya dan membuat laporan palsu kepada Ibumu bahwa kau sudah meninggal.”

Kini Kim Bum menatap Kyu Hyun. Terlihat sorotan marah dimata Kyu Hyun.

“Kemudian aku dipaksa untuk pergi meninggalkan Korea. Selama 20 tahun ini, aku terus dikejar rasa bersalahku. Tadi aku berniat menemuimu, Kyu Hyun. Tetapi orang suruhan Hye Yeong mencegatku. Mereka menembakku, tetapi untungnya melesat walaupun aku harus tenggelam di sebuah sungai. Untung sepupu kalian, Shin Hye ini menyelamatkanku.”

“Tapi… apa hubungannya Ibuku. Tidak. Hye Yeong dengan mereka?”tanya Kyu Hyun akhirnya bersuara.

“Hye Yeong adalah mantan kekasih Ayah kalian. Ayah kalian dicampakkannya. Lalu Ayah kalian dijodohkan dengan Ibu kalian. Hye Yeong yang saat itu begitu kecewa dengan kabar pernikahan orang tua kalian. Dia berniat membalaskan rasa sakit hatinya. Dia….”

“TERNYATA MEMANG BENAR!?”teriak Kyu Hyun emosi sambil melemparkan dokumen yang dipegangnya.

“KYU HYUN!?”seru Shin Hye saat melihat Kyu Hyun berlari dan pergi dari tempatnya dengan mobil miliknya. Shin Hye sudah tidak bisa mengejarnya lagi. Sementara itu, Ye Jin menangis terisak. Dokumen yang dilemparkan Kyu Hyun tergeletak disamping kaki Kim Bum. Kim Bum pun mengambilnya dan membuka isi dokumen itu.

“Dia sudah pergi.”ucap Shin Hye dengan lesunya mendekati Ye Jin. Berusaha menenangi Ye Jin yang terlihat penuh bersalah. Kim Bum begitu serius membacanya dokumen itu. Tentunya dia begitu terkejut, ternyata Kyu Hyun sudah melakukan penelitian terhadap hubungan Kyu Hyun dengan keluarganya.

*****

Kyu Hyun terus menangis sambil memukul setirnya. Dia begitu sangat marah. Kenapa Hye Yeong begitu tega mengambilnya dari Ibu kandungnya. Dirinya yang selalu dimusuhi para keluarga Kim Bum karena dianggap anak haram. Hati Kyu Hyun benar-benar sakit. Apalagi saat dimusuhi oleh kakak kandungnya sendiri. Namun dia bisa mengingat kehangatan Ibu kandungnya sendiri, Kim Hee Sun ditengah-tengah permusuhan keluarganya. Kim Hee Sun, Ibu kandungnya sendiri yang tanpa mengetahui bahwa Kyu Hyun adalah anak kandungnya memberi perhatian yang sama seperti perhatiannya kepada Kim Bum. Namun sejak peninggalan Ibunya, Kim Bum semakin memusuhinya karena menganggap Kyu Hyun, si anak tiri penyebab kematiannya. Kyu Hyun masih ingat sekali detik-detik pertemuan terakhirnya dengan Ibu kandungnya. Disaat Kyu Hyun sedang sakit demam yang begitu parah. Hye Yeong tidak ada dirumah. Hanya tinggal seorang diri, Kyu Hyun nekat menelepon Hee Sun untuk merawatnya. Namun tidak disangka, permintaannya membawa celaka. Hee Sun yang begitu khawatir dengan kondisi Kyu Hyun yang masih kecil itu tidak berhati-hati mengendarai mobil ditengah hujan yang deras hingga mengakibatkan kecelakaan akibat tabrakan truk. Ayahnya sangat frustasi mendengar kematian istrinya sendiri dan semakin membenci Kyu Hyun. Kyu Hyun hanya bisa terdiam. Terdiam dalam hatinya yang penuh kesedihan dan menyakitkan.

Beberapa jam kemudian, akhirnya dia pun telah tiba di rumahnya sendiri. Rumah yang penuh dengan kesepian dan kelicikan. Kyu Hyun segera masuk, menyerobot para pelayan yang menyambutnya. Dia tidak peduli. Yang ada dipikirannya hanyalah, dia harus bertemu dengan Ibu kandung palsunya.

‘BRAK!’

Kyu Hyun langsung membanting pintu tanpa mempedulikan keterkejutan Hye Yeong yang duduk di meja kantornya.

“Kyu Hyun! Kenapa kau begitu lancang membuka pintu?”seru Hye Yeong yang hampir jantungan mendengar suara dentuman pintu yang sangat keras.

“KAU…!!!” Kyu Hyun sengaja tidak memanggilnya Ibu.

“KAU BUKAN IBU KANDUNGKU, BENAR KAN?!”teriak Kyu Hyun dengan emosinya. Hye Yeong yang masih belum menangkap permasalahannya, segera mendekati Kyu Hyun.

“Apa yang kau katakan, Kyu Hyun? Ibu tidak mengerti….”

“JANGAN KAU SEBUT DIRIMU SEBAGAI IBU DIHADAPANKU!? Kau bukan Ibu kandungku. Ibu kandungku adalah Kim Hee Sun!? Selama ini kau telah menculikku! Gara-gara kau, aku selalu dimusuhi keluarga Ayahku bahkan kakakku sendiri!”seru Kyu Hyun makin tidak bisa mengontrol emosinya. Hye Yeong melangkah mundur. Dia sangat terkejut. Bagaimana rahasianya bisa ketahuan?

“Selama ini aku memang mencurigaimu. Kenapa kau begitu sangat posesif saat aku dekat dengan Ibu Hee Sun? Sekarang… aku mengerti. Kau tidak sungguh-sungguh mencintai Ayahku. Kau hanya iri dengan Ibuku. Makanya kau membunuh Ayahku.”

Hye Yeong menatap terkejut. Rahasia terbesarnya telah terbongkar.

“Ap.. Apa kau bilang?”

“Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir semua ini masuk akal ketika Ayah tiba-tiba meninggal karena jantungan? Ayah meninggal karena obat racun yang telah kau berikan kepada Ayah.”

Hye Yeong benar-benar tidak bisa berkutik lagi. Dirinya seperti seorang pelaku yang telah dibongkar kejahatannya oleh polisi.

“Bahkan kau memaksa wanita yang bernama Son Ye Jin untuk memalsukan kematian Ayah.”

“Apa? Son Ye Jin? Jadi dia masih hidup?”

Kyu Hyun tidak mempedulikan pertanyaan Hye Yeong, pikirannya sudah dipenuhi emosi yang tidak terkendali. 20 tahun silam yang penuh penderitaan.

“Kini kau mengincar harta keluargaku. Aku akan mengembalikan harta yang telah kau rebut kepada Kim Bum.”ancam Kyu Hyun membalikkan tubuhnya sambil meraih gagang pintu hendak keluar dari ruangan itu.

‘DUK!’

Kyu Hyun langsung ambruk dilantai. Dia memegang kepalanya yang sakit. Berdarah. Kyu Hyun melihat Hye Yeong memegang vas bunga.

“Kau….”

“Aku tidak akan membiarkan kau merebut semua hartaku. Aku tidak akan membiarkan kau merebut semua keinginanku yang hampir tercapai ini!?”

Hye Yeong memukul kepalanya lagi hingga vas bunga pecah dan darah di kepala Kyu Hyun mengalir semakin deras. Namun Kyu Hyun masih berusaha bertahan. Dia berusaha berdiri walaupun terhuyung karena kepalanya yang sangat sakit. Tiba-tiba lehernya dicekik Hye Yeong.

“UKHH…!!??” Kyu Hyun meringis kesakitan di lehernya.

“Sudah lama sekali aku ingin membunuhmu, Kyu Hyun. Kau tahu? Aku sangat membencimu, Kyu Hyun! Karena kau adalah darah daging Kim Hee Sun, bukan darah dagingku!? Ibumu adalah seorang wanita sialan yang merebut kekasihku yang seharusnya menjadi suamiku. Kau tahu? SEHARUSNYA AKU YANG MENIKAH DENGANNYA, BUKAN DENGAN IBUMU!?”

Hye Yeong segera mendorong tubuh Kyu Hyun hingga menabrak jendela, Hye Yeong berniat menjatuhkan Kyu Hyun dari lantai tiga. Namun tanpa disangka, Kyu Hyun memegang pundak Hye Yeong hingga mereka berdua terjatuh bersama. Para pelayan yang ada dibawah berteriak histeris melihat kedua majikan mendarat begitu menakutkan, tak terkecuali Ga Eul yang barusan datang.

“KYU HYUN!?” Ga Eul berusaha naik ke atap mobil dimana Kyu Hyun mendarat di atap mobilnya. Sedangkan Hye Yeong tergeletak di sebuah tanah yang sangat keras hingga bisa melihat alirah darah di kepalanya dengan jelas.

*****

Kim Bum mendengar kisah yang diceritakan Ye Jin dengan seksama. Sesekali dia melihat dokumen yang ada ditangannya. Kim Bum menunduk. Dia jadi teringat dengan 20 tahun silam. Selama 20 tahun, dia selalu memusuhi adik kandungnya sendiri. Mengira keberadaannya telah membunuh kedua orang tuanya. Mengira Kyu Hyun telah merebut kedua orang yang disayanginya. Kini Kim Bum benar-benar menyesalinya. Sangat menyesal.

*****

“Baiklah, Tuan Si Won. Besok kau bisa bekerja disini.”ucap pria separuh baya itu berjabat tangan dengan Si Won.

“Terima kasih. Maaf merepotkan anda.”ucap Si Won sambil membungkukkan tubuhnya. Saat dia membalikkan badannya, dia melihat perawat sedang mendorong pasiennya menuju ke UGD. Si Won tercengang melihat pasien yang dikenalnya.

“Kyu Hyun!?”teriak Si Won menghampiri Kyu Hyun yang terbaring sangat lemah.

“Kyu Hyun!? Bertahanlah!” Si Won menatap wanita yang tidak dikenalnya menggenggam tangan Kyu Hyun yang setengah sadar.

“Gawat! Tidak ada dokter yang berjaga disini. Bagaimana ini?”seru salah satu suster telah datang.

“Apa maksudmu?”tanya perawat pria itu.

“Biar aku yang menangani pasien ini! Aku juga seorang dokter!?”seru Si Won langsung menawarkan diri.

“Tapi….”

Si Won tidak menjawab pertanyaan suster itu lagi, dia langsung membawa Kyu Hyun masuk ke dalam UGD untuk mendapatkan pertolongan serius. Sementara itu, Ga Eul yang dihalangi suster pun menangis. Tidak disangka, kedatangannya yang ingin menemui Kyu Hyun dirumahnya mendapatkan peristiwa yang sangat mengejutkan.

“Tuhan… Tolonglah selamatkan dia.”harapnya.

*****

So Eun masih terduduk lemas. Dia masih tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan Kim Bum tadi. Kim Bum akan membatalkan pernikahannya? So Eun tidak tahu harus bersikap bagaimana. Tiba-tiba, ponselnya berdering. So Eun mengernyitkan keningnya. Kim Ga Eul?

“Halo…”

“Halo, Kakak! Bisa kau hubungi Kak Kim Bum? Kyu Hyun…. Dia ada dirumah sakit!”

“Apa?!”

*****

Kim Bum, So Eun, dan Shin Hye segera menuju ke UGD tempat Kyu Hyun akan dioperasi karena ada pecahan vas di kepala Kyu Hyun. Mereka menemukan Ga Eul duduk menangis dan penuh khawatir.

“Ga Eul!?”panggil So Eun. Ga Eul yang melihat kedatangan mereka segera memeluk Kakaknya.

“Kakak… Hiks.. hiks…” Ga Eul sudah tidak bisa menghentikan tangisannya.

“Bagaimana ini bisa terjadi?”tanya Kim Bum. Ga Eul menggeleng.

“Aku tidak tahu… Begitu aku datang ke rumahnya, tiba-tiba mereka berdua terjatuh dari jendela di lantai 3.”

“Mereka berdua?”

“Iya. Kyu Hyun bersama Nyonya Hye Yeong.”

*****

Ji Yeon terus memutarkan ponselnya. Hatinya dipenuhi kebahagiaan. Akhirnya dia berhasil membujuk Kim Bum untuk menikahinya. Harapannya selama 10 tahun untuk menjadi istrinya akan segera tercapai. Ji Yeon sungguh tidak sabar ingin menghubungi seseorang. Ji Yeon segera memencet tombol ponselnya. Dia menunggu sesaat hingga seseorang pun menjawab panggilannya.

“Halo… bagaimana persiapan undangan pernikahanku dengan Kim Bum?”

*****

Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya Si Won pun keluar dari ruang UGDnya. Mereka yang duduk pun segera berdiri. Kim Bum yang pertama kali mendekati Si Won.

“Bagaimana keadaan Kyu Hyun?”

“Operasinya berjalan lancar. Tinggal menunggu Kyu Hyun sadar dari komanya.”

Mereka pun langsung lega mendengar penjelasan Si Won.

“Ah… tapi bagaimana dengan Nyonya Hye Yeong?” tanya Ga Eul yang teringat dengannya. Si Won menunduk. Terlihat pancaran wajahnya yang penuh penyesalan.

“Maafkan aku, dia tidak selamat.”

Kim Bum yang mendengarnya hanya terdiam. Entah dia harus senang atau tidak dengan kematian Hye Yeong yang telah menghancurkan keluarganya. Yang ada dipikirannya kini adalah keselamatan Kyu Hyun. Tanpa disadari Kim Bum, So Eun terus memandang Kim Bum yang baru saja memutuskan pernikahannya.

*****

Beberapa hari kemudian, Ga Eul begitu setia menemani Kyu Hyun yang belum sadar dari komanya. Bahkan beberapa temannya seperti Lee Teuk, Hyuk Jae, dan Dong Hae pun mengunjunginya.

“Bagaimana keadaannya?”tanya Shin Hye yang sudah datang sambil membawa parcel buah. Ga Eul pun menghampirinya dan mengambil parcel dari Shin Hye.

“Dia masih belum sadar.”jawab Ga Eul meletakkan parcel di meja. Dong Hae beranjak dari sofa sambil melirik arlojinya.

“Maafkan aku, aku ada urusan penting. Aku pergi dulu ya, titip salam buat Kyu Hyun kalau dia sudah sadar.”pesan Dong Hae disambut anggukan Ga Eul.

“Kasihan Kyu Hyun… “ujar Shin Hye iba melihat kondisi Kyu Hyun yang masih terbaring lemah. Tiba-tiba Si Won dengan pakaian lengkapnya yang sebagai dokter pun masuk ke dalam kamar pasien Kyu Hyun.

“Bisa kalian tinggalkan kami? Aku ingin memeriksa kondisinya.”ucap Si Won. Mereka yang ada didalam kamar itu hanya bisa menuruti perkataan Si Won. Setelah mereka keluar, Si Won segera memeriksa kondisi Kyu Hyun dengan teliti. Namun Si Won menyadari sesuatu, jemari Kyu Hyun bergerak perlahan.

*****

Sejak kejadian itu, So Eun tidak pernah berbicara dengan Kim Bum bahkan di rumah sakit sekalipun. Tidak ada kesempatan berbicara mengenai masalah mereka. Hingga kini So Eun dihubungi Kim Bum untuk bertemu. Hati So Eun mulai berdetak kencang memikirkan apa yang akan dikatakan Kim Bum nanti. Mengenai hubungan mereka kah?

“Maaf. Membuatmu lama menungguku.”ucap Kim Bum menyesal setelah datang. So Eun hanya menggeleng.

“Tidak apa-apa. Aku juga baru tiba disini.”

Lalu mereka berdua kembali terdiam. Kim Bum tidak duduk sekalipun. Dia hanya berdiri menunduk. Lalu dia merogoh di dalam jasnya membuat So Eun terbingung. Di keluarkan sebuah benda berbentuk persegi yang didesain begitu cantik. Terlihat Kim Bum ragu-ragu untuk menyerahkannya.

“Sebenarnya… aku tidak bermaksud menyerahkan ini, tetapi… mungkin kau lebih baik mengetahuinya.”ucap Kim Bum. So Eun masih kurang mengerti apa yang dimaksud Kim Bum. Tanpa basa basi, Kim Bum langsung menyerahkan benda itu ke So Eun dan segera pergi setelah mengucapkan kata, “Maafkan aku.”

So Eun yang menerima sebuah benda hanya terpaku memandang kepergiannya. Setelah jauh, kini tatapannya dialihkan ke sebuah benda yang ada ditangannya. Sebuah undangan pernikahan, So Eun segera membuka undangan tersebut. Kini menjadi jelas alasan kenapa Kim Bum tiba-tiba membatalkan pernikahannya dengan So Eun.

“Kim Sang Bum dan…. Park Ji Yeon…?” So Eun menyebut nama yang tertera di undangan itu dengan perlahan.

“Benarkan apa yang aku katakan. Akhirnya dia membatalkan pernikahannya sendiri, sesuai dengan keinginanmu.” So Eun mendongakkan kepalanya, terlihat Dong Hae berdiri dihadapannya sambil tersenyum.

“Apa maksudmu? Err… Apa yang sudah kau lakukan terhadapnya? Aku….”

“Kau belum tahu mengenai hubungan mereka? Huft… kenapa dia belum cerita?”

“Apa maksudmu?”

“Wanita yang akan dinikahinya, yang bernama Park Ji Yeon adalah mantan kekasihnya lima tahun yang lalu.”

So Eun menatap terkejut. Dia tidak tahu mesti berkata apa. Kim Bum tidak pernah menceritakan kalau Kim Bum pernah memiliki kekasih. Namun yang jadi pertanyaannya, kenapa Kim Bum mendadak membatalkan pernikahannya yang jelas-jelas adalah impiannya sendiri? Apakah mantan kekasihnya begitu penting dibandingkan dengan dirinya yang selalu diklaim miliknya.

“Sesuai dengan kesepakatan kita. Aku sudah membuat Kim Bum membatalkan pernikahannya sendiri, kau harus mau jadi wanitaku.”ucap Dong Hae yang disambut tatapan terkejut dari So Eun.

*****

Ga Eul dan yang lainnya kembali masuk ke kamar Kyu Hyun. Namun mereka dikejutkan dengan Kyu Hyun yang sedang duduk di kasur. Kyu Hyun telah sadar dari komanya. Si Won yang melihat mereka pun hanya tersenyum.

“Kyu Hyun sudah sadar dari komanya.”ucapnya.

“Sungguh? Kau sudah sadar, Kyu Hyun?”seru Ga Eul yang tidak bisa menutupi kesenangannya. Kyu Hyun malah terdiam bengong mengamati Ga Eul yang ada dihadapannya. Tatapannya begitu kosong.

“Siapa kau?”tanyanya yang membuat Ga Eul sangat terkejut, begitu juga mereka.

“Tapi sayangnya, dia amnesia.”lanjut Si Won dengan singkat sambil menunduk.

TO BE CONTINUED…..

NB: JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA ^^

52 responses to “My Prince Is Bad Boy [Part 12]: Misteri Pernikahan dan Keluarga

  1. Marthatina vita vienna Maret 14, 2015 pukul 4:13 pm

    Ternyata kim bum dan kyuhyun adalah saudara kandung,hye yeong jahat banget,tega sekali dia berbuat seperti itu.

    Dan pernikahan bumsso dibatalkan,nxesel g sekarang so eun?

    Gmana kisah selanjutnya?

  2. mia September 2, 2015 pukul 12:43 am

    Kasian sekali kyu oppa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: