RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

Tag Archives: PSLEB

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.10 (Final)

 

Kim Bum menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia berusaha mengejar taksi yang ditumpangi So Eun. Tidak lama, akhirnya dia menemukan taksi itu.

Supir taksi yang berkali-kali melihat spion kacanya merasa curiga dengan mobil yang mengikutinya dari belakang.

”Nona, sepertinya ada mobil yang mengikuti kita.”

So Eun yang sedang membaca majalah tertegun mendengarnya.

”Apa?”

So Eun pun melihat kebelakang. Mobil sport orannye sedang mengejarnya.

”Itu kan mobilnya Kim Bum. Supir tolong dipercepat mobilnya.”

”Tapi Nona….”

”Aku akan membayarmu lebih!”ujar So Eun sambil menunjukkan beberapa lembaran won dengan jumlah yang lumayan besar.

”Baik.” Supir itu pun mulai menambahkan kecepatannya.

Kim Bum terkejut melihat taksi itu tiba-tiba jadi cepat.

”Kim So Eun. Kau pikir aku tidak akan bisa mengejarmu.”

Kim Bum pun menambah kecepatannya. Akhirnya mereka pun sedang berbalapan.

Kim Bum memutar setir mobilnya untuk menghadang taksi ke pinggir jalan. Taksi itu pun terpaksa berhenti. Lalu Kim Bum keluar begitu juga dengan So Eun.

”Kim Bum! Kenapa kau mengejarku?”

Kim Bum tidak menjawabnya. Dia malah menuju ke taksi. Membuka pintu mobil lalu mengeluarkan koper milik So Eun. Kemudian dia membayar lebih dari So Eun kepada supir taksi.

”Kau boleh pergi.”

”Bba…baik Tuan.” Supir itu pun langsung meninggalkan mereka setelah menerima uang dari Kim Bum. So Eun yang terkejut berusaha menahan taksi.

”Hei! Tunggu. Jangan pergi!”

Namun Kim Bum menarik lengan So Eun sehingga So Eun berbalik dan terbelalak melihat Kim Bum telah mencium bibirnya.

So Eun langsung mendorong Kim Bum. Kim Bum pun termundur walau dia masih memegang tangan So Eun agar So Eun tidak bisa kabur lagi.

“Apa-apaan kau ini? Kenapa kau menciumku?”Tanya So Eun sambil menyentuh bibirnya yang telah dicium kedua kalinya.

“Sudah kubilang, aku akan menjemputmu di rumah sakit. Kenapa kau malah langsung pergi tanpa menungguku?”ujar Kim Bum dengan tatapan yang seriusnya.

”Hei. Dengar ya? Sekarang aku bukan bodyguardmu lagi. Kasus yang menimpa keluargamu sudah selesai. Jadi kurasa tugasku untuk menjagamu juga sudah selesai.”terang So Eun dengan sedikit emosi.

Kim Bum tidak membalasnya. Dia mengambil cincin dari saku celananya. Lalu dia memasukkan cincin ke jari So Eun.

”Hei! Kenapa kau memasukkan cincin ke jariku?”tanya So Eun sambil menarik kembali tangannya. Namun gagal, Kim Bum rupanya terlalu kuat memegangnya.

”Kau belum menyelesaikan tugasmu yang paling penting.”

”Hah?”

Kim Bum kembali menatap So Eun dengan serius.

”Tugasmu yang penting adalah mendampingiku dan merawatku selamanya.”

”Apa? Kau pikir aku ini pelayanmu apa?”

”Bukan pelayan.”

”Apa?”

Kim Bum memeluk pinggul So Eun sehingga wajah So Eun mendekati wajah Kim Bum.

”Kini dan seterusnya, aku yang akan menjagamu.”

So Eun terdiam. Menunggu lanjutan kata-katanya. Kim Bum tersenyum.

”Tugasmu sebagai bodyguardku memang selesai. Tetapi tugasmu masih ada lagi yaitu sebagai istriku.”lanjutnya.

”Apa?”
So Eun terkejut mendengar lamaran Kim Bum yang dinilai terlalu tiba-tiba dan tidak disangka.

”Kau menyukaiku?”tanya So Eun heran. Padahal selama ini dia selalu berantem dengan Kim Bum bahkan Kim Bum selalu menunjukkan sikap bencinya.

”Tapi bukankah kau membenciku? Memangnya sejak kapan kau menyukaiku?”tanya So Eun lagi. Dia benar-benar jadi bingung dengan sikap Kim Bum kini. Apakah Kim Bum sedang mempermainkannya?
Kim Bum malah tertawa melihat So Eun yang bingung.

”Hei! Aku tanya serius denganmu. Atau kau cuma mempermainkanku saja? Kau….”

”Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu.”potong Kim Bum. Lagi-lagi So Eun tertegun mendengarnya.

”Hah? Pertama kali bertemu? Bukankah waktu itu kau sedang membenciku?”

”Iya. Sejak kau menyatakan perang denganku membuktikan bahwa kau lemah. Entah kenapa aku merasa kau adalah gadis yang berbeda dengan gadis lain. Aku sengaja bersikap benci kepadamu karena aku hanya ingin mengujimu. Aku kira kau hanya mengejar kekayaanku saja. Rupanya kau rela berkorban kepadaku tanpa mempedulikan penampilanmu.”

So Eun pun terdiam.

”Jadi kau harus menjadi istriku kelak. Kau tidak boleh kabur dariku.”

”Aku tidak mau!”ucap So Eun. Kim Bum tertegun mendengarnya.

”Kenapa?”

”Karena aku tidak mau kau memaksakan perasaanku!”teriak So Eun.

”Apa? Maksudmu kau tidak menyukaiku juga?”

So Eun tidak menjawabnya. Dia malah mencium bibir Kim Bum dengan cepat sehingga Kim Bum jadi bingung.

”Aku tidak suka kau terus memaksakan perasaanku yang sudah pasti mau menjadi istrimu.” So Eun menunduk malu.

”Apa? Kau… Hhh… Haha… dasar!” Kim Bum menjitak kepala So Eun. Lalu mereka pun berpelukan dengan mesra.

*****

5 Tahun kemudian……

So Eun yang bergaun pengantin sedang berada didalam mobil bersama Ji Yun dan sopirnya. Mereka sedang menuju ke Gereja. Karena Kim Bum dan So Eun akan segera menikah.

”So Eun! Sungguh, aku tidak menyangka. Memang sejak kapan kau menyukai Kim Bum?”tanya Ji Yun sambil merapikan tatanan rambut So Eun. So Eun tersenyum.

”Mungkin sejak dia menyelamatkanku dari Mister Hyun Joong itu. Kupikir dia tidak akan tau dimana aku diculik. Rupanya dia sudah memperhitungkannya. Kalung yang dia berikan kepadaku dulu itu rupanya adalah alat pelacak.”

”Oh… begitu ya?”

”Iya. Aku pikir kalau aku sampai tidak diselamatkan dia. Aku pasti sudah terjatuh mati.”

”Ah. Sudahlah So Eun! Jangan kau pikirkan itu lagi.”

So Eun hanya mesem-mesem melihatnya.

Kim Joon langsung mendekati Kim Bum yang sedang menunggu kedatangan calon istrinya.

”Hei! Wah… aku tidak menyangka kalau kau akan menikah dengan So Eun.”

Kim Bum hanya tersenyum.

”Kupikir kau itu tidak akan menyukainya.”

Kim Bum tidak menjawabnya.

”Ngomong-ngomong. Kenapa So Eun belum sampai juga ya?”tanya Kim Bum mulai cemas sambil melihat arlojinya dan terus melihat keluar menunggu mobilnya datang.

So Eun dan Ji Yun mulai khawatir. Pasalnya mereka terjebak macet. Berkali-kali Ji Yun melirik arlojinya.

“Sekarang jam berapa, Ji Yun?”tanya So Eun cemas.

”Wah… kita sepertinya bakal telat nih.”

”Coba kau telepon dulu.”

Ji Yun menepuk dahinya.

”Ah iya! Untung kau mengingatnya.”

Ji Yun segera mengeluarkan ponselnya. Tetapi….

”Yah, So Eun. Ponselku baterainya habis.”

”Hah?”

”Ponselmu sendiri?”tanya Ji Yun balik.

”Ponselku ketinggalan.”

Mereka pun mulai panik.

”Sebenarnya ada kejadian apa sih? Kok sampai macet begini?”tanya So Eun.

”Saya tidak tau, Nona.”

Karena gerah, So Eun pun keluar dari mobilnya dan langsung berjalan ke paling depan.

”Eh-eh. So Eun! Kau mau kemana?”

Ji Yun langsung mengikutinya.

Ternyata di sana ada kejadian seorang pria yang sedang menyandera seorang wanita. Para polisi sedang mengepungnya dan sedang waspada agar wanita itu tidak dilukai. So Eun langsung bertanya kepada polisi yang ada didekatnya.

”Dia kenapa, pak?”

”Dia itu perampok. Nona lebih baik mundur. Biarlah kami mengurusnya.” Polisi itu mendorong So Eun mundur.

”Apa?”

So Eun tidak mau terlambat hanya gara-gara kejadian ini. Dia pun langsung mendekati perampok.

”Eh, Nona! Jangan kesana! Itu bahaya?!”teriak polisi yang berusaha mengingat So Eun. So Eun tidak menghiraukannya. Pria itu terkejut melihat So Eun berjalan maju ke arahnya.

”Hei. Kau berhenti! Jangan mendekat!”teriak pria itu sambil menodongkan pistol ke So Eun. Namun So Eun tidak bergeming.

”Kau mau kutembak ya?”ancam pria itu dengan gemetar.

So Eun tidak menjawab. Tetap melangkah ke arahnya. Pria itu makin panik.

”Baiklah kalau itu maumu!”

Pria itu pun menembaknya, ”Door!”

Peluru itu melayang ke udara. So Eun berhasil mengarahkan pistolnya ke arah langit sehingga pria itu gagal menembaknya.

Lalu So Eun mulai membantingnya. Sambil menginjak tubuh pria itu, So Eun menjatuhkan pistol yang digenggam pria itu. Para polisi langsung mendekatinya. Dan menahan pria itu.

“Nona tidak apa-apa? Untunglah Nona baik-baik saja. Bagaimana kalau Nona tertembak?”

So Eun tersenyum.

“Tenang saja, pak. Karena aku juga seorang polisi.”

”Apa?” Polisi itu terkejut mendengarnya. Ji Yun langsung menarik So Eun.

”So Eun! Bagaimana ini? Kita sudah terlambat.”

”Apa?!” So Eun langsung melihat arloji Ji Yun.

”Bagaimana ini? Pernikahanku tidak boleh dibatalkan!” So Eun makin panik.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka. Mereka pun menunduk melihat rupa pemilik mobil itu. So Eun terkejut melihatnya.

”So Hee?!”panggilnya.

”Hei, ayo cepat masuk! Apa kau mau batalkan pernikahanmu?”

So Eun mengangguk. Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil So Hee. So Hee mulai menyetir dengan kecepatan penuh.

So Eun dan Ji Yun memegang pintu mobilnya. Rupanya So Hee cukup ahli dalam mengemudi mobilnya seperti pembalap.

”So Eun.”panggil So Hee tanpa menengoknya karena sedang serius melihat ke depan.

“Iya?”

“Kau harus membahagiakan Kim Bum. Kau jangan coba-coba mengkhianatinya. Karena aku sudah menyerahkannya kepadamu. Jadi aku percayakan kepadamu.”

“So Hee….”

So Eun tertegun mendengarnya walau pun dia tau So Hee adalah mantan kekasih Kim Bum.

”Tenang saja , So Hee. Aku pasti akan membahagiakannya.”jawab So Eun sambil tersenyum. So Hee pun meliriknya sambil tersenyum.

Lalu So Eun terkejut mendapati gaun dibagian perutnya tersobek.

”Ji Yun! Bagaimana ini? Gaunku sobek.”

”Apa?” Ji Yun langsung melihatnya.

”Kok bisa?”

”Mungkin tersobek waktu aku membanting perampok itu.”

”Aduh? Bagaimana ini?” So Eun dan Ji Yun langsung panik.

”Tenang saja. Aku bawa baju ganti yang cocok buatmu.”celetuk So Hee tanpa menatap mereka.

”Hah?” So Eun dan Ji Yun melongo mendengarnya. So Hee tersenyum dengan penuh arti.

Suasana gereja benar-benar penuh panik. Para tamu mulai berbicara riuh. Sementara Kim Bum berkali-kali menelepon So Eun. Namun tidak diangkatnya.

”Sudah 30 menit nih. So Eun masih belum bisa dihubungi ya, Kim Bum?”tanya Madam Ye Jin mulai khawatir. Kim Bum tidak langsung menjawabnya.

”Aduh! Si gadis sialan ini. Kenapa dia tidak menjawab teleponku, So Eun.”gumamnya penuh cemas.

Tiba-tiba pintu gereja dibuka So Hee. So Hee tersenyum melihat para tamu terutama Kim Bum yang memperhatikannya.

”Mohon maaf membuat kalian menunggu. Tadi dijalan ada kejadian yang membuat So Eun jadi terlambat. Baiklah dari pada lama-lama. Kim So Eun, silahkan masuk.”

Para tamu terkejut melihat penampilan So Eun begitu juga Kim Bum. Pasalnya So Eun memakai Hanbook.

”Mohon dimengerti. Karena kejadian dijalan tadi. Gaun pengantinnya tersobek. Yang penting kan dia tetap cantik?”seru So Hee. Para tamu langsung bertepuk tangan menyambut penampilan So Eun yang memang terlihat cantik. Presdir Jung Gil menuju ke So Eun.

”Kau tetaplah sangat cantik, Kim So Eun.” So Eun tersenyum malu mendengar pujian Presdir Jung Gil. Kim Bum pun juga tersenyum melihat penampilan calon istrinya.

So Hee pun menyingkirkan dirinya dan berjalan menuju ke kursi pihak wanita.

So Eun berjalan didampingi Presdir Jung Gil dan pengiringnya, Ji Yun. So Eun tersenyum bahagia melihat Kim Bum.

Akhirnya Kim Bum dan So Eun kini resmi jadi suami istri. Mereka kini berada didepan gereja.

”So Eun. Selamat ya!”ucap Gyu Ri sambil memeluk So Eun.

“Terima kasih.”

Geun Suk pun mendatangi Kim Bum.

”Hey sobat! Selamat atas pernikahanmu.”ucap Geun Suk sambil  mengulurkan tangannya. Kim Bum pun menyambutnya sambil tersenyum.

”Terima kasih.”balasnya.

So Eun pun lega melihat mereka sudah tidak bermusuhan lagi yang seperti dulu, yang saling cuek.

”So Eun.”panggil Geun Suk.

”Iya?”

Geun Suk berbisik kepadanya.

”Kalau kau mau cerai dengan Kim Bum. Panggil saja aku, aku siap menggantikannya.”

”Apa?!” So Eun tertegun mendengarnya.

”Hei, apa kau bilang?”timpal Kim Bum yang rupanya mendengar bisikan Geun Suk.

Geun Suk hanya tertawa sambil berbalik meninggalkan mereka.

”So Eun! Kau jangan coba-coba mengkhianatiku ya.”ancam Kim Bum yang rupanya menanggapi perkataan Geun Suk tadi.

”Aish! Apa maksudmu? Justru kau lah yang jangan mengkhianatiku.” So Eun balik memperingatinya.

”Aih! Sudah-sudah kalian berdua ini! Kalian ini baru saja menikah, kenapa sudah berantem lagi?”seru Kim Joon yang berusaha melerainya.

Tamu yang ada disekelilingnya hanya tertawa melihat kelakuan mereka. Kim Bum dan So Eun hanya bisa menunduk malu.

”Hei. Rencananya kalian ingin punya anak berapa?”tanya Ah In yang rupanya sudah menyerah dengan So Eun.

”Aku ingin….”

”Inginnya sih membentuk tim sepak bola. Tapi tim basket gak apa-apalah.”celetuk Kim Bum yang memotong jawaban So Eun.

”Apa?!” Sekelilingnya terkejut dengan keinginan Kim Bum yang mempunyai anak yang banyak.

So Eun memukul bahu Kim Bum.

“Hei! Hentikan leluconmu itu. Aku mana sanggup?”kesal So Eun.

”Hoh. Berarti kau seperti yang aku katakan dulu. Sebenarnya kau ini bukan wanita yang kuat. Tetapi lemah.”

”Aku tidak lemah!?”teriak So Eun.

”Oke kalau begitu. Buktikan kepadaku!”ujar Kim Bum sambil jalan memunggunginya. So Eun jadi tidak bisa berkata apa-apa.

Kim Bum duduk di depan kap mobilnya.

Kim Bum menyadari So Eun tidak jalan mengikutinya. Dia pun menengoknya.

”Hei! Ayo jalan. Kita kan mesti berbulan madu.”

So Eun jadi ngambek. Tidak menanggapi perkataan Kim Bum.

Kim Bum tertawa melihat sikap So Eun yang marah dengannya.

Dia pun mendekatinya dan menggendong So Eun.

”Ciee……”seru Kim Joon, Ji Yun dan yang lainnya secara serentak. So Eun jadi malu dibuatnya. Mereka pun masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan gereja.

Geun Suk berjalan melewati taman. Dia melihat mobil pengantin sudah pergi. Geun Suk pun tersenyum.

”Rupanya kali ini aku kalah lagi dengannya. Tapi tidak apa-apa lah.”

Tali sepatu Geun Suk terlepas. Dia pun berlutut sambil mengikat tali sepatunya.

Sosok gadis lengkap dengan seragamnya berhenti mematung dihadapannya. Geun Suk mendongakkan kepalanya dan terpesona melihat wajah gadis itu.

”Maaf. Aku mau nanya. Apakah kau tau alamat ini?”tanya gadis itu sambil menunjukkan kertas kecilnya. Geun Suk pun berdiri dan melihat alamat yang dimaksud gadis itu.

”Oh ini… kau harus lurus terus belok ke kanan kemudian belok ke kiri. Di situ kan ada kafe. Disamping kafe itu lah tempatnya.”jawab Geun Suk. Gadis itu tersenyum

”Oh, begitu ya. Terima kasih.” gadis itu pun berbalik menuju ke arah yang disebut Geun Suk.

”Ah-ah. Nona!?”panggil Geun Suk.

”Iya?” Gadis itu berbalik menanggapi panggilan Geun Suk. Geun Suk mendekatinya.

”Bagaimana kalau aku yang mengantarmu? Kebetulan kita searah.”ajak Geun Suk.

”Baiklah.” Dia pun menyetujui ajakan Geun Suk. Geun Suk pun menemaninya.

”Oh iya, kenalkan aku Jang Geun Suk. Namamu siapa?”

”Namaku Park Shin Hye.”

”Namamu bagus.”

Shin Hye tertawa mendengar pujian Geun Suk. Geun Suk hanya tersenyum.

So Hee yang melihat Geun Suk bersama Shin Hye dari jauh hanya menggeleng kepala.

”Ckckck…… Dasar Geun Suk! Sudah tua masih mengejar yang muda ya? Dasar benar-benar playboy!”ujar So Hee sambil tersenyum. Tiba-tiba ponselnya berdering. So Hee pun membuka ponselnya yang berbentuk lipat. Dia tersenyum melihat foto dan nama panggilan teleponnya ’Se7en’ diponsel miliknya.

So Hee langsung menjawabnya.

”Halo. Iya, sayang. Aku akan segera kesana.” So Hee pun mengakhiri percakapannya. Dia pun masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan lokasinya.

Sementara Gyu Ri sedang menunggu taksi. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepannya. Gyu Ri terkejut melihatnya.

”Ah In?”

”Kau butuh tumpangan, Gyu Ri?”

Gyu Ri tersenyum lalu mengangguk.

”Masuklah.” Gyu Ri pun masuk ke dalam mobilnya. Ah In pun melanjutkan perjalanannya.

”Ngomong-ngomong, aku suka dengan rambut pendekmu.”ucap Ah In sambil melirik Gyu Ri.

Gyu Ri pun tersipu malu mendengar pujian Ah In.

”Terima kasih.”balasnya. Ah In pun ikut tersenyum mendengarnya.

*****

6 tahun kemudian……

Kim Bum yang menggantikan posisi kakeknya di group Shinhwa kini telah pulang ke rumah pada sore hari. Dia pulang lebih awal. Kim Bum langsung masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sofa. Kim Bum terkejut melihat istrinya yang masih tidur terlelap.

”Yah? So Eun. Masih tidur dari pagi sampai sekarang belum bangun?”

Kim Bum langsung menggoncangkan tubuh istrinya. Sengaja dia bangunin.

Mau tidak mau, So Eun pun terpaksa membuka matanya. Dia jadi kesal dengan suaminya yang telah membangunkannya.

”Kim Bum! Kau mengganggu tidurku.”keluhnya sambil bangun.

”Sayang. Kau itu dari pagi sampai sekarang belum bangun.”

”Yah, mau gimana lagi? Semalam aku lembur ngurusin kasus di kantor.”

”Walaupun kau ini sudah menjadi inspektur. Tapi kau juga harus ingat dengan kewajibanmu sebagai istri.” rupanya Kim Bum mulai agak marah.

”Iya, iya! Aku mengerti.”

”Sana kau mandi! Lihat sampai bajumu belum diganti.”

”Iya.”jawab So Eun malas.

”Ngomong-ngomong dimana anak-anak kita?”

Giliran So Eun yang agak marah dengannya.

”Aish! Kau ini. Makanya jangan terlalu sibuk ngurusin kantormu. Apa kau lupa kalau tiap sore mereka sedang main bersama Kakek dan Ibu?”ujarnya sambil berkacak pinggang.

”Hah?”

”Lihatlah di jendela.”

Kim Bum pun melihat keluar dijendela. Memang kelima anaknya yang masih kecil-kecil itu sedang asyik bermain bersama Kakek Jung Gil dan Ibunya, Madam Ye Jin. Kim Bum tersenyum melihat keceriaan mereka.

”So Eun. Sepertinya tim basket kurang deh. Bagaimana kalau kita tambah anak lagi sehingga pas jadi tim bola?”

So Eun yang terkejut mendengarnya langsung melempar bantal ke arah Kim Bum. Sayangnya Kim Bum berhasil menangkapnya.

”Kau ini! 5 anak gak cukup?! Kau ingin aku mati ya? Aish, apa kau tidak tau penderitaanku melahirkan 5 anak dalam 6 tahun? Kau ini tiap tahun pasti minta anak lagi. Apa kau tidak bisa memberiku istirahat? Hhh… seharusnya aku cerai denganmu kalau tau kau masih seperti itu.” So Eun mengomel kesal.

Kim Bum hanya tertawa mendengar omelannya sambil berjalan ke arah So Eun.

Lalu Kim Bum memeluk So Eun hingga terbaring kembali dikasur.

”Aku cuma bercanda, sayang. Cukup kok memiliki tim basket kita. Sudahlah, jangan kau sebut cerai terus. Aku sudah bosan mendengar kata-kata itu.”

So Eun pun terdiam cemberut. Kim Bum pun tersenyum usil melihatnya.

”Oh iya, sepertinya kau memang lelah ya?”

So Eun mengangguknya.

”Uhm…. Baiklah. Karena kau lelah. Bagaimana kalau aku aja yang memandikanmu? Kau harus mau!”paksa Kim Bum sambil menggendong istrinya.

”Eh-eh, apa?! Tidak usah. Aku bisa mandi sendiri kok!” So Eun menolaknya. Kim Bum tidak menghiraukannya. Sambil tersenyum, dia membawanya masuk ke dalam kamar mandi. So Eun masih berontak sambil memukul dada Kim Bum berusaha turun dari gendongannya.Tetapi Kim Bum hanya tertawa dengan keusilannya. Lalu Kim Bum menutup pintu kamar mandinya.

Akhirnya Kim So Eun yang ceria telah berhasil menaklukkan Kim Bum yang cuek. Kombinasi sifat yang bertolak belakang ini berhasil mengungkapkan teka-teki, rahasia, dan cinta disekeliling mereka.

 

~*THE END*~

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.9

 

 

”Sayang. Kau kenapa?”cemas Ibunya Eun Hye sambil menghampiri putrinya.

”Aku ingat. Aku kenal orang yang difoto itu. Aku ingat!”

Semuanya jadi terdiam bingung melihatnya.

”Apa maksudmu, Eun Hye?”tanya Sang Hyun yang bingung melihatnya.

”Aku ingat! Akulah yang membunuhnya!? Aku yang mendorongnya?!”

”Apa?”

Sang Hyun terkejut mendengarnya.

Eun Hye pun mulai ingat dengan masa-masa lalunya.

 

20 tahun yang lalu……

 

Gadis kecil berkepang sedang asyik bermain ditaman. Ketika dia sedang asyik berlari. Tiba-tiba dia bertabrakan dengan seorang kakek. Gadis kecil itu pun menangis.

”Aduh! Cup…cup… kau jangan menangis.”Kakek itu berusaha menenangkan gadis kecil itu. Gadis kecil itu pun mulai tenang.

”Kau tidak apa-apa, gadis kecil?”tanyanya. Gadis itu hanya mengangguk.

”Baguslah kalau kau tidak apa-apa. Siapa namamu?”

”Yoon So Hye.”jawabnya.

”Nama yang sangat bagus, So Hye.”puji kakek itu. So Hye tersenyum.

Tiba-tiba dia melihat sebuah pena disaku kakek itu.

”Apa itu?”tanya So Hye sambil menunjuk ke saku pakaian kakek itu.

”Oh. Ini.” Kakek itu mencabut pena itu dari sakunya lalu So Hye langsung memegang penanya.

”Kau suka?”

So Hye mengangguk.

”Kalau begitu, ini buatmu saja, So Hye.”

”Benarkah?” Kakek itu mengangguk. So Hye berteriak kegirangan sambil meloncat.

”Terima kasih, Kakek. Nanti akan aku tunjukkan kepada kakakku.”teriak So Hye sambil berlari meninggalkannya. Kakek itu hanya tertawa geli melihat tingkah So Hye.

”Kakek!?”teriak gadis kecil lain memanggilnya sambil memeluknya. Kakek itu pun menggendongnya.

”Aduh, Eun Hye kecilku. Ada apa?”tanya kakek.

”Kakek. Aku mau main lempar bola.”

”Oh, baiklah.”

”Tapi kakek yang lempar ya. Aku yang tangkap.”

”Iya-iya.” Kakek itu menurunkan Eun Hye lalu dia mengambil bolanya.

”Bagaimana? Kau sudah siap?”tanya Kakek.

”Sudah, Kakek. Ayo cepat lempar.”

Kakek itu pun melempar bolanya dengan pelan. Namun Eun Hye gagal menangkapnya. Sehingga bola itu menggelinding terlalu jauh.

”Biar aku saja yang mengambilnya, kakek.”

Eun Hye langsung berlari menuju ke arahnya tanpa menghiraukan Kakek.

”Tapi Eun Hye! Hati-hati, disana sangat curam.”

Namun Eun Hye tidak mendengarnya.

 

So Hye sedang asyik berjalan pulang ke rumahnya. Tiba-tiba pena yang dipegangnya pun terlepas. Pena itu pun terjatuh disamping pohon. So Hye pun segera mengambilnya.

”Aduh! Jangan sampai terjatuh lagi ya.”ujar So Hye sambil membersihkan penanya yang mulai kotor.

 

Eun Hye masih mencari bola. Namun masih belum menemukannya. Eun Hye melihat punggung So Hye. Eun Hye pun langsung mendekatinya bermaksud menanyakan keberadaan bolanya. Tiba-tiba kaki Eun Hye tersandung batu sehingga tanpa sengaja Eun Hye mendorong So Hye. So Hye pun terjatuh ke bawah. Tubuhnya menggelinding melewati semak-semak yang ada dibawah. Dan So Hye pun tersangkut di pohon dengan tidak sadarkan diri. Melihat itu, Eun Hye jadi ketakutan. Dia pun berlari ke tempat Kakeknya lewat jalan aspal.

Namun sebuah mobil yang mengebut itu langsung menabrak Eun Hye. Mobil itu pun berhenti dan melihat Eun Hye terluka di kepalanya dan tidak sadarkan diri.

 

”Eun Hye! Kau dimana?”teriak Kakek yang mengkhawatirkan Eun Hye yang lama tidak kembali.

”Presdir Jung Gil! Ada seorang gadis kecil tersangkut dibawah.”teriak salah satu pengawalnya.

”Apa?!”

Kakek itu langsung menuju kesana dan melihat gadis yang dikhawatirkan itu adalah Eun Hye. Tapi ternyata bukan.

”Bukankah itu, Yoon So Hye? Kalian cepat angkat dia!”

”Baik, Presdir” Pengawal itu melaksanakan perintahnya.

 

”So Hye! Kau dimana?”teriak Sang Hyun, kakaknya. Tiba-tiba dia melihat banyak orang yang berkumpul. Karena penasaran. Sang Hyun pun berlari kesana. Dan dia terkejut melihat adiknya dipeluk Presdir dalam keadaan tidak sadarkan diri.

”So Hye! So Hye?!”teriaknya sambil memeluk adik kecilnya.

”So Hye! Bangunlah So Hye!? Kau jangan tinggalkan kakak!”

Sang Hyun mengguncangkan tubuhnya. Tetap tidak mau terbangun. Presdir Jung Gil pun memegang pundak Sang Hyun.

”Maaf, nak. So Hye sudah meninggal.”

“Apa? Tidak mungkin!? So Hye, bangunlah!” Sang Hyun masih tidak rela adiknya meninggal. Tiba-tiba dia memegang sebuah pena yang digenggam So Hye. Sang Hyun melihatnya pena yang tertulis ‘Lee Jung Gil’.

“Presdir Jung Gil. Gawat!? Eun Hye kecelakaan!”

”Apa?!”

Presdir tertegun mendengarnya.

Sang Hyun yang mendengar nama kakek itu pun menatapnya dengan tajam dan dendam. Dia mengira Presdir Jung Gil lah yang membunuh adiknya tercinta.

 

*****

 

”Tidak mungkin!?”teriak Sang Hyun setelah mendengar cerita Eun Hye.

”Itu tidak mungkin! Kau pasti bohong!”

”Aku minta maaf, Sang Hyun! Waktu itu setelah kecelakaan. Rupanya aku amnesia. Aku tidak begitu ingat tentang kejadian itu.”
” Tidak mungkin!” Sang Hyun jadi tidak percaya. Selama ini dia balas dendam dengan Presdir Jung Gil ternyata hanyalah sebuah kesalahpahamannya.

Dengan diam-diam, So Eun berjalan ke belakang Chae Young yang sibuk memperhatikan Sang Hyun. Kemudian dia menahan Chae Young dari belakang.

”So Eun.” Chae Young terkejut melihat kesigapan So Eun.

Sang Hyun langsung mengarahkan pistolnya ke So Eun namun Min Ho yang ikut datang langsung menahan tangan Sang Hyun ke atas. Terjadi perkelahian diantara mereka berempat. So Eun berusaha memukul Chae Young. Begitu juga Chae Young berusaha membalas pukulan So Eun.

Min Ho berusaha menjatuhkan pistol, Sang Hyun berusaha mengarahkan pistolnya ke arah So Eun. Dan terjadi tembakan!?
”Door!”

Seisi ruang terkejut mendengar letusan peluru. Dan terkejut melihat Sang Hyun menembaknya. Sang Hyun hanya melihatnya tidak percaya. Bahkan So Eun pun juga tidak percaya dengan yang dilakukan Sang Hyun.

“Chae Young!” Sang Hyun melepaskan dirinya dari Min Ho dan berlari ke Chae Young yang tergeletak sambil memegang dadanya yang ditembus peluru.

Sang Hyun memeluknya.

“Maafkan aku, Chae Young! Aku… aku…” Sang Hyun telah menembak Chae Young. Chae Young memegang pipi Sang Hyun yang mulai menangis.

“Jangan bilang seperti itu, Sang Hyun. Sepertinya semua dendammu ini hanyalah kesalahpahamanmu, Sang Hyun.”

Sang Hyun terdiam menangis melihatnya.

”Sang Hyun. Kau jangan dendam lagi ya. Aku akan selalu mencintaimu, Sang Hyun.” tangan Chae Young yang menyentuh pipi Sang Hyun pun terjatuh tidak berdaya. Chae Young telah menghembus napas terakhirnya.

”Chae Young?!”teriak Sang Hyun.Dia sudah kehilangan kedua perempuan yang dicintainya. Suasana jadi tegang melihatnya. So Hee dan Gyu Ri beserta para wanita mulai menangis terisak kejadian tragisnya. Sedangkan para pria hanya terdiam melihatnya.

Tidak lama, Sang Hyun menatap tajam ke arah Kim Bum dan Eun Hye. Lalu dia menodongkan pistol yang dipegangnya ke arah Kim Bum.

So Eun yang melihat itu langsung berlari ke arah Kim Bum.

”Kim Bum, awas!?”seru So Eun sambil memunggungi Kim Bum.

Lagi-lagi peluru pun ditembak dan mengenai perut So Eun.

“So Eun!” Kim Bum terkejut melihatnya.

Dengan sisa tenaganya, dia pun melempar pisau ke arah Sang Hyun.

Pisau itu pun menancap bahu Sang Hyun hingga pistol yang dipegangnya pun terjatuh. Dengan sigap, Min Ho pun menahan Sang Hyun dan Kim Joon mengambil pistol itu dengan saputangannya.

 

Geun Suk, Ah In, So Hee, Gyu Ri, dan yang lainnya langsung mengerubuti Kim Bum.

”So Eun! Sadarlah!”teriak Kim Bum sambil mengguncangkan tubuhnya. Air matanya mulai jatuh ke pipi So Eun. Tidak ada respon dari So Eun.

”So Eun!?” Kim Bum pun memeluk So Eun.

 

*****

 

Tembok bercat putih, selimut putih, dan pakaian putih. So Eun pun membuka matanya. Dia melihat dirinya terbaring di rumah sakit dan tangannya di infus.

”Kim So Eun! Kau sudah sadar?”seru Kim Bum melihat So Eun terbangun.

“Apakah aku di rumah sakit?”

“Iya, So Eun.”ujar Ji Yun.

Rupanya teman-temannya pada berkumpul di rumah sakit.

“Hei. Aku tidak menyangka kalau kau adalah bodyguardnya Kim Bum. Perkelahianmu semalam dengan Ibu Chae Young sungguh keren!”celetuk Geun Suk. So Eun pun tertawa mendengarnya.

Kim Bum hanya terdiam bangga mendengarnya.

”Kau harus cepat sembuh ya, So Eun!”ucap Kim Joon diikuti anggukan para temannya. So Eun jadi terhibur melihatnya.

Presdir Jung Gil beserta keluarganya telah masuk ke dalam kamar So Eun setelah mendengar kabar dari Kim Bum.

”Kakek.”

”Kim So Eun. Syukurlah, kau baik-baik saja.” Presdir langsung menggenggam tangan So Eun. Bahagia melihatnya sadar dari lukanya. So Eun tersenyum melihatnya.

”So Eun. Sekali lagi aku berterima kasih kepadamu karena kau telah menyelamatkan Kim Bum.” giliran Madam Ye Jin berbicara sambil menangis bahagia.

”Berkatmu. Semua masalah telah terungkap. Aku tidak menyangka Sang Hyun berbuat begitu hanya karena kesalahpahamannya.”

So Eun jadi teringat dengan Sang Hyun dan Eun Hye.

”Bagaimana dengan Sang Hyun, Kek?”

”Min Ho dan polisi yang terlibat akan mengurusnya. Sang Hyun akan segera di adili. Namun aku tidak tau berapa lama dia akan dipenjara.”jawab Presdir Jung Gil.

”Lalu Eun Hye?”

Presdir terdiam. Dia pun melepaskan kacamatanya.

”Dia akan segera pindah ke London. Dia akan melakukan perawatan yang serius dengan otaknya.”

So Eun terdiam.

 

*****

 

1 minggu kemudian. So Eun berdiri melihat suasana diluar rumah sakit. Kim Bum mengetok pintu sambil masuk ke dalam. So Eun menolehnya.

”Kim Bum.”

”Bagaimana kabarmu?”tanya Kim Bum.

”Seperti yang kau lihat. Aku sudah kembali sehat walaupun belum total.”

”Iya. Padahal peluru yang menembus perutmu itu sangat dalam.”ucap Kim Bum sambil berdiri disampingnya. So Eun hanya tersenyum.

”Oh iya, ini ada titipan surat dari Tante Eun Hye.” Kim Bum menyerahkan suratnya ke So Eun.

”Hah? Surat apa ini?”tanya So Eun bingung sambil mengamati surat dari Eun Hye.

”Entahlah. Aku tidak membukanya.”

So Eun pun terdiam.

 

Setelah Kim Bum keluar dari kamarnya. So Eun pun membuka surat dari Eun Hye.

Dia pun membaca goresan tulisan Eun Hye.

’Kim So Eun. Terima kasih atas semua usahamu yang ingin mengungkapkan permasalahan yang terjadi kepada keluarga Kim Bum dan juga kepadaku. Meskipun berat bahwa Sang Hyun adalah pelaku yang membalas dendam atas kematian adiknya. Namun ini juga salahku. Aku sudah mengunjunginya terakhir kalinya. Berkali-kali aku meminta maaf kesalahanku padanya. Namun dia tidak menjawabnya. Sebenarnya dia orang yang baik. Dan tentunya aku juga terpaksa kecewa. Ternyata dia tidak mencintaiku. Walaupun sulit, aku akan berusaha melupakannya. Namun aku tidak pernah menyesal telah mencintainya. Oh iya, dibalik lembaran ini ada surat lagi dari Sang Hyun. Dia menitipkannya kepadaku.

Kim So Eun. Aku tidak akan pernah melupakan jasa-jasamu.

Salam sayang,

Yoon Eun Hye’

 

Lalu So Eun pun membalik lembarannya dan membaca surat dari Sang Hyun.

”Sejak pertama kali aku berjumpa denganmu. Aku sudah merasakan firasat bahwa kau yang akan jadi ancaman semua rencanaku. Apakah kau tau? Waktu itu, aku rela membantumu mencari pembunuh orang tuamu itu karena aku merasa kita senasib. Orang tuamu yang dibunuh dan adikku yang dibunuh juga.

Namun ternyata kita berbeda. Kau berhasil mengungkap pelaku dibalik semua masalah ini. Dan kau telah membukakan mataku.Aku mengaku salah denganmu dan Kim Bum. Aku sudah meminta maaf kepada mereka. Aku yang terlalu buta untuk melihat kejadian yang sebenarnya.

Kim So Eun, aku minta maaf telah menembakmu. Aku harap kau mau memaafkanku. Sekarang aku benar-benar sangat menyesal.

 

Yoon Sang Hyun’

 

So Eun tersenyum melihat surat dari Eun Hye dan Sang Hyun. Tidak lama dia kembali termenung. Kemudian dia menarik laci yang ada disampingnya. Diambilnya sebuah buku. Dan dia pun mengambil pena lalu menuliskan sesuatu di buku itu.

 

*****

 

2 minggu telah berlalu. Kini So Eun diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Kim Bum sudah berjanji dengannya untuk menjemput.

Namun So Eun tidak menepatinya. Dia mulai keluar dari rumah sakit tanpa menunggu Kim Bum datang.

So Eun pun langsung masuk ke dalam taksi.

 

Kim Bum pun telah sampai di rumah sakit. Dia akan segera menjemput So Eun. Kim Bum langsung menuju ke kamarnya. Namun dia terkejut melihat kamarnya sedang dirapikan suster.

”Suster, mana pasiennya?”

”Oh. Pasien kamar ini sudah keluar.”

Kim Bum tertegun mendengarnya.

”Sejak kapan?”

”Baru 10 menit yang lalu.”
”Apa?”

Kim Bum langsung berlari keluar dari rumah sakit. Dia segera mencari So Eun.

 

So Eun telah sampai di depan rumah Presdir Jung Gil. So Eun berpesan kepada supir taksi agar menunggunya.

So Eun pun keluar sambil membawa surat pengunduran dirinya.

Dia pun disambut para pelayan.

 

”Presdir. Nona So Eun telah kembali.” Pelayan memberitahunya di ruang pribadi Presdir Jung Gil

“Apa?” Presdir yang sedang membaca koran langsung meletakkan korannya dimeja.

Madam Ye Jin yang berada diruangnya juga tertegun mendengarnya.

”Benarkah? Tapi bukankah Kim Bum baru saja berangkat menjemputnya?”

 

So Eun langsung masuk ke dalam ruangannya.

”Kakek.”sapanya.

”Oh. Kim So Eun. Bagaimana kabarmu?”

Presdir memeluk So Eun dan Madam Ye Jin pun bergantian memeluk So Eun.

“Aku baik-baik saja.”

So Eun pun duduk di sofa.

“Mana Kim Bum?”Tanya Madam Ye Jin heran. So Eun tidak langsung menjawabnya.

”Kakek. Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepada kakek.”

So Eun menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Presdir Jung Gil. Presdir Jung Gil pun membacanya.

”Pengunduran diri?”herannya.

So Eun tersenyum dan mengambil sikap tenangnya.

”Iya. Terkait semua masalah ini telah selesai. Tugas dan tanggung jawab saya sebagai bodyguard Kim Bum kini telah selesai. Maka saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan ini.”

Presdir dan Madam terkejut mendengarnya.

”Tapi So Eun. Kau bisa tinggal bersama kami.”kata Madam Ye Jin sambil memegang tangan So Eun.

”Iya. Saya tau. Tetapi saya masih memiliki kewajiban saya yang lain. Saya hanya tidak mau terlalu membebani kalian. Kalian sudah terlalu banyak membantuku. Aku mohon. Ijinkanlah saya pergi.”

Presdir Jung Gil yang mulai mengerti maksud So Eun pun mengangguk.

”Baiklah, So Eun. Kalau itu memang maumu. Aku harap kau jaga kesehatanmu.”

”Terima kasih, Kakek.”

So Eun pun keluar dari rumah Presdir Jung Gil dan kembali masuk taksi. Taksi pun mulai meninggalkan tempatnya. Tidak lama, mobil Kim Bum pun berhenti dirumahnya. Kim Bum keluar dan berlari menuju ke ruang pribadi Presdir.

”Kakek! Apakah So Eun sudah datang?”Tanya Kim Bum. Madam Ye Jin yang sedang menangis langsung memberitahukannya.

“Dia memang datang, Kim Bum. Tapi dia pergi lagi meninggalkan kita.”

“Apa?”

Kim Bum terkejut mendengarnya.

”Jangan-jangan taksi yang tadi itu…..”

Dia pun berbalik menuju ke mobilnya dan mulai mengejar So Eun.

 

TO BE CONTINUED……………………..

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.8

 

Tali yang mengikat tangan So Eun tersangkut dikawat besi. So Eun pun jadi tergantung. Kim Bum langsung mendekatinya dan menarik tangannya ke atas.

”So Eun!” Kim Bum berusaha mengangkatnya. Akhirnya So Eun pun telah sampai dipelukan Kim Bum. Sejenak dia melihat kebawah.

Terlihat Hyun Joong tergeletak dilantai dikelilingi mobil-mobil polisi. Darah Hyun Joong mengalir dari kepalanya, kini Hyun Joong telah tewas.

”So Eun. Kau tidak apa-apa?”tanya Kim Bum sambil melepaskan tali yang mengikat tangan So Eun. So Eun menggeleng menandakan dia baik-baik saja. Tidak lama, So Eun pun pingsan dipelukannya.

”So Eun!”Kim Bum terkejut melihatnya pingsan.

Mata So Eun pun terbuka dengan perlahan. Dia mendapati dirinya berada dikamarnya sendiri.

”So Eun! Kau sudah sadar?”teriak Ji Yun yang sedang duduk disampingnya. So Eun bangun sambil memegang kepalanya. Masih terasa pusing.

”So Eun. Kau jangan bangun dulu. Kondisimu belum sehat.”ujar Ji Yun sambil menuntut So Eun untuk berbaring kembali.

”Kau baik-baik saja kan?”tanya Ji Yun. So Eun tidak menjawab. Sebaliknya, So Eun malah menutup matanya sendiri. Masih ingin beristirahat setelah peristiwa tadi.

Ji Yun pun memakluminya.

”So Eun. Kau harus banyak istirahat.” Ji Yun menyelimuti So Eun. Lalu Ji Yun pun keluar dari kamar So Eun.

Pukul 03.00, So Eun duduk dikasur memandang langit yang masih gelap. Dia sudah tidak bisa tidur lagi. Air matanya menetes ke pipinya.

”Ayah, Ibu. Semoga kalian bahagia disurga ya. Aku merindukan kalian.”

Kim Bum melihat So Eun duduk dikasur sambil memandang jendela. Lalu Kim Bum pun masuk kedalam kamarnya dan duduk disamping So Eun. So Eun langsung menghapus air matanya begitu melihat kedatangan Kim Bum.

”So Eun. Bagaimana keadaanmu?”Tanya Kim Bum.

”Aku baik-baik saja.”jawab So Eun.

“Aku harap kau bersabar. Aku yakin orang tuamu bahagia melihatmu sehat.”ujar Kim Bum. Mata So Eun berkaca-kaca melihatnya.

“So Eun.”

So Eun langsung memeluknya dan menangis terisak.

“Kim Bum!”

So Eun menangis terisak. Kim Bum pun membalas pelukannya ingin memberinya ketenangan.

*****

So Eun dan Kim Bum kini sedang sarapan. Suasananya jadi kaku. So Eun kini tidak banyak bicara begitu juga Kim Bum. Sang Hyun datang disamping So Eun. So Eun menatapnya bingung begitu juga Kim Bum.

”Nona So Eun. Anda dipanggil Presdir Jung Gil untuk datang ke ruangan pribadinya”ujar Sang Hyun.

”Baik. Aku mengerti.” So Eun meletakkan sendok dan garpunya di atas piringnya. Kemudian berdiri dan mengikuti Sang Hyun. Kim Bum hanya terdiam memandangnya.

”Masuk!”teriak Presdir begitu mendengar pintunya diketok. Sang Hyun dan So Eun pun masuk. Lalu Presdir menyilahkan So Eun duduk disofanya. Dengan agak kaku, So Eun pun duduk di sofa.

”Aku turut prihatin kepadamu, So Eun. Mungkin karena kurangnya pengawasan kami. Sehingga kau begitu mudah diculik olehnya. Untunglah Kim Bum berhasil menyelamatkanmu.”ujar Presdir sambil meletakkan kacamatanya ke meja. So Eun terdiam.

”Uhm… Walaupun kami sudah berhasil mengungkapkan pembunuh orang tuamu. Aku harap kau tidak lupa dengan janjimu.”

So Eun kembali memandangnya serius.

”Aku harap. Kau jangan terus bersedih. Karena kau masih mempunyai tugas satu lagi. Yaitu menjaga Kim Bum sampai masalah yang menimpa keluarga kami selesai.”lanjut Presdir. Sang Hyun menatap So Eun. So Eun pun mengangguk mengerti.

”Saya mengerti, Kakek. Saya akan terus menjaganya.”jawabnya. Presdir mengangguk senang dengan So Eun yang begitu paham dengan tanggung jawabnya.

Kim Bum dan So Eun pun telah masuk ke dalam kelasnya disambut para siswa.

”So Eun! Kau tidak apa-apa? Aku dengar kau diculik Mister Hyun Joong?”tanya Ah In khawatir. Kim Bum langsung duduk di bangkunya.

”Aku baik-baik saja.”

”So Eun. Terimalah bunga ini.” Geun Suk menyerahkan buket bunga mawar ke So Eun.

”Hah?” So Eun jadi bingung. Kim Bum membuang mukanya begitu muncul Geun Suk.

”Tenang saja. Ini bunga dari kelas kita. Untuk menyambutmu yang sudah sehat ini.”lanjut Geun Suk.

”Oh. Haha… Terima kasih.”ucap So Eun sambil mencium bunga mawar yang wangi itu.

”Terima kasih kalian semua! Aku benar-benar senang.”ujar So Eun.

*****

”Apa tidak buru-buru, Ayah?”tanya Madam Ye Jin mendengar perkataan Ayahnya di ruang keluarga.

”Aku kira mereka sudah siap.”jawabnya.

”Baiklah. Kalau memang Ayah berpikir begitu.”

”Nanti malam, kita akan memberitahukan mereka. Orang tuanya Eun Hye juga akan datang.”

”Baik.”

Presdir Jung Gil kembali minum teh herbalnya diikuti anaknya, Madam Ye Jin.

Pada malam hari di ruang makan. So Eun, Kim Bum, Ji Yun, Kim Joon beserta keluarganya Kim Bum berkumpul disatu ruangan itu. So Eun menyikut Ji Yun.

”Ji Yun. Memangnya ada acara apa ya?”tanyanya sambil memerhatikan Presdir Jung Gil.

”Entahlah. Aku juga tidak tahu.”jawab Ji Yun. Tidak lama keluarganya Eun Hye telah datang dan bergabung dengan mereka.

”Oh. Rupanya kalian sudah datang. Silakan duduk dan nikmati sajian makan malam kami.”kata Presdir Jung Gil.

”Kau tidak usah repot-repot, Presdir.”ujar Ayahnya Eun Hye.

Kim Bum mengernyitkan dahinya melihat kedatangan keluarganya Eun Hye. Kim Bum langsung bertanya kepada Eun Hye yang duduk disampingnya.

”Ada apa ini, Tante? Kenapa keluargamu datang juga?”

”Aku juga tidak tahu, Kim Bum. Katanya aku harus datang kesini bersama keluargaku. Katanya sih ada yang mau diumumkan.”jawab Eun Hye.

”Apa?”
Presdir mengetuk gelasnya berkali-kali seolah ingin memberi perhatian.

”Baiklah. Karena kalian sudah berkumpul disini. Kalian pasti merasa heran kenapa keluarga Eun Hye pun datang.”

Semuanya terdiam memperhatikan Presdir Jung Gil yang berdiri.

”Keluargaku dan keluarga Eun Hye sudah membahas tentang pertunangan cucuku dan anaknya.”

”Hah? Apa maksudnya?”tanya Kim Joon kepada Kim Bum yang duduk disampingnya.

Kim Bum dan Eun Hye merasakan ada firasat buruk.

”Kami sudah membicarakan tentang tanggal pertunangannya. Dan kami sepakat pertunangan ini akan dilaksanakan 1 minggu kemudian.”seru Presdir Jung Gil diiringi tepukan meriah di sekelilingnya kecuali Kim Bum, Eun Hye, So Eun, Ji Yun, dan Kim Joon.

”Apa? Mereka akan segera tunangan?”guman Ji Yun terkejut.

So Eun memerhatikan Kim Bum dengan wajahnya yang kecewa.

Dia tidak berbicara. Tidak menentang. Hanya terdiam. Sementara Eun Hye memandang Sang Hyun. Sama seperti Kim Bum, Eun Hye hanya terdiam kecewa.

*****

Sejak pengumuman pertunangan itu. Suasana mulai berubah. Rumahnya sedang sibuk didekorasi. Kini Kim Bum sering keluar dari rumahnya. So Eun yang menemaninya hanya menatap Kim Bum bingung. Kini mereka berada di sebuah kafe. Kim Bum sedang terdiam menatap laptopnya. So Eun hanya bisa minum jusnya.

Tidak lama, So Eun pun membuka suaranya.

”Kim Bum.”

”Ng?”jawab Kim Bum tanpa menatap So Eun.

“Kim Bum.” Panggilnya lagi

“Ng?”

So Eun jadi kesal mendengar Kim Bum hanya menjawab tanpa membuka mulutnya untuk berbicara.

“Kim Bum!”teriak So Eun.

“Ada apa, So Eun?” Kim Bum pun berbicara dengan malas.

”Begitu Kim Bum. Kau jangan hanya menjawab ’Ng’ aja. Bikin kesal tau gak?” So Eun mengoceh. Kim Bum kembali menatap laptopnya.

“Kim Bum. Kau kan sebentar lagi tunangan. Lalu kenapa kau jadi cemberut begitu?”tanya So Eun. Lagi-lagi Kim Bum tidak menjawabnya.

So Eun hanya bisa mendengus kesal melihatnya.

“Oke…oke! Kalau kau tidak mau menjawab pertanyaanku.”kesalnya. Kim Bum pun tertawa pahit.

Eun Hye bersama Sang Hyun di taman rumah Presdir Jung Gil.

”Sang Hyun. Aku mencintaimu.”seru Eun Hye membuat Sang Hyun tertegun mendengarnya.

”Nona Eun Hye. Kau jangan begitu. Kau akan segera bertunangan dengan Tuan muda Kim Bum.”

”Sang Hyun! Bisakah kau tidak memikirkannya? Aku hanya bertanya padamu. Kau tau aku mencintaimu. Lalu bagaimana perasaanmu terhadapku?”tanya Eun Hye langsung. Sang Hyun terdiam.

”Mohon maaf, Nona. Aku ada urusan penting.”ujarnya sambil berbalik meninggalkan Eun Hye sendirian di taman.

”Dasar Sang Hyun bodoh!”gumam Eun Hye sambil meneteskan air matanya melihat punggung Sang Hyun yang memasuki rumah.

Minuman So Eun telah habis. Sudah 3 jam menemani Kim Bum yang masih main laptop.

So Eun jadi penasaran yang dilakukannya.

”Kim Bum! Sudah 3 jam kita disini. Sebenarnya apa sih yang sedang kau lakukan dilaptop?”tanya So Eun sambil menyenderkan kepalanya untuk melihat layar Laptop. Kim Bum panik langsung menutup laptopnya.

“Hei! Kau kenapa? Aku kan mau lihat juga.” So Eun terkejut melihat Kim Bum.

”Tidak boleh!”

”Kenapa?”

Tiba-tiba Eun Hye datang sendirian ke kafe. Eun Hye terkejut melihat So Eun dan Kim Bum.

”Kak Eun Hye?”

Kim Bum hanya terdiam.

”So Eun. Kebetulan kau ada disini. Kau bisa ikut aku?”

”Hah?”

Eun Hye langsung menarik So Eun keluar.

Kini Eun Hye dan So Eun sedang duduk di taman kota. Tiba-tiba Eun Hye menangis.

”Kak Eun Hye. Kau tidak apa-apa?”tanya So Eun sambil mengeluarkan tisu yang dibawanya di tas. Lalu diberikannya ke Eun Hye. Eun Hye pun menerimanya dan menyeka air matanya.

”So Eun. Bagaimana ini? Padahal aku mencintai Sang Hyun. Aku tidak mau bertunangan dengannya.”

”Apa? Kakak mencintai Sang Hyun?” So Eun terkejut yang baru mengetahui Eun Hye mencintai Sang Hyun meskipun dia tahu kalau Kim Bum dan Eun Hye tidak saling mencintai.

”Iya. Kau tau? Aku menerima jadi calon tunangannya karena ada Sang Hyun. Tapi aku takut kalau aku resmi jadi tunangan Kim Bum maka aku harus berakhir menikah dengannya. Bagaimana ini, So Eun?”

So Eun tidak menjawabnya. Eun Hye terus menangis dipelukan So Eun.

*****

Acara pertunangan telah tiba. Para tamu dan teman-teman sekelasnya pun datang menghadiri acara itu. Mereka pun berkumpul di ruang pesta itu. Mobil milik keluarga Eun Hye pun datang. Mereka pun keluar. Keluarga Kim Bum bersama So Eun kecuali Kim Bum menyambut kedatangannya. Eun Hye pun membawa kucing putih yang lucu.

So Eun dan Ji Yun langsung menghampiri Eun Hye yang berpenampilan sangat cantik.

”Kak Eun Hye! Wah… kucingnya lucu sekali.”puji So Eun sambil mengelus kepala kucing yang dipenuhi bulu-bulunya yang halus.

”Lucu kan? Coba kau gendong kucing ini. Jinak kok!”

”Benarkah?” So Eun pun menggendong kucing yang dibawa Eun Hye.

Presdir pun mendekati Eun Hye.

”Mari kita masuk, Eun Hye.”

Eun Hye mengangguk.

”So Eun. Tolong jaga kucingku ya?”

”Baiklah.”

Eun Hye pun masuk kedalam diikuti So Eun.

Namun So Eun tidak langsung masuk keruang pesta. Dia berniat menuju ke kamarnya. Namun saat dia sedang naik tangga, tiba-tiba kucing itu melompat darinya dan kabur.

”Eh-eh. Tunggu! Kau jangan kabur! Hhh… katanya kucingnya jinak. Tapi ternyata….”

So Eun pun terpaksa mencari kucing Eun Hye yang mulai hilang dari pandangannya. Tiba-tiba dia menabrak Sang Hyun.

”Kau tidak apa-apa?”tanya Sang Hyun.

”Aku tidak apa-apa, Kak Sang Hyun.”jawab So Eun. So Eun mengernyitkan dahinya begitu melihat seseorang disamping Sang Hyun. Seorang pria berjas hitam tersenyum ke arahnya. So Eun pun membalas senyumannya.

”Dia siapa, Kak Sang Hyun?”tanya So Eun.

”Oh. Dia ini adalah Lee Jae Goong. Beliau ini adalah temannya Presdir Jung Gil.”jelas Sang Hyun sambil memperkenalkannya ke So Eun.

”Oh. Selamat datang Tuan Jae Goong.”sapa So Eun. Jae Goong hanya tersenyum. Lalu mereka pun beranjak menuju ke ruang pesta. So Eun hanya terdiam melihatnya.

”Ah! Si kucing! Kucing….?! Kau dimana?” So Eun terus mencarinya.

Kim Bum pun telah memasuki ruang pesta ditemani Kim Joon dan Min Ho.

Mereka pun bergabung dengan rombongan Presdir. Kim Bum dan Eun Hye berhadapan. Mereka hanya saling memandang pasrah. Sesekali Eun Hye memandang Sang Hyun yang berdiri disamping Presdir Jung Gil. Sementara Kim Bum, matanya mencari sosok So Eun.

Geun Suk, Ah In, So Hee, dan Gyu Ri sedang berkumpul didepan meja sajian makanan.

”Aku tidak mengira Kim Bum akan bertunangan dengan wanita yang lebih tua darinya.”ujar Geun Suk sambil memperhatikan rombongan Kim Bum. Sedangkan So Hee hanya bisa terdiam kecewa, kesal, dan sedih.

”Padahal aku masih mencintainya. Kenapa dia mesti dijodohkan sih?”kesal So Hee. Gyu Ri terus mengelus pundaknya.

”Yang sabar ya, So Hee.” Gyu Ri berusaha menenangkan sahabatnya.

”Ngomong-ngomong mana So Eun? Kok gak ada?”celetuk Ah In sambil mencari sosok So Eun. Geun Suk yang menyadari itu pun ikut mencari sosoknya.

“Aduh! Kucing. Kau dimana sih? Jangan bersembunyi lagi. Aku sudah capek.”

So Eun terus mengeluh. Tiba-tiba dia melihat kucing itu berlari masuk ke dalam kamar.

”Ah! Itu dia. Kau tidak akan bisa kabur dariku lagi.” So Eun pun berlari masuk kedalam kamar yang rupanya tidak dikunci.

Dia tertegun melihat suasana kamar yang rapi.

”Wah. Bagus sekali kamar ini. Ini kamar siapa ya?”

Tiba-tiba kucing itu melompat dari meja sehingga dokumen-dokumen yang tertata rapi di atas meja terjatuh berserakan.

”Aduh! Kucing ini malah bikin kacau saja!”

So Eun pun menunduk. Memungut dokumen-dokumen itu. Tiba-tiba foto yang diselip ke dokumen itu terjatuh berserakan. So Eun tertegun melihat foto yang terjatuh itu.

”Ini kan fotonya Kim Bum dan aku?” So Eun terus melihat foto-foto secara bergantian. Dia terkejut melihat foto terakhir itu.

”Kenapa dia bisa ada difoto ini?” So Eun jadi bertanya-tanya.

”Meong…” terdengar suara kucing yang berusaha mencabik-cabik pintu lemari.

”Ah! Kucing, kau disitu rupanya.”

So Eun pun menghampirinya lalu menggendongnya. Namun kucing itu terus mengeong.

”Ada apa, kucing?”

So Eun menatap lemari pakaian itu.

Dia pun membuka pintunya. Dan seorang pria terjatuh dengan posisi terikat. Pria itu tidak sadarkan diri. So Eun merasa kenal dengan wajah pria itu. Dia berusaha mengingatnya. Dan tiba-tiba dia menyadarinya.

”Bukankah ini Tuan Lee Jae Goong? Jangan-jangan….”

So Eun langsung berlari keluar. Kucing itu pun kembali melompat dan kabur lagi darinya.

”Baiklah. Kim Bum dan Eun Hye silakan kalian bertukar cincin.”seru Presdir Jung Gil yang acaranya pun telah dimulai.

So Eun terus berlari menuju ke ruang pesta. Dia melihat pelayan membawa banyak pisau makanan.

”Eh-eh… tunggu! Aku pinjam pisaunya dulu ya!” So Eun langsung mengambil beberapa pisau tanpa menghiraukan pelayan yang bertanya-tanya dengannya. So Eun kembali berlari menuju ke ruang pesta.

Jae Goong palsu memasukkan tangannya ke kantong jasnya lalu mengeluarkan senjata sambil ditutupi saputangan sehingga orang-orang tidak bisa melihat senjata pistolnya. Dia mengarahkan ke Kim Bum yang sedang ragu untuk memasukkan cincin itu ke jari Eun Hye.

So Eun telah sampai di ruang pesta namun terkejut melihat Jae Goong palsu siap menembaknya. So Eun langsung masuk melindungi Kim Bum sambil melempar pisau yang dibawanya hingga menancap tangan Jae Goong palsu itu. Suasana jadi ricuh melihat aksi So Eun dan pistol yang dijatuhkan Jae Goong palsu. Jae Goong palsu itu merintih kesakitan sambil mencabut pisau.

”Ada apa ini, So Eun?”tanya Kim Bum.

”Dia bukan Tuan Lee Jae Goong asli!”

Suara mulai ricuh mendengar perkataan So Eun.

”Apa maksudmu?”

”Kau bukan Lee Jae Goong. Benarkan, Ibu Han Chae Young?”

“Apa?!”

“Benarkah itu?”Tanya So Hee.

Orang itu tersenyum. Sambil menahan rasa sakit di tangannya. Dia pun membuka topengnya. Seisi ruang terkejut melihat rupa Chae Young.

”Bukankah dia sudah meninggal?”seru Suk Hwan.

Chae Young tersenyum sambil menepuk tangan dengan pelan.

”Tidak kusangka kau pintar sekali, So Eun.”

”Kenapa Ibu Chae Young masih hidup?”tanya Kim Bum.

”Rupanya yang kita lihat di laut itu, dia belum mati, Kim Bum.”jawab So Eun sambil berbisik kepada Kim Bum.

”Aku sudah mengetahui siapa pelaku dibalik semua penculikan dan pembunuhan terhadap keluarga Kim Bum. Aku menemukan bukti ini.”lanjutnya.

So Eun menunjukkan dokumen yang dibawanya.

”Pelakunya adalah……” So Eun menatap tajam Sang Hyun.

”Yoon Sang Hyun!”seru So Eun.

”Apa?!”seru Eun Hye beserta para tamu terkejut mendengar So Eun. Mereka pun memusatkan perhatian ke Sang Hyun yang terus terdiam.

”Apakah itu benar, Sang Hyun?”tanya Presdir Jung Gil tidak percaya Sang Hyun, mantan bodyguard dan Asisten pribadinya yang dipercaya adalah pelaku dibalik semua masalahnya.

Sang Hyun tersenyum lalu mengeluarkan pistolnya dan ditodongkannya ke kepala Presdir Jung Gil yang berada disampingnya.

”Kakek!”teriak Kim Bum panik melihatnya.

”Rupanya kau memang tidak bisa diremehkan, So Eun.”ujar Sang Hyun sambil tersenyum kepada So Eun yang sedang menatap waspada ke Sang Hyun dan Chae Young.

So Eun terus melindungi Kim Bum dan Eun Hye. Dia memutar otak untuk mencari cara menyelamatkan Presdir Jung Gil.

“Kenapa kau lakukan ini, Sang Hyun?”tanya Presdir Jung Gil.

Sang Hyun tidak langsung menjawabnya. Dia menunjukkan sebuah foto dari saku celananya.

”Apa kau masih ingat ini, Presdir?”

”Bukankah itu adikmu, Yoon So Hye?”

”Ya. Dia meninggal karenamu.”

”Apa? Apa maksudmu.”

Presdir terkejut mendengar perkataan Sang Hyun. Dia masih tetap tidak mengerti.

”Jangan pura-pura lupa! Kau kan yang mendorongnya hingga dia tewas.”

Eun Hye memegang kepalanya. Rasanya dia jadi ingat sesuatu.

”Apa maksudmu? Aku tidak mendorongnya.” Presdir masih tidak mengerti maksud perkataan Sang Hyun. Sang Hyun melepaskan tembakan pertama ke atap rumah. Para tamu jadi panik. Lalu kembali dia menodongkan pistolnya ke Presdir.

”Sudah kubilang. Kau jangan pura-pura lupa!?”seru Sang Hyun.

”Aaarrgghh……!!!”teriak Eun Hye sambil memegang kepalanya. So Eun, Kim Bum dan para tamu sentak melihat Eun Hye.

 

TO BE CONTINUED…………………………………………………

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.7

Annyeong!!??

Maaf ya kalo chapter kali ini sedikit.

coz agy buru-buru neh….

Hihihi…

Langsung aja lanjutan dari sang pembunuh, Kim Hyun Joong!

:p

Chapter 7:

“Kim Hae Jyong dan Chae Rim telah ditangkap dan diadili seumur hidup karena terbukti telah mengedarkan narkoba selama 10 tahun yang mengakibatkan telah menewaskan kurang lebih 20 orang.”

Isi artikel koran korea yang mulai diterbitkan dimana-mana. Kim Hyun Joong yang saat itu masih berusia 11 tahun sedang duduk dipengadilan usai kedua terdakwa diberi sanksi yang berat. Kedua polisi itu pun menghampiri Hyun Joong yang masih terdiam. Seorang wanita memberi pelukan kepada Hyun Joong.

”Hyun Joong. Aku tau ini sangat berat buatmu. Tetapi yang namanya kejahatan harus ditegakkan. Maafkan kami. Kau akan tinggal dipanti asuhan. Disana banyak teman-teman yang akan menyayangimu. Oleh karena itu, bersabarlah.”ujar wanita itu sambil diiringi senyuman suaminya yang menyetujui perkataan istrinya.

Hyun Joong tidak menjawabnya. Dia hanya terdiam sambil mengepalkan tangannya dipaha.

”Ayo, Hyun Joong. Ikut kami keluar.” Wanita itu merangkul Hyun Joong seraya untuk menuntutnya keluar dari tempat pengadilan itu.

Hyun Joong satu per satu menuruni tangga di tempat yang berlawanan dari para wartawan. Mereka sengaja mengambil jalan belakang guna menghindari gerombolan wartawan. Dua mobil telah berhenti tepat di hadapan mereka. Dimobil yang satu itu keluar gadis kecil sambil membawa bunga lilin. Gadis kecil itu berlari ke arah orang tuanya.

”Ayah, Ibu!”teriak gadis kecil itu. Wanita yang merangkul Hyun Joong itu gembira melihat putri kecilnya datang begitu juga suaminya.

“Kim So Eun!” Wanita itu melepaskan rangkulannya dan beralih ke pelukan So Eun. Suaminya pun membelai kepala putri kecilnya.

“Ayah, Ibu. Lihat kalung medaliku! Aku dapat juara lagi!”teriak So Eun kecil dengan semangatnya. Ayah dan Ibunya hanya tertawa melihat tingkah So Eun yang begitu lucu.

“Oh iya, So Eun. Kenalkan ini Kim Hyun Joong.”ujar Ibunya sambil memperkenalkan Hyun Joong ke putrinya. Hyun Joong masih tetap menunduk. Tiba-tiba dia terkejut, pasalnya So Eun langsung memeluknya. Hyun Joong hanya tertegun melihatnya.

”Nama kakak, Kim Hyun Joong ya? Kenalkan juga namaku Kim So Eun. So Eun.”ujar So Eun sambil menyerahkan bunga lilin kepada Hyun Joong. Hyun Joong hanya terpana melihat pemberian dari So Eun. Lagi-lagi So Eun memeluknya.

”Aku harap kita bisa jadi teman yang baik ya!”

Hyun Joong mengangguk sambil memandangnya.

Seorang wanita telah datang menghadap orang tua So Eun.

”Semua sudah siap, ketua!?”tegasnya.

”Baiklah. Kau bawa dia ke tempatnya.” Ayahnya memerintahkan anak buahnya untuk membawa Hyun Joong.

Hyun Joong hanya terdiam saat ditariknya menuntut masuk kedalam mobil. Dia tetap tidak melepaskan pandangannya ke So Eun yang masih tersenyum kepadanya. Bahkan saat dia masuk mobil pun masih tetap memandang So Eun. Rupanya kini dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak lama, Hyun Joong pun tersenyum.

Kini Hyun Joong telah berusia 19 tahun. Dia berpakaian rapi. Sekarang dia berada di depan rumah So Eun. Dia membawa bunga dan buah-buahan sebagai oleh-oleh. Lalu dia memencet bel rumah itu. Pintunya dibuka oleh Ibunya So Eun.

”Ya? Anda sedang mencari siapa?”tanya Ibunya So Eun yang rupanya sudah lupa dengan rupa Hyun Joong yang sudah dewasa. Hyun Joong hanya tersenyum.

”Apa? Kau mau meminang putriku?” Ayahnya So Eun terkejut mendengar pengutaraan maksud Hyun Joong datang ke rumahnya. Begitu juga dengan Ibunya So Eun.

”Kau ini siapa?! Beraninya meminang putriku!” Ayahnya menggebrak mejanya saking emosinya. Hyun Joong masih tetap tersenyum. Ibunya berusaha menenang emosi suaminya.

”Tapi maaf. Kami tidak mengenal Anda.”ujar Ibunya So Eun. Hyun Joong pun menjawabnya.

”Namaku Kim Hyun Joong. Apa kalian lupa? Aku adalah anaknya Kim Hae Jyong dan Chae Rim.”

Ayah dan Ibunya So Eun tertegun mendengarnya.

”Kau… anak yang waktu itu? Uhm… Tapi maaf. Kami tidak bisa menerima pinangan Anda. Dan kami juga tidak akan merestui hubungan kalian.”

”Kenapa?” tanya Hyun Joong berusaha menahan emosinya atas penolakan orang tuanya.

”Karena kami tidak akan menerimamu untuk menjadi suami anakku kelak.”

”Kenapa?! Apa karena aku ini adalah anaknya pengedar narkoba? Lantas kalian menentangku?”teriak Hyun Joong yang tidak bisa mengontrol emosi.

Orang tua So Eun terkejut melihatnya. Mereka pun ikut berdiri.

”Kenapa kau marah-marah? Yang pasti kami tidak menyetujuinya?!”tolak Ayahnya sambil membuang muka.

”Dasar orang tua sialan!?”

Hyun Joong pun mengeluarkan pistol dari punggungnya yang diselipkan di celana belakangnya. Orang tua So Eun terkejut melihatnya dan langsung mundur dari Hyun Joong.

”Apa yang kau lakukan?”tanya Ayahnya So Eun.

Hyun Joong tidak menjawabnya. Dia menodongkan pistolnya ke arah orang tua So Eun.

”Seharusnya kalian berterima kasih kepadaku. Jika tidak ada So Eun. Mungkin aku akan membalas dendam kepada kalian. Kini kalian telah menolak cintaku kepada So Eun. Tidak ada yang boleh menghalangiku mendapatkannya walaupun itu orang tuanya sendiri.”

”Apa?!”

Tidak memberi kesempatan, Hyun Joong langsung menembak mereka berkali-kali. Sampai darah-darah dari Orang tua So Eun pun bermuncratan ke dinding putih. Orang tua itu pun tergeletak di lantai. Tewas seketika.

Hyun Joong pun membawa bunga dan buah-buahannya. Lalu dia pun mematikan lampu rumah dengan pistolnya dan keluar dari rumah itu.

2,5 tahun telah berlalu……

Hyun Joong tertawa saat menceritakan peristiwa tragis orang tuanya So Eun. So Eun pun menatap marah ke Hyun Joong.

”Biadab kau!? Kau benar-benar sakit jiwa!”teriak So Eun dengan penuh amarah. Hyun Joong pun memegang wajah So Eun.

”Terserah kau bilang apa tentang diriku. Lagi pula yang pasti aku telah berhasil mendapatkanmu setelah susah payah menghindar dari para polisi sialan itu yang mulai mengejarku di Singapura.”

”Kau….!?”

Hyun Joong langsung mencium bibir So Eun dengan paksa. So Eun yang tidak mau dicium langsung menendang perutnya sehingga kalung pemberian Kim Bum pun tertarik oleh Hyun Joong. Dan Hyun Joong pun terjatuh ke lantai dan pisau yang dipegangnya pun terjatuh tepat di depan So Eun.

Dengan sigap, So Eun mengambil pisau itu dengan kedua tangannya yang terikat dan mulai keluar dari ruangan itu.

Hyun Joong berdiri sambil menahan rasa sakit perutnya akibat ditendang So Eun.

”Kau tidak akan bisa kabur dariku, So Eun!?”

Hyun Joong pun mengejar So Eun yang mulai kabur sambil membuang kalung yang digenggamnya.

”Gawat! Jangan-jangan So Eun diculik olehnya?”ujar Kim Bum panik.

”Apa maksudmu?”tanya Kim Joon yang mendengar kata-kata Kim Bum. Kim Bum tidak menjawabnya.

Dia langsung menuju ke laci, dibukanya laci itu lalu diambilnya PDA Phone. Dia membuka aplikasi peta. Dan terlihat warna merah berkedip-kedip.

Tidak mau terjadi sesuatu kepada So Eun. Kim Bum langsung mengambil mantel dan kunci mobilnya. Lalu berlari keluar.

”Kim Bum! Kau mau kemana?”teriak Kim Joon sambil mengejarnya begitu juga Min Ho. Tanpa sengaja, mereka menabrak Sang Hyun yang saat itu juga sedang buru-buru.

”Tuan Kim Bum mau kemana?”tanya Sang Hyun kepada Kim Joon.

”Sepertinya dia sedang mencari So Eun yang diculik Hyun Joong.”jawab Kim Joon sambil berlari diikuti Min Ho. Sang Hyun tertegun mendengarnya. Dia pun berbalik menuju ke ruang pribadi Presdir Jung Gil.

Presdir Jung Gil yang saat itu sedang membaca dokumen tentang Kim Hyun Joong terkejut melihat kemunculan Sang Hyun secara tiba-tiba.

”Maafkan ketidaksopananku, Presdir. Tapi kita ada masalah gawat.”

”Apa itu?”

”Nona Kim So Eun telah diculik Kim Hyun Joong.”jawabnya.

”Apa?!” Presdir terkejut mendengarnya. Lalu dia bangkit dari kursinya dan mengambil mantelnya.

”Cepat telepon polisi!?”perintah Presdir Jung Gil sambil keluar.

”Baik!” Sang Hyun pun langsung meneleppon polisi.

So Eun sedang bersembunyi dibalik lemari. Dia tidak tau kini dia sedang berada dilantai berapa. So Eun berusaha melepaskan tali yang mengikatnya dengan pisau. Cukup sulit untuk memutuskannya. Namun tiba-tiba dia dipeluk dari belakang. Rupanya Hyun Joong berhasil menemukannya.

”Kau mau kemana, So Eun?”ucap Hyun Joong sambil tersenyum.

So Eun pun langsung menancap pisaunya ke bahu Hyun Joong.

”Aarrgghh…!!???” Hyun Joong berteriak kesakitan. Bahunya jadi terluka dalam akibat tusukan pisau oleh So Eun. Pelukannya terlepas, So Eun pun langsung berlari darinya. Berlari menuju ke lantai atas.

Dengan menahan sakit, Hyun Joong mencabut pisau yang menancapnya lalu dilemparnya secara sembarang. Hyun Joong menutup luka bahunya dan bangkit.

”Sialan kau, So Eun!?”

Hyun Joong pun mengejarnya dengan terhuyung menahan rasa sakitnya.

Kim Bum terus menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh. Kim Joon dan Min Ho dalam satu mobil pun mengejarnya dari jauh. Sementara Min Ho sedang sibuk menelepon polisi.

Kim Bum terus menuju ke arah So Eun sesuai dengan radar di PDA Phone miliknya.

So Eun terus berlari dan akhirnya dia pun sampai di lantai paling atas. So Eun berlari lurus dan tiba-tiba dia berhenti melihat kebawah gedung yang terlihat jalanan dan pepohonan yang sepi.

”Sial!? Jalan buntu!?”

So Eun berbalik mendengar langkah Hyun Joong yang mulai menuju ke arahnya.

Kim Bum telah sampai di tempat gedung tua yang tidak terawat. Kim Bum langsung mencari asal radar itu. Dia menemukan ruangan itu. Lalu dia mendobrak pintu dengan tendangan kakinya berkali-kali. Kemudian dia masuk ke dalam.

”So Eun?! So Eun?!”teriak Kim Bum memanggil nama So Eun berkali-kali. Tidak ada jawaban. Namun dia menginjak sesuatu. Kim Bum pun mengambilnya yang rupanya sebuah kalung darinya yang telah dipakai So Eun.

Kim Bum langsung menatap langit kamar. Dia tahu dimana So Eun berada. Langsung dia berlari ke lantai atas tempat So Eun berada.

Akhirnya Hyun Joong pun menemukannya. So Eun sudah tidak bisa mundur lagi. Hyun Joong pun tertawa gembira melihatnya.

”Hahaha…. kau mau kemana lagi, So Eun? Tidak ada jalan lain lagi kan.”

So Eun hanya terdiam. Dia langsung berlari melewatinya. Namun gagal, Hyun Joong berhasil menangkapnya. Hingga So Eun pun bergulat dalam pelukan Hyun Joong.

”Lepaskan aku!”berontaknya.

Kim Bum pun membuka pintu lantai paling atas dan terkejut melihat So Eun sedang berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Hyun Joong.

Dengan kekuatan kakinya, So Eun pun menendang perut Hyun Joong hingga Hyun Joong terjatuh ke bawah.

”So Eun!”panggil Kim Bum.

So Eun pun berbalik. Terlihat pancaran wajahnya yang gembira melihat Kim Bum.

“Kim Bum.”

Namun kejadian begitu cepat, tangan Hyun Joong berhasil memegang kaki So Eun sehingga So Eun pun ikut terjatuh.

“So Eun!?” Kim Bum terkejut melihat So Eun ikut terjatuh bersama Hyun Joong.

TO BE CONTINUED………………………

Wah…!!! Akankah So Eun selamat????

Nantikan chapter.8!?

NB: Jangan Lupa Komennya ya!?

^_____________^

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.6

Annyeong!!??
Kali ini chapter yang menguak misteri pembunuh orang tuanya So Eun.
Langsung aja! Silakan baca!

Chapter 6:
“Oke. Karena hari ini kita belajar musik. Bagaimana kalau kita ke kelas piano. Ayo!”ajak Hyun Joong sambil keluar menuju ke kelas piano diikuti para siswa.
Mereka pun memasuki kelas piano. Lalu mencari tempat masing-masing. So Eun tentunya masih berada disamping Kim Bum. Dia benar-benar gelisah. Dia sama sekali tidak mengerti cara memainkan piano.
”Baiklah. Sekarang kita belajar dasarnya dulu. Tentunya kalian yang sudah kelas tiga ini pasti sudah bisa mengetahui letak not-not pada tuts piano. Uhm… aku ingin mendengar dulu dasar-dasar kalian. Semoga kalian masih ingat letak not-notnya.”ujar Hyun Joong sambil melihat buku absen para siswa. Sementara para gadis sedang deg-degan menunggu panggilan Hyun Joong, sedangkan So Eun malah berkomat-komit agar tidak dipilih. Hyun Joong melirik So Eun sambil tersenyum.
”Kim So Eun.”panggilnya. So Eun terkejut. Dia jadi gugup begitu dipilihnya.
“Kau yang bernama Kim So Eun?”Tanya Hyun Joong sambil menunjuk So Eun. So Eun mengangguk pelan dengan kaku. Kim Bum hanya terdiam melihatnya.
Lalu Hyun Joong mendekati So Eun.
“Baiklah. Coba kau tekan nada Re.”ujar Hyun Joong. Hati So Eun jadi berdegup cepat lantaran dia tidak tau dimana letak not itu. Sambil menutup mata, dia pun menekan tuts itu dengan asal.
Para siswa seisi kelas malah menertawakan So Eun. Pasalnya yang dia tekan bukan Re melainkan Sol. Hyun Joong hanya bisa tertawa kecil. So Eun jadi malu.
”Itu bukan Re tapi Sol, So Eun. Sepertinya kau tidak terlalu ahli dalam musik ya?”tanya Hyun Joong.
“Uhm… aku… aku memang tidak bisa main alat musik. Apalagi piano.”jawab So Eun yang masih menunduk dan jemarinya masih diatas tuts piano. Hyun Joong pun mengangkat jemarinya ke piano So Eun.
”Ini yang namanya Re.” Hyun Joong menekan tuts Re. Entah disengaja atau tidak, jemari Hyun Joong bersentuhan dengan jemari So Eun sehingga So Eun sedikit terkejut.
”Ah. Maaf.”ucap Hyun Joong yang merasa bersalah.
”Tidak apa-apa.” So Eun menurunkan tangannya diatas pahanya. Kim Bum hanya bisa curiga melihat Hyun Joong.
”Baiklah. Jadi itu letaknya. So Eun, aku rasa kau perlu banyak belajar.”
So Eun mengangguk. Hyun Joong memegang kedua bahunya seraya ingin memberi semangat.
”Baiklah. Sekarang mari kita pelajari dasar-dasarnya secara bersamaan.”
Kelas pun mulai belajar piano dengan serius.

*****

Kim Joon langsung datang ke kamar Kim Bum yang sedang asyik membaca buku.
”Yoyoyo… Kim Bum! Aku punya kabar baik buatmu!”teriak Kim Joon sambil duduk di sofa. Kim Bum menutup bukunya dan diletakkannya di atas meja belajarnya.
”Apa itu?”
”Kau tau? Sepupuku. Dia sudah datang ke sini.”
”Oh iya? Sekarang dia dimana?”
”Sayangnya, hari ini dia sedang sibuk. Katanya dia mau bertemu dengan calon istrinya yang tinggal di Korea ini.”kata Kim Joon sambil berdiri mengambil cemilan di atas meja.
”Lalu?”tanya Kim Bum lanjut.
”Oh. Dia sudah mendapatkan datanya yang kau minta. Ini.” Kim Joon mengeluarkan sebuah dokumen dari jaketnya. Lalu diserahkannya ke Kim Bum. Kim Bum pun membacanya dengan serius.
”Dia menjuarai setiap perlombaan olahraga dari TK sampai SMP bahkan pernah menjuarai olimpiade lari marathon se-Asia?”Kim Bum membacanya sambil mengernyitkan dahinya.
”Iya. Pantas saja dia kuat dan larinya cepat.”ujar Kim Joon sambil makan biskuit.
”Oh iya. Coba kau liat bagian kasusnya.”lanjut Kim Joon. Kim Bum pun membacanya sesuai arahan Kim Joon.
”So Eun menemukan orang tuanya dibunuh dirumahnya setelah pulang merayakan kelulusan SMPnya?” heran Kim Bum.
”Iya. Katanya setelah itu dia dimasukkan ke panti asuhan karena dia tidak memiliki sanak saudara. Tetapi tidak lama itu dia malah kabur dari panti asuhan dan hidup mandiri.”
”Pantas aja dia jadi pengemis.”gumam Kim Bum.
”Apa?”tanya Kim Joon yang mendengar gumaman Kim Bum. Kim Bum menggeleng.
”Lanjutkan aja.”
”Terakhir yang dia ketahui. Alasan So Eun menerima jadi bodyguardmu karena Presdir Jung Gil bersedia membantunya mencari pembunuh orang tuanya.”lanjut Kim Joon yang mulai tersedak karena makan sambil bicara. Dia pun mengambil minuman Kim Bum dan diminumnya dengan cepat.
”Hah? Memang pembunuhnya belum ditangkap?”tanya Kim Bum.
Kim Joon menggeleng, ”Belum. Soal itu masih diselidiki polisi. Kabarnya pembunuh itu kabur ke Singapura.”
Kim Bum pun mulai mengangguk mengerti dan melanjutkan membaca dokumen tentang So Eun.
”Oh iya, Kim Bum. Bagaimana menurutmu tentang wali kelas baru kita?”tanya Kim Joon.
”Biasa saja. Tapi justru yang aku merasa aneh itu Mister Hyun Joong. Entah kenapa dia selalu memandang So Eun dengan aneh?”ujar Kim Bum.
”Ah. Mister Hyun Joong ya? Baru saja aku mau cerita padamu. Uhm…. sepertinya aku pernah mengenal dia?”ujar Kim Joon sambil memikir. Mendengar itu, Kim Bum langsung mendekati Kim Joon.
”Memangnya dimana?”tanya Kim Bum penasaran.
”Justru itu. Aku lupa. Tapi tenang aja bro. Nanti kalau aku ingat, aku akan langsung memberitahumu.”jawab Kim Joon. Kim Bum sedikit kecewa mendengarnya. Dia hanya mengangguk sambil kembali membaca dokumen So Eun.

*****

So Eun sedang berjalan menyusuri taman sambil menemani Kim Bum. Memang ini adalah waktu istirahat. Tiba-tiba Ji Yun datang sambil memeluk lengan So Eun.
”So Eun!”panggilnya.
”Ada apa, Ji Yun?”tanya So Eun heran.
”Apa kau melihat Kim Joon?”tanya Ji Yun dengan cemas.
”Aku tidak tau.”jawab So Eun. Ji Yun jadi kecewa mendengarnya.
”Kurasa dia ada disana.”ujar Kim Bum yang melihat Kim Joon sedang jalan menuju ke kelas.
”Oh. Kim Joon….” Ji Yun berusaha memanggilnya. Namun tiba-tiba Hye Sun datang sambil memeluk lengan Kim Joon yang sedikit terkejut melihat kedatangannya.
”Miss Hye Sun?” Ji Yun jadi heran melihatnya. Tidak lama, Ji Yun jadi kesal melihatnya bahkan meremas dasi seragamnya sendiri. Pasalnya Miss Hye Sun menarik Kim Joon ke ruang lain. Dan Kim Joon malah tersenyum ditarik Hye Sun. Ji Yun jadi cemburu melihatnya. Dia malah langsung berbalik pergi dan hampir menabrak bahu So Eun.
”Ji Yun! Kau kenapa?”teriak So Eun melihat Ji Yun pergi dengan cemberut. Kim Bum hanya terdiam tidak peduli.
”Dia kenapa, Kim Bum?”tanya So Eun. Kim Bum hanya mengangkat bahunya.
Tidak lama Hyun Joong datang dihadapan mereka.
”Mister Hyun Joong.”panggil So Eun dengan heran. Kim Bum hanya terdiam bisu.
”Kim So Eun. Bisa kau ikut aku? Aku minta bantuanmu.”ujar Hyun Joong. So Eun melirik Kim Bum.
”Tapi bagaimana dengan dia?”tanya So Eun sambil menunjuk Kim Bum.
”Kau pergi ajalah! Memangnya aku anak kecil yang mesti diikuti kau terus?”ketusnya.
”Heh! Tidak bisa. Aku sudah berjanji untuk menjagamu dimana pun kau berada.”balas So Eun kesal. Kim Bum hanya tersenyum kecut.
”Sudahlah. Dia boleh ikut. Lagian ini cuma bantuan kecil saja kok. Ayo, So Eun.”ajak Hyun Joong diikuti So Eun dan Kim Bum menuju ke kelas piano.

Akhirnya So Eun pun bisa menyelesaikan tugas yaitu memasukkan kertas lagu ke dalam amplop dengan jumlah yang cukup banyak. Kim Bum juga membantunya. Lalu dia menyerahkan amplop itu ke Hyun Joong.
”Ini, mister. Tapi sebenarnya itu buat apa ya?”tanya So Eun.
”Ini buat ujian nanti. So Eun, kau harus banyak belajar tentang piano.”jawab Hyun Joong tersenyum. So Eun jadi terdiam patung. Terkejut mendengarnya.
”So Eun. Aku mau ke toilet dulu.”kata Kim Bum sambil ngeloyor keluar tanpa mendengar jawaban So Eun.

Tidak lama, Kim Bum pun kembali ke kelas piano tempat So Eun berada. Namun sebelum dia masuk ke dalam. Dia melihat Hyun Joong sedang mengajari So Eun belajar piano. So Eun pun sedang serius menekan tuts piano arahan Hyun Joong.
Namun pandangan Kim Bum bukan ke So Eun melainkan ke Hyun Joong.
Hyun Joong memandang So Eun dengan dalam. Membuat Kim Bum jadi curiga.
”Sebenarnya Mister Hyun Joong itu kenapa ya? Aku jadi curiga.”batinnya.

*****
Kim Joon langsung masuk ke kamar Kim Bum bersama sepupunya. Kim Bum pun menyambutnya.
”Hai, bagaimana kabarmu?”

”Aku baik-baik saja. Bagaimana pekerjaanmu di Singapura? Apakah kau mendapatkannya, Lee Min Ho?”tanya Kim Bum sambil memeluknya.
Lee Min Ho hanya tertawa kecil. Lalu dia pun duduk disofa bersama Kim Joon.
”Sungguh sulit. Pelaku itu benar-benar meninggalkan jejak yang sangat teliti.”jawab Min Ho. Kim Bum pun menuju ke laci meja dan mengambil dokumen. Kemudian dia menyerahkan dokumen itu ke Min Ho. Dan Min Ho pun membacanya.
”Apa kau tau motif pelaku itu yang telah membunuh orang tuanya?”tanya Kim Bum kembali duduk di kasur.
”Kami belum mengetahui motifnya. Yang pasti orang tuanya yang berprofesi sebagai polisi pernah menangkap orang tua pelaku yang berprofesi sebagai bandar narkoba.”
”Bandar narkoba?”
”Iya. Mereka dihukum dan terbukti telah mengedar narkoba selama 10 tahun yang mengakibatkan telah menewaskan kurang lebih 20 orang. Maka mereka pun dikenakan sanksi penjara seumur hidup. Tapi…”
”Tapi….” Kim Bum penasaran.
”Tapi baru saja mereka dipenjara 1 tahun. Mereka sudah tewas.”
”Apa?”
”Iya, mereka tewas karena overdosis.”ujar Min Ho sambil meletakkan dokumen itu yang ada di meja depannya. Kim Bum pun kembali memikirkan sesuatu.
”Jadi, bukankah itu berarti motifnya adalah membalas dendam terhadap orang tuanya?”
”Semula kami menduganya begitu. Tetapi rupanya bukan hanya itu motifnya. Aku rasa ini ada kaitannya dengan So Eun.”
”Apa itu?”
”Itulah yang perlu kami selidiki.”
Suasana kembali terdiam. Kim Bum pun kembali memikirkan sesuatu.

So Eun sedang duduk termenung dikolam renang. Dia terus memandang bulan yang cerah sambil memainkan air dengan kakinya. Tidak lama air matanya pun menetas. Dia sedang memikirkan orang tuanya. Sudah lama dia pun tegar menghadapinya menjadi anak yatim piatu. Tanpa disadarinya, Kim Bum bergabung dan duduk disampingnya. So Eun terkejut melihatnya.
”Ah! Kim Bum? Kau mengagetkanku.” So Eun mengelus dadanya sambil menghapus airmatanya.
”Apa yang sedang kau pikirkan?”tanya Kim Bum tanpa memandang So Eun.
”Hah? Aku? Aku tidak….. memikirkan apa pun.” So Eun berusaha mengelaknya.
Kim Bum hanya tertawa kecil. So Eun jadi heran melihatnya.
”Apa yang lucu?”
”Tidak apa-apa.”ujar Kim Bum yang tentu sudah tahu pikiran So Eun.
”Ngomong-ngomong bulan di atas sana indah ya? Ayahku pasti sedang bahagia disana.” Kim Bum pun ikut menerawang. So Eun yang tahu tentang ayahnya dari Presdir Jung Gil hanya terdiam melihatnya.
”Aku yakin pasti ayahmu bahagia.”
Kim Bum pun tersenyum mendengar perkataan So Eun.
Tiba-tiba Ji Yun datang sambil memeluk So Eun.
”Ji Yun. Ada apa?”tanya So Eun yang terkejut melihat Ji Yun datang dengan muka masamnya.
”So Eun! Kau harus membantuku!?”ujar Ji Yun dengan nada seriusnya.
”Hah?” So Eun dan Kim Bum terdiam heran.

Sebuah klub malam berisi orang-orang yang sedang asyik bersenang ria. Mereka pun menggoyangkan badannya dengan semangat mengikuti irama disco. Ji Yun, So Eun dan Kim Bum yang tentunya sudah mengganti bajunya pun sedang menyusuri ruang klub yang sesak itu. Mata mereka mencari-mancari seseorang.
”Ji Yun. Kau yakin dia ada disini?”tanya So Eun sambil berusaha menghindari agar tidak menabrak orang-orang yang sedang berdansa disco.
”Tentu saja. Aku yakin! Soalnya tadi aku telepon dia. Dia bilang mau pergi ke sini bersama Miss Hye Sun. Aku curiga dia akan selingkuh.”
”Hah? Bagaimana kau bisa memikirkan itu?”tanya So Eun.
”Makanya kau tidak usah terima cinta dia. Dia kan memang brengsek orangnya.”celetuk Kim Bum cuek. So Eun menyikutnya.
”Kim Bum.”bisiknya.
Ji Yun hanya bisa mendengus kesal.
”Ah! Liat dia!”teriak Ji Yun yang langsung melihat kekasihnya, Kim Joon sedang duduk bersama Miss Hye Sun.
”Aaarrgghhh…. Tuh kan liat dia, So Eun! Benarkan apa yang aku duga. Uhh…. dasar selingkuh!” Ji Yun mengomel kesal. So Eun hanya bisa terdiam begitu juga dengan Kim Bum. Mereka pun langsung menuju ke Kim Joon yang asyik bercanda dengan Hye Sun.
”Kim Joon!”panggil Ji Yun sambil berkacak pinggang. Kim Joon terkejut melihat kedatangannya.
”Ji Yun? Kau sedang apa disini?”tanya Kim Joon sambil mendekati Ji Yun. Hye Sun hanya tersenyum bingung melihatnya sedangkan So Eun dan Kim Bum tidak mau ikut campur urusan mereka.
”Ternyata kau tega ya. Kau selingkuh dengan Ibu itu? Aku tidak menyangka.” Ji Yun menangis. Kim Joon jadi bingung mendengarnya.
”Selingkuh bagaimana? Kau salah paham Ji Yun. Dia itu….”
Belum sempat Kim Joon menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Min Ho datang dibelakang So Eun dan Kim Bum.
”Hai!”sapanya. Ji Yun pun terkejut melihat kedatangannya.
”Kak Min Ho?”panggil Ji Yun heran melihatnya. Dan mereka kecuali Kim Joon heran melihat Min Ho sedang mencium pipi Hye Sun.
”Ji Yun. Kau salah paham. Aku sedang menemani Miss Hye Sun menunggu Min Ho.”
Jelas Kim Joon.
”Apa?” Ji Yun masih tidak mengerti. Min Ho dan Hye Sun menghampiri mereka.

”Ji Yun. Kenalkan dia calon istriku. Kami akan segera menikah.”ujarnya sambil menunjukkan cincin tunangan mereka.
Ji Yun dan So Eun terbelalak mendengarnya. Sedangkan Kim Bum hanya terdiam mengangguk mengikuti irama disco yang mulai menarik perhatiannya. Kim Joon hanya tersenyum kepada Ji Yun sambil menunjuk Min Ho dan Hye Sun.
”Oh. Selamat kak Min Ho.”ucapnya sambil berjabat tangan dengan Min Ho dan Hye Sun secara bergantian. Kemudian dia pun mendekati Kim Joon.
”Maafkan aku, sayang. Aku sudah salah paham denganmu.”sesal Ji Yun sambil berbisik. Kim Joon hanya mencium keningnya sambil tersenyum. Membuat Ji Yun jadi malu dan merona.

So Eun dan Kim Bum akhirnya bisa keluar dari klub yang berisik dan masalah Ji Yun pun selesai. Mereka pun berjalan menuju mobil yang sedang ditunggu supirnya.
”Tidak kusangka ternyata kak Min Ho adalah sepupu Kim Joon dan Miss Hye Sun adalah tunangannya.”
Kim Bum hanya mengangguk mendengarnya dan melangkah mendahuluinya. So Eun hanya bisa memandangnya kesal.
Sebuah mobil mengebut mengarah mereka. So Eun langsung sigap.
”Kim Bum, Awas!?” So Eun langsung memeluk Kim Bum kesamping untuk menghindari mobil. Dan akhirnya bisa dihindar. Kim Bum pun terdiam melihat So Eun memeluknya.
”Ah. Syukurlah kita tidak tergencet mobil. Sepertinya yang menyetir itu sedang mabuk ya.” So Eun mengomel sambil melihat Kim Bum. So Eun tertegun melihat Kim Bum menatapnya. Dia baru sadar kalau dia memeluknya.
”Ah. Maaf.” So Eun melepaskan pelukannya di leher Kim Bum. Namun gelangnya malah nyangkut di jas kerahnya.
”Aduh. Bagaimana ini?” So Eun berusaha melepaskan sangkutan gelangnya. Kim Bum hanya tertawa kecil.
”Hei. Kenapa kau tertawa? Ayo cepat bantu aku melepaskannya.”ujar So Eun kesal.
Kim Bum pun membantunya.
Sepasang mata melihat mereka dengan tatapan cemburunya. Dan pria itu meremas kaleng bir yang dipegangnya sampai remuk.

”Hyun Joong! Sedang apa kau disini? Ayo masuk!”teriak salah satu gadis temannya sambil menarik Hyun Joong masuk ke dalam klub.

Akhirnya So Eun bisa melepaskan gelangnya dari kerah Kim Bum.
”Ayo, kita pulang. Supir pasti telah lama menunggu kita.” So Eun menarik lengan Kim Bum agar cepat melangkahnya. Kim Bum hanya tersenyum.

*****

Lonceng tanda pulang telah berbunyi. Para siswa pun berhamburan keluar menuju ke mobil jemputan mereka masing-masing. Seperti biasa So Eun mengawali Kim Bum sampai ke mobil jemputannya.
”Kim So Eun!”panggil Hyun Joong. So Eun dan Kim Bum menengok ke arah panggilannya.
“Iya, Mister. Ada apa?”
“Kemari So Eun. Ada yang ingin aku bicarakan padamu.”ujar Hyun Joong.
So Eun mengernyitkan dahinya dan memandang Kim Bum.
”Kau tunggu disini dulu ya?”
Kim Bum tidak menjawabnya. So Eun pun menuju ke Hyun Joong. Kim Bum mengamati mereka. Terlihat raut muka So Eun yang gelisah. Tidak lama, So Eun pun kembali mendekati Kim Bum dengan rautnya yang gelisah.
”Kim Bum. Kau pulang duluan saja. Sepertinya hari ini aku tidak bisa mengawalimu sampai dirumah.”ucap So Eun dengan suara yang lemah.
”Memang ada apa?”tanya Kim Bum heran.
”Uhm… tidak apa-apa. Pokoknya kau pulang saja. Supir sedang menunggumu.” So Eun langsung berbalik. Namun Kim Bum menahannya.
”Ada apa lagi, Kim Bum?”tanya So Eun yang sedikit kesal karena lengannya ditarik. Kim Bum tidak menjawab. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya lalu dia memakaikan kalung yang berbandul kecil dengan bentuk bintang yang diberi permata ke leher So Eun. So Eun terkejut melihatnya.
”Kau jangan lepaskan kalung ini. Kalau kau merasa ada yang mencurigakan. Kau harus menghubungiku. Jaga baik-baik dirimu.”bisiknya ke telinga So Eun kemudian berbalik pergi meninggalkan So Eun yang sedang bingung sambil memegang kalung pemberiannya. Hyun Joong mendekatinya.
”Ayo, So Eun. Kita pergi ke ruanganku.”ujar Hyun Joong sambil tersenyum.
”Baik, Mister Hyun Joong. Tapi Mister tidak akan melaporkan ke kepala sekolah kan? Tadi malam kami benar-benar tidak ada maksud apa-apa untuk pergi ke klub itu.”jelas So Eun. Hyun Joong kembali tersenyum.
”Kalau begitu, ikuti aku.” So Eun pun mengikutinya.

So Eun heran melihat tempat yang diduganya ada dibelakang SMA Shinhwa. Dan dia terkejut sebuah mobil ada di depannya.
”Mister Hyun Joong. Sebenarnya kita ini mau kemana?”tanya So Eun menengok belakang. Dia tertegun tidak melihat Hyun Joong.
”Mister Hyun Joong? Mister Hyun Joong!?”teriak So Eun memanggilnya.
Tiba-tiba dia disekap, mulut dan hidungnya ditutup saputangan. Saputangan itu diberi obat tidur. Hingga So Eun jadi mencium aroma itu. Matanya jadi sedikit mengantuk. Ia pun berusaha menyadarkan diri sambil melihat pelaku dibelakangnya.
”Mister Hyun Joong?”
Namun gagal, So Eun pun tertidur dipelukan Hyun Joong yang tersenyum melihat So Eun.

Hari sudah malam. Kim Bum terus menatap langit hitam dan gerbang rumahnya. Dia menunggu So Eun pulang.
”Kenapa jam segini dia belum pulang juga?” Kim Bum jadi khawatir.
Tiba-tiba Kim Joon dan Min Ho datang masuk ke kamar Kim Bum tanpa mengetuk pintu. Kim Bum terkejut melihat mereka dengan raut mukanya yang serius.
”Kim Bum. Kau pasti ingat dengan perkataanku tentang Mister Hyun Joong.”ujar Kim Joon. Kim Bum mengangguk.
”Ternyata aku pernah melihatnya di dokumen milik Min Ho. Dia adalah buronan di Singapura!”
”Apa?!” Kim Bum terkejut mendengarnya.

So Eun pun mulai sadarkan diri di kasur yang agak kumuh. Dia terkejut melihat tangannya diikat. Dia pun melihat sekeliling. Sepertinya dia sedang ada dikamar. Kamar yang bercat gelap dan kotor. Sepertinya sudah lama tidak dibersihkan. So Eun segera bangun sambil mengingat kejadian tadi.
”Kalau tidak salah tadi Mister Hyun Joong menyekapku. Tapi ini dimana?”
So Eun tertegun melihat Hyun Joong yang sedang memainkan pisaunya.

Hyun Joong menyadarinya dan tersenyum melihatnya bangun.
”Halo, Kim So Eunku tersayang. Bagaimana kabarmu?”Tanya Hyun Joong sambil mendekati So Eun.
”Siapa kau? Kenapa kau lakukan ini, Mister Hyun Joong?”tanya So Eun sambil mundur. Hyun Joong tertawa kecil.
”Sepertinya kau tidak ingat aku ya? Sudah 10 tahun kita tidak bertemu.”
”10 tahun?” So Eun mengernyitkan dahinya.
”Rupanya kau memang tidak ingat aku ya. Bagaimana kalau foto ini? Kau pasti ingat kan?” Hyun Joong menunjukkan sebuah foto yang dicoret-coret. So Eun menyipitkan matanya agar bisa melihat foto itu dengan jelas.
”Ayah, Ibu?” So Eun tertegun melihatnya.

Sang Hyun masuk ke ruang pribadi Presdir Jung Gil dengan sedikit buru-buru.
”Ada apa, Sang Hyun?”tanya Presdir Jung Gil yang heran melihat Sang Hyun.
”Presdir. Saya telah menemukan pembunuh orang tuanya So Eun.” Sang Hyun menyerahkan dokumennya yang dibawa ke meja Presdir Jung Gil. Presdir Jung Gil pun membacanya.
”Kim Hyun Joong?” Presdir tertegun melihatnya.

”Jangan-jangan kau yang membunuh orang tuaku?” So Eun mulai mengetahui pembunuhnya. Hyun Joong malah tertawa.
”Kenapa?”tanya So Eun yang tidak percaya.
”Karena mereka telah membunuh orang tuaku dan telah menghalangi cinta kita.”
”Cinta kita?” So Eun mulai tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Hyun Joong.
”Kau tau. Selama 10 tahun itu adalah waktu yang sangat lama. Aku jatuh cinta denganmu sejak kita pertama kali bertemu. Sampai sekarang pun aku masih mencintaimu.”
Ucapan pengakuan Hyun Joong membuat So Eun terkejut.
”Apa?! Kau mencintaiku?” So Eun tidak percaya apa yang didengarnya. Hyun Joong hanya tersenyum melihatnya.

”Tidak hanya itu. Dia juga yang membunuh orang tuanya So Eun.”timpal Min Ho.
”Apa?!” Kim Bum tertegun mendengarnya.
”So Eun!” Kim Bum pun mulai menyadari alasan So Eun belum pulang sampai saat ini.

TO BE CONTINUED……………

Wah… ternyata pelaku yang membunuh orang tuanya So Eun adalah Hyun Joong!
Bagaimana cara Kim Bum menyelamatkannya sementara dia tidak mengetahui tempat So Eun disekap???

Tunggu di chapter.7 yach!

NB: Jangan lupa komennya ya…!!!
^_______________^

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.5

Chapter 5:

Kim Bum mencium bibir So Eun dengan dalam dan lembut.

So Eun langsung bangun dari mimpinya. So Eun langsung mengambil gelas air putih yang berada disampingnya. Diminumnya dengan cepat.

”Sebenarnya apa yang terjadi semalam? Kenapa dia tiba-tiba menciumku?” So Eun terus bertanya-tanya kepada dirinya. Dia langsung turun dari kasurnya dan segera mandi dan berpakaian seragam. Karena dia harus segera sekolah.

So Eun bertemu Kim Bum di depan rumah. Sebuah mobil sudah menunggu mereka berdua. So Eun jadi salah tingkah didepannya. Namun Kim Bum tidak meresponnya. Dia tetap membaca buku yang dipegangnya sambil masuk kedalam mobil. Membuat So Eun jadi heran. Dan dia pun ikut masuk kedalam mobil. Mobil pun berangkat menuju ke sekolah SMA Shinhwa.

Selama perjalanan. Suasana jadi canggung. So Eun berkali-kali melirik Kim Bum yang masih fokus melihat laptopnya. So Eun mendengus kesal.

”Kenapa dia tidak bicara sedikit pun denganku? Apa kejadian semalam dia cuma mempermainkanku? Sial!” So Eun memukul pahanya sendiri lalu dia membuang muka ke jendela mobil sambil cemberut. Tanpa dia sadari Kim Bum pun meliriknya sambil tersenyum.

Mereka pun telah sampai di SMA Shinhwa. Dan mereka turun dari mobilnya. Kim Bum melangkah duluan diikuti So Eun yang masih cemberut dan kesal dengannya.

”Tau begini, harusnya aku tampar dia!”batin So Eun kesal.

Kim Bum langsung duduk di bangku kelasnya. So Eun pun masih berdiri mengikutinya. Memang dia sengaja melambatkan langkahnya karena terlalu sibuk berpikir tentang semalam. Dan dia pun tanpa sadar menabrak tubuh Geun Suk yang ada didepannya.

”Aduh!” So Eun mendongakkan kepalanya.

“Geun Suk?”

Kim Bum yang melihat itu merasa kesal.

”Hai, So Eun. Kenapa kau melamun?”tanya Geun Suk.

”Ah. Tidak ada apa-apa. Geun Suk, biarkan aku masuk kedalam kelas.”ujar So Eun sambil tersenyum. Geun Suk tetap tidak bergeming.

”Kenapa kau buru-buru? Kita kan tidak pernah mengobrol seperti tadi malam. Uhm… Bagaimana kalau aku mengajakmu kencan?”ajak Geun Suk langsung.

”Apa?” So Eun terkejut mendengarnya. Sementara Kim Bum sudah mulai tidak tahan melihatnya bersama musuhnya. Kim Bum langsung bangkit dari kursinya dan menarik So Eun ke dalam dan duduk dibangku sebelahnya. Geun Suk hanya bisa terdiam kesal melihatnya.

Chae Young pun masuk kedalam kelas sambil menyapa para siswanya.

”Selamat pagi, semua!”sapanya.

Seisi kelas serentak menjawab sapaan wali kelasnya.

”Selamat pagi, Ibu Chae Young?!”

“Ibu! Kenapa dengan lengan ibu?”celetuk Geun Suk yang melihat lengan kiri Chae Young yang dibalut perban putih.

”Oh ini. Tadi lenganku kena pisau waktu teman campingku melemparkannya ke aku.”jawab Chae Young.

”Hah? Memangnya ibu camping kemana?”celetuk Ah In.

“Itu rahasia.”jawabnya diikuti sorakan kecewa para siswanya.

”Sudah… sudah…! Sekarang giliran kalian membuka bukunya masing-masing. Kita akan melanjutkan pembahasan tentang Algoritma.”perintahnya.

Para siswa langsung mengeluarkan buku mereka masing-masing. Sementara So Eun memikirkan sesuatu setelah melihat lengan kiri Chae Young.

Waktu selesai sekolah telah tiba. Para siswa langsung berhamburan keluar pulang kerumahnya masing-masing. So Eun masih berjalan melamun membuat Kim Bum jadi heran melihatnya. Dia pun mencolek bahu So Eun hingga So Eun tersadar dari lamunannya.

”Apa yang sedang kau pikirkan?”tanya Kim Bum.

”Kim Bum. Kau pasti masih ingat tentang penyusup semalam?” Kim Bum mengangguk.

”Aku sempat menembaknya dengan senjata busurnya. Dan panah itu kena lengan kirinya. Dan itu persis seperti lengan kiri Ibu Chae Young.”ujarnya dengan pikiran logikanya.

”Maksudmu penyusup semalam itu seorang wanita?” So Eun mengangguk.

”Dan kau berpikir kalo Ibu itu pelakunya?”

”Itu… entahlah aku tidak tau.” So Eun kembali memikirkannya.

”Sudahlah. Nanti kita pikirkan lagi. Ayo masuk kedalam mobil.”ujar Kim Bum.

Rupanya tanpa So Eun sadari telah sampai didepan mobil. Mereka pun masuk kedalam mobil dan mobil itu pun berangkat.

Presdir Jung Gil telah pulang dari London. Dia langsung masuk kedalam ruang pribadinya diikuti asisten pribadinya.

”Bagaimana pesta semalam? Apakah Kim Bum gembira merayakannya?”tanya Presdir Jung Gil sambil melepaskan dasinya dan duduk disofanya karena lelah.

”Menurut Nona Ji Yun. Kim Bum cukup gembira apa lagi dengan berdansanya bersama So Eun.”jawab Sang Hyun.

”Apa? So Eun berdansa dengan Kim Bum?”

”Benar, Presdir. Tadi pagi dia melaporkan kalo dia melakukan itu karena ada penyusup yang mengincar Kim Bum.”

”Benarkah itu?” Presdir Jung Gil jadi cemas.

”Iya. So Eun berhasil menggagalkan rencana penyusup itu walaupun dia gagal menangkapnya.”lanjut Sang Hyun. Presdir Jung Gil jadi lega.

”Begitu ya? Ternyata aku memang tidak salah memilihnya.” Presdir Jung Gil jadi bangga dengan So Eun. Sang Hyun hanya terdiam.

Kim Bum merasa keanehan dalam penyetiran mobilnya. So Eun pun juga merasa begitu.

”Pak. Ini bukan jalan ke arah rumah Kim Bum.”ujar So Eun mengingatkan supir itu. Kim Bum langsung menahan So Eun.

”Siapa kau? Kau bukan supirku kan?”tanya Kim Bum. So Eun terkejut mendengarnya. Supir palsu itu tersenyum. Dia menghentikan mobilnya dan menunjukkan dirinya ke Kim Bum dan So Eun.

”Halo, apa kabar anak-anak?”sapanya.

”Ibu Guru Chae Young!”seru Kim Bum dan So Eun serentak. Chae Young langsung menyemprotkan obat tidur ke arah mereka hingga mereka pun tertidur.

”Sungguh anak-anak yang lucu.” Chae Young langsung menghidupkan mobilnya kembali dan segera menuju ke lokasinya.

Madam Ye Jin langsung masuk ke ruang pribadi Presdir Jung Gil tanpa mengetuk pintu dahulu.

”Ayah! Bagaimana ini? Sudah begitu malam tapi Kim Bum dan So Eun belum pulang juga.”ujar Madam Ye Jin cemas. Presdir Jung Gil terkejut.

”Apa? Benarkah itu?” Madam Ye Jin mengangguk. Presdir Jung Gil memencet tombol teleponnya.

”Sang Hyun. Segera keruanganku.”

”Baik, Presdir Jung Gil.”jawab Sang Hyun yang berada di kamarnya.

Hari malam telah menggantikan kejadian tadi sore. Kini Kim Bum dan So Eun terikat di tiang sebuah rumah yang kumuh. Kim Bum dan So Eun pun terbangun. Mereka tercengang melihatnya. Dua preman dan Chae Young sedang berbicara mengenai strateginya. Chae Young yang menyadari mereka bangun. Langsung tersenyum dan menghampirinya. Kim Bum dan So Eun berontak berusaha melepaskan tali yang mengikatnya.

”Wah. Rupanya anak-anak sudah bangun ya. Bagaimana tidur kalian? Apakah nyenyak?”tanya Chae Young sambil menyentuh pipi Kim Bum yang langsung membuang muka karena tidak sudi pipinya disentuh Chae Young.

”Aduh… Galak sekali kau ini.” Chae Young malah tertawa cekikikan melihat tingkah Kim Bum yang membencinya.

”Ibu Chae Young. Kenapa kau melakukan ini?”tanya So Eun.

”Oh. Kau yang sebagai bodyguardnya yang menyamar sebagai sepupunya ya. Aku lihat caramu menembak senjata busur begitu ahli ya.”

So Eun mengernyitkan dahinya. Dan dia pun menyadarinya.

”Jadi Ibu adalah penyusup tadi malam?”

Chae Young tertawa.

”Yap! Nilai 100 buatmu. Aku tidak menyangka kau begitu langsung menyadarinya. Karenamu aku jadi tidak sempat menyembuhkan luka lenganku yang mulus ini.”ujar Chae Young sambil mengelus lengan kirinya yang masih dibalut perban putih.

”Kenapa Ibu?”tanya So Eun serius. Begitu juga Kim Bum.

”Aku melakukan ini karena orang yang kucintai. Aku begitu tidak tega dia terus bersedih dan aku pun bersedia membantunya membalas dendam kepada keluargamu, Kim Bum.”

”Dia?” Kim Bum heran.

”Memangnya dia siapa? Apa yang keluarga Kim Bum lakukan terhadapnya?”tanya So Eun bertubi-tubi. Lagi-lagi Chae Young tertawa.

”Itulah PR buatmu So Eun yang sebagai bodyguardnya.”

So Eun terdiam.

”Baiklah. Kalian berdua!”teriaknya ke arah kedua preman itu. Kedua preman itu langsung berdiri dan menghadap Chae Young.

”Kalian jaga mereka berdua. Jangan sampai mereka kabur. Mengerti?!”perintahnya diikuti anggukan kedua preman itu.

”Bagus. Oke. Kalian berdua khususnya kau, Kim Bum. Aku harus melaporkan ini dulu ke keluargamu supaya mereka cemas.”

Chae Young langsung keluar sambil memencet tombol ponselnya.

Sementara So Eun sedang berusaha melepaskan gelang pemberian Eun Hye yang dipakainya yang rupanya bandul yang berbentuk pisau itu adalah bandul yang tajam. Kemudian tanpa kedua preman sadari, So Eun mulai menggesekkan bandul itu ke tali yang mengikatnya.

Telepon di ruang pribadi Jung Gil berdering. Dia langsung mengangkatnya. Madam Ye Jin langsung mendekatkan diri ke telepon Ayahnya. Berusaha mendengar percakapannya.

”Halo!”jawabnya.

”Halo Presdir Jung Gil yang terhormat. Bagaimana kabarmu?”tanya Chae Young basa-basi di ponselnya yang berada dimobil pribadi Kim Bum sambil memainkan pisaunya di pipi supir asli yang terikat di jok mobil.

”Katakan dimana cucuku, Kim Bum!”teriak Presdir Jung Gil yang mulai emosi dengan penculiknya.

”Tenang Presdir. Nanti kau akan sakit jantung kalo berteriak-teriak.”sindir Chae Young.

Presdir Jung Gil kembali terdiam sambil menahan emosi.

”Baik. Cucumu yang pintar ini baik-baik aja. Dia sedang asyik bermain bersama So Eun dengan kedua pesuruhku.”lanjutnya.

”Kau… Baiklah. Apa maumu?”tanya Presdir Jung Gil

”Mauku? Uhm… boleh juga. Aku ingin tebusan 5 triliun won.”jawab Chae Young.

“Apa!? Kau gila!” berang Presdir Jung Gil yang dinilai terlalu banyak.

”Hahahaha…. kenapa? Demi cucumu pasti kau rela melakukan apa aja kan?”ucap Chae Young sambil memainkan setiran mobilnya.

”Kau…. baiklah. Beri aku waktu.”

”Aku beri batas waktu sampai jam 12 malam. Kalo kau tidak segera mentransfernya. Aku tidak akan segan-segan membunuh cucumu.”ancam Chae Young.

”Kau! Baiklah. Jam 12 akan aku transfer.” Presdir Jung Gil mulai menyetujuinya.

”Bagus. Akan kutunggu.”ucap Chae Young mengakhiri percakapannya.

”Sial!” Presdir Jung Gil menaruh gagang teleponnya dengan keras. Tidak lama Sang Hyun datang membawa laporan.

”Bagaimana, Sang Hyun?”

”Presdir. Rupanya penculik dan penyusup tadi malam adalah Han Chae Young. Guru Wali kelas Kim Bum.”jawab Sang Hyun sambil menyerahkan dokumennya.

”Apa?!” Predir Jung Gil dan Madam Ye Jin tertegun mendengarnya.

So Eun pun berhasil melepaskan talinya begitu juga dengan Kim Bum. Kim Bum terkejut aksi So Eun yang berhasil melepaskan talinya.

”Bagaimana kau bisa lakukan itu?”tanya Kim Bum.

Namun So Eun tidak menjawabnya. Dia mengambil sebuah tongkat disampingnya. Lalu dia jalan dengan pelan-pelan menghampiri kedua preman yang sedang saling menghidupkan rokok mereka didepannya. So Eun langsung memukul tengkuk leher kedua preman itu dan mereka pun langsung pingsan.

”Ayo, Kim Bum! Kita keluar lewat pintu belakang.” So Eun langsung menarik Kim Bum berdiri dan berlari lewat pintu belakang. Mereka pun memasuki hutan belantara yang rupanya rumah itu terletak di atas bukit.

Chae Young tersenyum karena rencananya berhasil. Dia pun kembali masuk ke dalam rumah gubuk itu. Dia terkejut melihat kedua preman itu terkapar. Dan tidak menemukan Kim Bum beserta So Eun.

”Sialan!”

Chae Young yang melihat pintu belakang terbuka. Langsung memegang senjata pistolnya lalu dia pun mengejarnya.

Kim Bum dan So Eun berlari. Terus berlari sampai jauh walaupun seragamnya terkoyak karena terkena batang pohon yang tajam. Bahkan pipi dan lengan So Eun terluka begitu juga Kim Bum. Mereka terus berlari hingga sampai ke ujung. So Eun dan Kim Bum pun berhenti. Karena didepannya ternyata sebuah jurang. Tidak ada jalan lain.

”Bagaimana ini, Kim Bum?”cemas So Eun. Kim Bum hanya bisa terdiam memikirkan sesuatu. Namun sebuah tembakan telah melayang. So Eun dan Kim Bum pun berbalik.

Chae Young menodongkan pistolnya ke arah mereka yang mulai terjebak.

”Kalian ini benar-benar sangat nakal. Sudah kubilang jangan kabur. Rupanya kalian tetap melanggar perintahku!”

Kim Bum dan So Eun terdiam. Mereka benar-benar sudah tidak bisa mundur lagi. Chae Young mendekati Kim Bum sambil mengacungkan pistolnya ke pipi Kim Bum. Mata Kim Bum berputar mengikuti arah pistol itu lalu Chae Young memindahkan pistolnya ke arah So Eun. Dan diperlakukan sama seperti Kim Bum.

”Kim So Eun. Aku heran kenapa kau mau terlibat dalam masalah ini?”tanya Chae Young masih memutar-mutar pistolnya ke pipi So Eun. So Eun terdiam. Dia melihat pistol yang dipegang Chae Young. Dengan cepat, So Eun memukul punggung tangan Chae Young hingga pistolnya pun terlepas dari tangannya dan langsung memukul perut Chae Young. Dengan sigap, Kim Bum langsung mengambil pistol milik Chae Young dan diarahkan Chae Young. Namun sulit membidiknya. Rupanya So Eun dan Chae Young sedang berkelahi dengan jurus andalan mereka.

Chae Young memukul pipi So Eun hingga berdarah. So Eun menahan rasa sakitnya. Dia pun membalas pukulannya.

”So Eun! Menjauhlah darinya! Aku susah membidiknya.”teriak Kim Bum. So Eun langsung mendorong Chae Young guna menjauhinya. Namun Chae Young terpeleset dan dia pun jatuh ke jurang dan masuk ke dalam laut.

Kim Bum dan So Eun pun melihat kebawah jurang.

”Apakah dia sudah mati?”tanya So Eun sambil mengamati ke bawah.

”Entahlah. Lebih baik kita ke tempat yang tadi. Aku yakin supir yang asli masih berada disana.”

”Baik.”

So Eun setuju. Mereka pun kembali ke tempat rumah gubuk itu.

”Ayah. Bagaimana ini?”desak Madam Ye Jin. Presdir terlihat bingung dan sangat lelah. Dia tidak menyangka ada orang dalam yang mengincarnya. Tiba-tiba pelayan datang dengan wajah gembiranya.

”Presdir, Nyonya! Tuan muda Kim Bum dan Nona So Eun telah kembali!”

”Apa?!”

Presdir Jung Gil, Madam Ye Jin, dan Sang Hyun langsung berlari keluar. Kim Bum memapah So Eun yang sedang terluka akibat perkelahiannya dengan Chae Young. Presdir Jung Gil langsung menyuruh pelayannya memanggil dokter pribadinya.

Madam Ye Jin langsung menghampiri anaknya.

”Kau tidak apa-apa. Sayang?”tanya Madam Ye Jin sambil memeriksa kondisi anaknya.

”Aku tidak apa-apa. Tapi So Eun terluka.”

So Eun pun dibawa kekamarnya dan diberi perawatan yang serius.

Kondisi So Eun pun mulai membaik. So Eun sedang duduk dikasur sambil memeriksa kondisi lukanya.

”Siapa dibalik semua ini?”batinnya. Pikirannya mulai terbayang sejak insiden tadi. Dia berusaha memecahkan semua teka-teki yang terjadi begitu juga masalah keluarga ini. Kim Bum mengetuk pintu kamar So Eun. So Eun pun menyilahkan Kim Bum masuk. Dia melihat luka diwajah Kim Bum pun sudah diobati.

”Bagaimana keadaanmu, So Eun?”tanya Kim Bum sambil duduk disampingnya. So Eun tersenyum.

”Aku baik-baik saja. Uhm… aku tidak menyangka ternyata Ibu Chae Young ikut terlibat dalam masalahmu.”ujar So Eun. Kim Bum terdiam.

”Tapi aku berterima kasih denganmu. Karena kau berhasil menyelamatkanku.”ucap Kim Bum. So Eun yang mendengarnya tidak biasa langsung memukul bahu Kim Bum.

”Kenapa kau ini? Tumben sekali kau berbicara begitu.”celetuk So Eun sambil tersenyum. Kim Bum tidak menjawabnya. Hanya tersenyum.

”Tapi apa kau punya perkiraan siapa pelaku dibalik semua ini?” So Eun kembali serius.

”Entahlah. Tapi yang pasti sepertinya orang dalam. Buktinya dia mengetahui penyamaranmu sebagai sepupuku.”jawab Kim Bum dengan analisanya.

So Eun pun kembali berpikir.

*****

Kejadian kemarin telah berlalu. So Eun dan Kim Bum pun kembali masuk sekolah. Suasana dikelas masih seperti biasa. Mereka kecuali Kim Joon dan Ji Yun tidak mengetahui kalau Kim Bum dan So Eun diculik. Kepala Sekolah SMA Shinhwa sekaligus Ayahnya Ji Yun, Suk Hwan masuk ke dalam kelas mereka. Suasana yang tadinya ramai kini terdiam kembali.

”Anak-anak. Saya punya pengumuman buat kalian. Wali kelas kalian, Ibu Han Chae Young….” Suk Hwan berhenti dia mengeluarkan sebuah surat. Seisi kelas jadi serius.

”Ibu Han Chae Young telah meninggal.”lanjutnya diikuti teriakan sedih para siswa. Kim Bum dan So Eun hanya bisa saling pandang. Tentunya mereka tidak tau kalau Chae Young tewas akibat terjatuhnya ke jurang.

”Meninggal karena apa?”celetuk So Hee berusaha menahan tangisannya.

”Entahlah. Mungkin dia bunuh diri karena jenazahnya tidak ada. Yang ada hanyalah surat ini.”

”Apa?!” seisi kelas kembali riuh. Terkejut mendengar tidak ada jenazahnya. Kim Bum dan So Eun kembali berpandangan dan mengernyitkan dahinya.

”Apa maksudnya tidak ada jenazah Ibu Chae Young?”tanya So Eun berbisik. Kim Bum hanya mengangkat bahunya.

”Ini surat peninggalannya buat kalian. Dia hanya berpesan kepada kalian agar kalian harus berusaha belajar dan menjadi yang terbaik di SMA Shinhwa yang tercinta ini. Dia terpaksa meninggalkan kalian karena tidak tahan menanggung beban masalah yang dipikulnya.” Suk Hwan mengakhiri bacaan surat peninggalannya.

Suasana dikelas menjadi duka.

Malam hari di ruang santai di Rumah Presdir Jung Gil. Terlihat Kim Bum dan So Eun sedang berbicara serius.

”Menurutmu apa benar Ibu Chae Young benar-benar mati?”tanya So Eun.

”Entahlah. Memang sangat aneh kalau mayatnya tidak ada. Atau mungkin dia sudah dimakan hiu? Kau tau kan, dia jatuh kelaut dan tidak menampakkan dirinya yang membuktikan dia itu selamat.”jawab Kim Bum.

”Kau benar.”

So Eun dan Kim Bum pun kembali terdiam.

*****

Hari-hari duka pun telah berlalu. Mereka belum mendapat pengganti wali kelasnya. Suasana dikelas pun kembali seperti biasanya. So Eun sedang asyik mengganggu Kim Bum yang sedang serius membaca buku matematikanya.

”Hei, Kim Bum. Aku mau tanya sesuatu.” Kim Bum tidak menjawabnya. Malah tetap fokus ke bukunya. So Eun kesal. Dia pun mencomot buku yang dipegang Kim Bum. Kim Bum pun balik kesal ke So Eun.

”So Eun! Kembalikan bukuku.”

”Aku mau kembalikan bukumu asal kau jawab satu pertanyaanku.”

Kim Bum terpaksa meladeninya.

”Baiklah. Apa pertanyaanmu?”

”Kejadian pesta ulang tahunmu tadi. Kenapa kau tiba-tiba menciumku?”tanya So Eun dengan berbisik dan serius. Kim Bum malah tersenyum usil.

”Kenapa? Kau mau ciuman lagi?”tanya Kim Bum dengan usilnya.

”Bukan… Bukan itu! Aish! Kau…. Aarrgghh…!” So Eun jadi ngomel dan dia pun membuang muka. Kim Bum hanya bisa tertawa melihatnya.

Melihat pemandangan itu, So Hee jadi cemburu melihatnya. Begitu juga Geun Suk.

Seorang wanita cantik berambut panjang dengan kemeja hitamnya pun masuk kedalam kelasnya. Para siswa dikelas itu saling berbisik. Karena mereka tidak mengenal wanita itu. Wanita itu tersenyum lalu menaruh buku tipisnya di atas meja guru.

”Selamat pagi, anak-anak!”sapanya.

”Selamat pagi, Ibu!” Para siswa pun pun membalas sapaannya.

”Terima kasih, kalian telah membalas sapaanku. Kalian pasti heran melihatku. Aku adalah wali kelas baru kalian. Menggantikan Ibu Han Chae Young yang telah meninggal beberapa hari yang lalu.”

Suara riuhan para siswa pun dimulai. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan wali kelas yang begitu setara dengan Ibu Chae Young yang sama-sama cantik.

”Wah…. Aku tidak menyangka ternyata wali kelasku yang baru ini begitu cantik!”teriak Ah In diikuti anggukan para siswa cowok. Sementara yang gadis malah menyorakinya yang kesal.

”Sudah…sudah… kalian tenang dulu!” Wanita itu menenangkan situasi kelas dengan memukul mejanya. Suasana kembali diam.

”Nama ibu siapa?”celetuk Geun Suk. Wanita itu tersenyum ke arahnya. Geun Suk jadi salah tingkah. Senyumannya yang benar-benar menawan.

”Namaku Goo Hye Sun. Walaupun aku mengajar matematika. Kalian bisa memanggilku Miss Hye Sun. Karena aku masih terlalu muda untuk dipanggil ibu.”

”Iya! Setuju!”sorak salah satu siswa cowoknya. Sementara yang para gadis kesal terutama Ji Yun yang rupanya melihat kekasihnya terpana melihat wali kelas barunya.

”Kim Joon!”panggilnya sambil menyubit punggung tangan Kim Joon. Kim Joon pun buru-buru minta maaf kepada Ji Yun yang cemburu.

Miss Hye Sun membuka buku tipisnya. Yang rupanya buku jadwal pelajaran.

“Ehm…. Sepertinya pelajaran pertama kalian adalah musik. Oh iya, kalian ada guru musik baru. Dia menggantikan guru kalian yang mulai cuti karena akan segera melahirkan.”jelasnya.

Seisi kelas pun kembali riuh mendengarnya. Mereka menebak-nebak guru siapakah yang datang. Pria atau wanita lagikah?

Terpaksa Hye Sun memukul meja kembali untuk menenangkan suasana kelas yang ribut.

”Baiklah. Mungkin kalian tidak sabar menanti pelajaran musik lagi. Aku akan menyuruhnya masuk dulu.”

Miss Hye Sun pun keluar kelas untuk memanggilnya. So Eun pun berbisik kembali ke Kim Bum.

”Memangnya kita ada pelajaran musik ya?”tanya So Eun. Kim Bum mengernyitkan dahinya.

”Kau tidak melihat jadwal pelajarannya?” So Eun menggeleng.

”Memangnya kenapa dengan musik itu?”tanya Kim Bum balik. So Eun pun kembali berbisik.

”Aku tidak bisa main alat musik.”jawabnya.

”Apa?!” Kim Bum tertegun mendengarnya. Rupanya ada kelemahannya juga.

Miss Hye Sun pun masuk kembali.

”Baiklah. Ini guru musik baru kalian. Ayo masuk!”

Miss Hye Sun mempersilahkan guru itu masuk. Para cowok kecewa melihatnya, malah para gadis terutama Ji Yun senang dan berteriak kegirangan melihatnya. Seorang guru pria!? Berambut hitam kepirangan dan tampan pula! Guru itu tersenyum sehingga para gadis pun serasa mau pingsan kecuali So Eun. So Eun melihatnya biasa saja. Kim Bum melirik So Eun yang diduganya seperti gadis yang lain yang serasa mau pingsan melihat guru itu. Ternyata tidak, So Eun malah berbalik melirik Kim Bum.

”Ada apa, Kim Bum?”tanya So Eun heran. Kim Bum menggeleng sambil tersenyum.

”Oke..oke… Para gadis! Kalian tenanglah dulu! Aku tau kalian pasti terpesona dengan guru ini. Sekarang berilah waktu kepada dia untuk memperkenalkan diri.”

Suasana jadi terdiam.

”Silakan.” Hye Sun mempersilakan guru itu memperkenalkan diri.

”Terima kasih, Miss Hye Sun. Perkenalkan namaku Kim Hyun Joong. Sama seperti Miss Hye Sun. Aku terlalu muda untuk dipanggil Bapak. Akan lebih baik dipanggil Mister Hyun Joong.”

”Halo! Mister Hyun Joong!”sapa para gadis tiba-tiba. Tentunya kecuali So Eun. Hyun Joong tersenyum melihat keramaian kelas. Namun dia memusatkan senyuman dan perhatian ke So Eun. So Eun jadi tertegun melihatnya yang tiba-tiba memandangnya dan Kim Bum pun terdiam. Hyun Joong tersenyum dan memandangnya dengan penuh arti. Sementara Kim Bum mulai curiga dengan senyuman Hyun Joong yang dinilai terlalu aneh ke arah So Eun. Dan So Eun merasakan akan ada firasat yang tidak terduga.

TO BE CONTINUED………………………………………

Jangan Lupa Komennya ya!!!

^___________^

Puzzle, Secret, and Love EunBum Chapter.4

Chapter 4:

Makin lama, wajah Kim Bum semakin dekat dengan wajah So Eun.

“Kim Bum?!”teriaknya sambil menutup mata yang mulai berpikir Kim Bum akan menciumnya.

”Bruk.”

Perlahan So Eun membuka matanya dan terkejut melihat Kim Bum ambruk dibadannya bahkan kepalanya berada di atas dadanya.

”Waaaa….?!” teriaknya. Melihat itu, So Eun langsung mendorong Kim Bum kesampingnya sambil melindungi dadanya. Kim Bum tidak terbangun. So Eun memerhatikannya lalu mendekatkan telinganya ke arah wajah Kim Bum yang tergeletak dilantai. So Eun mendengar suara dengkurannya walaupun suaranya tidak keras.

”Rupanya dia tidur. Hhh…. Hampir aja!”keluhnya sambil mengelus dada. So Eun pun langsung keluar. Dia melihat sebuah kardus masih berada diatas kasur. So Eun langsung menurunkannya ke bawah kasur. Lalu dia menarik Kim Bum keluar dari meja. Dia menggendong Kim Bum.

”Auh! Berat sekali dia. Memangnya berat badannya berapa kilogram sih?”heran So Eun.

Dengan segenap tenaganya, akhirnya dia mencapai kasur itu lalu digeletakkannya ke kasur. Dia melepaskan sepatunya dan menyelimutinya. Tiba-tiba Sang Hyun datang ke kamar Kim Bum.

”Tuan muda!”panggilnya. Namun Sang Hyun terkejut melihat So Eun.

”Oh. Kak Sang Hyun. Kim Bum sedang tidur.”jawab So Eun.

”Begitu. Syukurlah. Semalam dia tidak tidur. Aku jadi khawatir dengan kondisinya.”

”Hah? Kenapa dia bisa tidak tidur?”tanya So Eun.

”Semalam dia seharian melakukan penelitian di kamar.”

”Penelitian apa?”

”Biasa. Buat presentasinya di sekolah.”

”Hah?” So Eun diberitahukan Sang Hyun bahwa kecerdasan Kim Bum sering digunakan untuk membantu para guru yang sedang melakukan penelitian.

”Oh begitu ya?”So Eun mengangguk-angguk. Sang Hyun tersenyum

”Kalau begitu, saya permisi.” Sang Hyun langsung keluar. So Eun pun memandang Kim Bum yang agak jauh darinya. Terlihat Kim Bum menarik selimut dan memeluk gulingnya. Tidak lama, senyuman So Eun pun muncul sambil cekikikan seakan melihat sesuatu yang lucu. Lalu So Eun pun menutup kamar Kim Bum dengan pelan dan kembali menuju ke kamarnya.

*****

Sebentar lagi pesta ulang tahun Kim Bum dan Ji Yun akan tiba. So Eun yang baru saja keluar dari toilet di SMA Shinhwa tersentak kaget melihat kemunculan Geun Suk yang sudah dari tadi menunggunya didepan toilet.

”Geun Suk? Apa yang sedang kau lakukan disini?”tanya So Eun.

Dengan senyuman andalannya, Geun Suk mendekatinya sambil menyerahkan buket bunga mawar ke So Eun. So Eun yang masih bingung terpaksa menerimanya.

”Kenapa kau memberikan ini?”tanya So Eun lagi.

”Tidak hanya itu aja. Masih ada lagi.”

Geun Suk langsung mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya. Kemudian dia pun membuka kotak itu. So Eun tertegun melihatnya. Sebuah gelang berwarna gold yang berbentuk mawar.

”Ini?”

”Ini untukmu, So Eun.” Geun Suk memberikan kotak itu ke So Eun. So Eun hanya terdiam melihat gelang yang mahal itu. Tanpa mereka sadari bahwa Kim Bum sedang jalan melewatinya. Matanya pun menangkap sosok mereka yang tidak jauh dari tempatnya. Terdiam seakan memikirkan sesuatu. Tidak lama, dia pun mengacuhkan pandangan itu.

”Uhm… Tapi ini…” So Eun melihat sosok Kim Bum yang sedang jalan menuju ke taman. Masih sadar dengan tujuannya. So Eun langsung menyerahkan kembali buket mawar dan gelang itu ke Geun Suk.

”Maaf, Geun Suk. Aku tidak bisa menerimanya. Hei, Kim Bum! Tunggu aku?!”teriaknya sambil berlari menuju ke arah Kim Bum.

”Apa?” Geun Suk terkejut melihatnya. So Eun menolak pemberian barang darinya? Baru kali ini ada cewek yang menolaknya.

”Sudah kuduga. Rupanya dia bukan gadis yang biasa. Aku tidak boleh menyerah.”ucapnya sambil meremas buket bunga yang digenggamnya dan melihat So Eun berbicara dengan Kim Bum.

”Kenapa kau kesini? Bukankah kau ada urusan dengan Geun Suk?”tanya Kim Bum.

”Ah, tidak. Bukan aku. Tapi dia sendiri yang mendatangiku.”jawab So Eun sambil berjalan menyamai langkah Kim Bum. Sejenak Kim Bum terdiam. Namun pandangannya kini ke arah tangan So Eun. Kim Bum mengernyitkan dahinya.

”So Eun. Mana bunga dan gelang dari Geun Suk itu?”tanya Kim Bum.

”Eh? Oh itu. Aku mengembalikannya.”

”Kenapa?”

”Karena barang itu terlalu mahal buatku. Aku tidak mau menerimanya. Lagipula tujuanku disini bukan untuk bersenang-senang. Tujuanku kan harus menjagamu.”

Kim Bum sedikit kaget mendengarnya jawabannya.

”Kau gadis yang normal. Baru kali ini aku menemukan gadis yang sepertimu.”kata Kim Bum.

”Hah? Apa maksudmu?” belum sempat So Eun mendapat jawaban Kim Bum. So Hee dan Gyu Ri menghalangi jalannya. Raut wajah Kim Bum berubah melihat kemunculannya.

”Ada apa?”tanyanya dengan ketus. So Eun hanya bisa berdiam tidak mengerti.

”Kim Bum. Aku minta maaf. Aku mengaku bersalah. Dan ternyata dia tidak mencintaiku.”ujar So Hee dengan raut wajahnya yang sedih.

”Lalu?” Kim Bum tidak terpancing dengan raut wajah So Hee.

”Aku ingin kembali padamu. Aku sadar hanya kau yang terbaik buatku.”ucapnya sambil memegang tangan Kim Bum. So Eun terbelalak mendengarnya. Kim Bum melepaskan tangannya dengan kasar.

”Kapan aku bilang kalau aku itu yang terbaik untukmu?”

So Hee terdiam. Lalu Kim Bum menarik tangan So Eun dan pergi dari So Hee dan Gyu Ri.

”Kim Bum?!”panggil So Hee. Kim Bum tidak menghiraukannya.

”Kim Bum. Dia…..”

”Dia mantan kekasihku.” Kim Bum langsung menjawab pertanyaan So Eun.

”Hah? Kenapa kalian berdua putus?” Kim Bum menghentikan langkahnya dan menatap So Eun dengan serius.

”Itu bukan urusanmu.” Kim Bum melanjutkan langkahnya sambil menarik tangan So Eun. So Eun hanya bisa terdiam.

*****

Malam hari telah tiba, pesta ulang tahun Kim Bum dan Ji Yun telah dilaksanakan. So Eun masih memakai handuk kimono. Dia baru saja selesai mandi. Pintu kamarnya diketok-ketok. So Eun langsung membuka pintunya. Rupanya Ji Yun dan Eun Hye.

”Kalian? Silakan masuk.”

Ji Yun dan Eun Hye pun masuk. Mereka berdua terlihat sangat cantik. Ji Yun memakai gaun berwarna kuning dan gaun Eun Hye berwarna ungu.

”Kau masih belum pakai gaun?”tanya Ji Yun.

”Uhm… aku baru saja selesai mandi. Tapi kurasa aku sedang kesulitan nih.”keluh So Eun.

”Kenapa?”tanya Eun Hye.

”Aku… aku tidak bisa bermake-up. Bagaimana ini?”

Ji Yun dan Eun Hye langsung tertawa.

”Kukira apa. Tenang aja. Untuk urusan itu, aku yang akan membantumu.”

”Iya, So Eun. Dia sangat berbakat untuk urusan make-up.”kata Ji Yun.

”Benarkah?” So Eun masih tidak percaya. Akhirnya mereka pun membantunya.

Kim Bum yang berpakaian jas santai sedang bercakap-cakap dengan Kim Joon dengan jasnya yang style di ruang pesta. Sayangnya Presdir Jung Gil dan Madam Ye Jin tidak bisa ikut merayakannya karena mereka pergi ke London untuk urusan bisnis. Kim Bum sudah terbiasa dengan suasananya. Tidak lama muncul Geun Suk, Ah In, So Hee, dan Gyu Ri. So Hee dan Gyu Ri langsung mendekati Kim Bum. Sedangkan Geun Suk dan Ah In menuju ketempat sajian makanan.

”Kim Bum. Selamat ulang tahun!”ucap So Hee sambil menyerahkan kadonya ke Kim Bum. Kim Bum menerimanya tanpa ekspresi dan jawabannya. So Hee jadi canggung melihatnya.

”Kim Bum…..”

Gyu Ri langsung menarik So Hee yang tidak sempat berkata dengan Kim Bum. ”So Hee, ayo kesana! Aku haus nih.”

So Hee hanya bisa mendengus kesal melihat sahabatnya.

Geun Suk dan Ah In mengitari ruangan sambil melihat-lihat dekorasi ruangan yang begitu mewah dan indah.

”Bagaimana, Kim Joon?”tanya Kim Bum.

”Oh itu. Dia sedang menyelidikinya. Dia mau membantumu. Jadi kau sabar aja. Eh itu dia, Ji Yun!”panggil Kim Joon ke arah pintu masuk. Kim Bum menengok ke arah yang dipanggil Ji Yun.

Ji Yun bersama Eun Hye dan So Eun masuk kedalam. Kim Bum terpana melihat penampilan So Eun yang begitu berbeda. So Eun memakai gaun hitam, rambutnya dikeriting dan dijepit, dan yang pasti sungguh mempesonakan. Sungguh hasil racikan Eun Hye sungguh menakjubkan.

”Selamat ulang tahun ya, sayangku!”ucap Kim Joon sambil mengecup pipi Ji Yun lalu dia memberikan kadonya.

”Terima kasih, Kim Joon. Aku senang sekali!”balas Ji Yun.

Kim Bum tetap memperhatikan So Eun. So Eun jadi kikuk.

“Kim Bum, selamat ulang tahun ya!”ucap Eun Hye sambil menyerahkan kadonya ke Kim Bum.

“Terima kasih.” Kim Bum menerimanya lalu menaruhkan kado itu dimeja yang ada disampingnya.

“Mana Sang Hyun?”Tanya Eun Hye sambil mencarinya disekeliling ruangan.

”Dia tidak ada disini. Dia ikut Kakek ke London karena ada urusan bisnis.”jawab Kim Bum sambil meminum jusnya yang dipegang.

”Apa? Ke London? Kenapa dia tidak bilang kepadaku?”keluh Eun Hye. Kim Bum tidak menjawabnya.

”Aish! Kalo tau begini, lebih baik aku pulang aja.”lanjutnya dengan kesal.

”Pulang aja. Aku juga tidak mengharapkanmu datang.”kata Kim Bum. Perkataan Kim Bum membuat Eun Hye berang.

”Kau…. Oke. Aku akan pulang!”

Eun Hye jadi beneran pulang. Ji Yun langsung memukul bahu Kim Bum.

”Kim Bum! Apa-apaan kau ini? Biar bagaimanapun juga, dia ini calon tunanganmu. Kau tidak boleh mengusirnya.”

”Aku tidak mengusirnya. Dia sendiri yang mau pulang.”

Ji Yun hanya bisa kesal mendengarnya. Kim Joon langsung mengajak Ji Yun ke panggung. Begitu juga Kim Bum. Kue tart yang merupakan kue ulang tahun telah tiba. Dan diletakkannya di atas panggung.

Geun Suk yang sedang mengitari ruangan bersama Ah In, dia melihat So Eun yang sedang berdiri melihat pertunjukan Ji Yun dan Kim Bum sedang meniup lilin ulang tahun yang berbentuk 19 tahun. Geun Suk terpana melihat penampilan So Eun, tidak mau sia-sia dia langsung menuju ke So Eun.

”Geun Suk! Mau kemana kau?”tanya Ah In melihat Geun Suk langsung terpisah darinya.

”Hai, So Eun.”sapa Geun Suk. So Eun menengok kebelakang. Kemudian dia tersenyum.

”Geun Suk. Kau datang juga rupanya.”

Geun Suk hanya tersenyum.

”So Eun. Malam ini, penampilanmu cantik sekali. Baru kali ini aku melihat gadis yang berpenampilan cantik dan cerah sepertimu.” Pujian Geun Suk membuat So Eun jadi tersipu malu.

”Kau bisa aja bicaranya.”bantahnya.

”Baiklah! Sekarang saatnya Ji Yun memberikan kuenya kepada orang yang disayanginya.”ujar MC yang turut memeriahkan acaranya.

”Ehm… Aku ingin memberikan kue ini kepada kekasihku, Kim Joon!”

Kim Joon langsung naik ke panggung dan menerima kue dari Ji Yun. Lalu mencium pipi kanan dan kiri Ji Yun.

”Terima kasih, sayangku.”ucapnya.

”Sekarang giliran Kim Bum!”ucap MC memberi giliran.

Kim Bum memegang piring kecil yang sudah diberi potongan kue tart.

”Dia pasti akan memberikan kue itu kepadaku.”harap So Hee diikuti anggukan Gyu Ri.

Kim Bum melihat sekelilingnya. Dia melihat So Eun sedang bercakap-cakap dengan Geun Suk. Sesekali mereka tertawa karena obrolannya. Melihat itu, senyuman Kim Bum kembali pudar.

”Kue ini aku berikan kepada…….” Kim Bum sengaja melambatkan perkataannya.

Semua tamu terdiam menanti jawaban kecuali So Eun dan Geun Suk yang masih bercakap-cakap.

”Diriku. Karena aku sangat sayang kepada diriku.”lanjut Kim Bum sambil memakan kuenya sendiri diikuti kekecewaan para tamu wanita terutama So Hee. Kim Joon dan Ji Yun hanya bisa menggeleng kepala melihat aksi Kim Bum.

”Uhm… Geun Suk. Aku mau ambil minuman dulu ya?”

”Biar aku aja yang ambil minumanmu.” Geun Suk menawarkan diri

”Tidak usah. Terima kasih.” So Eun langsung meninggalkan Geun Suk untuk mengambil minumannya. Ah In datang dan mencolek bahu Geun Suk.

”Geun Suk! Kau ini kemana aja? Dari tadi aku mencarimu. Eh tadi itu So Eun ya? Tidak kusangka ternyata dia begitu cantik.”oceh Ah In. Geun Suk tidak menjawab, malah dia terus memperhatikan So Eun yang sedang mengambil minumannya.

So Eun langsung meneguk minumannya dengan cepat. Belakangan ini dia memang sangat haus karena habis berbicara dengan Geun Suk yang rupanya cukup cerewet dan gombal.

So Eun minum jusnya sambil melihat sekelilingnya. Berharap tidak ada penyusup seperti yang dipesan Sang Hyuk untuk menjaga Kim Bum. Kemungkinan pelakunya adalah tamu pesta. Lalu dia melihat di atap. Dia melihat sosok mencurigakan sedang duduk di atap tepat disamping lampu besar yang menggantung yang tiba-tiba mati dan digantikan lampu cahaya yang mengarah ke panggung.

”Jangan-jangan dia.. Gawat!” So Eun langsung meletakkan gelasnya dan menuju ke panggung.

”Baiklah! Acara selanjutnya adalah dansa. Oke, yang pertama adalah Kim Bum. Kim Bum sepertinya kau tidak ada pasangannya. Bagaimana kalau kau cari pasanganmu. Disini banyak tamu gadis yang cantik-cantik.”ujar MC.

Kim Bum melihat kebawah panggung. Para tamu gadis langsung berteriak-teriak. Menunjukkan diri mereka agar Kim Bum memilihnya. So Hee pun berjuang keras untuk menarik perhatiannya.

”Kim Bum! Pilih aku, Kim Bum!”teriaknya.

So Eun terus berlari dan naik ke panggung. Sehingga mendapat sorakan para tamu gadis. Kim Bum hanya terdiam kaget melihat kemunculannya yang tiba-tiba naik panggung.

”Kenapa dia itu? Dia kan belum dipilih Kim Bum. Kenapa udah naik?”heran So Hee kesal.

”Kenapa kau naik kesini?”tanya Kim Bum.

”Kim Bum! Dansalah denganku. Sudah lama aku ingin berdansa denganmu. Kau mau kan?”jawab So Eun sambil melirik ke atas. Dia melihat penyusup sedang mempersiapkan senjatanya yaitu senjata busur.

Melihat itu, Kim Bum membuang muka sebentar. Lalu dia mundur.

”Oh iya? Kalo begitu kau duluan yang menari.” Kim Bum menjetikkan jarinya untuk memulaikan musik disco yang berjudul Love Like This.

Love Like This…..

”Hah?”

So Eun langsung menggoyangkan badannya sesuai dengan irama awal.

Hey Girl, ijen neoreul boyeojwo naege

Geuman neoui mameul

Won’t you, my girl (my girl)

Hangsang mangseorineun neon jeongmal babo

Jeongmal neoneun babo

O~ malhaejwoyo

Wae, neon moreuni

Neon nal moreuni

Neol wonhaneun nae mam modu da gajyeogajwo

Naege geochim eobsi

Tteollim eobsi your love!

Kim Bum tertegun melihatnya. Melihat penyusup itu mulai menembakkan panahnya. So Eun langsung menarik Kim Bum lalu melanjutkan dansanya dan panah pun melesat malah menancap di belakang panggung. Si penyusup itu terlihat kesal. Dia mengambil anak panah lagi.

Love naege wa. neon, like this.

So love, gidarin neoran girl

True love, dagawa neon like this.

One love, neon naege neon naegero

Love, naege wa. neon, like this.

So Love, gidarin neoran girl

True love, dagawa neon like this.

One Love, neon naege neon naegero

Kim Bum mulai menikmati dansanya bersama So Eun. Bahkan dia tersenyum hingga membuat para tamu jadi terkejut melihatnya.

”Hah? Kim Bum tersenyum?”heran So Hee. Geun Suk hanya bisa terdiam melihatnya. Dia mengetahui maksud senyuman Kim Bum ke So Eun.

Berkali-kali, So Eun berhasil membuat penyusup gagal memanahnya. Penyusup langsung memasangnya dan menargetkan Kim Bum dengan serius. So Eun yang sedang berdansa tiba-tiba terjatuh karena sepatunya sedikit terpleset. Untung Kim Bum berhasil menahannya. Hingga So Eun pun bertatapan dengan Kim Bum begitu juga dengannya.

I need you,

You need me.

Urineun gyeolguk hamkke hal kkeoya

Mangseorijima, naman ttarawa

Ijen yeah

”Ah! Aku benci dengan pemandangan itu!”kesal So Hee.

”Tapi So Hee. Dia itu kan sepupunya.”kata Gyu Ri.

“Iya. Tapi bukan sepupu kandung.”

So Eun melihat penyusup itu mulai menembakkan panah lagi. Langsung So Eun bangkit dan berputar sambil menangkap panah dibelakang punggung Kim Bum yang menghadap ke depan panggung. Sehingga Kim Bum tidak mengetahui aksi So Eun yang menangkap panah lalu So Eun mematahkan panah yang panjang jadi dua dan mengakhiri dansanya. Para tamu serentak bertepuk tangan.

So Eun melepaskan tangannya yang memeluk leher Kim Bum dan langsung turun mengejar penyusup yang mulai kabur. Kim Bum hanya bisa terdiam bingung melihatnya.

So Eun terus mengejarnya hingga ke taman belakang. Penyusup itu langsung membuang busurnya yang masih ada anak panah. Tidak mau disia-siakan, So Eun langsung mengambil busur itu. Dan ditembakkannya hingga mengenai lengan kiri penyusup itu. Namun tetap saja penyusup berhasil kabur. So Eun langsung melempar busurnya dengan kesal.

“Sial!”

Acara telah usai. Kim Bum menuju ke belakang panggung dimana kado-kado miliknya yang sudah dipisah dengan milik Ji Yun. Dia langsung membuka isi kado-kado tersebut. Namun dia mendengar pembicaraan kedua pelayan yang sedang membersihkan panggung belakangnya.

“Siapa yang melemparkan panah ini?”tanya salah satu pelayan itu yang melihat panah menancap di layar belakang panggung.

”Aku tidak tau.”jawab si pelayan yang satunya sambil mengangkat bahunya.

Kim Bum terdiam. Sejenak memikirkan sesuatu. Dan dia langsung pergi ke suatu tempat.

”Ah In! Sudah aku berapa kali bilang. Aku tidak mau kembali denganmu?! Pokoknya aku tidak mau!”teriak So Eun kesal dalam percakapan ponselnya. Dia berada ditepi kolam renang. Dia langsung menutup ponsel dan dilempar ke arah kursi. Hingga ponsel itu tidak rusak. Lalu dia mondar-mandir ditepi kolam. Diinjaknya dengan sepatu high heelsnya dengan penuh kesal.

”Sialan dia! Padahal dia sendiri yang memutuskan aku. Aku tidak sudi kembali dengannya.” So Eun mengambil permen coklatnya dari tas kecil lalu dia melempar tasnya hingga mendarat disamping ponsel itu. Kemudian dia membuka dan memakannya. Suasananya memang sedang kesal. Gagal menangkap penyusup kemudian Ah In yang cerewetnya minta kembali dengannya sungguh membuat So Eun jadi tambah pusing. Dilumatnya permen coklat itu dengan cepat.

Kim Bum membuka pintu kacanya dan berteriak memanggilnya.

”So Eun?!”

So Eun langsung tersedak, permen coklatnya langsung masuk ketenggorokan. Dan dia pun berbalik menghadap Kim Bum. Sialnya, sepatunya malah menginjak diluar tepi kolam hingga So Eun pun terjatuh dikolam renang. Kim Bum pun terkejut melihatnya.

So Eun langsung terbatuk-batuk karena sedikit terminum air kolam itu.

”Kenapa kau bisa jatuh?”tanya Kim Bum sambil berlutut ditepi kolam. So Eun tidak menjawabnya. Dia langsung mengangkat dirinya ke tepi kolam. Kim Bum mengambil handuk di kursi tempat dilemparnya ponsel dan tas kecil milik So Eun.

So Eun berdiri dengan gaunnya yang basah kuyup. Kim Bum langsung menutup tubuhnya dengan handuk. So Eun pun memegang handuknya sambil menggigil kedinginan.

”Ada apa, Kim Bum? Tadi kau mengagetkanku.”tanya So Eun dengan menggigil. Sungguh dingin. ”Malam-malam begini, kenapa airnya begitu sangat dingin?”batinnya heran.

”Mengagetkan bagaimana? Aku cuma mau tanya denganmu. Kejadian dansa tadi. Itu pasti bukan karena kau yang ingin berdansa denganku tapi melindungiku dari penyusup yang menembakkan panahnya ke arahku. Benarkan?”tanya Kim Bum.

So Eun tertegun mendengarnya.

”Bagaimana kau bisa tau?” So Eun malah balik bertanya.

”Sudahlah. Jawab aja pertanyaanku.”tegas Kim Bum. Dengan sedikit menunduk, So Eun pun menjawabnya.

”Iya. Tapi maafkan aku. Aku gagal menangkapnya.”sesalnya.

Kim Bum tersenyum.

”Lalu mana kado darimu untukku?”

”Apa? Kado?”

”Iya. Kado. Hanya kau yang belum memberiku kado.”

”Itu…. maaf. Aku tidak tau barang kesukaanmu. Jadi aku tidak sempat membelinya.”

”Begitu ya?” Kim Bum menganggukkan kepalanya. So Eun hanya terdiam.

Kim Bum memegang leher So Eun dan tangan kanannya memegang pinggul So Eun lalu didekatkan tubuhnya dengan Kim Bum tanpa mempedulikan gaunnya yang basah kuyup begitu pula didekatkan wajahnya dengan wajah Kim Bum. So Eun terkejut melihatnya yang begitu cepat. Dan tidak bisa dihindari. Kim Bum mencium bibir So Eun dengan dalam dan lembut. Mata So Eun terbelalak merasakan bibir Kim Bum yang menciumnya. Lalu Kim Bum melepaskan ciumannya dan tangannya yang memegang tubuh So Eun.

”Terima kasih atas kado pemberianmu. Kadomu sangat manis. Seperti….. coklat.”ujar Kim Bum sambil berbalik. Berjalan memunggunginya. So Eun yang masih bingung berusaha mencerna perkataan Kim Bum.

”Kado? Coklat? Jangan-jangan maksudmu kado dariku adalah sebuah ciumanku?”tanya So Eun yang mulai panik. Kim Bum tidak menjawabnya. Dia terus berjalan keluar sambil menyentuh bibirnya yang telah mencium So Eun dengan tersenyum. Meninggalkan So Eun yang masih terbengong.

TO BE CONTINUED……………..

Jangan Lupa Komennya ya!!!!!

^_______________^