RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

The Kim Brides [Part 1]


cover depan1small

Rated: M

Cast: Kim So Eun, Kim Sang Bum

WARNING: FF ini merupakan remake novel terjemahan yang berjudul THE BALFOUR BRIDES: ANNIE AND THE RED-HOT ITALIAN, karya Carole Mortimer. FF ini 90% murni bukan milik saya, berhubung novel ini merupakan terjemahan maka nama dan tempat disesuaikan dengan cast asal korea.  Happy Reading!?^^

The Kim Brides [Part 1]:

 

Pulau Jeju, Korea Selatan

Juni 2014

“Aku akan pulang beberapa hari lagi, Sayang,” ujar So Eun penuh kehangatan melalui telepon genggamnya, sama sekali tidak memperhatikan sinar matahari dan keindahan pemandangan danau di luar jendela dari hiruk pikuk hotel saat ia tergesa-gesa menyusuri koridor berkarpet itu menuju ruang konferensi di lantai dasar. “Aku juga mencintaimu, Mason Moon – aduh!” So Eun berhenti mendadak – dan merasa nyeri – saat ia menabrak benda tak bergerak.

Benda tidak bergerak dalam wujud pria bertubuh hangat dan otot-otot yang keras, So Eun tersadar saat tangannya menyentuh bahu lebar untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Saat itulah ia merasakan otot-otot yang kuat tersebut bergerak di bawah jemarinya.

“Aku minta maaf – “ Permintaan maaf So Eun dan tawanya tertahan di tenggorokan. Wajahnya memucat saat ia mendongak dan melihat wajah dingin dengan ketampanan yang membuatnya terperangah.

Tidak….

Tak mungkin pria ini Kim Bum!

Mungkinkah?

So Eun benar-benar tercengang. Mungkinkah ini benar-benar pria yang sama yang ia kenal empat setengah tahun lalu? Terlepas dari fakta bahwa So Eun hanya pernah melihat Kim Bum yang jangkung dan ramping berotot dalam pakaian ski atau celana denim yang dipadu dengan sweater kasmir, sementara pria ini mengenakan setelan yang sangat mahal dan kemeja putih sutra dengan dasi abu-abu yang terpasang sempurna di leher, dia jelas sangat mirip dengan pria yang ditemui So Eun – pria yang menghabiskan malam panas dan menggairahkan dengannya – bertahun-tahun lalu.

Tapi…

Kim Bum yang dulu memiliki rambut berwarna gelap sebahu, sementara rambut pria ini pendek – mungkin itu solusinya untuk mengatasi ujung-ujung rambutnya yang cenderung ikal? Tapi mata pria ini, berwarna gelap seperti batu oniks di wajah yang angkuh dan tidak mengenal kompromi, betul-betul sama. Begitu juga dengan bentuk hidungnya yang panjang, dan mulut yang terpahat di rahang yang keras.

Pria ini sangat mirip, namun pada saat yang sama, juga sangat berbeda….

Kim Bum yang So Eun kenal saat di resor ski Korea empat setengah tahun yang lalu punya seringai nakal di matanya yang hitam. Seringainya memperlihatkan aura ketidakpedulian sama yang telah menyeret So Eun yang pendiam – sampai saat itu – yang berusia dua puluh tahun kepada Kim Bum, seperti ngengat tergoda untuk masuk ke lidah api.

Kini tak tampak sedikit pun tanda-tanda kenekatan yang berbahaya itu pada sepasang mata hitam yang membius yang membalas tatapan So Eun dengan sangat dingin.

Mata yang tak sedikit pun memperlihatkan keterkejutan karena mengenali So Eun, seperti yang dirasakannya….

So Eun mengangkat tangan seolah tangannya terbakar di atas bahu bidang Kim Bum saat ia tanpa sengaja melangkah mundur. Dan pada saat yang sama, So Eun menyadari ia tidak bernapas sejak mendongak dan seketika mengenali kekasihnya yang penuh gairah dalam diri pria yang dingin dan terkendali ini.

So Eun menarik napas. “Sorry, Mr…

“Aku bisa berbahasa korea, Miss,” tukas Kim Bum pendek.

Ya Tuhan, suara itu…

Nada sedingin baja sekalipun takkan bisa menyamarkan suara parau yang dulu pernah bergumam penuh semangat saat So Eun berkali-kali mencapai klimaks…

Pria ini memang Kim Bum.

Tetapi Kim Bum yang jauh berbeda dan jauh lebih dingin dibandingkan dengan yang diingat So Eun.

Kim Bum yang berusia 23 tahun adalah pria yang liar dan tidak bisa diam. Semua yang dia lakukan – mulai dari ski hingga bercinta – dikuasai dorongan energi penuh ambisi yang mampu menantang siapa saja dan apa saja yang berani menghalanginya. Energi berambisi serupa yang dua tunjukkan – dan berhasil – dalam menggoda So Eun….

Siapa pun yang melihat Kim Bum takkan meragukan bahwa pria yang berdiri di hadapannya ini memiliki obsesi yang sama akan suatu tujuan. Tapi kini energi yang dulu liar itu sangat terkendali, dan emosinya bersembunyi di balik wajah yang hanya menunjukkan keangkuhan dan kebengisan yang membuat So Eun gemetar saat pria yang menjulang di atasnya itu terus menatapnya dengan dingin.

*****

Kesabaran Kim Bum, yang tidak pernah cukup banyak, menguap dalam setiap detiknya saat wanita muda ini terus menatapnya seakan dia baru melihat hantu. Atau mimpi terburuknya. Jelas bukan reaksi yang biasa ditimbulkan Kim Bum pada wanita mana pun!

Senyum dingin melengkung di bibirnya. “Atau mungkin Miss?” tanya Kim Bum.

“Tidak, yang pertama sudah benar,” jawab wanita itu.

Kim Bum merasa ada sedikit kenangan yang melintas saat wanita itu berbicara dengan suara pelan. Suaranya yang parau entah kenapa terasa familiar.

Kim bum mengamati tubuh ramping wanita itu serta tingginya yang sedang, yang terbalut setelan bisnis hitam dan blus sutra putih. Rambut hitamnya digelung di tengkuk. Wajah yang sangat cantik dengan hidung mungil dan mancung, bibir yang merekah sensual di atas dagunya yang tegas.

Sekali lagi firasat Kim Bum berkata ia mengenal wanita itu. “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya, Miss?” Tanyanya pelan.

Wanita itu mengerjap sebelum tertawa kasar bernada meremehkan. “Entahlah, pernahkah?” tukasnya, balas bertanya.

Kim Bum menahan ketidaksabaran yang semakin meningkat. “Kurasa akulah  yang lebih dulu bertanya?” tukasnya dingin.

Dan menurut So Eun, Kim Bum bisa saja terus bertanya-tanya! Selama bertahun-tahun ini, ketakutan terbesar So Eun yaitu bahwa entah bagaimana, di suatu tempat, ia akan bertemu lagi dengan Kim Bum. Pertemuan yang ia tahu akan menambah rumit hidupnya dengan cara yang bahkan tidak ingin ia pikirkan.

Kini, karena nasib malang yang mengerikan, So Eun bertemu lagi dengan pria itu, pria yang telah mengubah hidupnya untuk selamanya – tapi dia bahkan tidak ingat pada So Eun!

Kelegaan yang seharusnya So Eun rasakan kini tertutup kebencian yang mendalam. Pria ini telah meluncur memasuki hidupnya – dalam arti yang sebenarnya – dan memperkenalkan Kim So Eun yang biasanya bersifat tertutup kepada gairah yang berapi-api dan luapan kegembiraan yang tak pernah ia ketahui sebelum dan sesudah itu, sebelum pria itu menghilang lagi dengan cara yang sama mendadaknya.

Dan kini So Eun sadar waktu yang mereka habiskan bersama, semua kenangan indah yang tak pernah bisa So Eun singkirkan dari benaknya, tak berarti apa-apa bagi Kim Bum hingga dia bahkan tidak mengingat So Eun.

Dasar sombong!

So Eun mengangkat dagu dengan ekspresi menantang. “Aku yakin salah satu dari kita akan ingat jika itu masalahnya, Mr.

Kim Bum tidak terlalu yakin. Wajah wanita ini tampak pucat, menunjukkan ekspresi penuh kebencian dan kemarahan yang dapat Kim Bum rasakan dari suaranya, sepertinya mengatakan hal sebaliknya. Jelas sekali Kim Bum telah melakukan sesuatu yang tak menyenangkan pada wanita itu.

Sebagai putra tunggal seorang pengusaha Korea Selatan yang kaya raya dan berkuasa, masa muda Kim Bum dilimpahi kekayaan dan berbagai keistimewaan. Segala keinginannya selalu dikabulkan. Sebagai konsekuensinya, Kim Bum tahu ia menjadi pria angkuh dan sangat yakin bahwa pendapatnya tak pernah salah. Keyakinan pria muda angkuh yang terus berlanjut setelah ia terbukti memiliki semangat ayahnya dalam berbisnis, dan pada usia 17 tahun ditempatkan pada posisi yang berkuasa dalam kerajaan bisnis ayahnya. Hingga akhirnya Kim Bum yang terlalu percaya diri mengambil risiko terlalu besar yang membuat seluruh kerajaan bisnis ayahnya runtuh…..

Mulut Kim Bum terkatup rapat saat ia teringat masa-masa itu. Dalam empat setengah tahun terakhir, ia hanya berkonsentrasi penuh untuk satu tujuan, dan sering kali tanpa mengenal belas kasihan dalam membangun kerajaan bisnis itu hingga besar dan lebih baik daripada sebelumnya. Selama bertahun-tahun hanya ada sedikit sekali wanita yang mampir dalam kehidupannya.

Apakah wanita muda yang kini berdiri di hadapan Kim Bum dalam setelan bisnis rapi berwarna hitam, dengan rambut yang digelung di tengkuk, dan wajahnya yang nyaris tanpa riasan untuk menambah kecantikan alaminya, adalah salah satu dari mereka?

Entah kenapa, menurut Kim Bum tidak. Tidak seperti wanita ini, para wanita yang berhubungan dengannya selalu bertubuh jangkung, kaya raya, dan berasal dari lingkungan sosial yang tidak punya otak. Meskipun begitu, saat Kim Bum menatapnya terus, perasaan bahwa ia mengenal wanita ini seolah tidak mau pergi…

Kim Bum mencibir. “Sepertinya kau melupakan teleponmu,” katanya lambat-lambat.

So Eun menatap telepon genggam yang masih berada ditangannya dengan terkejut. Telepon yang mengeluarkan suara-suara yang melengking gelisah yang bisa didengar So Eun, karena tidak ada jawaban.

Mason Moon.

Karena terlalu terkejut bertemu lagi dengan Kim Bum, So Eun benar-benar lupa bahwa ia sedang berbicara dengan Mason Moon ketika menabrak pria jangkung ini.

Ia menelan ludah dengan susah payah. “Permisi.” So Eun sengaja berpaling dari efek yang begitu kuat karena kedekatan pria ini, berencana melarikan diri ke tempat yang lebih sepi untuk melanjutkan pembicaraannya di telepon.

Meskipun So Eun tidak yakin ia akan bisa berbicara dengan normal kepada Mason Moon setelah pertemuan yang tak disengaja dan mengganggu ini. Bahkan lebih cepat So Eun pergi dari Pulau Jeju dan dari pria yang dulu pernah berhubungan malam dengannya, yang bahkan tidak mengingat dirinya, maka lebih baik baginya.

Sadar sepenuhnya bahwa Pulau Jeju merupakan tempat ia bertemu Kim Bum dan berbuat sesuai kehendak hatinya, So Eun sama sekali tidak ingin menghadiri seminar manajemen di ruang konferensi sebuah hotel di tepi Pulau Jeju, dan kalaupun ia akhirnya tetap melakukannya, itu karena ayahnya yang memaksa.

Ayah – yang masih terguncang oleh kematian istri ketiganya yang tercinta, juga merupakan ibu tiri So Eun – menjadi sangat diktator terhadap seluruh putrinya setelah skandal yang sangat mengguncang keluarga pada perayaan seratus tahun Pesta Dansa Amal Keluarga Kim bulan lalu.

So Eun membeku saat merasakan jemari kuat melingkari lengan atasnya sebelum ia punya kesempatan untuk pergi. Jemari Kim Bum. Jemari yang panjang dan elegan namun mengandung kekuatan yang memaksa.

Jemari yang dulu membelai dan menyentuh So Eun dengan lebih intim daripada pria mana pun. Dan jemari itu masih mampu membangkitkan sengatan kuat di sepanjang lengannya dan payudaranya.

Mata So Eun, mata khas keluarga Kim, berkilat-kilat mengingatkan saat ia kembali memutar tubuhnya untuk menghadap Kim Bum. “Singkirkan tanganmu!” tukasnya sambil menggertakkan gigi, wajahnya sekali lagi memucat.

Mata Kim Bum menyipit mendengar nada berapi-api yang didengarnya dalam suara wanita itu. Tidak, tadi ia bukan hanya membayangkannya: jelas ada kebencian yang diperlihatkan kepadanya, kebencian yang ingin Kim Bum ketahui lebih banyak.

Kim Bum bahkan tidak berusaha melepaskan cengkeramannya. “Maukah kau makan malam bersamaku sore ini?”

So Eun membelalak menatap Kim Bum dengan tidak mengerti selama beberap detik. “Apa?” bentaknya akhirnya saat pipinya kembali merona.

Kim Bum tersenyum dingin sekilas. “Aku bertanya apakah kau mau makan malam bersamaku sore ini. Sebagai permintaan maaf karena baru saja hampir membuatmu jatuh,” ia menambahkan, mereka sangat sadar bahwa mereka bertabrakan adalah karena So Eun kurang berhati-hati.

Wanita itu meliriknya sekilas, “Terima kasih atas undangannya,” jawabnya datar. “Tapi tidak.”

Kim Bum menyipitkan matanya yang gelap, tak terbiasa ditolak wanita mana pun. “Kenapa tidak?” tanyanya terus terang.

Sepasang mata menatap Kim Bum dengan tajam. “Karena aku tidak membiarkan diriku diajak pria yang tidak kukenal di lorong hotel, itulah sebabnya! Sekarang bisakah kau melepaskan lenganku atau aku harus memanggil manajemen hotel dan menyuruh mereka mengusirmu dari tempat ini karena telah melecehkan salah satu tamu mereka?”

Itu mungkin akan sangat menarik, mengingat hotel ini milik keluarga Kim Bum!

“Tidak perlu,” gumam Kim Bum saat ia perlahan mengendurkan cengkeraman dan melepas lengan wanita itu. “Undangan makan malam itu tidak lebih dari tanda permintaan maafku.” Kim Bum mengangkat bahu dengan tak acuh.

So Eun, yang sangat bingung dengan undangan makan malam Kim Bum yang tak terduga, bersyukur ketika merasakan sensasi menggelitik di lengannya lenyap begitu Kim Bum melepaskannya.

Sama seperti ia pun sedikit kecewa karena tidak bisa – bukan, tidak berani – menerima undangan makan malam pria itu….

Oh, tidak – tak mungkin aku masih tertarik pada pria ini! Batin So Eun. Bukankah begitu?

Tidak, tentu saja tidak! Kim Bum telah memasuki kehidupannya, mengambil apa yang diinginkannya dari So Eun dan menghilang ketika matahari terbenam.

Seperti halnya So Eun telah mengambil apa yang ia inginkan dari Kim Bum?

Dengan tiga kakak perempuan, yang ketiganya secara bergantian selalu muncul di berita utama surat kabar, dan tiga adik perempuan – sekarang empat! – yang sepertinya akan mengalami hal yang serupa, hanya So Eun yang lebih suka tetap berada di balik bayang-bayang perhatian publik yang begitu sering dikaitkannya.

Sebuah fakta yang sangat disadari ayahnya ketika dia mendorong So Eun untuk pergi bersama teman-teman kuliahnya pada liburan ski di Korea Selatan lebih dari empat tahun lalu.

Yang membuat So Eun terkejut, menjauh dari tekanan dan publisitas yang sering kali menyertai karena menjadi seorang Kim, serta terus menerus berkompetisi yang merupakan ciri khas liburan keluarganya, So Eun bisa bersantai dan bersenang-senang.

Akibatnya, ketika Kim Bum melempar seringai menggoda itu kepadanya dan menantangnya menyusuri jalur hitam paling terjal di resor itu, So Eun merasa lebih terbuka terhadap rayuan memabukkan pria itu.

Begitu terbuka sehingga So Eun tidak bersikap seperti dirinya setelah kembali ke vila Kim Bum yang mewah bersama pria itu. Itu saat-saat yang inda. Ketika ia hanya menjadi So Eun. Dan Kim Bum hanya Kim Bum.

Tapi siapa dia sebenarnya? So Eun kini bertanya-tanya saat menatap pria itu sekilas dengan hati-hati. Karena dari potongan rambutnya yang mahal, setelan yang dijahit khusus, dasi dan kemeja sutra serta sepatu kulit buatan tangan, Kim Bum jelas orang yang penting.

Juga orang yang ingin So Eun hindari dengan cara apa pun!

“Tidak perlu minta maaf,” So Eun meyakinkan pria itu dengan tegas. “Sekarang permisi, aku benar-benar harus berbicara di telepon.”

Kim Bum menatapnya dengan tajam dan waspada. “Aku tidak dapat menghilangkan perasaan kita pernah bertemu sebelumnya,” ujarnya berkeras.

“Mungkin di kehidupan lain,” balas So Eun.

“Mungkin,” ulang Kim Bum perlahan.

Ada sesuatu pada kehalusan rahang wanita ini. Mata dan kelembuatan suaranya yang seksi yang Kim Bum kenal.

Kim Bum juga memperhatikan reaksi wanita itu saat ia menyentuh lengannya. Sekali lagi Kim Bum memikirkan mata wanita itu yang membelalak ketika ia berkeras mengatakan bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya.

“Apa kau akan tinggal di hotel dalam waktu yang lama?” tanya Kim Bum ingin tahu.

“Hanya selama akhir pekan,” balas wanita itu singkat. “Tapi aku berada di sini untuk urusan bisnis dan aku akan sangat sibuk, jadi aku ragu kita akan punya kesempatan untuk bertemu lagi,” tambahnya tegas.

Wanita ini jelas sangat berharap kami tidak bertemu lagi, pikir Kim Bum tersadar.

Menarik sekali.

Setelah mengambil alih puncak kepemimpinan di kerajaan bisnis keluarganya empat tahun lalu sesudah serangan jantung ayahnya yang nyaris fatal, Kim Bum jadi terbiasa dikejar-kejar para wanita yang berharap akan diperistrinya, atau, jika tidak berhasil, menjadi wanita simpanannya. Sedangkan wanita ini jelas-jelas menunjukkan ketidaktertarikan kepadanya.

Dan justru itu semakin menambah ketertarikan Kim Bum kepadanya. Ketertarikan yang ingin Kim Bum kejar, dengan atau tanpa bantuan wanita itu….

Senyum Kim Bum mengembang. “Kalau aku jadi kau, aku tidak terlalu yakin.”

Sekali lagi wanita mengerjap, tenggorokannya bergerak-gerak tegang saat dia menelan ludah sebelum berbicara. “Berbicara denganmu hanya membuatku terlambat menghadiri pertemuan.” Wanita itu melirik sekilas jam tangan emas mungil di pergelangan tangannya.

Kim Bum mengangkat bahu bidangnya. “Kalau begitu, beberapa menit lagi tidak akan membuat banyak perbedaan, hmm?”

Wanita itu menggeleng. “Maafkan aku, tapi aku benci keterlambatan, terhadap diriku sendiri maupun orang lain.”

Kim Bum tahu wanita ini sedikit pun tidak menyesal. Bahkan, dia tidak sabar untuk segera pergi dari acara itu!

Kilatan berapi-api yang tampak di sorot mata menakjubkan wanita itu dan dagunya yang tampak tegas, mengatakan bahwa wanita ini sama sekali tidak tahu tekadnya untuk segera menghindari Kim Bum hanya semakin minat Kim Bum.

“Kalau begitu, aku akan mengucapkan selamat tinggal. Untuk saat ini,” tambah Kim Bum perlahan.

“Kita tidak akan bertemu lagi, Mr,” tukas wanita itu berkeras, rona halus yang menjalari pipinya kini disebabkan amarah dan bukan rasa malu atas sikap kasarnya tadi.

Kim Bum kembali melempar senyumnya yang tidak biasa kepada wanita ini. “Menurutku, takdir punya cara untuk memutuskan segala sesuatunya bagi kita.”

Dulu takdir membuat So Eun bersikap sangat tidak rasional saat bersama pria ini, dan tidak ingin tergoda lagi.

Meski begitu, Kim Bum yang ini bahkan lebih menarik daripada pria yang So Eun kenal sebelumnya. Kini ada semacam kekejaman yang besar pada diri pria itu, keangkuhan berjarak yang menantang sekaligus memperdaya.

Dan senyumannya…!

Bibir yang bagai pahatan itu melengkung sekilas dan memperlihatkan deretan gigi sempurna yang putih dan rapi, dalam senyum bagaikan serigala yang So Eun kenal, meskipun hanya sekejap, namun membuat jantungnya berdebar lebih keras.

Terlepas dari segalanya, dengan ngeri So Eun menyadari ia memang masih tertarik pada pria ini!

So Eun mengatupkan bibir. “Aku benar-benar harus menyelesaikan pembicaraan telepon ini.”

Senyum mengejek di wajah Kim Bum kini lenyap saat ia teringat wanita itu sedang berbicara dengan seseorang bernama Mason Moon ketika mereka bertabrakan beberapa menit lalu.

Pria bernama Mason Moon yang belum memiliki wanita ini, jika dilihat dari jari panjang dan ramping yang tak dihiasi cincin, ,meski wanita ini meyakinkan pria yang ada diujung telepon bahwa dia juga mencintainya.

Kim Bum mengangguk cepat. “Aku pun sudah terlambat menghadiri pertemuan.”

Senyum wanita itu terlalu manis. “Kalau begitu aku sebaiknya tidak menundamu lebih lama lagi, bukan?”

Wanita ini perlu disuruh berlutut di hadapan seseorang kemudian dipukul bokongnya dengan keras, Kim Bum membatin.

Bayangan erotis berkembang dalam benak Kim Bum hingga ia merasa gairahnya bangkit – sesuatu yang tak pernah terjadi kepadanya selama beberapa tahun.

Kim Bum menghabiskan waktu bertahun-tahun membangun kembali kekayaan dan kerajaan bisnis keluarganya. Empat tahun yang panjang tanpa mengizinkan adanya gangguan lain, terutama yang berhubungan dengan wanita, yang akan menghalangi rencana-rencananya.

Meskipun sangat menarik, Kim Bum sangat meragukan wanita ini akan membuatnya tertarik untuk waktu yang lama. Tapi pembawaan ketus wanita itu menunjukkan gairah yang mungkin pada akhirnya akan menyenangkan.

Kim Bum menunduk untuk mengucapkan selamat tinggal, merasa aman oleh pemahaman yang menyenangkan karena kehadiran wanita itu di Pulau Jeju selama setidaknya beberapa hari lagi.

So Eun menahan napas saat menyaksikan langkah-langkah panjang Kim Bum yang angkuh dan percaya diri hingga pria itu berbelok koridor begitu dia lenyap dari pandangan.

Ya Tuhan!

Bagaimana mungkin ini terjadi? Mengapa ini terjadi?

Ini terjadi karena alasan sederhana bahwa ayahnya, dengan semangat baru dalam menuntun kehidupan putri-putrinya agar tidak membuat masalah dan mengarahkan mereka kepada sesuatu yang lebih bermanfaat, telah memutuskan bahwa So Eun akan mengambil peran yang lebih aktif dalam kerajaan bisnis Kim dengan menghadiri seminar manajemen ini!

Protes So Eun bahwa ia tidak tertarik mengambil peran yang lebih bergengsi dalam tim manajemen ayahnya sepertinya tidak diperhatikan. Sebagai satu-satunya dari delapan bersaudara yang benar-benar bekerja untuk sang ayah, biasanya di kompleks perkantoran Puri Kim, ayahnya menolak segala keberatan So Eun dengan ancaman akan memecatnya.

So Eun pun tahu ayahnya bersungguh-sungguh dengan ancaman itu. Karena ayah benar-benar tegas pada keputusannya bahwa sudah waktunya – sudah lewat waktunya – bagi semua putrinya untuk bepergian ke seluruh penjuru dunia, menemukan jati diri mereka dan apa yang benar-benar mereka inginkan dalam hidup. Bahkan meskipun sebagian besar dari mereka, termasuk So Eun, menjerit-jerit marah!

Keputusan ayahnya itulah yang membawa So Eun kembali ke sini, di hotel glamor yang terletak di tepi pulau Jeju yang indah di Korea.

Hotel tempat KimBum, mantan kekasihnya, jelas sekali juga menjadi tamu…

cover tbc1small

NB: Saya hanya ingin memberitahukan bahwa FF yang diremake novel ini memang bukan penulisan saya, atau karakter saya. Karena saya tidak menciptakan ide cerita ini, hanya mengubah nama dan tempat dari novel terjemahan tersebut. Jadi kalo ada yang merasa kurang paham dengan bahasanya maupun yang lain itu karena bahasa di novel memang agak tinggi, jadi dibaca baik-baik ya ^^

43 responses to “The Kim Brides [Part 1]

  1. winzzlee November 12, 2014 pukul 6:21 am

    Ceritanya menarik sama2 dari kalangan atas dan masa lalu yg dilupakan dan berubah jd benci, tp kenapa kimbum lp sama so eun?

  2. Devi November 12, 2014 pukul 7:26 am

    makin seruuu zh FF’a,,,,,,
    setelah sekian lama trpisah akhir’a eonnie so eun ma bumppa ketemu,tpi pertemuan mreka bumppa lupa ma eonnie so eun tpi eonnie so eun tidak melupakan bumppa bahkn eonnie so eun benci ma bumppa,,,

  3. Kim Na Na November 12, 2014 pukul 7:51 am

    Kim Bum melupakan Sso ? Karna terlalu banyak wanita atau fokus pada bisnis😀

  4. lovelysso November 12, 2014 pukul 11:30 am

    waah kimbum benar2 lp sama sso ya, poor sso..ku baca lg prolognya, apakah dulu kimbum yg ninggalin sso?moga next partnya memberi pencerahan, aza..aza..keep writing!!

  5. Kim Ra rA November 12, 2014 pukul 1:30 pm

    Udah empat setengah tahun… Kim bum benar benar sudah lupa sama Sso. pantes aja reaksi kaya gitu. mereka pernah menghabiskan malam bersama..!
    terus kira kira siapa Mason moon itu..? ah~ gak sabar buat part 2 nya

  6. sary ajow November 12, 2014 pukul 2:13 pm

    bagusss kok wlw kalimatnya emg level tinggi..wkwkwk
    oww mikirQ masson moon tu balita anak kimbum ma so eun..tyta pria gitu yow??hahah
    pnasaraaaan thor..next ya..
    jgn gantung brenti tengah jalan lg ye ffnya..

  7. yogi November 12, 2014 pukul 3:39 pm

    bagus eon ceritanya. dtunggu nextnya ya jangan lama-lama
    eon jjang

  8. Margaretha November 12, 2014 pukul 4:40 pm

    Yah mmg sedikit kurang paham dgn kata” nya .. Jadi Kimbum dan Soeun adalah mantan pacar?? Tapi kenapa dia tdk mengingat Soeun sakin berambisi nya Kimbum membangun kembali perusahaan ayah’a dia bahkan tdk melirik wanita..

    Lalu siapa itu Mason Moon?? Mungkinkah dia anak BumSso karena bukankah mereka berdua pernah melakukan hal ‘itu’ 4 tahun lalu..

  9. Lila Tyas November 12, 2014 pukul 4:43 pm

    bumsso pernah mrnjalin kasih…
    kenapa kim bum gk ingat?? apa alasannya.
    so eun masih suka kim bum kan?
    kim bum ini misterius..!!

  10. dewi November 12, 2014 pukul 9:26 pm

    wow ini jg keren bgt
    penasaraan
    ditunggu next partnya

  11. mira1102 November 13, 2014 pukul 2:22 am

    wah seru nih ceritanya. bikin penasaran banget, apalagi dengan karakternya bumsso. sukaaa. cepat dilanjut ya author. wlu ini remake, tapi jadi keren krn cast nya😉

  12. Nurul timtam November 13, 2014 pukul 3:33 am

    Crta’y mnrik n seru mski btuh pmhman extra hehe😉 tp bgus koq.. Pnsrn koq bum bs lpa ya ma sso?? D’tnggu klnjutn’y🙂

  13. vonnysumali November 13, 2014 pukul 8:14 am

    Aduh mengapa hanya sampai sini aku ingin lebih sebenarnya… mohon lanjutannya ya segera. Bagus sekali

  14. yeonta November 13, 2014 pukul 9:18 am

    keren banget..

  15. Shaneyida November 13, 2014 pukul 11:37 am

    Kimbum hanya merasa pernah kenal ma soeun tp tdk ingat dg sosok soeun yg pernah ada d ms lalunya ….mungkin krna dl sso bukan orng yg penting or kb banyak kesibukan or mungkin krna penampilan sso sdh berubah skg makanya dia tak kenal ˚◦°•hмм…(―˛―“)..=-?•°◦˚ berbeda dg sso tampak terkejut tp dia mengenal kb mungkin krna sso dr dulu menyukai kb ya dan skg apakah dia akan terjerat kembali ˚◦°•hмм…(―˛―“).◦˚ , kb sepertinya penasaran bgt ma soeun ….akankah sso akan selamat ƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮‎​​
    Trus si masoon moon itu kekasih sso kah ??

    Lanjuut ~
    Thumbs up (y)

  16. vhi November 13, 2014 pukul 10:04 pm

    ada kejadian cinta satu malam toh …… kim bum kenapa sampe lupa gitu sama sso … apa cuma sso yang suka sama kim bum ya ?

  17. ria November 13, 2014 pukul 11:51 pm

    apa sesibuk itu sampai kim bum lupa sm so eun ??
    ehh aku pikir mason anak y so eun hh
    makin seru penasaran sm kisah mereka
    dan masih penasaran dengan kehidupan kim bum ??
    next part saya tunggu thor

  18. nuribumsso November 14, 2014 pukul 3:45 am

    bener bahasanya kyakx emng tinggi.. bacanya harus bner2 hati-hati…
    part 1 nya masih bikin penasaran banget,,, sso sm bum dlu pacaran kah? tpi knpa bum kyak lupa gitu sm sso? apa krna amnesia? atau krna suatu yg lain?
    next part nya di tnggu eon.. fighting🙂

  19. dara November 14, 2014 pukul 6:23 am

    bacanya harus pelan2 biar ngerti, dan lebih muter2.
    Kesalahan yg kimbum buat thdp sso 4th yg lalu, sepertinya sangat membekas dhati sso. Dan apakah karena sibuknya kimbum sampai meluapakan org yg telah bercinta dengannya?
    next partnya ditunggu…

  20. sukhwi November 15, 2014 pukul 4:25 pm

    Kim Bum amnesia kah? ko sampe ga bisa mengeali So Eun…atau memang dia type orang yang mudah melupakan orag yang tidak penting menurutnya???

  21. usina agustina November 16, 2014 pukul 4:28 am

    ff.. bagus ya!@! seru… ceritanya juga masuk..
    ditunggu part selanjutnya ya!@@

  22. ani bumsso November 16, 2014 pukul 9:22 am

    wah, kok kim bum melupakan so eun sih? terus kok bisa lupa? terlalu fokus ke bisnis atau adakah sesuatu yang terjadi?

    terus mason moon itu siapa? penasaran eon
    Next.. di lanjutin ya eon…

  23. afifmuizzakaiffahizzati November 16, 2014 pukul 9:52 pm

    Wae..? Nape jadi lupa gitu? Emang salah makan obat apa? Aneh deh. -_- Apa Sso eonni segampang itu buat dilupain? Ck! Payah nih..
    Apa jangan-jangan dia nganggep Sso eonni sama kayak yeoja-yeoja genit lainnya yang cuma ngarepin duit dan gengsi dari Kimbum? Heol! Enak aja! -_- …

    Hmm.. Aku yakin kalo Mason Moon yang nelpon Sso eonni itu anak Sso eonni sendiri. #sotoy :-p

    Liat aja sedikit demi sedikit ingatan Kimbum tentang kejadian 4 tahun lebih dulu aan kembali…

    Oh, iya Mbak. Aku belum komen di 2 ff sebelum ini soalnya komenanku gak masuk-masuk.😦 Kayaknya ada masalah gitu.. #curcol :-v

  24. madi November 18, 2014 pukul 2:25 pm

    Ff a seru, cpt post part selnjut a y thor
    Pnasaran nihhh

  25. gadung melati November 18, 2014 pukul 3:56 pm

    :-O oh author nie jauh dr ap yg aq byngkn *jln critany* :-I stlh 4thn lbh g ktm knapa kim bum g inget ma sso?? stlh melalui hari n malam yg begitu *menyenangkn* eh dy mlh g inget sm skali ud gtu hbs manis sso dtinggl gt aj >:-< uh bner2 pngen getok nie kepala kimbun biar yg geser kembali lurus #dtabok author# kekeke~ piss ya ^_^)Y bner2 kepo ap yg trjd slm thn trakhr nie kok kimbum ampe lupa ma sso #kepo tingkat dewa# lebay -_-b
    trus mason moon it spa? kekasih sso? ato jgn2 it ank sso!!!??!!??!!
    lanjt thor jng lm2 post ny n keep writing ya ^ ^

  26. rezi November 18, 2014 pukul 4:00 pm

    sepertinya kenangan masa lalu yg sangat ingin dihapus oleh so eun, sayang hrs bertemu kembali…mmm jadi penasaran, next part ditunggu…halo q baru nemu wp ini, salam kenal

  27. Nitha chan November 19, 2014 pukul 7:42 am

    huuaa.. kerennnn………..
    apa sso dicampakan ma bumppa???
    kok bumppa gk ingat ma sso???
    lalu siapa manson moon??? kekasih sso?? huuaa… penasaran bingit… next thor di tunggu…

  28. rismaimma November 23, 2014 pukul 4:58 pm

    lanjut ya ffnya ini tuh seru banget, bikin geregetan, aja tuh and penasaran dengan kelanjutan ceritanya, cepat ya and moga author tambah semangat and sehat selalu.

  29. Dela safitri Desember 1, 2014 pukul 12:59 am

    Salam kenal author . .
    Waah ceritanya menarik author. Di lanjut dong ffnya author . Cs bagus nih ceritanya author . Di lanjut sampai selesai author ceritanya yaa ehehe🙂

  30. Ne yan Desember 22, 2014 pukul 6:08 am

    Bumsso pernah menjalin kasih??
    Lalu kenapa kim bum tidak ingat betul dengan so eun?!
    Terus laki laki yang berbicara Di telepon dengan so eun itu siapanya so eun?
    Next yes

  31. laila_annisa Desember 31, 2014 pukul 12:27 am

    Wwaaah menarik bgt nih😉
    Knp bumppa bisa lupa ya ma sso???? Jadi bingung juga knp?
    Sso jadi benci sama bumppa?? Jelaslah kalo aku ada di posisi sso juga pasti gitu (y)
    Next di tunggu part selanjutnya😉

    Terus berkarya😉

  32. QRen Januari 11, 2015 pukul 7:33 am

    aku punya loe novel ANNIE AND THE RED-HOT ITALIAN
    bagus bangettttttttt ceritanya
    hehehehehe

  33. ristra dwi septyawati Januari 11, 2015 pukul 2:05 pm

    q gk ngerti sma bhasax..
    trlalu bnyak kta” pnjelasanx..
    next..

  34. Ikfina Januari 15, 2015 pukul 6:37 pm

    Mereka pernah Menghabiskan malam bersama?
    Tapi bagaimana bisa kim bum melupakan so eun begitu saja.
    Apa itu karena pekerjaan atau bahkan karena terlalu banyak wanita yang di ajak menghabiskan waktu bersama selain so eun.
    Andwe…ehm mason moon itu siapa?
    Next partnya di tunggu

  35. Rani Annisa Februari 10, 2015 pukul 9:57 am

    jadi bumsso dulu pacaran,, tapi kenapa putus???

    dan juga kenapa kim bum lupa sama so eun???

    next part

  36. amal Agustus 7, 2015 pukul 10:32 am

    kasihan banget sih soo eonni. bumpa kok bisa lupa sih sama soo eonni. lanjut deh thorr ceritanya seru plus bikin penasaran pliss thor di lanjut yahh

  37. amal September 5, 2015 pukul 1:12 pm

    cerita nya bener bener menarik thorr lanjutin dong ceritanya jangan gantung gitu kasihanilah reader seperti ku ini

  38. Shofiya lee September 10, 2015 pukul 3:13 am

    Lanjutanya mana…ampek bosen nunggu!

  39. Delys Kim September 25, 2015 pukul 1:58 pm

    lanjut thorr! penasaran dngn klnjutaannya

  40. amel Februari 6, 2016 pukul 1:15 am

    TUHkan gantung sampe lama nunggunya

  41. nanda Maret 9, 2016 pukul 4:21 am

    bgus ko…q tnggu next’y nee…

  42. Yanahyemin Maret 17, 2016 pukul 10:39 pm

    Wah daebak….aku suka dengan jalan ceritanya…author hwaighting untuk part seterusnya aku ngga sabar baca lanjutannya.

  43. Ikfina Mei 3, 2016 pukul 5:33 pm

    Apa yang membuat Kim Bum melupakan sosok Kim So Eun. Hufft aku harap FF bumsso segera dilanjut. Next part ditunggu🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: