RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

The Billionaire’s Housekeeper Mistress [Part 3]


cover depan1small

Rated: M

Cast: Kim So Eun, Lee Hyuk Jae (Eun Hyuk)

WARNING: FF ini merupakan remake novel terjemahan yang berjudul THE BILLIONAIRE’S HOUSEKEEPER MISTRESS, karya Emma Darcy. FF ini 90% murni bukan milik saya, berhubung novel ini merupakan terjemahan maka nama dan tempat disesuaikan dengan cast asal korea.  Happy Reading!?^^

The Billionaire’s Housekeeper Mistress [Part 3]:

Pikiran So Eun masih terguncang. Jantungnya melompat lebih cepat daripada balap kuda mana pun. Tak lama lagi majikannya akan marah besar dan ia akan menanggung beban akibat dari amarah tersebut. Lee Hyuk Jae orang yang terlalu penting untuk menanggung konsekuensi dari serangannya demi membantu So Eun.

Mengapa ia melakukannya?

Mengapa, mengapa, mengapa…?

Bahkan jika maksudnya baik, harusnya ia tahu, So Eun yang akan terkena akibatnya. Hyuk Jae hanya tidak peduli. Hal itu tidak akan memengaruhi hidupnya. Ia tak tersentuh. Kemarahan karena kemauannya tidak dituruti So Eun dilampiaskan pada Park Shin Hye. Tanpa peduli So Eun-lah yang akan menanggungnya – dasar lelaki sombong, egois! So Eun sudah menjelaskan situasinya pada Hyuk Jae, memohon supaya diizinkan pergi, tapi sekarang lelaki itu malah membuatnya berisiko kehilangan pekerjaan – pekerjaan yang harus dipertahankannya, atau ia akan melihat rumah orangtuanya disita karena bangkrut tak punya uang sepeser pun.

Rasa panik mengalir ke lambung So Eun saat majikannya mulai mengambil napas, siap memuntahkan amarahnya yang kejam. Mata jahat itu menusuknya tajam. Serangan itu bagaikan bola api panas yang bergulir cepat.

“Beraninya kau mengeluhkan perlakuanku padamu, dasar sapi kecil tak tahu terima kasih!”

“Saya tidak melakukannya, sumpah, tidak!” gumam So Eun.

“Aku berbicara berdasarkan apa yang kulihat,” Lee Hyuk Jae memotong.

Tapi perkataan Hyuk Jae tidak membantu. Justru memperburuk keadaan ribuan kali lipat. Mendapat kritikan pribadi dari lelaki itu sangat menyinggung harga diri Shin Hye. Ia menoleh kepada Hyuk Jae dengan amarah memuncak, mungkin berpikir penawarannya kepada lelaki itu untuk memperbaiki keadaan finansialnya telah disabotase, dan So Eun tahu ia yang akan disalahkan, tak peduli apa pun yang dikatakan Lee Hyuk Jae.

“Aku menggajinya untuk melakukan perintahku. Aku sama sekali tidak memperbudaknya, aku jamin,” desisnya kepada Hyuk Jae, tubuhnya mendidih.

“Dengan pengecualian, kau menyuruhnya menjauhiku,” tukas Hyuk Jae. “Dan cara itu tidak berhasil. Nah…”

Amarah Shin Hye meledak. Ia memotong perkataan Hyuk Jae dan mulai mendamprat So Eun, “Dasar gadis tolol! Apa kau tak bisa menjaga rahasia, tak punya otak, hah? Perlu kuingatkan, kau telah menandatangani pasal kerahasiaan di kontrak kerja untukku. Dan sekarang kau telah melanggarnya, dengan cara terburuk, yaitu melalui mulut bocor tololmu.”

So Eun melakukan pelanggaran kontrak.

Ia tak bisa membela diri lagi.

Apa yang bisa dikatakannya… sifat keras kepala Lee Hyuk Jae membuatnya keceplosan? Bukan alasan yang bisa diterima. Itu artinya ia tidak mengutamakan kepentingan majikannya. Efek kisruh yang ditimbulkan Hyuk Jae pada dirinya begitu memenuhi pikiran sehingga ia tidak memperhatikan apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan.

So Eun berdiri terpaku, hatinya gentar karena diterpa badai, dan keputusasaan melanda saat menyadari ia tak punya harapan kesalahannya akan diampuni atau dilupakan.

Petir itu menyambarnya tanpa terelakkan.

“Kau kupecat! Sekarang juga!”

So Eun merasakan wajahnya memucat.

Suara menggelegar itu terus terdengar. “Dan jangan kembali ke kantor. Aku akan menyuruh orang mengemas barang-barang pribadimu dan mengirimnya ke rumahmu. Dasar mulut bocor!”

Pandangan marah dan muak terakhir Park Shin Hye nyaris tak bisa lagi menembus rasa pening yang melanda kepala So Eun. Bagaikan siaran TV yang habis, punggung mantan majikannya memudar, berubah menjadi titik-titik yang menyemut.

*****

Hyuk Jae menangkap So Eun yang hendak pingsan, merengkuhnya kuat-kuat. Begitulah ia menginginkan So Eun, tapi bukan dalam keadaan lemah dan tak sadar. Ia harus membuat wanita itu tersadar kembali. Ia membungkuk cepat, menaruh lengannya di bawah lutut wanita itu, menggendongnya, menimangnya di dada.

Yang dibutuhkan Hyuk Jae adalah kursi, tempat ia bisa menurunkan So Eun, membaringkan kepalanya agar aliran darahnya lancar, mengambil segelas air, itulah yang dikatakan akal sehatnya. Namun ketika ia mulai menggendong wanita itu menuju kursi, perhatiannya terpecahkan oleh godaan kuat untuk terus menggendongnya keluar dari tenda, menuju limusin, dan melarikannya ke guanya. Ia telah menangkap wanita itu. Dan wanita itu terasa nyaman dalam rengkuhan kedua lengannya. Ia ingin mengeluarkan wanita itu dari kerumunan orang untuk dinikmatinya sendiri.

Masalahnya, mungkin So Eun akan sadar sebelum sempat dinaikkan ke limusin. Berapa lama biasanya orang pingsan? Dan wanita itu bisa jadi akan berulah di hotel sebelum Hyuk Jae sempat membawanya ke kamar.

Tidak, itu ide gila.

Seorang syekh mungkin bisa melakukannya.

Atau bajak laut zaman dulu yang menjadi kapten di kapalnya sendiri.

Bukan Lee Hyuk Jae dalam dunia modern yang secara politis harus benar. Ia harus punya alasan atas tindakannya tersebut.

Namun demikian, Hyuk Jae hampir sampai di pintu keluar tenda ketika berpapasan dengan Si Won. “Hei, Hyuk Jae, kau mau melarikan wanita itu?”

Pertanyaan Si Won menghentikan langkah Hyuk Jae. Ia menoleh kepada sahabatnya yang wajahnya bersinar penuh rasa ingin tahu. “Dia pingsan. Aku sedang mencarikan kursi untuknya.”

“Kau sudah melewati banyak kursi.”

“Aku tidak memperhatikan,” gumam Hyuk Jae. Ia tidak memperhatikan apa pun selain wanita dalam gendongannya – perasaan yang ditimbulkan wanita itu ke dalam dirinya.

“Ke sini,” Si Won mengarahkan sahabatnya ke kursi saat So Eun mulai bergerak dalam gendongan Hyuk Jae, payudaranya yang indah membusung dan menyentuh dada lelaki itu saat ia berusaha menghirup udara.

Hyuk Jae berkata pada diri sendiri otaknya juga perlu asupan oksigen. Keinginannya untuk terus melekat pada tubuh Kim So Eun sama kuatnya dengan keinginan wanita itu untuk mencabik-cabik Hyuk Jae begitu kesadarannya kembali. Hyuk Jae akan menjadi musuh nomor satunya karena telah membuatnya kehilangan pekerjaan, meskipun pekerjaan itu mungkin pantas atau tak pantas dimiliki wanita sepertinya. Membebaskan So Eun dari pekerjaan itu agar bisa bersamanya, bukanlah alasan yang layak dipuji. Tapi entah bagaimana, Hyuk Jae ingin So Eun memandangnya sebagai pahlawan, bukannya pembawa petaka.

*****

So Eun berusaha menguatkan diri dan kembali sadar. Seumur hidupnya, ia belum pernah jatuh pingsan, dan membiarkan Lee Hyuk Jae memanfaatkan kelemahan sesaatnya, mengendalikannya lebih daripada sebelumnya, benar-benar keji. Setidaknya ia sudah tidak digendong lelaki itu. Tubuhnya diletakkan di kursi, dan lelaki itu duduk di sampingnya. Meskipun Hyuk Jae sudah menaruh kepala wanita itu di atas lututnya, So Eun masih limbung dan lelaki itu melingkarkan tangannya di pundak So Eun untuk menahan tubuhnya, yang mungkin dibutuhkan So Eun walaupun ia benci membutuhkan bantuan lelaki itu. Hyuk Jae menghancurkan jalan keluar untuk membantu orangtuanya agar tidak diusir dari rumah mereka.

“Bisa minta tolong ambilkan segelas air untuknya, Si Won?”

Suara Hyuk Jae semakin membuat So Eun kesal karena sarat kepedulian. Setelah kejadian barusan. Kenapa ia tadi tidak sepeduli itu saat dibutuhkan?

“Tentu. Dan ini topinya. Tadi jatuh di jalan.”

Benar-benar penghinaan, lebih daripada apa pun!

Saat segelas air itu tiba, So Eun sudah cukup kuat untuk mengangkat kepala dan menyesapnya. “Terima kasih,” gumamnya kepada lelaki yang membawakan air itu untuknya – Choi Si Won, bujangan lain yang termasuk daftar A, yang tidak perlu mengkhawatirkan sumber uang berikutnya.

“Sekarang aku yang akan mengurusnya,” kata Lee Hyuk Jae, mengusir temannya.

“Oke!” kata Choi Si Won sambil tersenyum lebar kepada temannya. “Jalanilah yang ada! Kejarlah, teman!”

Jalanilah yang ada? Kata-kata itu menjelaskan semua pikiran dalam benak So En. Harinya, pekerjaannya, masa depan yang aman bagi orangtuanya, semuanya telah dirusak oleh Lee Hyuk Jae yang ingin memuaskan keinginannya. Ingin rasanya menyiram wajah lelaki itu dengan segelas air, untuk menyadarkan ego buta yang membuat lelaki itu tak bisa melihat akibat perbuatannya. Tapi apa untungnya?

Keputusasaan serasa meremas jantung So Eun.

“Apakah kau sudah baikan, So Eun?” tanya Hyuk Jae penuh perhatian.

Tak ada yang bisa membuatnya merasa lebih baik. “Cukup sehat jadi kau boleh menyingkirkan lenganmu,” kata So Eun singkat. Ia duduk tegak dan mengeraskan bahunya untuk menunjukkan pada lelaki itu bantuannya tak lagi dibutuhkan. Atau diharapkan.

“Baiklah, tapi kau harus duduk untuk sementara waktu. Mungkin kau sebaiknya makan sesuatu. Apa kau sudah makan siang?”

Belum, ia tak sempat, mungkin itu salah satu penyebab ia pingsan tadi, meskipun ia sudah terbiasa bekerja dengan perut kosong. Tapi sekarang ia sudah tak punya pekerjaan lagi. Dan semua ini salah lelaki itu.

So Eun berbalik menghadap Hyuk Jae, amarah menyembur keluar dari mulutnya. “Sekarang sudah terlambat untuk memedulikanku, Mr. Lee. Kehancuran sudah terjadi.”

Hyuk Jae meringis, tapi tak ada penyesalan dalam mata yang menatap So Eun lekat-lekat. “Park Shin Hye yang merusakmu, membuatmu tunduk pada sikap tirannya.”

“Aku bisa menahannya. Kalau saja kau tak ikut campur, aku masih punya pekerjaan sekarang.”

“Kau tak menyukai pekerjaanmu,” kata Hyuk Jae yakin.

“Lalu apa masalahnya?” teriak So Eun putus asa. “Itu pekerjaan berpenghasilan terbaik yang pernah kumiliki, dan aku butuh uang. Kau tak tahu betapa aku sangat membutuhkannya. Kau mungkin tak pernah mengkhawatirkan uang seumur hidupmu.”

Hyuk Jae tersenyum ironis. “Justru aku menanggung beban mengkhawatirkan uang sepanjang waktu.”

“Banyak uang!” ralat So Eun kasar. “Bukan hidup yang hancur karena tak punya penghasilan.”

Alis Hyuk Jae mengerut. “Tentunya tak seburuk itu, bukan?”

“Amat sangat buruk!” So Eun cepat-cepat menyesap air minumnya. Semburan emosi yang kuat membuat kepalanya pening kembali. Atau mungkin karena lelaki itu duduk terlalu dekat dengannya, sehingga semakin menonjolkan pesona maskulinitasnya yang kuat. Wanita mana pun bisa tenggelam dalam sorot matanya.

“Aku minta maaf. Kurasa lebih baik kau mencari pekerjaan lain,” kata Hyuk Jae dengan setitik rasa bersalah, untuk pertama kalinya.

“Kau sama sekali tidak berpikir,” semprot So Eun kesal. “Kau bukan levelku.”

“Apa maksudmu, bukan levelmu?”

So Eun menyerangnya dengan kenyataan suram. “Level orang-orang berjuang memenuhi kebutuhannya. Ketika lapangan pekerjaan semakin sempit setiap hari. Ketika dipecat dari pekerjaan dapat membuat segalanya hancur berantakan.”

“Apa kau terlibat utang?” tanya Hyuk Jae, tatapan matanya tampak serius dan menyelidik, membuat jantung So Eun berlompatan, berharap lelaki itu benar-benar peduli padanya. Hyuk Jae dapat membereskan keuangan orangtuanya, jika ia mau. Dan lelaki itu memiliki magnet fisik yang mendekatinya lagi.

“Tidak. Ya.” So Eun mendesah sedih. “Orangtuaku. Dan jika aku tidak membayar bunga bank, mereka akan kehilangan rumah. Mereka tak mampu membayarnya. Segalanya bergantung padaku.”

“Wah, dunia sudah terbalik,” komentar Hyuk Jae datar. “Aku pikir generasi Y menjalani hidup terlepas dari orangtuanya, bukan sebaliknya.”

Pria itu tidak tertarik. So Eun merasa dirinya bodoh karena memuaskan pikiran liarnya, walau sejenak, berpikir bahwa orang hebat seperti Hyuk Jae akan datang menyelamatkan rakyat jelata.

“Kau tinggal di planet lain, Lee Hyuk Jae,” sembur So Eun tajam.

“Menurutku, setiap orang bertanggung jawab akan diri sendiri. Jika orangtuamu terlibat utang, harusnya mereka sendiri yang – “

“Kau tidak tahu apa-apa,” bentak So Eun. “Terkadang orang tak dapat mengurus diri sendiri.”

“Oke. Ceritakan kondisinya padaku,” Hyuk Jae membuka kesempatan.

“Lagakmu seperti peduli saja!” Pandangan mata So En seakan menyerang sikap Hyuk Jae yang tak bertanggung jawab. “Kau tak memedulikan konsekuensi yang harus kuhadapi saat kau mengabaikan permohonanku untuk membiarkanku pergi. Kau sama sekali tak peduli menyinggung perasaan atasanku sehingga hilanglah kesempatanku untuk mempertahankan pekerjaanku. Menurutmu, tanpa referensi bagus dari Park Shin Hye, bagaimana aku bisa mendapatkan posisi dengan gaji tinggi? Aku sudah tidak memiliki harapan.”

So Eun membanting gelas di tangannya ke lantai, berdiri, dan merenggut topinya dari tangan Hyuk Jae. “Selamat tinggal, Mr. Lee. Aku tak bisa berkata senang berjumpa denganmu.”

“Tunggu!”

Hyuk Jae berjalan cepat dan menghalangi jalan keluar dari tenda. So Eun tak punya pilihan. Ia berhenti, dan menghadapi pria itu lagi. Ia mengangkat dagunya menantang, dan berkata ketus, “Untuk apa?”

*****

Hyuk Jae belum menyiapkan jawaban. Tindakannya tadi dilakukan semata-mata karena tak ingin So Eun pergi dari hidupnya. Wanita itu benar-benar luar biasa – pipinya kembali merona merah, matanya memancarkan tantangan kejam padanya, sosok kecilnya berdiri tegak untuk melawan. Hyuk Jae teringat kembali akan tubuh So Eun yang lembut, feminin, saat digendongnya. Di tambah gairah yang ia rasakan terpancar dari wanita itu saat ini… pemikiran mendapatkan semua itu dalam pelukannya, memicu hasrat Hyuk Jae.

Sebuah jawaban terbesit dalam benaknya.

Hyuk Jae telah menciptakan situasi yang membuat So Eun menjauh darinya.

Ia harus membalikkan situasi tersebut.

“Aku akan memberikanmu pekerjaan,” kata Hyuk Jae.

Mata So Eun melebar girang, tapi kemudian menyipit penuh curiga. “Sebagai apa? Wanita tukang bersih-bersih?”

Sungguh menyenangkan membayangkannya – So Eun berlutut di lantai, dengan kedua tangannya menggosok lantai, bokongnya bergoyang-goyang seirama gerakan tangannya. Tetapi Hyuk Jae sadar, ia tak mungkin menawarkan pekerjaan seperti itu. Ia memutar akal mencari kemungkinan lain. Ia tidak butuh asisten pribadi. Karyawan di perusahaannya sudah cukup. Tak ada tempat bagi So Eun di sana. Jadi pekerjaan apa yang bisa ditawarkannya, yang tak akan ditolak wanita itu mentah-mentah?

“Kau butuh penyambung hidup, bukan?” kata Hyuk Jae, mengulur waktu sampai menemukan paket pertolongan yang bisa diterima. “Pekerjaan sementara sebelum kau memperoleh pekerjaan yang sesuai?”

“Jika harus membersihkan lantai, aku bersedia, tapi tidak bekerja untukmu,” sumpah So Eun, memberontak. Pinggulnya bergerak naik saat ia berkacak pinggang, semakin menegaskan betapa ramping pinggangnya. “Bekerja untukmu merupakan pilihan terakhirku saat ini.”

Hyuk Jae menahan desahannya. Tuan tanah dan pelayan wanitanya bukanlah gambaran menarik bagi wanita itu. Meskipun ia membungkusnya dengan kertas emas….

“Bagaimana kalau executive housekeeper? Aku belum lama ini membeli rumah, dan baru saja memulai renovasinya. Kau bisa mengawasi pekerjaan para tukang memastikan segalanya berjalan baik. Aku akan memberimu gaji sama dengan yang diberikan Park Shin Hye.”

Pergulatan di mata So Eun tampak bergolak di tengah lautan ketidakpastian yang rapuh – keinginan untuk tidak kehilangan rantai penghasilan berperang melawan segunung keraguan tentang apa yang akan terjadi padanya bila ia menyerahkan diri dalam kekuasaan pria itu. Tenggorokannya kering. Ia berusaha menelan ludah. Dan mengerjapkan matanya dengan berat.

“Apakah kau serius?” tanya serak.

“Ya. Aku minta maaf sudah menyusahkanmu,” kata Hyuk Jae pelan, menyadari wanita itu berusaha keras menahan tangisnya. “Setidaknya yang bisa kulakukan adalah membantumu melewati ini sampai kau bisa berdiri sendiri.”

So Eun menggigir bibir. Bulu matanya merunduk. Ia menunduk. Tangannya terlepas dari pinggang, dan dengan resah ia meremas topi kotak yang ia genggam dengan tangan satunya. “Mungkin baru berbulan-bulan lagi aku bisa mendapatkan pekerjaan baru,” gumamnya gelisah.

“Kurasa renovasi itu akan berlangsung berbulan-bulan. Benar-benar pekerjaan yang kacau. Alangkah baiknya jika ada yang membantuku mengawasi di lokasi pembangunan, mengecek segalanya. Bahkan tukang paling terkenal sekalipun butuh diawasi supaya semua berjalan dengan benar dan beres. Jadi, kau akan menjadi asisten pribadiku dalam proyek khusus, oke?”

Bulu mata So Eun pelan-pelan terangkat kembali. Hyuk Jae merasakan sensasi yang aneh. Ia merasa hatinya mencelus saat melihat wanita itu memandangnya tulus. “Kau serius tentang ini? Kau akan menggajiku sama seperti yang diberikan Park Shin Hye?”

Barter kembali dimulai, pikir Hyuk Jae sinis, tetapi jika itu syarat untuk mendapatkan So Eun, ia akan melakukannya. Ia meraih dompetnya. “Aku akan memberimu gaji di awal sebagai tanda jadi.”

So Eun menatap dompet tebal lelaki itu saat ia membukanya – kail yang tak pernah gagal.

“Berapa gajimu? Beberapa juta per bulan?” Hyuk Jae menghitung wonnya, siap memberikan berapa pun jumlah uang yang disebutkan So Eun. Berapa pun jumlahnya, kecil bagi Hyuk Jae. Karena ia baru saja memenangkan hadiah sepuluh juta won berkat Midas Magic.

So Eun menggeleng-geleng.

“Kira-kira berapa?” tukas Hyuk Jae.

Tatapan wanita itu terangkat, memandang Hyuk Jae dingin dan penuh harga diri. “Aku tak menerima uang sebelum bekerja, Mr Lee. Gajiku 1.500.000 won per minggu sebelum pajak. Jika kau puas dengan pekerjaanku selama seminggu menjadi asisten pribadimu di lokasi pembangunan, aku akan menghargainya jika kau membayarku untuk itu.”

“Baiklah!” kata Hyuk Jae sepakat, nyaris tak bisa menyembunyikan rasa terkejut karena wanita itu menolak uangnya.

Kejujuran… keadilan… Kim So Eun memperlihatkan keduanya dengan jelas, membuat Hyuk Jae merasa agak tidak enak karena memiliki agenda tersembunyi.

“Di mana rumahmu?” tanya So Eun.

“Daegu.”

So Eun menanyakan detailnya, menimbang-nimbang informasi yang diberikan pria tersebut sembari meyakinkan diri itu benar-benar pekerjaan yang layak dilakukannya. Setelah berjanji untuk bertemu di rumah itu pekan depan hari senin pukul delapan pagi, So Eun berpamitan, sangat tegas, dan Hyuk Jae membiarkannya pergi sambil memandangi ayunan bokong wanita itu yang begitu menggoda, puas membayangkan bahwa tak lama lagi ia akan sering melihat Kim So Eun.

Ia tak sabar menunggu waktu itu tiba.

Bahkan, ia sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali ia begitu menantikan pertemuan dengan seorang wanita!

 cover tbc1small

NB: Saya hanya ingin memberitahukan bahwa FF yang diremake novel ini memang bukan penulisan saya, atau karakter saya. Karena saya tidak menciptakan ide cerita ini, hanya mengubah nama dan tempat dari novel terjemahan tersebut. Jadi kalo ada yang merasa kurang paham dengan bahasanya maupun yang lain itu karena bahasa di novel memang agak tinggi, jadi dibaca baik-baik ya ^^

24 responses to “The Billionaire’s Housekeeper Mistress [Part 3]

  1. Puspa Kyukyu November 20, 2014 pukul 6:44 am

    Mantaaappppp banget ide Hyukjae.. Cemerlang…
    Mmg disini Hyukjae penuh dengan kepintarannya~
    mungkin klw gak ketemu Siwon,Hyuk udh bawa kabur Soeun kali ya ? Wkwkwkwkwk😀😀

    Puspa jg gak sabar nunggu si Hyukjae sering-sering ketemu sma Soeun…
    Ahhhh..
    Si Hyukjae otaknya Yadong aja nih :3 -_-”

    Nexxxtttt akaka~

  2. Kim Ra rA November 20, 2014 pukul 9:35 am

    yeee akhirnya Sso bisa lepas dari Mrs Park.

    dan sekarang hyukie bisa melihat Sso kapan pun ia mau…!

    huaaa gak sabar buat next part nya

  3. lovelysso November 20, 2014 pukul 10:38 am

    yak! lee hyuk jae otakmu itu benar2…aisshh..gimana nasib sso selanjutnya?…ha..ha..tp hbt jg pemikiran hyuk tuk dapetin sso, pokoknya ditunggu romantic scene hyuksso, aza..keep writing!!

  4. AngelsShe~ November 20, 2014 pukul 10:48 am

    ini hyukjae bnget…… otak yadong #plak he..he..
    baguslah eunie so udah ngak bekerja lagi dgn park shin hye🙂 ngak sabar nunggu kelanjutanx😀

  5. HaeNy Choi93 November 20, 2014 pukul 11:24 am

    Seperti Hyukjae yang tidak sabar menanti kehadiran Soeun di hari2 berikutnya, saya juga ikutan ngga sabar pengen liat part selanjutnya. Heheh

    Hyukjae.. Pliss.. Jadi orang otak jangan yadong2 amat yak. Ingin membawa Soeun kabur eo?? Tapi ada Siwon.. Cckck niat nolong orang ga sih?? Hahah

    Retno eonni.. Ditunggu part selanjutnya. Hehhe

  6. Nuneo Nuna November 20, 2014 pukul 11:29 am

    Wehhh hyukjae bner2 licik><Tp eon stuju dgn apa yg dlakukan hyukjae😀..yess akhirnya so eun trlepas dri nenek sihir park shin hye :-D…HyukJae emng yadong😀..dsaat so eun tak berdaya alias pingsan sempet2nya mikir kesono :-D…engk sngaja dada so eun menyentuh dada bidang hyukjae alhasil hyukjae kalang kabut cri kursi😀 padahl klo niat cri kursi kan udh brapa kurai yg dya lewati kata siwon wkwkwkk..untung Siwon menwarkan kursi ama hyukjae klo enggak mungkin langsung dbopong ke hotel hahahaha*dtabok so eun* :-D…
    Cieee ciee*colek hyukjae*😀 rencana loe brhasil bang buat dapetin so eun buktinya dya mau bkerja dtmpat loe meskipun dya ngk ngerti maksud dan tujuan loe wkwkwkk…bok bokong so eun emang sekseh klo dlewatin hahahaha…
    yaaaa saeng,,eon tunggu part slnjutnya yaa figthing^^

  7. mianuneo November 20, 2014 pukul 12:08 pm

    dari semua ffnya mbak retno, yg paling jadu favoritku ya FF INI!! >< .. NEXT KAK! UPDATE SOON! ^^~

  8. dewi November 20, 2014 pukul 12:17 pm

    kyaaaa
    penasaran bgt eon
    next part ngebut dan lebih panjang ne
    gomawo

  9. gadung melati November 20, 2014 pukul 12:43 pm

    aigoo pngen cekik shinhye nich #kesel tingkat dewa# -_-# bagus deh cpt pergi klo g ud ta lempar panci nie org >:-:-<
    next partny dtunggu n keep writing ya ^ ^

  10. gadung melati November 20, 2014 pukul 12:56 pm

    lo ap td aq ud panjang lbr nulis komentny kok yg muncul cm secuil😦 😦
    hyukie modus bgt nolong ny untung aj ad siwon jd dy g jd culik ank org😀 hahaha~ sso lngsung murka n kesel liat hyukie bkn hny gegara khlngan pekerjaan tp jg krn pesona maskulinitasny yg bkin sso tmbh klepek2😀 kekeke~
    tuhkan mang *modus* ngasih kerjaan k sso lom ap2 ud *yadong aj otakny* hahaha🙂 pngen cpt bc interaksi mreka brdua *piktor* syalalala…… whahaha 😀 😀
    next partnx cingu dtunggu n keep writing ya ^_^)Y

  11. winzzler November 20, 2014 pukul 1:26 pm

    Hyukjae otaknya mesum sekaligus cemerlang

  12. sukhwi November 20, 2014 pukul 1:36 pm

    jiahahaha..hyukjae harus jaga matanya tuh..bokong woi bokong..wkwkwk btw emang ya kalau punya uang apapun pasti mudah..hmm tawaran hyukjae jelas modus banget..tapi aku suka modusnya hahaha…

  13. mizanafidaus November 20, 2014 pukul 2:00 pm

    omg hyukjae kendalikan pikiranmu, pikiranmu udah kemana2 woy…
    mau bawa kabur anak gadis orang kenamana? hahaha untung ada siwon ga jadi deh,,,
    hyukjae pengin nempel mulu ya ma sso, hyukjae disini pinter jadi punya ide2 biar dia tetep bisa ketemu dan sso bisa menerimanya, ayo bang perjuangkan cintamu,,, tp tolong matanya jangan liatin bokong mulu ya…

  14. kristienuuna November 20, 2014 pukul 4:21 pm

    dan reader pun sudah tak sabar menantikan pertemuan Sso dan Hyukie oppa tiba d part mendatang..

    aseek.. Sso akhir na ada d ruang Lingkup na Eunhyuk..
    puas2in dech oppa memandang pujaan hatimu d rumah baru..
    semoga ada skinship baru d antara kedua na..
    Sso na jgn gaLak2 dunk k Hyukie oppa..
    nanti Lama2 d terkam Lho ama oppa..
    hahahahahahahaa..😀

  15. Devi November 21, 2014 pukul 2:50 am

    bagussss bangeeeet ide’a hyukppa biar bisa deket2 ma eonnie so eun,,,,,,,

    hyukppa udh bener2 jatuh hati ma eonnie so eun nich segala cara dilakuin biar bisa deket2 ma eonnie so eun,,,,

    jd penasaran ma kelanjutan’a,,,,

  16. anna November 21, 2014 pukul 1:15 pm

    aiyaaa hyukjae nie bnrn kepincut ma sso ato cm nafsu nie duuhh jgn deh,,give your love&body donk ahaayy,,

  17. Safriyanti November 23, 2014 pukul 4:10 am

    Hyuk bner2 mnginginkan sso dgn sgla cra ne,,
    sneng bnget liat sso dpecat,,
    sdgkan sso ampk pingsan gto,,,
    niat awal hyuk pngen bwa sso kbur eh da bg siwon yg mngingatkan,,,
    gmna ne prtmuan slnjut,a yg bner2 dnntikan hyuk,,,

  18. ade Desember 15, 2014 pukul 9:25 am

    Wew seru ff’a eonni.lanjut’a jgn lama” ne.

  19. zie-hun Februari 4, 2015 pukul 1:24 pm

    ahh aku baru baca jujur aku suka ff re make karna menurutku itu ff bagus. makanya di remake

  20. Rani Annisa Februari 15, 2015 pukul 8:54 am

    wah emang eunhyuk pintar banget idenya 🙂

    dan akhirnya so eun bisa lari dari ms. park..

    next part

  21. anastasia erna Mei 26, 2015 pukul 4:30 am

    mantap…keren hyuk…
    tinggal menaklukan hati sso aja nich..

  22. abiza September 12, 2015 pukul 1:38 pm

    Gak terasa dah hampir 1th aq nunggu klnjutan nih crita. Gak cuma ini tp ff yg laen yg k pending…..lg sedi cari ilham buat nerusin ya thor??????hahaha just kidding

  23. vaaani September 14, 2015 pukul 5:54 pm

    laaanjut Nooo,, lanjut i c mski remake nya

  24. yuliaseptiani Desember 7, 2015 pukul 4:39 am

    belum baca part 1 & 2 . cerita ny menarik dsni hyukjae emang yadong ye ~kkkkk
    d lanjut dong next ny😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: