RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

An Officer And A Millionaire [Part 2]


cover depansmall

Rated: M

Cast: Kim So Eun, Park Jung Soo (Lee Teuk)

WARNING: FF ini merupakan remake novel terjemahan yang berjudul AN OFFICER AND A MILLIONAIRE, karya Mauren Child.FF ini 90% bukan murni milik saya, berhubung novel ini merupakan terjemahan maka nama dan tempat disesuaikan dengan cast asal korea.  Happy Reading!?^^

An Officer And A Millionaire [Part 2]:

RASAKAN, So Eun berkata pada diri sendiri waktu mulut Jung Soo terbungkam rapat dan matanya melotot. Pria itu mungkin berada di atas angin sejak dia menemukan So Eun tanpa sehelai benang pun – ya ampun – di kamar mandi. Namun sekarang, inilah yang seharusnya terjadi: pria itu yang harus membela diri.

Ruangan itu tiba-tiba begitu sunyi hingga So Eun bisa mendengar suara napas mereka berdua. Cahaya matahari masuk melalui pintu yang terbuka dan memantulkan semburat emas di hamparan karpet hijau. Semilir angin lembut mengibarkan tirai dan membawa aroma mawar di bawah kamar tidurnya. Biasanya, ia sangat mencintai kamar ini, merasakan kedamaian, kenyamanan. Hari ini, tidak terlalu.

“Aku tidak perlu terlalu malu terhadap apa pun,” ujar Jung Soo tegang. “Aku pergi untuk bekerja, mengabdi pada negaraku. Bukan aku yang mengambil keuntungan dari pria tua yang kesepian.”

“Kau tidak tahu apa-apa.” Suara So Eun kaku, begitu juga tulang punggungnya.

“Aku memang tidak tahu,” gumam Jung Soo. “Itu cukup jelas bagiku. Kau sekretarisnya dan entah bagaimana kau berhasil meyakinkannya bahwa kita menikah. Bagaimana caramu melakukannya, aku sama sekali tidak tahu, tapi aku akan mencari tahu.”

“Oh, itu masuk akal,” ujar So Eun. “Aku hanya tinggal memakai cincin di jari dan berkata, ‘Coba tebak, aku telah menikah dengan cucumu yang idiot’ dan Tuan Park langsung percaya padaku. Katakan padaku, memangnya kau pikir kakekmu benar-benar sebodoh itu? Pastilah kau pikir begitu, dan itu artinya kau sama sekali tidak membiarkan logika mengatur pikiranmu.”

“Logika?”

“Sudahlah, mungkin kau memang tidak terbiasa menggunakan logika.”

Satu menit panjang berlalu tanpa suara sementara mereka bertatapan, namun So Eun bertekad untuk tidak berbicara lebih dulu. Kesabarannya akhirnya terbayar.

Mulut Jung Soo bergerak dan raut wajahnya menegang hingga pria itu kelihatan sangat tidak nyaman sebelum berkata enggan, “Tentang serangan jantung kakek. Kurasa seharusnya aku… berterima kasih, karena kau menemaninya malam itu.”

“Kaurasa begitu?”

“Waktu itu aku sedang menjalankan misi,” tambah Jung Soo, seolah So Eun tidak berbicara. “Aku baru tahu tentang serangan jantung kakek setelah aku kembali. Saat itu, krisis sudah berakhir. Aku menelepon dia, jika kau masih ingat.”

“Sangat menyentuh,” bentak So Eun, teringat ekspresi senang di wajah Tuan Park ketika cucunya akhirnya menelepon untuk mengecek keadaannya. “Telepon pribadi yang begitu mendalam. Tetapi tetap saja kau tidak mau repot-repot datang dan menjenguknya.”

“Dia baik-baik saja,” bantah Jung Soo. “Selain itu, timku langsung dikirim lagi, nyaris tidak ada jeda dan – “

“Oh, bukan aku yang perlu mendengar penjelasanmu,” ujar So Eun. “Seharusnya kau bicara pada Kakekmu. Lagi pula, aku tidak menemani kakekmu selama dia sakit demi kau.”

“Baik.”

“Baik.” Rasanya… aneh, berdiri di ruangan yang sama dengan pria yang telah dinikahinya secara resmi selama setahun. Telah begitu lama Park Jung Soo tinggal dalam benak So Eun, namun melihat sosok pria itu secara langsung terasa lebih seperti mimpi daripada kenyataan yang selama ini dijalaninya.

Aneh, setiap kali membayangkan pertemuan pertamanya dengan Park Jung Soo, tidak sekali pun So Eun berpikir mereka akan langsung terlibat dalam argumen besar. Namun pria itu yang memulai, memanggil dirinya pencuri! Sehingga ia tidak menyesali apa pun yang telah ia katakan pada pria itu. Raut wajah Jung Soo masih tegang, namun sekarang ada sesuatu lain di sorot mata pria itu selain kemarahan. Sesuatu yang tidak bisa So Eun baca dengan cukup jelas, dan itu sedikit mengganggu.

“Dimana kakekku sekarang?”

“Mungkin di ruang kerjanya,” gumam So Eun. “Dia sering menghabiskan sepanjang sore di sana.”

Jung Soo mengangguk dan beranjak pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

So Eun langsung menghembuskan napas keras begitu pria itu pergi dan buru-buru berjalan ke tempat tidur untuk mengempaskan diri, duduk di tepian kasur. Saat menunduk menatap kedua tangannya, pertama-tama ia menatap cincin kawin yang dibelinya sendiri, kemudian ia sadar tangannya gemetar. Tidak mengherankan, tentunya. Tidak setiap hari ia mendapati ada pria gusar yang rupawan melangkah masuk ke kamar mandi.

“Saat mandi. Pria itu melihatku tanpa pakaian.” Itu sama sekali bukan cara yang ia bayangkan saat ia bertemu dengan suaminya untuk pertama kali. Terutama sekali karena ia belum berhasil menemukan cara untuk menghilangkan bobot lima kilogram yang tidak dibutuhkannya. Dan rambutnya tampak mengerikan dan ia tidak memakai make up dan – So Eun mengerang dan memukul pelan dahinya.

“Ya ampun, So Eun, bukan berarti make up bisa mengubahmu menjadi wanita dalam kategori supermodel.” Ia sangat sadar bagaimana penampilannya. Ia bukan tipe wanita yang akan menarik perhatian pria seperti Park Jung Soo. “Tetapi tidak penting bagaimana penampilanmu sekarang, kan? Lain persoalannya jika kau benar-benar menikah dengan pria itu.” Secara resmi memang ya. Faktanya, tidak.

So Eun menjatuhkan diri ke tempat tidur dan menatap ke langit-langit hijau dingin itu. Ia tidak berencana bertemu suaminya sampai setelah kakek Jung Soo menjelaskan seluruh situasi ini. Dan itu akan berjalan sesuai seharusnya jika Jung Soo tidak muncul dua minggu lebih awal, demi Tuhan.

Jadi, jika dipikir-pikir, semua ini kesalahan Jung Soo.

Namun selagi menerawang memandangi langit-langit, ia harus mengakui bahwa penjelasan itu tidak membuat dirinya merasa lebih baik.

*****

Jung Soo berjalan menyusuri lorong-lorong yang akrab dengannya, dengan langkah panjang, penuh tekad, namun tidak peduli seberapa ia cepat berjalan, ia tidak bisa mengeluarkan wanita itu dari benaknya. Suara wanita itu menggema seiring setiap entakan keras tumit sepatu botnya di lantai.

Pria tua itu kesepian. Hampir mati. Malu.

Sambil menggumamkan umpatan pelan, Jung Soo membungkam suara itu dan sampai ke dasar tangga. Sambil menumpukan satu tangan ke tiang penyangga, ia berbelok tajam ke kanan dan terus menyusuri lorong berkarpet menuju pintu terakhir di sebelah kiri.

Jung Soo membuka pintu itu tanpa mengetuk lebih dulu dan melangkah ke dalam. Setidaknya ruangan ini tetap sama. Tidak berubah.

Namun tatapan Jung Soo terpaku pada pria tua yang tersenyum sambil perlahan-lahan bangkit dari kursinya. “Kakek.”

“Jung Soo, anakku! Senang sekali melihatmu! Kau datang lebih awal,” ujarnya sambil berjalan memutari tepian meja dengan langkah hati-hati. “Kusangka kau baru datang beberapa minggu lagi.”

Jung Soo berjalan menghampiri pria yang merupakan satu-satunya hal stabil dalam hidupnya. Sewaktu Jung Soo berusia dua belas tahun, orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil sehingga ia kemudian tinggal bersama kakek dari pihak ayahnya. Tuan Park melangkah masuk, mengisi kekosongan dalam hidup cucu laki-lakinya, dan bagi Jung Soo dia selalu tampak mengesankan. Kuat, yakin, percaya diri.

Namun, sekarang Jung Soo menyadari untuk pertama kalinya bahwa usia tua akhirnya berhasil memengaruhi kakeknya. Sesuatu yang dingin dan keras mencengkeram jantung Jung Soo sewaktu ia memeluk pria tua itu dan benar-benar merasakan kerapuhan kakek yang sebelumnya tidak ada. Ia menelan kembali pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi tenggorokannya dan menuntut pembebasan, memaksa diri untuk bersabar.

Sambil melangkah mundur, pria tua itu melambaikan satu tangan ke arah kursi dan berkata, “Duduk, duduk. Apakah kau yakin kau boleh berjalan dengan luka di samping tubuhmu itu?”

“Aku baik-baik saja, Kakek,” ujar Jung Soo, meyakinkan kakek sambil duduk di kursi di hadapan kakeknya. Ia sanggup menunggu jawaban mengenai wanita di lantai atas itu. Untuk satu atau dua menit, setidaknya. “Hanya goresan, sungguh.”

“Mereka tidak akan merawatmu di rumah sakit selama empat hari hanya karena luka goresan, Nak.”

Benar, namun sebisa mungkin ia tidak ingin membuat kakek bertambah khawatir. Jung Soo tertembak peluru pada misinya yang terakhir, tapi lukanya tidak membahayakan nyawa meski sangat menyakitkan. Sekarang yang tersisa hanyalah rasa nyeri jika ia bergerak terlalu cepat dan bekas luka dari operasi lapangan seadanya yang dilakukannya sendiri dengan terburu-buru pada tubuhnya, mengingat waktu itu ia terpisah dari anggota tim yang lain.

Sambil tersenyum, Jung Soo hanya berkata, “Mereka tidak akan membiarkanmu keluar dari rumah sakit hanya setelah empat hari dirawat jika itu luka serius.”

“Bagus kalau begitu. Kau membuatku khawatir , Nak.”

“Aku tahu. Maaf.”

Kakek menepis permintaan maaf tersebut. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Jung Soo. Itu pekerjaanmu, aku tahu itu.”

Kakek sebenarnya masih tidak setuju terhadap keputusan Jung Soo untuk bergabung dengan militer. Kakek ingin Jung Soo mengambil alih dinasti keluarga Park. Duduk di belakang meja dan mengawasi berbagai jenis usaha milik kerajaan bisnis yang dirintis ayah Tuan Park sejak lama sekali. Namun Jung Soo tidak pernah tertarik pada bisnis perbankan atau jenis bisnis lain yang akan mengikatkan dirinya dengan gaya hidup dengan jam kerja khas pegawai kantor. Ia menginginkan petualangan. Ia ingin melakukan sesuatu yang penting. Mengabdi pada negara memenuhi keinginan tersebut.

“Meski demikian,” Tuan Park berkata, dengan sentuhan nada cerdik yang sudah tak asing lagi, “kau tidak akan mampu menjalankan pekerjaan itu selamanya, bukan?”

Jung Soo merengut melihat kilau penuh perhitungan di mata kakeknya. Ia benci mengakui – bahkan pada diri sendiri – bahwa ia memang memikirkan hal yang sama akhir-akhir ini. Terus terang, semenjak ia tertembak. Lima tahun yang lalu, itu tidak akan terjadi dan ia tahu itu. Karena lima tahun yang lalu ia bisa bergerak lebih cepat. Mendeteksi penyerangan lebih awal, sanggup berlari ke tempat perlindungan cukup cepat untuk menghindari peluru sialan yang menghantam dirinya.

Namun bukan pilihan kariernya yang ingin ia bicarakan sekarang. Dan mengingat ia tidak bisa memikirkan cara mudah untuk mengungkit topik tersebut, Jung Soo langsung saja berseru, “Lupakan soal pekerjaanku untuk saat ini. Kakek, wanita di lantai atas itu bukan istriku.”

Kakek menyilangkan kaki, melipat kedua tangan di atas perutnya yang datar dan mengulaskan senyum ke arah cucunya. “Ya, dia istrimu.”

“Oke, jelas sekali ini ternyata lebih sulit daripada yang kupikirkan,” Jung Soo bergumam dan bangkit. Sambil menggosokkan satu tangan ke tengkuk, ia mengingatkan diri sendiri bahwa wanita itu punya waktu satu tahun untuk mendekatkan diri dan memperoleh kasih sayang kakek. Butuh waktu lebih dari satu menit untuk membuat kakek melihat kenyataan sebenarnya. “Aku belum pernah melihat wanita itu, Kakek. Semua yang dia katakan padamu hanyalah kebohongan.”

Kakek tersenyum, matanya mengikuti gerakan Jung Soo yang berjalan mondar-mandir. “Dia tidak mengatakan apa pun padaku, Jung Soo.”

Jung Soo berhenti dan menatap tajam ke arah kakeknya. “Jadi kau langsung membiarkan siapa pun yang mengaku sebagai istriku masuk ke rumah dan mengambil alih kamarku?”

Kakek terkekeh. Mungkin itu bukan pertanda baik.

“Kau tidak mengerti,” ujar pria tua itu. “Dia tidak berbohong padaku tentang pernikahannya denganmu, karena dia tidak perlu berbuat demikian. Akulah yang mengatur pernikahan tersebut.”

“Kau melakukan apa?” Jung Soo menatap kakeknya dengan sorot tidak percaya. Ia bahkan tidak tahu harus berkata apa. Sialan, apa yang bisa ia katakan? “Kau yang mengatur – kau tidak bisa melakukan itu.”

“Bisa dan sudah kulakukan,” Kakek meyakinkan Jung Soo, tampak sangat puas pada diri sendiri. “Gagasan ini terlintas dalam pikiranku setelah aku kena serangan jantung tahun lalu.”

Gagasan apa?” Jung Soo berjalan kembali ke kursinya dan duduk, pandangannya terpaku pada pria tua yang menyeringai padanya.

Alis putih kakek terangkat. “Yah, jawaban atas masalahku, tentu saja. Di sanalah aku, di rumah sakit. Sedangkan kau ada di tempat lain, hanya Tuhan yang tahu di mana, dan di sinilah So Eun.”

“So Eun.”

“Asistenku.”

“Asistenmu, benar. Dia mengatakan itu padaku.” Asisten yang berubah menjadi cucu menantu, rupanya.

“Sosok yang sangat terorganisir, So Eun itu,” gumam kakek penuh perhatian. “Selalu sigap menangani sesuatu. Tahu cara terbaik menyelesaikan segala sesuatu.”

“Aku berani taruhan itu benar.”

Kakek mengerutkan kening padanya. “Semua itu sama sekali bukan perbuatan So Eun, Nak. Ini gagasanku. Kau ingat itu.”

Jung Soo berjuang keras mengendalikan emosinya yang mulai meninggi dan memaksa diri berbicara perlahan-lahan dan tenang. Itu tidak mudah. “Persisnya apa gagasanmu?”

“Aku butuh keluarga di sini!” Beringsut di kursinya, kakek mengangkat satu lengan ke lengan kursi, dan jemarinya mulai mengetuk-ngetuk kulit lembut itu. “Brengsek, keputusan harus segera dibuat, dan meskipun aku sudah mengatakan pada So Eun apa yang aku inginkan, dia tidak memiliki wewenang untuk membuat para dokter melakukan satu hal pun. Bisa saja itu berakibat buruk bagiku, namun aku beruntung.”

Seketika, pikiran Jung Soo dipenuhi gambaran kakek yang berbaring di ranjang rumah sakit, terhubung ke mesin yang memantau jantungnya, napasnya, sementara para dokter bergegas-gegas dan seorang wanita mungil, seksi, dan berambut hitam, berusaha memberikan perintah. Ia sungguh-sungguh benci karena dirinya tidak berada di sana demi pria tua itu, pada saat kakeknya sangat membutuhkan dirinya. Meski merasa bersalah, bukan berarti ia mengerti bagaimana bisa ia memiliki istri!

“Jadi seharusnya kau memberi wanita itu surat kuasa,” ujar Jung Soo.

“Mungkin saja,” kakeknya membenarkan, dan ketukan jarinya sedikit melambat. “Namun aku tidak melakukan itu. Sebaliknya, aku meyakinkan So Eun untuk menikah denganmu.”
“Kau – “

“Ini cara termudah yang bisa kupikirkan. Aku menginginkan keluarga di sekelilingku, Nak, dan kau tidak ada di sini.”

Rasa bersalah kembali menerjang Jung Soo hingga ia setengah terkejut dirinya masih bisa bernapas di bawah impitan beban tersebut. Tetapi… “Kau tidak bisa begitu saja menikahkanku tanpa menyinggungnya sedikit pun padaku.”

“Aku punya dua kata untukmu, Jung Soo,” ujar kakeknya, “… pernikahan yang diwakilkan.”

Diwakilkan? Bagaimana kau bisa melakukan itu tanpa tanda tanganku?”

“Aku mendapatkan tanda tanganmu,” ujar kakek dengan senyuman licik. “Dan jika kau cukup memperhatikan serta membaca laporan keuangan Park yang kukirim untuk mendapatkan tanda tanganmu, seharusnya kau memperhatikan sertifikat perkawinan tersebut.”

Sialan. Kakek benar dalam hal ini. Setiap kali kiriman kertas datang, Jung Soo langsung saja menandatangani bagian yang ditandai dan mengirimkannya kembali. Bisnis keluarga bukan jalan hidupnya. Dan ia menjaga kedua dunia itu sepenuhnya terpisah. Tidak diragukan lagi kakeknya yang cerdas menyadari hal tersebut dan mengeksploitasinya. Kekaguman berperang dengan rasa jengkel dalam diri Jung Soo.

“Ah, baiklah. Kau menyadari aku benar.” Gerakan jemari kakek semakin cepat, dan ketukan di kursi kulit tua itu semakin keras dan marah, berlawanan dengan upaya pria tua itu untuk terlihat santai. “Aku berdiri sebagai wakilmu dalam upacara pernikahan itu. Aku sadar karena kau tidak bisa pulang untuk menjengukku sewaktu terkena serangan jantung, pasti kau pun tidak akan bisa pulang untuk menghadiri pernikahanmu sendiri – “

“ – dan aku juga tidak diundang…”

“… temanku Hakim Choi meresmikan pernikahan itu, dan kamu tidak mempublikasikannya. Aku mengirim So Eun pergi berlibur selama seminggu begitu kesehatanku membaik, dan kami menyebarkan kabar bahwa kalian berdua kawin lari.”

“Kawin lari.”

“Taktik yang berjalan dengan baik. Kupikir tidak perlu terburu-buru memberitahumu.”

“Terutama karena aku tidak menginginkan pernikahan.”

Kakek mengerutkan kening ke arahnya. Rasa malu dan ketidaknyamanan menjalari sekujur tubuh Jung Soo.

“Bagaimana cara wanita itu membujukmu melakukan ini, Kakek?”

Sebagai jawaban, kakeknya mendorong dirinya bangkit dari kursi dan memandang Jung Soo dengan sorot yang dulu sanggup membekukan dirinya sampai ke tulang. “Kaupikir aku pria tua bodoh yang bisa dikelabui wajah cantik dan sifat pengejar harta? Kau benar-benar percaya aku sebodoh itu, Nak?”

“Apalagi yang harus kupercayai?” Jung Soo bangkit dan membalas tatapan keras kakek. “Aku pulang ke rumah untuk menjengukmu – “

“Dua tahun terlambat,” Kakek menyela keras.

“ – dan kau mengatakan padaku bahwa kau mengatur pernikahanku dengan seseorang yang belum pernah kutemui hanya supaya kau punya keluarga di dekatmu?”

“Jaga nada suaramu saat berbicara denganku, Nak. Aku belum pikun, kau tahu itu.”

“Aku tidak bilang begitu.”

“Tapi kau berpikir tentang itu.” Kakek berbalik, berjalan ke meja, dan duduk di belakang pusat kekuasaan pribadinya. Tepat dari kursi itu, kakek mengelola kekayaan keluarga Park selama lebih dari lima dekade. “Dan aku akan memberitahumu satu hal lagi. So Eun sama sekali tidak ingin terlibat dalam hal ini. Ini semua gagasanku.”

“Tapi wanita itu akhirnya setuju hanya karena kebaikan hatinya.” Nada sarkasme begitu kental dalam suara Jung Soo hingga ia sendiri pun dapat mendengarnya.

“Tentu saja tidak. Ini bisnis, murni dan sederhana. Aku membayar dia lima miliar won.”

“Lima – “ Napas Jung Soo tersedak di tenggorokan. “Jadi dia sungguh-sungguh terlibat dalam hal ini demi uang. Dan kau bilang dia bukan pengejar harta?”

“Tentu saja dia bukan pengejar harta, dan kau sendiri akan mengetahuinya juga setelah menghabiskan waktu bersamanya.” Kakek mengambil bolpoin dari meja dan tanpa sadar memutar-mutar benda itu di antara jemarinya. “Aku sampai harus menggertak dia untuk menerima uang itu dan melakukan ini untukku. Dia wanita yang baik dan pekerja keras. Dia juga melakukan banyak hal bagus untuk kota ini, dan dia menyandung namamu dengan sangat baik.”

“Betapa menyenangkan.” Jung Soo menggeleng-geleng, merasakan sensasi perangkap berlapis beledu menjerat rapat sekeliling dirinya.

“Kau seharusnya bersyukur. Aku memilihkan istri pekerja keras, sekaligus berhati besar.”

“Bersyukur.” Jung Soo beranjak mendekat, menumpukan kedua tangan di atas meja kakeknya dan menekan dengan sangat keras, “Yang akan kusyukuri adalah selembar surat pembatalan pernikahan, Kakek. Atau bahkan perceraian. Sesegera mungkin.”

Dengan muak, kakeknya bergumam, “Seharusnya aku tahu kau tidak akan menghargai ini.”

“Yeah, seharusnya kau tahu.”

“Jika kau membuka mata dan melihat So Eun seperti aku melihatnya, kau akan berubah pendapat.” Sialan, kakek tampak begitu sombong, begitu puas hingga Jung Soo merasakan semburan amarah kembali bangkit dan mencengkik pangkal tenggorokannya. Selama hidup, kakek adalah satu-satunya hal yang dapat diandalkan Jung Soo. Pria yang mengajarinya arti kewajiban dan kehormatan. Sosok yang menanamkan mana yang benar dan salah. Sekarang, dengan mudahnya dia menjelaskan bagaimana dia menjebak Jung Soo dalam pernikahan yang tidak diinginkan hanya demi kesenangan pribadi kakek.

“Pendapatku tidak perlu diubah,” ujar Jung Soo. “Memangnya kenapa aku harus ‘menghargai’ memiliki istri yang sedari awal tidak ingin kumiliki? Seseorang yang kaubayar.”

“Sudah kubilang. Dia tidak menginginkan uang itu. Aku harus memaksanya untuk menerima uang itu.”

“Oh, ya. Aku berani bertaruh dia juga benar-benar sulit untuk diyakinkan. Lima miliar won? Sialan, Kakek, apa yang kaupikirkan?”

“Waktu itu kau tidak ada di sini,” ujar pria tua itu lembut. “Usiaku semakin lanjut, Jung Soo, dan kau tidak ada di sini. So Eun yang ada.”

Sekali lagi, Jung Soo merasakan tusukan rasa bersalah – namun langsung dikuburnya. “Dia sekretarismu.”

“Dia lebih daripada itu.”

“Tentu, sekarang.” Jung Soo membenarkan.

“Kau tidak kenal dia,” ujar kakek, suaranya lembut berbisik. “Dia datang ke sini untuk membangun kehidupan bagi dirinya dan berhasil melakukan itu. Dan dia sudah menjadi istri yang baik untukmu – “

“Aku tidak ada di sini!”

“ – dan cucu perempuan yang baik untukku.”

Baiklah, setidaknya aku mengakui bagian yang itu, pikir Jung Soo. Pengejar harta atau bukan, wanita berambut hitam yang seksi itu setidaknya memperlakukan kakek dengan sangat baik. Ketika Jung Soo akhirnya mendengar kabar tentang kakeknya yang hampir bersinggungan dengan maut, rasa bersalah menggerogoti dirinya karena tidak berada di sana ketika pria tua itu membutuhkannya. Namun pekerjaan menuntut dirinya tidak bisa selalu berada di dekat kakeknya. Ia hidup dan mati sesuai perintah.

Jadi, mengetahui bahwa kakek tidak sendirian selama masa-masa menakutkan itu sungguh melegakan. Dan untuk itu, ia memang dapat bersyukur. Bukan berarti ia akan mengatakan hal itu kepada si rambut hitam seksi yang cepat naik darah.

“So Eun layak mendapatkan rasa hormatmu,” Kakek memperingatkan, mengangkat satu jari untuk menunjuk Jung Soo.

“Karena dia mau menikah dengan pria yang tidak pernah ditemuinya demi membuat atasannya bahagia?” Jung Soo mengangguk dengan gaya pura-pura bijaksana. “Yeah, itu menumbuhkan rasa hormatku.”

Kakek memberengut. “Kau memang tidak pernah mendengarkanku.”

“Aku mendengarkan. Aku hanya tidak tertarik pada apa yang kaukatakan. Aku tidak mau punya istri.” Baiklah, ia telah berpikir masak-masak tentang masa depannya akhir-akhir ini. Mungkin ia bahkan mempertimbangkan untuk menikah, selama sekitar tiga puluh detik. Namun berpikir tentang melakukan sesuatu dan benar-benar melakukannya sangatlah berbeda. Dan jika ia pada akhirnya memang memutuskan menikah, ia sendiri yang akan memilih istri, terima kasih.

“Kau bisa saja memilih wanita yang lebih buruk,” kakek menggerutu.

“Ya? Aku tidak yakin. Wanita yang harus dibayar untuk menikah denganku kelihatannya sudah pilihan yang paling buruk.”

“Itu menunjukkan betapa kau tidak tahu apa-apa,” ujar kakek, dan jemarinya kembali mengetuk dengan gelisah. “So Eun bibit yang paling unggul.”

“Tidak banyak panen yang terjadi di sekitar sini, kalau begitu,” Jung Soo bergumam, kemudian menambahkan dengan keras, “Aku tetap tidak akan menikahinya.”

Kakek menghela napas.”Tidak, kurasa memang tidak. Meskipun kau harus tahu So Eun merasakan hal yang sama denganmu.”

Jung Soo tidak begitu yakin. Wanita itu mungkin bisa mengelabui kakek, namun tidak dengan dirinya. Dengan lima miliar won sebagai taruhan, wanita itu mungkin bersedia untuk melakukan apa saja.

“Dia sangat baik padaku, dan aku tidak ingin kau mempermalukan dia.”

“Oh ya. Tidak ingin mempermalukan siapa pun.”

Kakeknya mendesah dengan dramatis, melanjutkan bicaranya seolah-olah Jung Soo tidak mengucapkan sepatah kata pun. “Dia merencanakan pesta besar untuk ulang tahunku yang kedelapan puluh, dan aku juga tidak ingin apa pun merusak acara itu.”

“Banyak sekali tuntutan yang bertebaran di sekitar sini,” Jung Soo bergumam.

“Jadi sampai pesta itu berakhir, aku mengharapkanmu bersikap seperti suami yang dikenal semua orang di kota ini.”

“Apa?” Ia sama sekali tidak menyangka hal ini.

“Kau dengar aku. Orang-orang di sini menyukai So Eun. Mereka menghormati dia. Dan aku tidak akan berdiam diri menyaksikanmu membuatnya jadi bahan tertawaan. Kau akan segera pergi kembali, tidak diragukan lagi – “ Kakeknya terdiam seolah-olah menunggu konfirmasi.

Jung Soo mengangguk. “Aku harus melapor kembali sekitar satu bulan lagi.”

Kening kakek kembali berkerut. “Yah, aku masih akan berada di sini, begitu juga So Eun, mudah-mudahan , jadi aku tidak ingin hidupnya hancur hanya karena kau marah.”

Gigi belakang Jung Soo mengertak rapat-rapat. “Ya, jangan sampai membuat So Eun terganggu.”

Kakek melanjutkan lagi, sepenuhnya mengabaikan komentar Jung Soo. “Jika setelah pesta itu kau masih menginginkan pembatalan – “

“…. aku pasti menginginkannya.”

“…. aku tidak akan menghentikanmu dan aku yakin So Eun juga tidak. Tetapi sampai saat itu, kau akan menjalani hal ini dengan caraku.”

Jung Soo menatap kakeknya dan mengenali ekspresi keras kepala di raut wajah pria tua itu. Tidak akan ada yang bisa menggoyahkannya. Begitu kakek mengambil keputusan tentang sesuatu, mungkin hanya serangan nuklir yang dapat mengubahnya. Kejengkelan membanjiri Jung Soo, dan sensasi tidak nyaman tentang masuk ke perangkap timbul seiring perasaan tersebut.

Namun kakek sudah tua. Dan Jung Soo berutang pada kakeknya. Jadi ia akan menjalankan ini sesuai cara kakeknya. Ia akan berada di sini demi pesta itu, kemudian sebelum kembali ke markas, ia akan mengatur segala sesuatu tentang proses pembatalan tersebut.

“Baiklah.” Jung Soo menahan rasa frustasi yang menggelegak dalam dirinya dan menelan kembali dorongan untuk berdebat. “Saat aku di kota, aku akan bersikap seperti pria beristri.”

“Kau akan bersikap seperti itu juga di sini.”

“Apa?”

“Kau tiba-tiba sulit mendengar? Kau harus memeriksakan telingamu.” Sepintas lalu senyum licik tersungging di mulut kakek sebelum dia kembali serius. “Selama kau pulang dan ada di sini, kau adalah pria yang sudah menikah. Aku tidak mau para pelayan memperlakukan So Eun dengan buruk. Semua orang di rumah ini tahu kau sudah menikah.”

Jung Soo masih belum pulih dari selentingan berita itu ketika terdengar ketukan lembut di pintu ruang kerja. Ia membalikkan tubuh ketika di pintu itu terbuka, dan di sana berdirilah “istrinya”.

cover tbc1small

NB: Saya hanya ingin memberitahukan bahwa FF yang diremake novel ini memang bukan penulisan saya, atau karakter saya. Karena saya tidak menciptakan ide cerita ini, hanya mengubah nama dan tempat dari novel terjemahan tersebut. Jadi kalo ada yang merasa kurang paham dengan bahasanya maupun yang lain itu karena bahasa di novel memang agak tinggi, jadi dibaca baik-baik ya ^^

29 responses to “An Officer And A Millionaire [Part 2]

  1. abdidesy November 6, 2014 pukul 8:41 am

    Pas tahu mbak retno mw ngremake novel dijadiin FF aq lngsung pnasaran novel kek apa sih yg diremake… pdhal udah 1ato2thn lbh g bc FF ..dan dr cast yg diumumin emng aq ny cm ska sso dipasangin ama leeteuk..( coba klo ad yesung LOL) dan aq suka ama critanya jd kpngen baca novel aslinya…hihii lanjutannya ditunggu… klo boleh saran nih bisa ga diselesein satu dulu FF remake nya nah klo udah end lanjut cast lain… hihii

  2. Puspa Kyukyu November 6, 2014 pukul 9:04 am

    Weeehhhh…
    Itu Soeun nguping ???
    Klw denger omongan kakeknya .. Jung soo sma Soeun bakal tidur satu kamar dong ??? >_<

    hebat pake banget kakek Jungsoo..
    Wkwkwkwkwkkwkw… Aduhhhh.. Iyu 5 M Won berapa banyak ya???

    Next..next.. Next.. Kakak..

  3. Gg November 6, 2014 pukul 9:43 am

    bagus jalan critanya (yaiyalah org aku pernah baca novelnya, walau blom tamat) hihihihiii
    tp belom dpt feelnya, habis adegan teuksso nya dikit bgt >< hihihihi (alasan nih yeee)
    bakalan aku baca habis novelnya biar gak di buat penasaran ama kak nno -_______-

  4. Devi November 6, 2014 pukul 9:50 am

    trnyata eonnie so eun ma jung soo menikah karena d wakilkn oleh kakek jung soo oppa,,,,
    tpi knp y kakek’a jung soo oppa begitu yakin klo eonnie so eun tuch pntas bwt jung soo oppa ?????trusss aknkh dngan seiring’a waktu jung soo oppa bisa menerima kehadiran eonnie so eun yg sudah mnjadi istri’a,,,,
    jd pnasaran ma kelanjutan’a,,,,,
    d tunggu kelanjutan’a thor,,;,

  5. afifmuizzakaiffahizzati November 6, 2014 pukul 11:42 am

    Tuh, kan. -_- Pasti kakeknya Jungsoo yang bikin rencana ini. Kakek yang cerdas. :-p Hebat banget dia nyusun rencana kayak gini tanpa ketahuan siapapun kecuali orang yang terlibat dalam ‘pernikahan’. Ckck… Aku angkat topi untukmu, Kek. (y)
    Kenapa, sih Jungsoo keukeuh banget gak mau nerima kenyataan kalo dia udah nikah? -_- Apa dia punya seseoranng yang dicintainya diam-diam? Terima aja om kalo udah nikah. Lagian istrinya juga cakep, kan. Ribet banget, sih… -_-
    Kalo gak mau dinikahin secara diam-diam gitu seharusnya oppa tinggal aja di rumah ngurusin Kakek. Udah tahu Kakek sakit-sakitan masih aja mau nerusin kerjaan yang beresiko kayak gitu. Ntar, kalo lagi dalam misi trus Kakek kenapa-napa dan akhirnya meninggal siapa yang bakal ngerasa bersalah? Udah bagus Sso eonni mau ngurusin Kakek dan nerima pernikahan sama orang yang bahkan gak pernah ditemuinya demi Kakek. Dia udah ngorbanin hidupnya sebagai wanita single hanya untuk Kakek. Nyadar gak, sih? *marah-marah* -_- Kesel aku jadinya…
    Mau gak mau oppa harus nerima pernikahan ini. Titik. Paling gak bayar hutang budi oppa sama Sso eonni dan nebus kesalahan oppa sama Kakek.
    Tapi aku berharap mereka berdua akan menerima pernikahan ini dengan sukarela dan saling mencintai selayaknya pasangan suami istri lainnya.🙂

  6. urri cassiopeia November 6, 2014 pukul 11:55 am

    Astagaaa berarti Sso onnie dan teukie oppa menikah gara2 idenya kakek teukie oppa……ckckckck super sekali….suka…suka…..

    Penasaran ama kelanjutan ceritanya n penasaran juga ama sikapny teukie oppa ma Sso onnie…dTunggu…..:-)

  7. Rakha November 6, 2014 pukul 12:17 pm

    Rencananya bener2 bagus, terprogress, walaupun teuk datangnya ga sesuai waktu tapi kakeknya bisa ngehandle semua itu,dan lagi sikap soeun yang rada judes bikin tambah keren ceritanya, walaupun ini remake tapi tetep aja butuh kerja keras buat ngeditnya, lanjutannya di tunggu😀

  8. gadung melati November 6, 2014 pukul 3:00 pm

    cingu ninggalin jejak dlu tp ntr aj comentny cz mw bc part 1 ny cz lom bc π_π

  9. kristienuuna November 6, 2014 pukul 3:13 pm

    hakakakakakk..😀
    Teukie oppa mati kutu d depan kakek Park..
    hahahahahaha..🙂

    makin menarik Retno..
    aku G sabar nunggu Teukie oppa G bisa Lagi berkutik d depan “istri” na yang mungiL dan sexiieh.. ^^
    hehehehehehe.. :p

  10. lovelysso November 6, 2014 pukul 4:06 pm

    waahh ku makin penasaran lanjutannya apa beneran jungsoo bakalan jd minta pembatalan nikahnya?terus terang ku salah satu org yg krg begitu suka novel ya mungkin krn bhs tingkat tinggi itu kali ya(ha..ha..) maka dari itu ku ucapkan ‘gomawo author-nim atas usaha n kerja kerasnya dlm meremake novel2 menjadi ff yg bhs nya mudah dimengerti terutama utk saya’. btw ff lain dilanjutin terus ya..aza..keep writing!!

  11. dewi November 6, 2014 pukul 7:39 pm

    ayo dilanjut ne
    penasaran bgt

  12. vhi November 6, 2014 pukul 8:36 pm

    kakeknya ternyata dalangnya aah kenapa harus gak mau nikah sama sso pdahal udh liat sso naked dan katanya juga seksehh dasar jungsoo🙂🙂🙂🙂🙂 ….

  13. Sukhwi November 7, 2014 pukul 4:24 am

    mian aku langsung komen di part 2 aja ya..awalnya aku juga heran kenapa Jungsso kaget ketika orang2 membicarakan istrinya, ternyata dia sendiri ga pernah melakukan pernikhan dengan siapapun.dan aku mengira Sso yang mengaku2 istrinya itu adalah seorang penipu dan ternyata semua ini atas suruhan kakeknya, dan mengenai pernikahan itu sendiri sah kan thor? lucu skeali pertemuan pertama mereka terjadi dikamar mandi dengan Sso yang bugil pula kkk~ ah untung jungsso kalo si evil pasti udah dilahap wkwkwkw

  14. Kim Ra rA November 7, 2014 pukul 5:54 am

    Oooooh Gitu toh ceritanya…! ternyata kakek park dibalik semua ini..

    hmmmm tinggal nunggu gimana ‘suami istri’ ini nantinya gak sabar nunggu part 3 nya

  15. Nuneo November 7, 2014 pukul 8:42 am

    suka kalo jalan ceritanya kyk gini >< . next kak! update soon yah! ^^

  16. gadung melati November 7, 2014 pukul 9:36 am

    annyeong ^ ^
    wak kakek bang teukie daebak ^ ^ cz bs mnjebak cucuny sndr… kekeke~
    jd mreka bner” *menikah* ya… ^_^)Y cie sso smpet2 ny mkr pas mreka ktm td dy g menarik *mandi* pdhl teukie ngiler tuh sbnerny cm gengsi ae #plak# abaikan *^o^* tp sebel bgt ma teukie se enakny aj ngatain sso kyk gtu, emang sich klo aq jd dy past g trima pas tb2 plng2 ud g single lg *syok* tp g gtu jg kali skpny,.. pdhl sso kurang baek ap cb dy ud jd cucu menantu yg baek bwt kakek n ngurus kakek trus mnjg nama baek kluarg mreka trbukt dgn warga yg suka n hormat ma sso -_-b haduh d part nie pengen makan bang teukie deh #kabur#😛 ma respon ny pas kakek blng sso nerima *byran* kan kakekny ud blng klo sso dpaksa nrima tuh uang😦 #sakitny tuh dsni ~nunjuk kepala~ nah lo o.0
    lgian bang teukie ngejenguk kakekny g kurang lama lg 2 thn :-O aigoo bang tega nian dikau #lebay#
    ehm 1bln bwt slng mengenal n jd suami real😀 ckup dah bwt bang teukie lngsung klepek2 ma sso ^_^)Y ….
    thanks ya thor ud remake novel2 nie n keep writing n faithing😀

  17. AngelsShe~ November 7, 2014 pukul 9:42 am

    Aaaaaaaaa tukie oppa benci bnget sm eunie So -_-
    Makin penasaran sm nih epep ^_^

  18. elisa November 7, 2014 pukul 11:05 am

    akhirnya part 2 muncul….seru….
    cingu tetap daebak….ooo rpanya emang kelakuan kakek a awalnya kirain emng sso unie yang g mna gtu ..tp sweet kok…
    author faighting

  19. vanii November 7, 2014 pukul 4:07 pm

    skakmaaaaaaaaaaaaat deh bwt teukppa
    tapi tetep aja keras kepalaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, huohoho
    ayeyeyyee,,, feeling si kakek itu tak pernah meleset😀 jadi sudahlah oppa jalani dan coba dulu

    waaah apakah sso sudh mendengarnya,,,,, bakalan perang gak yakkkk,,,,, segera segera part 3nya,,, dikit bgt teukssonya,,, ayoooo ribuuut dredrengdrengdreng,,
    semengat retnooo

  20. Soeun November 8, 2014 pukul 7:01 am

    Wah keren ternyata ini semua ide kakek jungsoo (y)
    yah apa bleh buat spertinya jungsoo tdk bisa membantah perintah kakek nya😛

  21. HaeNy Choi93 November 8, 2014 pukul 12:31 pm

    Nah., nah.. Makin seru nih. Jadi ternyata semua pernikahan yg dimaksud atas kehendak Kakeknya Jung Soo ya. Dan 5 M Won? Berapa banyak itu?? Wkwkw

    Jung Soo kelihatan nolak mentah2 nih nona yg bernama Kim So Eun. Tapi apakah akan bertahan lama penolakan itu?
    Aku yakin Jung Soo akan cepat jatuh cinta entar setelah tau kepribadian Soeun.

    Next.. Eonni

  22. Choi Shinae November 8, 2014 pukul 4:11 pm

    oh jadi rencana kakek jungsoo pernikahan yg tak di duga ini ><
    wow semakin menarik..

  23. Luthfiangelsso November 9, 2014 pukul 4:12 am

    Menikah di wakilkan wah jung soo pasti shock bgt tapi dia harus liat so eun fulu dari awal jgn asal nebak aja ..

  24. Safriyanti November 9, 2014 pukul 6:40 am

    Jd sso dpksa ne jd istri,a jungsoo ma kakek,a jungsoo,,
    ykin bnget mah jungsoo mo mbtalkan prnkhan,a ma sso bhkan ingin mngrus srat crai,,,
    pdhal bru skli j liat sso dh bngong2 gto,,
    ngaku j xlo trtarik,,,
    hhhahahahhaha
    pkek bntah lgi,,,
    qta liat j kake,a bkal mlkukan pa,,,,,
    siap2 lah leeteuk oppa,,,
    kau bkal jtuh dgn psona sso,,,

  25. princess ice November 9, 2014 pukul 7:56 am

    seru unn..!! plis plis next part postingnya usahain cpet ya unn.. lavender kpan lanjut unn??
    serius ini pasti bklan seru lanjutanya…
    jrang2 juga sso ama letteuk d psangin d ff tapi ini critanya beda.. fighting!

  26. Shaneyida November 13, 2014 pukul 12:50 pm

    Nah lo ternyata udh menikah beneran toh ….aish kakek nya jungssi memng paling yahoood ¨Ħiii¨¨Ħiii¨¨Ħiii ƪ(˘⌣˘)ʃ•´¯`• ♥
    Terima nasib aje eee😄

    Thumbs up (y)

  27. mizanafidaus November 20, 2014 pukul 1:16 pm

    OWH ternyata mereka nikah tanpa sepengatahuan leeteuk pantes dia bingung disepanjang jalan,,,
    leeteuk curiga mulu ih sama sso, yakin mau cerai? tp kebayang2 mulu…
    ini bakalan jadi rate m nih hahaha😄

  28. Ne yan Desember 22, 2014 pukul 11:18 am

    Jung soo perlakukanlah istrimu dengan baik yaa.
    Haha

  29. Rani Annisa Februari 7, 2015 pukul 2:40 pm

    jadi jung soo & so eun udah nikah tapi diwakilkan..

    tapi apa jung soo akan bisa menerima so eun???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: