RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

The Seduction Challenge [Part 1]


coversmall

Rated: M

Cast: Kim So Eun, Lee Sang Yoon

WARNING: FF ini merupakan remake novel terjemahan yang berjudul THE SEDUCTION CHALLENGE, karya Sarah Morgan. FF ini 90% murni bukan milik saya, berhubung novel ini merupakan terjemahan maka nama dan tempat disesuaikan dengan cast asal korea.  Happy Reading!?^^

The Seduction Challenge [Part 1]:

“AYOLAH, Mrs Park,” rayu So Eun lembut, “tolong dicoba lagi, demi aku?”

“Tapi sekarang aku nyaris kehabisan napas, Sayang,” bisik wanita lansia itu dengan tersengal. “Bagaimana mungkin aku sanggup mengembus ke alat itu? Bisa-bisa aku mati!”

So Eun memegang spirometri – alat untuk mengukur volume paru-paru atau sampai seberapa besar paru-paru bisa mengembang – seraya tersenyum. “Tolong ambil napas dalam-dalam lalu tiuplah dengan kuat ke alat ini, seperti ini…” Ia mendemonstrasikan caranya dengan singkat dan mengganti lubang tiupnya. “Sekarang, tolong dicoba lagi.”

“Tetapi, kenapa?” Mrs Park mengambil alat itu dari tangan So Eun dan memandanginya dengan sorot bimbang. “Aku tidak mengerti.”

“Alat mungil ini membantu kita menilai seberapa baik kerja paru-paru Anda.” So Eun menjelaskan dengan sabar, sikapnya sama sekali tidak memperlihatkan bahwa ini sudah keempat kalinya ia menjelaskan hal yang sama kepada wanita lansia itu.

“Oh.” Mrs Park tampak terkejut. “Yah, kenapa kau tidak bilang sejak tadi?”

So Eun menyunggingkan senyuman dan menarik lepas tutup bolpoinnya, siap untuk mencatat hasilnya. “Tiuplah kuat-kuat begitu Anda siap, Mrs Park.”

Di belakangnya pintu membuka, So Eun menoleh dan melihat Lee Soo Man, seorang dokter senior, berdiri menjulang di ambang pintu. Pria itu mengamati Mrs Park dan diam-diam mengacungkan dua ibu jarinya. So Eun tersenyum dan membaca skala yang tertera pada spirometri.

“Bagus sekali, Mrs. Park,” ujarnya ramah. “Sekarang, dua kali lagi. Saya membutuhkan tiga skala tertinggi.”

“Tiga? Aku pasti sudah mampus, Nak!” Mrs Park menatap ngeri dan menoleh ke arah Soo Man sembari tersenyum lemah. “Perawat barumu ini benar-benar tukang perintah yang kejam.”

“Aku tahu.” Soo Man melipat kedua lengannya di dada dan bersandar ke pintu dengan ekspresi wajah menyiratkan simpati. “Aku khawatir, kami semua di sini menderita. Dia menyiksa kami semua di sini tanpa belas kasihan. Kalau aku jadi kau, aku pasti pasrah saja. Itulah yang kami, para dokter, lakukan.”

Mrs Park pura-pura mendesah lalu meniup kuat-kuat ke alat itu.

So Eun mencatat semua hasilnya dan menyerahkannya ke Soo Man seraya tersenyum puas. “Hasilnya tidak jelek. Terutama jika mengingat semua yang Anda katakan sejak masuk kemari…” ia mengedip ke arah wanita lansia itu dan Mrs Park pun tertawa.

“Kau jahil!”

Soo Man mempelajari hasil yang barusan ia terima, lalu mengangkat wajahnya. “Kau tahu tidak, dia benar. Hasil ini memang bagus, Jae Min. Sekarang kami memonitor skala ini secara teratur, dan itu membantu kami memutuskan pengobatan apa yang tepat untukmu. Kurasa untuk sementara ini kami tidak perlu mengubah apa pun, tapi pastikan kau tetap menggunakan inhaler – yaitu alat berisi obat dengan dosis tertentu yang akan dihirup penderita asma melalui mulut.”

Park Jae Min cemberut. “Aku benar-benar tidak mengerti kenapa harus melakukan itu. Aku merasa baik-baik saja kok.”

“Anda menderita asma, Mrs Park. Anda merasa baik-baik saja karena selalu memakai inhaler Anda,” papar So Eun, dan wanita lansia itu pun mendesah.

“Ini benar-benar konyol. Bagaimana bisa aku punya asma? Demi Tuhan, umurku kan sudah tujuh puluh. Anak kecil yang terserang asma, bukannya orang dewasa!”

“Orang dewasa bisa terkena juga, Jae Min.” Soo Man memandanginya dengan sorot khawatir. “Kami pernah menjelaskan hal itu, tapi akan kami jelaskan lagi kalau – “

“Tidak, jangan – “ sela Park Jae Min sembari mengibaskan tangan dengan tak sabaran. “Kau akan terus-menerus bicara soal inhaler, meniup kuat-kuat, dan semua omong kosong lainnya itu. Aku tidak mau mendengarnya lagi. Membosankan.”

So Eun tersenyum. “Memang agak membosankan, bukan? Tapi ada bagusnya Anda ingat untuk menggunakan inhaler karena itu membuat Anda merasa sehat sehingga Anda lupa kalau punya asma.”

“Aku secara teratur memakainya sekali sehari,” ujar Jae Min tegas seraya memungut tas tangannya dan menyelipkan benda itu ke lengannya. “Kemudian satu kali lagi kalau kurasakan ada yang tidak beres, tapi harus kuakui kadang-kadang napasku agak sesak.”

“Itu karena pengaruh kondisi jantungmu, selain asma,” jelas Soo Man lembut seraya menyerahkan tabel itu kembali ke So Eun. “Kami akan menaikkan dosis tabletmu sekarang, dan mudah-mudahan bisa menyiasatinya.”

“Mudah-mudahan saja,” sahut Jae Min, senyumnya tampak sedikit menyiratkan kelelahan, “kalau tidak, mustahil bagiku untuk bisa ikut lari maraton tahun depan.”

“Anda akan menjadi orang pertama yang mencapai garis finis,” goda So Eun lembut, matanya tampak berbinar jahil saat membantu wanita lansia itu berjalan ke ruang tunggu. “Dah, Mrs Park. Sampai jumpa lagi bulan depan kecuali Anda membutuhkan saya sebelum itu.”

So Eun berjalan kembali ke ruang periksa dan terkejut mendapati Soo Man masih di situ.

“Dia sehat-sehat saja, ya kan?” So Eun menarik lepas lubang tiup spirometri itu dan membuangnya ke tempat sampah, lalu dengan hati-hati menaruh alat itu kembali ke nampan peralatan asma, siap digunakan lagi lain kali jika dibutuhkan.

Soo Man membetulkan letak kacamata berbingkai logamnya dan mengangguk. “Sangat sehat. Kau perawat ajaib. Aku takkan pernah bisa membujuknya untuk meniup ke alat yang dia sebut “alat peledak” itu. Klinik asmamu benar-benar luar biasa.”

So Eun tersenyum singkat, tersipu atas pujian itu. “Itu cuma karena aku punya lebih banyak waktu darimu.”

Soo Man mendengus. “Tidak, bukan itu! Kadang-kadang aku menganggap kau orang yang paling sibuk di planet ini. Kau punya sentuhan khusus, itu saja kok,” ujarnya pelan, sementara sorot matanya tiba-tiba penuh rasa ingin tahu saat memandang So Eun. “Tetapi aku sebenarnya tidak ingin membicarakan Park Jae Min. Aku ingin bicara soal kau. Kau sudah bersama kami selama sebulan sekarang. Aku ingin tahu bagaimana keadaanmu.”

So Eun tersenyum penuh rasa terima kasih ke arahnya. “Aku baik-baik saja,” sahutnya pelan, hatinya tersentuh karena Soo Man cukup peduli sampai menanyakan hal itu.

“Baik?” Soo Man tersenyum penasaran dan berjalan melintasi ruangan untuk menatap ke luar jendela. “Kau tahu tidak, aku sudah lama memutuskan bahwa aku membenci kata itu?” ujarnya seraya terus mengamati. “Itu tidak menjelaskan apa pun tentang bagaimana perasaan seseorang yang sesungguhnya.”

So Eun memandanginya, bertanya-tanya apa lagi yang harus ia katakan.

Ia jelas-jelas tidak bisa menceritakan yang sebenarnya kepada Soo Man. Bahwa jauh di dalam dirinya ia terluka begitu parah sehingga nyaris membuatnya tak mampu bernapas. Bahwa ia kesepian, sedih, dan kadang-kadang rasa takut menghadapi masa depannya begitu intens sehingga nyaris membuatnya tercekik.

Ia merasa seperti itu sepanjang tahun, sejak –

Sembari mendesah So Eun mengenyahkan kenangan itu. Sudah sejak lama ia membuat peraturan bagi dirinya untuk tidak memikirkan masalahnya selagi bekerja, tetapi jika seorang mitra senior menanyakan keadaan dirinya, itu mungkin berarti ia tidak terlalu berhasil menyembunyikan perasaannya.

Atau mungkin ada hal lain yang penting…

Sekelebat rasa panik menerpa dirinya. “Ada yang tidak beres?” So Eun berusaha menduga-duga semua kemungkinan. “Aku tahu kau merasa aneh dan aku harus selesai bekerja pada jam tiga sore, tapi – “

“So Eun, So Eun – “ sela Soo Man lembut, lalu berjalan pelan menghampiri wanita itu seraya mengerutkan dahi. “Ayo kita luruskan satu hal dulu, oke? Dedikasimu pada klinik ini tak ternilai. Tak seorang pun dari kami yang peduli kalau kau harus selesai bekerja pada jam tiga sore. Aku takkan menanyakan keadaanmu sehubungan dengan masalah pekerjaan. Keingintahuanku seratus persen bersifat pribadi. Eun Ji mengkhawatirkanmu dan, sejujurnya, aku juga.”

Soo Man mengamati So Eun sekilas lalu bibirnya mengatup rapat. “Kau tampak kelelahan. Apa kau punya masalah susah tidur?”

So Eun membuka mulutnya untuk membantah tapi lalu menyadari itu akan sia-sia belaka. Demi Tuhan, pria itu dokter.

“Kadang-kadang,” elaknya, “tapi aku baik-baik saja, sungguh. Aku senang berada di sini.”

Itu benar – ia memang senang berada di sini. Pindah ke wilayah Gangwon yang indah ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya setelah sekian lama.

Mata Soo Man menyipit. “Kau tahu kan, aku bisa memberimu sesuatu untuk membantumu agar bisa tidur.”

“Tidak usah.” Ia menggeleng, merasa ngeri mendengar saran itu. “Terima kasih, tapi itu tidak perlu. Lebih baik tidak.”

Apa sih untungnya?

Kesedihan itu tetap mengganjal begitu ia terbangun.

Berharap bisa mengganti topik pembicaraan, So Eun mengangkat peralatan balut-membalut dan menyimpannya dengan rapi di lemari. “Omong-omong, peralatan balut-membalut keluaran terbaru yang kita pesan itu benar-benar hebat. Lebih sedikit yang terbuang dibanding keluaran lama. Lama-kelamaan penggunaannya akan menghemat cukup banyak uang.”

“So Eun, aku tidak peduli dengan peralatan balut-membalut itu!” Soo Man menyisirkan kedua tangannya ke rambut dengan frustasi. “Yah, tentu saja, aku peduli,” ralatnya buru-buru, “tapi bukan sekarang ini. Berhentilah bekerja dan duduklah, oke? Aku tidak bisa bicara padamu kalau kau mondar-mandir seperti ini.”

Pasrah pada kenyataan bahwa Soo Man takkan mengganti topik pembicaraan, So Eun menuruti permintaan itu.

“Bagaimana pendapatmu soal apartemenmu?”

“Luar biasa,” sahutnya seketika. “Aku tidak pernah tinggal di tempat yang seindah itu.”

Itu benar. Sesudah tinggal di sebuah apartemen sempit dan lembap di daerah pinggiran Seoul yang kumuh, sebuah apartemen yang luas dan sejuk dengan pemandangan mengarah ke pantai bagaikan mimpi menjadi kenyataan.

Soo Man membetulkan letak kacamatanya dan menatap So Eun. “Tapi kau tidak mau bertemu orang-orang.”

“Aku bertemu orang lewat pekerjaanku,” buru-buru So Eun membantah, dan Soo Man tersenyum muram.

“Bukan itu yang kumaksud.”

So Eun menekuri tangannya, bertanya-tanya mengapa semua orang berpendapat bahwa penyembuhan bagi hubungan yang rusak adalah dengan menjalin hubungan baru. “Aku tahu apa yang kau maksud dan percayalah waktu kubilang bahwa bertemu dengan kaum pria bukan menjadi prioritas utamaku saat ini.”

Dan ia tidak bisa membayangkan hal seperti itu akan terjadi.

Soo Man mengangguk pelan. “Aku tidak bisa mengerti mengapa kau merasa seperti itu, tapi beri dirimu waktu, So Eun, dan perasaanmu akan berbeda. Cepat atau lambat kau harus ke luar dan membangun kehidupan yang baru.”

Benarkah?

Caranya?

So Eun tidak punya pengalaman memulai suatu hubungan asmara. Ia sudah mengenal Jun Ho sejak ia berumur enam tahun dan selalu beranggapan suatu hari mereka akan menikah. Ia tidak pernah membayangkan bahwa cinta mereka takkan berlangsung selamanya.

Seluruh konsep tentang bertemu dan berkencan dengan pria – yang tak dikenal – benar-benar terasa asing baginya.

“Kuharap kau mau bergabung denganku dan Eun Ji untuk makan-makan kapan-kapan,” ujar Soo Man. “Kami senang berkumpul denganmu.”

So Eun tersenyum lembut. “Dr Lee, kau benar-benar sangat baik padaku sejak kita bertemu. Saat itu aku orang asing bagimu tapi kau memberiku pekerjaan parowaktu meski sebenarnya kau memerlukan perawat penuhwaktu, dan kau mengizinkanku tinggal di apartemenmu dengan gratis – “

“Kau juga sudah membantu kami, tinggal di tempat itu selama musim dingin. Pada waktu-waktu seperti ini tidak ada turis yang mau menginap,” sela Soo Man mengingatkannya, “jadi apartemen itu memang kosong.”

So Eun berkutat dengan pakaian seragamnya. “Maksudku kalian sudah amat sangat murah hati. Kalian tidak perlu memberiku makan juga.”

Soo Man mengerutkan dahinya. “Tapi kau benar-benar memasak untukmu sendiri setiap malam?”

“Oh, ya,” sahut So Eun cepat seraya bertanya-tanya apakah roti dan kimchi bisa dikategorikan sebagai masakan. Itu tidak penting. Ia sudah berutang banyak kepada keluarga Lee dan jelas-jelas tidak berniat memanfaatkan kemurahan hati mereka lebih banyak lagi daripada saat ini.

Soo Man mengamatinya dengan sorot menyesal. “Yah, kalau berubah pikiran, kau cuma perlu meminta. Omong-omong, aku mau mengingatkanmu bahwa putra bungsuku akan datang hari ini. Aku pernah menyebutkan dia akan bergabung dengan klinik ini kan?”

“Beberapa kali.” Lega karena Soo Man mengganti topik pembicaraan, So Eun mengaitkan sejumput rambut gelapnya ke belakang telinga sembari tersenyum dalam hati. Rasa bangga Soo Man pada putra bungsunya begitu jelas terlihat semua orang. “Aku tidak percaya ketiga putramu semuanya dokter.”

“Dan mereka semua menjadi pewaris klinikku!” Soo Man memasang tampang sedih tapi So Eun tahu itu cuma pura-pura. Keluarga Lee amat sangat akrab dibanding keluarga lain yang pernah ia kenal, dan meski belum lama bekerja pada mereka ia sudah melihat bahwa memiliki klinik keluarga benar-benar merupakan kesuksesan besar.  Byung Hun dan Sang Soon, dua putra Soo Man, yang menjadi atasannya dalam beberapa bulan terakhir ini, adalah sama-sama dokter yang terampil dan jelas-jelas saling menghormati. Tidak sedikit pun persaingan dan kepicikan yang bisa menodai reputasi klinik.

“Jadi kapan putra bungsumu secara resmi mulai berpraktik?”

“Begitu dia melangkahkan kakiknya melewati pintu,” sahut Soo Man dengan nada hambar. “Seperti yang kautahu, kami selalu bergerak cepat. Dia datang tepat pada awal musim flu tiba. Bagaimanapun, aku akan memperkenalkanmu begitu dia datang karena dia akan bekerja bersamamu. Apa yang kau lakukan pada jam makan siang? Apa kau masih di sini?”

So Eun ragu-ragu, tidak yakin apakah berterus terang atau tidak. “Sebenarnya, aku mau menemui Nam Min Ra,” akhirnya ia berkata, seperti biasa kejujuranlah yang menang. “Aku benar-benar mencemaskannya. Aku bertemu dengannya minggu lalu untuk membebat kakinya dan saat itu dia begitu pendiam. Orang-orang terus-menerus memberitahuku bahwa sejak Gil Jung meninggal sebulan lalu dia nyaris tidak pernah ke luar rumah.”

Itulah keuntungannya berada di dalam komunitas kecil, renung So Eun. Akan selalu ada seseorang memerhatikan jika kau sedang dalam masalah.

“Min Ra?” ekspresi Soo Man melembut meski sorot matanya menyiratkan kekhawatiran. “Kau baik sekali, tapi jangan terlibat terlalu jauh, So Eun. Kau tidak bisa memecahkan masalah semua orang.”

“Aku tahu itu,” sahut So Eun, matanya menyorotkan lembut. “Tapi dia sudah pasti tidak punya pasangan hidup lagi, jadi dia pasti merasa kehilangan dan kesepian…”

Dan So Eun tahu dengan sangat pasti seperti apa perasaan itu.

“Yah, beritahu aku bagaimana keadaannya,” ujar Soo Man sembari berjalan menuju pintu dan tersenyum ke arahnya. “Kau gadis yang baik, So Eun, dan kami beruntung memilikimu.”

Tidak sebesar keberuntunganku memiliki kalian.

So Eun mengawasi kepergian Soo Man, lalu menyambar mantelnya dan langsung berjalan melintasi area parkir, dengan lega memerhatikan bahwa seseorang telah menyebarkan kerikil halus ke permukaan area itu. Ide bagus, renungnya, dengan tubuh gemetar saat embusan udara dingin membuat pipi dan jemarinya kebas, karena kalau tidak semua pasienku akan tergelincir, terpeleset, dan patah tulang sebelum mereka sampai ke klinik.

Bahkan meskipun masih awal bulan udara sudah terasa menggigit, dan ia meniup-niupkan tangannya supaya hangat dan memaksakan perhatiannya kembali ke pekerjaan.

Apa yang akan ia lakukan terhadap Min Ra? Ia benar-benar mengkhawatirkan wanita lansia itu, mondar-mandir di rumah sebesar itu sendirian.

Masalah itu menggelayuti pikirannya saat So Eun mengemudi dengan hati-hati menyusuri jalanan sepanjang pantai, dan ia masih memikirkan hal itu ketika mendengar suara roda mencicit lantang yang diikuti benturan yang memekakkan telinga.

Apa-apaan….?

Secara spontan So Eun menginjak pedal rem, pelan-pelan memperlambat laju mobilnya saat mendekati tikungan jalan.

Ada kecelakaan.

Ia berbelok di tikungan, jantungnya berdetak cepat seraya bersiap-siap menghadapi apa yang akan ia lihat.

Jemarinya mencengkeram kemudi dan ia mulai gemetar ketika melihat rongsokan sebuah mobil yang sudah penyok menempel di sebuah pohon. Lalu ia melihat sepeda motor itu.

“Oh, tidak…”

Dengan jantung berdebar tak menentu, ia memarkir mobilnya di atas pembatas jalan dari rumput, menyalakan lampu hazard, lalu berlari melintasi pembatas jalan menuju rongsokan itu. Bagian depan mobil itu terkoyak parah, dan di sebelahnya tergeletak tumpukan logam ringsek yang tadinya adalah sebuah sepeda motor. So Eun gemetar melihat semua itu sembari mencari-cari sosok pengendaranya.

Di mana orang itu?

Ia menggumamkan pengingkaran saat akhirnya berhasil menemukan tubuh sang pengendara motor beberapa meter dari pembatas jalan berumput. Bagaimana orang itu bisa selamat?

Memandang dengan ketakutan pada tubuh pengendara motor yang terbujur diam, kepanikan yang So Eun rasakan membuat otaknya beku dan selama beberapa detik yang berharga ia berdiri mematung, tak mampu bergerak sedikit pun. Tetapi kemudian hawa dingin musim dingin berembus di balik mantelnya, membuatnya tersadar kembali.

Sesudah bunyi tabrakan yang mengerikan tadi suasana masih terkesan senyap dan hening, seolah ialah satu-satunya manusia yang tinggal di bumi.

Tetapi untung saja tidak seperti itu.

Suara sebuah mobil yang mendekat memecah kesunyian yang membekukan dan So Eun melambai-lambaikan kedua tangannya dengan panik saat mobil itu tampak membelok di tikungan.

Mobil itu melambat lalu berhenti, dan sepasang muda-mudi keluar dari mobil, berjalan dengan hati-hati menyusuri jalanan licin bersalju.

Begitu menyadari munculnya bahaya, So Eun menghampiri mereka, kakinya tergelincir di atas aspal yang membeku. “Mundurkan mobil kalian!”

Sang pemuda cuma bengong menatapnya sementara sang pemudi melotot ngeri melihat sepeda motor ringsek, tangannya membungkam mulutnya.

So Eun memberi isyarat ke arah jalanan. “Ini tikungan tajam,” ujarnya dengan nada mendesak, “dan jelas-jelas ada lapisan es tipis di aspal. Jika orang lain sampai membelok kemari dengan kecepatan tinggi pasti akan ada kecelakaan lagi. Mundurkan mobil kalian dan nyalakan lampu hazard sehingga orang lain bisa melihat kalian dan melambatkan laju kendaraan mereka.”

“Paham.” Sang pemuda tiba-tiba saja mengendalikan diri dan berbalik secepat kilat menuruti perintah So Eun.

Menyadari bahwa prioritas berikutnya adalah memanggil bantuan, So Eun mengeluarkan ponselnya dari saku dan meletakkan benda itu di tangan wanita muda itu.

“Kami membutuhkan bantuan secepatnya. Ambil napas dalam-dalam,” perintah So Eun tegas, berharap ia terdengar lebih menguasai keadaan daripada yang ia rasakan. “Aku perawat dan akan mengurus korban kecelakaan, tapi aku meminta kau menelepon ambulan. Kau bisa melakukan itu? Beritahu mereka lokasi kita dan katakan bahwa terjadi tabrakan antara sebuah mobil dan sebuah sepeda motor.”

Wanita muda itu mengangguk sembari membisu dan So Eun meremas bahunya.

“Bagus. Kalau begitu, cepatlah…”

Merasa sedikit lebih baik, setelah tahu pertolongan tak lama lagi akan datang, So Eun berlari kembali menuju mobil, berharap ia tak perlu bertahan di tempat ini sendirian untuk waktu yang lama.

Sekilas memandang ke arah mobil So Eun tahu bahwa di dalamnya hanya terdapat seorang pengemudi dan penumpang.

“Beritahu mereka ada dua orang di dalam mobil,” teriak So Eun lewat bahunya sembari berharap wanita muda itu sudah berhasil menghubungi jasa ambulans.

Meskipun semua pintu mobil itu macet akibat tabrakan, So Eun berhasil berteriak lewat jendela.

“Keluarkan kami! Keluarkan kami!” wanita di dalam mobil itu mencakar-cakar pintu mobil dengan panik sementara So Eun menoleh ke belakang ke arah sosok kaku pengendara motor seraya berusaha mengingat-ingat apa yang telah ia pelajari tentang prosedur pertolongan pertama. Yang pasti, pengendara motor itu merupakan prioritas utamanya. Kedua orang di dalam mobil tampaknya dalam keadaan sadar. Atau apakah pengendara motor itu tak bisa lagi diselamatkan? Apa pun keadaannya, So Eun harus menyelamatkan kedua orang yang terperangkap di dalam mobil itu.

Sembari mengerang panik ia berbalik ke arah dua orang di dalam mobil sembari menunjuk-nunjuk jendela atap, mengisyaratkan agar mereka mencoba membukanya. Kemudian ia kembali mengalihkan perhatian ke pengendara sepeda motor.

Ia harus memeriksa luka-luka orang itu. Seandainya orang itu mati, maka kedua orang di dalam mobil itulah yang menjadi prioritas utamanya, tetapi jika tidak…

Oh, Tuhan, kumohon, jangan biarkan dia mati.

Dengan jantung berdegup kencang, So Eun menginjakkan kakinya ke rumput membeku dan berlutut di sebelah tubuh si pengendara motor, berusaha meredam rasa panik yang meletup-letup di dalam dirinya. Sudah lama sekali ia tidak pernah melakukan pertolongan pertama, dan bahkan pada saat itu pun ia cuma melakukannya saat mengikuti pelatihan. Tetapi aku kan tahu semua prinsip dasarnya, ujarnya dalam hati. Prinsip ABC. Jalan udara atau jalan napas (Airway), pernapasan (Breathing), dan denyut nadi (Circulation).

Rasa dingin yang merambat dari tanah membuat lututnya kebas, tapi So Eun bahkan tidak memedulikan hal itu.

“Ambulans sedang dalam perjalanan kemari.” Pemuda itu sudah kembali berada di sebelahnya. “Sini, biar kubantu kau membuka helmnya.”

“Jangan!” seru So Eun seraya mengulurkan tangan berusaha menghentikan pemuda itu agar tidak menyentuh si pengendara sepeda motor. Tanpa sengaja, nada bicaranya terdengar sangat tajam. “Kau jangan sekali-kali membuka helm kecuali ada masalah dengan pernapasan. Helm itu menopang lehernya, jadi kalau kita melepasnya….”

Ia benar-benar tidak memenuhi syarat untuk menolong orang ini.

Demi Tuhan, ia cuma perawat klinik, bukan paramedis.

Airway – ia harus memeriksa jalan napas orang itu.

Ia mencodongkan tubuhnya lebih dekat ke tubuh pengendara motor, dan tepat pada saat itu sang pengendara motor mengerang dan menggumamkan sesuatu.

So Eun menghembuskan napas panjang. Orang itu bisa bicara. Pasti itu merupakan pertanda baik, ya kan?

“Halo? Bisakah kau memberitahuku di mana yang sakit?”

So Eun ngeri saat mendengar pertanyaannya sendiri. Tolol sekali ia melontarkan pertanyaan kepada seseorang yang baru saja terlempar dari sepeda motor. Mungkin saja seluruh tubuhnya sakit…

“Kaki.”

Kaki.

So Eun menelusurkan pandangannya ke sepanjang kaki pria itu dan melihat luka sobek mengerikan di balik bahan kulit dan banyak sekali darah yang mengumpul di situ. Ia melepas sarung tangan dan menghunjamkannya ke saku, lalu jemarinya menyibakkan bahan kulit itu sehingga bisa memeriksa luka itu dengan seksama.

Darah memuncrat ke luar.

“Oh, tidak!” Ia menekan kaki pria itu kuat-kuat dan menoleh ke pemuda di sebelahnya, menyadari wajah orang itu mulai sedikit memucat. Ia juga merasa mual. Ia sama sekali belum pernah melihat luka sobek separah ini. Meski dengan perlindungan celana kulit, paha pria itu robek parah, mungkin akibat ia terlempar melewati aspal. “Kau harus ke mobilku, cepat. Ambilkan tas di kursi belakang.”

“Dan jangan coba-coba pingsan,” gumamnya sembari mengawasi pemuda itu pergi.

Sang pengendara motor mengerang lagi dan berusaha bergerak.

“Tolong jangan bergerak,” ujar So Eun dengan nada mendesak, berharap ia bisa menggenggam tangan pria itu untuk menenangkannya. Sayang sekali kedua tangannya sibuk membendung keluarnya banyak darah yang bisa membuat sang pengendara motor mati. “Kau akan baik-baik saja. Aku perawat dan ambulans sedang dalam perjalanan kemari. Semuanya akan baik-baik….”

Ia mengucapkan kata-kata itu untuk menenangkan dirinya juga, dan sekilas merenungkan kata-kata konyol yang biasa diucapkan orang saat mereka berusaha saling menghibur.

Semua ini sangat jauh dari baik-baik saja.

“Ini tasmu.” Pemuda itu sudah kembali ke sebelahnya, memandangnya dengan penuh harap.

So Eun nyaris terbahak-bahak. Apa bocah itu berharap tasnya berisi bubuk ajaib?

Merasa tertekan saat menyadari semua orang bergantung padanya, So Eun menoleh lewat bahunya ke arah jalan, berdoa sepenuh hati bahwa ambulans akan tiba secepatnya, tetapi tidak ada apa-apa yang terjadi kecuali kebisuan musim dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.

Yang berarti hidup sang pengendara motor itu bergantung padanya dan isi tas perawatnya yang sangat terbatas.

So Eun memandang tangannya yang licin berlumuran darah pria itu. Mustahil untuk menarik tangannya dari luka itu.

“Di dalam kantong samping tas itu ada beberapa pembalut steril,” perintahnya seraya memperhatikan bahwa di balik helmnya pria yang terluka parah itu semakin pucat. Dia kehilangan banyak darah dan membutuhkan cairan dengan segera.

Tapi So Eun tidak punya apa-apa – apa lagi yang bisa ia lakukan?

Mengangkat bagian yang terluka yang mengeluarkan darah itu – tapi dengan apa?

Ia sama sekali belum pernah berada di dalam situasi semacam ini. Dan membutuhkan lebih dari sekadar pembalut steril.

Di mana sih ambulans itu?

Dengan jantung masih berdebar kencang, So Eun merenggut pembalut steril dari tangan pemuda itu dan menekannya di atas luka sang pengendara motor.

“Di situ pasti ada perban juga,” gumamnya. Ia harus membendung pendarah itu sekaligus mengawasi dengan seksama dua orang yang terperangkap di dalam mobil.

“Kau perlu bantuan?”

Sebuah suara yang dalam dari balik punggung So Eun membuatnya menoleh ke belakang, mengerjap saat melihat aura maskulin liar seorang pria yang berdiri di depannya. Setelan kulit hitam mencetak rangka bahu bidang berotot dan kaki jenjang yang kokoh. Seorang pengendara motor lagi?

Pria itu menarik lepas helmnya, memperlihatkan rambut gelap dan sepasang mata teduh yang menganalisis situasi dalam sekejap. Pria itu lalu duduk dengan bertumpu pada satu lutut dan wajahnya berada cukup dekat dengan So Eun sehingga ia bisa melihat bakal janggut gelap membayangi sepanjang rahang keras pria itu. Pria itu jelas-jelas belum sempat bercukur. So Eun heran akan jalan pikirannya dan berusaha menyadarkan diri. Hidup seseorang sedang dalam bahaya tapi ia malah bertanya-tanya kapan pria itu terakhir bercukur?

Apa ia benar-benar sudah sinting?

Pasti ini gara-gara shock.

“Apa kau melihat kejadiannya?” Nada tajam pria itu membuat So Eun langsung terseret kembali ke masa kini dan ia menggeleng.

“Tidak. Tetapi dari kerusakan di bagian depan mobil bisa kutebak kalau mobil itu telah menabrak pengendara motor itu.” Ia berusaha menghentikan gemerutuk giginya. “Jalannya memang sangat licin.”

Mata yang teduh itu mengalihkan pandangan ke mobil, mimik pria itu tampak serius. “Ada berapa orang di mobil?”

“Dua.”

“Apa kau sudah memeriksa mereka?”

“Sekilas.” So Eun menanggapi tanpa mempertanyakan perintah penuh wibawa pria itu. “Mereka berdua berteriak dan menjerit sehingga kupikir orang ini sepertinya lebih mendesak untuk ditolong.”

Ya Tuhan, ia berharap telah melakukan hal yang benar. Ingatannya akan prosedur pertolongan pertama sudah mulai berkarat. Bagaimana jika orang-orang di dalam mobil itu mati gara-gara dirinya?

Tetapi si pengendara motor ini sudah pasti mati jika ia mengangkat tangannya.

So Eun menelan ludah. “Orang ini menderita luka sobek parah di pahanya dan pendarahan berasal dari pembuluh arterinya. Oh Tuhan, lihat…” Ia memandang tak berdaya ke arah perban di bawah jemarinya, yang sekarang sudah mulai basah kuyup penuh darah. “Apa yang harus kita lakukan?”

“Kau terus saja menahan lukanya sementara aku mengangkat kaki itu…” Pria itu lalu menjejalkan sesuatu di bawah kaki yang terluka dan sekilas memeriksa pemuda itu dengan keterampilan dan rasa percaya diri yang membuat So Eun sangat yakin akan profesi pria itu.

“Kau dokter,” gumam So Eun dengan lega, dan pria itu tersenyum singkat.

“Benar sekali.” Tatapan pria itu kembali tertuju kepada orang yang terluka. “Si Bung ini perlu cairan secepatnya. Sudah berapa lama kau tadi menelepon ambulans?”

So Eun menggigit bibirnya. “Sekitar lima menit? Kami tadi langsung menelepon.”

“Mereka harus mengirim helikopter,” gumam pria itu sembari sedikit beringsut. “Bagaimana kalau kau periksa lagi orang yang di dalam mobil itu?” Dia mendongak ke arah pemuda yang masih berdiri menunggu di dekat mereka. “Kau bisa menggantikan tugasnya dan menahan luka itu? Itu bisa membuat kami berdua bebas memeriksa yang lain.”

So Eun membuka mulut untuk memberitahu bahwa pemuda itu tadi sudah langsung pucat pasi melihat darah, tetapi sang dokter sudah sibuk mendemonstrasikan pertolongan pertama pada pendarahan pembuluh arteri, dengan nada yang terkesan lugas dan apa adanya saat berbicara. Sikap tenang penuh rasa percaya diri sepertinya memberi pengaruh positif terhadap pemuda itu yang langsung mengangguk setuju dan bersiap menggantikan So Eun.

Lega karena seseorang yang jelas-jelas paham apa yang harus dia lakukan sekarang memegang kendali, So Eun berganti tempat dengan pemuda itu dan memandang muram ke tangannya.

“Ada botol air minum di sepeda motorku.” Sang dokter itu memperhatikan situasi sulit yang dialaminya dan So Eun tersenyum penuh rasa terima kasih.

Sejurus kemudian ia sudah membersihkan tangannya sebisa mungkin dan mulai memeriksa orang yang terperangkap di dalam mobil.

Penumpang wanita sudah berhasil memanjat melewati jendela atap dan sedang duduk di pembatas jalan dari rumput, tampak darah menetes dari luka di kening. Mempertimbangkan bahwa wanita itu jelas-jelas tidak dalam kondisi berbahaya, So Eun mengalihkan perhatiannya ke sang pengemudi.

Sesudah berusaha menarik pintu tanpa hasil, ia memanjat kap mobil dan berbicara dengan sang pengemudi lewat jendela atap.

“Bisa kau beritahu di mana yang sakit?”

Pengemudi itu mengerang, wajahnya tampak seputih kapas. “Kakiku.”

So Eun melompat turun ke pijakan kaki, tetapi logam yang bengkok menghalanginya untuk melihat dengan lebih jelas. “Bisakah kau menggoyang-goyang jari kakimu? Ya atau tidak?”

“Ya.”

Yah, itu berita baik, tetapi masih ada risiko tulang punggung pria itu patah.

“Bagaimana situasi di sini?” Sang dokter tiba-tiba saja sudah berada di sebelah So Eun, tatapannya tampak tenang dan penuh penilaian saat memandangnya. Bagaimana pria itu bisa begitu tenang menghadapi situasi seperti ini? Sementara sekujur tubuh So Eun seolah melilit.

“Kakinya terjepit, tapi dia masih bisa merasakan,” ujar So Eun memberitahu sang dokter seraya merosot turun dari kap mobil dan buru-buru merapikan pakaiannya. “Tetapi aku mencemaskan lehernya sementara aku tidak bisa membuka pintu mobil ini. Penumpang wanita tadi memanjat ke luar lewat jendela atap.”

“Kalau begitu, kita urus dulu dia,” gumam sang dokter, mencengkeram kuat-kuat pegangan pintu sembari menghimpun tenaga dengan bahunya yang bidang. “Coba kita lihat apa yang bisa kita lakukan dengan pintu ini, oke?”

Dengan kaki berpijak pada bodi mobil untuk memberinya daya ungkit ekstra, pria itu menyentak kuat pintu yang lalu berderak terbuka dengan perlahan. Seraya memperhatikan tonjolan otot di balik baju kulit pria itu, So Eun bertanya-tanya bagaimana ia bisa mengatasi semua ini seandainya pria itu tidak muncul. Ia sama sekali tidak mungkin bisa membuka pintu mobil itu.

Sesudah membereskan masalah pintu mobil, sang dokter berlutut dengan satu lututnya di sebelah pria yang terluka, melontarkan beberapa pertanyaan, lalu berdiri kembali.

So Eun mengawasinya dengan gelisah. “Ap – apa yang kau ingin aku lakukan? Apa kita harus mengeluarkannya?”

“Tidak mungkin.” Sang dokter menggeleng yakin. “Kita tidak boleh menggerakkan tulang punggungnya. Kita akan membiarkannya di situ sampai ambulans datang lalu kita bisa menggunakan penyangga tulang belakang.”

Dengan tatapan tertuju ke arah mobil So Eun merendahkan suaranya, “Bagaimana kalau mobilnya terbakar?”

Mata pria itu berbinar geli sejenak. “Kau terlalu sering menonton film. Tentu saja, itu bisa terjadi, tapi sangat jarang, dan dalam situasi ini mobil itu sepertinya baik-baik saja. Kita tetap mengawasinya tapi aku tidak ingin memindahkan orang itu sebelum punya sesuatu yang bisa menopang lehernya. Itu satu-satunya bagian tubuhnya yang benar-benar membuatku khawatir.”

So Eun bertanya-tanya seperti apa rasanya memiliki rasa percaya diri sebesar itu. Pria itu tampak sama sekali tidak senewen berada di tengah kondisi darurat yang sedang mereka hadapi. Dia cuma menganalisis setiap masalah yang muncul dan membereskannya.

Sang dokter menarik sedikit lengan jaketnya dan melihat arlojinya. “Oke – yah, kita sudah melakukan hampir semua yang bisa kita lakukan dengan peralatan seadanya. Yang kita butuhkan sekarang adalah ambulans.”

Mengamati bibir pria itu yang terkatup kuat-kuat, So Eun sedikit bergidik dan memutuskan dirinya takkan pernah mau berada di pihak yang menentang pria itu. Tidak bisa dipungkiri pria itu luar biasa tampan, meski ada sesuatu yang menakutkan yang tersirat di bahu berototnya yang bidang dan rahang gelapnya yang memberi kesan kejam.

Lalu kedua orang itu mendengar deru helikopter mendekat, sang dokter menatap So Eun sekilas sembari mengedip dan tersenyum yang membuat perasaan So Eun jungkir-balik. Pria itu memiliki senyum paling seksi yang pernah ia lihat dan tiba-tiba saja irama napasnya mulai terganggu. Saat tersenyum seperti itu keseluruhan penampilan sang dokter tampak melembut dan tidak lagi terkesan keras dan liar. Cuma tampan, titik.

So Eun melengos, bingung akan reaksinya terhadap pria itu. Ia tidak bisa ingat kapan terakhir kali ia memperhatikan ada pria yang tampan.

Mungkin itu pertanda baik.

Mungkin perlahan-lahan ia mulai sembuh dari segala peristiwa yang pernah ia alami.

Jemari yang kokoh mencengkeram lengannya dan menggenggamnya dengan kuat. “Mundur dan menjauhlah saat mereka mendarat.”

So Eun menuruti perintah itu, secara refleks merespon nada berwibawa pria itu. Ia sama sekali tidak berniat membantahnya. Sepanjang yang ia ketahui tidak pernah ada pertanyaan tentang siapa yang memegang kendali sejak pria itu turun dari sepeda motornya.

So Eun memperhatikan dengan kagum saat helikopter itu menderu di atas mereka dan pilot mendaratkan benda itu dengan keterampilan yang menakjubkan. Tentu saja, ia pernah mendengar tentang ambulans terbang, tetapi ini adalah kali pertama ia benar-benar melihat benda itu beraksi.

Dua paramedis berlari dari helikopter dan salah satu dari mereka menyeringai kaget begitu melihat sang dokter.

“Sang Yoon? Kupikir kami sudah mengusirmu, Sobat!”

“Kupikir juga begitu,” sahut sang dokter hambar, “tetapi yang di atas jelas-jelas punya pendapat yang berbeda. Si pengendara motor itu perlu diinfus segera, Choi Daniel. Ayo cepat beri dia cairan infus. Ingat cairan itu harus dihangatkan dulu, kalau tidak kita bisa membunuhnya. Lalu tolong ambilkan masker oksigen karena dia perlu oksigen 90 persen. Sebaiknya kau memperingatkan yang lain untuk menyiapkan tiga kantong darah golongan O Rh-negatif di instalasi gawat darurat karena dia akan membutuhkan banyak darah. Dia prioritas utama kita. Kita harus mengevakuasinya sebelum orang-orang yang ada di dalam mobil.”

Paramedis yang bernama Choi Daniel tadi mengangguk. “Ambulans sedang dalam perjalanan – diperkirakan tiba dalam tiga menit. Mereka bisa mengangkut orang-orang yang berada di mobil itu.”

“Hebat. Kalau begitu, ayo mulai kerja.”

So Eun berdiri di sebelah sang dokter, beranggapan bahwa jika paramedis itu membutuhkan bantuannya dia pasti meminta. Paramedis itu menyebutkan secara urut beberapa instruksi lain lalu berjalan menjauh menangani sang pengendara motor sementara seorang paramedis lain berlari menghampiri So Eun.

“Bagaimana kondisi orang di dalam mobil itu?”

“Lehernya, atau sedikitnya itulah yang dia – Sang Yoon.” So Eun tergagap menyebutkan nama itu, “yang Sang Yoon khawatirkan. Menurutnya leher orang itu harus disangga sebelum dia dipindahkan.”

Paramedis itu mengangguk. “Kalau begitu ayo kita lakukan. Aku tahu Sang Yoon tidak pernah salah.”

Jadi rasa percaya diri itu memang terbukti benar.

So Eun melirik sekilas ke arah sang dokter, yang sekarang berlutut di sebelah sang pengendara motor sembari meremas kantong infuse agar cairan di dalamnya bisa mengalir ke tubuh korban. “Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa begitu tenang. Aku tadi benar-benar panik sebelum dia muncul.”

Paramedis itu menyunggingkan senyum simpati ke arahnya. “Jadi sekali tebak aku bisa bilang bukan kau yang dokter gawat darurat, melainkan dia.”

Dokter gawat darurat? Yah, itu bisa menjelaskan tentang rasa percaya diri yang tak tergoyahkan.

“Jadi itu sebabnya dia tidak senewen.”

Paramedis itu tertawa pendek saat menyerahkan peralatan. “Jujur saja, aku belum pernah lihat di senewen gara-gara apa pun, tetapi memang ada tipe orang yang seperti itu, ya kan? Kami biasa memanggilnya Sang Yoon Cool. Satu hal yang pasti, seandainya aku mengalami kecelakaan dan melihatnya berdiri di dekatku, aku tahu aku akan baik-baik saja. Kalau kau tanya pendapatku, dia dokter yang brilian sekaligus kerugian besar.”

“Kerugian?” So Eun dengan penuh memegang peralatan yang paramedis itu berikan dan menunggu instruksi.

“Yeah. Dia pernah bekerja bersama kami sampai dua minggu lalu. Kemudian dia pergi mencari peruntungan yang lebih baik. Sangat disayangkan. Dokter gawat darurat terbaik yang pernah kutemui.”

“Kalau begitu kenapa dia pergi?”

Paramedis itu cuma mengangkat bahu. “Dia ingin berganti suasana. Kurasa, sudah bosan karena terlalu sering diberitakan di Koran. Omong-omong, ayo kita keluarkan orang ini.”

Diberitakan di Koran?

Mengapa seorang dokter sampai selalu diberitakan di Koran?

So Eun memandang lekat-lekat paramedis itu yang menyeringai ramah ke arahnya dan berjalan kembali ke mobil.

Di belakangnya terdengar deru helikopter yang mengudara kembali, dan So Eun menyadari sang pengendara motor sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Ia membelalak saat menyadari betapa cepat kerja mereka tadi.

Sang Yoon berlari kecil kembali ke mobil dan membantu sang paramedis memasang penyangga pada pengemudi mobil sementara So Eun mengecek sang penumpang wanita.

Ambulans dan mobil pemadam kebakaran tiba, dan mendadak banyak orang di mana-mana. Dalam sekejap sang pengemudi mobil itu pun terbebas dari impitan dan sekarang dia bersama temannya berada dalam perjalanan ke rumah sakit.

Tiba-tiba saja So Eun mendapati dirinya sendirian bersama dokter itu.

“Yah, kejadian tadi membuat waktu makan siang jadi menyenangkan,” ujar Sang Yoon dengan nada bicara lambat sementara mereka mengawasi ambulans yang melaju menjauh dengan sirine meraung.

So Eun tersenyum muram dan menyibakkan sejumput lebat rambut gelap yang menutupi matanya dengan jemari yang gemetar. Sekarang setelah semuanya sudah berlalu ia mulai merasa agak mual.

Sebenarnya, ia merasa pusing.

Pria itu pasti telah memperhatikannya karena tiba-tiba saja dia mengerutkan dahi. “Kau baik-baik saja? Sialan, kau pucat sekali. Cepat duduk – nah, begitu. Tundukkan kepalamu dalam-dalam.”

Sang Yoon membimbing So Eun duduk di tepi jalan berumput dan menekukkan kepalanya agar berada di antara lutut dengan sebelah tangan yang kokoh. So Eun menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan menunggu sampai perasaan melayang itu hilang.

“Maaf.” So Eun mengangkat kepalanya dan tersenyum malu. “Aku tidak – “

“Tidak usah mencemaskan hal itu,” potong Sang Yoon lembut, sementara tangannya masih berlama-lama di tengkuk So Eun. “Itu pasti gara-gara shock. Kau baik-baik saja saat peristiwa itu terjadi, tapi ketika krisis sudah lewat rasa panik itu malah menyergapmu. Itu terjadi pada siapa saja.”

So Eun bersedia bertaruh bahwa itu tidak pernah terjadi pada Sang Yoon, tapi ia berterima kasih karena pria itu telah berusaha membuatnya lebih baik.

So Eun tersenyum gemetar ke arahnya, lega pria itu tadi telah memaksanya duduk. Ia tahu kakinya tidak mampu menopang tubuhnya.

“Aku tidak terbiasa menangani kecelakaan di jalan,” aku So Eun, embusan napasnya menciptakan kepulan di udara yang dingin. “Aku tadi merasa benar-benar tak berdaya. Semoga saja aku tidak melakukan kesalahan. Aku tidak pernah sepanik ini sepanjang hidupku. Aku tidak tahu siapa yang lebih dulu harus kutangani, dan pengetahuan P3K-ku masih sangat – “

“Kau melakukannya dengan sangat baik,” timpal Sang Yoon lembut, sementara matanya menyorot tajam saat menatap wajah So Eun.

Merasa jengah dan tidak nyaman di bawah tatapan tajam pria itu, So Eun menunduk dalam-dalam hingga rambut gelapnya jatuh menutupi wajah. “Yah, aku cuma seorang perawat,” gumam So Eun, dan Sang Yoon menyentakkan kepalanya ke belakang seraya tertawa. Suara tawa maskulin renyah yang membuat perut So Eun bergolak.

“Aku sudah curiga dari bayangan seragam di balik mantelmu dan persediaan pembalut steril yang tak habis-habisnya.” Sang Yoon pun terkekeh, matanya berkilat jahil. “Itu, atau kau ini seorang stripogram – kurir pembawa pesan yang sekaligus melakukan pertunjukan erotis sembari menari atau menyanyi. Tapi menurutku sih, sekarang pun masih terlalu dini.”

So Eun tersenyum ragu, tidak terbiasa bersenda gurau dengan pria tak dikenal, tetapi senyum pria itu terkesan hangat dan antusias sehingga ia mulai merasa rileks.

“Aku benar-benar senang kau turut membantu,” aku So Eun. “Ini benar-benar hari keberuntunganku.”

Senyum Sang Yoon langsung lenyap dan tatapannya tiba-tiba terkesan intens dan mengusik. “Aku mulai berpendapat ini hari keberuntunganku juga,” sahutnya pelan, dan So Eun merasa pipinya menghangat.

Apa pria ini sedang menggodaku?

Sudah lama sekali tidak ada pria yang menggodanya sehingga ia tidak tahu bagaimana harus menanggapi hal itu, lalu dengan sempoyongan ia bangkit, merasa kikuk dan, konyolnya, malu-malu.

“Sebaiknya aku pergi.”

Ia memang harus pergi. Ia harus menghindar dari cara pria itu memandangnya.

Sang Yoon juga berdiri dengan keluwesan dan keanggunan hewan pemangsa di hutan, lalu berjalan berdampingan dengan So Eun kembali ke mobilnya, dan berhenti sejenak untuk menyambar helm yang tadi dibuangnya begitu saja di tengah jalan. Satu lirikan sekilas menegaskan betapa amat sangat tampannya pria itu, dan So Eun nyaris menertawakan dirinya sendiri.

Wanita lain pasti akan memanfaatkan situasi ini dan berusaha melakukan obrolan cerdas. Tapi berhadapan dengan aura maskulin liar seperti ini, satu-satunya hal yang So Eun inginkan adalah berlari menjauh.

Pria itu berhenti di dekat mobil sementara tatapannya tertuju ke wajah So Eun. “Kau tahu tidak, kau seharusnya tidak perlu cemas. Kau tadi telah melakukan hal yang luar biasa.” Suaranya terdengar dalam dan terpelajar. “Dan kau tadi tidak melepas helmnya, hal yang mungkin dilakukan sebagian besar orang. Kau perawat di bidang apa?”

So Eun merasa canggung dan wajahnya merona, berpendapat suara pria itu sesuai dengan wajahnya. “Cuma perawat klinik.”

“Cuma?” Alis gelap pria itu mencuat dan sudut-sudut bibirnya sedikit terangkat. “Pasti itu klinik yang cukup beruntung jika keahlian yang barusan kautunjukkan adalah tolak ukurnya.”

“Aku – yah, trims…” So Eun belum pernah merasakan lidahnya kelu sepanjang hidupnya. Rasanya baik-baik saja ketika mereka bekerja bersama tadi, tapi sekarang ia tiba-tiba menyadari bahwa mereka sendirian dan cara pria itu memandangnya membuatnya gugup. Bukan seperti cara seorang dokter yang mengawasi rekan kerja tapi seperti pria dewasa yang memandangi wanita dewasa. Dan dia benar-benar pria yang…

Pujian santai pria itu membuat So Eun merasa canggung dan salah tingkah, sementara kuatnya reaksi perasaannya sendiri terhadap pria itu membuatnya shock.

Jun Ho pernah menjadi pacar pertama dan satu-satunya bagi So Eun. Tapi ia tidak ingat saat pria itu terkesan menggetarkan hati. Sangat jauh dari itu. Dilihat dari segala segi Jun Ho selalu merupakan bocah laki-laki yang tumbuh dewasa bersamanya. Terkesan familiar dan nyaman.

Tapi tak ada kesan familiar dan nyaman pada sosok pria yang saat ini sedang mengamatinya. Sama sekali jauh dari kesan bocah. Setiap jengkal sosok Sang Yoon adalah pria dewasa, pembawaan arogan dan cara dia mengamatinya dengan penuh rasa percaya diri membuat sekujur tubuh So Eun meremang.

Menangkap kilat jahil di mata yang menggoda dan seksi itu, So Eun langsung tahu bahwa sang dokter sangat menyadari pengaruhnya yang besar terhadap So Eun.

“Aku akan menunggu di sini sampai polisi datang,” saran Sang Yoon sembari mengepit helm di satu lengannya dan memandang So Eun lekat-lekat. “Mungkin kau harus memberikan data-data dirimu kalau kau berniat segera pergi.”

So Eun membelalak dan jantungnya seakan melompat ke mulut. “Kenapa?”

Perlahan pria itu tersenyum malas-malasan. “Supaya aku bisa menelepon dan mengganggumu, tentu saja.”

“Oh…” Keterusterangan Sang Yoon membuat So Eun terpana dan seringai pria itu pun melebar.

“Kemungkinan lainnya, aku bisa memberikan informasi itu kepada polisi yang pasti minta keterangan.”

Salah tingkah, So Eun mengangkat sebelah tangannya dan menyingkirkan rambut gelap yang menutupi matanya. “Polisi…”

Sejenak tadi So Eun benar-benar mengira pria itu mengajaknya berkencan.

Pria itu sekarang menertawakannya, meski ada kehangatan dan sesuatu yang lain di sorot matanya.

“Kau seperti baru berumur empat belas bila wajahmu merona.”

So Eun memang merasa seperti baru berumur empat belas tahun.

“Jadi ayolah, Cantik,” ujar Sang Yoon enteng, “beritahu saja semuanya. Nama, pekerjaan, dan nomor KTP.”

Cantik?

Tak seorang pun pernah memanggilku cantik sebelum ini.

“Dengar, itu mudah. Tiru saja aku.” Pria itu melipat kedua tangan di dadanya yang bidang, sorot matanya menggoda lembut. “Aku Sang Yoon. Umurku tiga puluh tiga tahun. Aku lajang dan cita-citaku saat dewasa ingin menjadi dokter. Aku suka pada manusia, hewan, dan yang paling kuinginkan adalah kedamaian dunia. Nah. Seberapa susahnya sih itu? Sekarang giliranmu.”

Hai, namaku So Eun dan aku pernah menikah, tapi sudah tidak lagi karena suamiku seorang pengkhianat dan telah menyakiti hatiku.

Mungkin tidak.

“Ayolah, kita saling memperkenalkan diri.” Pria itu berbicara dengan nada membujuk sembari mengulurkan tangannya. So Eun cuma memandangi tangan itu sejenak, lalu menyambut uluran tangan itu, dan seketika menyesali sikap spontannya begitu jemari hangat dan kuat pria itu menggenggam tangannya. Genggaman Sang Yoon terkesan penuh percaya diri dan mantap seperti halnya kepribadian pria itu sendiri, dan sekilas rasa panik menerpa So Eun. Ia tidak bisa memberitahukan namanya. Mengakui bahwa pria itu sangat luar biasa tampan adalah satu hal, tapi memberitahukan nama dan nomor telepon adalah hal yang sama sekali berbeda. Itu mungkin akan mengarah ke sesuatu yang tidak siap ia atasi.

Ia mungkin tidak memiliki banyak pengalaman dengan kaum pria sepanjang hidupnya, tapi sekilas ia bisa melihat bahwa pria itu jauh di luar jangkauannya.

Seraya menyentak lepas tangannya, So Eun membungkuk untuk memungut tasnya.

“Sebaiknya aku pergi. Waktu terjadi kecelakaan adalah pukul 12.30. Cuma itu yang aku ketahui. Aku sama sekali tidak melihat kejadiannya. Sama sekali tidak. Jadi aku takkan ada gunanya buat polisi.” Sembari meracau karena terburu-buru ingin menjauh dari pria itu, So Eun merogoh-rogoh kantongnya mencari kunci mobil, tetapi jemari kokoh pria itu mencengkeram lengannya, memerangkapnya.

“Tenang saja.” Nada bicara pria itu amat sangat lembut. “Mengapa kau melarikan diri dariku?”

So Eun terkesiap. “Aku tidak melarikan diri.”

“Bohong.”

“ – aku akan terlambat,” ujar So Eun tergagap, akhirnya ia bisa menemukan kunci sekaligus membebaskan diri dari cengkeraman pria itu.

Sang Yoon mengulurkan tangan dan mengambil kunci dari So Eun, membukakan pintu mobil baginya sehingga So Eun bisa menyelinap masuk.

“Jadi kenapa harus ada rahasia?”

So Eun sekilas memandang pria itu dengan was-was. “Rahasia?”

Senyum tipis tersungging di bibir pria itu. Senyum seksi yang membuat jantung So Eun berhenti berdetak dan napasnya tercekat.

“Teruskan, beri aku petunjuk.” Suara Sang Yoon menggelitik syaraf So Eun. “Cuma huruf pertama? E seperti pada Eun Jung? S seperti pada Sa Eun?”

“S seperti pada So Eun.” Begitu ucapan itu terlontar ingin rasanya So Eun mengigit lidahnya sampai putus. Ia sama sekali tidak bermaksud memberitahu Sang Yoon, tapi cara pria itu memandangnya membuatnya merasa – memabuatnya merasa….

“So Eun…” Sang Yoon mengulang nama itu dengan pelan dan hati-hati, bahkan tidak berpura-pura menyembunyikan rasa ketertarikannya yang blak-blakkan terhadap So Eun. Pria itu menginginkannya dan tidak takut menunjukkan perasaannya.

Selama sesaat So Eun bertanya-tanya seperti apa rasanya berkencan dengan pria seperti Sang Yoon, tapi lalu buru-buru mengenyahkan pikiran itu. Pasti mengerikan. Sama sekali tidak ada kesan aman atau jinak pada diri Sang Yoon. Dia jelas-jelas tipe pria pemarah dan So Eun sama sekali tidak punya pengalaman bersama pria seperti itu. Daya tarik di antara mereka begitu kuat sehingga udara dingin di sekitar mereka terasa hangat.

“Boleh aku minta kunciku?” So Eun mengulurkan sebelah tangannya, pipinya memanas ketika Sang Yoon memandangnya lekat-lekat selama beberapa detik sebelum dengan perlahan menyerahkan kunci itu kepadanya.

“Dengar…” Sang Yoon ragu-ragu, jelas-jelas berusaha mencari kata-kata yang tepat. “Aku tahu aku telah membuatmu gugup, dan aku tahu ini memang bukan tempat yang layak untuk bertemu, tapi aku benar-benar ingin bertemu denganmu lagi.”

So Eun merasa seolah seseorang mencekik lehernya sampai ia tidak bisa bernapas. “Aku tidak bisa.”

“Mengapa tidak?” Sang Yoon mengedikkan bahu bidangnya. “Apa kau tidak percaya cinta pada pandangan pertama?”

So Eun memandang pria itu seraya menyunggingkan senyum yang sarat kesedihan dan kepedihan yang ia rasakan selama setahun belakangan ini.

“Aku sama sekali tidak percaya pada cinta,” sahutnya pelan, sembari menyalakan mesin dan mulai mengemudi menjauhi Sang Yoon sebelum hormonnya membuat ia melakukan sesuatu yang ia tahu akan ia sesali.

tbcsmall

NB: Saya hanya ingin memberitahukan bahwa FF yang diremake novel ini memang bukan penulisan saya, atau karakter saya. Karena saya tidak menciptakan ide cerita ini, hanya mengubah nama dan tempat dari novel terjemahan tersebut. Jadi kalo ada yang merasa kurang paham dengan bahasanya maupun yang lain itu karena bahasa di novel memang agak tinggi, jadi dibaca baik-baik ya ^^

17 responses to “The Seduction Challenge [Part 1]

  1. Kim Ra rA November 15, 2014 pukul 5:10 am

    Aisssss aku benar benar terjebak dalam Wp ini. ceritanya SUKAAAAAA banget. mungkin akan baca sekali lagi… Novelnya Keren Keren.
    sang yoon dengan Perawakannya yang Cowo banget serasa pas banget dengan karakternya. gak sabar buat part 2 nya.

  2. satsuki November 15, 2014 pukul 5:22 am

    eonniii,
    ini FF keren banget. makasih uda di post
    pairing baru, fresh.
    penasaran kapan sso bisa membuka hati buat sang yoon?
    yang pasti ditunggu ya part selanjutnya eon.

  3. kristienuuna November 15, 2014 pukul 8:23 am

    uwaaahh.. remake baru..
    dan aku suka..
    cerita na bener2 menarik..
    jadi Sso itu janda..
    gpp masi walaau janda tapi tetep cantik kug..
    hahahahahaa..😀
    d tunggu part 2 ana Retno..^^

  4. Nuneo Nuna November 15, 2014 pukul 9:28 am

    Yessss akhirnya ada jg yg bikin copel yoonSso🙂 wahhhh sukaaaaaa pke bngttt retno*hug* hahahaa…
    cieee cieeee sang yoon jatuh cinta pda pandangan prtama *uhuk kselek biji duren* hahaha……
    Astogeeeh ngk nyangka so eun udh nikah dan
    Suaminya tu junho…
    tp knpa junho ninggalin so eun??????
    Hayooooo moga ajah sang yoon tu anak soo man yar mreka brtemu lagi dklinik dan melanjutkan yg trtunda wkwkkwkwk……
    dtunggu retno part slanjutnya figthing^^

  5. dara November 15, 2014 pukul 9:28 am

    Ada cinta pada pandangam pertama…tapi sayang sso terlalu takut untuk mengakuinya, padahal sang yoon udh ngasih lampu hijau. Masa lalu sso yg kelam membuatny terluka terlalu dlm.
    Sang yoon keren bgt..

  6. gg November 15, 2014 pukul 12:13 pm

    kakakkkkkk thank youuuu uda post ff couple ini. ngefans bgt ama mreka. hihihiiiii
    gak bs bayangin kalo yg jadi perayu nya LSY heheheheeeee aku pikir soeun
    tp masuk kok karakternya hihihiii keep going ya kak😉

  7. Just_me November 15, 2014 pukul 1:12 pm

    Kl blh usul…fanfic dr remake novel ini diselesaiin satu persatu deh… Kl kebanyakan gini malah bingung… Jd ketuker2 ceritanya hehe…. Btw yg ini bagus juga ceritanya…. Sang yoon bener2 cool…

  8. dewi November 16, 2014 pukul 3:11 am

    bikin penasaran bgt
    ayo dilanjut ne

  9. Devi November 16, 2014 pukul 7:35 pm

    seruuuu + bagusss bangeet cerita’a,,,,

    trnyata eonnie so eun janda pantesan pertama kali ketemu ma sang yoon agk menghindar karena trauma,,
    tpi kayak’a sang yoon jatuh cinta pada pandangan pertama ma eonnie so eun,tinggal tungguin eonnie so eun bwt membuka hati lagi,,,,

    d tunggu kelanjutan’a,,,

  10. afifmuizzakaiffahizzati November 17, 2014 pukul 7:32 pm

    -_- … Aku jadi ikut mual bacanya. :3 Aigoo~ Gak kebayang darah ada di mana-mana. Bisa-bisa aku udah pingsan duluan kalo liat…
    Ikut gugup juga tadi lho, takutnya kenapa-napa sama ketiga orang itu. Bisa-bisa Sso eonni jadi trauma..😦 Tapi syukurlah, SangYoon datang..😀 Senangnya hatiku~😉
    Pasti anak Dokter Sooman itu Sangyoon. Yakin 100% pokoknya. #sotoy Aigoo~ Gak kebayang kalo nanti Sso eonni bakal ketemu sama Sangyoon lebih sering atau malah setiap hari.. Yang ini baru pertemuan pertama aja udah panas dingin eonninya, gimana yang tiap hari? Huwaa.. Gak bisa ngebayangin aku.. u.u
    Ehehe.. Blak-blakan amat, ye abang Sangyoon.😀 Gimana gak klepek-klepek (aigoo~ Bahasanya.. -_- ) sama dia kalo abangnya kayak gitu. Udah ganteng,…bla..bla.. ditambah Sangyoonnya juga terang-terangan bilang mau ketemu lagi sama Sso eonni (dan itu sebuah pertanda ;-D ).
    Ow..ow.. Ternyata eh ternyata Sso eonni udah nikah tho? Tapi napa si Junho malah ninggalin Sso eonni? Aneh amat tu orang.. -_- Nyesel, nyesel deh situ.

  11. gadung melati November 19, 2014 pukul 5:54 am

    ou remake baru ^ ^ nie sso jd suster n sang yoon jd dokter *^o^* wah pertemuan mreka daebak n sang yoon bner” dtng dsaat yg tepat ^_^)Y
    aq jd ikt tegang ma ngeri pas sso kelimpungan menolong k 3 korban it..
    wah sso kykny terpesona ma sang yoon ampe gugup ma salting pas d dkt ajhushi nie ^_^)Y kekeke~ n mang ajhushi nie tebar pesona bgt k sso ^ ^ n senyum gaje pas ajhushi ngrayu sso ampe panas dingin wkwkwkwk~
    oh trnyt d ms lalu sso ud perna nikah n d khianati ma junho makany dy trauma utk dkt ma laki2 pa lg jelas2 bw dampak *bs menggetarkn jiwany* kekeke~ jd g sbr nunggu pertemuan mreka slanjtny ^ ^
    dtunggu kelanjtny n faithing ^ ^

  12. HaeNy Choi93 November 20, 2014 pukul 12:26 pm

    Kenapa aku jadi menyukai couple ini.
    Semua karakternya pas banget eonn..

    Aiisshh aku bisa gila.
    Aku menantikan sekali part 2nya. Fighting!

  13. AngelsShe~ November 20, 2014 pukul 4:49 pm

    Kyaaaa Couple bru suka – Suka🙂
    ditunggu part selanjutx🙂

  14. yeonta November 22, 2014 pukul 1:42 pm

    keren

  15. Margaretha November 25, 2014 pukul 6:21 am

    Baru bca sekilas .. Nanti dilanjutkan sebentar😀 hanya meninggalkan jejak saja..

  16. Ne yan Desember 22, 2014 pukul 9:59 am

    Ih seru…
    Hah untung so eun berpergiannya lewat situ tuh ← coba kalo engga, kasihan tiga orang itu.
    & gara-gara kecelakaan itu so eun juga bertemu dengan sang yoon…
    Hihi next part yes.

  17. gracez Februari 2, 2015 pukul 3:23 am

    Wahhhh akhir nya ada yg buat fanfic ttng YoonSso couple… seriussss aq sukaaa bgt ma couple ini smnjak nton liar game.. agak kesel krna gak da romance buat mreka d drama itu… and akhir nyaa aq jumpa web ini… waaaahhh makasih bgt udah nulis fanfic mreka.. critanya bner2 menggetarkan hati… d tunggu part brikut nyaa… Thank youuu sooo much ♥♥♥♥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: