RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

Monthly Archives: Oktober 2010

Perhaps Love [Part 2]

So Eun memandang langit malam yang dipenuhi bintang yang berkerlap-kerlip. Dia berada di ayunan tempat taman kota. Untunglah dia membawa pakaian mantel dan dia pun mengganti pakaiannya dengan pakaian hangatnya agar tidak merasa dingin dicuaca yang begitu dingin di malam hari. Dia mendengar I-Phonenya sambil menutup matanya. Menghayati isi lirik lagu-lagu yang didengarnya. Dia belum pulang ke apartemennya. Walaupun hari sudah terlalu malam. Dia sudah membohongi Kim Bum dengan alasan pembatasan waktu. Padahal tidak. Dia hanya tidak mau mengganggu kesenangan Kim Bum. Padahal dia ingin menghabiskan waktunya bersama Kim Bum di hari ulang tahun Kim Bum.

”Kelihatannya kau begitu menghayati mendengar lagunya.”

So Eun langsung membuka matanya setelah mendengar seseorang bicara dengannya. Dia pun menoleh dan sedikit terkejut melihatnya yang tiba-tiba ada disampingnya.

”Jang Geun Suk.”

Geun Suk hanya tersenyum dipanggilnya.

”Kenapa kau sendirian disini? Dimana kekasihmu?”tanya Geun Suk. So Eun pun melepaskan earphone dari telinganya.

”Dia sedang sibuk merayakan pesta di rumahnya.”jawab So Eun.

”Pesta? Pesta apa?”

”Pesta ulang tahunnya.”

”Lalu kenapa kau masih ada disini? Memangnya pestanya sudah selesai?”

So Eun menggeleng, ”Belum. Hanya saja, aku tidak mau mengganggu kesenangannya.”kata So Eun tanpa sadar telah curhat kepada Geun Suk yang sedang asyik mendorong ayunannya.

“Kenapa? Bukankah seharusnya dia bersenang-senang bersamamu? Kenapa kau bisa berpikir begitu?”heran Geun Suk. So Eun tertawa.

”Kau belum tahu bagaimana sifat kekasihku ini. Dia begitu unik. Tetapi aku menyukainya.”

”Benarkah?”

So Eun mengangguk. Tidak lama, mereka pun tertawa dan terus berbicara dengan berbagai topik.

*****

So Eun memberikan bekal buatannya kepada Kim Bum. Kim Bum menerimanya.

”Bagaimana acara ulang tahun semalam? Kau gembira?”tanya So Eun. Kim Bum mengangguk.

“Syukurlah. Apakah kau suka hadiah dariku?”tanya So Eun lagi. So Eun memberi hadiahnya berupa syal yang dia jahitkan sendiri. Lagi-lagi, Kim Bum hanya menjawab dengan anggukan. So Eun yang mengerti dengan sifatnya pun terdiam.

“Kalau begitu, aku mau pergi ke kantin ya.”ucap Kim Bum sambil pergi. So Eun pun mengangguk. Dia pun tersenyum melihat Kim Bum membawa bekal buatannya. Dia sungguh senang ternyata Kim Bum selalu menghabiskan bekal makanan darinya. So Eun pun berbalik menuju ketempat biasanya. Makan siang di taman belakang SMA Shinhwa.

Cuaca begitu tidak buruk. Tidak terlalu panas dan tidak mendung. Sungguh cuaca yang sangat mendukung acara makan siang So Eun. Dia memakan Kimbap sambil mendengarkan I-Phone miliknya. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang. So Eun pun menengok.

”Jang Geun Suk.”

Geun Suk itu tersenyum, lalu duduk disampingnya.

”Kenapa kau ada disini? Bukankah kau seharusnya ada disekolah? Kan belum waktunya pulang.”tanya So Eun dengan paniknya. Namun Geun Suk malah tertawa.

”Kau tidak perlu panik begitu. Aku kabur dari sekolah. Soalnya disekolahku sedang sibuk menyiapkan festival. Karena bosan, akhirnya aku memutuskan kesini begitu aku ingat denganmu yang bersekolah disini.”jawab Geun Suk.

”Te..tetapi… apakah tidak akan ketahuan dengan penjaga sekolahku?”

”Tenang saja. Aku kan masuk lewat belakang. Penjaga itu pasti tidak akan menyadari ada penyusup disekolah ini. Kalau kau keberatan dengan kehadiranku. Aku akan pergi dari sini.”ucap Geun Suk hendak bangkit dari tempatnya. Namun So Eun menahannya.

”Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan. Kau temani aku makan siang saja, bagaimana?”

”Boleh. Dengan senang hati.”

So Eun menyodorkan bekal makanan yang dibuatnya kepada Geun Suk. Geun Suk pun mencicipinya.

”Wah…. enak sekali! Ini benaran buatanmu?”seru Geun Suk tidak percaya. So Eun pun mengangguk dengan tersipu malu.

”Wah… sungguh beruntung sekali dia yang jadi kekasihmu. Ngomong-ngomong, kenapa kau sendirian disini? Kim Bum mana?”tanya Geun Suk yang sudah tahu nama kekasih So Eun dari cerita So Eun kemarin malam yang ditemuinya. So Eun jadi muram.

”Dia sedang makan siang bersama sahabatnya.”jawab So Eun. Geun Suk pun jadi merasa bersalah dengan pertanyaannya yang membuat So Eun terlihat sedih.

”Ya, sudahlah! Jangan kau terlalu dipikirkan.”ucap Geun Suk sambil mengacak rambut So Eun sambil memakan kimbap buatan So Eun. So Eun hanya tersenyum sambil memegang kepalanya yang diacak Geun Suk. Baru kali ini dia diperlakukan seperti itu, andaikan Kim Bum bisa seperti Geun Suk yang selalu mempedulikan So Eun. Andaikan saja.

*****

”Maaf. Aku tidak bisa ikut pulang bersamamu.”jawab Kim Bum. So Eun pun jadi kecewa. Beberapa kali ini dia gagal mengajak Kim Bum pulang bersamanya. Alasannya pun macam-macam. Paling sering ialah dia sudah dijemput supirnya. Padahal dia bisa meminta supirnya tidak menjemputnya atau dia pulang bersama Kim Bum naik mobilnya. Tapi kali ini, dia tahu alasan Kim Bum menolaknya.

”Hari ini ada tugas kelompok dikelasku. Aku akan pulang sore. Kau pulanglah duluan. Kalau kau butuh biaya taksi, akan kuberikan.”ucap Kim Bum. Sudah diduga Kim Bum akan berkata seperti itu. Selalu memberi solusi dengan uang. Padahal So Eun tidak membutuhkannya. Yang dia butuhkan adalah perhatian dan kepedulian Kim Bum untuk mengantarnya pulang. So Eun pun berusaha tersenyum didepan Kim Bum.

”Tidak usah. Aku tidak perlu naik taksi. Aku pulang dengan naik bis saja. Kim Bum, selamat bekerja. Semoga tugasmu cepat selesai ya!.”tolak So Eun sambil memberi semangat kepada Kim Bum. Kim Bum hanya mengangguk. Dia pun langsung masuk ke dalam kelasnya. So Eun menatap sedih lagi. Dia pun berbalik dengan kepalanya yang menunduk. Terus berjalan sampai didepan gerbang. Tiba-tiba ada sebuah motor besar berhenti tepat didepannya. So Eun pun mendongakkan kepalanya. Lelaki itu melepaskan helmnya sambil mematikan mesin motornya.

”Hei, So Eun! Rupanya kau sudah mau pulang ya?”sapa Geun Suk kepada So Eun. So Eun pun tersenyum melihatnya.

”Geun Suk. Sedang apa kau disini?”tanyanya.

”Aku sering lewat sekolah ini kalau aku berangkat dan pulang dari sekolahku.”

”Oh iya? Kenapa aku tidak pernah melihatmu.”

”Aku juga tidak pernah melihatmu disini. Karena aku sedang fokus mengendarai motorku. Kalau aku tidak fokus, bisa-bisa aku menabrak orang.”

So Eun tertawa mendengar kata-kata Geun Suk.

”Kau pulang bersama siapa? Bersama Kim Bum?”tanya Geun Suk menyadari So Eun hanya sendirian.

”Tidak. Aku sendirian. Dia sedang sibuk dengan tugas sekolahnya.”

”Sibuk? Kenapa dia selalu sibuk berurusan dengan sekolahnya? Tidak ada waktu bersamamu.”

”Tidak apa-apa. Lagi pula dia kan sudah kelas tiga. Dia juga sedang menghadapi ujian kelulusan. Jadi wajar kalau dia sibuk.”

Geun Suk mengangguk mengerti dengan perkataan So Eun, ”Lalu kau pulang naik apa?”.

”Aku naik bis saja.”jawab So Eun.

”Bagaimana kalau kau pulang bersamaku saja? Kan kita searah.”ajak Geun Suk. So Eun berpikir lagi. Dia takut jika dia pulang bersama lelaki lain, Kim Bum akan marah dengannya. Namun dia berpikir lagi, akankah Kim Bum pernah memarahinya karena So Eun pergi bersama lelaki lain? Mungkin dia malah cuek dan tidak peduli dengan urusan So Eun.

”Baiklah.”jawab So Eun menerima tawaran Geun Suk. Geun Suk pun membonceng So Eun. Geun Suk menghidupkan motornya dan pergi meninggalkan sekolahnya. Tanpa So Eun sadari, Kim Bum melihatnya di kelasnya yang terletak dilantai 3 melalui jendela. Terdiam melihatnya tanpa ekspresi.

*****

Tanpa So Eun diduga, dia akan bertemu dengan Kim Bum diwaktu yang sedikit salah. So Eun langsung berdiri dari kursinya dengan gugupnya. Dia melirik Geun Suk yang sedang duduk dihadapannya. So Eun jadi bingung melihat Kim Bum.

“Kak Kim Bum. Kakak sedang apa disini? Di kafe ini.”tanya So Eun dengan terbata-batanya. Kim Bum menatap So Eun dengan dingin.

“Aku sedang ada janji dengan Yoon Ah dan Min Ho disini. Kau sendiri?”tanyanya kembali.

“Aku sedang main disini saja tetapi tidak disengaja aku bertemu dia. Oh iya, kenalkan dia ini temanku. Namanya Jang Geun Suk.”

Geun Suk berjabat tangan dengan Kim Bum.

”Jang Geun Suk.”

”Kim Bum.”

Setelah mereka saling memperkenalkan dirinya.

”So Eun, aku pergi kesana dulu ya.”ucap Kim Bum sambil melewati So Eun. So Eun pun termenung melihat Kim Bum begitu cuek melewatinya. Lalu dia duduk kembali.

”Lihatlah. Dia bahkan tidak peduli dengan apa yang aku lakukan disini bersamamu. Aku tidak melihat ekspresinya yang cemburu kepadaku.”keluh So Eun.

”Iya. Aku melihatnya. Aku heran dengannya. Kalau dia memang tidak peduli kau, lalu kenapa dia mau jadi kekasihmu?”tanya Geun Suk. So Eun pun berpikir sejenak.

”Sudah lama aku ingin menanyakan hal itu. Kalau dia memang tidak menyukaiku kenapa dia malah menerimaku? Aku ingin bertanya kepada Kak Kim Bum. Tetapi aku takut dia akan tersinggung.”ujar So Eun. Geun Suk hanya memandang mengerti yang dikatakan So Eun.

*****

Mata So Eun mencari-cari sosok Kim Bum dikelasnya. Namun dia tetap tidak bisa menemukannya.

”Dia kemana sih?”gumam So Eun.

“Kau sedang apa disini?”tanya Kim Bum muncul dibelakangnya. So Eun pun berbalik dan langsung memeluk lengannya.

“Kak Kim Bum! Dari tadi aku mencari Kakak.”seru So Eun dengan genitnya.

“Ada apa?”

“Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku ingin mengajak Kakak ke kafe untuk merayakan hari ulang tahunku.”

Kim Bum terdiam memikirkan sesuatu. Gelagatnya terlihat bingung.

“Kau ulang tahun hari ini?”

”Iya. Kakak ingat kan?”

”Maaf.”ucap Kim Bum. So Eun pun terdiam kecewa. Rupanya Kim Bum tidak ingat tanggal ulang tahunnya.

”Tidak apa-apa. Tetapi nanti malam, datangkan?”tanya So Eun tidak peduli dengan jawaban Kim Bum tadi.

”Akan aku usahakan.”

”Terima kasih!”seru So Eun sambil memeluk Kim Bum.

”Hei, siang-siang begini sudah bermesraan saja.”celetuk Hong Ki. So Eun buru-buru melepaskan pelukannya dengan wajahnya yang tersipu malu.

”Hei, Kim Bum. Jangan lupa rencana kita nanti ya.”ucap Kim Joon sambil menepuk punggung Kim Bum. Mereka bertiga pun masuk kedalam kelasnya.

”Aku masuk dulu, ya.”

So Eun mengangguk. Kim Bum pun ikut masuk bersama ketiga sahabat lelakinya. So Eun pun juga berjalan menuju ke kelasnya yang berada di lantai 2. Wajahnya terlihat berseri karena berhasil mengajak Kim Bum. Dia ingin sekali merayakan ulang tahunnya bersama Kim Bum.

*****

Waktu menunjukkan 22.00 di Korea Selatan. So Eun begitu terlihat gelisah menunggu kedatangan Kim Bum di kafe. Sudah hampir satu jam dia menunggunya. Bahkan diteleponnya selalu tidak tersambung.

”Aku yakin dia pasti akan datang.”batin So Eun penuh harapan. Dan benar saja, akhirnya Kim Bum pun datang. Dia terlihat begitu tampan dengan pakaian casualnya. Sampai So Eun memandangnya penuh terpesona.

”Maaf, aku terlambat.”ucap Kim Bum sambil duduk disampingnya.

”Tidak apa-apa. Yang penting kau sudah datang.”

Lalu pelayan kafe itu menghampiri meja mereka sambil membawa kue tart.

”Wah… terima kasih.”ucap So Eun yang telah memesan kue tartnya. Lalu dia menatap Kim Bum. Kim Bum hanya tersenyum. So Eun kembali fokus ke kue tartnya. Lalu dia menutup matanya sambil berdoa. Tidak lama, dia pun meniup lilinnya dan memotong kuenya.

”Ini untuk Kakak.”ucap So Eun sambil menyuapi potongan kecil ke dalam mulut Kim Bum. Kim Bum pun memakannya dengan pelan.

”Selamat ulang tahun, So Eun. Ini hadiah untukmu.”ucap Kim Bum sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dan menyerahkannya kepada So Eun.

”Benarkah? Terima kasih.” So Eun langsung membuka kado yang terbungkus warna merah. Sebuah sapu tangan sutra warna pink. So Eun begitu terkagum melihat pemberian dari Kim Bum.

”Maaf, kalau hadiahnya seperti itu. Aku tidak tahu apa kesukaanmu. Jadi aku membelikanmu saputangan.”

”Ini cantik sekali! Aku sangat suka!? Terima kasih, Kakak!?”seru So Eun tidak bisa menutupi kesenangannya diberi saputangan yang indah. Kim Bum pun jadi lega. So Eun terus melihat saputangannya hingga pandangannya teralih ke sebuah plastik besar disamping Kim Bum.

”Itu apa?”tanya So Eun sambil menunjukkan sebuah plastik itu. Kim Bum pun mengeluarkan isi dari plastik itu.

”Ini kado untuk Yoon Ah. Hari ini dia juga ulang tahun. Bagaimana menurutmu, bungkusan ini baguskan?”

So Eun mengangguk melihat kadonya yang berukuran lumayan besar dibanding kado untuknya.

”Aku membelikan dia kalung permata.”

So Eun tersentak kaget mendengarnya.

”Kalung permata?”

”Iya. Dia sangat suka dengan kalung permata. Aku harap dia menyukainya.”jawab Kim Bum.

Hati So Eun terasa miris mendengarnya. Kim Bum membelikan kalung permata untuk sahabatnya dibandingkan untuk kekasihnya. Dia hanya diberi saputangan sutra. So Eun menggenggam saputangan itu dengan erat. Sungguh halus. Berusaha menyakinkan dirinya untuk tidak iri dengan Yoon Ah. Kim Bum kan tidak tahu keinginan So Eun makanya dia memberikan saputangan sutra pink yang lembut. So Eun sudah bersyukur diberinya. Tiba-tiba ponsel Kim Bum berdering.

”Halo…” jawab Kim Bum.

”Iya… semuanya sudah datang? Baiklah. Aku akan segera kesana.”ucap Kim Bum sambil mengakhiri perbincangan ponselnya. Dengan buru-burunya, dia memasukkan kado besar kedalam plastik dan berdiri.

”Maaf, So Eun. Aku tidak bisa menemanimu lebih lama.”

”Memangnya kau mau kemana?”

”Aku mau kerumah Yoon Ah. Mereka, Hong Ki, Min Ho dan lainnya sedang menungguku disana untuk memberi kejutan kepada Yoon Ah.”ucap Kim Bum sambil keluar dari kafe. Meninggalkan So Eun sendirian dimejanya. So Eun hanya bisa pasrah dengan keinginan Kim Bum yang mementingkan merayakan ulang tahun Yoon Ah lebih lama dibandingkan dirinya. Bahkan Kim Bum tidak mengajaknya untuk pergi ke rumah Yoon Ah. So Eun pun memakan kue tart yang dipesannya sampai habis. Memakan sendirian tanpa ditemani Kim Bum. Tidak disangkanya, keinginannya untuk menghabiskan waktu bersama Kim Bum hanya berlangsung selama 15 menit. Air matanya pun perlahan keluar dan terjatuh diatas kue tart. So Eun pun memakan kuenya dengan penuh kesedihan.

*****

”Ah! Akhirnya kau datang juga.”seru Hong Ki kepada Kim Bum yang sudah datang.

”Maaf, aku terlambat. Tadi aku ada urusan dengan So Eun.”

”Memangnya urusan apa?”

Kim Bum hanya tersenyum.

”Eh..Eh…!? Cepat matikan lampunya, Yoon Ah sudah datang!?”seru Kim Joon sambil mematikan lampunya sehingga ruangannya terasa gelap. Yoon Ah pun datang dan dia membuka pintu dengan pelan. Suasana ruangan itu begitu gelap. Yoon Ah pun menghidupkan lampu rumahnya dan terjadi kejutan.

”SELAMAT ULANG TAHUN, YOON AH!!??”seru mereka yang ada didalam ruangan itu. Yoon Ah pun menangis saking terharunya atas kejutan sahabat-sahabatnya. Hong Ki, Kim Joon, dan Min Ho mencium pipi Yoon Ah sambil menyerahkan kado pemberian mereka. Kini giliran Kim Bum menyerahkan kado kepada Yoon Ah. Yoon Ah membuka dan melihat isi kado itu.

”Kalung permata? Ini kan kalung yang aku inginkan. Kim Bum, terima kasih.”seru Yoon Ah sambil memeluk Kim Bum. Kim Bum pun tersenyum senang mengetahui tidak salah memilih kado yang cocok untuk Yoon Ah.

”Kalian memang tega ya! Aku kira kalian sudah melupakan hari ulang tahunku.”kesal Yoon Ah karena dia dikerjain oleh sahabat-sahabatnya tadi pagi dengan cara mencuekkannya.

”Maafkan kami. Kami ingin memberi kejutan kepadamu, Yoon Ah!”timpal Kim Joon.

”Dasar!?” Yoon Ah melempar bantal yang disofa ke Kim Joon dengan gemasnya. Mereka tertawa dan melanjutkan perayaan ulang tahunnya.

*****

Kue tart sudah habis dimakannya. Sudah saatnya So Eun pulang ke apartemennya. Dia pun berjalan lunglai. Dengan tidak semangat. Dia pun berjalan menunduk tanpa memperhatikan sekelilingnya. Hatinya mulai terasa sakit diperlakukan Kim Bum tadi. So Eun terus bertanya-tanya, apakah dia menganggap So Eun sebagai kekasihnya? Tanpa disadarinya, So Eun terus menangis.

Dia tidak mempedulikan hawa dingin yang menusuk kulitnya. So Eun berhenti disamping lampu lalu lintas. Menunggu pergantian lampu merah. Setelah lampu penyebrangan berganti hijau, So Eun pun menyebrang. Namun dia tidak melihat sebuah mobil terlambat mengerem sehingga tubuhnya tidak bisa terhindar dari tabrakan mobil. So Eun pun terbaring di jalan aspal dengan penuh darah.

”SO EUN!?”teriak Geun Suk yang menyaksikan kejadian itu. Dia pun langsung mendekati So Eun yang pingsan dan penuh luka itu.

”Kim So Eun! Bertahanlah!?”seru Geun Suk berusaha menelepon ambulans.

*****

Akhirnya So Eun pun bisa membuka matanya setelah tidak sadarkan diri selama 2 hari. So Eun melihat sekelilingnya yang penuh dengan warna putih. Dia pun menoleh. Terlihat suster sedang sibuk mencatat kesehatannya.

”Suster. Apa yang sedang terjadi?”tanya So Eun dengan lemahnya.

”Nona So Eun. Anda sudah sadar? Anda mengalami kecelakaan tiga hari yang lalu.”

”Tiga hari yang lalu?”

”Iya. Setelah kejadian itu, Anda tidak sadarkan diri selama dua hari. Tetapi syukurlah, sekarang Anda sudah sadar.”

Geun Suk pun masuk kedalam kamar So Eun, ”So Eun. Kau sudah sadar!?”seru Geun Suk sambil mendekatinya yang begitu lemah.

”Baiklah. Saya panggil dokter dulu untuk memeriksanya lebih lanjut.”

”Terima kasih, Suster.”ucap Geun Suk. Suster itu pun keluar meninggalkan mereka berdua.

”Jang Geun Suk. Kenapa aku bisa terjadi kecelakaan?”

”Mobilnya terlambat mengerem sehingga menabrakmu yang sedang menyebrang jalan.”

”Lalu apakah Kim Bum tahu?”

”Aku sudah meneleponnya, tetapi tidak tersambung terus. Hari ini aku rencananya akan kesekolahmu untuk memberitahukan Kim Bum tentang kejadian yang menimpamu.”

”Geun Suk, mana ponselku?”

”Apa?”

”Ponselku….”ucap So Eun dengan nada lemahnya. Geun Suk pun mencari ponsel di tas So Eun yang terletak di meja sampingnya. Selagi mencarinya, So Eun bangkit dan menyenderkan punggungnya dengan posisi duduk di kasur. Lalu Geun Suk menyerahkan ponsel kepada So Eun. So Eun pun memencet beberapa nomor diponsel dan menghubunginya.

”Halo…..”jawab Kim Bum. Akhirnya tersambung juga.

”Ha…halo…. Kak Kim Bum….”

”So Eun. Kenapa suaramu jadi lemas begitu?”

“Aku sedang sakit, Kak.”

“Sakit? Sakit apa?”

”Aku… aku kecelakaan kak… Apakah Kakak bisa menjengukku?”pintanya.

”Maafkan aku, So Eun. Aku tidak bisa. Karena aku sedang berada di Macau bersama sahabat-sahabatku.”tolak Kim Bum. So Eun terdiam sejenak.

”Apakah Kak Yoon Ah juga ikut?”

”Iya. Karena ini juga merupakan tugas dari guru kami. Apakah kau mengalami kecelakaan kecil? Lukamu pasti tidak parah kan?”tanya Kim Bum. So Eun terdiam lagi.

”So Eun. Aku tahu, kau terlalu sering ditabrak kendaraan kecil seperti sepeda, motor, dan lain-lain. Aku yakin kau hanya mengalami luka kecil. Lebih baik kau minum obat dan banyak istirahat.”pesannya.

“Hei, Kim Bum! Cepetan bantu aku! Air ini tidak bisa dihentikan.”seru Yoon Ah yang ada disampingnya. So Eun yang mendengarnya pun hanya bisa terdiam kaku.

“Baiklah!? So Eun, maaf aku sedang sibuk.”ucap Kim Bum menutup ponselnya. Komunikasi pun terputus. So Eun meletakkan ponselnya dengan lemas. Dia tidak menyangka Kim Bum akan berkata seperti itu. Kenapa Kim Bum tidak menanyakannya mengalami kecelakaan apa? Bahkan Kim Bum tidak ingin lebih lanjut tentang kondisinya. Kondisinya yang cukup parah sehingga tidak sadarkan diri selama 2 hari. Apakah itu termasuk kecelakaan kecil? Apakah itu yang namanya luka kecil?

“Bagaimana, So Eun? Kau sudah memberitahukannya?”tanya Geun Suk cemas melihat So Eun terus terdiam. Tiba-tiba So Eun menangis.

“So Eun? Kau tidak apa-apa?” Geun Suk jadi panik. So Eun tidak menjawabnya. Dia hanya bisa terus menangis. Menangisi rasa sakit hatinya yang selama ini dia terus pendam.

*****

Kim Bum terus menatap pintu kelasnya. Dia menunggu kemunculan So Eun yang selalu memberikan bekal makan siangnya. Namun lama ditunggunya tidak kunjung datang. Kim Bum terus bertanya-tanya. Mungkinkah So Eun masih sakit? Tetapi masa dalam 5 hari sakitnya tidak kunjung sembuh? Kim Bum ingin menjenguknya, tetapi dia juga tidak bisa meninggalkan tugas-tugasnya yang semakin menumpuk.

”Kim Bum. Kau mau ikut kami ke kantin tidak?”tanya Min Ho. Karena So Eun tidak kunjung datang. Kim Bum pun menyetujui ajakan Min Ho. Dia akan memakan makanan yang ada dikantin. Mereka kecuali Yoon Ah pun berkumpul dikantin Shinhwa. Kim Bum memesan makanan spaghetti.

”Tumben kau tidak makan bekalmu? Mana So Eun?”celetuk Hong Ki yang menyadari keganjalan pada kebiasaan Kim Bum di jam istirahat ini.

”Katanya dia sedang sakit. Dia kecelakaan. Aku pikir dia belum sembuh dari luka kecilnya.”jawab Kim Bum meneruskan makanan spaghettinya.

”Aku tidak menyangka ternyata pemuda tampan itu temannya So Eun.”timpal gadis berambut keriting yang ada dibelakang Kim Bum. Kim Bum pun tidak sengaja mendengarnya.

”Benarkah?”tanya gadis satunya yang memakai bando pink.

”Iya. Beberapa hari yang lalu, dia datang ke kelasku. Hanya untuk menyerahkan surat ijin So Eun dari rumah sakit.”

”Rumah sakit?”

”Iya. Katanya So Eun dirawat disana sehingga dia tidak bisa sekolah. Aku ingin menjenguknya tetapi selalu saja tidak ada waktu.”

”Oh begitu ya. Lalu pemuda tampan itu siapa namanya?”

”Oh iya! Aku lupa. Namanya adalah Jang Geun Suk. Dia keren sekali.” Lalu kedua gadis itu pun antusias membicarakan Geun Suk dan So Eun. Kim Bum pun terdiam sejenak. Dia memikirkan sesuatu. Merasa ada yang terganjal dalam hatinya.

*****

Hari ini Kim Bum pun pulang membawa mobil pribadinya. Dia mengendarai begitu tenangnya sampai dia menemukan Geun Suk sedang minum soda ditaman. Kim Bum pun menghentikan mobilnya tidak jauh dari tempatnya. Lalu dia keluar dan menemui Geun Suk. Geun Suk yang menyadari kedatangan Kim Bum pun menolehnya sambil minum soda kaleng. Setelah minuman kalengnya habis, Geun Suk membuangnya diranjang sampah yang ada disampingnya dan berdiri menghadap Kim Bum. Geun Suk tersenyum kepadanya. Kim Bum juga membalas senyumannya.

”Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu.”ucap Kim Bum.

Geun Suk pun mendekati Kim Bum lebih dekat, ”Apa itu?”

”Sebenarnya So Eun sakit apa sehingga dia dirawat dirumah sakit?”tanyanya. Geun Suk pun tersenyum.

”Kenapa kau menanyakan itu? Bukankah kau tidak mempedulikannya?”

Kim Bum terkejut mendengar perkataan Geun Suk yang aneh itu.

”Apa maksudmu?”tanya Kim Bum.

”Bukankah selama ini kau selalu menyibukkan dirimu bersama sahabat-sahabatmu sehingga kau tidak mempunyai waktu untuk memberi perhatian kepada kekasihmu, Kim So Eun?”

”Apa maksud ucapanmu?”tanya Kim Bum lagi yang masih tidak mengerti.

Preview Next Part 3:

”….Kau tahu apa yang dirasakannya? Dia langsung menangis begitu mengetahui kau ada di Macau bersama sahabat-sahabatmu. Kau kelihatannya sedang bersenang-senang disana.” Geun Suk pun mulai memakai helmnya dan menghidupkan motornya.

”Dimana Kim Bum?”tanya Yoon Ah.

“Yoon Ah. Aku rasa kita sebagai sahabatnya harus memberinya waktu untuk bersama dengan So Eun. Kami sungguh merasa bersalah dengan So Eun.”timpal Hong Ki.

”…..Aku harap aku bisa menjadi teman yang berarti buatmu. Kak Kim Bum… Aku…. Aku selalu mencintai Kak Kim Bum!” So Eun langsung mencium bibir Kim Bum dengan cepat.

“Maaf, nak. So Eun sudah tidak tinggal disini lagi.”

Kim Bum kembali tersentak kaget mendengarnya.

NB: JANGAN LUPA KOMENNYA YA!! ^_________^

Iklan

Perhaps Love [Part 1]

Entahlah. Perasaan apa yang harus digambarkannya. Seharusnya dia bahagia karena dia berhasil mendapatkan lelaki impiannya, Kim Sang Bum. Memang tidak disangka, Kim Bum bisa menjadi kekasihnya. Padahal dia begitu gugup saat menyatakan cintanya. Apalagi sifat Kim Bum yang begitu cuek dan dingin. Namun dia juga tidak menyangka, Kim Bum menerimanya walaupun agak ragu juga. Karena dia hanya menjawab dengan singkat, tidak ada tambahan kata-kata. Dia ingat sekali jawaban Kim Bum untuk menjawab perasaannya. Dia mengatakan, ”Kak Kim Bum. Aku… aku… sudah lama menyukai Kakak. Sejak kakak jadi ketua panitia penyambutan siswa baru. Aku jatuh cinta kepada kakak. Maukah kakak jadi kekasihku?”.

Jawabannya hanyalah, ”Iya.”

Itu saja. Tidak ada tambahan kata-kata. Sejujurnya dia memang senang mendengar jawabannya yang positif. Setelah itu, Kim Bum malah pergi menuju ke kelasnya. Tanpa memberi sambutan kepadanya. Paling tidak Kim Bum berkata, ”Aku juga menyukaimu, aku mau jadi kekasihmu.” Tapi sayang, Kim Bum tidak mengatakannya. Sesuai dengan sifatnya yang begitu cuek dan dingin. Tetapi dia menyukainya.

Dia yang bernama Kim So Eun, siswi kelas dua hanya bisa menunggu di depan kelas tiga, kelas yang ditempati Kim Bum. Wajahnya yang tadinya melamun membayang masa-masa dulu kini pun cerah setelah melihat kemunculan Kim Bum menghampirinya. So Eun pun langsung menyodorkan kotak makanan.

”Kak Kim Bum! Ini bekalnya.”seru So Eun. Kim Bum hanya menerima tanpa menjawabnya. Masih terdiam seribu bahasa, Kim Bum berbalik mendekati para sahabatnya yang menunggunya. Sahabatnya yang terdiri tiga lelaki, yaitu Hong Ki, Lee Min Ho, dan Kim Joon. So Eun hanya bisa memandangnya penuh berbagai harapan. Dia ingin sekali disaat jam istirahat, dia bisa makan siang bersama kekasih yang dicintainya, Kim Bum. Ingin sekali. Tetapi, dia mesti mengubur keinginannya. Karena Kim Bum lebih senang makan siang bersama sahabatnya apalagi disaat-saat membahas tugas-tugas sekolah yang makin menumpuk dan membahas soal-soal untuk menghadapi ujian kelulusan sebagai siswa kelas tiga. So Eun terus tersenyum. Sampai gadis itu datang, gadis yang bernama Yoon Ah itu langsung memeluk lengan Kim Bum. Kelihatannya dia terlambat. Senyuman So Eun pun memudar. Dia melihat wajah Kim Bum yang begitu bahagia bersama para sahabatnya dibandingkan dirinya.

Selama 6 bulan ini, So Eun tidak pernah sekalipun melihat Kim Bum tertawa lepas disampingnya. Apalagi Kim Bum begitu sibuk dengan urusan sekolahnya sampai tidak ada waktu untuk kencan dengan So Eun. Namun So Eun berusaha menegarkan diri, dia tidak mungkin memaksa Kim Bum untuk peduli dengannya. Karena dialah yang menembaknya, bukan Kim Bum. Yang pentingkan, Kim Bum telah menjadi kekasih idamannya. Mungkin suatu saat, Kim Bum bisa dialihkan perhatiannya kepada So Eun dengan kesadarannya. So Eun pun berbalik. Menuju ke taman belakang sekolahnya untuk makan siang. Sendirian. Tanpa ditemani siapa pun. Karena dia memang selalu sendirian.

*****

Seperti biasa, So Eun memberikan bekal makan siang kepada Kim Bum. Seperti biasa juga, Kim Bum pun makan bersama sahabatnya dibandingkan dirinya. So Eun pun berjalan lemas di taman belakang yang penuh dengan pohon sakura. Dia pun segera duduk digundukan rumput. Dia pun memakan bekal makan siangnya. Sejenak, dia menatap langit dan pohon sakura yang mulai berbunga. Namun saat dia melihat lapangan basket yang tidak jauh darinya. Dia melihat Kim Bum bermain basket, beradu dengan ketiga sahabatnya. Sungguh keren cara Kim Bum melempar bola basket dan bola itu masuk ke dalam ranjangnya. So Eun pun langsung bertepuk tangan dan bersorak gembira walaupun teriakannya tidak akan terdengar sampai ke lapangan itu. Namun So Eun kembali terdiam. Dia menyaksikan Kim Bum diberi botol minuman oleh Yoon Ah. Rasanya sungguh cemburu. Ingin dia yang memberikannya bukan Yoon Ah. Akan tetapi, perbedaan status sosial yang membuatnya susah untuk mendekatinya. Kim Sang Bum, lelaki impian siswa kelas tiga ini merupakan calon pewaris SK Group. Yoon Ah adalah sahabat Kim Bum sejak kecil. Dia juga sekelas dengan Kim Bum. Berpenampilan menarik dan cantik. Apalagi dia merupakan anak perancangan desainer terkenal di Korea. Tidak salah, mereka begitu dekat. Dibandingkan dengan So Eun yang sederhana, dia bisa belajar di sekolah elit karena mendapat beasiswa. Apa yang bisa dibanggakannya. Orang tuanya hanyalah pekerja buruh. Mungkin hanya kepandaiannya saja. So Eun kembali termenung. Sungguh dia mulai tidak nafsu makan.

*****

”Jang Suk! Apa yang harus aku lakukan?”tanya So Eun kepada Jang Geun Suk, anjing chihuahuanya. Anjing pemberian kakak perempuannya yang meninggal 6 tahun yang lalu. Nama yang awalnya dipanggil Geun Suk oleh kakak perempuannya, tetapi So Eun lebih suka memanggilnya Jang Suk. Jang Suk tidak menjawabnya, dia sibuk meminum susu yang dibuatkan oleh So Eun.

”Selama enam bulan ini, hubungan kami tidak ada perkembangan sedikit pun. Walaupun dia cuek dan begitu dingin. Paling tidak, dia ada waktu untuk memberi perhatian kepadaku. Malah dia lebih senang bercengkrama dengan sahabat-sahabatnya termasuk Yoon Ah. Jang Suk. Kau tau tidak? Aku cemburu sekali dengan Yoon Ah. Walaupun dia itu sahabat kecilnya, tetapi kenapa dia tidak bisa bersikap begitu terhadapku? Dia kelihatannya begitu senang bersama sahabatnya dibandingkan aku, kekasihnya sendiri. Memang ada pepatah, Sahabat itu lebih penting dari pada kekasih. Sahabat selalu ada setiap saat. Sedangkan kekasih bisa berpisah kapan pun. Menurutmu, pepatah itu tidak selalu benar kan? Meskipun kita mementingkan persahabatan, tetapi kita juga harus ada perhatian kepada kekasih. Benarkan pendapatku ini, Jang Suk?”curhat So Eun kepada Jang Suk. Disaat hatinya sedang gelisah, cemburu, dan ada kejadian lainnya. Dia selalu curhat kepada Jang Suk, anjing peliharaannya. Jang Suk hanya bisa menggonggong menjawab So Eun. So Eun tersenyum, dia senang telah dihibur Jang Suk. So Eun membelai kepala Jang Suk. Lalu dia pun menutup matanya di atas karpet yang sedikit dingin. Dia pun tertidur. Dia begitu lelah dan ngantuk. Tanpa dia sadari, air matanya menetes dari mata indahnya.

*****

”Besok, kau mau kan pergi ke taman bersamaku?”tanya So Eun melalui ponselnya. So Eun menelepon Kim Bum. Lama menunggu jawabannya. Kelihatannya dia sedang mengecek jadwalnya yang begitu padat sebagai calon pewaris SK Group.

”Baiklah. Jam berapa?”

”Setelah pulang sekolah, kita ganti baju dulu ya. Nanti aku akan menunggu didepan halte bis.”

”Baiklah.”ucapnya sambil mengakhiri perbincangan ponsel. Terlihat hati So Eun begitu gembira karena berhasil mengajak Kim Bum keluar untuk berkencan dengannya. Padahal sudah beberapa kali dia mengajak Kim Bum, namun Kim Bum selalu sulit untuk menerima ajakannya karena kesibukannya walaupun So Eun tidak tahu apa yang disibukkannya. So Eun hanya bisa memakluminya walaupun kecewa.

”Jang Suk! Akhirnya aku bisa berkencan dengannya! Ini kencan pertamaku. Aku harus menyiapkan pakaianku untuk besok! Harus berdandan cantik!?”seru So Eun kepada Jang Suk.

*****

Hari yang ditunggu-tunggunya telah tiba. So Eun terus menarik lengan Kim Bum menuju ke wahana bermain yang disediakan di taman itu. So Eun terus mengoceh kepada Kim Bum. Terus mengeluarkan keceriaannya. Walaupun tidak ada tanggapan dari Kim Bum. Kim Bum terus menekuk wajahnya. Entah apa yang dipikirkannya. So Eun yang dari tadi menyadarinya terus bertanya-tanya didalam hatinya. Apa Kim Bum tidak suka dengan permainan yang ada ditaman ini? Ataukah So Eun terlalu cerewet disampingnya. Namun So Eun tidak mau memikirkannya. Yang dia pikirkan adalah membuat kencan pertamanya jadi berkesan buat So Eun dan tentunya Kim Bum. Namun langkah mereka berhenti. Kim Bum pun mulai tersenyum senang. Dia pun langsung berlari tanpa mempedulikan So Eun yang ada disampingnya. So Eun hanya bisa terdiam melihat Kim Bum memukul punggung sahabat-sahabatnya yang tanpa sengaja bertemu. Kini dia bisa melihat ekspresi Kim Bum yang terus tertawa bersama sahabat-sahabatnya tidak terkecuali Yoon Ah.

*****

So Eun terus mengaduk minuman jusnya. Suasana begitu berisik disampingnya. Kim Bum begitu serius mendengar perbincangan sahabat-sahabatnya. So Eun ingin ikut berbicara. Namun sepertinya topiknya tidak sesuai dengan keinginan So Eun alias tidak nyambung. So Eun sadar sepertinya mereka sedang membicarakan tentang strategi ulangan dan lainnya saat perpisahan kelulusan kelak. So Eun terus terdiam seribu bahasa. Dia pun menoleh, dia melihat kumpulan anak-anak yang sedang mengerubuti para badut dari film kartun seperti Micky Mouse, Donald Duck, dan lain-lain. So Eun ingin sekali berfoto bersama mereka. Dia pun melirik Kim Bum yang masih tetap fokus dengan sahabat-sahabatnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, So Eun pun segera melihat nama pemanggilnya, dari sahabatnya Goo Hye Sun.

”Kim Bum, aku terima telepon dulu ya?”bisiknya. Kim Bum hanya mengangguk. So Eun pun segera menjauh dari kafe itu dan mengangkat teleponnya.

Setelah lima belas menit berbicara diponsel, So Eun memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya sambil berbalik hendak kembali ke kafe. Namun langkahnya terhenti. Dia tertegun melihat Kim Bum yang begitu tertawa lepas mendengar candaan sahabat-sahabatnya dan yang membuatnya lebih terdiam, Kim Bum sedang mengacak rambut Yoon Ah sambil tertawa. So Eun terus menatap kecewa kepada Kim Bum. Kapan dia akan mengacak rambut So Eun? Secara selama berhubungan dengannya, dia tidak pernah melakukan hal-hal yang romantis kepada So Eun sedikit pun. Padahal So Eun adalah kekasihnya. So Eun segera merogohkan tasnya dan mengambil kamera digital. Dia pun membidik Kim Bum yang masih tertawa dengan tampannya. Yang terlihat tertawa tanpa beban. Dibandingkan berada disampingnya, Kim Bum yang terus terdiam bisu dan hanya menjawab singkat setiap ditanya So Eun.

”Klik!?” suara kamera digital pun berhasil memotret Kim Bum secara close-up. Walaupun hanya satu foto. Dengan perlahan, dia pun berjalan mundur dan membalikkan badannya. Memberi kesempatan kepada Kim Bum bergembira bersama para sahabatnya.

*****

So Eun asyik duduk dekat kolam air pancuran. Suasana siang masih begitu terik. Akan tetapi tidak menyurutkan semangat So Eun untuk menonton sulap yang tidak jauh dari tempatnya.

Beberapa kali dia tersenyum sendirian menyaksikan keahlian sulap itu.

”Maaf. Apakah ini milik anda?”

So Eun segera menoleh mendengar seseorang yang berbicara dengannya. Seorang lelaki yang tampan itu tersenyum kepadanya sambil menyodorkan sebuah gelang yang rupanya terjatuh saat mengeluarkan kamera digital.

”Ah iya! Ini milikku. Terima kasih, kau telah mengembalikannya.”ucap So Eun berterima kasih. Lelaki itu hanya tersenyum.

”Kau sendirian disini?”tanyanya.

”Tidak. Aku bersama kekasihku. Tetapi dia sedang ada keperluan. Jadi aku duduk disini dulu. Untuk melepas lelah.”jawab So Eun dengan dusta. Lelaki itu tersenyum lagi.

”Oh begitu. Oh iya, siapa namamu?”

”Namaku Kim So Eun.”

”Kim So Eun. Nama yang bagus.”

“Terima kasih.” So Eun menjadi tersipu malu.

“Kau?”Tanya So Eun.

“Namaku Jang Geun Suk. Panggil aku Geun Suk.”jawabnya. Tiba-tiba So Eun tertawa. Geun Suk pun bingung.

“Ada apa? Ada yang aneh?”heran Geun Suk.

“Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya jadi teringat dengan Jang Suk.”ucap So Eun berusaha mengendalikan tawanya sambil mengibaskan tangannya.

”Jang Suk?”

”Iya. Dia anjing peliharaanku. Dia memiliki nama yang sama denganmu. Jang Geun Suk. Tetapi aku memanggilnya Jang Suk.”terang So Eun. Tiba-tiba Geun Suk pun ikut tertawa mendengar penjelasannya.

”Bagaimana kau bisa menamai anjingmu seperti itu?”

”Bukan aku yang memberi namanya. Tetapi almarhum kakak perempuanku yang memberikan namanya. Dia sering memanggil Geun Suk. Tapi kalau aku, Jang Suk.”

Dan mereka pun tertawa bersama mendengar perkataannya masing-masing.

”Oh iya, kau sepertinya anak SMA. Kau sekolah dimana?”tanya Geun Suk.

”Aku sekolah di Shinhwa. Kau?”

”Aku….? Rahasia. Yang pastinya hanya sekolah biasa. Bukan sekolah elit seperti sekolahmu.”

”Tidak apa-apa. Aku mengerti kok.”

”Sepertinya aku ada urusan. Gelangmu sudah aku kembalikan.”ucap Geun Suk sambil berdiri.

”Sampai jumpa, So Eun.”lanjutnya. So Eun mengangguk.

“Terima kasih, Geun Suk.” Geun Suk pun berlari meninggalkan So Eun.

*****

“Kekasihmu lama sekali kembalinya?”celetuk Lee Hong Ki kepada Kim Bum. Kim Bum pun melirik arlojinya. Sudah hampir satu jam, So Eun belum kembali.

“Kim Bum, apa benar kau hanya sedang bermain disini bersama dia? Bukan untuk berkencan?”tanya Kim Joon. Kim Bum mengangguk.

”Dia hanya mengajakku main disini. Tidak ada maksud lain. Lagi pula aku juga sedang bosan dirumah. Jadi tidak ada salahnya kalau aku refreshing disini.”

”Kalau kau memang butuh refreshing. Kenapa kau tidak menghubungi kami?”timpal Yoon Ah yang duduk disampingnya, tempat awal So Eun duduk sebelum So Eun keluar dari kafe untuk menerima panggilan telepon.

”Tadinya aku ingin menelepon kalian. Tetapi So Eun sudah meneleponku duluan. Jadinya aku terima saja ajakan dia.”

”Wah… pasti romantis dong…??”usil Hong Ki. Kim Bum hanya tersenyum pahit kepadanya.

”Itu So Eun!”seru Min Ho sambil menunjuk So Eun yang sedang berjalan menujunya.

”Maaf, aku lama.”ucap So Eun menyesal. Kim Bum hanya mengangguk. So Eun terdiam melihat Yoon Ah duduk disampingnya. Sadar sang kekasih telah kembali, Yoon Ah pun berpindah tempat. So Eun pun kembali duduk disamping Kim Bum.

”So Eun. Kenapa kau begitu lama kembalinya?”tanya Hong Ki. So Eun melirik Kim Bum yang tidak memandangnya, sibuk meminum jusnya. Dia kembali terdiam. Tidak ada pertanyaan untuk So Eun yang begitu lama kembalinya. Justru Hong Ki yang bertanya.

”Tadi aku sedang menerima telepon. Aku tidak menyangka ternyata dia meneleponku terlalu lama. Maaf, membuat kalian menunggu.”bohongnya. Hong Ki hanya mengangguk saja. So Eun kembali melirik Kim Bum. Dia sedang berbincang dengan Min Ho. Terlihat cuek sekali dengannya.

”Oh iya, udah sore nih! Kita mesti pulang nih.”celetuk Kim Joon melihat arlojinya.

”Kim Bum. Aku naik mobilmu saja ya. Sekalian aku mau kerumahmu mengambil barang pesanan ibumu.”timpal Yoon Ah. So Eun langsung menatap terkejut. Kim Bum terlihat bingung. Pasalnya dimobilnya hanya ada 2 jok mobil. Kim Bum melirik So Eun dengan ragu. So Eun pun menatap Kim Bum. Terlihat dia sedang bingung.

”Tidak apa-apa. Tadi aku mau bilang kepadamu kalau aku tidak bisa pulang bersamamu. Karena aku ada urusan.”ucap So Eun berusaha menahan sakit hatinya karena tidak ada jawaban tegas dari Kim Bum. Malah dia melihat senyuman Kim Bum mengembang karena So Eun mengijinkannya.

”Baiklah kalau begitu, kita tunggu apa lagi? Kita mesti pulang. Karena aku ada urusan penting.”seru Kim Joon tidak sabaran.

”Kau tidak ikut kami pergi?”tanya Min Ho. So Eun menggeleng.

”Tidak. Aku ada urusan. Kalian pergi duluan saja.”tolak So Eun. Kelima orang itu pun segera pergi. Setelah mereka benar-benar pergi, So Eun pun kembali meminum jusnya sambil termenung. Entah dia harus menyesal atau tidak karena telah mengijinkan Kim Bum pulang bersama Yoon Ah. Entah dia harus cemas atau tidak karena sudah berbohong dengannya kalau dia tidak ada urusan apa-apa. Seharusnya dia ikut pulang bersama Kim Bum, sang kekasihnya. Kini dia bingung. Dia mesti menangis atau bahagia untuk kencan pertamanya yang tidak ada kesan itu. Yang pasti, So Eun terus meminum jusnya sampai habis.

*****

”Kau tahu, Jang Suk? Kencan pertamaku ini gagal. Aku berusaha membuat Kim Bum senang dengan kencanku bersamanya. Tetapi yang ada dia malah diam terus. Tidak ada senyuman ceria dan tawanya. Kalaupun dia tersenyum, aku yakin dia hanya memaksakan senyumannya. Jang Suk, seharusnya hal-hal romantis itu mesti dia lakukan kepadaku seperti mengacak rambut. Bukan kepada Yoon Ah.”gumam So Eun sambil menatap Jang Suk yang sibuk makan malam. Jang Suk pun menatap majikannya.

So Eun menepuk kepala Jang Suk dengan lembut. So Eun pun kembali berdiri dan meletakkan piring kotornya di tempat cucian piring. Kemudian dia menuju ke meja dan mengeluarkan kamera digitalnya. Dia terus membandingkan foto dirinya bersama Kim Bum dengan foto Kim Bum bersama sahabatnya. Sungguh perbedaan jauh, di foto yang bersama So Eun, Kim Bum sama sekali tidak menunjukkan senyuman tulusnya. Hanya senyuman dingin. Justru disaat bersama sahabatnya, dia terlihat tertawa lepas. So Eun mendekapkan kamera digitalnya dan memandang langit-langit kamarnya. Dia merenung lagi.

*****

Tanggal 7 Juli adalah hari ulang tahun Kim Bum. So Eun begitu antusias membawa kadonya. Pesta ulang tahun Kim Bum yang diselenggarakan begitu mewah. Ini pertama kalinya, So Eun memasuki gedung mewah itu. Dia bersyukur karena dia telah diundang Kim Bum. So Eun memasuki ruang pesta. So Eun kembali terpesona melihat suasananya. Banyak artis dan pejabat-pejabat yang datang ke pesta kekasihnya. So Eun berusaha mencari Kim Bum ditengah banyaknya orang yang berkumpul. Dia pun menemukan Kim Bum yang sedang minum disamping jendela. So Eun langsung menghampirinya.

“Kak Kim Bum.”panggilnya sambil tersenyum.

Kim Bum menoleh. Kim Bum pun tersenyum dengan kehadiran So Eun. So Eun langsung mendekatinya.

”Selamat ulang tahun, Kak Kim Bum.”ucapnya sambil menyerahkan kado berwarna biru, warna kesukaan Kim Bum. Kim Bum pun menerimanya. So Eun langsung mencium pipi Kim Bum. Kim Bum terlihat kaget dengan aksi So Eun.

“Kenapa kau mencium pipiku?”tanyanya heran. So Eun mengernyitkan keningnya.

“Memangnya tidak boleh? Aku kan kekasih Kak Kim Bum.”jawabnya. Kim Bum terdiam. Terlihat dia begitu tidak menyukai dengan tindakan So Eun tadi. So Eun yang membaca ekspresinya hanya menunduk.

“Maafkan aku.”kata So Eun merasa bersalah.

“Tidak apa-apa. Aku hanya tidak suka kau melakukannya didepan umum.”ujar Kim Bum yang memang tersinggung dengan sikap So Eun tadi.

“Hei! Rupanya kau ada disini.”seru Kim Joon sambil menepuk bahu Kim Bum. Kim Bum pun kembali tersenyum melihat kehadiran sahabat tercintanya.

”Iya, tadi kami mencarimu. Kenapa kau mengundang orang begitu banyak?”timpal Hong Ki.

”Bukan aku yang mengundangnya. Tetapi Ibuku yang mengaturnya.”jelas Kim Bum.

”Ya sudahlah. Kim Bum, selamat ulang tahun.”ucap Yoon Ah sambil mencium pipi Kim Bum dan menyerahkan kado darinya. Kim Bum pun menerimanya dengan senang.

”Terima kasih.”balasnya. So Eun memperhatikan ekspresi Kim Bum yang begitu berbeda. Dicium olehnya terlihat tidak disukai, tetapi oleh Yoon Ah malah biasa saja. Bahkan tidak ada rasa tersinggungnya.

”Oh, rupanya So Eun datang juga ya?”celetuk Hong Ki. So Eun pun mengangguk dan tersenyum. So Eun melirik Kim Bum. Kim Bum menatapnya sambil tersenyum. Sungguh sakit rasanya melihat senyuman Kim Bum disamping sahabatnya, bukan disampingnya.

”Aku mau ambil minuman dulu ya.”ucap So Eun sambil pergi menuju ke tempat meja yang disediakan minuman.

*****

Acara tiup lilin pun telah dimulai. Kim Bum meniup lilin diiringi tepuk tangan meriah dari para tamu undangannya. Kim Bum memotong kue yang begitu besar. Lalu dia meletakkan potongan kue di piring kecil. Kemudian dia memotong kue pertamanya dan diberikannya kepada Ibunda tercintanya. Lalu kepada Kakeknya. So Eun terus tersenyum menunggu gilirannya yang akan diberi potongan kue dari Kim Bum setelah keluarganya. Setelah keluarganya, Kim Bum memanggil para sahabatnya. Hong Ki, Min Ho, Kim Joon, dan Yoon Ah segera menaiki panggung. Mereka pun diberi potongan kue secara bergiliran. Kim Bum memberi potongan kue terakhirnya kepada Yoon Ah.

”Terima kasih kepada kalian semua yang sudah membantu saya akhir-akhir ini. Aku tidak akan jadi seperti ini tanpa bantuan keluargaku dan sahabat-sahabatku ini. Terima kasih.”ucap Kim Bum. Keluarga dan sahabatnya pun merasa terharu dengan perkataan Kim Bum. Senyuman So Eun pun memudar. Dia tidak dipanggil Kim Bum untuk memberi potongan kuenya. So Eun merasa dirinya yang sebagai kekasihnya tidak ada gunanya bagi Kim Bum. Bahkan Kim Bum tidak memperkenalkannya sebagai kekasihnya. So Eun menunduk. Dia pun memilih berbalik. Keluar dari pestanya.

*****

Disaat sedang asyik memakan kue. Tiba-tiba pelayannya datang dan memberi sebuah kertas kepada Kim Bum.

“Maaf, Tuan muda. Ini ada pesan untuk Anda.”

“Dari siapa?”

“Saya tidak tahu. Saya hanya disuruh untuk memberikan surat ini kepada Anda.”

“Baiklah. Silahkan kau lanjutkan tugasmu.”

Pelayan itu pun menuruti perintah Kim Bum. Kim Bum pun membuka surat itu.

’To: Kak Kim Bum.

Maaf, Kak. Kalau aku menulis surat ini. Aku hanya ingin memberitahu kepada Kakak kalau aku pulang duluan karena waktu sudah malam. Baru-baru ini, Ibu pemilik apartemen memberi waktu batasan pada malam hari. Jadi aku harus segera pulang. Maaf aku tidak bisa berbicara kepada Kakak, karena aku tidak mau mengganggu kesenangan Kakak. Semoga pestanya berlanjut meriah ya.

Oh iya, Kak. Selamat Ulang Tahun dan Aku selalu menyayangi Kakak.

From: Kim So Eun.’

Kim Bum menutup kembali surat itu dan dimasukkan kedalam sakunya.

”Dari siapa?”tanya Yoon Ah penasaran.

”Dari So Eun.”

“Kenapa dia?”tanya Min Ho.

“Dia pulang duluan karena dia tidak boleh pulang terlalu malam. Ibu pemilik apartemennya memberi batasan waktu malam hari.”jelasnya. Para sahabatnya hanya mengangguk mengerti. Kim Bum kembali meminum jusnya. Sesaat dia mengernyitkan keningnya, merasa seperti ada yang terlupakan.

Preview Next Part 2:

Geun Suk pun membonceng So Eun. Geun Suk menghidupkan motornya dan pergi meninggalkan sekolahnya. Tanpa So Eun sadari, Kim Bum melihatnya di kelasnya yang terletak dilantai 3 melalui jendela.

“Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku ingin mengajak Kakak ke kafe untuk merayakan hari ulang tahunku.”

”Maaf, So Eun. Aku tidak bisa menemanimu lebih lama.”

”Memangnya kau mau kemana?”

Setelah lampu penyebrangan berganti hijau, So Eun pun menyebrang. Namun dia tidak melihat sebuah mobil terlambat mengerem sehingga tubuhnya tidak bisa terhindar dari tabrakan mobil.

“Bagaimana, So Eun? Kau sudah memberitahukannya?”tanya Geun Suk cemas melihat So Eun terus terdiam. Tiba-tiba So Eun menangis.

NB: Jangan Lupa Komennya Ya!!! ^_________^

Perhaps Love Synopsis

Main Cast        : Kim So Eun, Kim Bum

Cast                 : Jang Geun Suk, Lee Min Ho, Kim Joon, Lee Hong Ki, Yoon Ah

Genre               : Romantic

Type                : Sequel



Kim So Eun:

Gadis yang duduk dibangku kelas 2 ini adalah kekasih Kim Bum. Sifatnya yang simpel, periang, dan selalu ceria walaupun sering dicuekin Kim Bum. Dia yang pertama kali menembaknya. So Eun selalu mendambakan cinta pertamanya, Kim Bum agar selalu memperhatikannya karena dia merasa Kim Bum menomor sekiankan posisinya sebagai kekasihnya.

Kim Sang Bum:

Lelaki yang sudah kelas 3 ini adalah kekasih So Eun. Dia siswa yang paling pintar dalam pelajaran namun paling polos untuk urusan cinta. Sifatnya yang selalu cuek dan dingin disamping So Eun. Namun selalu tersenyum dan ceria disamping para sahabatnya. Sikap inilah yang kadang dicemburui So Eun yang haus perhatian darinya. Terkadang So Eun sampai heran kenapa Kim Bum menerima cintanya.

Jang Geun Suk:

Lelaki yang selalu datang disaat So Eun sedang sedih dan kesepian dari kekasihnya. Geun Suk selalu memberikan sebuah motivasi kepada So Eun sehingga So Eun berharap andaikan Kim Bum bisa perhatian seperti Geun Suk. Namun keadaan Geun Suk ini begitu misteri, bahkan So Eun tidak tahu latar belakangnya yang sebenarnya.

Sinopsis:

Ada pepatah mengatakan sahabat lebih penting dari pada kekasih. Sehingga kalau ada masalah penting yang terjadi kepada sahabat dan kekasih secara bersamaan. Siapakah yang akan dipilih? Inilah kisah yang dialami So Eun sebagai kekasih Kim Bum yang selalu cuek dan dingin namun selalu tersenyum dan ceria bila disamping sahabatnya. Sahabat yang ada diposisi nomor satu dihati Kim Bum, bahkan So Eun harus selalu cemburu dengan seorang gadis yang dekat dengannya yang juga adalah sahabat Kim Bum sejak kecil. Apa yang harus dilakukan So Eun untuk menarik perhatian Kim Bum?

Preview Sinopsis Part 1:

”Kak Kim Bum! Ini bekalnya.”seru So Eun. Kim Bum hanya menerima tanpa menjawabnya. Masih terdiam seribu bahasa, Kim Bum berbalik mendekati para sahabatnya yang menunggunya. Sahabatnya yang terdiri tiga lelaki, yaitu Hong Ki, Lee Min Ho, dan Kim Joon. So Eun hanya bisa memandangnya penuh berbagai harapan.

“…Memang ada pepatah, Sahabat itu lebih penting dari pada kekasih. Sahabat selalu ada setiap saat. Sedangkan kekasih bisa berpisah kapan pun. Menurutmu, pepatah itu tidak selalu benar kan? Meskipun kita mementingkan persahabatan, tetapi kita juga harus ada perhatian kepada kekasih. Benarkan pendapatku ini, Jang Suk?”curhat So Eun kepada Jang Suk.

“Namaku Jang Geun Suk. Panggil aku Geun Suk.”jawabnya. Tiba-tiba So Eun tertawa. Geun Suk pun bingung.

”Tidak apa-apa. Tadi aku mau bilang kepadamu kalau aku tidak bisa pulang bersamamu. Karena aku ada urusan.”ucap So Eun berusaha menahan sakit hatinya karena tidak ada jawaban tegas dari Kim Bum. Malah dia melihat senyuman Kim Bum mengembang karena So Eun mengijinkannya.

”Terima kasih kepada kalian semua yang sudah membantu saya akhir-akhir ini. Aku tidak akan jadi seperti ini tanpa bantuan keluargaku dan sahabat-sahabatku ini. Terima kasih.”ucap Kim Bum. Keluarga dan sahabatnya pun merasa terharu dengan perkataan Kim Bum. Senyuman So Eun pun memudar.