RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

An Officer And A Millionaire [Part 3]


cover depansmall

Rated: M

Cast: Kim So Eun, Park Jung Soo (Lee Teuk)

WARNING: FF ini merupakan remake novel terjemahan yang berjudul AN OFFICER AND A MILLIONAIRE, karya Mauren Child.FF ini 90% bukan murni milik saya, berhubung novel ini merupakan terjemahan maka nama dan tempat disesuaikan dengan cast asal korea.  Happy Reading!?^^

An Officer And A Millionaire [Part 3]:

“Kakek?” tanya So Eun, terang-terangan tidak mengacuhkan Jung Soo. “Apakah semua baik-baik saja?”

“Baik, baik. Aku hanya sedang menjelaskan situasi ini pada Jung Soo.”

“Bagus.” Meskipun jika dilihat dari ekspresi pria muda itu saat ini, pikir So Eun, dia tidak terlalu senang mendengar penjelasan kakeknya. Yah, begitu juga aku.

So Eun tidak ingin menikah dengan Jung Soo, namun ia melakukannya demi kakek. Dan entah Jung Soo percaya atau tidak, uang lima miliar won itu tidak ada pengaruhnya. Yang meyakinkan dirinya untuk mengikuti rencana kakek adalah sorot kehilangan dan ketakutan di mata pria tua itu, yang membuat dirinya semakin yakin untuk mengambil bagian dalam aksi yang langsung disadarinya sebagai rencana gila.

Dan selama setahun ini ia akhirnya merasa cocok, betah, sesuatu yang memang selalu didambakannya. Ia memiliki kakek. Rumah. Tempat yang merupakan miliknya. Orang-orang yang dikasihinya – orang-orang yang mengasihinya.

Bagi So Eun, itu tak ternilai.

Namun ia harus mengaku bahwa menikah dengan Jung Soo yang tidak ada di dekatnya jauh lebih mudah daripada menikah sungguhan dengan pria itu. Saat menatap pria itu sekarang, dia tampak… sorot matanya yang tajam menusuk.

Kerutan keningnya.

Setelah membalas kernyitan itu, So Eun mengalihkan pandangan pada Tuan Park dan berkata singkat, “Dokter sudah datang.”

“Brengsek.” Si Park tua buru-buru mengambil setumpuk kertas dari meja dan mulai sibuk membolak-balik halamannya. “So Eun, katakan padanya aku terlalu sibuk untuk menemui dia hari ini. Coba saja minggu depan. Atau lebih bagus lagi bulan depan.”

So Eun tersenyum, karena ia sudah sangat terbiasa menghadapi upaya keras kakek menghindari sang dokter. “Tidak ada jalan untuk menghindar, Kakek.”

“Apakah ada masalah?” tanya Jung Soo.

Dengan enggan So Eun menatap pria itu lagi, membalas tatapannya dan merasakan sambaran sesuatu yang panas. Pria itu memiliki mata yang luar biasa. Yang, tentu saja, tidak berarti apa-apa baginya. Terutama karena mata yang luar biasa itu tidak dapat dijadikan alasan untuk menoleransi sikap menjengkelkan dan sombong. Namun Jung Soo tampak sedikit khawatir terhadap kakeknya, dan itu sudah cukup untuk membuat So Eun terharu, sehingga ia buru-buru meyakinkan pria itu. “Tidak, ini hanya pemerikasaan biasa. Dokter datang kemari untuk menjenguk kakek setiap beberapa minggu sekali karena kakek tidak bisa dipercaya untuk menepati janji periksa di kota.”

“Aku ini sibuk. Terlalu sibuk untuk pergi menemui si pemaksa minum pil sialan itu,” gumam kakek.

Jung Soo melipat tangan di dadanya yang mengesankan dan bertanya, “Tetapi kakek baik-baik saja, kan? Sehat?”

So Eun mengangguk dan mengatakan pada diri sendiri supaya tidak menatap dada bidang atau otot-ototnya yang tercetak jelas di balik kain lembut T-shirt hitam pria itu. “Ya, dia, eh…” Ia menelan ludah dengan susah payah, berdeham dengan gugup, lalu melanjutkan. “Dia sudah pulih sepenuhnya. Sekarang ini hanya pemeriksaan rutin.”

“Rutin.” Kakek bergumam lagi. “Apanya yang rutin kalau setiap kali dia datang selalu mengganggu kehidupanku – itulah yang aku ingin tahu…”

“Bagus,” ujar Jung Soo. “Aku senang semua baik-baik saja, tapi aku juga ingin berbicara dengan dokter, tentu saja.”

“mengapa kau harus berbicara dengannya?” tanya kakek. “Dia dokterku dan aku tidak butuh satu pengasuh lagi,” tambahnya sambil melotot ke arah So Eun.

“Tentu saja kau bisa berbicara dengannya,” ujar So Eun pada Jung Soo tanpa mempedulikan gerutuan kakek. Betapa sopan sikap kami sekarang, pikir So Eun. Namun ia tidak gegabah. Masih ada sesuatu yang gelap dan membara di mata Jung Soo.

“Siapa yang memegang kendali di sini sebenarnya?” kakek menuntut.

“Tentu saja aku,” sebuah suara asing berseru.

So Eun mengalihkan tatapannya dari Jung Soo dan melihat dr. Choi melangkah ke dalam ruangan dengan senyum lebar terukir di wajah keriputnya. Rambut abu-abunya yang berantakan selalu mencuat ke sana kemari dengan aneh di sekeliling kepalanya, dan mata lembutnya tampak lebih besar di balik kacamata. Dia langsung berjalan menghampiri dan menjabat tangan Jung Soo. “Senang sekali kau sudah pulang, Jung Soo. Sudah terlalu lama.”

“Ya,” ujar Jung Soo, memandang sekilas ke arah So Eun, “terlalu lama.”

“Kau membuang-buang waktu saja dengan datang kemari,” ujar kakek, masih sibuk membolak-balik kertas. “Terlalu sibuk untuk menemuimu hari ini dan tidak butuh lebih banyak pil, terima kasih.”

“Jangan pedulikan dia, Dokter,” ujar So Eun tersenyum.

“Memang tidak pernah.” Dokter itu melepaskan tangan Jung Soo. “Aku tidak tahu apa yang bisa kita lakukan tanpa kehadiran istrimu di sini selama setahun lebih ini, Jung Soo.”

So Eun menegang saat pandangan Jung Soo terkunci pada dirinya.

“Benarkah begitu?” tanya Jung Soo pelan.

“Tentu saja,” kakek turut membenarkan.

“Wanita ini sangat luar biasa,” ujar dr. Choi. “Dia tidak hanya memastikan kakekmu yang sama keras kepalanya seperti kambing bandel ini melakukan apa yang harus dilakukannya, namun dia juga turun tangan sendiri membantu kami mengumpulkan uang untuk menambah ruang operasi bagi pasien rawat jalan di klinik. Tentu saja, istrimu juga mengatakan pada kami semua betapa besar keterlibatanmu dalam hal ini.”

“Benarkah?” Satu alis berwarna gelap terangkat selagi Jung Soo mengamati So Eun, dan So Eun berjuang keras agar tidak terlihat gelisah di bawah tatapan itu.

“Benar sekali.” Dengan berseri-seri, dokter itu menambahkan, “Dia memberitahu kami semua bahwa setelah Tuan Park terkena serangan jantung, kau ingin memastikan klinik kita memiliki semua yang dibutuhkan sehingga penduduk setempat tidak perlu pergi ke kota untuk dirawat. Sangat besar artinya bagi orang-orang di sekitar sini karena kau masih menganggap Busan sebagai rumahmu.”

“Senang bisa membantu,” ujar Jung Soo, mengalihkan tatapannya dari So Eun untuk memandang sang dokter.

“Kakekmu selalu mengatakan bagaimana suatu hari nanti kau akan mulai menaruh perhatian lebih besar pada kota ini,” ujar sang dokter sambil menepuk-nepuk pundak Jung Soo. “Sepertinya dia benar. Jadi aku ingin mengucapkan terima kasih secara pribadi – dan bukan hanya atas klinik itu, tetapi atas semua hal lain yang kaulakukan – “

“Semua hal lain?” tanya Jung Soo.

“Hmm, Dokter Choi…” So Eun buru-buru berbicara untuk memotong ucapan dokter itu sebelum dia sempat berbicara terlalu banyak. “Bukankah kau punya janji lain hari ini?”

“Benar, benar,” jawab si dokter, masih tersenyum menghargai. “Jadi sebaiknya aku melanjutkan pekerjaanku. Aku hanya ingin kau tahu seluruh penduduk kota menghargai apa yang telah kaulakukan, Jung Soo. Benar-benar membuat perbedaan. Semuanya.”

Semuanya?” Tatapan Jung Soo yang keras dan dingin terkunci pada So Eun. “Seberapa banyakkah semua itu?”

“Bukankah kau kemari untuk merongrongku?” bentak kakek. “Atau kau hanya akan berdiri di sana dan bercakap-cakap dengan Jung Soo sepanjang hari?”

Sang dokter terkekeh. “Dia benar. Bagaimana kalau kalian berdua menyingkir ke suatu tempat bersama-sama sementara aku memeriksa pasienku yang banyak tingkah ini?” Ia mengedipkan mata ke arah Jung Soo. “Tuhan tahu kalau aku punya istri cantik yang sudah berbulan-bulan tidak kutemui, aku pasti ingin berduaan saja dengannya.”

“Persis seperti yang kupikirkan,” ujar Jung Soo, dan So Eun menarik napas keras.

Saat ini, So Eun benar-benar tidak ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Jung Soo lebih lagi. Bahkan, saat ini pun ia merasa baik-baik saja. Ia bisa menunggu berhari-hari, atau mungkin selamanya, sebelum berdua saja dengan Jung Soo lagi. Sayang sekali, tampaknya keinginannya tidak akan terkabulkan.

“Ayolah, Sayang,” ujar Jung Soo sambil mencengkeram siku So Eun keras-keras, “ayo kita pergi untuk ‘berduaan’.”

So Eun hanya sempat memandang sekilas dari balik pundak ke arah kakek sebelum Jung Soo mulai mendorongnya pelan menyeberangi ruangan. Kakek memberikan isyarat berupa acungan jempol dan cengiran selicik kucing – yang mungkin tidak akan bisa menyelamatkan nyawa So Eun namun masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

Kaki Jung Soo begitu panjang sehingga So Eun benar-benar harus berlari-lari kecil untuk menyamai langkah pria itu, namun ia berhasil, hampir. Mereka menyelinap keluar dari ruang kerja, dan Jung Soo menggapai ke belakang So Eun untuk menutup pintu sebelum menatap So Eun kembali.

Sulit dipercaya, namun ada api sekaligus es di mata pria itu ketika berkata. “Kau berutang penjelasan atas segala sesuatunya, yeobo.”

“Sudah kubilang, jangan panggil aku seperti itu.” Jika Jung Soo pikir aku akan langsung meringkuk ketakutan dan merengek minta ampun, sayang sekali itu sangat keliru, pikir So Eun. Jung Soo membuatnya terkejut ketika muncul di kamar mandi tadi, dan membuat dirinya mengoceh terlalu banyak. Namun sekarang ia sudah punya cukup waktu untuk berpikir. Untuk mengumpulkan amarah sekaligus rasa percaya dirinya. Ia tidak melakukan kesalahan. Sementara Park Jung Soo jelas melakukan kesalahan.

So Eun memandang sekilas ke sekeliling lorong yang kosong, sama sekali tidak memperhatikan perabotan mewah yang, sewaktu pertama kali ia melangkah ke kediaman Park yang mirip istana ini, benar-benar mengintimidasi dirinya. Betapa jauh aku telah melangkah, pikir So Eun sambil melamun. Dan sekarang ia merasa seperti di rumahnya sendiri, dengan karpet oriental bermotif mawar menghiasi lantai kayu yang berkilau. Dengan semburat warna pucat merembes dari sela-sela jendela kaca di ruang depan. Dengan vas kristal berisi rangkaian bunga yang tingginya hampir sama dengan dirinya.

Kastil ini telah menjadi rumahnya, dan ia tidak akan membiarkan Jung Soo merenggut perasaan itu darinya.

“Aku tidak berutang apa-apa,” ujar So Eun, menjaga suaranya tenang dan acuh tak acuh, padahal itu tidak mudah.

Bibir Jung Soo melengkung membentuk senyuman yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan humor. “Dengar itu bukan taktik yang tepat.”

“Kalau begitu, bagaimana dengan yang ini? Kau menyakitiku,” ujar So Eun, melirik ke bawah ke tempat jemari Jung Soo mencengkeram sikunya begitu erat. Seketika, cengkeraman Jung Soo pada sikunya mengendur. Bukan berarti pria itu benar-benar melepaskannya, namun kekuatan jemarinya mereda sedikit.

“Maaf.” Jung Soo menghembuskan napas dan melirik sepintas ke sekeliling lorong yang kosong sebelum menunduk untuk berbicara dengannya lagi. “Tapi setelah semua hal yang diceritakan kakek, kupikir kau dan aku perlu bicara.”

“Kakek sudah menjelaskan semuanya?” Syukurlah. Seharusnya pria tua itu bicara dengan Jung Soo sebelum Jung Soo pulang hingga situasi ini jadi jauh lebih mudah. Namun kalau kakek telah menceritakan apa yang terjadi pada cucunya, apalagi yang tersisa untuk dibicarakan?

“Ya, tapi bukan berarti aku setuju saja dengan hal tersebut. Jadi seperti kataku tadi, mulailah bicara.”

Setelah pria itu tidak memeganginya begitu keras, cukup mudah menarik dirinya lepas dari cengkeraman itu. Jadi So Eun pun melakukan hal tersebut, lalu mundur selangkah agar bisa menghadapi Jung Soo dengan lebih baik. “Aku tidak tahu mengapa aku harus menjelaskan diriku sementara kakek sudah melakukannya.”

“Aku bisa memikirkan satu alasan. Bahkan,” Jung Soo menambahkan, “aku bisa memikirkan lima miliar alasan.”

So Eun pucat pasi. “Tentunya kau tidak benar-benar percaya aku melakukan ini karena uang, kan?”

“Mengapa tidak?”

So Eun menarik napas. “Astaga, kau benar-benar bajingan sok tahu, suka menghakimi, sombong – “

Tatapan Jung Soo menyipit dan ia melirik sekilas ke belakang So Eun; lalu pria itu menyambar dirinya menariknya lebih dekat dan mencium So Eun keras-keras hingga wanita itu hampir lupa bernapas.

Sensasi berpacu di sepanjang pembuluh darah So Eun sehingga setiap jengkal tubuhnya seolah berdiri dan bersorak. Perut So Eun seolah melorot turun, detak jantungnya bergemuruh di dada, dan benaknya benar-benar mengabur, mungkin saat itu ia tidak akan mampu menyebut namanya sendiri jika ditanya.

Seluruh dunia So Eun terpusat pada sensasi bibir Jung Soo di bibirnya. Lidah pria itu mendesak ke sela-sela bibirnya dan menyapukan kehangatan. Napas pria itu bersatu dengan napasnya. Lengan Jung Soo memeluk dirinya bagaikan kawat, mengikat dirinya ke tubuh pria itu, hingga yang bisa dilakukan So Eun hanyalah mengangkat kedua lengan dan mengalungkannya ke belakang leher pria itu.

So Eun membuka bibir dengan bersemangat, mendamba, bereaksi sepenuhnya menyambut gairah yang disulut Jung Soo. Tampaknya tidak masalah jika pria itu begitu menjengkelkan dan suka menindas. Satu-satunya yang diperhitungkan sekarang adalah perasaan yang ditimbulkan Jung Soo dalam dirinya. Belum pernah So Eun bereaksi begitu sepenuhnya pada sesuatu yang begitu sederhana seperti ciuman. Tetapi, ini memang bukan ciuman sederhana.

Ada gairah panas, api, hasrat, dan amarah yang bercampur aduk menjadi pusaran energi luar biasa yang seolah mengonsumsi So Eun.

Kemudian ciuman itu berakhir secepat dimulainya. So Eun sedikit terhuyung ketika Jung Soo melepaskan dirinya. Tidak mengherankan, sungguh, mengingat pria itu menciumnya tiba-tiba. “Apa? Bagaimana? Apa?”

Salah satu bibir Jung Soo melengkung naik sebelum sekali lagi pria itu melihat ke belakang So Eun dan berkata, “Young Ae!”

Astaga. Si pengurus rumah tangga, pikir So Eun, seketika langsung merasa sangat malu.

Namun Jung Soo melingkarkan sebelah lengan ke pundak So Eun dan menariknya lebih dekat ke sisi sewaktu menyapa wanita yang mulai tua itu, “Aku begitu sibuk bercengkerama dengan istriku,” ia mengatakan. “Sampai-sampai aku tidak melihat kau datang.”

Bagaimana Jung Soo bisa bercanda, tertawa, dan berbicara lancar setelah apa yang baru saja mereka alami? So Eun menengadah menarapnya dan tidak bisa percaya pria itu tidak terpengaruh oleh apa yang terjadi. Bagaimana bisa dia tidak merasakan apa yang kurasakan? Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu kuat hanya dirasakan secara sepihak? Pikir So Eun.

“Oh, jangan khawatir,” ujar Young Ae. “Sungguh indah menyaksikan dua sejoli memadu kasih.”

Memadu kasih?

“Senang sekali kau sudah kembali ke rumah. Kalian berdua silakan naik ke kamar, dan kita akan berjumpa lagi saat makan malam, benar? Koki membuatkan semua makanan kesukaanmu, Tuan Jung Soo.” Young Ae memeluk Jung Soo sekilas. “Kami semua sangat senang kau sudah pulang. Bukankah demikian, So Eun?”

Jung Soo akhirnya menatapnya, dan So Eun melihat kilatan menantang di mata pria itu. “Benarkah begitu, yeobo? Apakah kau senang aku pulang?”

So Eun masih gemetar akibat ciuman itu, namun ia tidak ingin Jung Soo tahu betapa pria itu memengaruhi dirinya. Terutama mengingat ciuman itu tampaknya tidak berarti apa-apa bagi Jung Soo. Jadi tanpa ragu-ragu ia balas menatap Jung Soo, dan memaksakan senyuman yang sama sekali tidak dirasakannya. “Oh, kata senang sama sekali tidak cukup untuk menggambarkan apa yang kurasakan.”

*****

Makan malam rasanya berlangsung lama sekali.

Kakek duduk di kepala meja bersikap seperti sinterklas atau sejenis itu, dan “istri” Jung Soo duduk tepat di seberangnya, secara bergantian mengabaikan atau memandangnya dengan tatapan yang seolah bisa menyulut api di rambut Jung Soo.

Sementara Jung Soo, yang bisa dipikirkannya hanyalah: ia seharusnya tidak mencium So Eun.

Sialan.

Sejak mencicipi bibir So Eun, yang Jung Soo inginkan hanyalah mencicipinya kembali. Dan itu tidak boleh terjadi. Tidak mungkin ia menceburkan diri lebih dalam ke perangkap kecil yang diatur kakeknya ini. Sepanjang pengetahuannya, istri mungilnya ini akan berupaya keras merayu Jung Soo untuk membuat pernikahan ini jadi sungguhan. Mungkin itu memang rencana besar So Eun.

Namun, bagaimana mungkin itu rencana So Eun mengingat akulah yang memulai ciuman itu? Pikir Jung Soo. Sambil menggertakkan gigi, Jung Soo berusaha tidak menatap wanita di seberangnya dan berusaha keras mengalihkan pikirannya dari ingatan akan bibir wanita itu di bibirnya. Tidak ada gunanya. Sudah berjam-jam ia berusaha melupakan bagaimana perasaannya ketika bibirnya menyapu bibir wanita itu. Untuk menepis gairah yang nyaris seperti setruman listrik murni, cemerlang, dan gairah panas membara yang mengancam akan menghancurkan dirinya.

Sial, jika Young Ae tidak berdiri di sana tadi, di tengah lorong, ia mungkin akan mendorong So Eun ke dinding dan…

Cara yang bagus untuk tidak memikirkan hal itu, ia memarahi diri sendiri.

Tubuhnya masih bergairah, dan pikirannya masih berputar-putar akibat efek yang ditimbulkan wanita itu pada dirinya. So Eun terasa pas dalam pelukannya, seolah wanita itu memang diciptakan untuknya. Rasa wanita itu masih tertinggal di bibirnya dan ingatan akan lekuk-lekuk tubuh So Eun yang menempel di sekujur tubuhnya membuat dirinya dipenuhi hasrat selama berjam-jam.

So Eun sama sekali bukan tipe wanita yang biasanya Jung Soo sukai. Jung Soo bahkan tidak bisa menjelaskan pada diri sendiri mengapa ia tiba-tiba begitu dipenuhi kebutuhan untuk menyentuh wanita itu lagi. Untuk mencium So Eun lagi. Ia seharusnya berpikir tentang betapa ingin dirinya mencekik wanita itu atas apa yang telah dia lakukan di rumah ini.

Sebaliknya…

Sialan. Bahkan saat Jung Soo memandang ke seberang meja ke arah So Eun yang mengenakan gaun biru tak berbentuk dengan kerah tinggi dan lengan pendek mengembang, pikirannya malah melucuti pakaian wanita itu. Ia membayangkan So Eun berbaring di selimut feminin yang kini menutupi tempat tidurnya. Dalam pikirannya, ia mencium setiap jengkal lekuk tubuh So Eun, membenamkan diri dalam kehangatan wanita itu dan…

Dan, jika Jung Soo tidak mengalihkan pikirannya ke hal lain, Jung Soo tidak akan mampu berdiri dari meja ini tanpa menunjukkan pada dunia betapa ia menginginkan wanita itu.

Dengan masam, Jung Soo berjuang mengendalikan diri. Ia menatap So Eun lagi dan berusaha melihat lebih daripada sekadar rambut hitam gelap yang lembut dan mata terang itu. Ia mendorong jauh-jauh kenangan tentang rasa So Eun dalam pelukannya dan sebaliknya berusaha memikirkan seberapa banyak aksi sungguhan “aku tidak bersalah” yang diperlihatkan wanita itu. Dari luar, tampaknya So Eun memang persis seperti yang dia gambarkan. Wanita muda yang melakukan kebaikan demi pria tua yang kesepian. Namun menurut Jung Soo, wanita itu hanyalah aktris yang sangat lihai. Dan jika So Eun bisa mempermainkan Jung Soo, betapa mudah wanita itu mempermainkan kakek.

Mereka tidak sempat melanjutkan “pembicaraan” tadi. Setelah mencium So Eun, Jung Soo tidak mempercayai dirinya untuk berduaan dengan wanita itu lagi. Akhirnya ia malah mengeluarkan salah satu kuda yang masih dipelihara kakek dan berkuda sampai melewati batas tanah mereka. Meskipun perjalanan panjang itu sebenarnya tidak berhasil mengembalikan kewarasannya. Karena gambaran So Eun turut berkuda menyertainya di setiap langkah.

“Mau anggur lagi, Jung Soo?”

Jung Soo menatap kakeknya dan menggangguk. “Ya, terimah kasih.”

Namun Jung Soo sadar, bahkan saat lebih banyak minuman anggur merah tua itu dituangkan ke gelasnya, minuman keras sebnayak apa pun tidak akan sanggup meredakan pikiran liar dan nakal yang berkecamuk dalam benaknya. Mengapa wanita itu? Jung Soo bertanya pada diri sendiri. Mengaoa si penipu ulung mungil yang suka berdebat ini? Dasar, padahal ia baru saja menyudahi hubungannya dengan Soo Young, model setinggi 180 sentimeter dengan wajah bagaikan malaikat, namun Soo Young pun tidak pernah mampu membuat dirinya terpengaruh sedalam seperti yang dilakukan si mungil ini.

Sambil menggertakkan gigi, ia menggigit lagi daging panggang yang disiapkan khusus untuknya. Rasanya sama seperti menggigit kardus. Ia sangat menanti-nantikan kepulangannya kali ini. Untuk melewatkan hari-hari dengan rileks dan tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Yah, ternyata itu sama sekali tidak mungkin. Ke mana pun ia pergi di rumah sialan ini, seseorang pasti mengedipkan mata atau tersenyum penuh arti padanya.

Menghadapi setiap pelayan di rumah yang memperlakukannya seerti pengantin baru sungguh menjengkelkan. Menghadapi sang “istri” yang berada dalam jangkauannya namun tak bisa disentuh, itu benar-benar membuatnya gusar. Benar-benar kepulangan yang istimewa, pikirnya sinis.

Dalam misi terakhirnya, Jung Soo mengalami cedera, terpisah dari tim, dan ia harus mencari jalan sendiri untuk keluar dari wilayah berbahaya itu. Selama delapan hari ia berjuang sendirian demi bertahan hidup – namun apa yang dilaluinya sekarang membuat saat-saat itu tampak seperti akhir pekan di taman hiburan.

“Ada pesta dansa akhir minggu ini,” ujar kakek, dengan luwes menyeret Jung Soo keluar dari pikirannya. “Untuk merayakan tambahan ruangan baru di klinik.”

“Bagus.” Jung Soo sama sekali tidak peduli pada pesta dansa itu.

“Karena sekarang kau di sini, kau harus mengajak So Eun untuk mewakili keluarga kita,” ujar kakek.

“Aku harus apa?” Jung Soo menatap kakeknya, dan dari sudut mata ia memperhatikan bahwa So Eun kelihatan sama terkejutnya seperti dirinya.

“Dampingi istrimu ke pesta dansa di kota. Orang-orang pasti mengharapkan hal tersebut. Lagi pula, kau dan So Eun-lah yang membuat semua itu terwujud.”

“Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal itu,” Jung Soo mengingatkan pria tua itu.

Kakek tampak gusar, menyipitkan mata ke arah Jung Soo dan berkata, “Sejauh yang diyakini penduduk kota, kau ada hubungannya.”

“Dia tidak perlu pergi denganku,” ujar So Eun buru-buru, kelihatan sama bersemangatnya seperti Jung Soo untuk menghindari kebersamaan mereka sesering mungkin. Nah, mengapa hal tersebut justru menggangguku? Pikir Jung Soo heran.

“Aku bisa memberitahu semua orang bahwa Jung Soo belum pulih,” So Eun menambahkan.

Sekarang giliran Jung Soo yang cemberut. Bukan karena ia ingin pergi ke pesta dansa itu, tetapi ia tidak ingin orang lain, terutama wanita itu, membuat alasan untuk dirinya. Jika ia sampai membutuhkan pertolongan – yang mungkin tidak akan pernah – ia sendiri yang akan memintanya.

“Kau pandai sekali berbohong, kan?” tanya Jung Soo.

So Eun menoleh ke arah Jung Soo dan seolah menusuk pria itu dengan tatapannya yang setajam tombak. Kemudia  sambil tersenyum mengejek, ia mengakui, “Sebenarnya, karena aku sangat sering harus mengarang alasan tentang mengapa kau tidak repot-repot pulang untuk menjenguk kakekmu, kau benar aku jadi semakin pandai berbohong. Terima kasih banyak telah menaruh perhatian.”

“Tak seorang pun memintamu untuk – “

“Siapa yang akan melakukannya jika bukan aku?”

“Tidak ada alasan untuk berbohong.” Jung Soo membalas sambil membanting sumpit ke meja. “Semua orang di kota tahu apa pekerjaanku.”

So Eun juga meletakkan sumpitnya. Dengan tenang. Tanpa suara. Gerakan yang membuat Jung Soo lebih geram.

“Dan semua orang di kota tahu kau bisa mengambil cuti keluarga – bukankah itu sebutannya di kemiliteran? – supaya kau bisa pulang ketika kakek sakit parah.”

Rasa bersalah kembali menusuk-nusuk Jung Soo. Dan ia tidak suka itu.

“Aku bahkan tidak berada di negara ini,” Jung Soo mengingatkan So Eun, menekankan setiap kata dengan gigi yang terkatup.

So Eun hanya menatapnya, namun Jung Soo tahu persis apa yang dipikirkan wanita itu, karena sebenarnya ia mengatakan hal yang sama pada dirinya selama berjam-jam terakhir. Ya, ia memang berada di luar negeri ketika kakek terkena serangan jantung. Namun ketika ia kembali, seharusnya ia bisa pulang ke rumah untuk menengok keadaan pria tua itu. Ia bisa mengambil cuti satu minggu sebelum misi berikutnya – namun ternyata ia hanya menelepon sang kakek.

Apabila Jung Soo melakukan upaya tersebut, ia pasti berada di sini untuk membujuk kakeknya agar tidak melakukan pernikahan palsu yang konyol ini sehingga dirinya tidak akan terjebak dalam kekacauan ini.

Dengan kesadaran itu, ia membalas tatapan So Eun dan menangkap kilatan kemenangan di mata wanita itu.

“Baiklah. Kau memenangi yang satu ini,” ujar Jung Soo , mengakui wanita itu telah memenangi babak ini. “Aku akan mendampingimu ke pesta dansa terkutuk itu.”

“Aku tidak mau – “

“Bagus sekali,” Kakek berkata nyaring dan menggapai gelas anggur Jung Soo.

“Kau tidak boleh minum anggur, Kakek,” ujar So Eun sambil mendesah dan tangan pria itu berhenti di tengah-tengah gerakannya.

“Apa gunanya hidup selamanya jika tidak bisa minum segelas anggur pada makan malam seperti layaknya orang beradab?”

“Air putih juga beradab.” Tampaknya So Eun sudah lupa akan perang kecilnya dengan Jung Soo dan sekarang lebih terfokus pada pria tua yang cemberut di kursinya.

“Anjing yang biasanya minum air,” Kakek mengingatkannya.

“Begitu juga kau.”

“Ya, sekarang.

“Kakek.” Nada suara So Eun berubah menjadi sangat sabar sehingga Jung Soo tahu wanita itu sudah sering menghadapi situasi ini. “Kau tahu apa yang dikatakan dr. Choi. Tidak boleh minum anggur dan mengisap cerutu.”

“Dasar dokter sialan, selalu merusak kehidupan orang lain demi kebaikannya sendiri. Dan kau,” Kakek menuduh sambil memandang kesal, “kau seharusnya berada di pihakku.”

“Aku berada di pihakmu, kakek. Aku ingin kau hidup selamanya.”

“Tanpa mengalami kesenangan sedikit pun,” Kakek menggerutu.

Jung Soo menyaksikan perdebatan tersebut dan merasakan kecemburuan yang sedikit ganjil. Terlihat jelas bahwa sudah berkali-kali kakeknya dan So Eun berdebat seperti ini. Mereka berdua seperti satu kesatuan. Tim yang kompak. Dan kedekatan mereka sulit diabaikan.

Dirinyalah yang menjadi orang asing sekarang. Dirinyalah yang tidak memiliki tempat. Di rumah tempat ia dibesarkan. Dengan kakeknya. Wanita ini… “istri”-nya, berhasil menyingkirkan keberadaan Jung Soo sepenuhnya.

Atau, mungkin ia sendiri yang telah melakukan itu?

Benar-benar hari yang melelahkan, dan yang diinginkan Jung Soo saat ini hanyalah sedikit kedamaian dan ketenangan. Menyela pembicaraan dua orang yang benar-benar tak mengacuhkan dirinya, ia berkata, “Kalian tahu? Aku sangat lelah. Kurasa aku akan tidur sekarang.”

“Itu ide bagus,” kakek menyetujui, mengalihkan perhatian pada cucunya. “Bagaimana jika kalian berdua masuk saja ke kamar kalian sekarang? Beristirahat?”

Hening.

Beberapa detik berlalu sebelum salah satu dari mereka akhirnya berhasil bicara.

“Kamar kami?” So Eun berbisik.

Jung Soo memelototi kakeknya.

Kakek hanya tersenyum.

cover tbc1small

NB: Saya hanya ingin memberitahukan bahwa FF yang diremake novel ini memang bukan penulisan saya, atau karakter saya. Karena saya tidak menciptakan ide cerita ini, hanya mengubah nama dan tempat dari novel terjemahan tersebut. Jadi kalo ada yang merasa kurang paham dengan bahasanya maupun yang lain itu karena bahasa di novel memang agak tinggi, jadi dibaca baik-baik ya ^^

24 responses to “An Officer And A Millionaire [Part 3]

  1. abdidesy November 18, 2014 pukul 6:58 am

    Next ditunggu kakaaak😀

  2. HaeNy Choi93 November 18, 2014 pukul 8:32 am

    Makin seru.
    Aku suka sama Kakeknya Jung Soo (?) LoL.

    Harabeoji! Tetaplah seperti itu. Menjadi orang yg berusaha mendekatkan Soeun-Jungsoo.
    Walaupun kau sudah tua tapi tingkahmu menggemaskan. Wkwk

    sedikit demi sedikit kebaikan Soeun udah kelihatan. Tapi Jung Soo tetap dengan pendirian dia. Heii Istrimu itu orang baik. Jangan negative mulu dong mikirnya.

    Ada adegan Kisseunya..
    Yeaayy!!
    Sering2lah begitu. Kkk

    next eonn… Hihihii

  3. Puspa Kyukyu November 18, 2014 pukul 10:49 am

    Demia ap itu Jungsoo main nyosor aja :3.. Kan kena batunyakan,dia yg kepengen lagi…
    Wkwkwkwkkwkwk :v :3

    seharusnya Jungsoo tw dan gak keras kepala,klw Soeun itu baik dan udh anggap kakek kya’ sodaranya…

    Next~
    Puspa nantikan Eunhyuk ma Kyuhyun !!

  4. Just_me November 18, 2014 pukul 10:56 am

    Gemes baca perdebatan jung soo sama so eun…. Sama2 keras kepala…seru banget… Mulai ada “rasa” ni kayaknya…. Ga bs bayangin..2 org yg suka berdebat saling tertarik. Lanjut deh.

  5. vaaani November 18, 2014 pukul 11:08 am

    paling suka teuksso ini😀

    hahahaha marahnya jungso, skatmatnya, rasa bersalahnya
    pokokna ngangeni,, kekekekekekekekeke terus terusan aja negatif thingking ma sso #lempar sandal ke lengan lukanya,, xixixi
    dan sso yg merinding disco dan sok cool,, hihihi akhirnya nyeeees jg ma kisu nya teukppa

    aaaaargh kakek dan sso mengalihkan dunia teukppa,,, wkwkwkwkw
    cucu tiri nih teukppa

    dokter choi,, hebatnya dirimu d dpn teukppa

    mw mw kisu ma ehmmm ehmmm nyaaaa
    masi nunggu sampai kapan yak,,,,
    2ff skaligus dunk Noooooo. gumawo

  6. mianuneo November 18, 2014 pukul 11:31 am

    huaaaa makin seru aja >< .. idiihhh si kakek mah suka banget godain pasangan 'suami-istri' baru ahaha .. ditunggu yg sama eunhyuk itu ya ehehehe

  7. Elisa November 18, 2014 pukul 11:32 am

    Wah cincha sdaebak..perkelahian yg lucu…
    D tunggu next part a…
    Faighting…

  8. kristienuuna November 18, 2014 pukul 4:04 pm

    kamar “kami”??
    kyaaa… \(^o^)/ g sabar nunggu part 4 na Retno..
    makin seru.. apaLagi uda ada yang ngerasa kecanduan ama poppo na Sso..
    hahahahahaa..😀

  9. dewi November 18, 2014 pukul 8:54 pm

    penasaran sm next part nya
    terus berkarya ne

  10. Devi November 19, 2014 pukul 1:00 am

    wahhhhhh leeteuk oppa main nyosor zh nich padahlkn leeteuk oppa benci bangeeet ma eonnie so eun tpi main ngekiss zh,,,,,,,
    kakek leeteuk oppa brusaha bangeeet y bwt ngedeketin eonnie so eun ma leeteuk oppa,,,,,,
    tpi lucu ma kelakuan’a kakek’a leeteuk oppa saat dilarang ini itu ma eonnie so eun ,,,,,,,
    dtunggu kelanjutan’a,,,,

  11. ria November 19, 2014 pukul 4:26 am

    Keren, akhirnya muncul juga
    lumayan lah part soeun sama jungsoo di sini, tapi masih kurang banyaj next partnya d tunggu ya

  12. Kim Ra rA November 19, 2014 pukul 5:25 am

    ah~ paling suka nih sama c kakek Park.

    jung sso mati kutu tuh akibat ulahnya sendiri. pesona si mungil sso emang sudah tidak doradgukan lagi. bahkan seorang prajurit pun harus mengaku kalah sama si cantik satu ini
    seru…seru…seru…
    Part 4 I’m waiting

  13. gadung melati November 19, 2014 pukul 6:34 am

    wow akhrny kissu jg ^ ^ wah2 sso ampe meleleh n teukie mw lg dan lg😛 kekeke~ kakek mang jjang…jjang… ayo kek terus dktin mreka brdua ^ ^
    nie si teukie kpn sadarny sich kekeh bgt klo sso it cm pngen uang aj 😦 ouh kesel bgt gemes deh pngen getok tuh kepala #dtabok author# kekeke~ piss :v sbenerny teukie nie g sadar klo dlm hatiny tuh ud suka ma sso tp ketu2p ma keras kepalany ^_^)Y
    eh da pesta dansa g sbr gmn entr pas dsn n klanjtan hub teuksso yg lbh lanjt *yadong kumat* hahahaha ^_^)Y
    lanjut thor mkin seru critany >:-<

  14. anna November 19, 2014 pukul 10:42 am

    bguus,,sk dgn reaksi&tnggapan sso,,jungsoo nie negativ thingking mlulu,,klo sdar dgn knytaany bkaln lgsg bertekuk lutut tuuuu

  15. gg November 20, 2014 pukul 1:11 am

    akhirnya aku balik dr pertapaan😀 hehehehee
    paling suka part ini hahaha
    akhirnya smua alur critanya kliatan jelas
    suka suka suka suka❤

  16. fionnatan November 20, 2014 pukul 5:12 am

    wah kayaknya jung soo jatyh cinta deh sama sso senangnya.lanjutkan lagi thor makin seru…….

  17. AngelsShe~ November 20, 2014 pukul 12:50 pm

    Seneng banget ngeliat jung soo oppa sama eunie So berdebat🙂
    kakek teruskan aksi mu terhadap tukSso😉

  18. mizanafidaus November 20, 2014 pukul 1:46 pm

    leeteuk masih aja ga percaya sama sso, padahal sso udah baik mau njaga kakeknya…
    ya ampun jungsoo main nyosor aja, tuh kan jadi malu ketahuan sama kepala maidnya…
    ih jungsoo ketagihan pengin cium sso mulu, jangan mesum deh😀
    jadi penasaran gimana mereka tidur dalam satu kamar kekeke~

  19. afifmuizzakaiffahizzati November 21, 2014 pukul 11:23 am

    Ha! Kebohongan Sso eonni yang melibatkan Jungsoo. Tapi sebenernya itu kebohongan yang bagus lho. Jadi, kan kesannya Jungsoo gak ngelupain kota asalnya. Tapi kenapa Jungsoo kok kesannya gak suka gitu? :-v Aneh, kau bang…

    Aku tahu kisseu tadi cuma akal-akalan biar gak ketahuan Bibi Young Ae, kan? Supaya dia nganggep mereka emang suami istri yang punya hubungan baik dan mesra. Hedeuh.. -_- Bang, senjata makan tuan tuh. Jadinya malah inget terus. Aksi pura-puraannya semestinya dijagain dong. Ini malah ngaruh sama perasaan. Galau galau deh sana. Sama-sama bingung sama perasaan masing-masing.

    Aku ngerti perasaan Jungsoo di meja makan saat ngeliat Kakek ngomong sama Sso eonni. Seharusnya dia yang lebih akrab sama Kakek berhubung dia cucunya. Tapi nyatanya yang ‘jauh’ lebih akrab malah orang lain yang dianggapnya sudah membodohi Kakek.
    Hh… -_- …
    Aku suka tiap kali mereka cekcok. #plak (aneh lu!) Rasanya pengen ketawa mulu. tiap ada scene gitu. >__< ^_^😀

  20. princess ice November 27, 2014 pukul 1:20 pm

    makin seru… next unn

  21. Ne yan Desember 22, 2014 pukul 11:57 am

    Huaaaaaaa so eun kudu sabar-Sabar menghadapi kakek & cucu nih…
    Kakek aku doakan yaaa semoga ‘Meraka’ segera membuatkanmu cicit yaaaaa…
    Haha Next part yes.

  22. Rani Annisa Februari 13, 2015 pukul 2:22 pm

    lucu banget pasangan ini saling keras kepala,, tapi akhirnya kiss juga 🙂

    wah kakeknya jung soo mengalihkan perhatian..

    next part

  23. srianjani55 Mei 12, 2015 pukul 12:38 am

    Thoor daah lma nih ff ga di lanjut padahal bgs bngt looh thoor
    ayoo thoor semangaaaat di lanjutin yaaaaah
    fightiiiiiiiiiiing……!!!

  24. dawu azhar Mei 29, 2015 pukul 4:44 pm

    Wuaah, keren ceritanya
    Suka adegan jung soo yg tiba2 mencium demi mengelabui para pelayan nya
    Kayaknya jung sso dan so eun udah mulai ada rasa nie
    Di tunggu part selanjutnya 😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: