RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

Girl In A Vintage Dress [Part 3]


cover depan1small

Rated: M

Cast: Kim So Eun, Lee Dong Hae

WARNING: FF ini merupakan remake novel terjemahan yang berjudul GIRL IN A VINTAGE DRESS, karya Nicola Marsh. FF ini 90% murni bukan milik saya, berhubung novel ini merupakan terjemahan maka nama dan tempat disesuaikan dengan cast asal korea.  Happy Reading!?^^

Girl In A Vintage Dress [Part 3]:

SO EUN BENAR-BENAR butuh secangkir teh yang menenangkan, dan ia baru saja menyalakan cerek ketika Goo Hye Sun kembali dari istirahat, wajahnya merona dan tangannya menutupi dada.

“Apakah itu sang Lee Dong Hae yang baru saja keluar?”

Hye Sun menjulurkan kepala, berusaha melihat sekali lagi, sementara So Eun mengerutkan hidung, lebih dari bahagia hanya dengan memandang punggung pria itu.

“Apa yang dia lakukan di sini? Dia sangaaaaaaat keren! Bujangan paling diidamkan di Daegu selama tiga tahun berturut-turut. Tidak heran, dengan matanya yang indah, kulit putih, senyum indah, dada bidang, bokong seksi…”

“Cukup.”

So Eun sama sekali tidak ingin mendengar rekan kerjanya mendaftar atribut mengagumkan pria itu. Sayangnya, ia sendiri juga langsung menyadari semua atribut tersebut, dan rasa gugupnya belum juga hilang meskipun pria itu sudah keluar dari toko.

Hye Sun menarik napas, matanya bersinar-sinar dan ia bertepuk tangan. “Katakan. Apa yang dia lakukan di sini?

Sejenak So Eun ingin menggoda sahabatnya, tapi tidak mungkin Hye Sun percaya Dong Hae berada di sini selain untuk pekerjaan. Seolah-olah pria seperti Dong Hae bisa tertarik pada gadis seperti dirinya untuk alasan lain.

“Dia ingin menyewa jasa kita.”

“Aku bisa memberikan jasa…”

“Adiknya akan menikah dan dia ingin Go Retro mengadakan pesta lajang untuk sang adik.”

“Keren.”

Hye Sun bergeser ke dapur kecil itu, meraih cangkir bertuliskan “Aku sangat seksi” favoritnya dan menaruhnya di sebelah cangkir So Eun. “Sementara kau melakukan keahlianmu dengan si calon pengantin dan teman-temannya, aku akan menjamu Dong Hae.”

Hye Sun berjoget sedikit saat menyendokkan kopi ke dalam cangkir. “Ini pasti asyik.”

“Memang,” kata So Eun, menahan senyum. “Meskipun pekerjaan ini bakal sedikit berbeda.”

“Kenapa begitu?” Hye Sun menambahkan gerakan bahu pada tariannya. “Apakah Dong Hae ingin aku menginap? Membereskan persiapan penting untuk pesta lajang itu? Karena aku bersedia, kau tahu. Aku tipe gadis yang sangat berdedikasi demi menyelesaikan pekerjaan, apa pun tuntutannya dan…”

“Bukan kau. Aku.”

Sering kali So Eun harus memotong ucapan sahabatnya. Jika tidak, pertanyaan sederhana bisa-bisa mendapat jawaban sepanjang lima menit.

Kali ini, ia menikmati kerut kebingungan di alis Hye Sun.

“Kau?”

Cerek mati secara otomatis dan So Eun menuangkan air mendidihnya ke dalam cangkir mereka.

“Hanya aku yang menginap.”

Rahang Hye Sun terbuka lebar, mulutnya tampak seperti lingkaran berwarna merah mengilap.

Sambil menikmati kebisuan sementara temannya – itu tidak akan bertahan lama – So Eun mengayunkan kantong tehnya.

“Dia bersedia membayar biaya penyelenggaraan pesta lajang selama seminggu penuh untuk adiknya, tanpa batasan biaya. Jadi sementara aku mengerjakan pesta itu, kau di sini menjalankan toko.”

Hye Sun mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

“Ayolah, Hye Sun, kita satu tim. Aku mengurus pesta, kau mengelola toko saat aku tidak ada. Begitu.”

Sudut bibir Hye Sun melengkung. “Yeah, aku tahu, tapi membayangkan dirimu, bukannya aku, yang akan berdekatan dengan bujangan paling diidamkan tahun ini. Itu membuatku sangat iri.”

“Aku tidak akan berdekatan secara pribadi dengan siapa pun.”

Apalagi dengan pria sombong dan gila kerja yang tidak bisa membedakan kotak penyimpan topi dengan pengeriting rambut. Mereka sama sekali tidak punya kesamaan dan fakta bahwa So Eun bahkan memikirkan hal ini berarti ia harus segera kembali bekerja sebelum Hye Sun membuatnya semakin gugup.

Dan So Eun memang gugup, bahkan ketakutan, karena ia berjanji akan bertemu Dong Hae beberapa jam lagi untuk menyusun rencana acara.

Ketakutannya tidak berkaitan dengan kurangnya rasa percaya diri terhadap pekerjaan, tapi sangat berkaitan dengan reaksi fisik irasional dan tak menentu yang membuat denyut jantungnya berpacu lebih cepat meskipun pria itu hanya menatap dirinya.

Hye Sun mengedipkan sebelah mata dan menepuk sisi hidung.

“Tentu saja, kau akan berkonsentrasi bekerja dan melupakan fakta bahwa bujangan terseksi di Daegu selalu mengamatimu. Coba pikirkan, dengan banyaknya sesi konsultasi pribadi untuk memastikan pesta lajang itu berjalan lancar, pertemuan larut malam, percakapan yang nyaman…”

“Bukankah kau harus mendandani maneken?”

Senyum Hye Sun melebar. “Oh ya, kau memang tak sabar ingin segera mengerjakannya.”

So Eun memang tidak sabar, tapi bukan karena alasan yang dipikirkan Hye Sun. Mungkin sebenarnya ini hanya pekerjaan biasa, tapi kenyataannya jauh berbeda. Pria seperti Dong Hae, yang berada di kalangan orang kaya, memiliki harapan berbeda terhadap orang lain. Bagaimana jika pekerjaannya tidak cukup baik? Bagaimana jika dirinya tidak cukup baik?

Dan itulah yang paling mengganggu So Eun, bahwa ia akan kembali berada dalam kondisi menyedihkan dan mengecilkan hati seperti ketika ia tumbuh dewasa.

“Ingin dibantu memilih pakaian?”

So Eun menyesap teh dan menghela napas lega. “Maksudmu pakaian untuk pesta?”

Hye Sun menangkup tangan di cangkir dan mengangkat alis.

“Sayang, kemungkinan besar kau akan bertemu pria paling seksi di Daegu secara rutin selama seminggu penuh. Siapa peduli permainan kostum seperti apa yang akan dilakukan gadis-gadis itu? Kaulah yang perlu memesona.”

Dazzle.

Tangan So Eun gemetar saat menggenggam cangkir lebih erat. Pemikiran bahwa beberapa jam lagi dirinya akan bertemu Dong Hae di Dazzle, tempat kerja pria itu, menimbulkan sensasi aneh, seolah ada banyak kupu-kupu beterbangan dalam perutnya.

Setelah menyesap kembali teh penenang dan menyadari minuman itu tidak berpengaruh pada rasa gugupnya yang kian meningkat, So Eun menuang sisa teh ke bak cuci piring dan membilas cangkirnya.

“Bisakah kau menjaga toko selama beberapa jam sementara aku ke atas dan mengerjakan perencanaan serius untuk pestanya?”

“Tentu, ini akan jadi latihan yang bagus jika nanti aku menjaga toko sendirian selama seminggu saat kau malah bersenang-senang bersama si tampan Dong Hae.”

“Bukan begitu,” kata So Eun, sambil tersenyum masam memikirkan dirinya bersenang-senang bersama pria seperti Dong Hae.

Hye Sun menyilangkan kaki sambil bersandar di kulkas. “Lalu nanti bagaimana?”

“Aku akan memberitahumu akhir minggu nanti,” jawab So Eun, tersenyum lebar ketika Hye Sun menjulurkan lidah, suara ejekan yang kekanakan terdengar di belakangnya saat ia menaiki tangga.

*****

Dong Hae memandangi layar komputer, berusaha memahami sejumlah besar informasi tak masuk akal di website Go Retro agar dirinya siap untuk pertemuan dengan So Eun.

Tapi semakin keras ia berusaha konsentrasi, kata-kata di depannya semakin memudar, perhatiannya terus-menerus tersangkut pada gambar kecil sang pemilik Go Retro di pojok kanan atas.

Gaun merah berpotongan leher rendah seolah membalut pinggang wanita itu dengan begitu pas, rambutnya tergerai seperti gelombang yang halus di sekeliling wajah yang didominasi mata lebar serta bibir berwarna merah pekat.

Wanita itu tampak mengagumkan; tapi gambar tersebut tidak sepadan.

Kim So Eun lebih cantik dilihat langsung.

Dong Hae jelas tahu. Ia menghabiskan beberapa jam terakhir untuk mengingat kembali pertemuan mereka: cara bibir So Eun mengerucut saat dia tidak senang, antusiasmenya saat menyita ponsel milik Dong Hae, caranya membasahi bibir dengan gugup saat jari mereka bersentuhan.

Wanita itu benar-benar bukan tipenya, namun ada momen saat dirinya berada di dalam toko itu, dikelilingi begitu banyak pita dan peluit, ketika Dong Hae menginginkan So Eun.

Interkom di meja Dong Hae berbunyi dan ia menekan tombol kembali ke laman awal. Sudah cukup Kim So Eun mengalihkan perhatiannya untuk sehari.

“Ada apa, Chae Won?”

“Adikmu ingin bertemu.”

“Biarkan dia masuk.”

Dong Hae sangat suka bagaimana Se Na sering mampir menemuinya di sela-sela kesibukan, dan hari ini ia bahkan lebih senang. Adiknya mungkin tidak menginginkan pesta pernikahan yang mewah, tapi Dong Hae akan memastikan Se Na menyukai hadiahnya.

Dong Hae berdiri dan berjalan ke tengah ruang kerja ketika Se Na masuk, setelan bisnis hitam yang tak berkerut, tatanan rambut dan makeup-nya tampak rapi untuk gadis yang sepuluh jam lalu baru menghadapi pengadilan.

Sejak dulu Dong Hae bangga pada Se Na dan semua pencapaiannya. Meskipun kini adiknya akan menikah, Dong Hae tidak bisa membayangkan apakah Se Na harus memasukkan pernikahan di antara jadwal-jadwal lain dalam agendanya yang rapi itu.

“Hei, Dik. Senang sekali kau bisa datang.”

Dong Hae mengecup pipi adiknya, tersenyum saat Se Na tidak berhenti untuk mencapai meja Dong Hae dan mulai mencari-cari.

“Mana kejutan yang kausebut di telepon tadi?”

“Ah… jadi itu alasannya kau mampir. Padahal aku mengira kau kangen pada kakakmu yang luar biasa ini, yang belum sempat kautemui selama seminggu.”

“Aku tidak punya waktu, jadi langsung saja ke intinya.”

Se Na memperhalus nada kerasnya dengan senyum jail, senyum yang selalu ia berikan setiap kali menggunakan kalimat sama itu; sudah sejak lama ia menyuruh kakaknya agar bicara langsung ke intinya.

“Baiklah. Aku tidak akan membuatmu bosan dengan detailnya, jadi begini singkatnya.”

Dong Hae bersandar di meja, membuat dirinya senyaman mungkin. “Kau ingat bahwa kau sudah mengosongkan jadwal selama sebulan untuk persiapan pernikahan?”

“Yeah, aku tidak tahu bagaimana Si Won berhasil membujukku melakukannya.” Se Na menghela napas dengan ekspresi dilebih-lebihkan, tapi sudut bibirnya melengkung membentuk senyum yang bertentangan dengan kekesalannya. Choi Si Won satu-satunya pria yang hampir menaklukkan adik Dong Hae yang keras kepala, dan fakta bahwa Si Won berhasil mendorong Se Na mengambil cuti satu bulan penuh dari pekerjaannya yang berharga bisa dibilang merupakan keajaiban.

“Aku sudah bicara dengan Si Won dan dia memberiku izin untuk mengambil waktumu selama seminggu.”

Se Na memberengut dan menatap tajam pada Dong Hae dari atas kacamatanya yang tak berbingkai.

“Bukan berarti Si Won bisa mengatur apa yang aku lakukan dan bagaimana aku menghabiskan waktu, tapi apa maksudmu?”

Sambil tersenyum lebar, Dong Hae memutar layar komputer. “Aku mengadakan pesta lajang untukmu, Dik. Bukan hanya semalam, tapi seminggu penuh.”

“Kau gila…” Sisa protes Se Na menghilang ketika ia mulai fokus ke layar komputer, kilatan antusiasme tampak jelas saat ia melihat halaman depan situs Go Retro.

“Wah, lihat pakaian-pakaian itu,” gumamnya, mendekat ke layar komputer, menyipitkan mata agar dapat melihat lebih jelas.

“Kau memang akan melihat semuanya,” kata Dong Hae, menarik kedua kursi agar mereka bisa duduk. “Aku tahu kau suka benda-benda kuno seperti ini dan kau tidak akan punya waktu untuk melihatnya sendiri, jadi aku akan menculikmu dan sekumpulan orang bodoh yang kausebut teman itu. Lalu aku akan mengurung kalian di Dongseongno milikku selama seminggu, dengan pesta lajang buatan Go Retro yang takkan mungkin bisa kau lupakan.”

Saat mengalihkan pandangan dari layar, Se Na menatap Dong Hae dengan membelalak.

“Kutarik kata-kataku. Kau tidak gila. Kau sinting sepenuhnya. Bagaimana mungkin… dari mana kau mendapatkan ide ini… aku tidak percaya…”

Dong Hae menertawakan Se Na yang kehabisan kata-kata, sesuatu yang tidak pernah terjadi pada adiknya.

“Anggap saja itu hadiah pernikahan dariku.”

Dong Hae mengacungkan jempol ke arah layar, lega karena berhasil  mengalihkan perhatian Se Na. Sejak kecil Se Na memiliki mata yang tajam terhadap seni dan kemampuannya semakin baik ketika dewasa. “Kau dan Si Won memiliki segalanya, jadi ini hadiah spesial yang tidak akan bisa kaubeli sendiri.”

Ketika Se Na tetap diam, rasa cemas memuncak dalam diri Dong Hae. Se Na satu-satunya saudara yang ia miliki, satu-satunya orang yang ia pedulikan di dunia dan ia akan melakukan apa pun untuk membahagiakan Se Na.

Se Na telah melakukan banyak hal ketika Dong Hae tumbuh dewasa: Se Na seolah menjadi rumahnya, menjadi keluarga ketika orangtuanya terlalu sibuk mendoktrin murid-murid mereka daripada mengurus anak-anak yang menunggu mereka pulang dengan perasaan tak menentu setiap malam.

Berapa banyak malam yang Dong Hae lewatkan bersama Se Na dengan membuat nasi campur, belajar, menonton siaran ulang kartun hingga tertidur sementara orangtua mereka belum juga pulang dari universitas nasional Kyungpook? Jawabannya terlalu banyak dan kedekatan mereka bukan hanya karena ikatan darah, namun juga ketergantungan satu sama lain.

“Ayolah, Dik, katakan sesuatu.”

Kali ini ketika Se Na menatap Dong Hae, setiap otot di tubuh Dong Hae merileks, karena bukan air mata kemarahan yang mengalir di mata Se Na. Itu air mata bahagia.

“Ini hadiah paling hebat yang pernah kudapat, dan aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu.”

Se Na menghambur dalam pelukan kakaknya dan mendekap erat hingga Dong Hae sulit bernapas, keduanya tertawa saat melepaskan diri.

“Jadi aku bisa bermain-main dengan semua pakaian indah itu selama seminggu?”

Yeah, dan berbagai benda lainnya, yang akan kuberitahukan padamu begitu aku selesai menyusun jadwal acara bersama So Eun.”

“So Eun?”

Dong Hae langsung menjaga nada suaranya agar bebas dari emosi; tapi sepertinya agak terlambat jika kerutan alis Se Na memiliki arti tertentu.

“Kim So Eun, pemiliknya. Dia yang akan mengatur pesta lajangmu.”

Pandangan menyelidik Se Na seolah menembus Dong Hae. “Tidak bisa dipercaya, wanita yang memiliki toko seperti itu mau meluangkan waktu seminggu untuk mengadakan pesta pribadi.”

“Itu bagian bisnisnya, mengadakan pesta.”

Dengan pekerjaan sampingan merampas ponsel dan menarik perhatian pria.

“Baiklah.” Se Na mengetuk bibir bawahnya dengan jari yang dimanikur sempurna. “Kenapa aku merasa kau tidak mengatakan semuanya padaku?”

“Karena pada dasarnya kau mudah curiga?”

Dong Hae memutar kembali layar komputer ke arahnya, dan mematikan laptop.

“Jadi sekarang kau sudah tahu rahasia besarnya, silahkan kembali ke kantor kacamu di langit dan gugat beberapa perusahaan lagi.”

Ketika Se Na mulai membuka mulut untuk protes, Dong Hae mengangkat jari untuk menahan ucapan adiknya.

“Tapi ingat, dua minggu dari sekarang, siap-siaplah berpesta.”

Dengan senyum menyesal, Se Na menepuk pipi Dong Hae dan menuju pintu, jemarinya sudah menempel pada ponsel dan memerika e-mail dari klien.

Mereka sangat mirip: sibuk, penuh motivasi, ambisius, dan sukses menghadapi tantangan bisnis.

Pengacara dan CEO; sangat jauh berbeda dari orangtua mereka, dosen Sastra Inggris.

Dong Hae sering berpikir apakah hal itu yang mendorong mereka – keinginan terpendam untuk menjadi berbeda dari orangtua yang tak pernah peduli pada anak-anaknya.

Hal itu jelas mendorongnya memasuki industri yang penuh kesenangan, pesta, dan keceriaan, berada sejauh mungkin dari masa kanak-kanak dan keangkuhan akademis orangtuanya.

Bukan berarti ia dan Se Na pernah membahasnya. Mereka masih melakukan kunjungan wajib pada hari ulang tahun dan Natal, berbasa-basi dengan orang-orang yang terasa lebih seperti orang asing daripada keluarga sebelum terbebas lagi selama beberapa bulan berikutnya.

Meskipun pada setiap kunjungan itu ia berharap orangtuanya menunjukkan sedikit kepedulian: pada kariernya, kesuksesannya, dan kehidupannya. Itu memang harapan sia-sia, mengingat orangtuanya masih terus sibuk dengan murid-murid, jadwal mengajar, dan diri mereka sendiri, selalu begitu urutannya.

Apa pun motivasi yang mendorong dirinya dan Se Na, Dong Hae bangga pada pencapaian mereka. Sambil mengusap wajah, Dong Hae membuka layar laptop dan perhatiannya kembali tertuju pada foto So Eun.

Waktunya berkonsentrasi pada hal yang lebih penting; misalnya mencari tahu apa rencana si manis Kim So Eun untuk pesta lajang Se Na.

Dan mencari penjelasan logis kenapa wanita itu membuatnya begitu tertarik.

 cover tbc1small

NB: Saya hanya ingin memberitahukan bahwa FF yang diremake novel ini memang bukan penulisan saya, atau karakter saya. Karena saya tidak menciptakan ide cerita ini, hanya mengubah nama dan tempat dari novel terjemahan tersebut. Jadi kalo ada yang merasa kurang paham dengan bahasanya maupun yang lain itu karena bahasa di novel memang agak tinggi, jadi dibaca baik-baik ya ^^

26 responses to “Girl In A Vintage Dress [Part 3]

  1. vaaani November 19, 2014 pukul 5:50 am

    shock
    disini ndak ada haesso
    segeraaaaaaaaaaaaaaaaaa haesso bertemu dan
    dag dig dug deeeeeer
    menanti mereka lagi,, segera retno

  2. HaeNy Choi93 November 19, 2014 pukul 6:02 am

    Uh! Mereka sudah saling tertarik. Tapi masih menyangkal.

    Jadi semangat Nunggu HaeSso berinteraksi nih.. Retni Eonni…
    Dtunggu ya.. Part selanjutnya. Fighting!!

  3. Kim Ra rA November 19, 2014 pukul 6:47 am

    aciiiieeeee ternyata yang kena efek “kepikiran terus” (?) bukan cuma Sso ternyata Hae nya juga…

    kasian hye sun gak bisa berdekat dekatan sama pria idamannya.
    Gak sabar dengan seminggu pertemuan mereka nanti

  4. lovelysso November 19, 2014 pukul 7:28 am

    ya iyalah donghae emang wajib mikirin sso secara soeun ntu imut, manis, elegant n berkarisma(menurutku juga he..he). jd nanti selama seminggu sso akan intens ketemu donghae ya?woow apa yg akan terjadi nanti?next partnya tetap ditunggu, aza..aza..keep writing!!

  5. dewi November 19, 2014 pukul 10:00 am

    kyaaa couple favoritkuu
    keren bikin penasaran bgt
    next part ditunggu
    fighting

  6. gadung melati November 19, 2014 pukul 10:58 am

    sso hbs ktm ma hae msh aj gugup ma kebayang2 terus wajah ganteng ny imbas dr pesona ikan nie ^_^)Y kekeke~
    tp g cm sso yg gegana trnyt hae jg sm byng2 sso yg manis nyempil d otakny n g mw pergi :-O hahaha ^ ^ jd g sbr mw tau ntr pas pesta lajangny sena, gmn haesso nanti brinteraksi mengatasi rasa tertarik mreka *^o^* kyaa…kyaa… g sbr nunggu part slanjtny 😀

  7. Puspa Kyukyu November 19, 2014 pukul 11:07 am

    Cieeee… Donghae cieeee…
    Tertarik Lo Ngek sma si Eneng pemilik Toko Go Retro ?😉😉
    cieeee.. *cemburu saya* #Plaaaakkk

    ayo…ayo.. Next part Soeun ketemu sma Donghae lagi dong ?
    Jangan sampe ntar si Donghae merhatiin Soeun ketimbang penjelasan tentang pesatnya -_-“

  8. winzzlee November 19, 2014 pukul 1:51 pm

    Secara ga sadar mereka udah saling tertarik jd g sabar nunggu pertemuan selanjutnya haesso.

  9. mianuneo November 19, 2014 pukul 2:31 pm

    yakkkk makin asik aja bih ff! ditunggu romance haessonya😀 . update SOON yakkk

  10. kristienuuna November 19, 2014 pukul 3:10 pm

    aigoo aigoo..
    CEO Lee seperti na sedang mengaLami cinta pada pandangan pertama nech..
    aseek.. ^^ d tunggu pertemuan kedua na ya Retno..
    daLam seminggu “apapun” bisa terjadi kan??
    hahahahahahahaa..😀

  11. Devi November 19, 2014 pukul 5:05 pm

    emhhhhh kayak’a eonnie so eun mulai terpesona ma haeppa,bgitu jg sebalik’a haeppa jg terpesona ma eonnie so eun,,,,,,

    haeppa perhatian bangeeet ma adik’a ampe d biayain pesta lajang adik’a,,,,

    d tungggu kelanjutan’a,,,,

  12. gg November 20, 2014 pukul 1:17 am

    part ini agak kurang greget kakkk, tau knapa? soalnya scene soeun donghaenya dikit hahahahha #modus :d keep going ya kakkkkk
    gak sabar waktu pesta lajangnya ntar?
    bakal ada something gak antara soeun donghae😉

  13. AngelsShe~ November 20, 2014 pukul 10:53 am

    Makin penasan dengan kelanjutan nih epep😉
    Momen haeSsox ditunggu ^_^

  14. hellolina97 November 20, 2014 pukul 11:14 am

    Donghae benar2 jd pria sexy di ff remake iniii. whahahhaa.. apa ? salah satu kerjaan Soeun menarik perhatian pria ? salh pria nya sendiri knp jd tertarik :p.
    hye sun irii nih sma Soeun, secara soeun akan menghabiskan waktu seminggu bersama Donghae😀.
    eehmm, jd calon suami se na itu siwon

  15. sukhwi November 20, 2014 pukul 1:40 pm

    ga sabar pengen liat Donghae yang klepek klepek sama gadis si pemilik toko ..kkkk~ dan sepertinya bukan hanya Donghae deh..So eun juga yang sudah tertarik ma si sexy Donghae..:)

  16. mizanafidaus November 20, 2014 pukul 1:51 pm

    mereka sama2 deg2an ya mau ketemuan, padahal soal kerjaan hahaha…
    jadi penasaran gimana pertemuan kedua mereka…

  17. AngelFish November 20, 2014 pukul 2:24 pm

    Kyaaa akhirnyaa part 3 padahal kemaren mau bacaa ehh sinyal carii lawan pulaa -,- ciee donghae udah mulai digdugdigdug🙂 Ditunggu nextpart thorr😀

  18. afifmuizzakaiffahizzati November 21, 2014 pukul 11:47 am

    Ehehehe…😀 Gak bisa gak senyam-senyum baca part ini. Berapa kali aku nahan senyum biar gak dianggep temen aku gila. -_-
    Lucu. Jelas-jelas mereka saling tertarik tapi masih nyangkal hal itu dan bodohnya malah berusaha mencari tahu apa penyebab pikiran mereka selalu berputar pada masing-masing. Hello? You know, that’s what called with love at the first sight! #mulai_stres >__< ^_^😀
    Semangat, ya Mbak Retno!😉

  19. afifmuizzakaiffahizzati November 21, 2014 pukul 11:49 am

    Ya! Kok komenku malah kepotong?😦 *nangis-nangis* Oke, maaf agak lebay.. Bye.. *nangis lagi*

  20. anna November 21, 2014 pukul 1:51 pm

    tiktoktiktok hae mulai jth hti nie ke sso,,gmn nie interaksi haesso slnjtny smg prtemuan mrk lbh mnyenangkn,

  21. Elisa November 22, 2014 pukul 5:30 am

    Wah chincha….sso unie tertarik ma hae oppa..?hae berjuang…
    Untuk author a faighting ..d next part a..d tunggu bnget…

  22. Safriyanti November 23, 2014 pukul 3:50 am

    Trnyta bg ikan jg tertrik ma sso,,,
    hhehehehehe
    kyak,a sipunya toko,a lbih memikat dr pd pesta,a,,
    pnsran pas haesso ktmu gmna

  23. Choi Shinae November 24, 2014 pukul 1:23 pm

    wah semakin menarik. penasaran bakal kaya apa pestanya dan juga haesso moment nya =^^

  24. Endang haesso November 27, 2014 pukul 5:23 am

    Wah haesso ada sesuatu nih dlm hati msng2,tp syng part ini ga ada scene haesso,tp ttp sll keren crt’a jd ga sbr next part’a.

  25. leekhom Desember 25, 2014 pukul 12:41 pm

    kerennnnn… meski baru bc dipart 3 tp nyambung ajalah …

  26. Rani Annisa Februari 15, 2015 pukul 8:49 am

    wah haesso bakalan bertemu,, makin penasaran gimana reaksi mereka kalau saling bertemu..

    next part

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: