RetnoMyaniezasia Blog

Just another WordPress.com site

I Expect Your Love [OS]


 

PRANG!!!??

Bunyi pecahan kaca masih terdengar lagi. So Eun pun mengintip sedikit. Terlihat ada pertengkaran di ruang keluarga itu. Para pelayan hanya bisa terdiam kaku. Tidak bisa ikut melerainya.

”Kim Bum! Kenapa kau masih saja membangkang kepada Ayahmu?”bentak lelaki separuh baya itu yang masih berdiri berhadapan dengan Kim Bum.

”Ayah? Kau bukan Ayahku. Kau hanya Ayah tiriku. Kau tidak pantas menggantikannya!”teriak Kim Bum sambil menendang sofa dan berjalan keluar. Sementara lelaki yang bernama Ahn Suk Hwan ini hanya bisa duduk sambil memegang kepalanya karena pusing. So Eun yang tidak tega melihatnya pun mendekatinya sambil membawa air putih yang hangat.

”Ini, Tuan.”ucap So Eun sambil menawarkan gelas. Suk Hwan pun menerima dan meminumnya.

”Tuan, kepala Anda mau saya pijatkan? Kelihatannya Anda sangat pusing sekali.”ucap So Eun menawar lagi.

”Silahkan.”

So Eun pun memijatkan kepalanya yang rambutnya sudah memutih dengan lembut. Suk Hwan pun merasa tenang.

”Aku sungguh tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kenapa dia tidak mau menerimaku sebagai Ayahnya? Padahal Ayah kandungnya sudah terlalu sering menyakiti Ibunya yang telah hamil karena dia. Kau tahu? Dia hamil diluar nikah. Aku menikah dengannya untuk melindunginya dari lelaki yang tidak tahu diri. Sepertinya Kim Bum mewarisi sifat Ayah kandungnya. Apakah aku gagal menjadi seorang Ayah untuknya?”curhatnya dengan penuh lemah.

”Anda tidak gagal, Tuan. Saya yakin, Anda sudah melakukan kewajiban Anda semampunya. Mungkin Tuan Muda harus membuka hatinya untuk melihat niat tulus Tuan.”jawab So Eun yang masih memijatkan kepalanya.

”So Eun, kau semakin mirip dengan Ibunya. Yang penuh lembut dan kasih sayang. Andaikan Ibunya masih hidup, mungkin Kim Bum akan mengerti dengan situasinya dan mau mempercayaiku. Akan tetapi, apa yang aku katakan kepadanya selalu dianggap memfitnah Ayah Kandungnya.”ucap Suk Hwan mulai berkaca-kaca. Tidak sanggup menahan bebannya.

”Tuan harus kuat! Saya kagum dengan Tuan, apa pun sifatnya Tuan masih tetap menyayanginya dan tidak memusuhinya. Saya yakin. Suatu saat Tuan muda akan mengerti kondisi Tuan.”jelasnya. Suk Hwan pun menoleh hingga So Eun menghentikan pijatannya.

”So Eun. Maafkan aku. Insiden kecelakaan itu membuatmu kehilangan orang tuamu. Kau menjadi sebatang kara.”ucapnya mulai merintih. So Eun terdiam sejenak.

”Tuan tidak perlu meminta maaf. Saya sudah bersyukur Tuan masih mau merawat saya. Kalau tidak ada Tuan, mungkin masa depan saya akan kelam.”

”Kim So Eun.”

So Eun hanya tersenyum melihat rupa majikannya. Sungguh kasihan dilihatnya. Wajahnya yang terlihat pucat dan keriput karena terus berurusan dengan sikap Kim Bum yang arogan itu. Walaupun Ayahnya yang sebagai kepala pelayan itu telah meninggal akibat kecelakaan mobil karena terjatuh ke tebing.

*****

So Eun sedang berjalan menuju ke kamarnya. Dia baru saja dari dapur. Namun langkahnya berhenti setelah melihat kedatangan Kim Bum. Kim Bum keluar sambil menutup pintu mobilnya dengan kasar. Sepertinya dia masih marah. So Eun pun langsung mendekatinya.

”Tuan muda.”panggilnya. Namun Kim Bum tidak menggubrisnya malah dia menyerahkan jaketnya kepada So Eun dengan kasar dan pergi berlalu menuju ke kamarnya. So Eun hanya meratapinya. Dia melihat jangkauan Kim Bum begitu jauh untuk didapatkannya. So Eun menyadarinya, dirinya dan Kim Bum begitu berbeda. Hanyalah seorang pelayan dan majikan. Tidak lebih. Walaupun So Eun begitu mencintainya secara diam-diam. Namun dia tidak bisa memungkiri kalau hatinya begitu sering sakit melihatnya.

*****

Ahn Suk Hwan masih menangis dikamarnya. Sesekali dia terbatuk-batuk. Dengan perlahan dia bangkit dari kasurnya dan menuju ke meja. Dibukanya laci terdapat sebuah buku yang begitu terawat walaupun sudah terlihat kuno. Suk Hwan mengusap buku itu sambil menangis.

”Kim Hee Sun, sayangku. Mungkin ini saatnya dia harus melihat tulisanmu. Aku tidak ingin dia menjadi menyesal karena kesalahpahaman ini. Sudah saatnya dia harus mengetahui kebenarannya. Aku sadar. Sebentar lagi, aku akan menyusulmu.”

Suk Hwan pun memeluk buku itu. Sebuah buku yang ditulis almarhum istrinya. Sebuah diary semasa hidupnya.

*****

Kim Bum tersentak kaget melihat sebuah buku di samping kasurnya. Sebuah diary milik Ibunya. Kim Bum pun membuka diary itu. Terlihat sebuah foto Ibunya yang bersama Ayah Kandungnya. Akan tetapi wajah Ayah Kandungnya dicoret seolah ada yang membencinya. Kim Bum pun membacanya.

Setelah 2 jam membaca dengan perlahan dan penuh menghayati. Kim Bum pun mulai sadar. Dia sudah terlalu banyak salah paham. Rupanya apa yang dikatakan Suk Hwan, Ayah tirinya memang benar. Bahwa Ayah Kandungnya sering menyakiti Ibunya sehingga mengandung dirinya. Kim Bum pun menyadari kebaikan Ayah tirinya. Tiba-tiba So Eun masuk tanpa mengetuk pintu terdahulu. Terlihat raut wajahnya yang sangat cemas.

“Tuan muda….. Ayah Anda……” So Eun terbata-bata mengucapkannya. Kim Bum hanya bingung menunggu kejelasan kalimatnya.

“Ayah Anda….. masuk rumah sakit.”ucap So Eun dengan jelasnya.

“APA!?”

*****

Kim Bum terus memegangi tangan Ayah tirinya yang melemah. Suk Hwan pun mulai sadar dan dia melihat Kim Bum berada disampingnya.

“Anakku, Kim Bum.”panggilnya dengan lemah.

”Ayah!?”

”Kau memanggilku Ayah?”tanya Suk Hwan mulai terharu.

”Maafkan aku, Ayah. Aku selalu bertengkar dengan Ayah. Aku…..aku…..”

Suk Hwan membelai rambutnya dengan lembut.
”Ayah sudah memaafkanmu, Kim Bum.”

”Ayah…..”

Suasana mulai menegang dan penuh kesedihan. Suk Hwan menatap So Eun yang sedang menangisi dirinya.

”Kim So Eun. Kemarilah.”pintanya. So Eun yang terkejut itu pun menurutinya. Dia pun duduk disamping Kim Bum. Suk Hwan memegang tangan So Eun dengan lembut.

”Maafkan aku, So Eun. Aku tidak bisa menjagamu lebih lama lagi…..”

”Tuan! Anda jangan bicara seperti itu. Saya yakin. Anda akan segera sembuh. Saya percaya!”ucap So Eun memotong kalimatnya karena tidak kuasa.

”So Eun. Kau tahu, umurku sudah tidak lama lagi. Sebentar lagi, aku akan menyusul istriku.” So Eun hanya terdiam menangis. Suk Hwan pun meletakkan tangan So Eun di atas tangan Kim Bum dan menggenggamnya. Sontak, mereka pun terkejut.

”Kau akan selalu dijaga Kim Bum, anakku.”

”Ayah?” Kim Bum tidak mengerti maksudnya begitu juga So Eun.

”Ayah ingin kau menikahi So Eun, Kim Bum.”

”Tapi, Ayah. Aku tidak mencintainya……”

”Ini permintaan terakhirku, Kim Bum. Kau ingin membahagiakanku kan? Aku ingin kau menikah dengan So Eun.”ucap Suk Hwan sebelum Kim Bum menyelesaikan perkataannya. Kim Bum pun terdiam begitu juga So Eun. Sesaat, Kim Bum melirik So Eun. Dengan tatapan yang kosong. So Eun pun ikut melirik Kim Bum. Namun So Eun melihat tatapannya yang penuh kebencian. So Eun tahu apa yang membuatnya benci. Karena dia sudah memiliki kekasih tetapi tiba-tiba diminta menikahi dengan wanita yang sama sekali tidak pernah dicintainya. So Eun sungguh tahu hal itu. Dia hanya bisa diam. Tidak menolak tetapi tidak mengiyakan walaupun dalam hatinya sebenarnya dia senang.

*****

Hari pernikahan pun tiba. Para pengantin pun mulai memasuki altar pernikahannya. So Eun dan Kim Bum pun mulai mengucapkan sumpahnya. Dan mereka pun sah menjadi suami-istri dihadapan para tamu yang hadir dan Suk Hwan yang duduk dikursi roda.

”Ayah sungguh senang kau mau menepati janjimu. Kini Ayah bisa meninggalkan kalian dengan tenang.”ucapnya sambil memeluk Kim Bum. Kim Bum tidak menjawab. Dia hanya terdiam memandang ke arah lain. So Eun yang berada disampingnya ikut melihat, mengikuti arah pandangannya. Seorang wanita yang dikenalnya. Wanita yang sedang menangis. Ya. Dia adalah kekasihnya Kim Bum sebelum menikah dengan So Eun, Goh Ara.

Setelah acara pernikahan selesai, setelah Suk Hwan kembali ke rumah sakit. So Eun menuju ke taman belakang untuk mencari Kim Bum yang tiba-tiba menghilang. Langkahnya berhenti, So Eun langsung bersembunyi di balik gedung itu. Dia melihat Kim Bum sedang berusaha menjelaskan kepada Goh Ara yang mulai marah dan menangis.

”Kau bilang kau akan selalu mencintaiku? Tetapi kenapa kau malah menikahi wanita itu?! Kau bilang kau tidak pernah mencintainya, kenapa kau malah menerima permintaan Ayahmu itu?!”teriak Goh Ara mulai tidak mengontrol emosinya.

”Goh Ara! Dengarkan penjelasanku. Ini semua untuk menebus kesalahanku kepada Ayahku. Kau tau sendirikan bagaimana hubunganku dengan Ayahku?”

”Tetapi, tidak harus menikah kan?”

”Maafkan aku, Goh Ara. Aku hanya mencintaimu. Semua ini aku lakukan dengan terpaksa. Aku akan segera menceraikannya. Kau percaya aku kan?”

”Sungguh? Kau akan menceraikannya?”

Kim Bum mengangguk, ”Iya. Suatu saat. Dengan situasi yang tepat aku akan segera menceraikannya.”

Goh Ara langsung memeluknya, Kim Bum pun membalasnya dengan penuh erat. Sementara itu, dibalik gedung. Terlihat So Eun menutup mulutnya dan berlinang air matanya. Dia tahu akan begini. Akan tetapi tidak disangkanya, So Eun akan mendengarnya lebih awal. Dia tahu, walaupun dia mencintainya, Kim Bum telah menjadi suaminya. Tetapi tidak akan menjamin kebahagiaannya, kalau Kim Bum tidak mencintainya.

*****

Ahn Suk Hwan pun telah meninggal sebulan yang lalu. Hubungan So Eun dan Kim Bum masih kaku. Masih belum terlihat suasana suami istri di hubungan mereka. Mereka pun tidur pisah ranjang. Walaupun satu kamar. Namun Kim Bum menyuruhnya tidur di sofa yang ada dikamar itu dan Kim Bum hanya tidur di kasurnya. Apalagi Kim Bum sering pulang malam dan pergi begitu saja seolah tidak menganggap So Eun adalah istrinya. Memang sakit yang dialami So Eun. Berkali-kali, So Eun menahan tangisannya didepan Kim Bum. Memang sulit untuk berbahagia dengannya. Juga berkali-kali dia menyaksikan Kim Bum berciuman dengan Goh Ara di saat pergi keluar. So Eun hanya bisa terdiam, terkurung di rumahnya.

“Ya Tuhan. Kenapa Engkau mempersatukan aku dengan dia? Meskipun aku mencintainya, tetapi dia tidak mencintaiku. Dia hanya mencintai kekasihnya. Padahal dia sudah menjadi suamiku. Aku sudah berusaha membuat pernikahanku ini bahagia. Aku berusaha bahagia bersama suami yang aku cintai. Tetapi itu sepertinya mustahil. Dia hanya bahagia bersama kekasihnya. Tidak bersamaku. Apa yang harus aku lakukan? Aku sungguh tidak kuasa menahan masalah ini. Tuhan tolonglah aku.”ucap So Eun sambil meneteskan air matanya di pipinya. Penuh kerapuhan dalam kehidupannya.

*****

“Kapan kalian punya anak?”tanya salah satu kerabat almarhum Suk Hwan. So Eun dan Kim Bum terpaku diam. Suasana pesta ulang tahun perusahaan SK Group yang diwariskan kepada Kim Bum kini menjadi canggung.

“Kenapa kalian diam saja? Sudah 6 bulan kalian menikah. Masa kalian tidak ada kemajuan?”

“Tenang saja. Kami akan segera punya anak. Hanya saja, waktu belum mengijinkannya.”timpal So Eun. Kim Bum langsung melirik So Eun dengan tajam. So Eun pun menyadari kesalahan kata-katanya. Dia pun menunduk.

”Apanya waktu belum mengijinkannya? Bukankah setiap waktu kalian bisa lakukan? Memangnya kalian ada masalah?”tanya salah satu kerabat yang lain.

”Itu karena aku terlalu sibuk kerja. Kami pun tidak sempat memikirkan hal itu. Tenang saja, seperti yang dikatakannya. Kami akan segera punya anak. Iya kan, So Eun?”tanya Kim Bum sambil merangkul So Eun. So Eun tidak menjawab. Hanya mengangguk kaku.

*****

Kim Bum langsung mendorong So Eun ke kasur dengan kasar. Kim Bum mengunci pintu kamarnya dan mendekati So Eun yang ketakutan.

”Apa maksud perkataanmu tadi? Apa kau memang begitu tidak sabarnya ingin mempunyai anak dariku?”tanya Kim Bum dengan nada yang meninggi. So Eun masih terdiam.

”Gara-gara kau. Semuanya jadi kacau! Kacau!? Semuanya jadi tahu kalau aku tidak pernah menyentuhmu. Apa kau ingin menghancurkanku?”bentak Kim Bum sambil menekan kedua pipi So Eun.

”Maafkan saya, tuan muda. Saya tidak bermaksud begitu. Saya khilaf.”jawab So Eun sambil berlinang air mata. Kim Bum mendorong pipinya dengan kasar. Kim Bum pun bermondar-mandir dengan emosinya.

“Baiklah. Kalau kau memang ingin seperti itu. Lagi pula, aku kan sudah jadi suamimu. Aku akan mengikuti kemauanmu terakhir kalinya. Aku harap kau bisa membungkam semua gossip nanti.”

“Apa maksud tuan muda?”Tanya So Eun yang tidak mengerti. Kim Bum menaiki kasurnya dan mendekati So Eun sambil membuka kancing kemejanya. So Eun sedikit menjauh karena ketakutan namun Kim Bum menahan kepalanya sehingga So Eun tidak bisa mundur lagi.

”Kita akan melakukannya. Bukankah ini yang kau mau? Kau kan istriku. Jadi aku rasa tidak ada salahnya kita lakukan ini.”

”Tetapi……”

”Aku pikir kau tidak usah menolaknya. Bukankah sudah lama kau menginginkan momen ini?” Kim Bum langsung mencium bibirnya. So Eun tidak kuasa menolaknya. Dia memang menginginkannya. Sosok suami yang membahagiakan istrinya. Sosok suami yang memenuhi keinginan istrinya. Tetapi bukan ini So Eun yang mau. Kim Bum yang melakukannya hanya berdasarkan nafsu. Tidak berdasarkan atas cintanya kepada So Eun. Kim Bum masih menciumnya dengan lembut. Sangat lembut sehingga So Eun mengeluarkan air matanya. So Eun ingin menolaknya tetapi dia hanya bisa pasrah. Membiarkan Kim Bum menyentuh dirinya seutuhnya.

*****

So Eun sedang berjalan-jalan malam. Walaupun tidak ditemani Kim Bum. Rasanya So Eun memang ingin merasakan suasana malam. Dia melihat sebuah klub. Dan melihat Kim Bum bersama Goh Ara dengan bahagianya. So Eun terdiam patung melihat kemesraannya. Mereka pun masuk ke dalam klub secara bersamaan. Hati So Eun begitu miris melihatnya. So Eun membuang muka dan terus berjalan-jalan malam.

Setelah 1 jam, So Eun jalan-jalan malam. So Eun memanggil taksi. Taksi itu pun berhenti, So Eun masuk ke dalam dan berangkat menuju perjalanan pulang ke rumahnya. Namun baru separuh jalan, tiba-tiba mobilnya mogok. Terpaksa So Eun pun turun. Supir itu berkali-kali meminta maaf. So Eun pun memakluminya. Akhirnya dia memilih jalan kaki sambil mencari taksi lain yang lewat. Padahal jalanan itu sungguh sepi, jarang ada taksi lewat. Tiba-tiba hujan deras, untunglah So Eun membawa payung. Dia pun mengeluarkan payungnya dari tas dan memakainya sambil berjalan kembali. Beberapa menit, masih tidak menemukan taksinya. So Eun pun berniat menyebrang. Namun karena hujan yang deras, So Eun tidak bisa melihat mobil dengan jelas. Mobil itu berjalan dengan ngebut hingga mengenai So Eun yang sedang menyebrang. So Eun pun terjatuh dengan bersimbah darah di kepala hingga darah itu mengalir dan menyatu dengan rintikan hujan yang masih deras. Pemilik mobil itu keluar dan melihat siapa yang ditabraknya. Sentak, dia begitu terkejut melihatnya.

”Kim So Eun!?”teriaknya begitu panik. Dia pun langsung menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Dia pun berputar dan masuk ke dalam mobil disamping So Eun yang masih tidak sadarkan diri. Sebuah ponsel berdering di samping jok mobilnya. Dia pun mengangkatnya.

“Halo, Kim Bum.”

”Goh Ara! Maaf, aku tidak bisa bicara sekarang.”ucapnya sambil mematikan ponselnya. Dia pun melihat kondisi So Eun yang begitu parah akibat ditabraknya. Kim Bum yang begitu sembrono menyetir mobil. Mengiranya tidak ada orang yang menyebrang apalagi suasana hujan yang begitu deras telah memburam kaca mobilnya. Kim Bum menekankan kepala So Eun dengan saputangan yang dibawanya agar tidak banyak mengeluarkan darah.

”Kim So Eun, bertahanlah. Kau jangan mati dulu. Hiks.. hiks.. maafkan aku.”rintih Kim Bum tidak kuasa menahan kepanikan dan kesedihannya. Kim Bum langsung mencancap gas mobilnya. Dan melaju cepat menuju ke rumah sakit.

*****

Setelah 5 jam, So Eun pun sadarkan diri. Dia melihat sekelilingnya. Penuh suasana berwarna putih. Dia melihat Kim Bum tertidur disampingnya. So Eun baru ingat, dia tertabrak mobil beberapa jam yang lalu. So Eun pun membelai rambut Kim Bum hingga dia terbangun.

”So Eun. Kau sudah sadar?”tanya Kim Bum antusias. So Eun mengangguk lemah.

“Tuan muda. Apa yang sedang terjadi kepada saya? Sepertinya yang saya ingat, saya tertabrak mobil….”

“So Eun. Kau jangan berbicara dulu. Kau masih lemah. Kau istirahat dulu. Biar aku panggil dokter dulu.”potong Kim Bum. So Eun hanya bisa menurutinya. Namun disisi lain, So Eun jadi heran dengan perubahan sikap Kim Bum yang tiba-tiba perhatian dengannya. So Eun tersenyum. Mungkinkah dia harus berterima kasih kepada orang yang telah menabraknya. Karena dialah, So Eun mendapat perhatian dari Kim Bum.

*****

So Eun pun berjalan-jalan sore, tidak jauh dari rumahnya. Dia ingin menenangkan pikirannya. Beberapa hari ini, So Eun menjadi bahagia. Karena Kim Bum telah berubah. Kim Bum menjadi perhatian dengan So Eun. Tidak seperti yang dulu lagi, yang selalu pulang malam. Kini dia malah pulang cepat untuk melihat keadaannya. So Eun berpikir mungkinkah kini Kim Bum mulai mencintainya?

Puas dengan jalan-jalan sore. So Eun pun pulang menuju ke rumahnya. Dia melihat sebuah mobil lain parkir di depan rumahnya. So Eun pun masuk ke dalam dengan penasaran. Saat dia memegang gagang pintu kamarnya terdengar suara pertengkaran di dalam kamar.

”Kenapa kau tidak menemuiku lagi?”tanya Goh Ara. Kim Bum masih terdiam.

”Kim Bum! Jawablah pertanyaanku?! Beberapa hari ini kau tidak datang ke klub. Apa karena kejadian itu, kau berubah?”tanya Goh Ara lagi. Kim Bum masih tidak menjawabnya. Goh Ara pun mulai kesal dan marah.

“KIM BUM! Jawablah!? Apa kau merasa bersalah dengan So Eun karena kau telah menabraknya?!”ujar Goh Ara dengan nada yang meninggi. Kim Bum langsung menarik lengan Goh Ara ke arah pintu. Goh Ara berontak.

“Kim Bum! Apa-apaan kau ini?! Kenapa kau jadi kasar denganku?”

”Kita harus putus!”jawab Kim Bum membuat pernyataan. Goh Ara pun terkejut.

”APA!? Kau….. mau meninggalkanku?” Kim Bum tidak langsung menjawabnya.

”Apa karena kau takut, jika So Eun mengetahuinya kau akan dilaporkan ke polisi dan dipenjara? Iya?! Kau ingin menebus kesalahanmu telah menabrak dia dengan cara seperti ini?”Goh Ara masih berceloteh hingga Kim Bum tidak sanggup mendengarnya.

”DIAM!?”teriaknya hingga membungkam Goh Ara.

”Sudah aku bilang, kita harus putus. Lagi pula, aku sudah tidak mencintaimu lagi. Kau tahu kenapa? Karena aku sudah mempunyai istri.”jelasnya.

”Apa? Sejak kapan kau menyadari kalau kau punya istri? Bukankah selama ini kau cuek dan tidak peduli dengan dia? Jangan bilang kalau kau sudah mencintainya?”

”Aku tidak mencintainya! Aku…. aku…..”
”KAU BOHONG!?” Goh Ara mendorong tubuh Kim Bum dan membuka pintu kamarnya. Goh Ara berlari cepat sambil menangis. Sementara Kim Bum hanya terdiam patung melihat punggung Goh Ara yang makin menjauh.

”Maafkan aku, Goh Ara.”lirihnya sambil menjatuhkan air matanya. Kim Bum pun menutup pintu kamarnya hendak pergi ke suatu tempat. Setelah memastikan Kim Bum telah pergi, So Eun pun keluar dari tempat persembunyiannya. Sambil menangis, karena telah mendengar kenyataannya.

”Jadi….. jadi…. dia yang menabrakku. Pantas saja dia berubah. Tetapi dia masih tetap tidak mencintaiku.”ucap So Eun sambil menangis terisak. So Eun pun masuk ke dalam kamar. Dia melihat beberapa vas pecah akibat pertengkaran Kim Bum dengan Goh Ara. So Eun dengan hati-hati melewatinya hingga beberapa dokumen di sampingnya terjatuh. So Eun pun memungutnya. Namun ada satu dokumen yang mencolok. Sebuah dokumen dari pengadilan. So Eun pun membukanya. So Eun tercengang melihatnya. Ternyata sebuah surat cerai yang telah dibuat sebulan yang lalu sebelum dia kecelakaan. So Eun pun duduk dikasur dengan lemahnya. Dia tidak menyangka Kim Bum benar-benar akan menceraikannya. So Eun hanya bisa menangis terisak. Menangisi rasa sakit hatinya kepada Kim Bum. Sungguh bodoh bagaimana dia mau menikahi Kim Bum. Akan tetapi So Eun terlanjur mencintainya. So Eun juga tidak sanggup melihat Kim Bum terus tidak bahagia bersamanya. So Eun harus melakukan sesuatu walaupun berat.

*****

Keesokan harinya, Kim Bum telah berpulang ke rumah. Semalam dia memang sengaja tidak pulang karena ingin tenang. Berharap keputusannya terhadap Goh Ara itu memang terbaik buatnya dan So Eun. Kim Bum berkali-kali memanggil So Eun. Namun tidak ada yang menyahutnya. Kim Bum berpikir So Eun sedang jalan-jalan pagi, karena dia tahu So Eun suka berjalan-jalan. Karena bisa menyehatkan tubuhnya. Kim Bum pun masuk ke dalam kamarnya dan melepaskan jaketnya. Hendak mengganti pakaian. Kim Bum membuka lemari pakaiannya. Namun Kim Bum mengernyitkan keningnya. Dia melihat bagian pakaian milik So Eun telah kosong.

”Apa yang sedang terjadi?” Kim Bum mulai panik. Dia berniat memanggil pelayan namun langkahnya berhenti setelah melihat sebuah surat tergeletak di atas meja disamping pintu beserta dokumen. Kim Bum pun meraihnya dan membuka surat itu. Lalu dia membaca isinya.

’Kepada: Tuan muda Kim Sang Bum.

Tuan muda…. maafkan saya jika saya meninggalkan surat ini. Saya terpaksa melakukannya. Tuan muda… Saya tahu Anda sebenarnya tidak peduli kepada saya juga tidak mencintai saya. Saya tahu Anda sebenarnya mencintai kekasih Anda. Selama ini kita menikah atas permintaan Tuan Ahn Suk Hwan, bukan karena keinginan kita. Walaupun sebenarnya saya memang ada niat untuk menikah dengan Anda tetapi saya juga tahu bahwa Anda tidak menyetujui untuk menikah denganku.

Apakah Anda sudah tahu bahwa sebenarnya Saya mencintai Anda begitu lama? Sebelum Anda bertemu dengan kekasih Anda. Saya sudah terlebih dahulu jatuh cinta dengan Anda sejak saya tinggal di rumah Anda. Walaupun sifat Anda yang penuh arogan itu, saya tidak mempedulikannya. Karena saya tahu, hati Anda sebenarnya baik.

Tuan muda…. Sejak pernikahan kita, saya berharap Anda bahagia bersamaku seperti saya bahagia bersama Anda. Namun saya sadar. Anda tidak pernah mencintai saya karena saya tidak layak dengan Anda yang hanya sebatas pelayan dan majikan walaupun kita sudah sah menjadi suami istri. Saya sudah berusaha melakukan peran saya sebagai istri. Akan tetapi sepertinya saya masih tetap masih kurang dimata Anda.

Sejak kecelakaan yang menimpa saya. Saya senang karena Anda telah berubah. Menjadi perhatian kepada saya. Saya pikir apakah Anda sudah menyadari ketulusan hatiku. Apakah Anda mulai mencintaiku? Sampai ketika saya mendengar kenyataan yang begitu mengejutkan.

Tuan muda…. Walaupun kenyataannya Anda telah menabrak saya. Tetapi saya tidak berniat sedikit pun untuk melaporkan Anda ke polisi apalagi menjebloskan Anda ke penjara. Karena saya tahu, kejadian itu hanyalah tidak disengaja apalagi dengan cuaca yang begitu buruk.

Tuan muda…. Saya memang tidak pernah ada niat untuk membuat Anda berurusan dengan polisi. Karena Anda adalah suami saya. Suami yang saya cintai.

Tuan muda…. Saya juga melihat kejadian yang tentunya menyakitkan Anda. Anda terpaksa mengambil keputusan untuk berpisah dengan kekasih Anda. Saya juga melihat ada rasa ketidakrelaan dalam hubungan kalian.

Tuan muda…. Tahukah Anda apa yang saya pikirkan. Saya pikir, cinta saya telah menghalangi hubungan kalian sehingga kalian berpisah. Saya tidak tahu apakah harus bahagia melihat hubungan kalian begitu berakhir. Tetapi saya juga melihat mata Anda. Saya pun menyimpulkan bahwa saya tidak bahagia melihat kalian berakhir karena Anda yang begitu mencintainya. Makanya saya lakukan sesuatu untuk membuat Anda bahagia walaupun sebenarnya ini menyakitkan bagi saya. Tetapi demi kebahagiaan Anda, saya pikir itu bukanlah suatu masalah yang besar.

Tuan muda…. sesuai keinginan Anda. Saya menemukan surat perceraian yang telah Anda simpan. Saya pun sudah menandatanganinya. Saya siap bercerai dengan Anda. Saya pun telah siap pergi dari kehidupan Anda. Semoga Anda bisa bersatu kembali dengan kekasih Anda dan berbahagia dengannya. Bagi saya, Anda adalah cinta pertama dan terakhir saya. Saya berterima kasih kepada Anda yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk memasuki kehidupan Anda walaupun hanya sementara.

Tuan muda…. Saya mencintai Anda, Tuan muda Kim Bum.

Dari: Kim So Eun’

Air matanya pun terjatuh di atas lembaran surat yang dibacanya. Kim Bum pun meremas surat itu. Tidak disangkanya, So Eun begitu tulus mencintainya dan mengorbankan cintanya demi kebahagiaan Kim Bum untuk bersama Goh Ara. Kim Bum membuka dokumennya. Ternyata memang benar So Eun telah menandatangani semua surat itu. Hanya tinggal menunggu dirinya menandatanganinya. Kim Bum menutup dokumen itu kembali. Dia pun tak kuasa menahan tangisannya. Dia pun menangis penuh penyesalan.

”Kim So Eun. Kenapa kau tega melakukan ini? Padahal aku sudah berniat berpisah dengan Goh Ara. Aku tidak mungkin kembali lagi kepadanya. Karena aku ingin belajar mencintaimu, So Eun. Kenapa kau malah meninggalkanku? Padahal aku membutuhkanmu. Hiks… hiks… KIM SO EUN!?”teriak Kim Bum tak kuasa menahan emosi. Dia pun melempar dokumen yang dipegangnya beserta surat-surat itu.

*****

Sembilan bulan telah berlalu. Kim Bum sudah berusaha mencari So Eun tetap saja nihil. Kim Bum terus mencari hingga dia berhenti di sebuah TK. Dia melihat sosok belakang yang begitu mirip dengan So Eun. Saat wanita itu menoleh, Kim Bum pun semakin yakin kalau wanita itu adalah So Eun.

”So Eun!” Kim Bum pun mulai girang telah menemukannya. Namun saat So Eun berbalik badan. Langkah Kim Bum pun berhenti. Dia melihat sesuatu yang tidak diduganya.

”Dia…. hamil?”gumam Kim Bum. Ya. Perut So Eun membuncit. Terlihat So Eun mengelus perutnya dengan bahagia. Kim Bum pun memasuki pagar TK itu dengan pelan. Mendekati So Eun dengan pelan yang asyik bermain dengan muridnya.

“Kim So Eun.”panggil Kim Bum pelan. So Eun pun berbalik badan dan tercengang melihatnya.

“Tuan muda…”

Kim Bum melihat perut So Eun yang membuncit itu. Saat Kim Bum mulai ingin memegang perutnya tiba-tiba So Eun berbalik dan berteriak.

“Anak-anak! Ayo, kalian masuk ke dalam kelas. Lonceng sudah berbunyi. Nanti Ibu akan menyusul kalian ya.”perintahnya. Dengan patuhnya, para muridnya pun berlari masuk ke dalam kelas. Setelah memastikan para muridnya tertib masuk ke dalam kelas. So Eun pun berbalik menghadap Kim Bum.

“Tuan muda. Sedang apa Anda disini?”Tanya So Eun halus. Tidak ada raut wajahnya yang begitu kecewa dengan Kim Bum karena sakit hati. So Eun tersenyum dengan cantiknya. Ini pertama kalinya Kim Bum melihat senyuman So Eun yang begitu tulus dan indah menghiasi kecantikan wajahnya. Karena selama ini, yang dia lihat hanyalah kesedihan So Eun atas sikapnya yang arogan dan tidak peduli.

“Tuan muda?”panggil So Eun lagi yang telah menyadarkan Kim Bum dari terpesonanya.

“So Eun. Anak yang kau kandung ini?”tanya Kim Bum sambil memegang perut So Eun. So Eun tersenyum sambil menuntut tangan Kim Bum untuk lebih jauh mengelus perutnya.

”Saya mengandung anak Anda, Tuan muda. Usianya sudah 9 bulan. Sebentar lagi saya akan segera melahirkannya.”

”So Eun.”Kim Bum benar-benar terperanjat mendengarnya.

”Iya tuan muda. Walaupun saya bukan istri Anda lagi. Tetapi saya tidak akan menyusahkan Anda lagi. Anda boleh tidak mengakui anak ini. Saya tidak apa-apa.”ucap So Eun mulai berkaca-kaca. Kim Bum memandang wajahnya yang mulai berubah menjadi kesedihan. Kim Bum pun memegang wajahnya. Terlihat sekali wajah So Eun yang penuh tegar itu.

”So Eun, aku……”

”Aduh! Perutku…. sakit!?”teriak So Eun kesakitan sambil mencengkram baju Kim Bum dan terjatuh dipelukannya. Kim Bum pun mulai panik.

”Kau kenapa, So Eun?”

”Tuan muda. Sepertinya saya akan segera melahirkan. Tolong bawa saya ke rumah sakit!”pintanya sambil tidak bisa menahan rasa sakitnya lebih lama lagi. Air ketubannya pun pecah. Kim Bum yang melihat itu langsung menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.

”Kim So Eun. Bertahanlah! Aku akan segera membawamu ke rumah sakit!?”ucap Kim Bum berusaha menenangkan So Eun yang tidak kuasa menahan rasa sakit yang luar biasa itu. Kim Bum langsung menancap gas dan mengebut menuju ke rumah sakit.

*****

Kim Bum menunggu 2 jam dengan penuh kekhawatiran di depan ruang UGD. Kim Bum pun berkomat-kamit. Berdoa, memohon keselamatan So Eun dan calon bayinya. Tidak lama terdengar tangisan bayi yang telah lahir. Kim Bum pun mulai lega. Suster pun keluar sambil membawa bayinya. Kim Bum pun mendekatinya.

”Anda Ayahnya?”tanya suster itu.

”Iya, suster.”

”Selamat. Anak Anda Laki-laki.”beritahunya. Kebahagiaannya pun tidak terbendung lagi. Kim Bum pun perlahan membelai kepala anaknya yang masih menangis itu.

”Tuan. Saya permisi dulu. Saya ingin membersihkan bayi Anda.” Kim Bum mengangguk.

”Anakku laki-laki.”gumamnya senang.

*****

Kim Bum memasuki kamar So Eun. So Eun masih terbaring lemah akibat melahirkan.

”Kim So Eun.”panggilnya sambil memegang tangan So Eun dan menciumnya.

”Tuan muda…..” So Eun terkejut melihatnya.

”Tuan muda. Bagaimana dengan anak Saya?”tanya So Eun cemas.

”Anak kita laki-laki, So Eun. Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini.”

”Tuan muda….”

Perlahan So Eun menarik tangannya dari genggaman Kim Bum. Kim Bum pun menatap bingung.

”Maafkan saya, Tuan muda. Saya senang Anda berkata seperti itu. Tetapi saya sudah bukan istri Anda lagi….”

”Tidak. Kau masih istriku, So Eun.”potong Kim Bum. So Eun pun terdiam bingung.

”Surat perceraian yang kau tandatangani itu sudah kuhancurkan. Aku tidak mau berpisah denganmu.”

”Tuan muda…”

”Kim So Eun. Kau tahu? Aku tidak ingin seperti Ayah kandungku yang telah menyia-nyiakan Ibuku. Yang selalu menyakiti hati Ibuku. Aku tidak mau itu. Sejak aku menabrakmu. Aku selalu merasa bersalah denganmu. Aku berusaha menebus dosaku. Aku memutuskan Goh Ara. Aku pun belajar mencintaimu. Namun kau malah meninggalkanku. Kau tidak sempat mendengar curahan hatiku yang telah berubah. Hatiku yang belajar mencintaimu, belajar membutuhkanmu.”

”Tapi, tuan muda. Saya kira Anda sangat mencintai Goh Ara.”
”Ya. Awalnya aku memang mencintainya. Tetapi aku sadar. Aku sudah memilikimu yang begitu mencintaiku dengan tulus. Aku berpikir, tidak ada salahnya memberimu kesempatan bersamaku. Apalagi aku sudah melakukan kesalahan lagi dengan Ayah tiriku atas sikapku yang arogan ini. Kini aku pun melakukan kesalahan lagi terhadapmu. Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Aku tidak mau mengulangi kesalahanku yang ketiga kalinya. Aku terus belajar mencintaimu. Aku terus mencarimu sambil belajar mencintaimu. Hingga hari ini, aku berhasil menemukanmu. Akupun pun menyadari. Bahwa aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu lagi.”ucap Kim Bum. So Eun yang mendengarnya pun mulai terharu. Dia tidak menyangka Kim Bum telah mencintainya. So Eun tidak kuasa menahan tangisannya. Dia pun menangis dipelukan Kim Bum. So Eun lega karena Kim Bum tidak menceraikannya. Kini dia telah kembali bersama suaminya. Seorang suster pun masuk kedalam kamar sambil membawa bayi.

”Ini bayinya.” Suster itu pun menyerahkan bayinya kepada So Eun. Kim Bum dan So Eun tersenyum melihat rupa anak pertama mereka yang tampan. Kini So Eun benar-benar boleh berbahagia. Dia pun telah meyakini bahwa takdirnya memang bersama Kim Bum.

”Terima kasih, Tuhan. Engkau telah mempersatukan cinta kami lagi. Engkau telah menyadarkan cinta Kim Bum. Saya tahu, dibalik semua masalah ini. Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik untuk kebahagiaanku dan Kim Bum. Sekali lagi, terima kasih Tuhanku.”batin So Eun sambil melihat Kim Bum yang sedang asyik bermain dengan bayi kecilnya.

~*Tamat*~

NB: SELESAI BACA, JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN YA!!! ^^

73 responses to “I Expect Your Love [OS]

  1. Nur erha Juni 7, 2014 pukul 12:32 pm

    Sampai Nagis Ngebayangi’y betapa sulit hidup yang so eun unnie alami tinggal dgn orang yang tdk pernah mencintai’y tp aku ska Happy ending’y SO SWEET

  2. @cute. . Juni 14, 2014 pukul 9:27 am

    cerita’x mengharu’qhan cekalie. . .
    aQ sampai” nangis. . .

  3. Der Yani Juni 18, 2014 pukul 2:52 pm

    Mengharukan

  4. Dwi_park@yahoo.com Juli 19, 2014 pukul 8:27 am

    aku suka, autor keren😀

  5. Femilda nengsih Juli 21, 2014 pukul 6:15 am

    Ya os nya bikin aku nangis,ku pikir bumppa akan meninggalkan soeun.eh ternya enggak.l lake it

  6. Yeni handayani Agustus 8, 2014 pukul 6:03 pm

    Asli bikin nangis kebawa suasana

  7. ainami September 8, 2014 pukul 11:24 am

    jalan ceritanya bikin sesenggukan ditambah lagi sso tetep manggil bum dengan sebutan tuan muda heuheu kesannya gimana gitu…

    kurang paham kenapa bum selama ini bertengkar terus sama ayah tirinya pdhl ayah tirinya udh mendampingi eomma bum sejak bum dlm kandungan…

    tp whatever lah yg penting bumsso hepi end kekeke~~~

  8. fitrimadonakyusso21 September 12, 2014 pukul 1:29 pm

    Akhirnya happy ending
    Bumsso akhirnya hidup bahagia
    Bum akhirnya menyadari kesalahannya
    So sweet banget

  9. sabanaRyuga Oktober 9, 2014 pukul 5:21 am

    co cweet…..

  10. ulfah zoro Desember 14, 2014 pukul 6:19 pm

    Bagusssss…..
    Sso tegar bgt, pasrah mlhan…

  11. Safitri Januari 9, 2015 pukul 6:52 pm

    ceritanya berasa simple klasik tapi entah kenapa kenak banget nyampek banget feelnya sampek ikutan haru sekaligus nyesek.. sukak banget sama ceritanyaaa meskipun berasa kurang adegan romance tapi udah bagus kok sukses min :))

  12. citra April 16, 2015 pukul 8:02 am

    Takdir menyatukan bumppa dan sso. Yeyeye happy ending

  13. tina65 Mei 19, 2015 pukul 7:28 am

    Baca FF ini sedih bgt sampai nangis.
    Bagus cerita

  14. wellyantimasolabibba Mei 29, 2015 pukul 1:41 pm

    Yah ampunnn….. Crtax bner2 nyayat hti,,,, smpai2 air mta pda trjun smuaaa,,,,,

  15. rezi Juni 4, 2015 pukul 9:08 pm

    Sedih bgt bacanya…so eun org yg sabar n tabah…butuh waktu lama untuk mendptkan cinta kim bum….

  16. Tiara Oktober 31, 2015 pukul 3:01 am

    Yeyy happy ending, terharu deh bacanya tapi kurang menegangkan thor. Semangat buat author bikin lagi dong ff bumsso yang banyak yaa thor

  17. Aliana Park Januari 18, 2016 pukul 3:42 pm

    keren ff nya… mengharukan.. aku kira bkalan sad ending trxta happy ending..🙂

  18. shazia egi risma Maret 2, 2016 pukul 10:51 pm

    terharu bgt aq ma mereka so sweet bgt

  19. nanda Maret 9, 2016 pukul 2:01 am

    chukkaeyo bumsso…mga sso eonni bsa bhgia n lnggeng rmh tngga’y…;)

  20. dhelis_shomina April 25, 2016 pukul 8:07 pm

    KUrng puas. Stlah apa yg di lakukn bumppa hrsnya bumppa mhon2 dlu

  21. Risti Rustiani Kpoperschanyeol0927 Juni 12, 2016 pukul 5:54 am

    Nyesek bacanya😦
    tapi ujung2nya happy end
    Ff nya keren thor..

  22. viraputriermanda Juni 23, 2016 pukul 3:30 am

    Terharu….
    Untungnya kimbum sadar juga…

  23. auliya_angel November 13, 2016 pukul 11:11 am

    Bagus banget eonni.. aku suka..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: