RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

LovEun In Bum [Part 17 / Final]


So Eun sedang menunggu kabar dari dokter. Kini Kim Bum berada di ruang ICU untuk dioperasi. Karena lukanya sangat parah. So Eun terus berkomat-komit, memohon kepada Tuhan agar Kim Bum selamat. Selama dia sedang berdoa, tiba-tiba cowok ketiga OSIS beserta Victoria, So Min, dan Ji Yeon telah datang. So Eun langsung bangkit dari kursinya.

”So Eun, bagaimana keadaan Kim Bum?”tanya Victoria dengan penuh cemas.

”Dokter sedang menanganinya.”jawab So Eun sambil melihat ruang ICU itu.

Victoria jadi tidak bertenaga, Nich Khun pun memapah istrinya. Kemudian dituntutnya duduk dikursi.

”Bagaimana ini, Nich Khun? Aku tidak ingin Kim Bum mati. Dia tidak boleh mati.”

Victoria menangis dipelukan suaminya. Nich Khun pun membelai kepala istrinya, untuk menenangkannya, ”Tenanglah, Victoria. Kim Bum pasti akan selamat.”

Melihat kakaknya Kim Bum jadi shock, So Eun jadi merasa bersalah. Ia pun langsung berlutut dihadapan Victoria membuat sekelilingnya terkejut melihatnya.

”So Eun?” Ji Yeon pun jadi heran.

”Maaf, Kak Victoria. Semua ini salahku! Gara-gara aku, Kim Bum jadi tertabrak mobil. Semua ini salahku! Kakak boleh menamparku, bahkan boleh memukulku.”kata So Eun sambil menunduk dengan airmatanya. Victoria dan Nich Khun hanya terdiam melihatnya. Begitu juga yang lain. Tidak lama, Victoria membangunkan So Eun lalu memeluknya.

”Kenapa kau bicara begitu, So Eun? Aku tidak mungkin bisa menyalahkanmu. Karena kau sudah menyelamatkan Kim Bum.”kata Victoria membuat So Eun jadi bingung.

”Maksud kakak?”

Dokter pun keluar dari ruang ICU nya. So Eun dan yang lain mendekatinya.

”Bagaimana keadaan adik saya, Dokter? Apakah dia selamat?”tanya Victoria tidak sabaran. Dokter itu melepaskan kacamatanya.

”Dia memang selamat.”

So Eun dan yang lainnya jadi lega.

”Tapi….”

Rupanya dokter itu masih ada kata-kata. So Eun dan yang lainnya pun kembali serius mendengarnya.

”Karena keadaan luka dikepalanya cukup parah. Dia belum bisa sadarkan diri. Dia koma.”ucap dokter itu.

”Ko…koma?”

So Eun masih tetap tidak percaya mendengarnya. Lalu Kim Bum yang terbaring diranjang pun keluar sambil didorong para suster.

”Kim Bum!”

So Eun dan yang lainnya pun memanggil Kim Bum yang masih tidak sadarkan diri sambil mengikutinya.

*****

So Eun sedang menemani Kim Bum yang sudah berada dikamar pasien. So Eun menggenggam tangan Kim Bum. Tidak bisa berkata-kata. Victoria yang baru saja datang dari toilet segera menghampiri So Eun.

”So Eun. Bagaimana kalo kau kerumahnya Kim Bum dulu? Ambil barang-barang yang diperlukannya. Biar Nich Khun yang mengantarkanmu.”kata Victoria sambil duduk disampingnya.

”Tapi, bagaimana dengan Kim Bum?”

So Eun cemas dengan Kim Bum yang akan ditinggal sendirian.

”Tidak apa-apa. Biar aku yang menjaganya.”

So Eun mengangguk. Namun sebelum dia meninggalkan Kim Bum, dia pun menanyakan sesuatu kepada Victoria.

”Kak Victoria. Apa maksud kakak mengatakan kalo aku sudah menyelamatkan Kim Bum?”

Victoria tertegun mendengarnya. So Eun menunggu jawaban Victoria. Tidak lama, akhirnya Victoria membuka mulutnya.

”Yang pasti kau telah mengembalikan Kim Bum seperti yang dulu. Kau pasti akan tau artinya, kalo kau masuk ke kamar Kim Bum.”jawab Victoria.

So Eun ingin menanyakannya lagi, namun dia dipanggil Nich Khun.

Sepanjang jalan, So Eun terus berusaha mencerna perkataan Victoria.

*****

So Eun telah tiba didepan rumahnya Kim Bum. So Eun pun masuk kedalam diikuti Nich Khun. So Eun pun disambut Ibunya Kim Bum, Hee Sun.

”Kim So Eun. Bagaimana keadaannya? Apakah dia sudah sadar?”Tanya Hee Sun.

“Maaf, Ibu. Dia masih belum sadar.”jawab So Eun ragu. Khawatir Ibunya akan jadi emosi dengannya.

“So Eun. Maafkan Ibu ini. Aku tau, aku telah menyakitimu dan dia telah membuat kesalahan padamu. Aku mohon, So Eun. Kau harus terus berada disisinya.”lirih Hee Sun sambil menggenggam tangan So Eun.

So Eun hanya bisa terdiam. Belum menangkap maksud perkataan Hee Sun. Melihat situasinya, Nich Khun pun mengambil tindakan.

“So Eun. Kau pergilah ke kamar Kim Bum. Mari Ibu, kita duduk dulu.”kata Nich Khun sambil menenangkan Ibu Mertuanya yang agak shock itu. So Eun pun menuruti perkataan Nich Khun. Lalu dia pun naik tangga. Sudah lima tahun dia meninggalkan tempat ini. So Eun jadi teringat kejadian saat dia salah masuk kamar sehingga terpaksa tidur bersama Kim Bum. So Eun pun tertawa cekikikan. Tidak lama, kembali serius. Dengan perlahan, dia pun memutar kenop pintu kamar Kim Bum. Lalu dibukanya, So Eun agak tertegun melihat seisi kamar Kim Bum. Penuh dengan foto-fotonya waktu sekolah. Lalu dilihatnya, banyak dokumen-dokumen tentang pencarian dirinya. Kemudian dia menemukan sebuah buku penting. So Eun pun membuka buku itu. Betapa terkejutnya dia melihat tulisan Kim Bum.

’Kim So Eun, dimanakah dirimu? Aku sangat merindukanmu. Kau tau? Buku harian Yoo Na sudah kubakar beserta semua barang miliknya. Aku ingin membuktikan kepadamu bahwa aku sudah melupakannya. Dan mencintaimu sebagai Kim So Eun, dirimu sendiri. 1 tahun, 2 tahun, bahkan sampai sekarang aku belum menemukanmu. Aku tau kau pasti sakit hati denganmu. Tapi So Eun, hanya kaulah yang jadi hidupku. Tanpamu aku pasti tidak akan kembali yang seperti dulu lagi. Kembali dengan imej palsuku. Aku tetap tidak akan menyerah. Aku tetap mencarimu, walaupun harus 10 tahun kemudian, jangankan itu mungkin sampai tua pun aku tetap akan mencarimu. Karena aku ingin minta maaf kepadamu.’

Lalu So Eun membalikkan halamannya. Tertanggal saat Kim Bum setelah menemukan So Eun.

’So Eun kenapa kau melupakan perasaanmu? Mendengarmu berbicara seperti itu, rasanya aku sudah tidak pantas untuk hidup lagi. Rasanya aku harus meninggalkan dunia ini dan biarlah aku masuk ke neraka karena sudah menyakitimu dan melupakanku. Aku harap kau masih ada celah hatimu untukku. Maka aku akan berjanji tidak akan meninggalkanmu bahkan tidak akan menyakiti hatimu. Walaupun aku menyakitimu, segenap usahaku akan meminta maaf kepadamu dengan cara apa pun. Aku ingin kau melihat kesungguhan hatiku. Kim So Eun, Maafkan Aku dan Aku Mencintaimu.’

Lalu So Eun menutup buku itu dan airmatanya pun menetes dipipinya. Tidak lama dia pun menangis terisak. Dia jadi menyesal atas apa yang telah diperbuatnya.

”Kim Bum, hiks..hiks.. Maafkan aku, Kim Bum. Maafkan Aku….” So Eun terus menangis terisak didalam kamar Kim Bum yang sepi dan dingin itu.

*****

Sudah hari kelima, Kim Bum masih belum sadarkan diri. So Eun tetap setia menemaninya. Dia melihat kedatangan kedua cowok OSIS itu. Seung Ho dan Hyun Joong.

”Bagaimana keadaannya, So Eun?”tanya Hyun Joong sambil meletakkan plastik yang berisi buah yang dibelinya.

So Eun menggeleng, ”Dia masih belum sadar.”

Seung Ho pun mendekati Kim Bum yang masih tertidur yang diberi selang oksigen.

”Kim Bum. Kalo kau sudah sadar, nanti kita menikah barengan aja.”kata Seung Ho.

So Eun jadi bingung.

”Apa maksudmu, menikah?”tanya So Eun. Seung Ho terdiam mesem-mesem begitu juga Hyun Joong.

”Oh… tunggu dulu. Jangan-jangan kalian sudah melamarnya.”

Seung Ho dan Hyun Joong mengangguk.

”Benar, So Eun. Untuk tanggal pernikahannya, kami sepakat untuk menunggu Kim Bum sadar. Lalu kita menikah bersama.”ucap Hyun Joong semangat. So Eun hanya tersenyum tipis.

”Tapi aku tidak tau kapan Kim Bum akan sadar dari komanya?”

Seung Ho dan Hyun Joong kembali terdiam.

”Bukannya aku tidak setuju, aku tidak mau hanya karena kami pernikahan kalian tertunda.”

”So Eun…”

”Maafkan aku. Aku dan Kim Bum tidak bisa menikah bersama kalian.”

Seung Ho dan Hyun Joong menunduk.

”Baiklah. Aku mengerti. So Eun, kami pulang dulu. Jaga dia baik-baik ya!”pesan Seung Ho.

”Iya.”jawab So Eun. Seung Ho dan Hyun Joong pun keluar.

*****

Kini memasuki bulan ketiga pasca Kim Bum kecelakaan. So Eun tetap menemaninya. Sampai dia minta cuti kepada So Jin. Keluarganya dan keluarga Kim Bum pun rutin menjenguk Kim Bum. So Eun pun membaca sebuah novel tentang percintaan. Namun saat tengah membaca, airmata So Eun pun mengalir. Sepertinya dia sudah tidak bisa menahan emosinya. So Eun melepaskan kacamatanya dan meletakkan bukunya. Lalu dia memegang tangan Kim Bum dengan lembut.

”Kim Bum. Jawablah aku! Aku tidak mau kau meninggalkanku. Dulu aku bilang aku tidak mencintaimu lagi. Itu bohong. Sebenarnya aku masih mencintaimu. Aku takut kau akan menyakitiku lagi. Namun malah aku yang menyakitimu. Maafkan aku, Kim Bum. Kim Bum, Bangunlah!”

So Eun menggoyang-goyangkan tubuh Kim Bum. Tidak ada reaksi. So Eun pun menyerah. Ia hanya bisa menunduk di atas tangan Kim Bum sambil menangis terisak.

Jemari tangan Kim Bum bergerak perlahan. Sedikit demi sedikit, mata Kim Bum pun terbuka lalu melihat So Eun yang masih menunduk menangis.

”Benarkah itu, So Eun? Kau mencintaiku?” Kim Bum pun membuka suaranya.

So Eun pun terbangun dan terkejut melihat Kim Bum.

”Kim Bum? Kau sudah sadar? Kim Bum!”

So Eun langsung memeluk Kim Bum. Kim Bum hanya bisa pasrah.

”So Eun, aku ingin mendengar kata-katamu tadi.”tanya Kim Bum membuat So Eun pun melepaskan pelukannya.

”Kata-kata yang mana?”

”Kata-kata yang penting. Yang tadi kau ucapkan.”

So Eun jadi tersipu malu. Kim Bum hanya bisa tersenyum melihatnya.

”Ayolah, So Eun.”rayu Kim Bum. So Eun melirik Kim Bum.

“Aku mencintaimu, Kim Bum.”kata So Eun dengan suara rendahnya.

”Apa?” Kim Bum pura-pura tidak mendengar.

”Aku mencintaimu, Kim Bum.”kata So Eun lagi yang masih dengan suara rendahnya.

”Apa katamu, So Eun? Aku tidak mendengar.” Kim Bum rupanya mulai jahil lagi.

So Eun pun mendelik Kim Bum. Kim Bum hanya terdiam menanti perkataan So Eun.

Tidak lama, So Eun tersenyum,

”AKU MENCINTAIMU, KIM BUM!?”teriaknya sambil memeluk Kim Bum sampai Kim Bum mengeluh karena kondisinya yang belum terlalu sehat. So Eun masih terus memeluknya. Kim Bum hanya bisa pasrah dan tersenyum mengetahui perasaan So Eun yang sesungguhnya.

*************************

1 TAHUN KEMUDIAN……………..

So Eun sedang berdiri di pagar kayu yang menghadap kolam ikan yang berada di taman umum. So Eun yang memakai baju hitam putih dengan jaketnya yang kuning. So Eun terus tersenyum. Dia sedang menunggu kepulangan Kim Bum. Setelah dia sadar, dia pun langsung dibawa ke Singapura untuk pengobatan lebih lanjut. So Eun tidak bisa menemaninya lantaran dia tidak mau meninggalkan pekerjaannya. Lalu dia mendengar suara langkah yang dikenalnya. So Eun pun berbalik, dan melihat Kim Bum dengan mengenakan kaos berwarna abu-abu dan jaket hitam sambil berlari. Kim Bum berlari sambil membawa balon dan buket bunga.

Akhirnya Kim Bum pun berada dihadapan So Eun. So Eun pun tersenyum.

”Rupanya kau sudah sampai disini. Kenapa kau tidak menelponku?”tanya So Eun. Kim Bum tidak menjawabnya. Dia malah memberikan balon yang diberi oksigen yang berbentuk love kepada So Eun. So Eun pun menerimanya dengan bingung.

”Kenapa kau membawa balon?”

Lagi-lagi pertanyaan tidak dijawab Kim Bum. Kim Bum langsung menyerahkan buket bunga ke So Eun. Kedua tangan So Eun jadi repot memegangnya, kanan memegang buket bunga sedangkan yang kirinya memegang balon. Sampai-sampai balon itu menghalangi So Eun untuk berpandangan dengan Kim Bum. Terpaksa So Eun mengarahkan tangannya menjauh dari mukanya. So Eun tertegun melihat Kim Bum yang secara jelas.

Kim Bum berlutut sambil menunjukkan sebuah cincin silver.

”Apa ini, Kim Bum?”tanya So Eun. Kini Kim Bum pun menjawab pertanyaannya.

”Kim So Eun. Aku persembahkan balon, buket bunga, dan yang terakhir, cincin ini. Sebagai bukti cintaku. Kim So Eun, maukah kau bersamaku dalam suka dan duka untuk selamanya?”kata Kim Bum sambil tersenyum.

So Eun hanya terbelalak mendengarnya. Dan tidak lama, So Eun pun mengangguk setuju. Kim Bum pun berdiri dan menyematkan cincin di jemari So Eun yang masih memegang buket bunga.

”Kim Bum!” So Eun langsung memeluk Kim Bum. Tidak peduli, balon yang dipegangnya telah lepas dan terbang bebas ke langit. Berpuluh-puluh balon yang dipegang So Eun dari Kim Bum telah menyebar. Hanya terlihat Kim Bum dan So Eun saling berpelukan. Lalu mereka pun berciuman dengan mesranya.

**************************

6 TAHUN KEMUDIAN………………

So Eun terus senyum-senyum melihat album yang dilihatnya. Dia sedang berada dikamarnya. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh gadis mungil dibelakangnya.

”Ibu. Ayo kita pergi bertamasya!”rengek gadis itu yang rupanya anaknya, Kim Jin Hye.

”Iya, Jin Hye.”

Suara klakson mobil pun terdengar sampai dikamarnya. So Eun pun membuka tirainya agar melihat dengan jelas. Dilihat suaminya, Kim Bum sedang duduk dimobil.

”Ayo, So Eun! Nanti mereka akan kelamaan nunggunya.”teriak Kim Bum.

”Iya, sayang! Aku akan kesana!” So Eun pun membalas teriakannya. Lalu dia menunduk di hadapan anaknya.

”Jin Hye, tidak ada barang yang ketinggalan kan?”tanya So Eun.

”Tentu aja, Ibu! Hari ini kan kita akan berkemah bersama.” Jin Hye berteriak kegirangan. So Eun tersenyum, ia pun mengambil tas lalu menuntun Jin Hye keluar. Lalu ditutup pintunya. Sebuah album yang belum sempat ditutupnya, tergeletak diatas meja disamping foto bingkai pernikahannya. Terlihat foto di album, Nich Khun dan Victoria beserta kedua anaknya, Seung Ho, Ji Yeon, Hyun Joong, So Min, Kim Bum, dan So Eun yang masing-masing memiliki satu anak ini terlihat ceria.

Hasil jepretan photograper yang begitu indah dan bahagia telah mengakhiri penderitaan masa lalu Kim Bum dan So Eun.

THE END………………………..

Akhirnya………………

Selesai juga FF saiia nech….

Lega deh!

Thanks buat kalian yang udah setia membaca FF saiia  .

^______________________^

54 responses to “LovEun In Bum [Part 17 / Final]

  1. sabanaRyuga Oktober 8, 2014 pukul 5:16 am

    akhir yg indah

  2. Rani Annisa Desember 7, 2014 pukul 4:31 pm

    wah akhirnya happy ending🙂

    wah mereka berdua akhirnya mengungkapkan perasaan cintanya masing-masing setelah memendamnya…

    dan diakhirnya juga mereka bahagia banget apalagi udah punya anak…

    suka banget sama ff ini mulai dari awal sampai akhir 🙂

  3. Marthatina vita vienna Maret 12, 2015 pukul 10:21 am

    Wah so sweet.ending yang indah.:-)

  4. mia September 11, 2015 pukul 11:47 pm

    horeeeeee.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: