RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

I Will Find You [3/3]


WARNING:

FF ini murni q buat dengan penuh pemikiran yang meledak (?). FF ini mengandung horror, thriller, dan ada sedikit unsur kekerasan. Lebih cocok bagi yang berminat dan berani membacanya. jika terjadi apa-apa (?), q tidak akan bertanggung jawab. Satu lagi, jika banyak yang komen tentang FF ini. Insya allah akan q lanjutkan part-partnya. Minimal 10 komen, akan q posting lanjutan partnya. Happy Reading!?

Masa lalu…

Masa-masa yang harus dilalui dengan kebahagiaan, bagaimana jika masa lalu justru menjadi masa-masa yang penuh penderitaan. Itulah yang dialami sang perempuan berusia 12 tahun. Masa-masanya dilalui penuh dengan penganiayaan karena status keluarganya yang sudah bangkrut. Karena tidak tahan dengan penganiayaan tersebut, perempuan itu akhirnya bunuh diri meninggalkan Ibu dan kedua kakaknya.

Penderitaan keluarga itu masih berlanjut, kali ini menimpa Ibunya. Ibunya dilecehkan dan diperkosa oleh pria yang telah membuat perusahaannya bangkrut dan membuat suaminya meninggal karena shock. Hingga Ibunya ikut dengan anak perempuan tercintanya meninggalkan kedua anak lelakinya. Kedua anak lelaki yang ditinggalkannya pun menyisakan rasa dendam dihati mereka kepada pria yang telah menghancurkan keluarga bahagia mereka.

*****

So Eun menatap mata Kim Bum. Memastikan dan berharap semua itu tidak nyata.

“Tidak mungkin… Ayahku tidak mungkin melakukan itu.”

Dong Hae tersenyum sinis mendengarnya begitu juga Kim Bum.

“Apa kau tidak melihat kejahatan Ayahmu terhadap keluarga kami? Bahkan dia tega memperkosa Ibu kami, padahal dia sudah memiliki istri dan anak yang cantik sepertimu.” Kim Bum menyentuh dagu So Eun. So Eun langsung menoleh, menepis tangannya. So Eun berusaha menyangkal semua perkataan Kim Bum mengenai Ayahnya. So Eun tidak ingin mengingat kejahatan Ayahnya. Iya. Dia tahu Ayahnya jahat. Dia tahu tentang keburukan Ayahnya yang suka memukul Ibunya. Tetapi Ayahnya sangat sayang dengan So Eun. Bahkan dia pernah memergoki Ayah berbicara di telepon mengenai perusahaan dan pemerkosaan. Dia tidak tahu wanita yang dimaksud Ayah ternyata Ibu mereka.

Kim Bum meraih dagunya dengan kasar. Kim Bum tidak suka saat berbicara So Eun mengalihkan pandangannya.

“Bagaimana? Kau tidak mungkin tidak tahu. Kau pikir kami ini bodoh mengenai keluargamu yang sangat busuk?”geramnya sambil mencengkram dagu So Eun. Hingga So Eun meringis kesakitan. Air matanya pun mengalir. Dia takut. Sangat takut dengan tatapan Kim Bum yang pertama kalinya. Tatapan yang emosi dan dendam. Dong Hae beranjak dari sofa, dia segera menghampiri sang adik. Dong Hae menyentuh pundak Kim Bum.

“Sudahlah, Kim Bum. Kau membuatnya takut.” Kemudian Dong Hae pun duduk disamping Kim Bum. Perlahan dia memandang kemulusan paha So Eun yang tersingkap. So Eun mengenakan daster yang cukup pendek dan sedikit tipis. Dong Hae menyentuh kaki So Eun yang putih dan halus. Merasa disentuh, So Eun menarik kakinya, menghindari sentuhan Dong Hae. Dong Hae tersenyum nakal diiringi jilatan bibir bawahnya.

“Kim Bum, kalau dilihat-lihat dia ini cukup menggoda juga.”bisiknya kepada Kim Bum. Kim Bum mengalihkan pandangannya ke tubuh So Eun yang langsing. Terbesit dalam pikirannya yang mengetahui maksud kakaknya.

“Kakak benar juga.”

So Eun merasa firasat buruk melihat seringaian mereka yang aneh.

“Ma-mau apa kalian?”tanyanya yang begitu panic. So Eun berusaha menarik tubuhnya sendiri.

“Hei, bagaimana kalau kau merasakan apa yang dirasakan Ibu kami ketika Ayahmu memperkosanya?” Kim Bum mengelus paha mulus So Eun. So Eun berontak, berusaha menjauhkan kakinya dari tangan mereka.

“Kalian… Jangan macam-macam denganku.”

Tiba-tiba mereka tertawa mendengar ancaman So Eun yang sendirinya sedang terancam.

“Tidak usah basa-basi, langsung saja Kim Bum. Sebagai kekasihnya, kau duluan saja.”ucap Dong Hae memberi aba-aba. Tanpa ditunggunya, Kim Bum langsung merobek daster bagian atas So Eun. Menyadari dirinya akan diperkosa, So Eun berteriak. Walaupun mustahil teriakannya bisa di dengar sampai diluar mengingat sedang terjadi hujan deras.

“JANGAN… AKU MOHON JANGAN SENTUH AKU!!!??”

*****

Flashback

“Kim Bum… Bertahanlah…”ucap So Eun berusaha membangkitkan Kim Bum yang terlihat kesakitan.

“So.. Eun.. Pergilah… “ pinta Kim Bum terbata-bata. Berusaha mengumpulkan tenaga tersisanya.

“Tidak! Aku tidak mau meninggalkanmu.”
”SO EUN, PERGILAH! SELAMATKAN DIRIMU!?”bentak Kim Bum. So Eun tidak memiliki pilihan lain. Dia pun segera melarikan diri meninggalkan Kim Bum.

“Mau kemana kau?”teriak Dong Hae panic melihat sasarannya berlari. Dong Hae segera mengejarnya. Namun dia tersandung, karena Kim Bum memegang kaki Dong Hae.

“Kau….!” Dong Hae terlihat kesal. Dia menodongkan kembali pistolnya ke arah Kim Bum.

‘DOR! DOR!’

Peluru itu terlepas ke udara, lebih tepatnya di atap.

“Hei… Kenapa kau menembak ke atas?”

“Memangnya kau ingin mati ditembak olehku, Kim Bum?”

Kim Bum segera berdiri sambil melepaskan cengkramannya ke kaki Dong Hae. Kim Bum tersenyum.

“Jadi bagaimana persiapan mayatku?”

“Semua sudah beres. Tinggal tumpahkan darahmu ke mayat itu kan seolah mayat itu adalah kau.”

“Yah… setidaknya bisa mengecohkan mereka untuk sementara. Oh iya, mana senjatanya. Bukankah sebentar lagi giliranku untuk menghabisi mangsa utama?”

Dong Hae mengeluarkan senjata dibalik punggungnya, lalu dilemparkannya ke Kim Bum yang sudah siap dengan pakaiannya yang berbeda.

“Jangan lupa, kau sampaikan salam dari sang putri tercintanya, Kim So Eun.”

“Tentu saja, aku tidak akan melupakan itu.”

Senyuman iblis menghiasi bibir mereka sambil menunjukkan senjata mereka masing-masing. Mereka pun berbalik ke arah yang berbeda, melanjutkan misi mereka masing-masing.

Setelah Kim Bum membunuh Ayahnya So Eun, Kim Bum kembali ke pondokan. Berniat membantu sang kakaknya. Namun alangkah terkejutnya, saat dia tiba banyak mobil polisi. Kim Bum mengintip dibalik pepohonan yang lebat. Dia melihat Dong Hae digiring polisi dan So Eun yang sedang duduk menangis karena kejadian tersebut. Tangan Kim Bum mengepal. Dia segera mengingat perkataan Dong Hae jika ini terjadi. Segera laksanakan rencana B.

Kim Bum segera menyamar jadi dokter untuk menyusup ke rumah sakit. Kim Bum berjalan menyusuri lorong-lorong, mencari kamar pasien. Tentunya dia tidak sendirian, dia bersama seorang polisi yang menemaninya. Setelah tiba di kamar pasien yang dimaksud. Mereka pun masuk. Kim Bum berada dibelakang polisi tersebut menyiapkan suntikan ditangannya. Tanpa ragu-ragu, jarum pun langsung ditancap ke leher polisi itu. Beberapa detik kemudian, polisi itu pun tertidur.

“Kau lama sekali menjemputku.”ucap Dong Hae terbaring di kasur sambil memandang bosan.

“Maafkan aku. Ternyata persiapannya lebih merepotkan.” Kim Bum sibuk mengangkat polisi yang tertidur ke kasur tempat Dong Hae dibaringkan. Dong Hae mengganti pakaian untuk menyamar sebagai polisi dan topeng kulit yang menyerupai wajah polisi tersebut.

“Sudah selesai?” Rupanya Kim Bum sudah menunggu di samping pintu. Polisi yang tertidur itu menggantikan posisi Dong Hae.

“Selesai. Mari kita sapa Kim So Eun.” Dong Hae merasa girang akan keluar dari rumah sakit dan penjara tentunya. Mereka keluar dari kamar pasien. Mereka juga saling menunduk saat para polisi melewati mereka.

“Bagaimana anak-anak dipondokan? Apakah kau sudah membunuh mereka tanpa tersisa satu pun?” Kim Bum membuka percakapannya setelah masuk ke dalam mobilnya.

“Tenang saja. Mereka sudah kucincang seperti memotong sapi. Seandainya mereka tidak menganiaya adik kita yang paling cantik, tentu saja nasib mereka tidak perlu tragis.”

“Hhhh… Orang kaya memang selalu saja sombong. Melakukan tindakan sesuka hati mereka. Begitu mengetahui keluarga kita bangkrut dan miskin, mereka malah menjauhinya dan menganiayanya.”

“Tapi hanya satu orang yang selamat dari kejadian itu.”

Kim Bum tersenyum penuh arti memandang Dong Hae.

“Makanya mari kita sapa dan jemput kekasihku yang malang.”

End Of Flashback

*****

Tali sudah tidak mengikat kedua tangan So Eun. Kedua lelaki bejat sedang merapikan pakaian mereka masing-masing setelah memenuhi nafsu mereka.

“Ternyata dia tidak buruk juga.”ucap Dong Hae mengancingkan kemejanya. Kim Bum tersenyum sinis sambil melihat So Eun meringkuk dikasur sambil memegang selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bulat. Kulitnya penuh kissmark dan terlihat memar di wajah maupun tubuhnya. So Eun terus menangis, menahan rasa sakit ditubuh dan hatinya.

“Aku kira dia pernah melakukannya, ternyata dia masih perawan. Berarti kau adalah orang pertama yang mengambilnya…”

Sayangnya Kim Bum tidak mendengar ocehan Dong Hae. Kim Bum mendekati So Eun. Mendengar langkahnya, So Eun memundurkan tubuhnya. Tidak ingin disentuhnya lagi. Tubuhnya yang penuh memar dan membiru akibat perlakuan kasar mereka. Sayangnya, Kim Bum mencengkram lengan So Eun, sehingga So Eun tidak bisa mundur lagi.

“Tatap aku.”

So Eun tidak mematuhinya. So Eun tetap menunduk. Dia tidak mau memandang lelaki bejat yang sudah merebut kesuciannya itu. Kim Bum memegang kedua pipinya dengan kasar. Membuat So Eun mau tak mau menatapnya dengan tatapan yang marah. Kim Bum malah tersenyum sinis membuat So Eun yang memandangnya jadi muak.

“Bagaimana perasaanmu setelah diperkosa kami? BEGITULAH YANG DIRASAKAN IBU KAMI! Apa sangat menyakitkan? Sangat menyedihkan?”

So Eun menoleh keras, menepis cengkramannya.

“Tapi…. Kenapa kau harus lakukan itu terhadapku? Bahkan aku belum pernah bertemu dengan Ibumu. Ayahku yang seharusnya kalian salahkan. Kenapa kau menyalahkanku seolah-olah aku ikut terlibat AKH…”

So Eun tidak melanjutkan kata-katanya karena rambutnya ditarik Kim Bum. Kim Bum membisik ditelinga So Eun.

“Apa kau tahu? Aku sangat membenci Ayahmu hingga ke keluarganya. Karena kau adalah darah dagingnya, maka aku juga harus membencimu.”

“Tetapi… kenapa kau harus lakukan ini??? Bukankah kau bilang kau mencintaiku? Aku juga mencintaimu, Kim Bum. Kenapa kau lakukan ini kepadaku? Hiks..hiks…”

Miris. Itulah yang dirasakan So Eun, mengetahui jati diri Kim Bum yang sesungguhnya. Kenapa So Eun harus mengalami hal ini?

Perkataan tadi sukses membuat Kim Bum terdiam. Kim Bum kembali memandang So Eun yang masih menangis terisak. Jambakan rambutnya melonggar. Lama dipandangnya. Terlihat So Eun benar-benar tulus mencintainya sedangkan dia malah menyakitinya. Kim Bum menggelengkan kepalanya, berusaha mengalihkan pikirannya. Fokus ke tujuan utama. Tangannya kembali menjambak rambut So Eun. Membuat So Eun mendongakkan kepalanya.

“Lupakan rasa cintamu kepadaku. Karena aku sudah melupakan cintaku padamu saat mengetahui kau adalah putrinya. Sebaiknya kau persiapkan dirimu, kau ingin mati dengan cantik dalam berpakaian atau telanjang seperti ini?”

Kim Bum melepaskan jambakannya dengan kasar. Dia menghampiri Dong Hae dan mengajaknya keluar dari kamar. Tatapan So Eun kini benar-benar emosi. Sangat membenci mereka. Tangan So Eun berusaha meraih dasternya yang tergeletak dilantai. Dengan menahan rasa sakit dibagian bawah tubuhnya, So Eun berjalan tertatih-tatih, penuh pelan agar tidak menambah rasa sakit. Dia baru menyadari bahwa dia memiliki sesuatu dikamarnya. Sesuatu untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu dengan dirinya. So Eun mendekati sebuah lemari. Dia membuka lemari coklat, tangannya menggapai sebuah laci yang terletak di atas kepalanya. Tangannya meraba-raba mencari sesuatu. Akhirnya dia menemukannya.

*****

“Kau yakin tidak apa-apa?”tanya Dong Hae saat melihat Kim Bum murung disamping pintu kamar. Dia tahu apa yang ada dipikirannya. Apalagi menyangkut So Eun.

“Menurutmu, apa Ibu dan adik kita akan senang melihat kita seperti ini?”gumam Kim Bum tanpa memandang Dong Hae. Dong Hae menepuk bahu sambil memeluknya.

“Semua ini sudah terjadi. Sudah terlambat. Kita sudah tidak bisa mundur lagi. Aku tahu sebenarnya kau mencintai So Eun….”

“TIDAK! AKU TIDAK MENCINTAINYA LAGI….!!! Iya, aku tidak mencintainya lagi sejak…. Sejak aku membiarkan diriku dan kau memperkosanya.”

Dong Hae terdiam. Tidak berkata-kata apa lagi.

“Padahal Ibu sudah menasihati kita untuk memperlakukan seorang perempuan dengan baik, seperti kita memperlakukan adik kita.”

Dong Hae masih terdiam. Membiarkan Kim Bum menangis dipundaknya.

“Kalau kau tidak sanggup, bagaimana kita batalkan saja rencana hari ini.”

“Tidak.” Kim Bum mencengkram kedua bahu kakaknya.

“Kita tetap melaksanakannya. Dia sudah terlanjur terlibat dengan masalah kita. Kita harus membunuhnya.” Dong Hae paham dengan perkataan adiknya.

“Baiklah. Sepertinya dia sudah siap. Mari kita mulai.”

Dong Hae membuka pintu kamarnya.

‘DOR! DOR!’

Dua tembakan beruntun mengenai jantung Dong Hae. Kim Bum menatap tidak percaya melihat Dong Hae tertembak oleh So Eun. So Eun bergetar memegang senjata yang disimpannya. Dia menembak lagi saat melihat Dong Hae berusaha mendekatinya.

‘Bruk.’

Dong Hae ambruk dilantai dengan darah yang keluar dari dadanya.

“KAK DONG HAE!?”

Kim Bum segera mendekati sang kakaknya sambil menahan dadanya, mencegah banyak keluar darah. Dong Hae memegang tangan Kim Bum. Bergumam tidak jelas karena banyak darah keluar dari mulutnya. Tidak lama, Dong Hae pun mati dipelukan Kim Bum. Kim Bum terus berteriak memanggilnya. Dong Hae tidak menjawabnya. Dong Hae sudah tidak bernyawa lagi. Perlahan Kim Bum memandang So Eun yang masih mengacungkan senjatanya ke arah Kim Bum. So Eun masih gemetar. Penampilannya yang sangat berantakan. So Eun melangkah pelan. Berusaha berani menghadapinya. Kim Bum berdiri secara perlahan.

“So Eun… dari mana kau dapatkan senjata itu?”

“Kau mau tahu apa kejahatan Ayah terhadap diriku? Aku merasakan rasa sakit… rasa sakit yang diderita Ibuku ketika aku melihat Ibuku terus-terusan dipukul Ayah. Walaupun Ayah selalu mengatakan dia sangat menyayangiku dibandingkan Ibuku. Kau pikir aku tidak tahu bagaimana rasanya perasaan Ibumu diperkosa? Apa kau lupa kalau aku adalah seorang perempuan. Kau pikir aku selalu bahagia dengan keadaanku ini?”

“Kim So Eun….” Kim Bum berhati-hati mendekati So Eun.

“JANGAN MENDEKAT!?” Kim Bum berhenti saat mendengar gertakannya dan senjata mengarahkannya.

“Aku beritahu kau satu hal. Kau… tidak ada bedanya dengan Ayahku. Kenapa kau melibatkan aku dalam masalah kalian?”

“So Eun.”

‘DOR!’

Satu peluru sukses menancap perut Kim Bum. Darah segar pun mengalir mengotori pakaiannya.

‘Bruk.’

Kim Bum terduduk disamping Dong Hae. Kakinya lemas, tenaganya pun melemah. Dia masih memandang So Eun dengan daster tipisnya yang tersobek karenanya.

“Padahal… aku berharap kau berbeda dengan Ayahku… Hiks… hiks…”

So Eun terduduk dilantai dengan gemetar. Kim Bum tetap memandang So Eun sambil menahan rasa yang amat sakit diperutnya. Kim Bum menyadari kesalahannya menyakiti So Eun.

“Kau…. Hiks… Hiks…”

“Ma….” Kim Bum berusaha mengatakan sesuatu kepada So Eun. Namun sayang, So Eun terlanjur menarik pelatuknya.

‘DOR!’

Kim Bum pun tewas menyusul kakaknya. Meninggalkan kata terakhir yang diyakini So Eun mendengarnya.

“Maafkan aku, Kim So Eun.”

*****

Lima tahun kemudian….

So Eun meletakkan buket bunga di nisan. So Eun melepaskan kaca matanya. Dia mengingat lagi masa lalunya yang suram.

“TIDAK! AKU TIDAK MENCINTAINYA LAGI….!!! Iya, aku tidak mencintainya lagi sejak…. Sejak aku membiarkan diriku dan kau memperkosanya.”

So Eun tersenyum sinis memandang kedua nisan dihadapannya. Dia berlutut menyentuh salah satu nisan dihadapannya.

“Seharusnya kau jujur kepadaku. Aku tidak perlu membunuhmu untuk putri kita.”

Gadis kecil berlari dengan lincah hingga menabrak Ibunya dan memeluknya.

“Ibu! Aku sudah membawa bungaku!?”serunya dengan riang. Dia tersenyum melihat betapa riangnya sang putri tercintanya.

“Kalau begitu, letakkan di situ.”

“Baik, Ibu.”

Gadis kecil itu menurut, gadis kecil itu meletakkan bunga di nisan Ayahnya.

“Bagaimana? Kau sudah puas?”

“Iya, Ibu. Aku harap Ayah akan bahagia disurga.”

Surga? Akankah kematian mereka berada disurga mengingat kejahatannya. Tidak ada yang tahu mengenai hal itu. Itu adalah urusan Tuhan. So Eun berdiri, memegang tangan kecil sang putrinya.

“Ayo, kita pulang.”

“Baik, Ibu.”

Gadis kecil itu mencium nisan yang bertuliskan ‘Kim Sang Bum’. Kemudian dia berlari mengikuti Ibunya yang sudah berjalan jauh. Meninggalkan kedua nisan yang dikenalinya.

‘Kim Sang Bum’ dan ‘Lee Dong Hae’.

~*The End*~

Iklan

51 responses to “I Will Find You [3/3]

  1. Farah Juni 2, 2017 pukul 2:18 pm

    Aiggoooo sad ending rupanya huhuhu, bener2 keren ceritanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: