RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

If You Ever Back [Part 1]


Genre: Roman, Hurt, Family

Rated: T

Cast: Kim So Eun, Kim Sang Bum

 

PART 1

 

“Aku hamil.”

Pemuda berusia 17 tahun hanya terdiam dihadapannya. Pemuda itu terlihat terkejut namun dengan cepat ditutupi ekspresinya dengan datar. Gadis yang berusia sama itu menatap tajam sembari menunjukkan sebuah amplop putih dari rumah sakit. Pemuda itu segera membacanya dengan pelan. Cukup lama hening di sekitar mereka. Pemuda itu meremas kertas yang membuatnya kesal.

“Apa kau mau bertanggung jawab untuk kehamilanku? Aku mengandung anakmu, Kim Bum.”
Tatapannya hampir berkaca-kaca namun gadis itu memutuskan menahannya, berusaha bersikap tegar. Kim Bum masih menunduk. Berusaha memikirkan jalan keluar dari masalah mereka. Cukup lama ia berpikir akhirnya ia pun menjawabnya.

“Maafkan aku, So Eun.”

So Eun tau arti dari jawaban itu. Dia tetap terdiam. Tidak membalas perkataannya. So Eun menunduk berusaha menahan rasa sakit hatinya atas jawaban yang tidak bertanggung jawab itu.

“Kau harus menggugurkannya.”

So Eun mendongakkan kepalanya. Terkejut. Matanya berkedip cepat memastikan dia tidak salah melihat ekspresi Kim Bum yang tidak ada rasa bersalah sama sekali atas perkataan tadi.

“Kau harus menggugurkan kandunganmu, So Eun. Kau tau kan kalau aku sudah memiliki tunangan. Aku tidak mau mengecewakan mereka.”

So Eun tersenyum miris. Ia tau kalau pemuda tampan ini memang sudah memiliki tunangan karena perjodohan yang dilakukan keluarganya. Sebuah rencana setelah lulus sekolah, mereka akan segera menikah secara resmi.

Rasanya So Eun ingin tertawa. Ia hampir saja melupakan posisinya yang sedikit hina atau lebih hina? Hubungan yang disebut perselingkuhan. Semua ini bermula dari So Eun yang menyatakan cinta kepada Kim Bum. Ajaibnya, Kim Bum menerima cintanya dan jadilah mereka sepasang kekasih. Walaupun So Eun terlambat mengetahui jika Kim Bum sudah memiliki tunangan sebelum dirinya menyatakan cinta. Mungkin karena So Eun terlalu cinta kepada Kim Bum ketika Kim Bum menyebutkan hubungan mereka sebenarnya adalah perselingkuhan. Kim Bum tidak mencintai tunangannya juga tidak mencintai So Eun. Kim Bum menerima cinta So Eun karena dia sedang dilanda kebosanan dalam hidupnya.

Lalu bagaimana So Eun bisa mengandung anaknya? Ini adalah sebuah kecelakaan yang tidak dipikirkan So Eun. Seharusnya So Eun lebih menjaga dirinya. So Eun harus ingat dengan nasihat orang tuanya. Bahkan ia bertekad akan memberikan kesuciannya untuk suaminya yang sah.

“Kenapa kau bisa berkata seperti itu? Bukankah kau yang memulainya? Aku pikir kau sudah siap dengan konsekuensinya.” Akhirnya So Eun bersuara. Kim Bum memalingkan pandangannya lalu kembali memandang So Eun dengan tajam.

“Aku minta maaf atas kejadian itu. Aku tidak bermaksud melakukannya. Lagipula sebentar lagi dia akan pulang dan kami akan segera menikah. Aku tidak siap menjadi Ayah dan aku tidak mau mengecewakan orang tuaku yang sudah menyiapkan rencana pernikahan kami.”

So Eun meremas roknya dengan kuat. Menyalurkan rasa emosinya yang tidak bisa ditebak.

“Apa kau mencintainya?”

Kim Bum menatap tajam. Ekspresinya masih tetap datar.

“Tidak.”

So Eun sudah menduganya.

“Lalu apa kau mencintaiku?”

“Tidak.”

So Eun sudah menduganya lagi. Kim Bum mengeluarkan sebuah kertas, ia mencoretkan sesuatu kemudian diserahkannya kepada So Eun.

“Gunakan ini untuk menggugurkan kandunganmu. Aku yakin uang ini cukup untukmu.”

So Eun tersenyum miris menerima sebuah cek yang tertulis lima juta won.

“Kalau uang itu masih kurang, kau bisa minta kepadaku.”

So Eun tidak menjawabnya. Matanya masih terfokus kepada cek yang ada ditangannya. Kim Bum memberikannya sebuah cek senilai lima juta won.

“Kim So Eun.”

Suara Kim Bum menyadarkan So Eun dari lamunannya. So Eun memasukkan cek ke dalam tasnya. Kemudian ia bangkit dari kursinya dan membungkuk sedikit. Ia membalikkan tubuhnya dan keluar dari kafe. Membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Kim Bum menatap sendu, tangannya pun mengepal.

“Maafkan aku, So Eun.”

*****

So Eun benar-benar ingin lenyap dari bumi. Tangisan yang dari tadi ditahan kini pun keluar. So Eun terus menangis terisak. Hujan masih menemani kesedihannya yang berlutut dihadapan dua nisan. Pemakaman orang tuanya yang baru saja meninggal beberapa hari yang lalu.

“Hiks.. hiks.. Ayah, Ibu, maafkan aku. Aku… aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan? Aku sudah kehilangan kalian. Aku pikir dia akan mencintaiku dan bersamaku selamanya. Tetapi… dia…”

So Eun memecahkan tangisannya. Rasa sakit hatinya sudah tidak bisa dibendung lagi. So Eun berteriak menangis sekuat-kuatnya. Menyalurkan rasa sakit yang sangat mendalam.

“Dia… Hiks.. memintaku menggugurkan anaknya sendiri. Ayah, Ibu apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menggugurkan anakku ini? Menggugurkan cucu kalian? Aku mohon bantu aku memikirkannya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”

*****

Seorang gadis masih sibuk menonton televisi. Untungnya hari ini orang tuanya sedang pergi ke luar kota hingga dia bisa menikmati kesendiriannya dirumah. Hampir saja ia pergi menuju ke dapur ketika sebuah ketukan pintu terdengar cukup keras. Gadis itu sedikit berlari menuju ke pintu rumahnya mengingat hujan begitu lebat dan ia pastikan tamu yang ada diluar jika tidak membawa payung akan basah kuyup.

‘Cklek’.

“Siap-.. So Eun?!”

“ Park Ji Yeon.”

“Astaga! Kau kenapa?”

Ji Yeon langsung menarik So Eun masuk ke dalam rumahnya. Kondisinya benar-benar memprihatinkan. Ji Yeon segera mengambil handuk di dapur lalu ia melilitkan handuk itu ke tubuh So Eun yang menggigil kedinginan. Dituntunnya berjalan menuju ke sofa. Mereka pun duduk dengan pelan.

“Apa yang sedang terjadi, So Eun? Kenapa kau jadi kacau begini?” seru Ji Yeon dengan cemasnya sambil mengeringkan rambut So Eun yang basah. Tiba-tiba So Eun mencengkram kedua bahu Ji Yeon.

“Ji Yeon.”

“Iya?”

“Kau masih tetap sahabatku kan? Kau tidak akan meninggalkanku kan? Kau tidak akan membiarkanku sendirian dan akan membantuku kan? Kau tidak akan membenciku…”

“Apa yang kau bicarakan? Kau kenapa, So Eun?” Ji Yeon memotongkan perkataannya. Merasa aneh dengan So Eun yang tiba-tiba terlihat ketakutan. So Eun tidak menjawab, ia memilih menangis dipelukan Ji Yeon.

*****

10 Tahun kemudian….

Wanita berusia 28 tahun berjalan dengan bijaksana menuju ke arah ruangannya. Sesekali dia membalas sapaan para karyawan yang melewatinya. Wanita cantik itu akhirnya telah sampai ditempat yang ditujunya, ruangan ketua manajer. Ia mengetuk pintu dengan pelan.

“Masuk!”

Sebuah perintah yang mengijinkannya masuk, wanita itu membuka pintu dan memasuki ruangannya. Ia tersenyum melihat direktur yang sudah membantunya begitu banyak. Tangannya yang membawa beberapa dokumen diserahkan kepada manajer.

“Ini hasil laporannya, sudah aku selesaikan. Manajer Ji Yeon.”

Ji Yeon tersenyum bangga melihat dokumen yang sudah diselesaikan dengan cepat dari perkiraannya.

“Tidak sia-sia aku memilihmu di bagian keuangan, So Eun.”

So Eun hanya tersenyum menanggapinya.

Tidak terasa sudah sepuluh tahun ia lewati. Sejak kejadian itu, So Eun memutuskan pindah sekolah dan pindah ke Busan mengikuti keluarga Ji Yeon. Untung saja keluarga Ji Yeon menganggap So Eun sebagai anggota keluarganya. Sehingga So Eun tidak merasakan sendiri lagi. Tidak sendiri lagi karena dia berjuang bersama anak lelakinya.

Iya. So Eun memutuskan tidak menggugurkan kandungannya. Uang yang diberikan dari Kim Bum digunakannya untuk merawat anaknya yang bernama Kim Ki Bum. Ia menggunakan nama Ayah So Eun yang sudah tiada. So Eun juga memutuskan untuk menghilangkan diri dari kehidupan Kim Bum.

*****

So Eun terus berjalan. Hendak menuju ke ruangannya kembali. Kepalanya terus menunduk membaca dokumen yang baru saja dia terima dari salah satu bawahannya.

Tiba-tiba ponsel bergetar di saku roknya. So Eun segera mengambil dan menjawab panggilan tersebut.

“Halo.”

“IBU…!!”

“Ki Bum? Ada apa kau menelepon Ibu?”

“Ibu, aku minta dijemput. Hari ini aku pulang cepat.”

“Benarkah? Baiklah, sebentar lagi Ibu pulang. Kau tunggu saja di sekolah dulu. Ibu akan segera menjemput.”

“Baik, Ibu!”

So Eun tersenyum mendengar suara anaknya yang sudah berusia 10 tahun. Ki Bum kini sudah kelas 5 SD. Tatapannya yang terlalu fokus dengan ponsel membuatnya tanpa disadari telah menabrak seorang pria dan ponselnya pun terjatuh. Pria itu memungut ponsel dan diserahkan kepada So Eun.

“Ah… Terima ka-…” So Eun tercekat melihat pria itu. Pria yang seharusnya ia tidak temui. Pria yang seharusnya ia hindari.

“Kau… Kim So Eun?”

Rupanya pria itu mengenalinya. Segera So Eun mengambil ponsel dari tangannya dan berbalik hendak menjauhinya. Namun rupanya niatnya mesti ditunda karena pria itu menahan tangannya. Menahan kepergiannya.

“Kenapa kau jadi terburu-buru seperti itu, So Eun? Sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu.”

So Eun hampir tersenyum miris, rupanya ia masih ingat waktu perpisahannya.

“Apa kabar, Kim Sang Bum? Kita… memang sudah lama tidak bertemu.” So Eun memutuskan membalas sapaannya. Berusaha ramah dengannya. Pria yang sudah mencampakkannya.

*****

Tangannya memegang ponsel dengan gelisah. So Eun berkali-kali melirik arloji di tangan kanannya. Sudah hampir sepuluh menit ia duduk di kafe. Gelagatnya tidak bisa bersikap duduk dengan tenang. So Eun melirik Kim Bum yang terdiam meminum kopi pesanannya. Sejak Kim Bum mengajaknya untuk ke kafe, kini Kim Bum masih belum bicara. Padahal dia harus segera menjemput Ki Bum.

“Bagaimana keadaanmu?” Kim Bum pun membuka suaranya. So Eun mendongakkan kepalanya. Menatap tajam.

“Ah… A-aku baik-baik saja.”

“Benarkah? Syukurlah kalau begitu.”

Kim Bum menutup bibirnya sebentar. Memikirkan pertanyaan yang sudah lama ditanyakan.

“Lalu… Apa kau benar-benar menggugurkannya?”

Akhirnya topik sensitif pun dimulai. So Eun berusaha menenangkan dirinya. Ia berusaha menutupi kegelisahan. Ia sudah menduga akan seperti ini jika bertemu dengan Kim Bum lagi.

“Seperti yang Anda minta, aku benar-benar menggugurkannya.”

Perkataan yang telak buat Kim Bum namun sedikit terpancing kebohongannya. So Eun tidak ingin mengakui Ki Bum sebagai anak Kim Bum. So Eun bisa melihat Kim Bum menunduk. Entah kenapa ia merasa ekspresinya terlihat bersalah.

“Begitu. Hmm… Eng… soal masalah sepuluh tahun yang lalu. Aku… minta maaf.”

Mata So Eun membulat. Kim Bum minta maaf? Apakah dia merasa menyesal?

“Seharusnya aku tidak mengatakan seperti itu. Maafkan aku. Aku tidak tau jika masalah itu menambah bebanmu. Apalagi kau baru saja kehilangan orang tuamu. Jika aku tau itu, tentunya aku tidak akan menyuruhmu aborsi.”

Seharusnya So Eun bisa menduganya. Kim Bum tidak berubah. So Eun merasa dirinya menjadi rendahan. Kim Bum berkata seperti itu karena kasian kepadanya. Benar hanya kasihan, tidak mencintainya. So Eun sudah berjanji dari dulu sejak penolakan Kim Bum. So Eun akan mematikan rasa cintanya kepada Kim Bum. Tidak tahan dengan situasi seperti ini. So Eun segera berdiri dan dia hampir saja menabrak Ji Yeon yang rupanya datang mencarinya.

“So Eun, kau dari mana saja? Kau tau, Ki Bum berkali-kali menelponku. Dia memintamu untuk menjemputnya.”

So Eun menepuk dahinya. Dia lupa. Tanpa menyadari keheranan Kim Bum, So Eun segera menarik Ji Yeon keluar bersamanya.

“Ki Bum? Siapa dia?” gumam Kim Bum entah kenapa terdengar dingin namun penasaran.

*****

Anak laki-laki itu berlari dengan lincah dan membiarkan dirinya menabrak seseorang yang telah melahirkannya.

“Ibu! Kenapa Ibu lama sekali menjemputku?” gerutunya sambil memeluk sang Ibu.

“Maafkan Ibu, Sayang. Tadi ada sedikit urusan.”

“Baiklah, Ibu. Yang penting Ibu sudah datang menjemputku.”

“Terima kasih sudah memaafkan Ibu. Kau anak yang baik, Ki Bum.”

Ki Bum langsung mencium pipi So Eun, Ibunya yang tercinta. So Eun segera menggendong anaknya dan berjalan menuju ke mobil. Mereka masuk kedalam. Kemudian So Eun menjalankan mobilnya meninggalkan sekolah. Sepasang mata yang menyaksikan pemandangan itu, tangannya mengepal di setiran. Rahangnya mengeras namun tatapannya penuh sendu.

“Kenapa kau harus berbohong kepadaku, So Eun? Kenapa kau tidak katakan kalau kau masih mempertahankan anak kita?”

TO BE CONTINUED…….

NB: Sebenarnya ingin mengumumkan sesuatu, dengan amat sangat menyesal FF yang sudah diposting synopsis yang berjudul Fate Of The Past tidak akan dilanjutkan. Maafkan Author ini yang selalu plin plan dalam membuat ff. Sungguh menjadi kebiasaan jika sudah posting sebuah synopsis bukannya post part 1 malah post ff lain. Namun sungguh hal ini dikarenakan tiba-tiba tidak ada inspirasi. Kalaupun ada, konfliknya terlalu berat dan author cukup susah untuk mendeskripsikan tersebut mengingat kemampuan menulis yang terlihat lamban karena memikirkan kata-kata yang cocok. Maaf sudah mengecewakan para reader yang sudah lama menantikan ff tersebut. Namun sebagai gantinya, aku sudah mengepost ini yang berjudul If You Ever Back. Full Bumsso, semoga FF ini bisa mengobati kekecewaan para reader. -________-

154 responses to “If You Ever Back [Part 1]

  1. nanda Maret 9, 2016 pukul 4:45 am

    lnjut nee…q ska dgn crt’y…n pnsran dgn ksh hdp bumsso slnjt’y…

  2. Ikfina Mei 3, 2016 pukul 5:02 pm

    penasaran nih gimana kelanjutan ceritanya. Kim Bum akan ngelakuin apa setelah tau So Eun tidak menggugurkan kandungannya. Ditunggu next partnya…oh ya grudge love juga ditunggu.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: