RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

The Billionaire’s Housekeeper Mistress [Part 2]


cover depan1small

Rated: M

Cast: Kim So Eun, Lee Hyuk Jae (Eun Hyuk)

WARNING: FF ini merupakan remake novel terjemahan yang berjudul THE BILLIONAIRE’S HOUSEKEEPER MISTRESS, karya Emma Darcy. FF ini 90% murni bukan milik saya, berhubung novel ini merupakan terjemahan maka nama dan tempat disesuaikan dengan cast asal korea.  Happy Reading!?^^

The Billionaire’s Housekeeper Mistress [Part 2]:

Lomba pacuan kuda memberi kesempatan pada So Eun untuk beristirahat sejenak. Beberapa tamu meninggalkan tenda untuk menonton kuda dituntun menuju gerbang start. Lainnya mengarahkan perhatian ke arah layar TV. Mereka semua tampak serius karena uang mereka sangat bergantung pada apa yang terjadi di arena pacuan kuda.

So Eun menemukan satu kursi dan duduk mengistirahatkan kakinya. Komentator di TV menjelaskan masing-masing kuda – garis keturunan, pemilik, pelatih, warna baru yang dikenakan jokinya. Joki Midas Magic memakai baju warna emas dan hitam. So Eun meringis mendengarnya. Tentu saja lelaki berduit akan memilih warna emas. Dan deretan warna hitam akan bertambah jika kuda itu menang. Tak ada angka merah utang baginya.

Wajahnya muram memikirkan situasi yang dihadapi orangtuanya – orang biasa yang telah bekerja keras membesarkan dan mendidik lima anak, dan pada akhirnya yakin dapat mengecap kemewahan dengan merenovasi rumah, dapur baru, kamar mandi kedua, ruang bermain untuk cucu, dan dua kamar tambahan supaya seluruh anggota keluarga bisa datang dan menginap, terutama selama libur sekolah. Rumah itu telah digadaikan untuk biaya renovasi, dan pihak bank dengan senang hati meminjamkan uang, dan dengan senang hati pula akan menjual rumah tanpa sepengetahuan mereka, jika bunga pinjaman tidak dibayar setiap bulan.

Dan mereka tidak akan mendapatkan harga senilai rumah itu, jika rumah itu dijual karena terpaksa, apalagi pasar properti sedang merosot tajam. Orangtuanya takkan lepas dari masalah. Selain itu, tidak adil rasanya membiarkan mereka kehilangan rumah pada masa tua. Mereka layak pensiun dalam damai.

Penasihat finansial orangtua So Eun salah memberikan saran. Penurunan pasar saham tahun lalu memotong tabungan tahunan mereka hingga lebih dari tiga puluh persen. Hilangnya pendapatan itu tidak pernah bisa pulih. Selain itu, tak ada harapan situasi akan membaik selama resesi ini.

Selain So Eun, keluarganya yang lain dalam posisi tidak bisa membantu. Ketiga abang So Eun dan satu kakak perempuannya memiliki anak-anak yang masih kecil dan berjuang mencukupi kebutuhan mereka. Dua abang lainnya baru saja di-PHK akibat perampingan pegawai. Abangnya yang paling tua berusaha membangun bisnis sendiri dengan modal yang sedikit. Sementara kakak perempuan So Eun lainnya, putranya menderita autis sehingga memerlukan banyak perhatian, dan rumah tangganya lumayan terguncang karena masalah ini. Mereka tak mungkin diberi beban tambahan, karena beban mereka sendiri sudah cukup berat.

Itu artinya, hanya So Eun satu-satunya anggota keluarga yang dapat menanggung beban tersebut. Sebagai anak bungsu yang berselisih umur cukup jauh dengan kakak-kakaknya karena kehamilan tidak terencana, ia telah kembali ke rumah orangtuanya di pinggiran kota, supaya ia bisa memberikan uang sewa apartemennya di pusat kota kepada orangtuanya. Begitu juga uang makannya, supaya orangtuanya cukup makan dan tidak mengkhawatirkan utang mereka. Berkat bantuan So Eun, tagihan bulanan bunga pinjaman bisa dibayar, tetapi itu menjadi lingkaran setan yang tidak terputus. So Eun tidak punya cukup uang untuk membayar pinjaman pokoknya.

Satu hal yang membuatnya kesal, seandainya dulu orangtuanya mencari Lee Hyuk Jae untuk mengelola keranjang telur mereka… tetapi bagaimana mungkin orang-orang biasa seperti mereka tahu orang itulah yang seharusnya mereka cari. Publikasi tentang pria itu baru ada setelah krisis ekonomi melanda. Selain itu, mungkin ia hanya menangani klien orang kaya. Para pengobral kekayaan di tenda ini hanya mau bergaul dengan sesama mereka.

Suara komentator naik beberapa desibel saat perlombaan dimulai, sibuk memanggil sederetan nama. Para pemirsa yang berkumpul di depan layar televisi mulai ramai. So Eun bertekad tidak ikut menonton, ia masih kesal membayangkan besarnya uang yang telah mereka siapkan untuk pertaruhan bodoh itu. Sudah umum diketahui bahwa sering kali pemenang pacuan kuda sudah diatur sebelumnya.

“Midas Magic melaju di urutan terdepan di tikungan, dan mulai meninggalkan lintasan di belakangnya. Satu langkah lagi..  tiga… empat… tak ada yang mampu mengejarnya!”

Teriakan komentator membuat telinga So Eun sakit. Juga hatinya. Pria yang memiliki segalanya itu akan mendapatkan jauh lebih banyak lagi jika kudanya memenangkan perlombaan ini. Sungguh tak adil. Yang lebih mengesalkannya lagi, pria itu sudah memberitahunya, dan ia telah mengabaikan saran itu, gara-gara prinsip yang dipegangnya untuk tidak berjudi. Lagi pula, siapa yang percaya kuda sesuatu yang pasti?

Tentu saja salah satunya Park Shin Hye!

So Eun cepat-cepat berdiri tak enak saat majikannya muncul menyeruak dari kerumunan. Dengan riang Shin Hye mengacungkan tiket taruhannya, dan mendapati asistennya sedang duduk-duduk saat bekerja. “Aku menang! Aku menang!” serunya. “Hebat bukan? Sepuluh juta won yang manis!”

“Sepuluh juta?” ulang So Eun, benar-benar tercengang mendengar jumlahnya.

“Aku takkan mempertaruhkan sebesar itu untuk kuda kalau saja Lee Hyuk Jae tidak merekomendasikannya,” aku Shin Hye dengan bercanda. “Sudah tampan, cerdas pula! Dia membuatku beruntung hari ini!”

“Saya ikut senang, Miss Park,” ujar So Eun, berusaha menanggapi. Setidaknya kemenangan itu telah membuat suasana hati majikannya membaik, sepertinya ia tidak akan mencela hal yang kurang memuaskan dari asistennya. Mata bersinar itu menyipit penuh perhitungan. “Sekarang aku harus membuatnya melihat portofolio sahamku. Jika aku bisa menggaetnya untuk bicara secara pribadi lagi, jangan menyela kami demi apa pun juga, Sso-Sso. Jika ada masalah, gunakan inisiatifmu untuk menyelesaikannya. Untuk itulah aku melatihmu.”

“Aku takkan berada di dekat orang itu,” janji So Eun mantap.

Lagi pula, ia takkan tahan melihat lelaki itu bersinar penuh kemenangan. Bikin mual saja. Namun diam-diam So Eun berpikir, majikannya berpeluang kecil untuk bisa menggaet lelaki itu lagi. Lee Hyuk Jae berusaha mengalihkan topik pembicaraan dengan memanfaatkan kekikukan So Eun saat menyela percakapan terakhirnya dengan Shin Hye. Pria itu berkeras agar dikenalkan secara resmi dengannya dan terus mengobrol meskipun Shin Hye jelas-jelas tampak tak sabar, ingin asistennya segera enyah dari hadapannya.

Dalam situasi normal, pria itu takkan merasa perlu berkenalan dengan So Eun. Ia jauh di bawah standarnya. Hyuk Jae hanya memanfaatkan wanitu itu demi kepentingannya, yakni memutuskan percakapan bisnis yang tidak disukainya. So Eun berharap dapat mengenyahkan pria itu dari benaknya. Segalanya tentang pria itu membuatnya jengah. Bagian terburuknya adalah fakta yang tak bisa disangkalnya bahwa ia merasa ketertarikan fisik kepada pria itu. Dan itu bisa dipahami, mengingat lelaki itu memandang sangat menarik. Tetapi ia justru semakin membenci lelaki itu karena membuatnya menginginkan sesuatu yang tak akan pernah bisa dimilikinya.

“Aku sangat menginginkan kopi saat ini. Harusnya mereka sudah menyajikannya.”

Keluhan dari salah satu model – sepertinya tamu VIP, yang terpilih untuk menjadi bintang produk baru – membuat So Eun segera menuju tenda katering untuk menyelidiki keterlambatan kopi. Park Shin Hye bisa marah besar jika mendengar salah satu tamu pentingnya dikecewakan oleh kegagalan dalam menyiapkan segalanya demi kenikmatan dan kenyamanan mereka. PR yang buruk. Semua menjadi tanggung jawab So Eun untuk mencegah atau memperbaiki apa yang tidak berjalan dengan semestinya.

Dua koki terlibat percekcokan sengit sementara para asisten mereka tampak kaku dan tegang, menonton dari pinggir arena perdebatan. Jasa katering itu sudah dibayar sangat mahal untuk menyediakan layanan prima, dan mereka tidak memenuhinya. So Eun memberanikan diri berjalan masuk ke tengah api permusuhan antara kedua koki yang sedang cekcok, dan mengingatkan tanggung jawab utama mereka.

“Para tamu meminta kopi,” katanya lugas, sambil memandang tajam kedua koki. “Harusnya kopi sudah terhidang di meja. Para tamu VIP tak suka dibiarkan menunggu keinginannya terpenuhi.”

Kedua koki itu kaget, dan langsung mengalihkan pandangan mereka ke So Eun.

“Kopi seharusnya dihidangkan bersama cokelat dan aneka kudapan. Apakah semuanya sudah siap?” So Eun terus mencerocos, mengingatkan tanggung jawab mereka, lalu menambahkan peringatan yang masuk akal. “Kalian tentunya tidak ingin kehilangan reputasi baik di mata para tamu penting itu, bukan? Mereka akan terus mengingat keterlambatan semacam ini.”

Salah satu koki pemarah mengangkat tangan dan mendelik kepada para stafnya yang berdiri mematung. “Cepat! Cepat! Sediakan sekarang juga!”

Dengan perasaan puas karena misinya berhasil, So Eun kembali ke tenda VIP, hendak meyakinkan si model, kopi sebentar lagi siap. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dilihatnya Lee Hyuk Jae sedang mengobrol dengan model itu. Berbagai pikiran meracuni benaknya. Pria itu hanya menginginkan yang terbaik! Harusnya So Eun sudah tahu, ya, harusnya ia sudah tahu – lelaki itu tidak benar-benar tertarik pada bawahan seperti dirinya. Ini kenyataan – orang-orang tentulah berkumpul dengan sesamanya yang selevel.

Tidak diragukan lagi, model supercantik itu telah menerima saran Hyuk Jae untuk bertaruh atas Midas Magic. Wajah kedua orang penting itu sama-sama bersinar penuh kemenangan, membuat perut So Eun bergolak karena ketidakadilan yang menyakitkan dari semua itu.

*****

Tiba-tiba Hyuk Jae merasakannya lagi, seluruh tubuhnya bergetar aneh seolah tersengat listrik. Ia menoleh, dan tatapannya otomatis bersarang di sumber sengatan itu – Kim So Eun, mata wanita itu menatapnya nyalang penuh permusuhan liar, memunculkan desakan dalam diri pria itu untuk mengajaknya bergumul, menangkapnya, dan menaruhnya di dalam sangkar sampai ia cukup jinak untuk memuaskannya. Pemikiran aneh tapi menyenangkan itu terbesit dalam benaknya, dan segera diikuti oleh nasihat Si Won – jalani yang ada.

Hyuk Jae tak berhasil menemukan wanita itu ketika ia kembali ke tenda seusai pertandingan. Sekarang wanita itu hanya berjarak beberapa meter darinya, berada dalam jangkauannya, tantangan yang dipancarkannya  membuat Hyuk Jae mendekat seperti magnet. Ia secara otomatis berjalan mendekatinya, mata mereka beradu dalam duel hasrat yang membara.

“Hyuk Jae?”

Model egosentris lawan bicara Hyuk Jae memanggilnya. Hyuk Jae telah melupakan aturan kesopanan. “Maafkan aku, Bo Ra,” ia menoleh sekilas. “Ada seseorang yang harus kutemui.”

Dalam waktu singkat So Eun telah kabur, bersembunyi di tengah kerumunan, sepertinya sengaja menghindari pria itu. Hyuk Jae semakin tertantang menangkapnya, memaksanya berhadapan muka. Ia menerobos kerumunan rasa tertariknya semakin meningkat ke level yang membuatnya heran, jantungnya berdebar seperti genderang perang ketika ia berhasil mencegat So Eun dari usaha pelariannya, membuat wanita itu tidak mungkin menghindar darinya.

“Hai, ketemu lagi,” kata Hyuk Jae, menikmati rona merah amarah dan frustasi yang mengaliri pipi wanita itu, membuat kulit pucatnya yang tanpa noda menjadi bernuansa peach kemerahan, dan matanya yang penuh permusuhan menyala semakin terang.

Kemunculan pria itu secara tiba-tiba di hadapannya membuat So Eun terkejut dan terpaku seperti pegas yang mampat, yang siap-siap meloncat menghindar. Dagunya naik menantang. Topi kotak cokelatnya melorot sedikit dari kepalanya. Hyuk Jae nyaris tak bisa menahan diri untuk meraih topi itu dan membetulkannya. Ia menginginkan adanya kontak – kontak yang intim – dengan wanita ini.

“Mr Lee…,” panggil So Eun, tampak jelas ia benci terjebak dalam pertemuan itu.

Hyuk Jae tersenyum, bermaksud mengenyahkan apa pun yang membuat wanita itu terusik oleh kehadirannya. “Panggil aku Hyuk Jae.”

So Eun tersedak, matanya memancarkan penyangkalan atas kesamaan di antara mereka. “Selamat atas kemenangan Anda,” katanya singkat. “Saya tidak bertaruh atas kuda Anda. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak berjudi, jadi tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, bukan? Kita sama sekali tidak punya kesamaan.”

Hyuk Jae tidak ingin langkahnya dihalangi, apalagi ia belum mulai berusaha mengenal So Eun lebih dekat. Senyumnya berubah menjadi ringisan miris. “Aku butuh bantuan.”

So Eun mengangkat alisnya heran, menampakkan rasa tidak suka.

“Itu pekerjaanmu, kan? Membantu tamu yang dalam masalah?” desak Hyuk Jae.

“Apa masalah Anda, Mr Lee?” tantang So Eun, matanya menunjukkan rasa tak percaya.

“Kau, Kim So Eun.”

So Eun mengerutkan alis. Keyakinannya bahwa pria itu tidak punya masalah, berubah menjadi sedikit rasa takut. “Apa maksud Anda?”

“Aku merasakan sensasi ganjil, sepertinya kau menyerang batinku sepanjang waktu. Aku ingin kau memberitahu alasanmu.”

Sejenak wajah So Eun tampak kosong, seolah tombol telah ditekan dan tingkap pertahanannya telah tertutup rapat dengan sempurna. Hyuk Jae mengawasi usaha wanita itu menampilkan ekspresi penyesalan – kehendak yang melawan watak aslinya. Matanya memancarkan pandangan memohon, meminta pria itu memaafkannya. Bibirnya melunak menampilkan senyum kecil memikat. Ia kemudian berbicara dengan nada yang mencela diri sendiri.

“Saya baru saja menyelesaikan masalah di tenda katering dan mungkin hal ini malah menimbulkan masalah yang lebih besar. Maaf jika saya telah melampiaskan amarah saya kepada Anda, Mr Lee. Saya tidak bermaksud menarik perhatian Anda. Malahan, akan lebih baik jika Anda meninggalkan saya sekarang juga. Atasan saya tidak akan suka melihat Anda berbicara pada saya.”

“Tentunya sebagai tamu, aku berhak berbicara pada siapa pun sesukaku,” sanggah Hyuk Jae.

“Saya bukan tamu, dan saya sudah menghabiskan waktu Anda – waktu yang seharusnya dimanfaatkan Miss Park untuk berbincang dengan Anda,” kata So Eun tanpa basa-basi.

“Apa yang ingin kubicarakan sudah kusampaikan semuanya kepada Park Shin Hye.”

“Itu bukan urusan saya. Jika saya tidak menjauh dari Anda, saya berisiko kehilangan pekerjaan. Jadi tolong izinkan saya pergi, Mr Lee.”

“Aku tidak mengizinkanmu pergi!” Rasa frustasi menyeruak dari dalam diri Hyuk Jae. Tangannya terjulur dan langsung mencengkeram lengan So Eun saat ia berbalik hendak melepaskan diri darinya lagi. “Sekarang bukan Abad Kegelapan!” teriak lelaki itu sebelum So Eun sempat memprotes.

“Oh ya, Anda salah!” sergah So Eun sinis, sistem pertahanannya terbuka lebar karena terpaksa. Rasa permusuhan menjelma menjadi sikap menyalahkan. “Anda bertingkah seperti tuan tanah yang menganiaya budak perempuan tak berdaya yang tak mampu melawan.”

Gambaran yang salah, karena wanita itu mampu melawan. Ia melakukannya dalam pikirannya. Tetapi sekali seumur hidup, Hyuk Jae ingin menjadi tuan tanah yang bisa berlaku semaunya kepada wanita itu. Ia tahu harusnya ia melepaskan tangan wanita itu, tapi dalam benaknya ia sudah kehilangan segala macam aturan sopan santun. Memaksakan kontak fisik seperti itu dengan So Eun membangkitkan sejumlah perasaan primitif yang menuntut pemuasan.

“Kau menolak membantuku,” tuntut Hyuk Jae.

“Dengan alasan yang bagus,” So Eun menyerang balik.

“Omong kosong! Benar-benar tak masuk akal!”

“Apa masalah Anda?” teriak So Eun putus asa. “Kenapa Anda begitu mengurusi saya, sementara….”

“Karena kau telah mengusikku, lebih daripada semua orang di sini.”

“Apa? Karena saya tidak berusaha mencuri perhatian Anda? Apakah Anda begitu terbiasa berhadapan dengan para wanita yang menuruti apa pun perkataan Anda, sehingga ego Anda yang begitu tinggi dan hebat terusik dengan kehadiran wanita yang tidak memedulikan Anda?”

“Kau menginginkan perhatianku, Kim So Eun,” Hyuk Jae membalas dengan keyakinan menyala-nyala. “Kau menatapku.”

So Eun berusaha menjelaskan, berhati-hati dengan ucapannya. “Model yang berbicara dengan Anda mengeluhkan kopi yang belum disajikan. Saya hendak menginformasikan kepadanya sebentar lagi kopinya akan datang, tapi ketika saya menghampirinya, saya melihat Anda bersamanya.” Giginya membentuk senyuman mengejek. “Dengan mempertimbangkan instruksi atasan saya, dan berlawanan dengan asumsi arogan Anda, saya tidak ingin menarik perhatian Anda, Mr Lee.”

Hyuk Jae tidak percaya. Bukan pengabaian yang ia rasakan dari wanita itu. Ia merasakan kilatan gairah kuat yang tertuju tepat kepadanya. Dan hingga saat ini pun masih menyerangnya. Seluruh tubuh Hyuk Jae merasa teberdayakan olehnya. Matanya mencemooh penyangkalan So Eun ketika ia memergoki wanita itu berusaha membacakan karakternya.

“Kau bisa menuduhku dengan teori ego dan arogansiku sebanyak mungkin sesukamu, tetapi banyak hal dalam pikiranmu yang tak kauungkapkan kepadaku, dan ini tak ada hubungannya dengan instruksi Park Shin Hye.”

“Apa yang saya pikirkan bukan urusan Anda,” tangkis So Eun.

“Jadi urusanku, jika itu melibatkan aku.”

Jalan buntu.

So Eun membelalak kepada Hyuk Jae, benaknya berputar-putar, berusaha keras mencari alasan yang mungkin bisa diterima pria itu.

Hyuk Jae ingin menarik wanita itu dalam pelukannya, lalu menciumnya sampai seluruh pertahanannya luluh. Belum pernah hasratnya terpicu seperti itu pada wanita. Untuk pertama kalinya, ia sepaham dengan manusia gua yang menggendong begitu saja objek yang mereka sukai dan menyenangkan hati mereka dengannya. Apakah sikap permusuhan wanita itu yang membuatnya bergairah? Apakah ia mulai bosan dengan para wanita yang begitu patuh padanya?

Intensitas… kata itu tiba-tiba terbesit di benak Hyuk Jae. Itulah kekurangan dari semua hubungannya dengan wanita. Kim So Eun mengalirkannya, selaras dengannya. Biasanya Hyuk Jae menyalurkannya ke pekerjaannya. Itu bukanlah aset sosial. Intensitas mengganggu orang lain. Terlalu gelap, kata Si Won. Tetapi Kim So Eun juga memiliki sisi gelap yang membangkitkan gelombang gairah dalam airan darahnya. Dan dorongan untuk menjelajahinya.

So Eun menarik napas dalam-dalam dan memalingkan pandangan dari Hyuk Jae, mengarah pada tangan yang masih mencengkeram lengannya. Hyuk Jae melonggarkan cengkeramannya,  jarinya meraba pergelangan tangan So Eun, mencari detak nadi wanita itu, dan merasakannya berdenyut kencang.

Wanita itu juga bergairah.

Atau takut?

“Maaf mengganggumu, Mr Lee,” kata So Eun dengan suara kecil dan tegang. Payudaranya yang indah terangkat saat ia kembali menarik napas dalam. Ia menatap Hyuk Jae dengan pandangan memohon, menampakkan kerapuhan yang belum pernah dilihat pria itu. “Tolong biarkan aku pergi.”

Hyuk Jae jadi merasa kurang ajar karena memegangi wanita itu di luar kehendaknya. Namun ia tidak rela melepaskan wanita itu pergi. “Kau bilang kita tidak punya kesamaan. Aku rasa kita punya kesamaan, Kim So Eun.”

So Eun menggeleng-geleng, kekhawatirannya berubah menjadi rasa takut ketika ia melihat sesuatu di belakang Hyuk Jae.

“Ah, Sso-Sso,” terdengar suara Park Shin Hye yang manis dibuat-buat, kelihatan jelas ia ingin ikut campur dalam situasi itu.

“Miss Park,” kata So Eun dengan suara gemetar namun patuh, ketika majikannya melangkah maju untuk memisahkan mereka.

Hyuk Jae kesal melihat So Eun terpaksa menunduk-nunduk di depan majikannya yang menyebalkan. Sejatinya pejuang alamiah. Tidak sepantasnya ia berada di posisi seperti ini.

“Bagian katering perlu konfirmasi untuk menyajikan kopi.”

Itu perintah untuk mengenyahkan So Eun.

So Eun berusaha membebaskan lengannya, ingin segera menghindar dari ketidaknyamanan yang semakin menyesaki kepalanya.

Hyuk Jae malah mengetatkan cengkeramannya, bertekad tidak akan melepaskan So Eun.

“So Eun sudah melakukan tugas itu,” Hyuk Jae menjawab Shin Hye dingin, yang membalasnya dengan senyuman manis.

“Kalau begitu, dia bisa melakukannya lagi,” sahut Shin Hye kaku.

Wanita penuntut tak masuk akal!

Hyuk Jae kehilangan kendali. “Miss Park…,” ujarnya dengan gigi gemeletuk menahan marah.

Shin Hye mengibaskan jemarinya yang dicat sangat indah dan mengerjabkan bulu mata palsunya kepada Hyuk Jae. “Oh, panggil aku Shin Hye saja…”

Meledaklah Hyuk Jae. Kata-kata hinaan meluncur keluar dari mulutnya, mengalir begitu saja tanpa memperhatikan konsekuensinya.

“Sekarang saatnya kau berhenti memperlakukan asistenmu seperti budak yang tidak layak dipertimbangkan dan dihormati.”

Shin Hye melongo, terkejut.

Hyuk Jae merasakan So Eun gemetar ketakutan.

Keheningan yang muncul diperkuat oleh perasaan ngeri karena bom baru saja diledakkan. Hyuk Jae menikmati intensitas tersebut. Ia sudah terlepas dari otak analitis dan pengendalian dirinya – kepiawaiannya menganalisis hilang begitu saja – bahkan ia menantikannya runtuh.

cover tbc1small

NB: Saya hanya ingin memberitahukan bahwa FF yang diremake novel ini memang bukan penulisan saya, atau karakter saya. Karena saya tidak menciptakan ide cerita ini, hanya mengubah nama dan tempat dari novel terjemahan tersebut. Jadi kalo ada yang merasa kurang paham dengan bahasanya maupun yang lain itu karena bahasa di novel memang agak tinggi, jadi dibaca baik-baik ya ^^

27 responses to “The Billionaire’s Housekeeper Mistress [Part 2]

  1. Puspa Kyukyu November 8, 2014 pukul 5:46 am

    *kipas-kipas*

    beuhhh.. Panas banget Kaka mereka berdua.. O.o
    aigoo… Jd apa Soeun klw dipecat sma Shin Hye ????? O.o

    penasaran sma lanjutannnya.. Next..next…
    Ini FF ke 2 setelah Kyu-Soeun yg Puspa suka !!

    Semangat ngetikkknyaaaaaa !!
    Semoga update tiap hari ya kak kya’ gini kan enak… Jd bentar lagi part Kyu-Soeun !!

  2. kristienuuna November 8, 2014 pukul 6:04 am

    omo.. (°o°)
    wah Hyukie oppa Lepas kendaLi..
    humm.. penasaran nunggu kelanjutan na..
    apa nanti Soeun d pecat ama Shin Hye??
    Gpp dech, nanti biar bisa sama2 terus ama Hyukir oppa..
    hahahahahahaa..😀 #maunya ^^

  3. vonnysumali November 8, 2014 pukul 6:37 am

    Mbak aku suka semuanya bagus sekali tapi karena kebanyakan jadi agak bingung. Apa boleh tdk ya yang bumsso dan yang judul kedua dulu diselesaikan baru 2 judul lagi berikutnya. Supaya mbak sendiri tdk bingung dan repot nantinya. Maaf mbak satu sisi sudah penasaran kelanjutannya, satu sisi jadi kecampur ceritanya….

  4. anna November 8, 2014 pukul 7:16 am

    wuuuiiihhh tegang abis,,prdebatan hyuksso tiada akhr,,sso jago jg mnjga harga drinya,,bgus hrs cool donk tdk smudah itu biar hyukjae jg pnuh prjuangan utk bs mndptk sso,,

  5. Rakha November 8, 2014 pukul 7:21 am

    Kata2 pas mereka argumen bener2 bagus,ceritanya juga bagus,apalagi sama hyuk yang blak2an langsung ngedeketin sso,dan aku juga udah muali terbiasa yang bahasa penulisannya…..

  6. lovelysso November 8, 2014 pukul 7:35 am

    aawww..adrenalin baru meningkat ga tahunya langsung tbc..*+* author-nim bilang kalau pengetikan ff nya disesuaikan dg novelnya per part/bab bolehkan dijadikan per 2 part?atau bolehkah setiap harinya dipublish 2 judul ff?gomawo–btw hyukjae yg biasanya ja-im jd bentak shinye, seru2 apa selanjutnya sso kerja sama hyukjae?ditunggu bgt next partnya..aza..keep writing!!

  7. Soeun November 8, 2014 pukul 7:55 am

    Hyukjae bela Sso wah Sso tenang aja hyuk jae di pihak mu hahaha
    shin hye pasti marah besar karna melihat hyukjae bersama Sso😦

  8. vanii November 8, 2014 pukul 9:14 am

    modusnya hyuk bukan yak,, sso ktakutan akan pekerjaan dan kalo dpecat maka hyuk ktimpa emas dapet sso sso

    huaaaaah panas dingin nungguin hyuksso kirain hyuk meluk trnyata bukan

    wiiiiis shinhye pecat sso aja,, ato tak smudah itu,, shinhye tw hyuk suka sso dan shinhye pnya rncana licik,,, hmmmmmmmmmmmmm
    retnooooooo,, publis cepet publish cepet😀 tambah semangat intipin ni blog tap waktu,, :p
    makasi

  9. Gg November 8, 2014 pukul 12:03 pm

    halooooo kakak🙂 selese baca nih😉 aku mulai ya komennya:

    1. untuk masalah gak bs komen, scr ini remake hihihihi tp bagus bgt pilihan novelnya. masuk ke pemainnya.

    2. nah lanjut ke critanya ya:

    a)
    Apa masalah Anda, Mr Lee?” tantang So Eun,
    matanya menunjukkan rasa tak percaya.
    “Kau, Kim So Eun.”
    So Eun mengerutkan alis. Keyakinannya bahwa
    pria itu tidak punya masalah, berubah menjadi
    sedikit rasa takut. “Apa maksud Anda?”
    “Aku merasakan sensasi ganjil, sepertinya kau
    menyerang batinku sepanjang waktu. Aku ingin
    kau memberitahu alasanmu.” >> asli hyukjae langsung to do point😀 suka banget tipe cwo gini. gak perlu pake cheesy line tp apa yg jadi miliknya ya miliknya😉 hihihihiiii

    b)
    Hyuk Jae ingin menarik wanita itu dalam
    pelukannya, lalu menciumnya sampai seluruh
    pertahanannya luluh. Belum pernah hasratnya
    terpicu seperti itu pada wanita. Untuk pertama
    kalinya, ia sepaham dengan manusia gua yang
    menggendong begitu saja objek yang mereka
    sukai dan menyenangkan hati mereka dengannya.
    Apakah sikap permusuhan wanita itu yang
    membuatnya bergairah? Apakah ia mulai bosan
    dengan para wanita yang begitu patuh padanya?
    Intensitas… kata itu tiba-tiba terbesit di benak
    Hyuk Jae. Itulah kekurangan dari semua
    hubungannya dengan wanita. Kim So Eun
    mengalirkannya, selaras dengannya. >> asliiiii cowo bgt. langsung maju pantang mundur nih si oppa.. suka ama soeun yg nolak gt ><

    suka part iniiiii, adegan soeun hyukjae. asliiii
    kak, boleh gak besok2 update nya 2 ff fav itu? hihihihi kidding kok😉

  10. Kim Ra rA November 8, 2014 pukul 12:12 pm

    makin SERUUUUU abiz…. Asli asik banget bacanya ^_^

    Hyukie yang seseorang dengan penuh perhitungan langsung kehilangan semua keahliaannya begitu berhadapan langsung dengan So eun

    dan rasa puas bercampur tegang waktu hyuk tetep mertahanin hasrat hatinya yang gak mau lepasin soeun. dan shin hye yang pasti gak akan mau ppercaya dengan kenyataan itu

    huaaaaa part 3 ,,,,, part 3 ,,,,

  11. HaeNy Choi93 November 8, 2014 pukul 12:55 pm

    Aduh.. Seperti Hyukjae sudah benar2 tidak bisa menahannya lagi. Dia benar2 tertarik dengan Kim So Eun.. Ow ow

    dan .. Apa itu tadi. Apakah Shin Hye akan meledak juga. Apakah Soeun akan di pecat. Andwaeee…

  12. Choi Shinae November 8, 2014 pukul 4:34 pm

    oh hyukjae boooommmm >_< jadikan dia aasisten seluruh hidup mu hyukjae ^^ next part ditunggu ^^

  13. vhi November 8, 2014 pukul 10:22 pm

    udh so eun jdi kerja sma eunhyuk ajh biar tambah deket ….. tpi jngan sering” ajh kaya gini sama” sinis, dingin, uuhh eunhyuk ngamukkk tuhh ….

  14. dewi November 8, 2014 pukul 10:54 pm

    aa hyuksso chemistrynya dpt bgt
    love bgt sm hyuksso
    fighting next partnya ne

  15. ria November 9, 2014 pukul 1:41 am

    Keren dan suka sama karakter mereka d sini
    next

  16. Devi November 9, 2014 pukul 5:52 am

    y ampun makin tegang zh nich,,,,
    woow hyukppa lepas kendali gara2 gk mo berpisah ma eonnie so eun,,,,

    aknkah eonnie so eun d pecat ma park shin ye,
    jd pnasaran kelanjutan’a,,,;

  17. nita November 9, 2014 pukul 12:51 pm

    hyuk oppa bisa lepas kndli gra2 sso. itu sso bkln d pcat gak y sma shin hye, low d pct ksian jga sma sso ny, tpi gk pa2 sih soal ny kan ada hyuk oppa yg siap bntu’n sso.kkkk.
    next part d tnggu eon.🙂

  18. Safriyanti November 10, 2014 pukul 7:18 am

    Aq stuju bnget ma hyukjae,,,
    shin hye ktrlaluan mprlkukan sso,,
    knpa smua pkerjaan hrus sso yg menghandle,a,,,
    nah skrg bgaimna nsib sso,,
    hyukjae kyak,a jtuh cnta ma sso tnpa dsadri,a,,,
    dr cra hyukjae mprthankan sso trbkti xlo sso brharga tok,a mskipun pnamplan ssso yg gk mcolok bhkan trksan tertutup,,,
    hyukjae pling bsa mlhat kbeningan dr glap,a kdaan,,,
    hwhwwwaaaaaa bhsa pa ne,,,
    hheheheheheh

  19. AngelsShe~ November 10, 2014 pukul 10:02 am

    kyaaaaa aq suka bnget sm hyuk di sini ^_^ ngak sbr nungu kelanjutanx🙂 Shin hye ganggu hyukSso ajah nih😦

  20. sukhwi November 10, 2014 pukul 3:17 pm

    waw..Hyuk jae aku suka gaya mu..bisa membuat So Eun dan shin ye mati kutu dengan cara yang berbeda..:)

  21. winzzlee November 12, 2014 pukul 6:35 am

    Hyukjae marah sama shinhye gimana nasibnya nanti dipecat atau dibawa pergi hyukjae?

  22. Just_me November 12, 2014 pukul 7:59 am

    Meskipun remake tp tetap asyik banget buat dibaca….. Ceritànya jd beda sama fanfic kebanyakan…. Dilanjut saja deh… Jangan lama2 ya posting kelanjutannya. Seru ngebayangin so eun yg lembut jd katakter yg keras…

  23. Shaneyida November 13, 2014 pukul 12:07 pm

    Akankah sso d pecat ?? Hyukie mantab bener euy ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮‎​​
    Ayo gapailah soeun #eoh

    D part ini pendekan ya ..

    Thumbs up (y)

  24. gadung melati November 14, 2014 pukul 4:56 am

    aigoo aq bingung mw koment ap cz nie part paling daebak 😀 kata” perkalimatny *part hyukie* bkin aq senyum gaje😀 hyukie yg salu penuh pertimbangan ma salu nganalisa keadaan jd hlng kendali klo berurusan ma sso ^ ^ jd penasaran tingkat akut😛 kekeke~
    suka bgt pas hyukie bentak si nenek sihir #nglirik shin ye# 🙂 ud bw aj sso bang lgian
    sso mang ud trpesona tuh ma km tp ketu2p ma ego ny aj ^ ^ kekeke~
    ayo part slanjtny thor dtunggu ^_^)Y

  25. mizanafidaus November 20, 2014 pukul 1:33 pm

    hyuk pengin deket2 sso mulu, tapi sso menghindari dia,,,
    lucu liat tingkah hyuk macem orang baru jatuh cinta aja, wuaaa hyuk km bentak shinhye nanti sso yg kena dong, ah tp suka sama gayamu bang sini tak cium dulu :*

  26. Rani Annisa Februari 8, 2015 pukul 11:47 am

    wah makin seru ceritanya 🙂

    menegangkan banget perdebatan antara hyuksso..

    apa yang akan terjadi lagi antara mereka berdua???

  27. anastasia erna Mei 26, 2015 pukul 4:15 am

    omo…panas bacanya…
    bakal kaya gimana nasib sso…
    hyuk udah lepas kendali…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: